Buletin Analisis IHSG & stockpick saham pilihan edisi Desember 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Bubble Properti?

Kemarin sore, penulis menemukan thread menarik di Kaskus yang membahas soal bubble properti di Indonesia. Disitu ditampilkan komentar dari seorang aktivis LSM, Ali Tranghanda, yang mengatakan bahwa harga-harga properti telah naik secara tidak wajar dalam beberapa tahun terakhir. Contohnya harga rumah di Kawasan Serpong, Tangerang, rata-rata telah naik 40 - 50% per tahun sejak tahun 2009. Padahal dalam kondisi normal, harga rumah biasanya hanya naik 12 – 15% per tahun.

Indonesia Meraih Investment Grade, What Next?

Kamis kemarin, salah satu lembaga pemeringkat terkemuka di dunia, Fitch, merilis rating BBB- untuk Indonesia, meningkat dari sebelumnya hanya BB+. Indonesia kini digolongkan sebagai negara investment grade. Peningkatan ini sebelumnya sudah diperkirakan oleh banyak pihak, namun tetap menjadi kejutan karena tadinya diperkirakan Fitch baru akan merilis ratingnya pada pertengahan 2012 nanti. Apapun itu, keluarnya rating tersebut tentu saja menjadi sentimen positif bagi IHSG dan alhasil, sejak Jumat kemarin IHSG mulai bangkit, setelah sebelumnya terkoreksi selama tiga hari berturut-turut.

Saham-saham untuk Trading

Jika anda mencari saham untuk simpanan jangka panjang, maka anda harus menetapkan kriteria yang lumayan ketat. Saham tersebut tidak hanya harus memiliki kinerja (fundamental) yang bagus, dan juga pergerakan harga yang wajar (mengikuti pola teknikalnya), tetapi juga harus memiliki prospek bahwa kinerjanya yang bagus tersebut akan berlanjut di masa mendatang. Dan yang paling penting, valuasinya masih murah. Sementara kalau anda mencari saham untuk trading, maka kriterianya sedikit lebih longgar. Asalkan fundamentalnya bagus dan pergerakan harganya wajar, maka saham tersebut sudah bisa dipakai buat trading.

Tips Trading di Tahun 2012

Gak kerasa sekarang kita sudah memasuki bulan Desember, yang itu berarti tahun 2011 sebentar lagi akan berlalu. Sepanjang 2011 ini, pertumbuhan IHSG sama sekali tidak menggembirakan, dimana ketika artikel ini ditulis, IHSG berada di posisi 3,742, atau hanya naik 1.43% secara Year to Date atau YTD (dibanding posisi 30 Desember 2010). Posisi ini jauh lebih rendah dibanding ekspektasi beberapa analis dan para pengamat, termasuk juga penulis, yang setahun lalu memprediksi bahwa IHSG mungkin akan mencapai 4,500 pada akhir tahun 2011. Kalau ada yang bisa 'disalahkan' atas kegagalan target 4,500 tersebut, maka jari kita mungkin akan menunjuk kepada krisis utang di Eropa sana, yang hingga kini belum mencapai penyelesaian yang pasti.

Pemberitaan vs Konfirmasi Emiten

Sabtu tanggal 26 November kemarin, sebuah jembatan besar yang melintasi Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai Kertanegara (Kukar), Kalimantan Timur, tiba-tiba ambruk begitu saja, dan diperkirakan menelan korban jiwa hingga 40 orang. Namun bagi investor di stock market, yang menarik dari peristiwa tersebut bukanlah berapa jumlah korban yang tewas, ataukah siapa kontraktor yang dengan tidak becus mengurus jembatan tersebut. Melainkan, perusahaan natural resources manakah yang operasinya terganggu karena peristiwa tersebut? Sebab seperti yang kita ketahui, Kukar merupakan wilayah kerja dari banyak perusahaan batubara dan perkebunan kelapa sawit, dan beberapa diantaranya listing di BEI.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Seputar Right Issue

Right issue alias penerbitan saham baru oleh emiten, merupakan aksi korporasi yang biasanya kurang disukai oleh investor, karena alasan yang simpel yaitu akan menyebabkan saham dari emiten yang bersangkutan terdilusi. Karena nilainya terdilusi, maka biasanya harganya kemudian turun. Namun right issue tidak selalu berarti jelek bagi investor. Pada dasarnya tujuan dari right issue ini kan buat ngumpulin dana. Jika dana tersebut digunakan untuk tujuan yang baik bagi perusahaan, maka hasilnya akan dinikmati oleh investor juga.

Price Earning to Growth Ratio

Kalau anda termasuk pembaca lama blog ini, maka anda pasti sudah hafal dengan dua ukuran dalam analisis fundamental, yang biasa digunakan untuk menganalisis harga wajar dari sebuah saham, yang sering penulis bahas di blog ini, yaitu Price to Earning Ratio (PER), dan Price to Book Value (PBV). Yup, penulis memang cukup sering membahas tentang PER dan PBV di blog ini. Namun, diluar dua ukuran diatas masih buanyak sekali ukuran-ukuran fundamental lainnya, yang juga bisa diperhatikan dalam menilai apakah sebuah saham harganya wajar atau nggak. Dan disini kita akan bahas salah satunya, yaitu Price Earning to Growth (PEG).

Borneo + Bakrie = ???

Beberapa hari lalu, salah satu emiten batubara di bursa yaitu Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN), setuju untuk memberi Bakrie uang tunai kurang lebih US$ 1 milyar, yang akan dipakai Bakrie untuk membayar sebagian utang-utangnya. Sebagai gantinya, BORN akan memperoleh 23.8% saham Bumi Plc. Bumi Plc sendiri adalah pemegang 29% saham Bumi Resources (BUMI), dan 85% saham Berau Coal Energy (BRAU). Yang menarik disini, BORN membeli Bumi Plc itu pada harga 10.9 Pound Sterling per saham, atau 47% lebih mahal dibanding harga rata-rata Bumi Plc di London sana. Wah, apa nggak salah?

Selamat Sempurna

Sebentar lagi kita akan memasuki penghujung bulan Oktober, yang itu berarti para emiten akan segera merilis laporan keuangan (LK) untuk periode kuartal III 2011 atau Nine Months 2011 (9M11). Namun hingga ketika artikel ini ditulis, baru beberapa emiten saja yang sudah merilis LK-nya. Mereka adalah Bank BTPN (BTPN), Bank CIMB Niaga (BNGA), Tower Bersama Infrastructure (TBIG), Batavia Prosperindo Finance (BPFI), dan Selamat Sempurna (SMSM). Glad to say, seperti tidak terpengaruh oleh Eropa, kinerja para emiten ini rata-rata masih cukup baik. Dan disini kita akan membahas salah satu dari mereka, yaitu SMSM.

Indonesia di Mata Lembaga Pemeringkat Asing

Anda tentu hafal dengan tiga lembaga pemeringkat terkemuka di dunia, yaitu Moody’s, Fitch, dan Standard & Poor’s (S&P). Kerjaan utama dari para lembaga pemeringkat ini adalah memberi rating kepada perusahaan yang menerbitkan surat utang atau obligasi. Misalnya jika perusahaan A menerbitkan surat utang senilai sekian juta Dollar, maka tiga lembaga pemeringkat tersebut akan merilis rating yang menggambarkan prospek atas utang tersebut. Rating tersebut akan memberikan gambaran kepada investor, mengenai apakah surat utang tadi layak diambil atau nggak. Indonesia juga punya lembaga pemeringkat seperti ini, namanya Pefindo.

Atlas Resources

Pertumbuhan IHSG pada tahun 2011 ini mungkin memang tidak setinggi tahun lalu. Namun itu tidak mencegah beberapa perusahaan untuk mencari dana di pasar modal melalui IPO. Salah satu yang cukup menarik untuk dicermati adalah PT Atlas Resources, Tbk. Kenapa menarik? Karena nilai IPO-nya cukup besar, yaitu mencapai Rp1.5 trilyun, jika harga sahamnya ditetapkan pada batas tertinggi, yaitu Rp1,900 per saham. Menariknya lagi, nilai IPO tersebut bahkan lebih besar dari total aset perusahaan, yang cuma Rp1.2 trilyun.

Sekilas Saham-Saham Berfundamental Bagus

Seperti dibahas di artikel sebelumnya, perekonomian makro di Indonesia masih berjalan dengan baik, dengan pertumbuhan ekonomi hingga 6.5% pada kuartal II lalu. Di BEI sendiri, kinerja para emiten di kuartal II kemarin terbilang cukup bagus, dimana beberapa perusahaan masih mencatat pertumbuhan yang signifikan seperti biasanya.

Perkembangan Ekonomi Makro Eropa

Senin kemarin, BPS merilis data statistik ekonomi makro Indonesia, dan sekali lagi, datanya tampak bagus. Hingga September 2011, inflasi semakin terkontrol di level 4.6%. Sementara neraca ekspor impor pada periode Januari – Agustus 2011 tercatat surplus US$ 20 milyar, naik 81.9% dibanding periode yang sama tahun 2010. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2011 tercatat 6.5%, dan tingkat pengangguran pada Februari 2011 tercatat hanya 6.8%, sangat baik. Dengan asumsi data-data tersebut akurat, maka sepertinya memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari fundamental ekonomi Indonesia. We’re definitely fine. Tapi bagaimana dengan Yunani dan kawan-kawan?

Kuncinya, Main Aman!

Finally, setelah terus menerus terkoreksi sejak awal September lalu, IHSG akhirnya rebound cukup signifikan. Hari ini IHSG ditutup menguat 4.76% ke posisi 3,474. Beberapa saham unggulan pun mulai pulih dengan menguat hingga 10% atau lebih. Penguatan tersebut salah satunya didorong oleh penguatan Dow Jones selama dua hari berturut-turut sebelumnya, yang disebabkan oleh beredarnya sentimen bahwa Pemerintah di negara-negara Eropa akan menggunakan ‘kekuatan penuh’ untuk mencegah krisis.

Safe Haven

Dalam beberapa minggu terakhir ini bursa-bursa saham global, tak terkecuali IHSG, seperti masih bingung untuk menentukan arah, karena masih belum jelasnya penyelesaian masalah krisis utang di Eropa sana. Dan kemarin, satu peristiwa penting kembali memaksa investor untuk tiarap. International Monetary Fund (IMF) mengumumkan bahwa perekonomian dunia pada tahun 2011 dan 2012 kemungkinan hanya akan tumbuh masing-masing 4%, lebih rendah dari prediksi sebelumnya yaitu 4.3% dan 4.5%.

Sekilas Outlook Sektor Menara Telekomunikasi

Dalam waktu dekat ini, BEI akan kembali kedatangan beberapa emiten baru. Salah satunya adalah PT Solusi Tunas Pratama (STP), sebuah perusahaan penyewaan menara telekomunikasi, atau biasa disebut menara BTS (base transceiver station). Menariknya, STP adalah perusahaan penyewaan BTS ketiga yang listing di BEI. Dua perusahaan yang bergerak di bidang yang sama yang sudah terlebih dahulu listing adalah PT Sarana Menara Nusantara (TOWR), dan PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG). Seperti apa sih, bisnis penyewaan menara BTS ini?

Perusahaan Gas Negara

Beberapa saham bluchip mengalami koreksi yang cukup dalam ketika IHSG diterpa badai koreksi pada minggu-minggu belakangan ini, tanpa sanggup bangkit kembali. Perusahaan Gas Negara (PGAS) adalah salah satunya. Setelah bergerak sideways di kisaran 4,000-an sepanjang April – Agustus 2011, PGAS tiba-tiba saja anjlok ke posisi 3,600, dan terus turun sampai posisi saat ini yaitu 2,800. Penurunan tersebut adalah salah satu yang terburuk diantara saham-saham bluchip. Something’s wrong with its fundamentals? Mari kita cek.

Krisis Utang Eropa, Sebuah Peringatan

Kemarin Robert Zoellick, Presiden Bank Dunia, mengatakan bahwa perekonomian Amerika Serikat (AS) dan juga dunia, masih akan tumbuh meskipun perlahan, bahkan meskipun sedang ada masalah pengangguran, dengan catatan para pemimpin negara-negara di Eropa serius dalam menerapkan berbagai kebijakan fiskal untuk mencegah terjadinya krisis. Jadi dunia tidak akan jatuh kedalam resesi.

Katalis Saham

Kalau anda lagi baca-baca berita atau analisis tentang pergerakan IHSG, seringkali anda menemukan kalimat seperti berikut: ‘IHSG hari ini ditutup menguat sekian persen. Sektor properti menjadi katalisnya, dimana A, B, dan C yang merupakan saham-saham properti masing-masing telah menguat sekian dan sekian persen.’ Apa itu yang dimaksud dengan katalis?

Mengenal Sektor Batubara

Sektor batubara selalu menarik untuk dicermati, karena barang tambang ini memenuhi tiga kriteria utama sebagai kebutuhan pokok masyarakat yaitu: harganya murah (US$ 120 per ton atau sekitar seribu perak sekilo), bisa diproduksi secara massal (hingga jutaan ton per tahun), dan dibutuhkan oleh orang banyak secara terus menerus (buat bahan bakar pembangkit listrik, dan semua orang tentu butuh listrik). Alhasil, biasanya perusahaan batubara di BEI memiliki kinerja yang cukup baik.

The Family of Indofood

Indofood Sukses Makmur (INDF) memang belum merilis laporan keuangan untuk periode kuartal II 2011. Namun anak usaha dari INDF yang bergerak di industri CPO dan minyak goreng yaitu Salim Ivomas Pratama (SIMP), sudah merilis LK-nya, meski hanya dalam bentuk highlight. Dan sekilas, kinerjanya masih bagus dan meningkat signifikan seperti biasanya, dimana laba bersihnya naik hingga 113.8% menjadi Rp414 milyar.

Revisi Target IHSG

Minggu lalu, Pemerintah Amerika Serikat (AS) berhasil meredam ketakutan dunia terhadap kemungkinan terjadinya resesi global, dengan memperpanjang masa jatuh tempo utangnya yang senilai US$ 14.3 trilyun hingga 10 tahun kedepan. Sayang, ceritanya ternyata tidak selesai sampai disitu. Lembaga pemeringkat terkemuka di dunia, Standard & Poor’s (S&P), menurunkan rating utang AS, dari AAA menjadi AA+. Intinya, S&P menganggap bahwa Pemerintah AS pada saat ini, tidak lagi cukup mampu untuk membayar hutang-hutangnya.


S&P merilis laporannya pada tanggal 5 Agustus 2011 waktu AS (ketika itu di Indonesia masih tanggal 4 Agustus). Tanpa perlu menebak, pasar modal di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, langsung berjatuhan. Pada tanggal 4 Agustus, IHSG anjlok dari 4,122 ke 3,921, dan terus terperosok hingga posisi saat ini, yaitu 3,735. Dihitung dari posisi puncaknya, IHSG telah melemah 10.5%. Meski kelihatannya buruk, namun dalam enam bulan terakhir IHSG terhitung masih menguat 12.7%. Bandingkan dengan KLCI Malaysia (turun 2.5%), Nikkei Jepang (turun 14.3%), atau Hangseng Hongkong (turun 11.5%). Dow Jones sendiri kalau dihitung sejak enam bulan terakhir sudah turun 11.7%. Jadi kondisi pasar modal kita, percaya atau tidak, masih jauh lebih baik dibanding yang lain.

Pada artikel berjudul Prediksi IHSG 2011 yang ditulis pada penghujung tahun 2010 lalu, penulis mengatakan bahwa IHSG mungkin akan mencapai posisi 4,500 di akhir tahun 2011, dengan catatan market dan perekonomian berjalan dengan normal, dan tidak terjadi peristiwa penting yang memiliki pengaruh global. Namun sepertinya terlalu naif kalau kita mengharapkan bahwa kondisi ekonomi, baik ekonomi dunia maupun Indonesia, akan berjalan dengan mulus-mulus saja. Setiap tahunnya, hampir pasti akan terjadi minimal satu peristiwa besar yang bisa menghambat kenaikan harga saham ataupun perekonomian, dan itu bisa terjadi kapan saja. Faktanya, sepanjang tahun 2011 hingga ketika artikel ini ditulis, dunia memang sudah dilanda oleh ‘peristiwa penting’ seperti itu hingga beberapa kali.

Peristiwa pertama adalah tsunami Jepang, yang terjadi tanggal 11 Maret 2011, yang diikuti oleh krisis nuklir. Pasca tsunami, Nikkei sempat anjlok hingga hampir 20% hanya dalam beberapa hari. IHSG mau tidak mau ikut terpengaruh, dan turun dari posisi 3,599 ke 3,484. Padahal ketika itu IHSG baru saja mulai pulih dari koreksi yang terjadi sepanjang Januari – Februari 2011, yang disebabkan oleh keluarnya aliran hot money, yang meracuni bursa sejak September 2010 (mungkin anda tidak setuju dengan kata ‘meracuni’, tapi bagi penulis, kenaikan IHSG yang terlalu cepat adalah sama jeleknya dengan penurunan IHSG secara tiba-tiba, karena dua-duanya sama-sama menguras emosi).

Peristiwa kedua adalah ketakutan pasar global terhadap krisis utang Eropa. Krisis yang terjadi di Yunani sejak tahun 2010 lalu ternyata belum benar-benar selesai, malah mulai menjalar ke Portugal, Spanyol, Italia, Irlandia, Belgia, Inggris, hingga Islandia. Satu-satunya negara di Eropa yang tampak aman dari krisis tersebut hanyalah Jerman. Ribut-ribut soal krisis utang Eropa ini memenuhi media sejak awal Mei hingga minggu ketiga Juni, dan ketika itulah IHSG tertahan di posisi 3,700 – 3,800, dimana IHSG tidak turun, tapi juga tidak naik.

Awal Juli, cerita soal krisis Eropa mendadak menghilang. Diiringi dengan optimisme tinggi terhadap kinerja para emiten pada kuartal II 2011, IHSG meresponnya dengan terus saja naik dari 3,700-an, hingga hampir saja menembus level psikologis baru yaitu 4,200. Namun dunia mendadak dikagetkan peristiwa penting berikutnya yaitu kabar dari AS, yang menyebutkan bahwa utang AS ternyata sama buruknya dengan utang Eropa, atau bahkan lebih buruk, dan berpotensi menghasilkan krisis yang luar biasa besar seandainya mereka benar-benar mengalami default. Setelah S&P mengeluarkan laporan tentang rating downgrade, bursa-bursa saham global pun jatuh, diikuti oleh IHSG. Namun mengingat IHSG sudah naik banyak sebelumnya, maka kurang tepat jika IHSG dikatakan telah jatuh, melainkan hanya kembali ke posisinya semula, yaitu 3,700-an. Hanya memang, penurunnya terlalu cepat dan terlalu tiba-tiba.

Kita tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan cerita soal utang AS ini. Tapi yang jelas untuk saat ini, target IHSG 4,500 di akhir tahun 2011 sepertinya cukup sulit untuk dicapai. Masalahnya begini: setelah utang Eropa, kemudian utang AS, siapa yang berani menjamin bahwa tidak akan cerita lanjutannya yaitu Utang Asia? Faktanya Indonesia sendiri memiliki utang cukup besar, yaitu Rp1,700 trilyun, atau mungkin lebih (ada yang bilang Rp1,900 trilyun). Penulis belum mengecek bagaimana posisi utang negara-negara lainnya di Asia, tapi sepertinya hampir semua negara memiliki utang yang cukup besar, entah kepada siapa.

Sebetulnya ketika IHSG terus saja naik hingga menembus 4,100, sebagian investor mulai khawatir kalau-kalau kenaikan IHSG sudah mulai overheated (anda mungkin termasuk salah satu dari investor tersebut). Salah seorang pembaca blog ini bahkan sudah berkali-kali mengingatkan akan resiko overheated tersebut, melalui komentar-komentarnya. Alasannya sederhana: Meskipun kondisi ekonomi dalam negeri masih baik-baik saja, dan rata-rata PER ketika IHSG diatas 4,100 masih cukup wajar yaitu 12 kali, namun tidak pernah ada kabar bahwa krisis utang di Eropa telah benar-benar berakhir. Dan itu menyebabkan kenaikan IHSG tersebut menjadi tidak rasional, karena berlawanan dengan pergerakan bursa global (dalam sebulan terakhir, di Asia cuma IHSG yang terus menguat naik). Yup, berita-berita soal krisis Utang Eropa memang mereda pada awal Juli, namun tidak pernah ada kabar yang dengan secara tegas mengatakan bahwa krisis utang tersebut telah berakhir. It means, berita soal krisis Eropa tersebut bisa muncul kembali sewaktu-waktu. Eh, belakangan yang muncul bukan Eropa, tapi malah lebih buruk yaitu AS.

Karena itulah pada artikel minggu kemarin penulis mengutip kata-kata dari Warren Buffett, ‘Gunakan saja dana yang ada untuk berinvestasi, itupun jangan digunakan seluruhnya.’ Nasihat tersebut biasanya terdengar tidak penting ketika kondisi market sedang bullish, namun baru akan terasa manfaatnya ketika market sedang dalam kondisi berkabung seperti sekarang ini.

But honestly, penulis sendiri tidak pernah mengira kalau S&P akan menurunkan rating AS, hanya beberapa hari setelah Pemerintah AS menyelesaikan negosiasi utangnya. Sebab sebagai lembaga pemeringkat asal AS, S&P sangat jarang menjelek-jelekkan negaranya sendiri. Kondisi market pada saat ini mungkin akan sangat berbeda seandainya S&P nggak ngomong apa-apa. But anyway, itu sudah terjadi, dan kita tidak bisa mengubahnya. Jadi kira-kira untuk saat ini, berapa target IHSG yang lebih realistis? Well, dengan mempertimbangkan kemungkinan bahwa cerita soal utang, utang, dan utang ini tidak akan selesai dalam waktu dekat, maka jika IHSG bisa menyentuh 4,300 pada akhir tahun 2011, itu sudah cukup bagus.

Kabar baiknya, saham-saham yang bagus secara fundamental tidak terlalu terseret oleh pelemahan IHSG, kecuali hanya sedikit. Tunas Baru Lampung (TBLA) contohnya. Berkat kinerjanya yang melejit pada kuartal I 2011 lalu, sahamnya dalam empat bulan terakhir telah mencetak gain 57.1%, dan itu sudah termasuk memperhitungkan penurunan drastis yang terjadi dalam seminggu terakhir, yaitu dari posisi 780 ke posisi 630. Tanpa penurunan tersebut, TBLA seharusnya mencetak gain sekitar 80%. Itu berarti, jika anda sejak awal telah memilih saham-saham yang bagus dan harganya masih wajar, maka koreksi IHSG tidak akan sampai menyebabkan anda mengalami kerugian, kecuali memang keuntungan yang anda peroleh berkurang signifikan. Hal ini tidak terjadi di Nikkei, Hangseng, Dow, atau bursa-bursa saham lainnya, dimana mayoritas investor disana mengalami kerugian, karena bursa-bursa saham tersebut telah turun tanpa menguat terlebih dahulu.

Jadi pesan yang penulis hendak sampaikan di artikel ini adalah, posisi terbaik pada saat ini tentunya adalah posisi diluar market. Tapi kalaupun anda nggak sempat keluar, maka selama anda masih memegang saham-saham yang benar, anda akan baik-baik saja. Just stick on fundamentals, and you’ll be okay.

Ketika artikel ini ditulis, Dow sedikit pulih dengan menguat 2.0%. Mengingat IHSG sudah turun jauh hingga melewati batas support-nya, maka dengan catatan indeks saham regional mendukung, IHSG mungkin akan rebound alias menguat signifikan pada besok Rabu, 10 Agustus 2011. Take the chance, but not too much, as it is still risky.

Sejarah Krisis Ekonomi Amerika

Beberapa waktu lalu, Pemerintah Amerika Serikat (AS) mencapai kesepakatan dengan para kreditornya yaitu Rusia, Jepang, dan China, terkait utang sebesar US$ 14.3 trilyun yang sebagian diantaranya jatuh tempo pada 2 Agustus 2011. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, AS tidak membayar utang yang jatuh tempo tersebut menggunakan uang tunai, melainkan menggunakan utang lagi, yaitu sebesar US$ 2.1 trilyun.

Cara Menganalisis Debt to Equity Ratio

Pada artikel minggu lalu yang berjudul Indospring alias INDS, seorang teman menanyakan pertanyaan yang kalau menurut penulis, sangat bagus. Pertanyaannya begini: Di laporan keuangannya, total utang INDS cukup besar yaitu sekitar dua kali lipat modalnya. Terus kenapa kok sahamnya masih dianggap bagus? Bukannya kita sebaiknya memilih saham yang perusahaannya tidak memiliki utang terlalu besar? Okay, here we go!

Indospring

Di BEI, Astra Otoparts (AUTO) sangat terkenal sebagai perusahaan onderdil kendaraan bermotor. Namun AUTO bukanlah satu-satunya perusahaan yang bergerak di bidang yang prospektif tersebut. Indospring (INDS) adalah juga merupakan perusahaan produsen spare part otomotif, dengan spesialisasinya yaitu pembuat pegas untuk shock breaker. Dan meski ukuran perusahaannya jauh lebih kecil, namun INDS memiliki kinerja yang tidak kalah bagusnya dibanding AUTO.

Krakatau Steel: Prospek Blast Furnace

Krakatau Steel (KRAS) mengalami penurunan kinerja yang cukup buruk pada Kuartal I 2010. Laba bersihnya anjlok hampir 70%. Penurunan ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak kuartal IV 2010, dimana meski ketika itu KRAS mencatat kenaikan laba bersih sampai tripel digit, namun penjualannya sebenarnya turun 12.2%. Makanya kalau kita perhatikan, saham KRAS tidak mampu bergerak banyak sepanjang tahun 2011 ini. Namun meski fundamentalnya lagi nggak bagus, KRAS tetap mencuri perhatian investor lewat proyek blast furnace yang sudah mereka rencanakan. Bagaimana prospeknya?

Bumi Resources: Never Ending Stories

Bumi Resources (BUMI) mencatat laba bersih komprehensif US$ 101 juta pada kuartal pertama 2011 lalu, turun 31.2% dibanding periode yang sama tahun 2010. Meski laba bersihnya turun, namun pendapatan serta laba operasionalnya masih meningkat, sehingga beberapa orang mungkin tetap bisa mengatakan bahwa BUMI ini masih menarik. Apalagi ROE BUMI masih cukup tinggi yaitu 30.7%. Namun, bukan itu yang akan kita bahas disini.

Jasuindo Tiga Perkasa

Di BEI, terdapat beberapa perusahaan yang bergerak di bidang usaha yang terbilang unik, dan bisa jadi perusahaan tersebut adalah satu-satunya perusahaan terbuka yang bergerak di bidang itu. Jasuindo Tiga Perkasa (JTPE) adalah salah satunya. JTPE bergerak di usaha penyediaan dokumen niaga yang terintegrasi, mulai dari desain hingga percetakan. Mirip seperti perusahaan percetakaan pada umumnya, namun lebih fokus pada percetakaan dokumen milik perusahaan, termasuk dokumen atau card yang bersifat secure atau confidential.

Telkom

Di masa lalu, Telkom (TLKM) hampir selalu menjadi pilihan investasi, karena memang kualitas kinerja TLKM terbilang sangat baik, setara dengan Astra International (ASII), atau bahkan lebih baik dalam poin-poin tertentu. Sayangnya dalam lima tahun terakhir seiring dengan kinerjanya yang jalan di tempat, harga sahamnya pun jalan di tempat. Ketika artikel ini ditulis, TLKM berada di posisi 7,100, atau hampir tidak berubah dibanding posisinya 2 tahun yang lalu, atau bahkan 5 tahun yang lalu, yaitu 7,400.

Delta Dunia Makmur

Delta Dunia Makmur (DOID) dulunya adalah perusahaan properti dan tekstil, yang kemudian banting setir menjadi perusahaan holding untuk perusahaan jasa tambang batubara, setelah mengakuisisi PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) pada tahun 2009. BUMA adalah perusahaan jasa tambang batubara terbesar kedua di Indonesia, dengan produksi batubara 35.0 juta ton pada 2010, dan 7.8 juta ton pada kuartal I 2011. Beberapa klien BUMA adalah Berau Coal, Adaro, dan Kideco Jaya Agung.

Visi Media Asia

Visi Media Asia (Grup Viva/VIVA) adalah perusahaan media milik Grup Bakrie yang merupakan induk dari dua stasiun televisi yaitu TvOne, ANTV, dan satu portal berita internet, yaitu Vivanews.com. Kita tahu bahwa selama ini, penguasa di industri televisi Indonesia adalah Grup MNC (trio RCTI, GlobalTV, dan MNC-TV). Sementara penguasa di industri portal berita internet adalah detik.com. Lalu dimanakah posisi VIVA?

Intraco Penta

Intraco Penta (INTA) bukanlah perusahaan yang terlalu populer di BEI, penulis juga hampir gak pernah memperhatikan sahamnya. Namun saham ini menjadi menarik untuk dicermati pasca stock split-nya pada tanggal 9 Juni kemarin, dimana rasio stock split-nya cukup besar yaitu 1:5. Hmm, apakah INTA ini memang bagus sehingga harus mengadakan stock split seperti itu, ataukah ceritanya sama seperti Intiland Development (DILD) dulu?

Review IHSG

Ketika artikel ini ditulis, IHSG rebound 0.47% ke posisi 3,766, setelah sebelumnya terjerembab lumayan dalam dari 3,842 ke 3,748 (hampir 100 poin) hanya dalam beberapa hari. Yang menarik disini bukanlah penguatan ataupun penurunan tersebut, melainkan: Dalam sebulan terakhir ini IHSG hanya mampu mondar mandir di kisaran 3,700 – 3,850, alias gak naik-naik, meski juga gak turun-turun. Posisi 3,850 menjadi resistance kuat bagi IHSG dimana IHSG hanya sempat dua kali saja mampu menembusnya, sebelum kemudian turun lagi. Apa penyebabnya? Apa posisi 3,850 tersebut bubble? Terus ada yang bilang kalau buruknya data-data ekonomi dan ketenaga kerjaan Amerika Serikat (AS) yang kemarin sempat membuat Dow Jones anjlok sampai diatas 2% hanya dalam sehari merupakan awal dari krisis baru. Benarkah?

Agus Martowardojo

Siapa yang kangen sama Sri Mulyani Indrawati? Penulis sih jujur nggak, biasa aja. Tapi bagi para pengusaha dan investor yang sempat terkena imbas krisis global pada tahun 2008 lalu, mungkin mereka kangen banget sama Ibu yang satu ini, yang mereka anggap sebagai sosok ideal yang telah bekerja keras untuk membantu mereka untuk bersama-sama bangkit dari krisis. Jadi ketika Sri Mulyani melepas jabatannya sebagai Menkeu, banyak pihak yang merasa kecewa, karena mereka tidak yakin bahwa pengganti beliau di Kementrian Keuangan akan sama baiknya.

Investasi Saham, Halal atau Haram?

Beberapa waktu lalu, BEI bersama dengan KPEI dan KSEI meluncurkan Indeks Saham Syariah (Indonesia Sharia Stock Index, ISSI). Berbeda dengan investasi saham di ‘indeks saham yang biasanya’, yang masih belum jelas hukum halal haramnya (terutama bagi anda investor muslim), MUI sudah memberi label halal untuk ISSI ini. Memang selama ini, salah satu pertanyaan terbesar dari para investor muslim di bursa saham Indonesia adalah, bagaimana hukum keuntungan yang diperoleh dari pasar modal? Apakah halal ataukah haram? Dan ISSI seolah menjawab pertanyaan tersebut.

Apa Itu Kuasi Reorganisasi?

Dalam beberapa waktu terakhir, beberapa perusahaan mengumumkan bahwa mereka akan menggelar kuasi reorganisasi (quasi reorganization). Sebut saja Barito Pacific (BRPT), Garuda Indonesia (GIAA), hingga Bakrie & Brothers (BNBR). Sementara yang sudah melakukannya adalah Holcim Indonesia (SMCB). Bagi investor, hal terpenting untuk ditanyakan bukanlah apa yang dimaksud dengan kuasi reorganisasi, melainkan: Bagaimana dampak dari pelaksanaan kuasi reorganisasi terhadap saham perusahaan? Seberapa besar pengaruhnya, dan apakah pengaruh tersebut bersifat positif atau negatif? Oke, kita akan membahasnya secara singkat.

Oversubscribe?

Pagi ini di koran Bisnis Indonesia, ada tulisan tentang IPO dua perusahaan milik Keluarga Hadi Surya, yaitu Jaya Agra Wattie (Jawattie) dan Buana Listya Tama (BULL). Yang menarik adalah judulnya: ‘IPO Buana Tama lebih diburu’. Judul tersebut didasarkan pada kelebihan permintaan (oversubscribe) saham BULL yang mencapai enam kali, sementara oversubscribe Jawattie cuma dua kali. Bagi pembaca artikel tersebut, judul tersebut akan langsung memberi kesan bahwa BULL lebih bagus dari Jawattie, sehingga daripada ngambil IPO Jawattie, masih mending pilih BULL.

Salim Ivomas Pratama

Setelah sukses menjaring sekitar Rp6 trilyun dari market beberapa waktu lalu melalui IPO Indofood CBP (ICBP), Grup Salim kembali meng-IPO-kan salah satu anak usaha dari Indofood (INDF), yaitu Salim Ivomas Pratama (SIMP). Kita tahu bahwa meski IPO ICBP berjalan sukses bagi Grup Salim, tapi mungkin bagi para pembeli sahamnya, IPO itu justru gagal menambah nilai portofolio mereka, dimana saham ICBP sempat turun ke 4,300-an (meskipun sekarang udah balik lagi ke 5,000-an). Lalu apakah SIMP juga bisa mengalami hal yang sama?

Jaya Agra Wattie

Jaya Agra Wattie (Jawattie) adalah salah satu perusahaan perkebunan tertua di Indonesia, yang sudah berdiri sejak tahun 1921. Bisnis utama perusahaan terletak di perkebunan dan perdagangan karet, kopi, kakao, dan teh. Sejak tahun 1987, Jawattie yang sebelumnya dimiliki oleh sebuah perusahaan Belanda bernama Handel Maatschapij, diambil alih oleh Keluarga Hadi Surya, pemilik Berlian Laju Tanker (BLTA). Pada tahun 1997, Jawattie mulai masuk ke bisnis perkebunan kelapa sawit, namun bisnis utamanya masih terletak di perkebunan karet.

Prospek IPO Metropolitan Land

IPO Metropolitan Land (MetLand) mungkin menarik bagi sebagian investor, karena MetLand merupakan anak usaha dari Grup Ciputra, salah satu grup properti paling terkemuka di Indonesia. Grup Ciputra memang memiliki 30.2% saham MetLand (akan menjadi 22.7% setelah IPO) melalui salah satu anak usahanya, Metropolitan Development (MD). MD ini merupakan salah satu anak usaha Grup Ciputra yang ditempatkan diluar Ciputra Development (CTRA). Jadi MetLand ini bukan anak usahanya CTRA, melainkan beda lagi.

Indika Energy

Mayoritas investor di BEI mengenal Indika Energy (INDY) sebagai perusahaan tambang batubara. Anggapan tersebut nggak keliru, karena INDY memang memiliki bagian kepemilikan di beberapa perusahaan batubara, seperti PT Kideco Jaya Agung, dan PT Santan Batubara. Namun kalau melihat operasionalnya, INDY lebih cocok dikategorikan sebagai perusahaan jasa tambang batubara (ada kata jasa-nya), dimana perusahaan menjual jasa penambangan batubara kepada perusahaan pemilik tambang batubara. Jadi INDY ini cuma menggali batubara punya orang, gitu.

Prospek Astra Otoparts, setelah Stocksplit

Dalam banyak kesempatan, penulis selalu mengatakan bahwa kinerja Astra Otoparts (AUTO), perusahaan spare part kendaraan bermotor terbesar di Indonesia, sangatlah bagus. Dan pada periode terakhirnya yaitu FY10, kinerja AUTO juga masih bagus. Sayangnya, saham AUTO di market nggak likuid sehingga nggak terlalu bagus juga kalo buat koleksi long term. Namun kemarin, AUTO dikabarkan akan menggelar stocksplit dengan rasio 1:3. Nah, apakah ini akan membuat saham AUTO menjadi lebih ‘cair’ sehingga bisa kita ambil? Mari kita cek.

Intiland Development, The Chronicles

Kalau dilihat dari kinerjanya, Intiland Development (DILD) seharusnya menjadi salah satu saham bagus favorit investor di sektor properti, karena peningkatan kinerjanya yang sangat-sangat signifikan. Pada LK FY10, DILD mencatat kenaikan pendapatan 117%, laba operasional 320.9%, dan laba bersih 1,268.5%. But somehow, sahamnya malah ‘mati’ di posisi 300-an. Apa yang terjadi?

Martina Berto

Martina Berto (MBTO) sudah merilis LK FY10-nya beberapa waktu lalu. Dan kalau lihat kinerjanya sih, sepertinya bagus tuh. Lalu apa itu yang membuat sahamnya berhenti turun di posisi 500-an? Untuk kedepannya, apakah MBTO akan terus turun, atau mulai bergerak naik lagi? Mengingat sepertinya masih banyak temen-temen yang bingung sama MBTO ini, apakah mau hold, jual, atau average down, maka kita akan membahasnya sekali lagi.

Chandra Asri Petrochemical

Pagi ini, Chandra Asri Petrochemical, yang dahulu bernama Tri Polyta Indonesia (TPIA) merilis laporan keuangan (LK) full year 2010. Tidak ada yang terlalu istimewa dari kinerja anak usaha Barito Pacific (BRPT) ini, dimana laba bersihnya malah turun dari Rp482 milyar ke 248 milyar. Laba usahanya juga turun. Tapi ceritanya sedikit berbeda kalau kita lihat valuasi PBV dan PER-nya. Pada harga saham 3,250, PBV TPIA cuma 1.2 kali, dan PER-nya juga cuma 6.8 kali. Apa ga salah? Kok murah sekali?

Saham Bagus Gak Perlu Pujian

Kira-kira market news apa yang paling menarik perhatian akhir-akhir ini? Tsunami Jepang? Ah itu sih kabar umum. Dan meskipun banyak orang mulai berspekulasi mengenai bagaimana kira-kira efek tsunami tersebut terhadap IHSG, namun bagi penulis pribadi, ada sesuatu yang lain yang lebih menarik daripada hal tersebut. What is that? Garuda Indonesia (GIAA), yang penurunannya ternyata berhenti di posisi 500, dan saat ini sudah naik lagi ke posisi 540.

Dow Jones, Hot Money, and IHSG

Finally, setelah menunggu selama lebih dari 1 bulan, IHSG akhirnya naik satu tingkat ke level 3,500-an. Untuk saat ini, IHSG kecil kemungkinannya untuk turun lagi ke 3,400-an, karena selain catatan inflasi terbaru dari BPS sudah turun ke 6.8%, BI juga masih mempertahankan BI rate di level 6.75%. Dan kalau mempertimbangkan laporan keuangan para emiten periode full year 2010 yang seharusnya sudah keluar semua, maka posisi wajar IHSG pada saat ini memang di 3,500-an. Tapi sayangnya, sebagian besar para emiten masih belum merilis LK mereka. Dan krisis politik yang masih berlanjut di Timur Tengah sana juga mulai menyebabkan harga minyak bergejolak lagi. So, what’s next?

Aneka Tambang (Antam)

Aneka Tambang (ANTM), adalah salah satu emiten bluchip yang penulis pribadi nggak begitu suka. Masalahnya bukan terletak di fundamentalnya (karena fundamental ANTM cukup kuat), tapi di harga sahamnya yang kemahalan, terutama jika memperhatikan rasio profitabilitasnya yang kecil. Namun pagi ini, ANTM sudah merilis laporan keuangan full year 2010. Dan peningkatan laba bersihnya yang mencapai 175.1% sepertinya terlalu menarik untuk diabaikan. So, mari kita cek prospek ANTM ini sekali lagi.

It's VIP Business

Beberapa waktu lalu, penulis menulis sebuah artikel berjudul SmartFren, How Smart! Disana pada bagian akhir artikel, penulis mengatakan bahwa Grup Sinarmas bisa meraih pinjaman dari bank-bank tertentu untuk tujuan merestrukturisasi utang-utang SmartFren (FREN), ataupun untuk modal kerja, dengan jaminan saham FREN sebanyak sekian milyar lembar yang harganya gak bisa lebih rendah lagi dari 50 perak. Pertanyaannya, bank mana yang mau ngasih pinjaman sampai sekian trilyun ke sebuah perusahaan yang rugi melulu hanya dengan jaminan saham gocapan?

Review Perbankan

Sampai dengan hari ini, IHSG tetap saja bergerak terbatas di level 3,400-an, dan belum naik-naik lagi. Salah satu penahannya seperti yang sudah kita bahas tempo hari, adalah inflasi. Dan salah satu sektor yang harga sahamnya masih cukup tertekan karena masalah inflasi ini adalah sektor perbankan. Padahal secara fundamental, rata-rata emiten perbankan mencatat kinerja yang cukup baik. Pertanyaannya tentu, gimana sih kinerja mereka pada full year 2010 lalu? Apakah memang beneran jadi jelek karena inflasi tadi, ataukah nggak?

BI Rate, Inflasi, dan IHSG

Awal bulan lalu, Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan BI rate menjadi 6.75% basis poin, dari sebelumnya 6.50%. Apa sih BI rate itu? Dan apa pengaruhnya terhadap IHSG jika dinaikkan, apakah negatif atau positif? Meski penulis yakin kalau sebagian besar temen-temen investor sudah paham betul soal BI rate ini, namun artikel ini mudah-mudahan bisa memberi sedikit pencerahan bagi yang belum mengerti.

Garuda Indonesia's Affair

Besok jumat, Garuda Indonesia (GIAA) akan listing perdana di BEI. Kalau berkaca pada fundamentalnya, maka sulit untuk mengharapkan GIAA bakal sukses di market, bahkan meski di hari perdagangan perdananya. Tapi, bagaimana kalau sahamnya sengaja dinaikkan?

SmartFren, How Smart!

Beberapa waktu lalu, Mobile-8 (FREN) menggelar right issue sebanyak 75.7 milyar lembar saham pada harga Rp50 per lembar saham, dengan pembeli siaganya adalah tiga perusahaan yang tergabung dalam Grup Sinarmas. Lalu apa yang menarik dari aksi korporasi ini? Ada dua hal. Pertama, perhatikan jumlah saham baru yang diterbitkan, 75.7 milyar lembar! Itu adalah jumlah yang sangat banyak, sehingga meski harga right issue-nya ditetapkan pada batas terendah yaitu Rp50, nilai right issue-nya tetap saja besar, yaitu Rp3.8 trilyun.

XL Axiata

Salah satu pemberitaan menarik ketika penulis baca-baca berita terbaru soal industri telekomunikasi adalah, para pelakunya memiliki optimisme yang berbeda-beda dalam menghadapi tahun 2011. Rinaldi Firmansyah contohnya. Direktur Telkom (TLKM) ini mengatakan bahwa bisnis telekomunikasi pada tahun 2011 ini tidak akan tumbuh setinggi tahun sebelumnya, karena level penetrasi kepemilikan telepon selular terhadap populasi penduduk sudah mendekati 100%. Artinya, dari sekitar 230 juta penduduk Indonesia, hampir semuanya sudah memiliki handphone. Kalau begitu, kepada siapa lagi kita bisa menjual sim card?

My Poor Airlines

Baca-baca berita terakhir soal IPO Garuda, banyak yang menyebutkan kalau IPO-nya ternyata akhirnya nggak laku. Lebih dari separuh saham yang dilepas hanya diserap oleh penjamin emisinya, alias gak diserap oleh investor publik. Padahal jumlahnya sudah dikurangi dari 9.4 milyar menjadi hanya 6.4 milyar lembar saham saja. Oversubscribe yang terjadi pun hanya 1.3 kali. Hmm, apakah karena harganya mahal? Mungkin nggak juga.

The Tale of Bank Mandiri vs Garuda

Kementrian BUMN dalam waktu dekat ini akan menggelar dua hajatan besar di pasar modal. Pertama, penawaran umum terbatas I Bank Mandiri (Right Issue BMRI), dan kedua, IPO Garuda Indonesia. Menariknya, dua perusahaan ini ternyata memiliki kaitan khusus.

Bencana IPO

Jika anda termasuk yang membeli saham IPO Martina Berto (MBTO), maka anda pasti tergoda dengan pendapat yang menyebutkan bahwa perusahaan consumer goods (dalam hal ini kosmetik wanita) seperti MBTO, tentunya memiliki kinerja yang bagus, karena sampai kapanpun kaum wanita akan selalu membutuhkan bedak dan lipstik. Tapi kenapa kok pas listing hari perdananya pada 13 Januari lalu, MBTO malah ditutup turun? Apakah kinerjanya buruk?

Garuda Indonesia

Bisnis jasa transportasi khususnya transportasi udara, mungkin bukanlah bisnis yang cukup menguntungkan. Hal itu karena armada pesawat terbang harganya sangat mahal, mencapai ratusan milyar Rupiah per unit (sehingga beberapa maskapai lebih memilih menyewa pesawat daripada membelinya). Selain itu biaya operasional untuk bahan bakar terbilang tinggi karena harus mengikuti harga minyak dunia.

ICBP dan BJBR

Bagaimana dengan Indofood CBP (ICBP)? Kenapa dia terus turun sampe cukup jauh dibawah harga IPO-nya? Kok nggak ada upaya untuk mengembalikannya ke harga diatas harga IPO-nya? Padahal sentimen negatif soal Indomie di Taiwan sudah mulai surut, dan bahkan ada yang menyamakan ICBP ini dengan Coca-Cola.

IHSG: Back to Normal!

Apa komentar anda tentang tulisan Mr. Dileep di salah satu koran soal saham-saham Grup Bakrie yang siap naik karena sudah tidak lagi banyak bermasalah, sehingga boleh dilirik kembali?