Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 ('Ebook Kuartalan') sudah terbit! Dan anda bisa langsung memperolehnya disini.

Price Earning Ratio dan Price to Book Value

Price Earning Ratio (PER) adalah salah satu ukuran paling dasar dalam analisis saham secara fundamental. Secara mudahnya, PER adalah ‘perbandingan antara harga saham dengan laba bersih perusahaan’, dimana harga saham sebuah emiten dibandingkan dengan laba bersih yang dihasilkan oleh emiten tersebut dalam setahun. Karena yang menjadi fokus perhitungannya adalah laba bersih yang telah dihasilkan perusahaan, maka dengan mengetahui PER sebuah emiten, kita bisa mengetahui apakah harga sebuah saham tergolong wajar atau tidak secara real dan bukannya secara future alias perkiraan. Oke, kita langsung saja.

Bank BRI

Bank Rakyat Indonesia atau lebih akrab disebut Bank BRI (BBRI) merupakan bank terbesar kedua di Indonesia pada saat ini jika dilihat dari ukuran asetnya. Posisi tersebut baru saja diperoleh pada 1Q10 kemarin. Pada akhir 2009 lalu, BRI masih merupakan bank terbesar ketiga di Indonesia setelah Bank Mandiri dan BCA. Memangnya kinerja BRI pada 1Q10 ini sangat baik? Sangat baik sih nggak, tapi bisa disebut cukup baik. Mari kita cek.

BHIT: The Next BUMI?

Kemarin beredar kabar bahwa BHIT akan dikerek bandar ke posisi 200, karena perusahaan akan segera merampungkan akuisisi perusahaan tambang. Well, saya cuma bisa mengatakan: satu lagi kabar yang tidak jelas dan belum dapat dipastikan kebenarannya dari BHIT. Memang sih, kalau sahamnya dikerek bandar maka BHIT bisa saja kembali ke posisi 200, tapi itu jika beneran dikerek.

Moving Average

Karena market tampaknya lagi nggak bersahabat, mending kita luangkan waktu kita untuk belajar sedikit daripada stress mantengin harga saham terus. Kali ini saya akan membahas mengenai moving average, salah satu teknik dasar dalam analisis teknikal untuk mengetahui apakah harga sebuah saham peluangnya lebih besar untuk menguat, atau melemah. Ya ya... Saya memang seorang analis fundamental, tapi tentu saja saya juga ngerti analisis teknikal meskipun cuma dikit-dikit hehe...

May Effect: The Results

IHSG diprediksi akan rebound 1-2% pada Senin ini, karena penurunan pada jumat kemarin sudah merupakan kali ketiga dalam seminggu terakhir. Dan sejauh ini prediksi tersebut masih akurat. Saat artikel ditulis, IHSG sudah naik 1.13% ke posisi 2,653. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa posisi IHSG di 2,623 pada penutupan jumat kemarin, sejauh ini merupakan posisi terendah IHSG sejak terjadinya terjadinya koreksi bulan Mei. Kemudian pertanyaannya, jika posisi terendah jumat kemarin dibandingkan dengan posisi puncak IHSG pada 30 April lalu, saham-saham apa saja yang sudah turun paling banyak sepanjang bulan Mei ini? Dan apa penyebabnya?

Wake Up! It's Still May!

Jumat sore ini mungkin menjadi mimpi buruk bagi sebagian dari anda. IHSG ditutup turun 2.64%, dan ini sudah ketiga kalinya sejak rabu. Secara keseluruhan, IHSG telah turun 8.23% dalam seminggu terakhir. Anda semua tentu sudah tahu siapa biang kerok dari semua ini: Melemahnya pasar global. Ketika indeks-indeks bursa dunia melemah, maka meski kondisi politik dan ekonomi kita lagi adem ayem, IHSG mau tak mau tetap ikut terseret kebawah. Lantas, seburuk apakah sebenarnya kondisi pasar global saat ini?

Black Thursday

Ketika Agus Martowardojo semalam secara resmi diumumkan sebagai Menkeu pengganti Mbak Sri, media langsung merespon dengan menulis bahwa penunjukkan ini kemungkinan besar akan membuat pasar saham kembali naik pada hari kamis ini. Sebab, Mr. Agus dinilai sebagai figur yang tepat, bla bla bla... Namun faktanya, hari ini IHSG kembali ditutup turun, meski tidak sebesar kemarin karena hanya 1.29%. Ada apa ini?

Kalbe Farma

Kalbe Farma (KLBF) adalah salah satu perusahaan farmasi/obat-obatan terbesar di Indonesia. Sebagai perusahaan yang bergerak di bisnis consumer goods yang sangat prospektif, maka KLBF menjanjikan keuntungan yang besar setiap tahunnya. Dan besarnya keuntungan tersebut masih berlanjut hingga kini. Pada 1Q10, laba bersih KLBF naik 20.4% dibanding 1Q09.

Medco Energi

Medco Energi Internasional (MEDC) adalah salah satu emiten yang paling populer di IDX. Bukan karena kinerjanya bagus-bagus amat, tapi karena perusahaan ini gemar ngomong (atau berpromosi) ke media. Jika anda sering baca-baca koran, maka berita tentang MEDC ini hampir ditampilkan setiap hari, atau minimal seminggu 2-3 kali. Dalam 24 jam terakhir saja, MEDC sudah mengeluarkan 3 berita, padahal rata-rata beritanya ga terlalu penting. Tak heran kalau pergerakan sahamnya di bursa menjadi sangat fluktuatif. Lalu bagaimana prospek saham ini kalau untuk long term?

Unilever Indonesia

Di IDX, perusahaan yang bisa mencetak penjualan setara atau sedikit diatas nilai asetnya, jumlahnya hanya beberapa. Namun Unilever Indonesia (UNVR) mampu mencatat nilai penjualan minimal dua kali nilai asetnya, dan catatan itu secara konsisten dihasilkan setiap tahunnya sejak 2004, tanpa pernah sedikitpun menurun! Dan kinerja yang luar biasa tersebut berlanjut hingga kini. Pada 1Q10, UNVR mencatat penjualan Rp 5.0 trilyun, yang jika di-annualized-kan menjadi Rp 19.9 trilyun. Berapa nilai aset UNVR? Cuma 8.6 trilyun.

Mayora Indah

Mayora Indah (MYOR) adalah perusahaan spesialis produsen makanan yang manis-manis seperti permen, kembang gula, dan biskuit. Anda tentu hafal dengan produk-produk dari perusahaan ini yang cukup sering diiklankan di televisi. Meski lingkup usahanya sempit, namun ukuran asetnya ternyata cukup besar. MYOR mencatat total aset 3.5 trilyun pada 1Q10. Dan seperti perusahaan produsen makanan lainnya, MYOR senantiasa mencatat kenaikan pendapatan dan laba bersih dari waktu ke waktu. Pendapatan MYOR pada 1Q10 naik 27.3% dibanding periode yang sama tahun 2009, dan laba bersihnya naik 67.0%.

Tunas Baru Lampung

Tunas Baru Lampung (TBLA) adalah perusahaan CPO yang ukurannya relatif kecil jika dibandingkan dengan Astra Agro, SMART, atau Bakrie Sumatra. Meski kecil, namun TBLA mencatat kenaikan laba bersih yang lumayan besar pada 1Q10 yang terutama disebabkan oleh penguatan Rupiah. Harga sahamnya sendiri saat ini termasuk murah jika dibandingkan dengan fundamentalnya.

MPPA dan HERO

Matahari Putra Prima (MPPA). Sebagai perusahaan retail yang prospeknya tidak pernah ada matinya, perusahaan milik Grup Lippo ini sebenarnya punya kinerja yang lumayan. Tapi kalau lihat pergerakan harga sahamnya, ampun deh.. Spekulasinya luar biasa sehingga anda bisa mengambil keuntungan yang besar dalam waktu sekejap kalau masuk disaat yang tepat. Tapi bagaimana kalau masuknya disaat yang kurang tepat? Kebetulan, MPPA baru saja terjun bebas dari posisi tertingginya pada akhir April lalu yaitu 1,340. Saat ini MPPA berada diposisi 1,020.

May Effect

Pada awal maret lalu ketika IHSG berada di posisi 2,550-an, saya berpendapat bahwa IHSG akan mampu menembus level psikologis 3,000 pada akhir April nanti, sebelum kemudian terkoreksi pada bulan Mei. Saya memprediksi bahwa IHSG akan menyentuh puncaknya pada kisaran 3,000 – 3,100 sebelum kemudian terkoreksi untuk balik lagi ke 2,700 – 2,800. Setelah saya baca-baca koran pada waktu itu, sebagian besar analis lainnya pun punya pendapat yang sama dalam hal bahwa IHSG akan menembus 3,000, namun tak banyak dari mereka yang menyebutkan bahwa akan terjadi koreksi besar-besaran pada Bulan Mei. Saya memberi istilah pada koreksi pada bulan Mei tersebut dengan ‘efek Bulan Mei’ atau ‘May Effect’.

Telkom

Telkom (TLKM) hari ini ditutup turun 1.94%, relatif kecil dibandingkan dengan penurunan yang dialami oleh anggota bluchip lainnya, tapi itu karena TLKM memang sudah turun cukup banyak dalam beberapa waktu terakhir. Dengan harganya kini yang cuma 7,600, harga TLKM telah turun cukup drastis sepanjang setahun terakhir, tepatnya sebesar 22.4% dari puncaknya pada posisi 9,800 yang dicapai pada 11 desember 2009 lalu. Artinya, TLKM sudah turun cukup banyak bahkan jauh sebelum IHSG turun drastis dalam seminggu terakhir.

Bank BII

Kalau anda perhatikan, volume transaksi Bank Internasional Indonesia atau Bank BII (BNII), meningkat tajam dalam sebulan terakhir. Kalau biasanya volume transaksi BNII dalam satu hari paling banyak hanya menyentuh 1 juta lembar, maka kemarin-kemarin bahkan sempat mencapai 74 juta lembar dalam satu hari. Apa yang terjadi?

Bank Mandiri, BRI, dan BCA

Indonesia memiliki sekitar seratusan bank umum, bank pemerintah, cabang bank asing dan bank swasta (belum termasuk bank pembangunan daerah, bank perkreditan rakyat, dan bank-bank khusus), namun hanya 27 yang terdaftar di IDX, termasuk juga Bank Mutiara (eks Bank Century). Dari sekian banyak bank tersebut, hanya tiga bank yang ukurannya benar-benar besar. Mereka adalah Bank Central Asia atau BCA, Bank Mandiri, dan Bank Rakyat Indonesia atau BRI. BI alias Bank Indonesia jangan dihitung, itu sih bank sentral. Nah, bagaimana profil kinerja terakhir tiga bank elit ini, dan juga bagaimana perbandingan harga sahamnya?

Rupiah & IHSG

Dipengaruhi oleh berita mengenai Sri Mulyani, Rupiah hari ini ditutup turun 36 poin dari 9,017 menjadi 9,053 per US$. Salah satu penurunan paling tajam sepanjang tahun 2010 ini, ditengah-tengah kondisi Rupiah yang terus menguat terhadap Dollar. Saya jadi tertarik untuk melihat ada hubungan apa antara Rupiah dan IHSG. Sebab selama ini, pergerakan Rupiah hampir selalu seiring sejalan dengan IHSG. IHSG sendiri hari ini terkoreksi cukup dalam, 3.81%.

Harga-harga Komoditas Tambang

Bagi anda yang doyan main saham pertambangan atau logam tertentu, anda pasti sudah tahu bahwa harga saham di bursa kita sangat mudah dipengaruhi oleh harga komoditas yang menjadi dagangan utama perusahaan tersebut. INCO, misalnya. Harga saham perusahaan produsen logam nikel ini sudah naik lebih dari 70% sepanjang setahun terakhir, tak peduli meski harganya sebenarnya sudah selangit sekalipun. Kok bisa? Well, itu mungkin karena harga nikel pada hari ini sudah berada pada level US$ 25,650 per ton. Hari ini, setahun yang lalu, harga nikel masih berada di kisaran US$ 12,000 per ton, itu berarti sudah naik 114%! Itu nikel, bagaimana dengan logam lainnya?

AKR Corporindo

Kita mengenal AKR Corporindo (AKRA) sebagai perusahaan pengecer bahan bakar minyak (BBM). Namun sebenarnya lingkup usaha AKRA jauh lebih luas daripada sekedar jualan BBM. AKRA bergerak di perdagangan umum, industri kimia, logistik, pengoperasian pelabuhan, dan manufaktur. Beberapa anak usahanya, misalnya Sorini Agro Asia Tbk (SOBI), merupakan produsen sorbitol dan tepung tapioka. AKRA menjadi tenar setelah menjadi perusahaan swasta pertama di Indonesia yang membangun terminal tanki BBM di Tanjung Priok, Jakarta. Biasanya kan cuma Pertamina yang bisa bikin terminal seperti itu.

XL Axiata

XL Axiata (EXCL) mencatat laba bersih 598 milyar pada Q1/10. Kenaikan signifikan dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat rugi bersih 217 milyar. Namun bukan itu yang menyebabkan investor mulai melirik EXCL, melainkan karena sahamnya mendadak ramai diperdagangkan semenjak akhir Maret lalu. Volume perdagangan pada tanggal 30 dan 31 maret 2010 sempat menyentuh 27 juta lembar, padahal sebelumnya saham EXCL yang wara wiri di bursa cuma berada dikisaran puluhan atau paling banyak ratusan ribu lembar per hari. Siapa sebenarnya yang memperjual belikan EXCL? Dan apakah setelah akhir Maret tersebut sahamnya naik?

Perbandingan Saham Sektor CPO

Pada artikel sebelumnya, disebutkan bahwa perusahaan CPO terbesar saat ini jika dilihat dari ukuran asetnya adalah UNSP dengan aset 12.4 trilyun. Namun jika dilihat dari kapitalisasi pasar (market cap) atau nilai jual perusahaan dipasar, UNSP bukanlah perusahaan terbesar, sama sekali bukan. Perusahaan CPO terbesar di IDX pada saat ini adalah AALI dengan market cap 34.3 trilyun, disusul LSIP 13.3 trilyun, dan SMAR 12.5 trilyun. Lalu dimana posisi UNSP?

Perbandingan Kinerja Sektor CPO pada Q1/10

Setiap tiga bulan sekali pada saat perusahaan menerbitkan laporan keuangan kuartalan, salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh investor adalah, ‘Pada satu sektor yang sama, emiten mana yang kinerjanya paling bagus?’ Karena itu di blog ini saya akan menyajikan laporan perbandingan kinerja beberapa sektor perusahaan di Indonesia, setiap tiga bulan sekali, berdasarkan laporan keuangan terbaru. Kita mulai dari sektor yang menjadi salah satu andalan ekspor Indonesia: sektor CPO.

Adaro Energy

Adaro Energy (ADRO) sempat mencuri perhatian ketika mencatat kenaikan laba bersih 393.2% pada fy2009. Sahamnya pun naik menjadi 2,100 – 2,200 meski sebelumnya sempat terkoreksi hingga sempat menyentuh 1,790. Namun sepertinya sekarang ini adalah saat yang tepat untuk keluar bagi anda yang memegang ADRO. Mengapa?