Jadwal Kelas Value Investing: Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 8 Juli 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin! TeguhHidayat.com tetap online selama libur lebaran. Jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

Semen Gresik & Indocement: Outlook

Pada tanggal 19 November kemarin, Semen Gresik (SMGR) mengumumkan aksi korporasi penting, yakni akuisisi terhadap Thang Long Cement, sebuah perusahaan semen asal Vietnam. Tak butuh waktu lama, saham SMGR langsung terkerek naik karena kabar ini, hingga hampir saja menyentuh new high di 17,000, sebelum kemudian turun lagi ke posisi saat ini yaitu 15,850. Kalau kita bicara soal sahamnya, maka tidak ada yang bisa dibicarakan lebih lanjut karena sudah cukup jelas bahwa saham SMGR sudah cukup mahal. Tapi, mari kita coba pelajari prospek SMGR ini di masa depan, terutama pasca aksi go regional-nya tersebut.

Unilever: Analysis on Royalties

Tanggal 12-12-12 kemarin mungkin merupakan tanggal cantik dan juga bermakna keberuntungan bagi sebagian orang, namun tidak demikian halnya bagi investor yang memegang saham Unilever Indonesia (UNVR). Pada hari tersebut UNVR tiba-tiba saja anjlok dari posisi 25,950 hingga 23,150. Di hari berikutnya, penurunan tersebut terus berlanjut hingga posisi 20,350, sehingga secara keseluruhan, UNVR telah terkoreksi 27.5% hanya dalam dua hari. Itu adalah sebuah angka penurunan yang sangat besar dan juga tidak wajar, tentu saja, mengingat UNVR ini bukan saham gorengan melainkan saham super-blue-chip, dengan statusnya sebagai perusahaan terbesar ketiga di BEI dari sisi market cap (sebelum harganya turun, kalau sekarang mungkin terbesar kedelapan, setelah BBRI). Bloomberg menyebut penurunan UNVR tersebut merupakan yang terburuk dalam dua belas tahun terakhir.

Fiscal Cliff & IHSG

Dalam beberapa minggu terakhir ini, anda pasti sudah familiar dengan judul artikel diatas: Fiscal Cliff, atau disebut juga jurang fiskal. Istilah fiscal cliff tersebut tiba-tiba saja mengemuka ke publik dan menjadi populer belakangan ini, setelah Barack Obama memenangkan Pilpres Amerika Serikat (AS) pada tanggal 6 November 2012. Tapi jika dipelajari lebih lanjut, ‘kasus’ fiscal cliff ini berpangkal pada salah satu kebijakan yang dilakukan oleh Presiden AS, dalam hal ini George W. Bush, pada tahun 2001, atau hampir 12 tahun yang lalu alias sudah cukup lama. Nah, disini kita akan merunut kronologisnya.

Waskita Karya

Waskita Karya (Waskita) akan menjadi perusahaan BUMN keempat dalam tiga tahun terakhir yang melantai di bursa, setelah Bank BTN (BBTN), Krakatau Steel (KRAS), dan Garuda Indonesia (GIAA). Dan seperti juga IPO-IPO BUMN sebelumnya, selalu ada cerita menarik yang mengiringi pelaksanaan IPO tersebut. Untuk Waskita, cerita itu adalah berkaitan dengan statusnya sebagai perusahaan yang ‘bangkit dari kubur’, dimana Waskita dulunya merupakan perusahaan yang sakit, atau bahkan boleh dikatakan sudah mati, karena kasus penggelembungan aset yang terjadi di masa lalu. Barulah setelah melalui restrukturisasi yang dilakukan oleh Perusahaan Pengelola Aset (PPA), sebuah BUMN yang secara khusus menangani aset-aset bermasalah milik negara, Waskita mulai menggeliat kembali. Restrukturisasi tersebut dilaksanakan pada tahun 2010 lalu, dimana PPA menyuntikkan modal sebesar Rp475 milyar kedalam kas Waskita.

Wismilak Inti Makmur

Beberapa waktu lalu, seorang teman penulis, sebut saja namanya A, bercerita tentang salah satu pengalamannya yang berkaitan dengan rokok ketika ia kuliah di Newcastle, Inggris. Jadi ketika ia sedang bersama dengan seorang temannya di sebuah ruang terbuka, ia menyalakan rokok favoritnya yang ia bawa dari Indonesia: Gudang Garam Surya, setelah sebelumnya tak lupa menawarkan rokok tersebut. Dan ternyata temannya yang orang bule  langsung terkesima setelah menghisap rokok tersebut, hingga kemudian ia bertanya, ‘The flavor's very strong! Is this some kind of marijuana?’ Dan A menjawab, ‘No man, this is what had made you and your Dutch friends came to my country some centuries ago. We call it, cengkeh!

Hot Stock: CNKO

Exploitasi Energi Indonesia (CNKO), hingga artikel ini ditulis, sejatinya belum merilis laporan keuangan untuk periode Sembilan Bulan 2012 (9M12), dan kinerjanya di Semester Pertama 2012 (1H12) kemarin juga biasa-biasa saja, sehingga secara fundamental seharusnya sahamnya juga nggak kemana-mana. Namun setelah perusahaan mengumumkan rencana right issue kedua beberapa bulan lalu, sahamnya langsung terkerek naik. Saat ini CNKO sudah mantap di posisi 360 atau sudah naik sekitar 130% dalam 4 bulan, dan teori konspirasi menyebutkan bahwa sahamnya masih bisa naik lagi hingga minimal 500 dalam beberapa waktu kedepan, mengingat right issue-nya dilakukan pada harga 500 tersebut. Benarkah demikian? I don’t know. Tapi seperti biasa, mari kita lihat CNKO ini dari sisi fundamental.

Metrodata Electronics

Setiap tiga bulan sekali, yakni setiap para emiten merilis laporan keuangan terbaru mereka, penulis terbiasa mencari saham-saham yang memiliki kinerja perusahaan alias fundamental yang bagus, namun valuasinya masih murah. Jika nggak ketemu saham yang seperti itu, yaitu biasanya ketika IHSG lagi tinggi seperti sekarang, maka kriterianya diperlonggar menjadi 1. Saham bagus dengan valuasi yang belum begitu mahal, atau 2. Saham yang nggak jelek-jelek amat namun valuasinya cukup murah. Nah, Metrodata Electronics (MTDL) adalah salah satu saham yang kalau berdasarkan kinerjanya di Sembilan bulan 2012 (9M12), bisa digolongkan sebagai saham yang masuk kriteria kedua.

Rating Kinerja Blue Chip 9M12

Berikut adalah rating kinerja untuk dua puluh emiten terbesar di BEI dari sisi likuiditas (blue chip), berdasarkan laporan keuangan periode Sembilan Bulan 2012 (9M12). Data diurutkan berdasarkan total nilai perdagangan saham selama periode Kuartal III 2012 (Juli – September 2012), dari yang terbesar hingga yang terkecil:

Cowell Development

Menurut anda, ketika IHSG lagi tinggi seperti sekarang, apakah masih ada saham-saham yang valuasinya, atau dalam hal ini PER-nya masih sangat rendah, namun disisi lain kinerja perusahaannya tidak terlalu buruk? Ternyata ada. Salah satunya, Cowell Development (COWL). Berdasarkan laporan keuangan (LK) terbarunya untuk periode Sembilan Bulan 2012, saham perusahaan properti ini mencatat PER dan PBV masing-masing 2.8 dan 0.8 kali pada harga 220. Sekilas, valuasi tersebut agak sulit untuk dipercaya mengingat COWL mencatat ROE yang cukup bagus, yakni 28.6%, dan laba bersihnya juga tumbuh 9.5%. Ekuitas alias modal bersih perusahaan juga naik 24.7% dalam sembilan bulan terakhir, yang sepenuhnya ditopang oleh kenaikan saldo labanya. Lalu apa rendahnya harga saham COWL tersebut berkaitan dengan right issue yang akan dilakukan oleh perusahaan? Well, memang itulah yang akan kita bahas disini.

Brief Analysis: TLKM, MNCN, GIAA

Pada pertengahan September 2012 kemarin, beredar kabar yang agak sulit untuk dipercaya: Telkomsel bangkrut! Anak perusahaan Telekomunikasi Indonesia atau Telkom (TLKM) ini dinyatakan oleh pengadilan telah gagal dalam membayar tagihan dari mitra usahanya, PT Prima Jaya Informatika (PJI), sebesar Rp5.3 milyar. Seperti sudah diduga sebelumnya, pihak Telkomsel kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, dan hingga kini belum ada perkembangan terbaru lagi. Pihak TLKM sendiri sebagai induk dari Telkomsel menyatakan bahwa mereka akan mengikuti prosedur hukum yang berlaku.

Ebook 40 Edisi 9M12

Dear investor, seperti biasa setiap tiga bulan sekali, penulis akan bikin ebook kumpulan analisis (“Ebook 40”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal III 2012, alias Sembilan Bulan 2012 atau Nine Months 2012 (9M12). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk investasi jangka menengah dan panjang.

The Forgotten Stocks

Salah satu kesulitan yang dialami investor ketika IHSG sedang tinggi-tingginya seperti sekarang ini, adalah menemukan saham yang secara fundamental masih murah. Well, sebenarnya solusi termudah adalah tunggu aja sampai nanti IHSG terkoreksi dengan sendirinya. But sometimes, cuma menunggu doang terkadang memang membosankan. Karena itulah penulis kemudian mengecek kembali saham-saham yang pernah dipegang di masa lalu yang pada saat ini sudah penulis ‘lupakan’. Siapa tahu ada diantara mereka yang masih bisa dikoleksi, atau setidaknya bisa diperhatikan kembali. Hasilnya, ketemu dua saham yang kelihatannya cukup menarik. Dua saham tersebut adalah Resource Alam Indonesia (KKGI), dan PP London Sumatra (LSIP).

Bumi Resources: What’s Inside?

Bakrie strikes back! Itulah kesan pertama yang penulis tangkap ketika mendengar berita bahwa Grup Bakrie melalui salah satu holdingnya, Bakrie & Brothers (BNBR) dan Long Haul Holdings Ltd, mengajukan proposal kepada manajemen Bumi Plc untuk membeli kembali saham Bumi Resources (BUMI) yang dipegang Bumi Plc, senilai kurang lebih US$ 278 juta. Namun, BNBR tidak akan membeli semua saham BUMI yang dipegang Bumi Plc, melainkan hanya 18.9%, sehingga nantinya Bumi Plc masih memegang 10.3% saham BUMI (karena saat ini Bumi Plc memegang 29.2% saham BUMI). Disisi lain, Bakrie juga akan melepas kepemilikannya atas Bumi Plc yang sebesar 23.8%, untuk ditukar dengan sisa saham BUMI yang masih dipegang Bumi Plc, sebesar 10.3% tadi. So, jika prosesnya berjalan lancar, maka sebelum Natal tahun ini, Bakrie akan tidak lagi memiliki kepentingan di Bumi Plc, dan Bumi Plc juga tidak lagi menjadi pemegang saham di BUMI.

Indomobil Sukses Internasional

Industri penjualan kendaraan bermotor roda empat alias mobil di Indonesia selalu menarik untuk dicermati, mengingat gaya hidup kalangan menengah keatas yang hampir pasti memiliki minimal satu unit mobil di garasi rumahnya, dan mereka secara rutin mengganti mobilnya tersebut setiap beberapa waktu sekali (beli lagi yang baru). Sejak dulu, merk mobil yang paling umum digunakan di Indonesia adalah Toyota, dan sampai sekarang juga masih demikian. Namun belakangan ini beberapa merk mobil yang sebelumnya kurang dikenal masyarakat, kini bisa dengan mudah ditemui di jalan raya. Salah satunya, Nissan, dengan type unggulannya Nissan Juke, March, dan Grand Livina. Siapa pemegang merk Nissan di Indonesia? Bukan, bukan Astra International (ASII) ataupun salah satu anak usahanya, melainkan Indomobil (IMAS).

Bakrie vs Rothschild, Part 2

Pada tanggal 24 September 2012 lalu, Bumi Plc, perusahaan patungan antara Grup Bakrie dan Nathaniel Rothschild yang terdaftar di Bursa London, Inggris, yang juga merupakan pemegang 29.2% saham Bumi Resources (BUMI) dan juga 85% saham Berau Coal Energy (BRAU), merilis pengumuman terkait pembentukan ‘komisi investigasi independen’, dimana komisi ini akan menginvestigasi penempatan dana pengembangan (development funds) yang dilakukan oleh perusahaan. Tak butuh waktu lama, pengumuman tersebut seketika langsung mengguncang dunia persilatan, termasuk memunculkan banyak sekali spekulasi terkait hubungan Bakrie - Rothschild, sampai-sampai pihak manajemen BUMI dan BRAU akhirnya menyelenggarakan public expose insidentil untuk meluruskan semua rumor yang beredar.

Daftar Indeks Saham Dunia

Salah satu cara untuk menganalisis pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah dengan melihat bagaimana pergerakan indeks saham di negara-negara lain. Karena itulah anda pasti familiar dengan beberapa indeks terkenal seperti Dow Jones, Nikkei, Hang Seng, dll. Di seluruh dunia, indeks-indeks saham seperti ini jumlahnya sangat banyak, mungkin mencapai ribuan, karena satu negara biasanya memiliki lebih dari satu indeks saham (termasuk di Indonesia, selain IHSG ada juga indeks LQ45, indeks IDX 30, dll), sehingga anda tidak mungkin mengamati mereka semuanya secara satu per satu. So, berikut adalah beberapa daftar indeks saham dunia yang penting untuk anda perhatikan.

Provident Agro & Outlook Sektor Sawit

Sektor perkebunan kelapa sawit mengalami masa jayanya pada awal tahun 2011 lalu, dimana ketika itu rata-rata ROE di sektor ini mencapai lebih dari 25%. Namun terhitung sejak awal tahun 2012 hingga sekarang, hampir seluruh emiten sawit di BEI mengalami kemunduran kinerja, terutama dilihat dari laba bersihnya yang turun. Penyebabnya? Penurunan harga crude palm oil atau CPO, yang hingga kini belum rebound kembali. Harga CPO di Bursa Malaysia sempat hampir mencapai rekor RM4,000 per ton pada tahun 2011 lalu, tapi sekarang, terakhir tercatat RM2,750 per ton. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari KPB PTPN, harga CPO pada lelang hari ini tercatat Rp7,375 per kg, cukup jauh dibawah rata-rata harga tahun 2011 yang sempat diatas Rp10,000 per kg.

ICTSI Jasa Prima

ICTSI Jasa Prima (KARW) yang sebelumnya bernama Maharlika Indonesia, dan sebelumnya lagi bernama Karwell Indonesia, berubah nama menjadi ICTSI Jasa Prima, setelah pada tanggal 3 Mei 2012 lalu perusahaan diambil alih oleh International Container Terminal Services, Inc (ICTSI), sebuah perusahaan jasa pelabuhan asal Filipina. Kegiatan usaha KARW juga berubah dari tadinya garment menjadi jasa pelabuhan. Aksi korporasi ini menarik, karena kita tahu bahwa saat ini banyak yang memprediksi bahwa sektor yang akan booming dalam beberapa waktu ke depan adalah infrastruktur, dan pelabuhan adalah bagian dari infrastruktur tersebut. So, apakah dalam hal ini ICTSI juga menangkap peluang tersebut, sehingga mereka kemudian masuk ke Indonesia?

Heart is Only for Lovers, Bro!

Koran Bisnis Indonesia pernah mewawancarai Aburizal ‘Ical’ Bakrie, mantan pimpinan Grup Bakrie (Sekarang Grup Bakrie dipimpin oleh Nirwan, adik dari Ical), pada tahun 2010 lalu dalam rangka HUT Bisnis Indonesia yang ke-25. Dalam wawancara tersebut, wartawan Bisnis mengajukan pertanyaan berikut, ‘Banyak orang tidak percaya bahwa Bakrie melalui Bumi Resources (BUMI) berhasil membeli Arutmin dan Kaltim Prima Coal (KPC). Bagaimana caranya?’ Dan Ical menjawab, ‘Waktu itu memang ada opportunity-nya, sehingga langsung kami grab. Soal duitnya dari mana, kami cari belakangan.’

Bakrie vs Rothschild

Bumi Resources (BUMI) terus saja turun akhir-akhir ini, namun itu tidak menjadikannya tidak menarik lagi di mata sebagian para pelaku pasar. Malah, beberapa investor justru mulai melirik lagi saham yang pernah menyandang gelar sebagai saham sejuta umat ini, dengan berbagai alasannya. Disisi lain, para ‘nyangkut-ers’ masih dilanda kebingungan hebat untuk menentukan pilihan yang sama-sama sulit: Apakah saya harus bertahan, ataukah lebih baik keluar saja, yang itu berarti merealisasikan potensi kerugian yang terjadi?

Petrosea

BUMI (Bumi Resources) gonjang ganjing lagi? Peduli amat! Untuk pekan ini penulis lebih memperhatikan Petrosea (PTRO), yang menjadi menarik untuk diperhatikan pasca penurunannya yang sangat tajam akhir-akhir ini, justru setelah dia di-stocksplit dengan rasio 1 : 10 pada Maret lalu. Ketika artikel ini ditulis, PTRO kembali tertekan 3.49% ke posisi 2,075, sehingga jika dihitung sejak enam bulan terakhir, PTRO sudah terkoreksi lebih dari setengahnya, yakni 52.02%. Secara fundamental, penurunan PTRO sulit dijelaskan mengingat kinerjanya pada First Half 2012 (1H12) kemarin cukup bagus dengan mencatat laba bersih US$ 21 juta, naik 8.6% dibanding 1H11, dan itu mencerminkan ROE 26.2%. So, what happen?

Blue Chip Edition: Gudang Garam

Jika anda adalah seorang trader dengan jumlah dana diatas rata-rata, katakanlah Rp20 – 30 milyar atau bahkan diatas Rp100 milyar, maka terkadang agak sulit jika anda hendak trading pada saham-saham second liner apalagi gorengan gak jelas yang likuditasnya kembang kempis. Karena ketika membeli atau menjual saham second liner senilai Rp1 milyar, misalnya, maka anda mungkin harus menyicilnya sedikit demi sedikit, katakanlah 100 juta dulu, kemudian tambah lagi 100 juta, begitu seterusnya, dan itu terkadang memang menyebalkan karena ribet. Nah, bagi anda para ‘trader semi-grosir’ seperti ini, maka pilihannya tetap berada pada saham-saham big caps alias bluchip. So, berikut ini adalah analisis untuk salah satu saham big caps yang penulis nilai memiliki fundamental yang cukup bagus dan juga valuasi yang wajar, kalau berdasarkan kinerja perusahannya di First Half 2012 (1H12) kemarin, yakni Gudang Garam (GGRM).

Melirik Saham di Sektor Telepon Selular

Dulu, telepon selular alias handphone alias HP, adalah alat untuk menelpon dan mengirim SMS, that’s it. Tapi seiring dengan perkembangan teknologi, HP kemudian bisa dipakai untuk memotret, memainkan klip video, mengirim gambar, browsing internet, hingga fungsi-fungsi lainnya layaknya komputer. HP kini tidak lagi sekedar alat komunikasi, melainkan gadget yang bentuk serta fungsinya menjadi beraneka ragam. Dan bagi sebagian orang, terutama anak-anak remaja, adalah suatu kebanggaan untuk bisa memiliki gadget terbaru yang sedang nge-trend, sehingga HP kemudian menjadi barang fashion yang harus di-update setiap beberapa waktu sekali. Sementara bagi kita para investor atau pebisnis, maka behaviour masyarakat yang seperti itu adalah peluang.

Perbandingan Bank Mandiri, BRI, dan BCA

Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), dan Bank BCA (BBCA) sejak dulu merupakan tiga bank terbesar di Indonesia dari sisi nilai aset, dan sampai sekarang juga masih demikian. Pada akhir Kuartal II 2012, total aset dari ketiga bank tersebut tercatat Rp1,454 trilyun, atau mewakili sekitar 38.0% total aset perbankan di Indonesia per akhir Mei 2012. Bagi para pelaku pasar, saham dari ketiga bank tersebut selalu menarik untuk dipakai trading, karena likuiditasnya yang sangat bagus. Sekarang, bagaimana fundamentalnya?

We're Still Walking, not Running

Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca ekspor impor untuk periode semester pertama 2012. Hasilnya, total nilai ekspor Indonesia untuk semester pertama 2012 turun 1.8% dibanding periode yang sama tahun 2011, dari US$ 98.6 milyar menjadi hanya US$ 96.9 milyar. Kalau anda perhatikan, nilai ekspor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir jarang sekali mencatat pertumbuhan minus, alias nyaris selalu naik pada setiap bulannya. Tapi sepertinya sekarang sudah tidak lagi. Jika dulu neraca ekspor impor kita juga senantiasa surplus (nilai ekspor lebih besar dari impor) dengan selisih yang besar, maka sekarang selisih tersebut tidak lagi besar, sehingga bisa berbalik menjadi defisit sewaktu-waktu. Pada semester pertama 2012, Indonesia hanya mencatat surplus perdagangan US$ 476 juta.

Astra Group, First Half Results

Grup Astra adalah salah satu grup usaha yang terbilang cepat dalam merilis laporan keuangan (LK) mereka, setiap kuartalnya. Per hari ini, tanggal 27 Juli 2012, hampir seluruh emiten Grup Astra yang terdaftar di BEI sudah merilis LK-nya masing-masing untuk periode semester pertama 2012 (1H12), kecuali Bank Permata (BNLI). Mengingat bahwa Grup Astra juga merupakan salah satu grup usaha terbesar di Indonesia, dengan total market cap yang mencapai Rp412 trilyun, maka tentunya selalu menarik untuk mencermati kinerja mereka dari waktu ke waktu. Berikut adalah rangkuman kinerja lima emiten Grup Astra untuk periode 1H12.

Indonesia, IMF, and US$ 1 Billion Loan

Tanggal 10 Juli kemarin, Christine Lagarde, Managing Director dari International Monetary Fund (IMF), datang ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden SBY dan beberapa petinggi negara. Di akhir pertemuan, diperoleh kesepakatan bahwa Bank Indonesia (BI) akan membeli obligasi yang diterbitkan oleh IMF, senilai US$ 1 milyar. Atau dengan kata lain, BI akan memberi hutang kepada IMF. Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Radjasa, mengatakan bahwa BI akan meminjamkan US$ 1 milyar kepada IMF menggunakan dananya sendiri, bukan mengambilnya dari APBN.

Ebook 40 edisi 1H12

Dear investor, seperti biasa setiap tiga bulan sekali, penulis akan bikin ebook kumpulan analisis (“Ebook 40”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal II 2012, alias Semester Pertama 2012 atau First Half 2012 (1H12). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk investasi jangka menengah dan panjang.

Tiga Pilar Sejahtera Food

Industri apa yang paling kebal terhadap gejolak perekenomian baik dalam skala nasional maupun global? Jawabannya tentu, industri consumer goods, salah satunya industri makanan dan minuman. Rupiah boleh anjlok, IHSG boleh terpuruk, tapi orang-orang akan tetap butuh makan. Karena itulah bagi sebagian investor di BEI, mereka memiliki kebijakan untuk harus memegang minimal satu saham perusahaan consumer goods, dimana biasanya saham tersebut akan tetap stabil meski saham-saham yang lainnya berjatuhan. Nah, Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) adalah salah satu saham yang mungkin bisa dipertimbangkan sebagai saham yang harus dipegang tersebut.

MNC Sky Vision

Dulu, layanan televisi berbayar (pay tv, atau disebut juga tv kabel) adalah layanan yang, bagi kebanyakan orang, sama sekali tidak menarik. Di Indonesia terdapat lebih dari sepuluh stasiun televisi swasta yang menyajikan berbagai macam tayangan secara gratis, jadi kenapa juga saya harus membayar hanya untuk menonton televisi? Namun sekarang ini, menonton acara stasiun televisi swasta adalah kegiatan yang membosankan bagi sebagian orang, karena acaranya kebanyakan nggak mutu, yakni kalau bukan acara gosip ya debat politik yang konyol. Alhasil, bagi orang-orang yang menginginkan tayangan yang berkualitas, maka pay tv bisa menjadi pilihan. Dan Mr. Hary Tanoesoedibjo, pemilik Grup Bhakti, sudah melihat peluang itu sejak tahun 1994, dimana ketika itu beliau mendirikan perusahaan penyedia layanan pay tv dengan merk Indovision.

Alam Sutera Realty, Now & Future

Pada tanggal 2 Juli kemarin, Alam Sutera Realty (ASRI), perusahaan pengembang properti di wilayah Alam Sutera, Tangerang, Banten, mengumumkan bahwa perusahaan telah mengakuisisi sebuah perusahaan pengelola kawasan pariwisata Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali, dengan nilai akuisisi Rp738 milyar (yang belakangan naik menjadi Rp813 milyar). Bagi ASRI, tujuan dari aksi korporasi ini adalah untuk mendiversifikasikan kegiatan usaha perusahaan, dimana ASRI kini punya usaha di bidang pariwisata. Namun masuknya ASRI ke GWK tersebut ditanggapi negatif oleh investor, dimana saham ASRI sempat merosot hingga posisi 455, meski sekarang sudah naik lagi ke posisi 480.

Exploitasi Energi Indonesia (CNKO)

Jika anda memiliki sebuah perusahaan batubara dan hendak menambah penghasilan, apa yang bisa anda lakukan? Ada dua opsi. Pertama, mendirikan unit usaha kontraktor tambang batubara, dan juga usaha alat-alat berat (biar gak perlu nyewa lagi sehingga pengeluaran akan berkurang dan laba bersih meningkat). Dan kedua, mendirikan pembangkit listrik, jika batubara yang anda produksi adalah jenis thermal coal. Nah, Exploitasi Energi Indonesia (CNKO) adalah perusahaan batubara yang memilih opsi kedua. Meski demikian hingga sejauh ini, usaha pembangkit listrik yang dimiliki CNKO masih belum memberikan kontribusi signifikan bagi pendapatan perusahaan.

Saham Sejuta Umat? No More!

Beberapa hari ini kalau penulis perhatikan, di banyak media berkali-kali ditampilkan pemberitaan soal jumlah utang Grup Bakrie, yang disebut-sebut sudah berada dalam tahap yang mengkhawatirkan. Ada juga artikel yang menyebutkan bahwa pencalonan Aburizal ‘Ical’ Bakrie sebagai Presiden ditengarai sebagai upaya untuk menyelamatkan Grup Bakrie dari kebangkrutan akibat utang. Sebuah upaya untuk menjatuhkan saham-saham Grup Bakrie di market? Sepertinya bukan, soalnya saham BUMI dan kawan-kawan sejak awal juga udah jeblok banget.

Saham-Saham Pilihan di Sektor Asuransi

Industri apa yang belakangan ini berkembang pesat di Indonesia, namun agak luput dari pengamatan para investor? Jawabannya mungkin, industri asuransi. Kalau anda perhatikan, dalam beberapa tahun terakhir ini banyak sekali perusahaan asuransi global yang buka ‘lapak’ di Indonesia, dan mereka cukup sukses disini. Sebut saja Prudential (Inggris), AIA (Hongkong), Manulife (Kanada), Commlife (Australia), AXA (Perancis), hingga Allianz (Jerman). Lalu bagaimana dengan perusahaan-perusahaan asuransi yang terdaftar di BEI?

Prospek IPO Bank Jatim

Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, atau disingkat BPD Jatim (kodenya belum ditentukan, tapi kita sebut saja BJTM), akan menyusul BPD Jabar Banten atau Bank BJB (BJBR) sebagai bank daerah yang terdaftar di bursa saham Indonesia. Namun tidak seperti BJBR yang menyelenggarakan IPO di saat yang cukup tepat, yaitu ketika kinerja perusahaan sedang cukup bagus, underwriter BJTM terbilang agak memaksakan diri kalau mereka kekeuh untuk me-listing-kan BJTM pada Juli ini. Yup, BJTM mencatat penurunan laba bersih sebesar 10.8% pada Kuartal I 2012, yang tentu saja menjadikannya tidak cukup cantik di mata para investor.


Sebelum membahas BJTM, pertama-tama kita lihat dulu, apa sih yang dimaksud dengan Bank Pembangunan Daerah alias BPD? Berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 13 Tahun 1962, BPD adalah (kalimatnya penulis ubah sedikit agar lebih enak dibaca) bank yang didirikan dengan tujuan khusus untuk menyediakan pembiayaan bagi pembangunan di daerah, dalam rangka mendukung percepatan pembangunan nasional secara menyeluruh dan merata di semua daerah di seluruh Indonesia.

Jadi sebelum adanya BPD, kemampuan untuk membiayai pembangunan di Indonesia terkonsentrasi pada bank-bank nasional milik Pemerintah (BRI, Mandiri, BNI, dan BTN). Dan karena semua bank Pemerintah tersebut berkantor pusat di Ibukota Jakarta, maka layanan mereka juga hanya terbatas di Jakarta dan sekitarnya, atau paling banter Pulau Jawa, dan tidak mampu menjangkau daerah yang jauh dari pusat, katakanlah Pulau Sabang atau Kabupaten Merauke. Bank-bank nasional ini tentunya bisa saja membuka kantor cabang hingga ke daerah terpencil, namun kantor-kantor cabang tersebut belum tentu sanggup menyediakan fasilitas kredit dalam jumlah besar untuk mendukung pelaksanaan pembangunan setempat (karena status mereka cuma kantor cabang, bukan pusat), kecuali sebatas menyediakan kredit usaha mikro.

Nah, dengan adanya BPD, maka para pelaksana pembangunan di daerah bisa meminta fasilitas pembiayaan kepada BPD setempat, dan nggak perlu jauh-jauh terbang ke Jakarta. Misalnya ketika Bupati Merauke membutuhkan dana untuk membangun infrastruktur jalan raya, maka dia bisa berangkat ke Jayapura untuk minta pinjaman ke Bank BPD Papua.

Saat ini semua provinsi di Indonesia memiliki BPD-nya masing-masing, atau minimal dua provinsi yang lokasinya berdekatan memiliki satu BPD (misalnya Bank Jabar-Banten, Bank Sumsel-Babel, dll). Sehingga teorinya, pembangunan di Indonesia kemudian berjalan secara merata. Semua orang di semua provinsi kemudian bisa menikmati pembangunan yang maju, fasilitas hidup yang lengkap, dan pekerjaan serta penghasilan yang layak. Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk mengadu nasib ke Jakarta.

Tapi, apakah pada prakteknya memang demikian?

Sayangnya pada prakteknya, kebanyakan BPD hanya sedikit sekali menjalankan peran mereka sebagai penyedia pembiayaan bagi pembangunan di daerahnya. Yang ada, mereka lebih suka ‘main aman’ dengan menempatkan dana yang mereka peroleh ke Bank Indonesia (BI), atau bank-bank lainnya, untuk kemudian duduk manis dan memperoleh bunga secara rutin. Mereka enggan menyalurkan kredit ke perusahaan-perusahaan atau pemerintah di daerahnya, karena itu akan membutuhkan kerja keras untuk menganalisis risiko kredit dan lain-lain. Ironis, karena para BPD ini memperoleh sebagian besar dana pihak ketiganya dari Pemerintah Pusat dalam bentuk giro (plus sebagian kecil dalam bentuk deposito dan tabungan dari nasabah), dimana Pemerintah Pusat memperoleh dana tersebut dari BI. Terus masa sama para BPD ini, duit itu kemudian ditaroh di BI lagi? Jadi mereka ini sebenernya ngapain aja?

Btw, berikut adalah catatan porsi kredit yang disalurkan oleh bank nasional, dibandingkan dengan total aset yang mereka miliki, berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2012. Angka dalam milyar Rupiah:

Bank
Asset
Loans
Portion (%)
Bank BTN
91,317
61,294
67.1
Bank BRI
439,339
269,181
61.3
Bank Mandiri
546,852
310,519
56.8
Bank BNI
289,373
159,356
55.1
Total
1,366,881
800,350
58.6

Sementara berikut ini adalah data yang sama untuk BPD seluruh Indonesia:

Bank
Asset
Loans
Portion (%)
BPD NTB

4,110

2,764
67.2
BPD Bali

11,635

7,506
64.5
BPD Sumbar (Nagari)

13,880

8,776
63.2
BPD Sulut

6,376

3,880
60.9
BPD Sumut

20,525

11,554
56.3
BPD Jatim
29,340
16,361
55.8
BPD Kalbar

8,641

4,708
54.5
BPD Sumsel Babel

16,336

8,882
54.4
BPD Sulsel Sulbar

9,995

5,284
52.9
BPD DI Yogyakarta

5,173

2,709
52.4
BPD Jateng

26,663

13,880
52.1
BPD NTT

7,618

3,937
51.7
BPD Bengkulu

2,958

1,494
50.5
BPD Maluku

4,814

2,118
44.0
BPD Riau Kepri

19,936

8,766
44.0
BPD Sultra

2,966

1,296
43.7
BPD Jabar Banten
63,680
27,339
42.9
BPD Kalsel

8,796

3,650
41.5
BPD Kaltim

29,803

11,598
38.9
BPD Papua

14,389

5,506
38.3
BPD Sulteng

1,911

576
30.1
BPD Jambi

6,292

1,702
27.0
Total
315,838
154,286
48.8

Catatan: Data untuk BPD Jabar Banten dan BPD Jatim diperoleh dari laporan keuangannya masing-masing, sisanya diperoleh dari publikasi BI. Sementara Bank DKI Jakarta, Lampung, Aceh, dan Kalteng, statusnya bukan merupakan bank BPD.

Dari data diatas, tampak bahwa rata-rata porsi kredit yang disalurkan oleh bank-bank nasional mencapai 58.6% dari total aset yang mereka pegang. Angka tersebut lebih besar ketimbang rata-rata porsi kredit yang disalurkan bank-bank BPD, yaitu hanya 48.8%. Sebenarnya, bank nasional juga bukannya nggak naroh duit di BI, kemudian duduk manis dan menerima bunga. Hanya saja porsinya tidak sebesar bank-bank BPD.

Dan dalam kaitannya dengan pendapatan dan laba bersih yang diperoleh bank yang bersangkutan, tindakan ‘cari aman’ dengan menempatkan dana di BI dan institusi keuangan lainnya, memang mampu memberikan peningkatan laba yang konsisten bagi bank-bank BPD (karena bunga dari BI ibarat gaji yang sudah pasti akan diterima setiap bulannya). Ambil contoh BPD Jatim (BJTM), laba tahun berjalannya naik terus dari tahun 2007 sebesar Rp403 milyar, menjadi Rp860 milyar pada tahun 2011, atau totalnya telah tumbuh 113.2% dalam empat tahun. Demikian juga dengan BJBR, yang laba bersihnya terus naik secara konsisten hingga total telah tumbuh 159.7% dalam kurun waktu 2007 - 2011. Well, lumayan bagus bukan? Tapi sekarang coba kita bandingkan pertumbuhan laba bersih dalam jangka panjang tersebut dengan bank-bank nasional, berikut datanya:

Net Profit
2011
2007
Growth (%)
Bank BTN
1,119
402
178.4
Bank BRI
15,088
4,838
211.9
Bank Mandiri
12,246
4,346
181.8
Bank BNI
5,808
902
543.9
Total
34,261
10,488
226.7

Kita lihat, bank-bank nasional mencatat persentase pertumbuhan yang jauh lebih baik ketimbang BPD, yaitu dengan rata-rata 226.7%. Dan itu memang masuk akal. Para bank nasional ini, mereka berani menyalurkan kredit dalam jumlah besar ke perusahaan ataupun masyarakat, dimana disitu terdapat risiko gagal bayar. Namun, risiko tersebut sebanding dengan pendapatan bunga yang juga jauh lebih besar ketimbang bunga simpanan di BI. Dengan sedikit kerja keras, risiko tersebut kemudian bisa diminimalisir, sementara pendapatan bunga yang diperoleh tetap tinggi. Well, analoginya mungkin mirip dengan seorang pengusaha yang pendapatannya tidak tetap alias bisa naik dan turun setiap saat, termasuk berisiko mengalami kerugian, namun memiliki peluang untuk meraih kenaikan pendapatan yang tinggi, tergantung seberapa giat dia dalam mengelola perusahaannya. Ini berbeda dengan seorang karyawan yang meskipun sudah pasti akan menerima gaji setiap bulannya, tapi gajinya ya segitu-gitu aja, peduli amat dia mau kerja sampai jungkir balik sekalipun.

So, dalam hal ini BPD menjadi tidak cocok untuk investasi long term, karena potensi pertumbuhannya (ternyata) terbatas, disamping karena mereka juga tidak berkontribusi banyak ke pembangunan di daerahnya. Sehingga lagi-lagi, pembangunan hanya terkonsentrasi di pusat (Jakarta dan Pulau Jawa). Mungkin ada juga BPD yang mau terjun untuk membiayai proyek tertentu milik Pemda, tapi itu jarang terjadi (BPD biasanya cuma mau ngasih kredit konsumsi ke PNS saja). And sorry to say, BPD Jatim juga termasuk didalamnya, kecuali jika nanti pihak manajemen mau mengubah kebijakan penyaluran kreditnya, kemudian mempraktekkannya (gak cuma omong doang).

Tapi, bukankah katanya BJTM mau menggunakan dana IPO-nya untuk ekspansi kredit? Yup, benar. BJTM akan melepas 2.98 milyar lembar saham pada harga Rp430 - 670 per saham. Tarohlah kita pakai harga jual yang terendah yaitu Rp430, maka BJTM akan meraup dana Rp1.3 trilyun. Dari dana tersebut, 80% diantaranya atau sekitar Rp1 trilyun akan dipakai untuk mendukung ekspansi kredit perseroan. Tapi tahukah anda, bahwa ketika BJBR melaksanakan IPO dua tahun yang lalu, 80% dari dana hasil IPO juga rencananya akan dipakai untuk ekspansi kredit? Lalu bagaimana hasilnya? Pada Kuartal I 2011, BJBR mencatat penyaluran kredit Rp27.3 trilyun, hanya meningkat 47.2% dibanding kuartal yang sama di dua tahun sebelumnya (tahun 2010). Untuk ukuran Bank BPD yang lokasinya dekat dengan pusat, itu adalah pertumbuhan yang mengecewakan. Kemana aja BJBR ini ketika banyak peluang pembiayaan untuk industri yang ramai-ramai masuk ke wilayah Bekasi, Tangerang, Cikarang, Depok, Bogor, dan Bandung?

Terus bagaimana dengan BJTM? Sama saja. Manajemen hanya mentargetkan peningkatan nilai kredit sebesar 23% pada tahun 2012 ini, dimana kalau bagi penulis sebagai seorang investor, itu adalah target pertumbuhan yang sama sekali tidak atraktif. Terlebih, seperti yang sudah disebut diatas, entah kenapa laba bersih BJTM di 1Q12 ini turun, padahal pendapatannya sebenarnya naik (Rp666 berbanding 622 milyar). Setelah penulis cek lagi, itu salah satunya karena perusahaan menderita kerugian dari penurunan aset kredit (impairment) senilai Rp60 milyar, dari sebelumnya hanya 19 milyar. Well, ini sebetulnya sangat disayangkan, karena kalau anda baca lagi tabel diatas, BJTM sebenarnya nggak pelit-pelit amat dalam menyalurkan kredit. Pada 1Q12, porsi kredit BJTM mencapai 55.8% dibanding total asetnya, atau sedikit lebih baik dibanding Bank BNI di periode yang sama. Tapi ternyata kualitas dari kredit itu sendiri nggak bagus dan malah menyebabkan kerugian. So, this stock is not an option for long term investments, at least for now.

Okay, mungkin BJTM ini memang nggak oke kalau buat invest. Tapi bagaimana kalau dipakai untuk simpanan jangka pendek? Bisakah dia naik banyak seperti ketika dulu ketika IPO BJBR? Untuk menjawab itu, bisa kita mulai dengan menghitung valuasi sahamnya.

Seperti disebut diatas, BJTM akan dilepas di range harga Rp430 - 670 per saham. Kita ambil yang terendah yaitu Rp430, maka BJTM akan meraup dana Rp1.3 trilyun, atau tepatnya Rp1,283 milyar. Setelah dikurangi biaya emisi dan lain-lain, bersihnya mungkin sekitar Rp1.25 trilyun. Ditambah ekuitas BJTM pada 1Q12 sebesar Rp3.7 trilyun, maka totalnya menjadi Rp5 trilyun. Pada harga saham 430, BJTM akan mencetak market cap Rp6.5 trilyun, sehingga PBV-nya akan menjadi Rp5 / 6.5 trilyun = 1.3 kali. Sementara PER-nya, dengan laba bersih Rp218 milyar pada 1Q12, maka annualized EPS BJTM adalah Rp58 per saham, sehingga PER-nya pada harga 430 adalah 7.4 kali. Binggo! Kabar baik saudara-saudara, IPO Bank Jatim ini ternyata murah! Jika sahamnya dilepas pada harga tertinggi, yaitu Rp670, maka PBV dan PER-nya masing-masing adalah 1.7 dan 11.5 kali, sudah tidak bisa dikatakan murah lagi, tapi juga belum bisa disebut mahal (masih wajar). Sepertinya, underwriter dari IPO Bank Jatim ini memilih untuk melepas saham BJTM di harga yang ‘sedapetnya aja’, mengingat kondisi market yang belum benar-benar pulih.

Terakhir, ingat bahwa meski saham IPO BJTM terbilang murah, namun kinerja BJTM pada 1Q12 ini cenderung menurun dibanding periode sebelumnya. Dan yang menurun tidak hanya laba bersihnya. Beberapa rasio keuangannya seperti aset produktif bermasalah, NPL, ROA, ROE, NIM, BOPO, hingga LDR, semuanya mengalami kemunduran kinerja yang cukup signifikan. Dalam kondisi market yang belum benar-benar pulih seperti sekarang, penurunan kinerja tersebut akan ditanggapi secara sensitif oleh para investor, atau trader sekalipun, sehingga mereka akan menjadi kurang berminat untuk bergabung dalam IPO BJTM. Jadi kalaupun BJTM ini berhasil naik banyak pada pembukaan perdagangan perdananya di tanggal 11 Juli nanti, namun kenaikannya kemungkinan tidak akan sebesar BJBR dulu. Jika anda tetap berminat, maka saran penulis, jangan gunakan dana terlalu banyak.

NB: 
Buletin rekomendasi saham edisi Juli akan terbit tanggal 1 Juli mendatang, anda bisa membelinya disini.

Ilustrasi Cara Kerja Paket Bailout Yunani

Bagaimana cara kerja Bailout Yunani? Berikut ilustrasinya. Tulisan ini bukanlah milik penulis, melainkan hasil nemu di internet (entah siapa yang nulis). Namun berhubung tulisan ini sangat menarik untuk dibaca, maka penulis jadi pengen juga meng-share-nya disini. Okay, here we go!

Tips Agar Tetap 'Calm' Ketika IHSG Turun

Setelah terkoreksi selama satu setengah bulan kemarin, IHSG akhirnya mulai menunjukkan indikasi pulih dan sekarang sudah kembali berada di level 3,900-an. Bagi anda yang sudah berpengalaman terjun ke market minimal 1 - 2 tahun, koreksi kemarin adalah hal yang biasa terjadi dan (seharusnya) tidak perlu dikhawatirkan sama sekali. Termasuk jika kemarin sempat nyangkut, maka tidak perlu dilakukan cut loss karena cepat atau lambat harga-harga saham yang anda pegang akan naik kembali (tentunya jika sejak awal anda tidak keliru dalam memilih saham). Tapi bagi anda yang tergolong masih newbie, maka bukan tidak mungkin ketika kemarin IHSG terjun bebas ke posisi 3,600-an, anda malah cut loss yang itu berarti justru merealisasikan potensi kerugian yang terjadi.

Sektor Batubara: Antara Rumor, Fakta, dan Konspirasi

Saham-saham batubara, jika anda perhatikan, hingga saat ini masih berada dalam event big sale, alias masih terdiskon besar-besaran. Termasuk saham yang fundamentalnya amburadul macam Bumi Resources (BUMI), pada harga sekarang juga sudah boleh dikatakan murah. Jadi apakah sekarang sudah saatnya untuk akumulasi, ataukah kita justru harus menghindari sektor ini dulu? Bagaimana dengan berbagai sentimen negatif yang menyelimuti saham-saham batubara belakangan ini?

Belajar dari Liem Sioe Liong

Liem Sioe Liong alias Sudono Salim, seperti yang anda ketahui, telah wafat pada tanggal 10 Juni 2012 kemarin, pada usia 95 tahun (atau tepatnya 96 tahun kurang 1 bulan). Meski telah tiada, namun Om Liem, demikian beliau biasa disapa, akan selalu dikenang sebagai pendiri dari salah satu grup usaha terbesar dalam sejarah Republik Indonesia, Grup Salim. Sebagai seorang taipan, maka tentu banyak hal yang bisa dipelajari dari sosok Om Liem. Seorang teman penulis pernah berkata, ‘Semua orang juga tahu bagaimana Om Liem merangkak susah payah dalam membangun imperium bisnisnya. Beliau adalah contoh sempurna bagi siapapun yang hendak sukses dalam merintis usaha dari titik nol.’

Daftar Sepuluh IPO Terbesar di Indonesia

Pertengahan Mei lalu, Facebook resmi IPO untuk kemudian listing di Nasdaq dengan kode FB. IPO FB ini disebut-sebut sebagai IPO terbesar dalam sejarah, mengingat nilai IPO-nya sangat besar, yaitu US$ 16 milyar atau sekitar Rp150 trilyun. Pernyataan ‘IPO terbesar dalam sejarah’ ini mungkin membuat anda penasaran, benarkah demikian? Bahwa IPO FB adalah IPO terbesar sepanjang masa? Karena itulah penulis kemudian mencoba search tentang IPO-IPO terbesar yang pernah dilakukan, dan berikut adalah hasilnya.

Kobexindo Tractors

Kobexindo Tractors (kodenya belum ditentukan, tapi kita sebut saja KOBE) adalah perusahaan yang tergolong baru dan masih berukuran kecil di sektor penjualan dan penyewaan alat-alat berat (heavy equipment). Jika dibanding tiga perusahaan alat-alat berat lainnya yang sudah lebih dulu listing di bursa, yaitu United Tractors (UNTR), Intraco Penta (INTA), dan Hexindo Adiperkasa (HEXA), maka KOBE adalah ‘anak muda yang masih belum punya apa-apa’. Namun dalam lima tahun terakhir, KOBE cukup mampu menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Pada tahun penuh 2011, KOBE mencatat laba bersih Rp80 milyar, dibanding Rp7 milyar pada tahun 2006. Lalu kira-kira bagaimana prospekya? Here we go.

Blue Chips on Sale!

Jika anda adalah investor konservatif, maka masa-masa terkoreksinya IHSG adalah seperti pesta diskon di pusat perbelanjaan, yang hanya terjadi 2 – 3 kali dalam satu tahun. Pada saat-saat seperti inilah anda bisa berbelanja saham lebih banyak dari biasanya, mumpung harga-harga lagi pada murah. Berikut adalah sebagian daftar belanjaan yang mungkin bisa anda pertimbangkan, kita ambil yang kategori bluchip karena beberapa hari terakhir ini penulis cukup menerima banyak masukan untuk menyajikan rekomendasi saham dari kategori bluchip.

JP Morgan, Dow Jones, & IHSG

Beberapa hari terakhir, media massa global gencar memberitakan soal kerugian yang dialami oleh salah satu bank investasi paling terkemuka di Amerika Serikat (AS) dan juga dunia, yaitu JP Morgan Chase & Co., sebesar US$ 2 milyar (sekitar Rp18 trilyun). Menurut rumor yang berkembang, kerugian tersebut disebabkan oleh kekeliruan kebijakan investasi yang dilakukan oleh bank yang bersangkutan. Pihak JP Morgan merespons kejadian ini dengan mem-pensiun-kan Chief Investment Officer-nya (CIO), yaitu Ms. Ina Drew, yang telah mengabdi di perusahaan selama 30 tahun. Namun tindakan tersebut tetap belum menjawab pertanyaan para investor di seluruh dunia: Apa yang sebenarnya terjadi?

Bank BTPN

Bank BTPN (BTPN), seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya, adalah bank miliki fund asing Texas Pacific Group (TPG), yang dikelola oleh fund lokal, Northstar Equity Partners (Northstar). TPG mengakuisisi BTPN pada 14 Maret 2008, atau hanya dua hari setelah perusahaan listing di BEI. Kemudian di tangan Northstar, BTPN memasuki bisnis baru yang belum banyak dimasuki oleh perusahaan perbankan lainnya, yaitu pembiayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM, atau kita singkat saja UKM), namun dengan tetap menjalankan bisnis asli perusahaan, yaitu kredit dan pembiayaan pensiunan.