Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 ('Ebook Kuartalan') sudah terbit! Dan anda bisa langsung memperolehnya disini.

Berau dan Benakat, Ternyata?

Dilihat dari volume produksinya pada tahun 2009, Berau Coal Energy (BRAU) adalah perusahaan batubara terbesar keempat di Indonesia, setelah gabungan antara Arutmin dan Kaltim Prima Coal (Bumi Resources), Adaro, dan Kideco (Indika Energy). Pada 2009, Bumi Resources mencatat volume produksi batubara 57 juta ton, Adaro 41 juta ton, Kideco 25 juta ton, dan BRAU 14 juta ton. BRAU lebih besar dari Indominco Mandiri (anak usaha Indo Tambangraya, 12 juta ton), dan PT Bukit Asam (11 juta ton). Pertanda BRAU ini adalah perusahaan batubara yang serius? Seharusnya sih demikian.

Bank Mandiri

Bank Mandiri (BMRI) menjadi salah satu emiten bluchip yang cepat merilis laporan keuangan first half 2010 (1H10) mereka, meski hanya dalam bentuk press release. Hasilnya? Tidak mengecewakan memang, namun juga tidak terlalu luar biasa. Kinerja BMRI pada 1H10 ini justru turun jika dibandingkan pada 1Q10 lalu. Contohnya, pada 1H10 BMRI mencetak kenaikan laba bersih 37.8%, lebih rendah dibanding 1Q10 yang mencapai 43.1%.

Efek Berantai Kasus Bank Capital

Beberapa waktu lalu, manajemen dari emiten-emiten B7 dan juga Benakat Petroleum (BIPI), angkat bicara mengenai dana deposito abal-abal di Bank Capital (BACA). Yang paling menarik perhatian tentu Bakrie Sumatra Plantations (UNSP). UNSP tercatat menyimpan lebih dari Rp3.5 trilyun dana tunai dalam bentuk deposito di BACA, atau merupakan yang terbesar dibanding emiten-emiten lainnya (BNBR tidak termasuk). Dan apa yang dikatakan manajemen? ‘Ke-tidak sinkron-an data yang terjadi antara UNSP dan BACA tak lebih dari kesalahan administrasi saja, karena perbedaan waktu pencatatan laporan keuangan. Simpelnya, cuma salah ketik doang kok.’ Alasan yang bisa diterima? Anda bisa menilainya sendiri.

B7 & Bank Capital: Puncak Dari Gunung Es?

Jumat kemarin, IHSG ditutup pada posisi 2,992, atau hanya delapan poin lagi sebelum menembus 3,000. Kenaikan tersebut memang tidak wajar, sehingga di hari perdagangan berikutnya (hari ini) IHSG mulai bergerak melemah dan ketika artikel ini ditulis, IHSG sudah turun 0.89% ke posisi 2,966. (jika anda membaca artikel saya yang di blog yang satunya, anda akan menerima informasi ini lebih awal pada pagi tadi sebelum bursa dibuka). Sebenarnya, kemarin IHSG bisa saja menyentuh 3,000-an, namun ternyata itu kembali tidak terjadi. Kenapa?

Market Cap & Hubungannya Dengan Ekuitas

Jika anda ingin membeli sebuah tempat usaha, katanlah restoran seharga Rp 1 milyar, dan anda memiliki uangnya, maka apa yang akan anda lakukan? Ya tentu langsung saja membelinya bukan? Tapi bagaimana jika uang yang anda miliki hanya Rp 500 juta? Maka anda bisa mencari rekanan sehingga nantinya akan terkumpul uang Rp 1 milyar tersebut. Katakanlah anda mendapat dua orang partner yang masing-masing menyetor Rp 200 dan 300 juta. Dengan demikian, pendapatan dari restoran tersebut akan dibagi tiga, dimana anda mendapat 50%, dan dua rekan anda masing-masing mendapat 20 dan 30%.

Hary Tanoe, Mbak Tutut, dan BHIT

Seiring dengan semakin memanasnya konflik antara Hary Tanoe dengan Mbak Tutut, plus kasus Sisminbakum yang semakin menghangatkan suasana, beberapa saham Grup Bhakti mulai anjlok besar-besaran. Yang paling menyita perhatian tentu Media Nusantara Citra (MNCN), dan Bhakti Investama (BHIT), karena dari semua saham Grup Bhakti yang terdaftar di bursa, hanya dua saham itu saja yang volume transaksinya encer (likuid maksudnya). Saya sudah pernah bilang untuk silahkan mencermati MNCN, karena MNCN punya peluang untuk menguat jika sewaktu-waktu kasus ini selesai. Tapi anehnya, sepertinya para spekulan lebih suka memperhatikan BHIT daripada MNCN.

Prospek IPO Garuda Indonesia

Saat ini mungkin anda sedang concern dengan saham-saham IPO. Setelah kemarin dua perusahaan yaitu Skybee (SKYB) dan Golden Retailindo (GOLD) secara resmi listing di BEI, hari ini dua emiten lainnya juga dijadwalkan untuk melantai di bursa. Mereka adalah Bank Jabar Banten dan Indopoly. Semua pendatang baru tersebut cukup menarik untuk dijadikan mainan spekulasi, karena hampir semua saham akan mengalami volatilitas harga yang sangat tinggi pada hari perdagangan perdana mereka. Dan itu pula yang dialami SKYB dan GOLD yang pada kemarin naik cukup besar. Namun emiten-emiten tersebut tergolong kecil sehingga tidak begitu menarik bagi anda pemain bluchip. Nah, salah satu perusahaan yang juga akan segera melantai di bursa dan berpotensi menjadi anggota bluchip karena ukurannya yang cukup besar, adalah Garuda Indonesia.

Kasus TPI & Saham MNCN

Jika anda perhatikan tiga stasiun televisi yaitu RCTI, TPI, dan GlobalTV akhir-akhir ini, maka anda akan menemukan bahwa hampir setiap hari atau bahkan setiap saat, dibawah layar ditampilkan berita dalam bentuk teks berjalan seperti yang biasa ditampilkan oleh MetroTV. Isinya terutama adalah soal sengketa kepemilikan TPI antara Hary Tanoesoedibjo dan Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, dimana poin-poin yang ditonjolkan adalah pembelaan terhadap Hary Tanoe dan pemojokkan terhadap Mbak Tutut.

Dibalik Buyback Saham

Mungkin anda pernah membaca berita seperti ini di media: PT Abcd telah melakukan buyback atas sekian lembar sahamnya. Apa itu buyback? Secara singkatnya dimana saya yakin sebagian besar dari anda sudah paham, buyback adalah pembelian kembali sebagian saham yang diterbitkan dan beredar di market oleh perusahaan. Tapi apa maksudnya? Dan apa pengaruhnya terhadap saham dari emiten yang bersangkutan?