Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

ICTSI Jasa Prima

ICTSI Jasa Prima (KARW) yang sebelumnya bernama Maharlika Indonesia, dan sebelumnya lagi bernama Karwell Indonesia, berubah nama menjadi ICTSI Jasa Prima, setelah pada tanggal 3 Mei 2012 lalu perusahaan diambil alih oleh International Container Terminal Services, Inc (ICTSI), sebuah perusahaan jasa pelabuhan asal Filipina. Kegiatan usaha KARW juga berubah dari tadinya garment menjadi jasa pelabuhan. Aksi korporasi ini menarik, karena kita tahu bahwa saat ini banyak yang memprediksi bahwa sektor yang akan booming dalam beberapa waktu ke depan adalah infrastruktur, dan pelabuhan adalah bagian dari infrastruktur tersebut. So, apakah dalam hal ini ICTSI juga menangkap peluang tersebut, sehingga mereka kemudian masuk ke Indonesia?

ICTSI mengakuisisi KARW pada tanggal 3 Mei 2012 melalui anak usahanya di Singapura, ICTSI Far East (IFE), dimana IFE membeli 469.7 juta lembar saham atau mewakili 80% saham KARW, dengan harga beli antara Rp74 - 77 per saham. Kemudian, berdasarkan peraturan Bapepam, IFE sebagai pemegang saham pengendali yang baru di KARW harus melakukan mandatory tender offer alias membeli sisa saham KARW yang masih dimiliki publik, dan inilah yang menyebabkan saham KARW terus naik sejak tanggal 24 Agustus lalu. Tapi yang agak aneh adalah, kenapa naiknya baru pada tanggal 24 Agustus? Bukannya KARW sudah diakuisisi oleh IFE sejak awal Mei?

Kemudian, dalam keterbukaan informasi yang dirilis oleh HD Capital (HADE) selaku broker yang ditunjuk IFE untuk mengambil alih KARW, tidak ada informasi soal tender offer tersebut, kecuali bahwa perusahaan akan mengumumkan akuisisi IFE atas KARW tersebut di koran. Juga, tidak ada informasi soal berapa jumlah saham yang harus diambil alih IFE dalam rangka tender offer tersebut, dan juga berapa jumlah saham yang sudah dibeli IFE hingga saat ini. Kalau menurut penulis, selama tender offer-nya masih berlangsung, maka selama itu pula KARW akan terus naik. Tapi memang masalahnya, karena informasinya serba tertutup, kita jadi tidak pernah tahu kapan tender offer tersebut akan selesai, sehingga keputusan untuk masuk ke KARW pada saat ini berbau spekulasi. Namun kalau udah megang sejak awal tentu boleh hold.

Sekarang, bagaimana prospek terkait perusahaannya?

Ketika ICTSI mengakuisisi KARW, tujuannya adalah untuk backdoor listing. Melalui KARW, ICTSI kemudian membeli enam unit crane, yakni alat derek untuk mengangkat kontainer (yang segede gaban itu) dari kapal ke darat atau sebaliknya. Keenam crane ini kemudian akan ditempatkan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, sehingga sekarang ICTSI memiliki unit bisnis di Tanjung Priok. Ini adalah kali kedua ICTSI masuk ke bisnis pelabuhan di Indonesia. Sebelumnya, ICTSI juga memiliki perusahaan bernama PT Makassar Terminal Services (MTS), yang bergerak di bidang pengangkutan kontainer di Terminal Peti Kemas Makassar, Sulawesi Selatan. Untuk saat ini MTS tidak diletakkan dibawah KARW, tapi ada kemungkinan kedepannya unit bisnis ICTSI yang di Makassar tersebut akan diletakkan dibawah KARW dengan cara diakuisisi.

Sebuah kapal sedang melakukan bongkar muat kontainer

Selain membeli crane, ICTSI melalui KARW juga mengakuisisi 100% saham PT PBM Olah Jasa Andal (OJA), sebuah perusahaan pemegang kontrak dari Pelindo II (BUMN operator Pelabuhan Tanjung Priok), untuk menyediakan jasa bongkar muat kontainer di beberapa dermaga. Sekali lagi, ini sangat menarik, karena seperti yang kita ketahui, Pelindo II sedang mengembangkan proyek raksasa Pelabuhan Kalibaru, yang berlokasi persis di sebelah timur Pelabuhan Tanjung Priok, dengan nilai investasi US$ 4 milyar atau setara Rp36 trilyun! Nah, ketika nanti Pabuhan Kalibaru yang dijuluki sebagai ‘The New Tanjung Priok’ ini mulai beroperasi, maka OJA sebagai partner lama dari Pelindo II tentunya akan ketiban rezeki kontrak baru.

Tapi memang, itu masih lama. Pelindo II sendiri baru mulai membangun Pelabuhan Kalibaru pada September 2012 ini, dan pelabuhan tersebut diperkirakan baru akan beroperasi mulai tahun 2014 nanti, itu pun kalau progress-nya lancar. Meski begitu, bisnis OJA di Pelabuhan Tanjung Priok tetap prospektif, karena arus lalu lintas kontainer di pelabuhan tersebut mencatat rata-rata peningkatan sebesar 26% per tahun, dan karena suplai infrastruktur pelabuhan di Tanjung Priok masih minim, bahkan jika dibanding dengan negara tetangga Malaysia, sehingga masih terdapat banyak ruang untuk ekspansi. So, penulis kira inilah yang menyebabkan ICTSI masuk ke Tanjung Priok, yaitu karena selain prospek dari Tanjung Priok itu sendiri masih bagus, terdapat prospek tambahan jika Pelabuhan Kalibaru benar-benar bisa beroperasi di dua - tiga tahun mendatang.

Total biaya yang dikeluarkan ICTSI untuk membeli enam crane dan mengakuisisi OJA adalah Rp334 milyar. Uang itu dalam neraca KARW akan dicatat sebagai utang yang diperoleh dari ICTSI Limited, induk dari IFE, dimana IFE adalah induk dari KARW. Jadi struktur perusahaannya dari yang tertinggi hingga terendah adalah sebagai berikut:

ICTSI Filipina
I
ICTSI Limited
I
ICTSI Far East (IFE)
I
ICTSI Jasa Prima (KARW)
I
PBM Olah Jasa Andal (OJA)

So, setelah aksi korporasi ini, pendapatan serta laba bersih perusahaan akan meningkat berkali-kali lipat, yang berasal dari pendapatan dan laba bersih OJA yang dikonsolidasikan. Manajemen memperkirakan bahwa pendapatan KARW sebagai induk dari OJA akan mencapai Rp239 milyar pada tahun penuh 2012, meningkat hampir sepuluh kali lipat dibanding tahun 2011 sebesar Rp25 milyar. Total aset KARW juga akan meningkat menjadi sekitar Rp500 - 600 milyar, dari sebelumnya hanya Rp13 milyar di tahun 2011. Namun, sebagian besar dari aset tersebut akan dicatat sebagai utang (yang diperoleh dari ICTSI Limited) dan bukannya ekuitas. So, penulis bisa membayangkan bahwa laporan keuangan KARW ini di Kuartal III nanti akan mencatat angka return on equity (ROE) yang sangat besar, namun DER-nya juga akan sangat besar. ICTSI Limited sendiri akan secara bertahap memberikan pinjaman senilai total US$ 70 juta atau setara Rp640 milyar kepada KARW, yang akan digunakan untuk berbagai kegiatan investasi (jadi setelah membeli crane dan mengakuisisi OJA, ada kemungkinan kedepannya KARW bakal mengakuisisi lagi, mungkin perusahaan yang di Makassar tadi).

Masalahnya disini adalah, berapa bunga dari pinjaman tersebut? Karena jika bunganya terlalu besar, maka itu berarti laba bersih yang diperoleh KARW dipindahkan ke ICTSI Limited, sehingga KARW boleh dibilang gak dapet apa-apa. Atau, apakah KARW berencana untuk menggelar right issue, dimana uangnya akan dipakai untuk membayar utang ke induknya tersebut?

Kesimpulannya, penulis menilai bahwa prospek KARW ini menarik, terutama karena penulis juga termasuk yang percaya, atau mungkin lebih tepatnya berharap, bahwa sektor infrastruktur termasuk pelabuhan akan menjadi sektor yang booming di Indonesia dalam beberapa waktu kedepan. Selain itu, ICTSI yang masuk ke Tanjung Priok melalui KARW ini merupakan perusahaan jasa layanan pelabuhan yang cukup terkemuka di dunia, dan juga telah memiliki operasional di 17 negara, sehingga seharusnya mereka tidak akan kesulitan dalam mengembangkan infrastruktur di Tanjung Priok, dan mungkin juga nantinya di Pelabuhan Kalibaru.

Namun disisi lain, terdapat setidaknya dua poin yang dipertanyakan dari masuknya ICTSI ke KARW, yakni: 1. Proses tender offer yang menurut penulis kurang transparan, dan 2. Kenapa ICTSI Limited memberikan dana kepada KARW dalam bentuk utang, dan bukannya penyertaan modal? Tapi mudah-mudahan ini hanya kekhawatiran penulis saja, dan tidak berpotensi menjadi masalah apapun.

Lalu gimana soal analisis sahamnya dari sisi fundamental? Berhubung laporan keuangan KARW untuk periode Kuartal II 2012 kemarin masih belum memasukkan pendapatan dan laba bersih konsolidasi dari akuisisi OJA (datanya masih data sebelum akuisisi), maka tentunya analisisnya juga belum bisa dilakukan, sehingga sahamnya juga belum bisa dikoleksi. Kita lihat bagaimana kinerjanya di di Kuartal III nanti. Yang jelas hingga Juli 2012, dimana ketika itu OJA sudah dikonsolidasikan, KARW mencatat pendapatan Rp122 milyar, dan laba usaha (bukan laba bersih) Rp5 milyar. Quite good, but it had to be better.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

4 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Laporan keuangan karw dah keluar oom.. Ditunggu lanjutan analisanya ya oom.. Tx

Anonim mengatakan... Balas

mantaps gan analisanya
sy coba ngasih analisa gan
1. proses tender kurang transparan karena ICTSI jasa Prima (karwel)sebenarnya dimiliki oleh ICTSI limited (sahamx 100% dimiliki oleh ICTSI limited) jadi sebenarnya 30%saham yang milik publik itu hanya pinjam nama warga negara indonesia.
2. ICTSI menyertakan utang karena mungkin mereka mau lebih cepat kembali uangnya daripada menyertakan modal pasti tunggu akhir tahun utk dapat deviden...just my opinion

Ilustrasiku mengatakan... Balas

Usul : tolong dibuat ulasan kedua ttg KARW setelah keluarnya laporan keuangan th 2012. bagaimana prospek kedepannya.

Cicilia Henny Handoyo mengatakan... Balas

lk karw 2014 gimana gan? n prospek k depannya gimana? apa lebih baek drpd mitra bahtera n tempuran mas?