Buletin analisis & rekomendasi saham bulanan edisi Agustus 2014 akan terbit tanggal 1 Agustus mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.

Chairul Tanjung

Jika anda cukup aktif di market, anda mungkin hafal dengan nama-nama seperti Aburizal Bakrie, Hary Tanoesoedibjo, James T. Riady, Franky Wijaya, Anthoni Salim, hingga Edwin Soerjadjaja. Yup, mereka adalah segelintir orang yang menguasai pasar modal di Indonesia. Mereka masing-masing adalah pemilik Grup Bakrie, Grup Bhakti, Grup Lippo, Grup Sinarmas, Grup Salim, dan Grup Astra (tapi Astra sudah dijual ke Jardine Matheson, grup investasi asal Hongkong). Dan mereka juga termasuk orang-orang terkaya di Indonesia. Lalu, dimana posisi Chairul Tanjung?

Chairul Tanjung adalah pemilik Para Grup, yang belakangan berubah nama menjadi Chairul Tanjung Corporation (CT Corp). Anda mungkin mengenal Mr. Chairul hanya sebagai pemilik dari Bank Mega dan TransTV. Tapi seperti pengusaha besar lainnya, Mr. Chairul memiliki banyak sekali perusahaan yang bergerak di hampir segala bidang dan sektor usaha. Forbes memperkirakan nilai aset Mr. Chairul mencapai US$ 1.1 milyar atau sekitar Rp 10 trilyun, sedangkan saya pribadi berpendapat bahwa nilai aset Mr. Chairul kemungkinan lebih besar dari angka tersebut, mungkin US$ 2 milyar. Berapapun persisnya, namun angka-angka tersebut tentu saja merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seorang pengusaha yang mengawali kariernya hanya sebagai pemilik warung fotokopi kampus.

Hah? Pengusaha fotokopi? Benar! Mr. Chairul sudah belajar mencari uang sejak beliau masih sangat belia, yaitu ketika masih SMP, dan sudah menjadi pengusaha skala mikro sejak masuk kampus fakultas kedokteran gigi UI tahun 1981. Ketika itu usianya baru 19 tahun. Didorong oleh keinginnya untuk hidup mandiri dan tidak lagi bergantung kepada orang tua, beliau berjualan kaos, gantungan kunci, hingga buku-buku kuliah. Pendapatannya mulai menanjak ketika beliau menemukan ide untuk memanfaatkan ruang kosong dibawah tangga kampusnya, untuk dijadikan sebuah tempat usaha. Dan yang terbersit di benaknya ketika itu adalah usaha fotokopi. Ketika itu, jika seorang mahasiswa hendak memfotokopi catatan, maka dia harus pergi cukup jauh keluar kampus untuk mendatangi warung fotokopi. Chairul muda berpikir, jika ada warung fotokopi di dalam kampus, maka para rekan-rekan mahasiswanya tidak perlu keluar kampus lagi hanya untuk memfotokopi. Ide yang kreatif, dan Chairul muda mulai menjalankan kariernya sebagai pengusaha.

Selepas kuliah, Mr. Chairul menjalankan bisnis apa saja, mulai dari menjual alat-alat kedokteran, hingga menjadi kontraktor proyek pembangunan pabrik. Bisnisnya mulai menempati level yang lebih tinggi ketika beliau mendirikan pabrik sepatu anak-anak untuk ekspor pada tahun 1987. Pada tahun itu pula, Grup Para resmi berdiri.

Hingga hampir sepuluh tahun sejak Mr. Chairul mendirikan Grup Para, beliau masih merupakan seorang pengusaha yang biasa-biasa saja. Kariernya sebagai pengusaha besar dimulai ketika beliau mengakuisisi Bank Karman yang sakit-sakitan pada tahun 1996, dan mengubah namanya menjadi Bank Mega. Uangnya dari mana? Dari penjualan pabrik sepatunya. Mr. Chairul mengambil langkah yang sangat berani dengan menjual pabrik sepatunya yang ketika itu sedang jaya-jayanya, dan justru memilih untuk memasuki bisnis jasa layanan keuangan yang sedang terpuruk karena mulai dihantam badai krisis moneter tahun 1998. Tapi dikala pengusaha-pengusaha lain mulai berjatuhan pada masa ini, Mr. Chairul dengan Bank Mega-nya justru mampu mencuat sendirian. Pada sekitar tahun 1998 hingga 2000, beliau masuk ke bisnis properti dengan mendirikan Bandung Supermall, dan memperluas bisnis jasa layanan keuangannya dengan mengakuisisi Bank Tugu, yang kemudian berubah nama menjadi Bank Mega Syariah.

Pada tahun 2002, Mr. Chairul masuk ke bisnis media dengan mendirikan TransTV. Dengan demikian sejak tahun 2002, Mr. Chairul secara resmi memiliki bisnis di bidang financial service, properti, dan media. Tiga bidang inilah yang menjadi fondasi awal untuk kemudian membawa CT Corp bermain di hampir segala bidang usaha, delapan tahun kemudian. Berikut sebagian diantaranya:

1. PT Mega Corpora, induk untuk perusahaan-perusahaan di bidang financial service, yaitu Bank Mega (bank), Asuransi Jiwa Mega Life (asuransi), Mega Capital (pasar modal), dan Para Multifinance (jasa pembiayaan).
2. PT Trans Corporation, induk untuk perusahaan-perusahaan di bidang media dan lain-lain, yaitu TransTV (televisi), Anta Express Tour (tour service), Trans Mahagaya (fashion store), The Coffe Bean (food & beverages), Bandung Supermall (properti), dan Carrefour Indonesia (retail).
3. PT CT Global Resources, induk untuk perusahaan di bidang natural resources, yaitu Para Inti Energy (minyak bumi dan gas), dan CT Agro (perkebunan sawit).

Meski cakupan bisnis CT Corp sangat luas, namun tentunya masih belum seluas cakupan bisnis milik beberapa grup usaha yang lebih senior, seperti Grup Bakrie atau Grup Sinarmas. Namun mengingat bahwa usia Mr. Chairul masih muda untuk ukuran pengusaha sepertinya (48 tahun), dan Grup Para sendiri baru berdiri selama 23 tahun, maka patut ditunggu: hingga sejauh mana CT Corp mampu melebarkan sayap usahanya. Bukan tidak mungkin CT Corp suatu hari nanti akan melebihi semua grup-grup usaha yang disebutkan diatas.

The Unique Chairul Tanjung

Mr. Chairul bisa dikatakan sangat sukses, karena meski beliau merintis usahanya dari nol, namun beliau ternyata mampu bergabung dengan ‘The Billion Dollar Club’, dan mensejajarkan dirinya dengan para pengusaha besar lain yang jauh lebih senior. Tapi kalau cuma itu, beliau tidak sendirian. Beberapa pengusaha seperti Hary Tanoesoedibjo dan Sandiaga S. Uno, juga memulai usahanya dari zero point, dan mampu mencapai sukses dalam usia yang relatif muda.

Yang membuat Mr. Chairul unik dan terbilang istimewa dibanding pengusaha lainnya adalah, beliau seringkali ikut ‘membantu’ pemerintah dalam mengurus negara khususnya masalah perekonomian, sebuah masalah yang kita tahu bahwa pemerintah sendiri juga tidak begitu serius dalam mengurusnya. Seperti kita ketahui, ada banyak pengusaha yang mencari sesuatu yang berbeda jika bisnis mereka telah mencapai level tertinggi. Jika Aburizal Bakrie memilih berpolitik, maka Chairul Tanjung memilih untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan tanpa ikut masuk kedalam lingkaran kekuasaan.

Beberapa waktu lalu, Mr. Chairul ikut memprakarsai gerakan ‘Visi Indonesia 2030’, sebuah gerakan yang berisi cita-cita bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan perekonomian maju pada tahun 2030. Dan belum lama ini, Mr. Chairul ikut mendirikan Komite Ekonomi Nasional (KEN), dimana beliau menjadi ketuanya. KEN ikut memberikan berbagai rekomendasi kepada pemerintah untuk mendorong perekonomian nasional. Dalam beberapa kesempatan, Mr. Chairul sering mengatakan bahwa Indonesia bisa maju secara ekonomi bla bla bla, asalkan bla bla bla. Ketika kemarin membeli Carrefour, alasannya bukan sekedar untuk bisnis, melainkan ‘Sebagai salah satu perusahaan ritel terbesar di Indonesia, Carrefour sebaiknya dipegang oleh orang Indonesia juga. Masa sampai ritel juga kita kalah sama asing?’

Di Indonesia, tidak banyak pengusaha besar yang cukup peduli terhadap negara dan mau repot-repot untuk ikut mengurus perekonomian nasional, meski mereka sebenarnya mampu melakukannya. Biasanya para kaum kapitalis ini lebih sibuk untuk terus memperkaya diri mereka sendiri, bahkan terkadang meski harus merugikan orang lain. Seluruh aktivitas Mr. Chairul dalam membangun bisnisnya selama ini, sama sekali tidak mencerminkan profil pengusaha yang seperti itu. Mr. Chairul juga tidak tertarik untuk mengerjai dana investor di Stock Market, seperti yang biasa dilakukan oleh Grup Bakrie dan Grup Bhakti. Hingga sejauh ini belum pernah sekalipun terdengar kegiatan usahanya yang merugikan orang lain, apalagi orang banyak. Yup, secara keseluruhan, Mr. Chairul Tanjung memiliki profil dan reputasi yang sangat baik sebagai seorang pengusaha.

Chairul Tanjung dan Pasar Modal

Saya pernah bertemu dengan Mr. Chairul pada sebuah acara, beberapa waktu lalu. Ketika itu ada banyak pesan dan tips ala pengusaha yang disampaikan oleh beliau. Salah satunya adalah, ‘Jika bisnis yang anda miliki sedang berada dalam puncak keemasannya, maka tinggalkanlah bisnis tersebut, dan masuklah ke bisnis lain yang masih belum mencapai puncaknya. Jika tidak, maka anda tidak akan mendapat apa-apa!’

Ketika Mr. Chairul menjual pabrik sepatunya, kinerja pabrik sepatunya tersebut sedang bagus-bagusnya. Omzetnya sangat besar, dan keuntungannya pun melimpah, sehingga memancing banyak investor untuk mengakuisisinya. Pengusaha kebanyakan tentunya tidak akan mau melepas perusahaan miliknya jika perusahaannya tersebut sedang bagus-bagusnya. Tapi Chairul Tanjung berpikir lain. Beliau melelang pabriknya hingga beliau memperoleh harga tawaran tertinggi. Alhasil, beliau berhasil menjual pabrik kecilnya tersebut dengan harga yang cukup untuk membeli sebuah bank! Meski pada awalnya bank yang dibelinya tersebut hanyalah bank kecil, namun kini Bank Mega telah menjadi salah satu bank non pemerintah terbesar di Indonesia.

Nah, jika tips Mr. Chairul diatas diterjemahkan bagi investor pasar modal (dan ini adalah inti dari artikel ini), maka bunyinya akan berubah menjadi, ‘Jika saham yang sedang anda pegang harganya sedang tinggi-tingginya, maka segera jual saham tersebut. Jika tidak, maka anda tidak akan mendapat apa-apa!’. Ketika artikel ini ditulis, IHSG sudah menembus 3,300, dan tampaknya terus saja bergerak keatas. Semua saham pun mendadak melambung tinggi dan membuat para investor menjadi kaya raya. Jika anda sudah memperoleh gain yang sangat besar dari saham-saham tertentu yang anda pegang, lantas kenapa anda tidak segera menjualnya, setidaknya sebagian diantaranya? Jangan menunggu IHSG turun lagi kemudian baru anda menjualnya, atau anda tidak akan mendapat apa-apa!

Banyak investor stock market yang baru ramai-ramai membeli sebuah saham ketika harganya sudah melambung tinggi. Sebaiknya, banyak investor yang dengan tergesa-gesa menjual sahamnya ketika harganya sudah turun. Ini jelas strategi yang keliru, karena seharusnya, anda menjalankan strategi buy on weakness, dan sell on strength. Bukan sebaliknya! Maka tak heran kalau ada cukup banyak investor di BEI yang mengalami kerugian.

Tindakan Mr. Chairul dalam menjual pabrik sepatunya, bisa kita ibaratkan dengan menjual saham penny ketika harganya sedang tinggi-tingginya. Uang hasil penjualan kemudian digunakan untuk membeli saham bluchip yang masih murah (Bank Mega). Dengan demikian, Mr. Chairul berhasil memasuki level saham yang lebih tinggi. Ketika saham bluchip itu kemudian naik, dan terus naik, maka pada saat itulah Mr. Chairul mulai menggunakan uang hasil gain saham bluchip-nya –yang tentu saja lebih besar dibanding gain dari penny stock- untuk membeli banyak penny stock, seperti Bandung Supermall, TransTV, hingga Carrefour. Kedepannya bisa jadi akan lebih banyak lagi ‘saham’ yang beliau koleksi.

Jadi mengapa anda tidak melakukan hal yang serupa? Siapa tahu bahwa meski anda hanya investor biasa pada awalnya, namun anda juga bisa menjadi investor besar yang ikut mengendalikan market, suatu waktu nanti.

Seperti yang sudah disebutkan diatas, Chairul Tanjung sepertinya tidak begitu tertarik dengan stock market sungguhan. Dari sekian banyak perusahaannya, hanya Bank Mega (MEGA) dan Anta Express Tour (ANTA) saja yang terdaftar di BEI.

Btw, Chairul Tanjung adalah seorang tokoh Indonesia yang penulis banyak belajar darinya. Phew, wish I can meet him in personal someday.. Dan oh ya, tadinya hari ini saya mau membahas IPO Agung Podomoro, tapi perusahaan yang bersangkutan sepertinya masih belum merilis prospektus. Mohon maaf buat temen-temen yang menunggu, maybe next time.

10 komentar:

IT & Business mengatakan... Balas Komentar

Very inspiring article ... Teruskan Mas, tidak sabar menunggu artikel selanjutnya tentang IPO Podomoro. Saya pribadi sangat tertarik terhadap emiten ini.

candika mengatakan... Balas Komentar

Semoga lebih banyak tokoh seperti Chairul Tanjung, gimana ulasan utk Sandiaga Uno bisa Mas Teguh...

Tri Hartanto mengatakan... Balas Komentar

menyenangkan sekali mengawali hari dengan membaca kisah inspiratif seperti ini

Anonim mengatakan... Balas Komentar

woow....sebenarnya pak Teguh ini backgroundnya apa...bagaimana seorang analis bisa menulis profile cerita yg dikemas begitu menarik..saya aja awalnya tidak begitu suka dengan CT, tapi karena long story yang anda buay ini, saya jadi mengaguminya....GREAT JOB pak Teguh...LANJUTKAN.......

Anonim mengatakan... Balas Komentar

Nice artikel bung teguh,
tadinya ane pernah dapat enfo bung CT dibelakang keluarga Liem seperti Tanoe yang dibelakangnya Kel Cendana??
btw artikel diatas juga informatif dan factual, btw sering diinfo aja saham saham yang BOW jadi kita bisa cuan juga bung teguh :-)

Anonim mengatakan... Balas Komentar

Great momentum ... mas Teguh terima kasih banyak tentang scanning dan analog yang telah dibuat .. hal ini dapat direfleksikan pada adegan kehidupan kita yang lain, terlebih lagi bagi saya yang baru belajar investasi kecil2an .. saya selalu menunggu episode mas Teguh selanjutnya ..
-Seto-

hubungi-bama.blogspot.com mengatakan... Balas Komentar

wow...great artikel Mas Teguh, seperti membaca novel aliran humanisme berbalur investor :)

slaam kenal ya.

*BAMA*

Anonim mengatakan... Balas Komentar

jadi terharu...

Purcahyadi mengatakan... Balas Komentar

Mas teguh, salam kenal.....makasih sharingnya....bagus bgt pemilihan kata2nya....mantape polll

Anonim mengatakan... Balas Komentar

salam kenal mas teguh :)

senang rasanya membaca ulasan dari pak teguh mengenai emiten dan profil orang2 terkenal di indonesia.

seandainya ada waktu tolong dibahas prospek emiten KDSI, CLPI, BRNA dan INDX juga yah pak teguh..

Terima kasih atas atensinya....