Buku Kumpulan Analisis Saham-saham pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 akan terbit hari Senin, 6 Nov 2017. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 28 Okt 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.

Tidak Nyata?

Jika anda membeli sebuah saham sebanyak 100 ribu lembar (200 lot) pada harga Rp 100 per lembar, senilai total Rp 10 juta, dan besoknya saham anda tersebut naik 2% menjadi Rp 102 per lembar, maka berapakah keuntungan anda? Tentu saja 2% dikali 10 juta bukan? Dan hasilnya adalah Rp 200 ribu.

Prediksi IHSG 2011

Ketika beberapa waktu lalu IHSG sempat gagah di level 3,700-an, mungkin sebagian dari anda bingung, apakah dengan kondisi IHSG yang tampak ketinggian seperti itu, saya masih boleh belanja saham? Tapi ketika kemudian IHSG terkoreksi hingga kembali ke 3,500-an, maka mungkin anda tetep saja bingung, udah saatnya buat masuk belum ya? Jangan-jangan ntar IHSG malah turun lebih dalam lagi? Nah lho.

Dayaindo Resources 2

Wah, ga nyangka ternyata banyak juga respon atas artikel kali ini. Okay, kita akan membahasnya satu per satu.

Dayaindo Resources

Menganalisis saham dari sisi fundamental memang susah-susah gampang. Kalau anda gak teliti, sebuah perusahaan yang kinerjanya jelek bisa jadi tampak bagus, dan perusahaan yang kinerjanya bagus bisa jadi tampak jelek (yang disebut terakhir jarang terjadi). Dayaindo Resources (KARK) boleh jadi merupakan contoh yang paling nyata mengenai saham yang fundamentalnya sekilas kelihatan bagus. Yup, kinerjanya memang bagus, tapi valuasi sahamnya mungkin gak semurah kelihatannya. Dan diluar itu terdapat beberapa hal yang juga perlu diperhatikan.

Bank Bukopin

Beberapa waktu terakhir, penulis menerima cukup banyak email dari teman-teman investor yang menanyakan soal Bank Bukopin (BBKP). Dan setelah penulis cek, ketauan sebabnya. Sepertinya beberapa investor terjebak membeli BBKP ini di harga diatas 700 per saham, karena dipengaruhi kabar bahwa BBKP akan diakuisisi oleh, kalau bukan Bank BRI (BBRI) ya Jamsostek. Memang pada Agustus lalu saham BBKP melambung dari 640 hingga sempat menyentuh 760 karena kabar akuisisi ini. Belakangan, BBKP malah turun lagi dan kembali ke level 640.

Forbes Bloopers

Kalau anda adalah seorang Aburizal Bakrie, apa reaksi anda ketika Forbes bilang kalau harta kekayaan anda ‘cuma’ US$ 2.1 milyar? Kalau saya sih akan senyum-senyum.. Masa sih gue ‘semiskin’ itu?

Mengenal Fundamental Perbankan

Waktu kemarin saya bikin ebook tentang metode analisis fundamental, saya lupa bilang kalau ada beberapa emiten yang memiliki struktur laporan keuangan yang agak berbeda dari yang biasanya. Di ebook tersebut, contoh lap keu yang saya tampilkan adalah Unilever Indonesia (UNVR), dan memang seperti itulah lap keu emiten-emiten di BEI pada umumnya. Namun, khusus untuk emiten di bidang financial service (perbankan, jasa pembiayaan, asuransi, dll), struktur lap keu-nya tidak seperti itu (meski pada intinya sih sama saja), sehingga cara membaca/menganalisis fundamentalnya pun sedikit berbeda. Artikel ini akan membahas hal tersebut.


Bank BJB, bank daerah pertama yang listing di BEI

Karena emiten-emiten di sektor jasa pembiayaan (ADMF, WOMF, dll) dan asuransi (AMAG, ABDA, dll) tidak begitu populer di mata investor, maka yang akan kita bahas disini adalah fundamental perbankan (BMRI, BBRI, dll). Selain beberapa rasio fundamental yang sudah kita kenal (EAR, EDR, EER, ROA, dll), emiten perbankan memiliki beberapa rasio fundamental lainnya yang penting untuk dilihat jika kita hendak menilai kinerjanya. Pada dasarnya, ada tiga rasio yang harus diperhatikan yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR), Net Interest Margin (NIM), dan Non Performing Loan (NPL). Oke, kita langsung saja bahas satu per satu.

1. Capital Adequacy Ratio

Capital Adequacy Ratio (CAR) atau biasa juga disebut Rasio Kecukupan Modal, adalah perbandingan antara modal bersih yang dimiliki bank dengan total asetnya. Contohnya, anda punya modal 20 milyar. Anda lalu mendirikan bank. Bank anda kemudian berhasil menjaring banyak nasabah dan mengumpulkan dana pihak ketiga/DPK (tabungan, deposito, dan giro) dari masyarakat sebesar total 50 milyar. Anda juga memiliki aset-aset lain diluar modal dan DPK, senilai total 30 milyar. Dengan demikian, total aset bank anda adalah 20 + 50 + 30 = 100 milyar. Lalu berapa CAR bank anda? Ya modal bersih dibagi total aset, alias 20 / 100 = 0.20 = 20%.

Ilustrasi diatas adalah cara untuk menghitung CAR secara kasar. Kenapa disebut kasar? Karena untuk menghitung CAR secara lebih tepatnya, anda harus memasukkan faktor-faktor resiko yang mungkin bisa mengurangi total ekuitas dan/atau aset bank anda, ke dalam rumus untuk menghitung CAR.

Contohnya begini. Dari DPK sebesar 50 milyar tadi, anda lalu menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit alias pinjaman, katakanlah sebesar 40 milyar. Nah, namanya orang pinjem duit ke bank, selalu saja ada kemungkinan dia gagal melunasinya bukan? Inilah yang dimaksud dengan faktor resiko, dalam hal ini resiko kredit. Katakanlah resiko gagal bayar itu mencapai 5%, yang itu berarti dari 40 milyar dana yang anda pinjamkan ke masyarakat, terdapat 2 milyar yang bisa saja hilang (karena tidak dikembalikan oleh peminjamnya). Jika 2 milyar ini benar-benar hilang, artinya apa? Artinya total aset dan total ekuitas anda akan berkurang masing-masing 2 milyar. Untuk aset, dari tadinya 100 milyar menjadi 98 milyar. Dan untuk modal, dari tadinya 20 milyar menjadi 18 milyar. Maka, rumus menghitung CAR-nya menjadi 18 / 98 = 0.184 = 18.4%.

Jadi kita bisa mengatakan bahwa CAR bank anda dengan memperhitungkan resiko kredit adalah 18.4%.

Pada prakteknya, rumus untuk menghitung CAR terbilang rumit dan panjang, dan sama sekali tidak sesederhana seperti yang diilustrasikan diatas. Selain resiko kredit, terdapat pula dua resiko lainnya yang juga harus ikut diperhitungkan, yaitu resiko pasar dan resiko operasional. Untungnya, kita gak perlu capek-capek menghitungnya karena bank sudah menampilkan CAR mereka pada laporan keuangannya. Contohnya, pada kuartal III 2010 (9M10), Bank Mandiri (BMRI) mencatat CAR 14.13%. Dengan demikian kita bisa mengatakan, total modal BMRI dengan memperhitungkan faktor resiko ini dan itu, adalah 14.13% dari total asetnya.

Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas perbankan di Indonesia, menetapkan batas minimum CAR di 8%. Jadi kalau ada bank yang CAR-nya yang kurang dari 8%, maka bank tersebut akan dilikuidasi. Peraturan ini tentu diperlukan, sebab bank adalah lembaga yang bertanggung jawab langsung kepada masyarakat banyak (bank kan tempat kita ‘nitip’ duit). Jika ada sebuah bank yang modalnya kurang dari 8% dari total asetnya, maka tentunya bank tersebut beresiko tinggi untuk gagal mengembalikan dana tabungan masyarakat. Masih ingat cerita soal Bank Century? Ketika di bail-out, CAR Bank Century adalah minus 153.7% (Versi kepala LPS, Firdaus Djaelani). Ini aneh bin ajaib, sebab ketika sebuah bank CAR-nya sudah dibawah 8%, seharusnya BI sudah mengambil tindakan. Eh, ini dibiarin gitu aja sampe bisa minus sebesar itu.

Balik lagi ke soal CAR. Karena setiap tahun jumlah DPK yang dikumpulkan oleh para bank semakin meningkat, seiring dengan semakin banyaknya jumlah nasabah yang menabung, maka aset bank juga akan terus meningkat. Alhasil, modal bank juga harus ditingkatkan untuk mengimbanginya. Kalau nggak, ntar CAR-nya bisa menjadi kurang dari 8%. Makanya BMRI, Bank BNI (BBNI), dan juga beberapa bank lainnya, dikabarkan akan menggelar right issue untuk menambah modal mereka, agar CAR mereka tetap diatas 8%.

Cara membaca CAR ini mudah: Semakin besar angkanya, maka semakin bagus bank-nya, karena itu berarti modalnya semakin kuat. Hati-hati pada bank yang CAR-nya mendekati batas minimum 8%. Kalau dibandingkan dengan rasio fundamental pada emiten yang umumnya, CAR ini kira-kira sama (tapi tidak sama persis) dengan EAR (Equity to Assets Ratio), alias rasio modal terhadap aset.

2. Net Interest Margin

Net Interest Margin (NIM) adalah perbandingan antara pendapatan bunga bersih (pendapatan bunga bank yang sudah dikurangi beban pokok), dengan nilai aset produktif. Yang dimaksud dengan aset produktif adalah aset yang menghasilkan bunga tadi (istilahnya net bearing assets). Misalnya, sebuah bank asetnya 100 milyar. Dari total aset tersebut, 80 milyar diantaranya disalurkan kesana kemari dalam bentuk kredit, surat berharga, obligasi, dll, sehingga menghasilkan pendapatan bagi bank berupa bunga. Nah, 80 milyar inilah yang disebut dengan aset produktif.

Jika bank tersebut mencatat pendapatan bunga 5 milyar dalam setahun, kemudian setelah dikurangi beban pokok hasilnya adalah 4 milyar, maka NIM-nya adalah 4 / 80 = 0.05 = 5%.

Seperti CAR, anda tidak perlu repot-repot menghitung NIM ini, karena bank sudah mencatumkannya di lap keu-nya. Semakin besar nilai NIM, maka semakin bagus bank tersebut, karena itu berarti pendapatannya terbilang besar dibanding asetnya.

Kalau dibandingkan dengan rasio fundamental pada emiten yang umumnya, NIM ini kira-kira sama (tapi tidak sama persis) dengan ROA (Return on Assets), alias rasio laba bersih terhadap aset.

3. Non Performing Loan

Non Performing Loan (NPL) adalah perbandingan antara kredit yang tidak dikembalikan lagi oleh si peminjamnya (kredit macet), atau dikembalikan tapi tersendat-sendat, dengan total kredit yang disalurkan oleh bank ke masyarakat. Contohnya seperti yang sudah dibahas diatas, sebuah bank menyalurkan kredit sebesar total 40 milyar. Dari jumlah tersebut, 1 milyar diantaranya ternyata macet. Berarti NPL bank tersebut adalah 1 / 40 = 0.025 = 2.5%.

Di bank, kalau berdasarkan tingkat kolektibilitasnya (kelancaran penagihannya), kredit yang disalurkan ke masyarakat digolongkan menjadi lima status, yaitu 1. lancar, 2. dalam perhatian khusus, 3. kurang lancar, 4. diragukan, dan 5. macet. Untuk status lancar, berarti kredit tersebut tidak bermasalah sama sekali, dan bisa ditagih dengan lancar. Untuk status dalam perhatian khusus, maka kredit tersebut mulai bermasalah. Dan untuk golongan yang terparah yaitu status macet, maka kredit tersebut sudah tidak bisa ditagih sama sekali, atau tidak dapat dipastikan kapan akan dikembalikan oleh peminjamnya.

Di lap keu bank, NPL ini ada dua macam, yaitu NPL gross dan NPL net. NPL gross adalah NPL yang membandingkan jumlah kredit berstatus kurang lancar, diragukan, dan macet yang disatukan, dengan total kredit yang disalurkan. Sedangkan NPL net hanya membandingkan kredit berstatus macet dengan total kredit yang disalurkan. Di laporan keuangan, dua-duanya ditampilkan. Bagi penulis, NPL gross lebih penting untuk diperhatikan daripada NPL net, karena NPL net hanya memperhitungkan kredit yang sudah berstatus macet. Sementara NPL gross ikut memperhitungkan kredit berstatus kurang lancar dan diragukan, yang dimasa depan bisa saja meningkat statusnya menjadi macet.

Semakin besar NPL gross ini, maka semakin jelek bank-nya, karena itu menunjukkan bahwa mereka tidak bisa menyeleksi calon peminjam dengan baik. Kredit macet di bank dicatat sebagai kerugian (karena duitnya kan hilang begitu saja).

Penutup

Okay, saya kira segitu aja. Sebenarnya masih banyak rasio-rasio perbankan lainnya yang juga penting. Tapi untuk menilai fundamental sebuah bank, tiga rasio diatas relatif sudah cukup untuk dijadikan pertimbangan. Jadi jika sekarang anda membaca berita kalau sebuah bank meraih penghargaan ‘The Best Bank in bla bla bla..’ atau ‘Platinum Bank Award bla bla bla..’, anda nggak usah keburu silau. Tinggal perhatikan saja tiga rasio diatas, dan juga kinerjanya, kemudian anda bisa menilai sendiri apakah bank tersebut bagus atau tidak.

Pada ebook analisis LQ45 untuk periode kuartal III 2010 yang akan penulis rilis nanti, penulis akan memasukkan angka-angka CAR, NPL, dan NIM sebagai bahan analisis pada analisis emiten-emiten bank yang disajikan. Tiga rasio ini akan ikut menentukan rating kinerja bank-bank tersebut. Saat ini terdapat enam bank yang masuk daftar LQ45, yaitu BCA, BNI, BRI, BTN, Bank Danamon, dan Bank Mandiri.

Ical for President

Beberapa waktu lalu, tepatnya ketika saya menonton acara munas Golkar (munas atau apa ya?) di televisi dimana Aburizal Bakrie menjadi pembicara utamanya, ada kata-kata dari beliau yang mungkin temen-temen investor juga hafal. Yaitu, ‘Walau langit masih biru, namun padi mulai menguning.’ Secara simpelnya, statement ini menunjukkan bahwa Golkar menyatakan siap untuk bertarung dengan incumbent Partai Demokrat pada 2014, meski 2014 itu relatif masih lama. Saya kemudian menghubungi seorang teman yang ngerti politik (karena saya tentunya nggak ngerti masalah beginian), untuk menanyakan satu pertanyaan: Apakah Ical akan maju sebagai capres di 2014?

Krakatau Steel: The Story Continues

Krakatau Steel (KRAS) mulai turun nih. Dan katanya para investor asing yang kemarin megang KRAS sekarang udah pada melepas sahamnya. Gimana nih? Saya udah terlanjur megang pada harga yang lumayan tinggi. Kira-kira kelanjutannya gimana ya?

Bumi Resources Minerals

Beberapa waktu terakhir ini, seiring dengan masih kondusifnya kondisi market, sepertinya ada trend baru dikalangan pengusaha kelas kakap untuk menambah kekayaan mereka dengan cara yang sangat-sangat mudah. Apa itu? Dengan membentuk perusahaan baru, yang sebenarnya bukanlah perusahaan baru karena hanya merupakan anak usaha dari perusahaan yang sudah ada sebelumnya, lalu meng-IPO-kannya. Setelah Grup Salim mendirikan Indofood Consumer Brand Product (ICBP) yang merupakan anak usaha Indofood (INDF), lalu meng-IPO-kannya dan mendapat dana segar Rp 6.2 trilyun, kali ini giliran Grup Bakrie. Bumi Resources Minerals (BRM) adalah anak usaha dari Bumi Resources (BUMI), yang khusus bergerak di bidang usaha tambang non-batubara.

Pray for Indonesia

Dear investor, artikel kali ini tidak berhubungan dengan pasar modal. Tapi sekedar sharing dari penulis aja. Kita tentu tahu benar kalau Indonesia saat ini lagi dilanda bencana alam besar-besaran. Mulai dari meletusnya Gunung Sinabung, banjir bandang di Wasior, meletusnya Gunung Merapi, hingga tsunami di Mentawai. Hmm.. pertanda apakah ini semua?

Krakatau Steel: Behind the IPO

Ketika Krakatau Steel (KRAS) mengumumkan harga IPO mereka pada level 850 per saham, mungkin teman-teman investor langsung tersenyum lebar. Sebab biar bagaimanapun, harga tersebut terbilang sangat murah untuk perusahaan baja terbesar di tanah air itu. Artinya? Keuntungan melimpah sudah ada di depan mata! Jika KSAR bisa naik ke level 1,200 saja, maka itu artinya gain lebih dari 40%. Jika anda kebagian jatah 1 milyar, maka itu berarti anda akan memperoleh 400 juta hanya dalam satu atau dua malam. Wow.. sangat menggiurkan bukan?

Tanya Jawab

Dear investor. Dalam beberapa waktu terakhir, seiring dengan semakin banyaknya pembaca blog sederhana ini, email dari teman-teman pembaca yang masuk untuk mengajak berdiskusi, meminta analisis, atau sekedar menanyakan pertanyaan ringan, juga semakin banyak. Mohon maaf saya tidak sempat menjawab semuanya. Jadi, artikel ini dikhususkan untuk menampung semua pertanyaan (atau setidaknya sebagian) yang pernah masuk ke alamat email penulis, beserta jawabannya. Check it out.

Inilah Mengapa Saham IPO Selalu Menarik u/ Dibeli

Sepanjang tahun 2010, BEI sudah kedatangan 14 saham baru, dan saham-saham lainnya juga akan segera menyusul. Pada akhirnya, tidak semua saham baru tersebut dapat dijadikan pilihan investasi, apalagi bagi anda yang berniat menanamkan dana dalam jumlah menengah hingga besar (50% dari total dana anda atau lebih) untuk mid hingga long term. Tapi bagi anda penggemar profit instan, saham IPO selalu menarik untuk dicermati, terlepas dari apakah harganya mahal atau fundamental perusahaannya jelek. Kenapa? Mungkin tabel berikut ini bisa menjelaskannya. Klik gambar untuk memperbesar.

Agung Podomoro, the Other Side

Hari ini, saya iseng-iseng ikut hadir di acara Public Expose-nya Agung Podomoro di bilangan Slipi, Jakarta Barat. Sesampainya disana, saya baru ‘ngeh ada yang beda. Apa itu? Yang akan IPO adalah Agung Podomoro Land (ada Land-nya dibelakangnya), bukan Agung Podomoro itu sendiri. Lho memangnya apa bedanya? Jadi begini: Agung Podomoro Land, kita singkat saja APL, adalah anak usaha dari Grup Agung Podomoro.

Prospek IPO Agung Podomoro

Kalau dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan properti besar seperti Lippo Karawaci (LPKR) atau Bakrieland Development (ELTY), nama Agung Podomoro tampaknya jauh lebih terkenal. Penyebabnya mungkin karena Agung Podomoro, bersama dengan ‘Agung’ lainnya yaitu Agung Sedayu, cukup sering nongol di televisi untuk mempromosikan berbagai proyek properti milik mereka (catat bahwa dua perusahaan itu tidak memiliki hubungan kekeluargaan hanya karena namanya mirip, sebab pemiliknya berbeda). Apakah Agung Podomoro ini memang perusahaan properti yang besar? Terkenal iya, tapi ukurannya ternyata termasuk sedang. Pada 1H10, Agung Podomoro mencatat total aset Rp 5.2 trilyun, agak jauh dibawah LPKR yang sebesar Rp 13.0 trilyun, atau ELTY sebesar Rp 12.0 trilyun.

Krakatau Steel

Di IDX alias BEI, sektor logam besi dan baja tidak begitu populer jika dibandingkan dengan sektor logam lainnya seperti nikel dan timah. Penyebabnya karena Indonesia memang bukan merupakan salah satu negara produsen besi terbesar di dunia, seperti India dan China. Karena itu, pemain di bisnis besi dan baja ini di tanah air tidak begitu banyak. Krakatau Steel boleh dikatakan adalah satu-satunya pemain besar di Indonesia di bidang ini. Seberapa besar? Pada fist half 2010, Krakatau Steel mencatat total aset sekitar Rp 13.3 trilyun.

Outlook Sektor Perkebunan Sawit/CPO

Sektor plantation atau sektor perkebunan di Indonesia, identik dengan perkebunan kelapa sawit. Sebuah perusahaan perkebunan yang terdaftar di BEI, sebagian besar dari areal perkebunannya hampir pasti merupakan kebon sawit, sementara kebun-kebun lainnya seperti kebun karet, buah-buahan, kopi, hingga kakao, biasanya hanya sebagian kecil. Beberapa perusahaan perkebunan bahkan murni hanya bergerak di usaha perkebunan kelapa sawit. Hmm.. memangnya apa sih istimewanya kelapa sawit ini dibanding hasil bumi lainnya?

Dibalik Right Issue BUMI

Seperti yang sudah pernah kita bahas sebelumnya, Bumi Resources (BUMI) akhirnya benar-benar melakukan menerbitkan saham baru (right issue) dalam rangka membayar utang ke sejumlah kreditornya dalam bentuk saham (baca lagi http://teguhidx.blogspot.com/2010/07/berau-dan-benakat-ternyata.html). BUMI menerbitkan saham baru sebanyak 1.9 milyar lembar (10% dari jumlah saham BUMI saat ini) senilai US$ 496 juta, yang akan diserap sepenuhnya oleh beberapa kreditornya. Sejauh ini kecuali China Investment Corporation (CIC), kreditor lainnya tampaknya setuju dengan cara pembayaran utang seperti itu. Pertanyaannya, kenapa?

Saham Pilihan di Sektor Perbankan

Sektor perbankan di BEI selalu menarik perhatian investor. Penyebabnya adalah karena kinerja mereka senantiasa naik terus dari tahun ke tahun (thanks to tingginya suku bunga pinjaman). Faktor yang mempengaruhi harga sahamnya juga tidak terlalu banyak (berbeda dengan sektor perkebunan kelapa sawit yang mudah dipengaruhi oleh perubahan harga CPO, misalnya), kecuali hanya faktor sentimen, dan pengaruh dari pergerakan IHSG itu sendiri. Jika IHSG lagi tinggi-tingginya seperti sekarang, maka otomatis beberapa saham perbankan menjadi mahal, sehingga pilihannya menjadi terbatas. Tapi untungnya, ternyata masih ada satu saham perbankan yang secara fundamental masih murah, sehingga layak dikoleksi.

Chairul Tanjung

Jika anda cukup aktif di market, anda mungkin hafal dengan nama-nama seperti Aburizal Bakrie, Hary Tanoesoedibjo, James T. Riady, Franky Wijaya, Anthoni Salim, hingga Edwin Soerjadjaja. Yup, mereka adalah segelintir orang yang menguasai pasar modal di Indonesia. Mereka masing-masing adalah pemilik Grup Bakrie, Grup Bhakti, Grup Lippo, Grup Sinarmas, Grup Salim, dan Grup Astra (tapi Astra sudah dijual ke Jardine Matheson, grup investasi asal Hongkong). Dan mereka juga termasuk orang-orang terkaya di Indonesia. Lalu, dimana posisi Chairul Tanjung?

Prospek IPO Harum Energy

Ketika perusahaan batubara, Berau Coal Energy (BRAU), memutuskan untuk melaksanakan IPO beberapa waktu yang lalu, beberapa pengamat sedikit mempertanyakan keputusan tersebut. Sebab terlepas dari faktor fundamental dari BRAU itu sendiri, sektor batubara di Indonesia belakangan ini memang sedang dalam keadaan terpuruk. Pada akhir tahun 2009, sebagian besar perusahaan-perusahaan batubara di Indonesia memang menikmati kenaikan pendapatan dan laba bersih yang signifikan, yang ditopang kenaikan harga batubara. Namun pada 1Q10, pendapatan para perusahaan batubara mulai menurun, seiring dengan seretnya volume produksi. Dan penurunan tersebut ternyata masih berlanjut pada 1H10 kemarin.

Prospek IPO Indofood CBP

Indofood (INDF) identik dengan Indomie, karena itulah produk andalannya selama ini, yang sampai sekarang sepertinya nggak ada saingannya (Wings Food memang sedang mencoba menggeser Indomie dengan Mie Sedaap, tapi sejauh ini kelihatannya belum berhasil). Namun sebenarnya, cakupan bisnis INDF jauh lebih luas daripada sekedar jualan mie instan dengan merk Indomie. Sesuai namanya: Indofood, INDF adalah salah satu perusahaan produsen makanan terintegrasi terbesar di Indonesia, yang menguasai sektor makanan dari hulu sampai hilir.

Sekilas Mengenai Suspensi Saham

Anda mungkin pernah membeli sebuah saham, kemudian ketika anda berniat menjualnya, ternyata tidak bisa. Setelah anda cek, ternyata saham yang anda beli tersebut terkena suspensi, alias tidak bisa diperdagangkan dalam kurun waktu tertentu, sehingga otomatis anda tidak bisa menjualnya karena otoritas bursa (BEI) tidak mengizinkan adanya transaksi jual beli yang berkaitan dengan saham yang anda pegang tersebut. Nah, wajar kalau anda panik jika anda berada dalam situasi seperti ini, karena keberadaan dana anda yang nyangkut di saham tersebut menjadi tidak jelas (kalau cuma cut loss sih masih mending). Tapi apakah dengan demikian dana anda benar-benar hilang begitu saja? Berikut penjelasannya.

Cara Mudah Menentukan Support & Resistance

Jika anda membaca rekomendasi saham dari sekuritas di koran ataupun media elektronik, seringkali ada kata-kata seperti ini, ‘IHSG pada hari ini kami perkirakan akan bergerak di kisaran 3,087 – 3,127.’ Nah, anda tentu sudah paham kalau angka yang terkecil yaitu 3,087, disebut titik support, sementara angka yang terbesar yaitu 3,127, disebut titik resistance. Lalu bagaimana cara analis sekuritas menentukan titik support dan resistance tersebut? Ternyata mudah. Andapun bisa melakukannya, bahkan hanya dalam hitungan detik.

Pelat Timah Nusantara

Pelat Timah Nusantara alias Latinusa (NIKL) adalah salah satu emiten di BEI yang mencetak peningkatan laba bersih yang signifikan pada 1H10 dibandingkan dengan 1H09, yaitu mencapai 480.9%, atau hampir 5 kali lipatnya. Karena angka tersebut tentunya tampak fantastis, maka mungkin sebagian dari anda kepincut sama saham yang satu ini. NIKL menerbitkan laporan keuangannya pada tanggal 27 Juli, ketika itu sahamnya berada di posisis 315. Tapi kenapa kok sejak tanggal tersebut, saham NIKL tidak jua naik? Ketika artikel ini ditulis, NIKL berada di posisi 305.

Intiland Development

Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 9 Juni 2010, saya pernah merekomendasikan Bank BTN (BBTN) sebagai salah satu pilihan jangka panjang di blog ini. Ini link-nya: http://teguhidx.blogspot.com/2010/06/saham-saham-untuk-jangka-panjang.html. Ketika itu, BBTN masih berada di posisi 1,370. Dan sekitar dua bulan berikutnya, BBTN memang terus naik hingga menyentuh posisi 1,960 sebagai posisi puncaknya, pada 23 Juli. Namun setelah itu, BBTN cenderung bergerak turun. Dan ketika artikel ini ditulis, BBTN berada di posisi 1,820, atau sudah turun 7.14% dibanding posisi puncaknya. Apa yang terjadi?

Cara Mencermati Kabar Dari Emiten

Katakanlah anda sedang berencana untuk membeli sebuah rumah. Jika seorang agen properti datang menemui anda untuk menawarkan sebuah rumah pada harga 400 juta, sedangkan anda tahu bahwa harga pasaran rumah tersebut hanya 300 juta, apakah anda akan menerima tawaran si agen? Tentu saja tidak. Tapi bagaimana kalau si agen bilang karena alasan tertentu seperti lokasi yang strategis, kualitas bangunan, dan lain-lain, maka rumah tersebut akan bernilai 500 juta dalam setahun ke depan. Sehingga jika anda membelinya pada harga 400 juta, maka anda akan mendapat untung 100 juta. How’s that? Maka mungkin anda akan mulai tergoda untuk membeli rumah tersebut, meski harganya lebih mahal dari yang seharusnya.

Penyebab Turunnya Saham BLTA, Part 2

Kemarin manajemen Berlian Laju Tanker (BLTA) mengumumkan hasil dari right issue. Dan seperti yang sudah kita bahas di artikel sebelumnya, right issue senilai Rp 1.2 trilyun tersebut ternyata memang tidak sepenuhnya diserap pasar, melainkan hanya sekitar 74%, dan sisanya dibeli oleh pembeli siaga (http://www.inilah.com/news/read/ekonomi/2010/08/04/713451/blta-rights-issue-terserap-74/). Menurut manajemen, angka 74% tersebut memang sesuai dengan target awal, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Penyebab Turunnya Saham BLTA

Akhir-akhir ini, pasar kembali dibuat khawatir dengan turunnya salah satu saham yang merupakan primadona di sektornya. Berlian Laju Tanker (BLTA) tidak diragukan lagi, merupakan perusahaan jasa transportasi menggunakan kapal tanker terbesar di Indonesia, sehingga rasanya memang agak kurang sreg jika anda tidak ikut memiliki saham perusahaan yang satu ini. Apalagi, pada 1Q10 lalu BLTA berhasil mencatat laba bersih US$ 25 juta, dari sebelumnya rugi US$ 73 juta. Tapi kenapa kok sahamnya malah turun terus? Dan kenapa dalam sebulan terakhir (sejak awal Juli), penurunan tersebut semakin drastis? Ketika artikel ini ditulis, BLTA terpuruk di posisi 240, setelah sebelumnya stabil di 340.

Berau dan Benakat, Ternyata?

Dilihat dari volume produksinya pada tahun 2009, Berau Coal Energy (BRAU) adalah perusahaan batubara terbesar keempat di Indonesia, setelah gabungan antara Arutmin dan Kaltim Prima Coal (Bumi Resources), Adaro, dan Kideco (Indika Energy). Pada 2009, Bumi Resources mencatat volume produksi batubara 57 juta ton, Adaro 41 juta ton, Kideco 25 juta ton, dan BRAU 14 juta ton. BRAU lebih besar dari Indominco Mandiri (anak usaha Indo Tambangraya, 12 juta ton), dan PT Bukit Asam (11 juta ton). Pertanda BRAU ini adalah perusahaan batubara yang serius? Seharusnya sih demikian.

Bank Mandiri

Bank Mandiri (BMRI) menjadi salah satu emiten bluchip yang cepat merilis laporan keuangan first half 2010 (1H10) mereka, meski hanya dalam bentuk press release. Hasilnya? Tidak mengecewakan memang, namun juga tidak terlalu luar biasa. Kinerja BMRI pada 1H10 ini justru turun jika dibandingkan pada 1Q10 lalu. Contohnya, pada 1H10 BMRI mencetak kenaikan laba bersih 37.8%, lebih rendah dibanding 1Q10 yang mencapai 43.1%.

Efek Berantai Kasus Bank Capital

Beberapa waktu lalu, manajemen dari emiten-emiten B7 dan juga Benakat Petroleum (BIPI), angkat bicara mengenai dana deposito abal-abal di Bank Capital (BACA). Yang paling menarik perhatian tentu Bakrie Sumatra Plantations (UNSP). UNSP tercatat menyimpan lebih dari Rp3.5 trilyun dana tunai dalam bentuk deposito di BACA, atau merupakan yang terbesar dibanding emiten-emiten lainnya (BNBR tidak termasuk). Dan apa yang dikatakan manajemen? ‘Ke-tidak sinkron-an data yang terjadi antara UNSP dan BACA tak lebih dari kesalahan administrasi saja, karena perbedaan waktu pencatatan laporan keuangan. Simpelnya, cuma salah ketik doang kok.’ Alasan yang bisa diterima? Anda bisa menilainya sendiri.

B7 & Bank Capital: Puncak Dari Gunung Es?

Jumat kemarin, IHSG ditutup pada posisi 2,992, atau hanya delapan poin lagi sebelum menembus 3,000. Kenaikan tersebut memang tidak wajar, sehingga di hari perdagangan berikutnya (hari ini) IHSG mulai bergerak melemah dan ketika artikel ini ditulis, IHSG sudah turun 0.89% ke posisi 2,966. (jika anda membaca artikel saya yang di blog yang satunya, anda akan menerima informasi ini lebih awal pada pagi tadi sebelum bursa dibuka). Sebenarnya, kemarin IHSG bisa saja menyentuh 3,000-an, namun ternyata itu kembali tidak terjadi. Kenapa?

Market Cap & Hubungannya Dengan Ekuitas

Jika anda ingin membeli sebuah tempat usaha, katanlah restoran seharga Rp 1 milyar, dan anda memiliki uangnya, maka apa yang akan anda lakukan? Ya tentu langsung saja membelinya bukan? Tapi bagaimana jika uang yang anda miliki hanya Rp 500 juta? Maka anda bisa mencari rekanan sehingga nantinya akan terkumpul uang Rp 1 milyar tersebut. Katakanlah anda mendapat dua orang partner yang masing-masing menyetor Rp 200 dan 300 juta. Dengan demikian, pendapatan dari restoran tersebut akan dibagi tiga, dimana anda mendapat 50%, dan dua rekan anda masing-masing mendapat 20 dan 30%.

Hary Tanoe, Mbak Tutut, dan BHIT

Seiring dengan semakin memanasnya konflik antara Hary Tanoe dengan Mbak Tutut, plus kasus Sisminbakum yang semakin menghangatkan suasana, beberapa saham Grup Bhakti mulai anjlok besar-besaran. Yang paling menyita perhatian tentu Media Nusantara Citra (MNCN), dan Bhakti Investama (BHIT), karena dari semua saham Grup Bhakti yang terdaftar di bursa, hanya dua saham itu saja yang volume transaksinya encer (likuid maksudnya). Saya sudah pernah bilang untuk silahkan mencermati MNCN, karena MNCN punya peluang untuk menguat jika sewaktu-waktu kasus ini selesai. Tapi anehnya, sepertinya para spekulan lebih suka memperhatikan BHIT daripada MNCN.

Prospek IPO Garuda Indonesia

Saat ini mungkin anda sedang concern dengan saham-saham IPO. Setelah kemarin dua perusahaan yaitu Skybee (SKYB) dan Golden Retailindo (GOLD) secara resmi listing di BEI, hari ini dua emiten lainnya juga dijadwalkan untuk melantai di bursa. Mereka adalah Bank Jabar Banten dan Indopoly. Semua pendatang baru tersebut cukup menarik untuk dijadikan mainan spekulasi, karena hampir semua saham akan mengalami volatilitas harga yang sangat tinggi pada hari perdagangan perdana mereka. Dan itu pula yang dialami SKYB dan GOLD yang pada kemarin naik cukup besar. Namun emiten-emiten tersebut tergolong kecil sehingga tidak begitu menarik bagi anda pemain bluchip. Nah, salah satu perusahaan yang juga akan segera melantai di bursa dan berpotensi menjadi anggota bluchip karena ukurannya yang cukup besar, adalah Garuda Indonesia.

Kasus TPI & Saham MNCN

Jika anda perhatikan tiga stasiun televisi yaitu RCTI, TPI, dan GlobalTV akhir-akhir ini, maka anda akan menemukan bahwa hampir setiap hari atau bahkan setiap saat, dibawah layar ditampilkan berita dalam bentuk teks berjalan seperti yang biasa ditampilkan oleh MetroTV. Isinya terutama adalah soal sengketa kepemilikan TPI antara Hary Tanoesoedibjo dan Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, dimana poin-poin yang ditonjolkan adalah pembelaan terhadap Hary Tanoe dan pemojokkan terhadap Mbak Tutut.

Dibalik Buyback Saham

Mungkin anda pernah membaca berita seperti ini di media: PT Abcd telah melakukan buyback atas sekian lembar sahamnya. Apa itu buyback? Secara singkatnya dimana saya yakin sebagian besar dari anda sudah paham, buyback adalah pembelian kembali sebagian saham yang diterbitkan dan beredar di market oleh perusahaan. Tapi apa maksudnya? Dan apa pengaruhnya terhadap saham dari emiten yang bersangkutan?

Bakrie Connectivity & Telkom

Salah satu berita yang paling hot yang beredar di market dalam sepekan terakhir adalah tentang aksi korporasi terbarunya Bakrie Telecom (BTEL). BTEL mendirikan PT Bakrie Connectivity (BCON), anak usaha yang bergerak di jasa layanan internet. Informasi ini disambut baik oleh banyak investor dan alhasil, jumat kemarin BTEL naik 1 poin ke posisi 166. Jika dihitung sejak posisi terendahnya pada pada 25 Mei lalu yaitu 133, berarti BTEL telah naik 26.7% dalam sebulan terakhir. Sebuah kenaikan yang luar biasa apalagi mengingat status BTEL sebagai anggota B7. Diluar itu, ada beberapa fakta menarik seputar pendirian BCON.

Ancaman Krisis yang Sesungguhnya

Anda tentu sudah cukup sering mendengar tentang bencana tumpahan minyak milik BP di Teluk Meksiko, atau Krisis Yunani. Bagi Indonesia, efek dari bencana-bencana ini tidak sebesar peristiwa krisis global yang melanda pasar modal pada 2008 lalu. Namun bagi Amerika Serikat dan Inggris, bencana ini cukup ‘ampuh’ untuk meredam pergerakan Dow dan Footsie setidaknya dalam 2 bulan terakhir. Saat ini Dow Jones berada di posisi 10,322, turun cukup jauh dari puncaknya pada 26 April lalu yaitu 11,205. Sedangkan FTSE berada di posisi 5,179, juga turun cukup jauh dari puncaknya yaitu 5,247. Saham BP sendiri, saat ini terpuruk di posisi 333.5, terjun bebas dari puncaknya yaitu 658.2. Sounds bad enough? Seorang ekonom terkenal mengingatkan kita bahwa kedepannya, masih ada ancaman krisis yang jauh lebih besar daripada sekedar krisis Teluk Meksiko ataupun krisis Yunani.

Astra Otoparts

Astra Otoparts (AUTO) adalah salah satu pemain terbesar di industri suku cadang kendaraan bermotor di Indonesia. Induknya yaitu Astra International (ASII), memang sengaja mendirikan AUTO pada tahun 1991 sebagai perusahaan pendukung karena industri otomotif tentu tidak akan jalan tanpa industri suku cadang. Meski statusnya hanya sebagai ‘pembantu’, namun karena sang majikan yaitu ASII merupakan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, maka ukuran AUTO pun lumayan besar. Aset AUTO pada 1Q10 mencapai 5 trilyun.

Asia Natural Resources

Kalau kita perhatikan market akhir-akhir ini, entah mengapa banyak sekali berseliweran rumor yang mengkait kaitkan suatu saham dengan sektor tambang. Misalnya, PT Antah Berantah akan mengakuisisi sebuah perusahaan batubara, dan seterusnya. Kemudian, saham tersebut dikatakan akan dikerek bandar ke posisi sekian. Yang paling sering dan sudah cukup memakan banyak korban adalah BHIT. Namun, BHIT tidak sendirian. Salah satu saham yang juga sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini karena katanya akan terjun ke bisnis tambang, adalah Asia Natural Resources (ASIA). Hmm.. apakah prospeknya memang sungguhan? Atau jangan-jangan cuma kerjaan bandar iseng?

Prospek IPO Bank Jabar Banten

Sebagaimana yang sudah anda ketahui, salah satu Bank daerah yang paling populer, Bank Jabar Banten, akan menggelar IPO untuk 20% sahamnya yaitu sebanyak 1.8 milyar lembar saham dengan nominal Rp 250 per saham. IPO akan digelar pada tanggal 1, 2, dan 5 juli mendatang. Dan Bank Jabar Banten akan listing di bursa terhitung sejak 8 Juli 2010, dengan ticker BJBR (kalau ga salah). Bagaimana prospeknya? Layakkah dikoleksi?

BHIT sebagai perusahaan holding

Meski saya sudah cukup sering mengulas tentang Bhakti Investama (BHIT) di blog sederhana ini, namun pertanyaan mengenai BHIT ternyata masih saja terus berdatangan. Salah satu pertanyaan besarnya adalah tentu soal apakah BHIT bisa naik pada bulan Juni ini? Karena setelah ditunggu-tunggu, BHIT tetap tidak banyak bergerak meski volume transaksinya tetap diatas 100 juta lembar per hari. Saat ini BHIT masih terjebak di posisi 146.

Utang BNBR

Setelah kemarin-kemarin heboh Mr. Harry dengan BHIT-nya, kali ini Bakrie kembali muncul ke permukaan setelah Telkom menyatakan akan menggabungkan Flexi dengan Esia-nya BTEL. Banyak yang mencurigai bahwa penggabungan ini hanya akan menguntungkan BTEL, namun merugikan TLKM. Penyebabnya? Karena BTEL dinilai memiliki banyak utang, dimana sebagian dari utang tersebut akan menjadi harus ditanggung oleh TLKM jika penggabungan tersebut jadi dilakukan. Dan lebih dari itu, pemilik dari BTEL yaitu Bakrie memang punya banyak utang. Itu pula yang menyebabkan B7 tidak naik-naik meski volume transaksinya akhir-akhir ini ramai lagi. Pertanyaannya, seberapa besar sih utang Bakrie saat ini?

Saham-saham untuk Jangka Panjang

Sebuah saham harus memiliki setidaknya dua syarat agar cocok untuk dikoleksi dalam jangka panjang, katakanlah 1 tahun, yaitu: kinerjanya bagus, dan pergerakan sahamnya wajar. Yang dimaksud dengan kinerjanya bagus adalah: menghasilkan laba yang senantiasa naik dari waktu ke waktu. Dan yang dimaksud dengan pergerakan sahamnya wajar adalah: polanya terus naik dari waktu ke waktu, sesuai fundamentalnya, dan bersih dari spekulasi. Saham-saham apa saja yang memenuhi kriteria tersebut? Artikel ini penting bagi anda investor long term.

Pengaruh Piala Dunia?

Ketika bursa regional dan global sedang dipenuhi oleh berita-berita ekonomi yang simpang siur yang membuat para investor harap-harap cemas, pemberitaan dalam negeri justru disuguhi oleh hiburan ala Ariel Peterporn, hahaha... Saya sampai hampir lupa kalau saya punya blog ini, hehe. Back to our topic, IHSG sore ini ditutup naik 1.08% ke posisi 2,780, dan menjadi salah satu kenaikan tertinggi regional hari ini, dibawah All Ordinaries 1.16%. Bagaimana kabar saham-saham yang direkomendasikan kemarin malam, apakah memang naik?

Mengenal lebih dekat Bhakti Investama

Bhakti Investama (BHIT) adalah salah satu emiten paling populer saat ini. Dalam seminggu terakhir saja, BHIT sudah mengeluarkan setidaknya tiga informasi penting yang tersebar di berbagai media, yaitu konversi obligasi, pembangunan dermaga di kalimantan, dan finalisasi akuisisi tambang Papua. Kalau berita dari anak-anak usahanya seperti MNCN, BMTR, dan lainnya diitung juga, maka bakal lumayan sulit untuk selalu mengikuti perkembangan kaba terbaru BHIT ini. Sebenarnya BHIT ini perusahaan apa sih? Di artikel ini: 1. Lini bisnis BHIT, 2. review kinerja terbaru BHIT, 3. Prospek kedepan.

Lippo Karawaci

Lippo Karawaci (LPKR) termasuk perusahaan yang publikasi laporan keuangannya paling ditunggu karena statusnya sebagai perusahaan properti terbesar di Indonesia, dan satu-satunya perusahaan properti yang terdaftar sebagai bluchip berkat market cap-nya yang sempat berada diatas 1 milyar Dollar. Dan aset utamanya Grup Lippo ini akhirnya mengeluarkan lap keu 1Q10 pada 31 Mei lalu. Dan coba tebak, laba bersihnya masih stabil dengan naik tipis 4.3%. Tapi kenapa kok sejak Awal April lalu, sahamnya turun terus hingga kini (saat artikel ini ditulis) tinggal 400?

Market Education

Dear friends, terima kasih banyak sudah berpartisipasi di blog sederhana ini dengan mengajukan banyak pertanyaan, baik melalui komentar maupun email. Saya jadi tahu apa yang harus saya tulis, hehe.. Mohon maaf saya tidak sempat membalasnya satu per satu. Karena itu setiap beberapa waktu sekali, saya akan membuat artikel yang berisi kumpulan pertanyaan dari anda dan tentu saja beserta jawabannya. Mudah-mudahan dengan cara ini saya bisa menampung semua masukan dari temen-temen. Artikel ini adalah yang pertama, check it out!

Perbandingan Sektor Semen

Sektor semen adalah salah satu sektor yang paling atraktif, khususnya bagi anda pemain long term, karena fundamental mereka yang bagus. Perusahaan semen yang terdaftar di IDX jumlahnya hanya tiga, dan tiga-tiganya punya kinerja yang cukup baik. Mereka adalah Semen Gresik (SMGR), Indocement (INTP), dan Holcim Indonesia (SMCB). Bagaimana profil kinerja mereka di 1Q10 ini, dan emiten mana yang sahamnya layak anda koleksi? Mari kita cek.

Price Earning Ratio dan Price to Book Value

Price Earning Ratio (PER) adalah salah satu ukuran paling dasar dalam analisis saham secara fundamental. Secara mudahnya, PER adalah ‘perbandingan antara harga saham dengan laba bersih perusahaan’, dimana harga saham sebuah emiten dibandingkan dengan laba bersih yang dihasilkan oleh emiten tersebut dalam setahun. Karena yang menjadi fokus perhitungannya adalah laba bersih yang telah dihasilkan perusahaan, maka dengan mengetahui PER sebuah emiten, kita bisa mengetahui apakah harga sebuah saham tergolong wajar atau tidak secara real dan bukannya secara future alias perkiraan. Oke, kita langsung saja.

Bank BRI

Bank Rakyat Indonesia atau lebih akrab disebut Bank BRI (BBRI) merupakan bank terbesar kedua di Indonesia pada saat ini jika dilihat dari ukuran asetnya. Posisi tersebut baru saja diperoleh pada 1Q10 kemarin. Pada akhir 2009 lalu, BRI masih merupakan bank terbesar ketiga di Indonesia setelah Bank Mandiri dan BCA. Memangnya kinerja BRI pada 1Q10 ini sangat baik? Sangat baik sih nggak, tapi bisa disebut cukup baik. Mari kita cek.

BHIT: The Next BUMI?

Kemarin beredar kabar bahwa BHIT akan dikerek bandar ke posisi 200, karena perusahaan akan segera merampungkan akuisisi perusahaan tambang. Well, saya cuma bisa mengatakan: satu lagi kabar yang tidak jelas dan belum dapat dipastikan kebenarannya dari BHIT. Memang sih, kalau sahamnya dikerek bandar maka BHIT bisa saja kembali ke posisi 200, tapi itu jika beneran dikerek.

Moving Average

Karena market tampaknya lagi nggak bersahabat, mending kita luangkan waktu kita untuk belajar sedikit daripada stress mantengin harga saham terus. Kali ini saya akan membahas mengenai moving average, salah satu teknik dasar dalam analisis teknikal untuk mengetahui apakah harga sebuah saham peluangnya lebih besar untuk menguat, atau melemah. Ya ya... Saya memang seorang analis fundamental, tapi tentu saja saya juga ngerti analisis teknikal meskipun cuma dikit-dikit hehe...

May Effect: The Results

IHSG diprediksi akan rebound 1-2% pada Senin ini, karena penurunan pada jumat kemarin sudah merupakan kali ketiga dalam seminggu terakhir. Dan sejauh ini prediksi tersebut masih akurat. Saat artikel ditulis, IHSG sudah naik 1.13% ke posisi 2,653. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa posisi IHSG di 2,623 pada penutupan jumat kemarin, sejauh ini merupakan posisi terendah IHSG sejak terjadinya terjadinya koreksi bulan Mei. Kemudian pertanyaannya, jika posisi terendah jumat kemarin dibandingkan dengan posisi puncak IHSG pada 30 April lalu, saham-saham apa saja yang sudah turun paling banyak sepanjang bulan Mei ini? Dan apa penyebabnya?

Wake Up! It's Still May!

Jumat sore ini mungkin menjadi mimpi buruk bagi sebagian dari anda. IHSG ditutup turun 2.64%, dan ini sudah ketiga kalinya sejak rabu. Secara keseluruhan, IHSG telah turun 8.23% dalam seminggu terakhir. Anda semua tentu sudah tahu siapa biang kerok dari semua ini: Melemahnya pasar global. Ketika indeks-indeks bursa dunia melemah, maka meski kondisi politik dan ekonomi kita lagi adem ayem, IHSG mau tak mau tetap ikut terseret kebawah. Lantas, seburuk apakah sebenarnya kondisi pasar global saat ini?

Black Thursday

Ketika Agus Martowardojo semalam secara resmi diumumkan sebagai Menkeu pengganti Mbak Sri, media langsung merespon dengan menulis bahwa penunjukkan ini kemungkinan besar akan membuat pasar saham kembali naik pada hari kamis ini. Sebab, Mr. Agus dinilai sebagai figur yang tepat, bla bla bla... Namun faktanya, hari ini IHSG kembali ditutup turun, meski tidak sebesar kemarin karena hanya 1.29%. Ada apa ini?

Kalbe Farma

Kalbe Farma (KLBF) adalah salah satu perusahaan farmasi/obat-obatan terbesar di Indonesia. Sebagai perusahaan yang bergerak di bisnis consumer goods yang sangat prospektif, maka KLBF menjanjikan keuntungan yang besar setiap tahunnya. Dan besarnya keuntungan tersebut masih berlanjut hingga kini. Pada 1Q10, laba bersih KLBF naik 20.4% dibanding 1Q09.

Medco Energi

Medco Energi Internasional (MEDC) adalah salah satu emiten yang paling populer di IDX. Bukan karena kinerjanya bagus-bagus amat, tapi karena perusahaan ini gemar ngomong (atau berpromosi) ke media. Jika anda sering baca-baca koran, maka berita tentang MEDC ini hampir ditampilkan setiap hari, atau minimal seminggu 2-3 kali. Dalam 24 jam terakhir saja, MEDC sudah mengeluarkan 3 berita, padahal rata-rata beritanya ga terlalu penting. Tak heran kalau pergerakan sahamnya di bursa menjadi sangat fluktuatif. Lalu bagaimana prospek saham ini kalau untuk long term?

Unilever Indonesia

Di IDX, perusahaan yang bisa mencetak penjualan setara atau sedikit diatas nilai asetnya, jumlahnya hanya beberapa. Namun Unilever Indonesia (UNVR) mampu mencatat nilai penjualan minimal dua kali nilai asetnya, dan catatan itu secara konsisten dihasilkan setiap tahunnya sejak 2004, tanpa pernah sedikitpun menurun! Dan kinerja yang luar biasa tersebut berlanjut hingga kini. Pada 1Q10, UNVR mencatat penjualan Rp 5.0 trilyun, yang jika di-annualized-kan menjadi Rp 19.9 trilyun. Berapa nilai aset UNVR? Cuma 8.6 trilyun.

Mayora Indah

Mayora Indah (MYOR) adalah perusahaan spesialis produsen makanan yang manis-manis seperti permen, kembang gula, dan biskuit. Anda tentu hafal dengan produk-produk dari perusahaan ini yang cukup sering diiklankan di televisi. Meski lingkup usahanya sempit, namun ukuran asetnya ternyata cukup besar. MYOR mencatat total aset 3.5 trilyun pada 1Q10. Dan seperti perusahaan produsen makanan lainnya, MYOR senantiasa mencatat kenaikan pendapatan dan laba bersih dari waktu ke waktu. Pendapatan MYOR pada 1Q10 naik 27.3% dibanding periode yang sama tahun 2009, dan laba bersihnya naik 67.0%.

Tunas Baru Lampung

Tunas Baru Lampung (TBLA) adalah perusahaan CPO yang ukurannya relatif kecil jika dibandingkan dengan Astra Agro, SMART, atau Bakrie Sumatra. Meski kecil, namun TBLA mencatat kenaikan laba bersih yang lumayan besar pada 1Q10 yang terutama disebabkan oleh penguatan Rupiah. Harga sahamnya sendiri saat ini termasuk murah jika dibandingkan dengan fundamentalnya.

MPPA dan HERO

Matahari Putra Prima (MPPA). Sebagai perusahaan retail yang prospeknya tidak pernah ada matinya, perusahaan milik Grup Lippo ini sebenarnya punya kinerja yang lumayan. Tapi kalau lihat pergerakan harga sahamnya, ampun deh.. Spekulasinya luar biasa sehingga anda bisa mengambil keuntungan yang besar dalam waktu sekejap kalau masuk disaat yang tepat. Tapi bagaimana kalau masuknya disaat yang kurang tepat? Kebetulan, MPPA baru saja terjun bebas dari posisi tertingginya pada akhir April lalu yaitu 1,340. Saat ini MPPA berada diposisi 1,020.

May Effect

Pada awal maret lalu ketika IHSG berada di posisi 2,550-an, saya berpendapat bahwa IHSG akan mampu menembus level psikologis 3,000 pada akhir April nanti, sebelum kemudian terkoreksi pada bulan Mei. Saya memprediksi bahwa IHSG akan menyentuh puncaknya pada kisaran 3,000 – 3,100 sebelum kemudian terkoreksi untuk balik lagi ke 2,700 – 2,800. Setelah saya baca-baca koran pada waktu itu, sebagian besar analis lainnya pun punya pendapat yang sama dalam hal bahwa IHSG akan menembus 3,000, namun tak banyak dari mereka yang menyebutkan bahwa akan terjadi koreksi besar-besaran pada Bulan Mei. Saya memberi istilah pada koreksi pada bulan Mei tersebut dengan ‘efek Bulan Mei’ atau ‘May Effect’.

Telkom

Telkom (TLKM) hari ini ditutup turun 1.94%, relatif kecil dibandingkan dengan penurunan yang dialami oleh anggota bluchip lainnya, tapi itu karena TLKM memang sudah turun cukup banyak dalam beberapa waktu terakhir. Dengan harganya kini yang cuma 7,600, harga TLKM telah turun cukup drastis sepanjang setahun terakhir, tepatnya sebesar 22.4% dari puncaknya pada posisi 9,800 yang dicapai pada 11 desember 2009 lalu. Artinya, TLKM sudah turun cukup banyak bahkan jauh sebelum IHSG turun drastis dalam seminggu terakhir.

Bank BII

Kalau anda perhatikan, volume transaksi Bank Internasional Indonesia atau Bank BII (BNII), meningkat tajam dalam sebulan terakhir. Kalau biasanya volume transaksi BNII dalam satu hari paling banyak hanya menyentuh 1 juta lembar, maka kemarin-kemarin bahkan sempat mencapai 74 juta lembar dalam satu hari. Apa yang terjadi?

Bank Mandiri, BRI, dan BCA

Indonesia memiliki sekitar seratusan bank umum, bank pemerintah, cabang bank asing dan bank swasta (belum termasuk bank pembangunan daerah, bank perkreditan rakyat, dan bank-bank khusus), namun hanya 27 yang terdaftar di IDX, termasuk juga Bank Mutiara (eks Bank Century). Dari sekian banyak bank tersebut, hanya tiga bank yang ukurannya benar-benar besar. Mereka adalah Bank Central Asia atau BCA, Bank Mandiri, dan Bank Rakyat Indonesia atau BRI. BI alias Bank Indonesia jangan dihitung, itu sih bank sentral. Nah, bagaimana profil kinerja terakhir tiga bank elit ini, dan juga bagaimana perbandingan harga sahamnya?

Rupiah & IHSG

Dipengaruhi oleh berita mengenai Sri Mulyani, Rupiah hari ini ditutup turun 36 poin dari 9,017 menjadi 9,053 per US$. Salah satu penurunan paling tajam sepanjang tahun 2010 ini, ditengah-tengah kondisi Rupiah yang terus menguat terhadap Dollar. Saya jadi tertarik untuk melihat ada hubungan apa antara Rupiah dan IHSG. Sebab selama ini, pergerakan Rupiah hampir selalu seiring sejalan dengan IHSG. IHSG sendiri hari ini terkoreksi cukup dalam, 3.81%.

Harga-harga Komoditas Tambang

Bagi anda yang doyan main saham pertambangan atau logam tertentu, anda pasti sudah tahu bahwa harga saham di bursa kita sangat mudah dipengaruhi oleh harga komoditas yang menjadi dagangan utama perusahaan tersebut. INCO, misalnya. Harga saham perusahaan produsen logam nikel ini sudah naik lebih dari 70% sepanjang setahun terakhir, tak peduli meski harganya sebenarnya sudah selangit sekalipun. Kok bisa? Well, itu mungkin karena harga nikel pada hari ini sudah berada pada level US$ 25,650 per ton. Hari ini, setahun yang lalu, harga nikel masih berada di kisaran US$ 12,000 per ton, itu berarti sudah naik 114%! Itu nikel, bagaimana dengan logam lainnya?

AKR Corporindo

Kita mengenal AKR Corporindo (AKRA) sebagai perusahaan pengecer bahan bakar minyak (BBM). Namun sebenarnya lingkup usaha AKRA jauh lebih luas daripada sekedar jualan BBM. AKRA bergerak di perdagangan umum, industri kimia, logistik, pengoperasian pelabuhan, dan manufaktur. Beberapa anak usahanya, misalnya Sorini Agro Asia Tbk (SOBI), merupakan produsen sorbitol dan tepung tapioka. AKRA menjadi tenar setelah menjadi perusahaan swasta pertama di Indonesia yang membangun terminal tanki BBM di Tanjung Priok, Jakarta. Biasanya kan cuma Pertamina yang bisa bikin terminal seperti itu.

XL Axiata

XL Axiata (EXCL) mencatat laba bersih 598 milyar pada Q1/10. Kenaikan signifikan dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat rugi bersih 217 milyar. Namun bukan itu yang menyebabkan investor mulai melirik EXCL, melainkan karena sahamnya mendadak ramai diperdagangkan semenjak akhir Maret lalu. Volume perdagangan pada tanggal 30 dan 31 maret 2010 sempat menyentuh 27 juta lembar, padahal sebelumnya saham EXCL yang wara wiri di bursa cuma berada dikisaran puluhan atau paling banyak ratusan ribu lembar per hari. Siapa sebenarnya yang memperjual belikan EXCL? Dan apakah setelah akhir Maret tersebut sahamnya naik?

Perbandingan Saham Sektor CPO

Pada artikel sebelumnya, disebutkan bahwa perusahaan CPO terbesar saat ini jika dilihat dari ukuran asetnya adalah UNSP dengan aset 12.4 trilyun. Namun jika dilihat dari kapitalisasi pasar (market cap) atau nilai jual perusahaan dipasar, UNSP bukanlah perusahaan terbesar, sama sekali bukan. Perusahaan CPO terbesar di IDX pada saat ini adalah AALI dengan market cap 34.3 trilyun, disusul LSIP 13.3 trilyun, dan SMAR 12.5 trilyun. Lalu dimana posisi UNSP?

Perbandingan Kinerja Sektor CPO pada Q1/10

Setiap tiga bulan sekali pada saat perusahaan menerbitkan laporan keuangan kuartalan, salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh investor adalah, ‘Pada satu sektor yang sama, emiten mana yang kinerjanya paling bagus?’ Karena itu di blog ini saya akan menyajikan laporan perbandingan kinerja beberapa sektor perusahaan di Indonesia, setiap tiga bulan sekali, berdasarkan laporan keuangan terbaru. Kita mulai dari sektor yang menjadi salah satu andalan ekspor Indonesia: sektor CPO.

Adaro Energy

Adaro Energy (ADRO) sempat mencuri perhatian ketika mencatat kenaikan laba bersih 393.2% pada fy2009. Sahamnya pun naik menjadi 2,100 – 2,200 meski sebelumnya sempat terkoreksi hingga sempat menyentuh 1,790. Namun sepertinya sekarang ini adalah saat yang tepat untuk keluar bagi anda yang memegang ADRO. Mengapa?

The Seven Brothers, nasibmu kini

Sepanjang tahun 2009 lalu khususnya setelah Indonesia bangkit dari pengaruh krisis global 2008, IDX begitu dikuasai oleh emiten-emiten anggota the seven brothers. Perdagangan dari ketujuh emiten tersebut begitu menguasai bursa, sampai-sampai dari total nilai transaksi yang terjadi dalam satu hari perdagangan, separuhnya merupakan transaksi B7. Sehingga akhirnya pergerakan B7 ini menjadi acuan bagi investor untuk buy, hold, atau sell. Tapi pada tahun 2010 ini, B7 seolah-olah kehilangan daya magisnya. Apa yang terjadi? Artikel ini penting dibaca oleh anda yang memegang saham satu atau dua anggota B7.

INDF, bagus tapi kurang menjanjikan

Indofood (INDF) baru saja mengumumkan lap keu kuartal pertama 2010. Dan seperti biasa, mereka masih menunjukkan kenaikan kinerja yang stabil. Pendapatan INDF naik 4.8% dibanding periode yang sama tahun lalu. Laba operasinya naik 25.2%, thanks to penurunan beban pokok penjualan. Dan laba bersihnya? Melejit hingga 472.1%, yang terutama disebabkan oleh pendapatan dari selisih kurs Rupiah.

Laba bersih ASII naik 61%, bagaimana prospeknya?

Astra International (ASII) barusan mengumumkan laporan keuangan interim melalui induknya, Jardine Matheson (Singapura). ASII mencatat kenaikan pendapatan 38% dan kenaikan laba bersih 61% dibanding periode yang sama tahun 2009. Dana milik para pemegang saham (saya nggak begitu ngeh apa ini artinya, tapi mungkin maksudnya ekuitas) juga naik 8%. Terdengar menjanjikan? Mari kita cek.

Soal Akuisisi BBKP oleh Jamsostek

Tahun ini tampaknya kinerja sektor perbankan lagi bagus-bagusnya. Beberapa bank besar dan menengah sudah mengumumkan laporan keuangan kuartal pertama 2010 mereka. BBTN adalah yang paling pede, mereka sudah merilis lap keu mereka pada 12 April lalu, dan kinerjanya memang naik. Bank-bank lain juga mencatat kenaikan kinerja yang lumayan. Lalu bagaimana dengan BBKP?

Media Nusantara Citra

Media Nusantara Citra (MNCN) sebenarnya bukanlah perusahaan yang terlalu menguntungkan jika dilihat dari margin laba bersih terhadap aset dan ekuitasnya. Pada laporan keuangan kuartal pertama 2010, Perusahaan mencatat Annualized ROA (perkiraan ROA untuk setahun penuh pada 2010), sebesar 10.0%, dan annualized ROE 17.7%. Itu sebabnya, agak sulit untuk mengharapkan pembagian dividen yang besar dari perusahaan ini. Namun untuk ukuran perusahaan media, angka tersebut termasuk lumayan, sehingga sahamnya termasuk bagus.

Review Saham: BHIT

Bhakti Investama (BHIT) pada akhir februari lalu menjadi saham yang diburu oleh investor penny stock. Mengapa? Karena kenaikannya yang luar biasa pada februari lalu. Sebagaimana kita ketahui, BHIT naik dari 215 ke 940 hanya dalam satu bulan, setelah itu pergerakannya naik turun. Apa yang membuat BHIT bisa naik sedrastis itu? Dan mengapa saat ini sahamnya nggak naik-naik lagi?

IHSG menuju 3,000?

Ketika artikel ini ditulis, IHSG berada pada posisi 2,914, dan sedang turun 0.87% karena terseret oleh penurunan global. Namun seperti biasa, penurunan IHSG tidak separah penurunan index saham negara-negara lainnya. Nikkei sudah anjlok 2.20%, dan Footsie di Inggris sana jeblok 2.61%. Kalau diperhatikan, IDX memang sekali-kali turun, namun dalam setahun terakhir dia senantiasa menguat. Pertanda apakah ini sebenarnya? Apakah kenaikan itu memang sebaik kelihatannya?