Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Bencana IPO

Jika anda termasuk yang membeli saham IPO Martina Berto (MBTO), maka anda pasti tergoda dengan pendapat yang menyebutkan bahwa perusahaan consumer goods (dalam hal ini kosmetik wanita) seperti MBTO, tentunya memiliki kinerja yang bagus, karena sampai kapanpun kaum wanita akan selalu membutuhkan bedak dan lipstik. Tapi kenapa kok pas listing hari perdananya pada 13 Januari lalu, MBTO malah ditutup turun? Apakah kinerjanya buruk?

Selain MBTO, perusahaan kosmetik yang juga listing di BEI adalah Mustika Ratu (MRAT), Mandom (TCID), dan Unilever (UNVR). Tapi TCID jarang dibicarakan investor, karena likuiditas sahamnya sangat seret. Sementara UNVR gak terlalu cocok jika digolongkan sebagai perusahaan kosmetik, karena selain memproduksi kosmetik, UNVR juga memproduksi makanan, minuman, dan kebutuhan sehari-hari. Jadi jika kita mencari pembanding untuk MBTO, maka MRAT adalah yang paling cocok. Ukuran perusahaannya dari sisi aset juga nggak terlalu berbeda.

Kembali ke masalah MBTO. MBTO adalah salah satu anak usaha dari Grup Martha Tilaar, sementara MRAT adalah perusahaannya Ibu Mooryati Soedibyo. Jadi MBTO ini sama sekali bukan saudari dari MRAT, karena pemiliknya berbeda. Berbeda dengan Grup Mustika Ratu yang seluruhnya sudah listing di bursa sejak tahun 1995 dalam bentuk MRAT, Grup Martha Tilaar tidak meng-IPO-kan seluruh grupnya, melainkan hanya MBTO saja. Sementara Grup Martha Tilaar masih punya banyak perusahaan lainnya diluar MBTO, salah satunya PT Sari Ayu Martha Tilaar. Jadi MBTO ini kira-kira sama seperti Agung Podomoro Land (APLN) yang juga menggelar IPO beberapa waktu lalu, dimana APLN hanyalah anak usaha dari Grup Agung Podomoro.


Dan ternyata, juga terdapat kesamaan antara MBTO dan APLN, dalam hal harga saham terbarunya. MBTO ketika IPO dilepas pada harga 740. Sekarang? Tinggal 500, atau sudah anjlok lebih dari 30%. Sementara APLN juga sudah turun ke posisi 340, sekitar 7% dibawah harga IPO-nya. Terlepas dari faktor pengaruh dari kondisi IHSG pada saat ini yang memang lagi koreksi, namun penurunan MBTO hingga 30% tersebut jelas tetap tidak bisa diterima. Terlalu dalam! Bukannya biasanya saham-saham IPO itu selalu naik tajam, paling tidak pada satu atau dua hari perdagangan perdananya? Kenapa MBTO ini malah sudah ditutup turun bahkan sejak hari perdagangan pertamanya?

Lantas apanya yang salah? Kalau kita melirik catatan kinerja terakhirnya, MBTO secara fundamental sebenarnya cukup bagus. Laba bersihnya pada semester pertama 2010 (1H10) mencapai 12 milyar. Karena ekuitasnya 92 milyar, maka Annual ROE-nya 25.7%, cukup besar dan memang menggambarkan MBTO sebagai perusahaan consumer goods dengan profitabilitas yang bagus. Secara historis pun, sejak 2007, pendapatan dan laba bersih MBTO senantiasa meningkat dari tahun ke tahun. Kalaupun ada masalah adalah utangnya yang mencapai 172 milyar, sedikit terlalu besar. Tapi karena sebagian besar dari utang tersebut merupakan utang operasional, dan bukannya utang finansial, maka pengaruh negatifnya terhadap perolehan laba bersih perusahaan terbilang kecil.

Jadi masalahnya terletak di? Yup, harga sahamnya. Harga IPO MBTO yaitu 740, mencetak PBV 2.9 kali. Angka ini sekilas masih wajar, mengingat MBTO termasuk perusahaan dengan profitabilitas bagus. Tapi kalau kita bandingkan dengan tetangga terdekatnya yaitu MRAT, angka PBV tersebut ternyata sangat tinggi. PBV MRAT berdasarkan laporan keuangan Kuartal III 2010 pada harga terbarunya yaitu 470, hanya 0.6 kali! Dilihat dari PER pun sama. PER MBTO mencapai 33.5 kali, jauh diatas PER MRAT yang cuma 11.4 kali. Meski MRAT sekilas memiliki rasio profitabilitas yang kecil, karena ROE-nya cuma 5.4%, tapi itu karena MRAT memiliki ekuitas yang besar, yaitu 326 milyar (jauh diatas utangnya yang cuma 39 milyar). Sementara utang MBTO terbilang besar untuk ukuran perusahaan consumer goods. Jadi secara overall, MRAT masih sedikit lebih bagus dari MBTO. Makanya gak masuk akal kalau saham IPO MBTO dijual lebih mahal daripada MRAT. Alhasil, saham MBTO langsung terjun bebas ketika listing.

Pada harga sekarang yaitu 500, MBTO mencatat PBV dan PER masing-masing 1.9 dan 22.6 kali, masih mahal kalau MRAT yang dijadikan pembandingnya. Kalau tidak ada upaya untuk menaikkan harga sahamnya, dan sepertinya memang tidak akan ada, maka untuk saat ini sepertinya agak sulit mengharapkan MBTO bisa bangkit kembali.

Fenomena IPO anak usaha

Seperti yang sudah dibahas diatas, MBTO adalah anak usaha dari Grup Martha Tilaar. Sepertinya salah satu perusahaan kosmetik terpopuler di Indonesia ini juga tertarik terhadap peluang untuk mengambil dana investor dari market melalui mekanisme IPO anak usaha, seiring dengan kondisi market yang masih kondusif ketika itu. Sama saja seperti Grup Agung Podomoro yang meng-IPO-kan APLN, Grup Salim yang meng-IPO-kan ICBP, dan Grup Bakrie yang meng-IPO-kan BRMS. Makanya harga IPO-nya dibuat setinggi langit. Kalau mereka sudah dapat duitnya, ya sudah, selesai urusan. Saham MBTO kemudian dibiarkan begitu saja, sehingga berangsur-angsur turun karena memang harganya kemahalan.

Dan memang gak cuma MBTO dan APLN saja yang harganya pada saat ini sudah cukup jauh dibawah harga IPO-nya. Nyatanya ICBP juga sekarang berada di posisi 4,400, padahal harga IPO-nya 5,395. Cerita berbeda dialami oleh BRMS, yang pada saat ini masih bertahan di 670, masih 35 poin diatas harga IPO-nya. Tapi seperti yang sudah penulis bahas di artikel Short Play with BRMS, BRMS ini bisa bertahan pada harga diatas harga IPO-nya karena sengaja ditahan oleh Grup Bakrie sebagai pemiliknya, karena Grup Bakrie sedang punya kepentingan untuk mengakuisisi 7% saham PT Newmont Nusa Tenggara. Kalau misalnya nanti beredar kabar bahwa Grup Bakrie akhirnya gagal mengakuisisi 7% saham tersebut, maka BRMS ini juga hampir pasti akan mengikuti jejak MBTO, APLN, maupun ICBP. Terlepas dari apakah kinerjanya baik atau buruk, harga IPO masing-masing keempat emiten tersebut memang mahal.

So, sepertinya ada dua hal yang bisa kita simpulkan dari artikel ini. Pertama, teori bahwa membeli saham IPO sudah pasti untung, sepertinya harus dikaji kembali. Anda memang masih bisa meraup gain instan dari saham IPO, tak peduli meski harga IPO-nya mahal, tapi itu dengan catatan anda harus segera keluar begitu sahamnya listing. Meski MBTO langsung ditutup melemah pada hari perdagangan pertamanya, namun MBTO sempat naik hingga menyentuh level 800 pada pembukaannya. Kalau anda ketika itu menjualnya pada harga tersebut, maka anda masih dapet gain 8% dari MBTO ini, not bad. Semua saham IPO juga begitu: Langsung melesat pada pembukaan hari listing pertamanya, meski harga penutupannya belum tentu tetap menguat.

Tapi kalau anda gak mau main kilat seperti itu, maka jangan beli sahamnya kalau harganya mahal (kalau anda gak yakin soal mahal – murah ini, anda bisa minta pendapat pada teman anda yang lebih berpengalaman), karena jika anda telat keluar sedikit saja, anda akan langsung terjebak loss.

Dan kedua, hati-hati pada IPO perusahaan yang merupakan anak usaha dari sebuah perusahaan, ataupun sebuah grup usaha. Bisa jadi IPO tersebut hanya bertujuan untuk mengambil dana sebesar-besarnya dari investor untuk bayar utang dan sebagainya, dan bukannya untuk mencari dana untuk menambah modal, ekspansi, atau semacamnya. Apalagi jika harganya mahal. IPO model gini, begitu sahamnya listing biasanya kemudian dibiarkan begitu saja mengikuti harga pasar. Dan kalau harga IPO-nya mahal, adalah wajar jika kemudian dia turun bukan?

Susahnya, turunnya harga saham-saham anyar ini turut menyebabkan IHSG terkoreksi cukup dalam (karena pertumbuhan harga mereka kan minus, alias bukannya naik, tapi malah turun dari harga perdananya). Koreksi yang terjadi pada IHSG sejauh ini memang masih wajar, dimana ketika artikel ini ditulis, IHSG ditutup di posisi 3,346, alias masih di level 3,300-an. Tapi jika dimasa mendatang saham-saham IPO ini terus saja turun, maka bukan tidak mungkin koreksi IHSG kali ini akan sedikit lebih dalam dari yang diperkirakan. Time will tell.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

11 komentar:

agung mengatakan... Balas

mending bahas gjtl ato untr mas teguh!!!!!

Anonim mengatakan... Balas

Kabar yang beredar saham APLN telah dibeli Henderson Ltd. sebanyak 15% diharga Rp 385... apakah hal ini bisa mengangkat harga saham APLN ke 400?

jarot mengatakan... Balas

Mas Teguh, ada yang lebih parah turunnya dibanding APLN yang hari ini close di 360, yaitu EMDE yg bikin investor yg ngantri beli di harga IPO sakit kepala...

Anonim mengatakan... Balas

Mas Teguh, ulasannya T.O.P tapi kenapa sekarang mas, nggak kemarin2 waktu mau IPO..btw thanks mas. Saya juga tertarik dg rencana bikin Analisa44, kalo bs jgn mahal ya mas biar terjangkau.

Anonim mengatakan... Balas

Kok tidak dibandingkan dengan EMDE dan WINS, yang juga mengalami closing dibawah harga IPO?? Atau hanya membatasi anak usaha saja. But overall, i still like ur post.

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

@all. wah, saya gak sempet ngamatin, jadinya baru tau kalo EMDE dan WINS jg pny masalah yg sama.. sy belum mengecek keduanya, tp kemungkinan harga IPO mereka jg mahal. soal Henderson, sepertinya itu cuma rumor, kurang meyakinkan.

Juli mengatakan... Balas

Ulasan yg bagus Bung Teguh. Semoga bisa jadi pembelajaran bagi kita semua bahwa tidak selamanya ikut IPO itu menguntungkan. Sepertinya IPO yg dilakukan tahun 2010 kemarin harganya dipatok tinggi memanfaatkan momentum pasar yg lagi bullish. Emiten dan penjamin emisi yg IPO serakah semua, hue2.

Jessy mengatakan... Balas

lalu bagaimana saran dari pak Teguh untuk orang yang telah membeli saham MBTO ini dr harga perdana 740 hingga sekarang telah menyentuh level 495.contohnya saya...hehehe
Terima kasih

Anonim mengatakan... Balas

Saya sdh terlanjur antri dan hari ini sdh dikatakan dapat jatah 605 lot. hiks .....jadi serem juga nih saham IPO.........

Anonim mengatakan... Balas

Saham itu sebenarnya tergantung kepercayaan masyarakat kepada saham, misalnya saham Bakrie aja yang ketahuan jelek bangat, bahkan profitnya minus, masih dihargai mahal tuh oleh masyarakat, let say BUMI, menurutku BUMI itu sahamnya kemahalan dan saham itu sebenarnya secara etis gak bisa diterima karena menggelapkan pajak, namun namanya pasar saham dimana investor bebas berspekulasi dan memprediksi masa depan, maka saham BUMI masih aja di collect bahkan harganya bisa jadi semakin lama semakin tinggi meskipun performanya menurun, karena masyarakat sadar bahwa kedudukan Bakrie kuat, gak mungkin lah Bakrie jatuh...
Kalo IPO perusahaan yang bagus dan terkenal sich menurutku gak mungkin lah jatuh...kalopun jatuh pasti nantinya akan naik lagi, semangat!!!!!!!!!!

Anonim mengatakan... Balas

IPO Garuda gmn yah? Apakah pemerintah akan membiarkan saham garuda langsung turun? Mudah2an investor garuda ga ngamuk spt kasus di pasar modal Bangladesh.