Tips Sederhana untuk Sukses di Pasar Modal

Sejatinya artikel ini akan diposting di blog ini pada hari Selasa, 10 Januari mendatang. Tapi berhubung di akhir pekan ini penulis lagi bener-bener senggang, jadi ya udah dipostingnya sekarang aja. Oke, kita langsung saja.

Beberapa waktu lalu, penulis menerima email dari seorang teman, yang bertanya tentang tipe-tipe pelaku pasar, dan bagaimana perilaku mereka dalam mengelola portofolio sahamnya masing-masing. Berhubung penulis sendiri bingung bagaimana menjawab pertanyaan tersebut, akhirnya emailnya nggak dibales. Tapi simpelnya penulis bisa katakan, jumlah tipe pelaku pasar di market adalah sama dengan jumlah pelaku pasar itu sendiri. Setiap orang kan punya kebijakannya sendiri-sendiri dalam mengelola portofolionya, yang itu berarti setiap orang merupakan tipenya sendiri sebagai seorang pelaku pasar. Anda punya teman yang juga investor saham? Coba lihat, apakah saham-saham yang dia pegang sama persis dengan yang anda pegang?

Tapi memang kalau dibedakan secara spesifik, kita bisa menyebutkan paling tidak terdapat tiga tipe pelaku pasar, yaitu investor, trader, dan spekulan. Ada juga yang mengkombinasikan ketiganya, misalnya investor merangkap trader. Nah, yang akan kita bahas disini bukanlah apa saja perbedaan dari ketiga tipe pelaku pasar tersebut, melainkan, bagaimanakah cara untuk menjadi investor atau trader yang baik? (Kalau spekulan yang baik sih gak mungkin lah yaw). Baiklah, kita mulai.

Awalnya, ketika dunia belum mengenal pasar modal, para investor yang hendak ‘mengembang biakkan’ uangnya akan bertemu dengan para pengusaha dan perusahaan. Sebelum mempercayakan dana mereka ke pengusaha, si investor tentunya meneliti dengan cermat segala sesuatu tentang si pengusaha itu sendiri, perusahaannya, prospek usahanya, dan lain sebagainya. Jadi si investor akan memperhatikan profil dan track record para personel (owner, komisaris, dan direksi) di perusahaan yang bersangkutan. Dia juga akan memperhatikan aset-aset perusahaan secara langsung, misalnya datang ke pabriknya, membaca laporan keuangan perusahaan dengan seksama, melakukan tanya jawab secara intensif dengan humas perusahaan, hingga melakukan inspeksi setiap beberapa waktu sekali. Dia juga akan mencermati bidang usaha yang digeluti oleh perusahaan, apakah prospektif atau tidak?

Singkatnya, si investor akan mengerjakan berbagai analisis yang bersifat fundamental (mendasar) sebelum memutuskan untuk menempatkan dananya dalam bentuk saham di perusahaan tertentu.

Investor seperti ini bisa kita sebut sebagai investor tradisional. Sekarang inipun setelah adanya pasar modal, investor seperti ini masih tetap ada dan eksis. Mereka lebih fokus pada dividen ketimbang kenaikan harga saham. Biasanya mereka adalah pemodal besar, seperti fund manager atau semacamnya, dengan visi investasi dalam jangka yang sangat panjang, misalnya 5 tahun. Sementara di kalangan investor retail, investor tipe ini hampir tidak ada.

Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya pasar modal, beberapa dari investor tradisional ini kemudian ‘berevolusi’ menjadi investor yang mengerjakan segala sesuatunya dengan lebih praktis. Misalnya, kalau dulu seorang investor harus bela-belain datang ke lokasi pabrik milik perusahaan, hingga mengecek latar belakang dari personel perusahaan secara satu per satu, maka sekarang ini seorang investor cukup membaca laporan keuangan, dan laporan-laporan lainnya yang dirilis oleh emiten (perusahaan yang terdaftar di bursa saham). Selain itu pihak otoritas bursa (BEI) tentunya mewajibkan emiten untuk merilis informasi apapun terkait operasional perusahaan, dan hasil kinerja mereka dalam bentuk laporan keuangan dan tahunan, sehingga investor yang membeli sahamnya nggak perlu kesana kemari lagi, melainkan cukup membuka website BEI.

Investor ini bisa kita sebut sebagai investor konservatif. Lingkup analisis mereka lebih praktis dibanding investor tradisional, dimana mereka lebih memperhatikan dokumen-dokumen terkait perusahaan ketimbang datang langsung ke lokasi perusahaan. Sebenarnya tentu disini terdapat risiko bahwa dokumen-dokumen tersebut tidak asli alias dipalsukan oleh perusahaan terkait, sehingga hasil pengamatan yang diperoleh bisa jadi tidak seakurat dibanding jika mendatangi perusahaannya secara langsung. Namun sejak adanya profesi auditor yang memastikan kebenaran isi dokumen (termasuk laporan keuangan), dan para investor itu sendiri juga biasanya bisa membedakan mana isi dokumen yang sungguhan dan mana yang bo’ongan, maka hasil analisis secara praktis ini tidak kalah akuratnya dengan analisis lapangan. Tapi memang, jika ada seorang investor konservatif yang sungguh-sungguh berniat untuk invest dalam jumlah besar pada sebuah saham, biasanya dia akan datang ke perusahaannya, dan minta penjelasan dari personel perusahaan, entah itu komisaris, direktur, atau humas. Atau paling tidak dia datang ke public expose atau RUPS yang digelar perusahaan yang bersangkutan.

Balik lagi ke investor konservatif. Pertimbangan investor konservatif dalam memilih saham nggak pernah neko-neko. Yang penting kalau mereka ngeliat ada saham dengan kinerja emiten yang bagus, valuasinya murah, dan prospeknya cerah, maka mereka akan ambil sahamnya kemudian didiamkan saja dalam waktu antara bulanan hingga tahunan. Mereka nggak lagi hanya fokus pada perolehan dividen seperti investor tradisional, tetapi juga peningkatan harga saham. Mereka baru akan menjual sahamnya, kalau kinerja terbaru dari emiten yang bersangkutan menunjukkan penurunan, atau peningkatannya tidak setinggi sebelumnya.

Jadi kalau Tuan Budi yang seorang investor konservatif memegang saham A, dan kinerja perusahaan A ini terus meningkat dengan lancar setiap kuartalnya, maka beliau akan terus saja memegang saham A ini sampai kapanpun, mungkin bisa sampai puluhan tahun. Tuan Budi baru akan menjual sahamnya kalau terjadi salah satu dari dua peristiwa berikut: 1. Market dilanda crash, atau berpotensi akan crash, dan 2. Peningkatan kinerja emiten A akhirnya berhenti juga. Terkadang ketika market crash pun mereka bukannya keluar, tapi malah nambah barang. Sementara kalau peristiwa kedua yang terjadi, yaitu pertumbuhan kinerja saham A melambat atau berhenti, maka Tuan Budi akan memindahkan (switch) portofolionya ke saham yang lain.

Meski mereka tidak begitu kelihatan, namun investor konservatif seperti ini sebenarnya terdapat cukup banyak di market. Lo Kheng Hong adalah salah satu ‘Tuan Budi’ yang terkenal. Selain beliau, penulis juga kenal beberapa investor yang memegang saham-saham tertentu selama bertahun-tahun, dan mereka memang menikmati perolehan gain yang luar biasa.

Tidak semua investor konservatif hanya menjual sahamnya ketika kinerja perusahaan yang sahamnya mereka pegang mengalami penurunan. Ada juga yang menjual sahamnya kalau kenaikan harga yang diperoleh dirasa sudah maksimal (target price-nya sudah tercapai). Atau jika dia merasa bahwa harga sahamnya akan turun (misalnya karena IHSG berpotensi mengalami koreksi), sehingga sebaiknya dia lepas dulu untuk kemudian beli lagi di harga yang lebih murah. Nah, investor tipe ini tidak lagi konservatif, melainkan sudah lebih modern. Dia tidak lagi hanya memperhatikan faktor analisis fundamental, melainkan juga faktor pola pergerakan harga saham, yang kemudian dikenal sebagai analisis teknikal. Melalui analisis teknikal inilah, seorang investor kemudian bisa menentukan momentum yang tepat, kapan dia bisa membeli dan kapan dia bisa menjual sebuah saham.

Konsep investor modern ini tidak lagi sebatas pada: Belilah saham yang valuasinya masih murah, melainkan: Belilah saham yang secara teknikal sudah mentok penurunannya, dan selanjutnya dia akan menguat (harganya naik). Bagi mereka, dividen tidak lagi penting, karena yang mereka incar adalah keuntungan dari kenaikan harga saham. Investor modern ini bisa dibeda-bedakan berdasarkan time frame-nya. Ada yang bermain dalam jangka sangat panjang, dimana mereka hanya akan masuk setiap kali market dilanda crash (misalnya ketika tahun 1998 dan 2008 lalu), dan hanya keluar ketika market mereka anggap sudah benar-benar jenuh (kenaikannya sudah mentok). Perhatian investor modern model ini adalah kondisi ekonomi makro, yang mereka ketahui mengalami pasang surut setiap beberapa tahun sekali.

Selain investor yang bermain dalam jangka super-panjang, ada juga yang bermain dalam jangka lebih pendek yaitu tahunan, dimana mereka menaruh perhatian khusus pada fakta bahwa terdapat trend bullish dan bearish pada chart IHSG atau chart saham yang mereka pegang, yang datang secara silih berganti setiap beberapa waktu sekali dalam setahun (biasanya harga saham-saham mengalami koreksi cukup dalam sebanyak dua atau tiga kali dalam setahun, yang secara akumulatif tercermin pada koreksi IHSG). Nah, pada moment-moment koreksi yang sudah mentok itulah mereka baru akan masuk, dan mereka memperoleh gain ketika market rebound. Sementara yang bermain dalam jangka lebih pendek lagi, mereka tidak lagi menunggu moment koreksi yang hanya terjadi dua – tiga kali setahun. Itu kelamaan! Sehingga mereka pun lebih suka menunggu moment koreksi bulanan, mingguan, bahkan harian. Simpelnya, kapanpun mereka melihat bahwa chart sebuah saham menunjukkan sinyal bahwa dia akan naik, maka dia akan membelinya. Sebaliknya, kapanpun mereka melihat bahwa chart sebuah saham menunjukkan sinyal bahwa dia akan turun, maka dia akan menjualnya.

Investor modern yang bermain dalam jangka pendek ini jauh lebih sering melakukan transaksi jual beli dibanding investor modern yang bermain dalam jangka yang lebih panjang, investor konservatif, ataupun investor tradisional, sehingga akhirnya mereka disebut dengan trader, karena mereka aktif meperjual belikan saham setiap saat. Jadi pada hakikatnya, trader ini adalah investor juga. Beberapa diantara mereka ada juga yang bisa berkali kali menjual dan membeli saham yang sama, hanya dalam satu hari.

Secara teori, seharusnya investor modern atau trader bisa meraih keuntungan lebih besar dibanding investor konservatif, karena mereka bisa memaksimalkan perolehan gain dengan cara memperjual belikan sahamnya. Mereka bahkan bisa meraih gain dari saham yang harganya nggak naik-naik. Misalnya saham A, harganya Rp1,000. Setelah setahun, harganya seribu juga, sehingga bisa dipastikan investor yang memegang sahamnya selama setahun tersebut gak dapat apa-apa. Tapi trader yang memperjual belikan saham A tersebut bisa dapet gain dengan cara memanfaatkan fluktuasi harga, karena dengan catatan saham A likuid, maka gak mungkin harganya dieeem aja di seribu perak selama setahun. Pasti ada masa-masa dimana dia turun ke 800, atau naik ke 1,200. Nah, trader yang bisa membeli di 800 dan menjualnya di 1,200 itulah, yang kemudian bisa meraih gain dari saham A ini.

Namun pada prakteknya, tidak semua trader bisa sukses membeli di 800, dan menjual di 1,200, seperti pada contoh diatas. Bisa jadi mereka malah melakukan sebaliknya, yaitu membeli di 1,200, dan menjual di 800, sehingga mereka malah lalu menderita kerugian. Dan nggak sedikit trader yang melakukan hal ini. Lalu apa penyebab mereka ‘merugikan dirinya sendiri’ seperti itu, padahal mereka sudah menguasai analisis fundamental dan teknikal dengan baik? Jawaban yang paling umum adalah, karena mereka belum memiliki mental baja, dan kesabaran ekstra.

Misalnya, setelah anda hitung-hitung, posisi IHSG setelah jeblok ke posisi sekian adalah sudah mentok. Tapi apakah anda punya cukup mental untuk masuk ketika semua orang dilanda fear? Sebaliknya ketika IHSG sedang ber-bullish ria, apakah anda punya cukup kesabaran untuk tidak terkena virus greed, untuk menunggu diluar kolam hingga trend bullish tersebut berbalik arah, sementara orang-orang sedang berpesta karena IHSG sedang tinggi-tingginya?

Tidak cuma trader, tapi investor konservatif pun dijamin akan gagal total kalau mereka tidak bisa mengendalikan psikologis mereka dalam bertransaksi saham. Banyak sekali investor dan trader yang malah membeli ketika seharusnya dia menjual, hanya karena godaan oleh rumor dan bukannya analisis. Menurut Ben Graham, penulis buku The Intelligent Investor, tak peduli sejenius apapun seseorang, tak peduli sehebat apapun dia menguasai analisis fundamental atau teknikal, dia tetap akan hancur di pasar saham kalau mereka tidak mampu menghindari unsur greed (keserakahan), ataupun fear (ketakutan).

Karena itulah, jika anda bertanya kepada para investor yang sudah sukses, entah itu mereka investor murni ataupun juga seorang trader, maka penguasaan berbagai ilmu tentang menganalisis saham barulah sebagian dari unsur kesuksesan mereka. Sementara sebagian lagi, adalah penguasaan sikap: Sikap dewasa dalam memilih saham untuk dijual dan dibeli, sikap untuk tidak ikut-ikutan arus, dan sikap percaya diri pada setiap keputusan investasi yang diambil.

Okey, jadi apa kesimpulannya?

Dari uraian diatas, kita bisa simpulkan bahwa analisis fundamental adalah basic yang harus dikuasai oleh seorang investor. Jika kemudian anda ingin menjadi ‘investor modern’ alias trader, maka selanjutnya anda juga harus menguasai analisis teknikal. Jadi Fundamental Analysis (FA) dan Technical Analysis (TA) sama sekali tidak bertentangan, melainkan justru saling melengkapi. Ibarat membangun rumah, FA adalah lokasi tanah, fondasi, dan rumah itu sendiri. Sementara TA adalah bentuk bangunannya, serta fasilitas didalam rumah. Semakin cantik bentuk bangunan dan semakin lengkap fasilitasnya, maka anda akan semakin nyaman tinggal didalamnya. Tetapi secantik apapun bentuk bangunannya, rumah itu akan jadi tidak nyaman ditinggali jika sejak awal lokasi tanahnya jauh dari mana-mana, atau akses jalannya susah. Lebih buruk lagi kalau rumah itu dibangun tanpa fondasi, bisa-bisa gak ada angin gak ada hujan, dia roboh begitu saja.

Oleh karena itu, balik lagi ke pertanyaan diatas, bagaimanakah cara untuk menjadi investor atau trader yang baik? Ini jawabannya. Pertama, kuasailah analisis fundamental atau FA sebagai basic. FA ini berguna untuk mengetahui kualitas saham, dan valuasi harga wajarnya (PER, PBV, dll). Kedua, kuasailah analisis teknikal atau TA sebagai alat untuk lebih memaksimalkan keuntungan. TA ini berguna untuk menentukan kapan waktu untuk membeli, dan kapan waktu untuk menjual. Jika anda hanya menguasai FA namun tidak menguasai TA, maka keuntungan yang anda peroleh tidak akan maksimal. Sebaliknya, jika anda hanya menguasai TA namun mengabaikan unsur FA, maka seperti ilustrasi diatas, rumah yang anda bangun capek-capek bisa roboh begitu saja sewaktu-waktu.

Mungkin ada pertanyaan, bagaimana caranya agar saya bisa menguasai TA dan FA tersebut? Jawabannya, ya belajar, entah itu dari buku-buku, seminar, belajar secara otodidak dengan bahan-bahan dari internet, atau minta bimbingan ke orang yang anda anggap lebih ngerti. Penulis sendiri kalau boleh jujur, selama ini cuma mengerti FA saja, sementara TA hanya mengerti sedikit sekali. Tapi belakangan ini penulis juga mulai mempelajari TA tersebut, karena seperti dikatakan diatas, TA ini sangatlah diperlukan untuk meraih gain dari saham-saham tertentu yang bergerak sideways dalam jangka panjang (kita pernah membahas ini di Saham-Saham untuk Trading).

Intinya apapun saham yang anda ambil, pertama-tama cek fundamentalnya dulu. Kalau fundamentalnya memang bagus, maka masukkan saham tersebut kedalam watchlist anda. Kemudian untuk menentukan moment beli yang tepat, gunakan analisis teknikal.

Ketiga, dan inilah yang paling penting dari semuanya, anda harus mampu mengendalikan psikologis anda dalam mengambil setiap keputusan. Caranya? Dengan memperbanyak pengalaman. Semakin lama anda bergelut dengan pasar modal, maka anda akan semakin matang dalam bersikap. Sementara jika anda masih masih newbie, maka anda bisa meminta sharing pengalaman dari mereka-mereka yang sudah lebih dulu masuk ke pasar modal. Penulis sendiri juga begitu. Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman, penulis sangat suka bertanya kepada siapa saja yang mengerti tentang pasar modal, terutama mereka yang lebih berpengalaman. Dan sampai sekarang pun penulis masih melakukannya. Beruntung, bermodalkan blog ini, penulis memperoleh banyak sekali teman, dimana banyak diantaranya yang sudah sangat matang di pasar modal, dan dari merekalah penulis belajar (thanks!). Tapi kalau anda nggak punya blog juga ga masalah. Sekarang ini di internet terdapat banyak forum-forum dimana anda bisa bertanya dan bertukar pengalaman kepada sesama investor. Atau anda bisa datang ke acara investor gathering atau semacamnya.

Nah, terkait masalah mental ini, biasanya semakin sering anda melakukan kegiatan jual beli saham, maka akan semakin berat beban mental anda yang harus anda pikul, dan efeknya anda akan semakin rentan terserang virus greed and fear. Karena itulah jika anda memutuskan untuk aktif di pasar modal sebagai trader, maka untuk melindungi mental anda sendiri, sebaiknya jadilah trend trader, jangan jadi swing trader (perbedaan tentang dua istilah trader tersebut, cari aja di google).

Okay, mungkin itu saja yang bisa penulis share di artikel kali ini. Terus bagaimana dengan tipe pelaku pasar yang ketiga, yaitu spekulan? Well, kita tidak bisa memungkiri bahwa pasar modal juga merupakan tempat bagi mereka yang berani mempertaruhkan apa yang mereka miliki untuk memperoleh keuntungan instan dalam jumlah besar. Tapi berhubung artikel ini sudah kelewat panjang, maka kita akan membahas ini lain waktu.

NB: Mau belajar saham? Klik disini. Penulis juga bikin buletin bulanan yang berisi analisis pergerakan IHSG dan rekomendasi saham. Anda bisa memperolehnya disini.

2 comments:

Anonymous said... Balas Komentar

Pak Teguh..
Artikel nya mantep banget...
Kalo boleh saya ingin minta rekomendasi buku2 untuk belajar psychology kita sebagai trader..
Saya sudah baca banyak buku tapi rata2 hanya mengenai analisa teknikal.. Bagian psychology nya paling cuman 1 chapter saja..
Jadi saya ingin membaca buku2 yang justru lebih membahas tentang psychology sebagai trader..
Buku bahasa asing maupun buku bahasa indo pun tak masalah..

Terima kasih pak Teguh..

Anonymous said... Balas Komentar

Setuju banget dengan analisa anda. Saya bermain saham sudah 5 tahunan. tapi lebih banyak ruginya, karena mental yang tidak kuat.