Jadwal Kelas Value Investing: Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 8 Juli 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin! TeguhHidayat.com tetap online selama libur lebaran. Jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

Prospek IPO Metropolitan Land

IPO Metropolitan Land (MetLand) mungkin menarik bagi sebagian investor, karena MetLand merupakan anak usaha dari Grup Ciputra, salah satu grup properti paling terkemuka di Indonesia. Grup Ciputra memang memiliki 30.2% saham MetLand (akan menjadi 22.7% setelah IPO) melalui salah satu anak usahanya, Metropolitan Development (MD). MD ini merupakan salah satu anak usaha Grup Ciputra yang ditempatkan diluar Ciputra Development (CTRA). Jadi MetLand ini bukan anak usahanya CTRA, melainkan beda lagi.

Indika Energy

Mayoritas investor di BEI mengenal Indika Energy (INDY) sebagai perusahaan tambang batubara. Anggapan tersebut nggak keliru, karena INDY memang memiliki bagian kepemilikan di beberapa perusahaan batubara, seperti PT Kideco Jaya Agung, dan PT Santan Batubara. Namun kalau melihat operasionalnya, INDY lebih cocok dikategorikan sebagai perusahaan jasa tambang batubara (ada kata jasa-nya), dimana perusahaan menjual jasa penambangan batubara kepada perusahaan pemilik tambang batubara. Jadi INDY ini cuma menggali batubara punya orang, gitu.

Prospek Astra Otoparts, setelah Stocksplit

Dalam banyak kesempatan, penulis selalu mengatakan bahwa kinerja Astra Otoparts (AUTO), perusahaan spare part kendaraan bermotor terbesar di Indonesia, sangatlah bagus. Dan pada periode terakhirnya yaitu FY10, kinerja AUTO juga masih bagus. Sayangnya, saham AUTO di market nggak likuid sehingga nggak terlalu bagus juga kalo buat koleksi long term. Namun kemarin, AUTO dikabarkan akan menggelar stocksplit dengan rasio 1:3. Nah, apakah ini akan membuat saham AUTO menjadi lebih ‘cair’ sehingga bisa kita ambil? Mari kita cek.

Intiland Development, The Chronicles

Kalau dilihat dari kinerjanya, Intiland Development (DILD) seharusnya menjadi salah satu saham bagus favorit investor di sektor properti, karena peningkatan kinerjanya yang sangat-sangat signifikan. Pada LK FY10, DILD mencatat kenaikan pendapatan 117%, laba operasional 320.9%, dan laba bersih 1,268.5%. But somehow, sahamnya malah ‘mati’ di posisi 300-an. Apa yang terjadi?