Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Outlook Sektor Perkebunan Sawit/CPO

Sektor plantation atau sektor perkebunan di Indonesia, identik dengan perkebunan kelapa sawit. Sebuah perusahaan perkebunan yang terdaftar di BEI, sebagian besar dari areal perkebunannya hampir pasti merupakan kebon sawit, sementara kebun-kebun lainnya seperti kebun karet, buah-buahan, kopi, hingga kakao, biasanya hanya sebagian kecil. Beberapa perusahaan perkebunan bahkan murni hanya bergerak di usaha perkebunan kelapa sawit. Hmm.. memangnya apa sih istimewanya kelapa sawit ini dibanding hasil bumi lainnya?

Kelapa sawit, seperti yang kita ketahui, menghasilkan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Kelapa sawit juga menghasilkan minyak plasma dan PKO (palm kernel oil), namun jumlahnya tidak sebanyak CPO. CPO inilah yang menjadi komoditas berharga yang diincar oleh banyak pengusaha sawit. Pada umumnya kita mengetahui fungsi CPO hanya untuk diolah menjadi minyak goreng. Namun sebenarnya, manfaat CPO jauh lebih luas daripada sekedar untuk dijadikan barang-barang bermerk seperti Bimoli, Sania, ataupun Filma.

Secara kimiawi, CPO dapat diolah menjadi banyak sekali bahan-bahan kimia, yang menjadi bahan baku berbagai macam industri. Hasil olahan CPO secara kimia biasa disebut oleochemical atau oleokimia, atau bahan kimia nabati. Terdengar mirip dengan petrochemical atau petrokimia? Benar! Perbedaan antara oleokimia dan petrokimia hanyalah bahan dasarnya: kalau oleokimia berasal dari CPO, maka petrokimia berasal dari minyak bumi. Persamaannya, baik oleokimia maupun petrokimia memiliki unsur dasar yang sama, yaitu karbon (carbon) dan hidrogen (hydrogen). Struktur ikatan dan mata rantai yang berbeda-beda dari kedua unsur kimia ini, menghasilkan bahan-bahan kimia yang berbeda-beda pula, yang menjadi bahan baku untuk berbagai macam barang dan produk yang biasa kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Pada dasarnya, CPO dapat diolah menjadi tiga macam bahan kimia, yaitu methyl ester, asam lemak (fatty acid), dan gliserin (glycerine). Methyl ester adalah bahan baku untuk minyak biodiesel, sejenis bahan bakar solar, sebagai pengganti solar beneran dengan tingkat buangan emisi lebih rendah 20%. Sedangkan asam lemak, kegunaannya ada banyak, tapi yang paling umum adalah untuk obat-obatan yang berhubungan dengan penyakit jantung, darah tinggi, dan diabetes. Pernah dengar istilah ‘asam lemak esensial baik untuk kesehatan’?

Dan terakhir, gliserin, adalah bahan oleokimia yang paling banyak manfaatnya. Gliserin adalah bahan baku untuk untuk berbagai industri seperti industri makanan (pemanis buatan, margarin, pengemulsi, dll), industri kosmetik & bodycare (krim wajah, body lotion, lipstik dll), industri plastik, industri alkohol, industri sabun (sabun mandi, shampoo, deterjen, pembersih lantai dll) industri bahan peledak (dinamit, nitroglycerine), industri farmasi (sirup obat demam, ekspektoran dll), hingga industri busa untuk kasur dan pakaian.

Lalu dimana posisi minyak goreng? Minyak goreng adalah produk hasil CPO secara langsung (CPO-nya tidak perlu diolah menjadi oleokimia terlebih dahulu). Cara membuatnya, CPO yang sudah dibersihkan, dimurnikan menggunakan zat karbon aktif (active carbon). Apa itu? Arang batok kelapa. Arang ini, dalam jumlah tertentu, dicemplungkan ke dalam tanki berisi CPO. Arang ini akan menyerap semua kotoran yang terkandung didalam CPO tersebut, dan mengendapkannya ke dasar tanki, sehingga akan menghasilkan minyak CPO yang benar-benar bersih. Lalu.. jreng jreng.. Jadilah minyak goreng. Kalau ingin minyak goreng yang lebih murni lagi, maka proses ini bisa diulang. Makanya ada juga merk minyak goreng yang katanya dua kali penyaringan.

Karena sifat CPO yang sangat serbaguna, dan karena mayoritas produk olahan CPO menjadi kebutuhan utama masyarakat banyak, maka permintaan akan CPO tidak akan pernah habis. Oleh karena itu maka tak heran jika sebagian besar lahan perkebunan di Indonesia dijadikan sebagai kebun kelapa sawit. Kebun kopi mungkin hanya bisa menghasilkan kopi, kebun kakao hanya bisa menghasilkan coklat, dan kebun tembakau hanya bisa menghasilkan rokok. Tapi kebun sawit bisa menghasilkan hampir semua barang untuk kebutuhan sehari-hari. Dan minyak goreng sendiri adalah salah satu bahan sembako yang selalu dibeli oleh masyarakat baik di pasar tradisional maupun supermarket.

Sektor Plantation di Bursa Efek Indonesia

Sebagai negara produsen CPO terbesar di dunia, Indonesia memiliki banyak sekali pemain di bisnis perkebunan kelapa sawit. Mereka yang besar-besar diantaranya Astra (Astra Agro Lestari), Sinarmas (SMART), Salim (Indofood), Karim (Musim Mas), Sukanto Tanoto (Asian Agri), dan Martua Sitorus (Wilmar Corporation). Beberapa grup besar lainnya seperti Bakrie dan CT Corp. (Chairul Tanjung), juga punya usaha di perkebunan kelapa sawit, meski tidak menjadi bisnis utama mereka. Kalau perusahaan-perusahaan perkebunan daerah yang kecil-kecil ikut dihitung, maka jumlahnya bisa ratusan. Selain perusahaan lokal, ada banyak juga perusahaan perkebunan kelapa sawit asing asal Malaysia dan Singapura, yang juga menanam sawit mereka di Indonesia. Wilmar Corp juga listingnya di SGX sana, bukan di BEI.


Dari sekian banyak perusahaan CPO di Indonesia, terdapat setidaknya delapan perusahaan yang listing di BEI. Dan dari delapan perusahaan tersebut, ada tiga perusahaan yang kinerjanya (fundamentalnya) terbilang sangat baik. Mereka adalah Astra Agro Lestari (AALI), PP London Sumatera (LSIP), dan SMART (SMAR). Karena saham SMAR kurang likuid, maka SMAR tidak bisa dijadikan pilihan investasi, sehingga pilihannya (kalau untuk long term) menjadi tinggal dua: AALI dan LSIP.

Karena kinerjanya bagus, maka dalam kondisi normal (harga CPO stabil, pergerakan IHSG bagus, dan produksi CPO tidak terlalu terganggu) harga saham AALI dan LSIP terbilang muahal jika dibandingkan dengan harga saham perusahaan CPO lainnya. Ketika artikel ini ditulis, AALI berada di posisi 20,800, sedangkan LSIP berada di level 9,800. Pada harga tersebut, AALI mencetak PBV 5.3 kali, sedangkan LSIP 4.9. Bandingkan dengan Gozco Plantations (GZCO) dan Tunas Baru Lampung (TBLA), yang saat ini hanya mencetak PBV masing-masing 1.7 dan 1.6 kali. Yup, harga-harga saham di sektor CPO selama ini cukup mencerminkan kinerja dari emitennya, dimana semakin bagus kinerja sebuah emiten, maka permintaan investor akan sahamnya semakin tinggi, sehingga harga sahamnya cenderung mahal.

Karena itu, asalkan anda memilih emiten CPO yang bagus secara fundamental, maka hampir pasti porto anda akan menjadi lebih gemuk. Pertanyaannya kemudian, kalau pilihannya katakanlah terbatas pada AALI dan LSIP, apakah harga sekarang yang sudah mahal tersebut masih boleh dikoleksi? Kalau tidak, apakah berarti kita boleh melirik saham-saham CPO second liner seperti GZCO dan TBLA tadi?

Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah tidak. Dan jawaban untuk pertanyaan kedua, juga tidak. Seperti yang sudah kita bahas diatas, harga AALI dan LSIP saat ini menjadi mahal karena kondisi market lagi normal, bahkan cenderung bubble dimana IHSG saat ini sudah mendekati 3,600. Selain itu, harga CPO di Malaysia sana juga lagi tinggi-tingginya, yaitu mencapai lebih dari RM2,600 per ton.

Nah, untuk bisa mengkoleksi dua saham ini, maka anda harus menunggu dua saham ini turun hingga mencapai posisi harga yang wajar (tidak lagi mahal). Kapan itu? Ya ketika harga CPO turun. Biasanya jika harga CPO turun karena faktor-faktor tertentu, misalnya karena lesunya industri oleokimia sehingga permintaan CPO berkurang, maka harga saham-saham CPO di BEI juga akan turun, untuk kembali ke harga wajarnya masing-masing. Untuk AALI, harga wajarnya sekitar 17,000-an, sementara untuk LSIP, harga wajarnya sekitar 7,500-an. Saat itulah anda baru masuk.

Lalu kapan harga CPO akan turun? Ya bisa kapan saja. Kenaikan harga CPO akhir-akhir ini disebabkan oleh seretnya pasokan (karena turunnya volume produksi dari para perusahaan CPO), bukan karena meningkatnya permintaan, karena jumlah permintaan CPO sendiri sepertinya tidak meningkat. Jadi secara teori ekonomi, jika nanti pasokan CPO kembali normal, maka ada kemungkinan harga CPO akan kembali tertekan.

Lalu, jika harga CPO sudah turun, apakah harganya nantinya akan naik kembali? Seperti yang sudah kita bahas diatas, CPO adalah produk yang sangat serbaguna dan produk hasil olahannya menjadi barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak. Jadi permintaan akan CPO boleh saja turun sesekali, namun tidak akan pernah habis sama sekali, bahkan dalam jangka panjang justru akan selalu meningkat. So, jika suatu waktu nanti harga CPO mulai turun, atau IHSG yang turun, maka pada saat itulah anda bisa mulai mencermati saham-saham CPO. Ketika harga CPO kemudian naik kembali, maka saat itulah anda akan berpesta.

Pada awal hingga pertengahan Juli, alias tiga bulan yang lalu, AALI dan LSIP sempat berada di kisaran 18,000-an dan 7,500-an. Penyebabnya? Mungkin karena harga CPO ketika itu mandek di RM2,200-an per ton. Tapi kini, dua saham ini mantap berada diatas 20,000 dan 9,500, seiring harga CPO yang juga membaik. AALI dan LSIP bahkan sempat menyentuh 22,000 dan 10,300, tapi segera turun kembali karena memang harga-harga tersebut sudah kelewat mahal.

Lalu bagaimana dengan second liner sebangsa GZCO, TBLA, BWPT, SGRO, dan UNSP? Boleh saja dikoleksi, tapi sebaiknya untuk jangka pendek saja.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

4 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

penjelasan yang singkat padat dan jelas..bravo mas teguh.

Anonim mengatakan... Balas

Bagus...

Anonim mengatakan... Balas

pak, tolong ulas ipo krakatau steel, sepertinya bukan hanya saya yang menunggu ulasan ini. terima kasih

Anonim mengatakan... Balas

bukankah untuk komoditi based emiten, bukan secular stocks, maka PER yang tinggi bukan suatu patokan yang berarti untuk tidak membeli. Artinya adalah pada saat harga komiditas sedang rendah rendahnya, justru PER sangatlah tinggi. Padahal, di sana adalah saat yang paling tepat untuk masuk dan collect. Sebagai contoh TINS, dan kawan2 tahun lalu PER justru di atas 50. Karena ada basis investor yang kuat, maka penurun earning tidak berarti mereka akan keluar semua. Pada saat ini penguatan harga komiditi timah, maka saha TINS yang tadinya mempunyai PER yang sangat tinggi bukanlah menjadi rendah PER karena penyesuaian harga saham, tapi justru perbaikan earning sebab harga komiditi yang merangkak naik. Jadi menurut saya, decision untuk invest di komoditi related emiten harus melihat dari economic cycle dari underlying komodity itu sendiri. Apakah harga sawit pada waktu laporan keuangan terakhir pada harga yang tinggi? Tidak pada Q2. Kenaikan harga sawit akan meningkatkan Q3 earning sangat significant. sedangkan harga sekarang masih belum terlalu tinggi.