Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Brief Analysis: TLKM, MNCN, GIAA

Pada pertengahan September 2012 kemarin, beredar kabar yang agak sulit untuk dipercaya: Telkomsel bangkrut! Anak perusahaan Telekomunikasi Indonesia atau Telkom (TLKM) ini dinyatakan oleh pengadilan telah gagal dalam membayar tagihan dari mitra usahanya, PT Prima Jaya Informatika (PJI), sebesar Rp5.3 milyar. Seperti sudah diduga sebelumnya, pihak Telkomsel kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, dan hingga kini belum ada perkembangan terbaru lagi. Pihak TLKM sendiri sebagai induk dari Telkomsel menyatakan bahwa mereka akan mengikuti prosedur hukum yang berlaku.

Ini adalah kali kedua dalam beberapa tahun terakhir TLKM terjerat kasus hukum. Sebelumnya pada Juni 2008, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan TLKM dan Telkomsel telah bersalah dalam kasus praktek kartel layanan SMS, dan kedua perusahaan dijatuhi hukuman denda masing-masing Rp18 dan 25 milyar. Pihak perusahaan tentu saja mengajukan keberatan, dan seperti kasus Telkomsel vs PJI, kasus inipun masih menunggu putusan terbaru dari pengadilan. Dalam laporan keuangan periode Kuartal III 2012, TLKM dan Telkomsel telah mencadangkan dana sebesar Rp150 milyar untuk membayar biaya-biaya yang mungkin timbul karena kasus hukum ini. Angka tersebut berpotensi bertambah mengingat urusan Telkomsel dengan PJI juga belum selesai.


Hebatnya, saham TLKM seolah tidak terpengaruh oleh kontinjensi tersebut, dan sejak September lalu hingga sekarang masih stabil di 9,500-an. Well itu bisa dimaklumi mengingat bahwa kalaupun TLKM harus menambah cadangan biaya untuk menyelesaikan berbagai kasus hukumnya, katakanlah hingga Rp200 milyar, maka itu tetap tidak akan berpengaruh banyak terhadap kinerja perusahaan, karena TLKM adalah perusahaan yang sangat besar dengan pendapatan yang mencapai puluhan trilyun setiap tahunnya. Di Kuartal III inipun, TLKM sukses membukukan laba bersih Rp14.1 trilyun, tumbuh 20.6% dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari sisi profitabilitas, ROE TLKM juga tumbuh dan sekarang sudah berada di level 30.0%.

Lantas apa yang dilakukan TLKM sehingga berhasil mencapai kinerja yang cukup bagus tersebut? Kalau mau jujur, sebenernya nggak ada. Dulu sempet tersiar kabar bahwa TLKM akan mengakuisisi perusahaan telekomunikasi Kamboja, tapi batal. Pernah juga dikatakan bahwa TLKM akan buyback 35% saham Telkomsel yang dipegang SingTel, tapi juga nggak ada kelanjutannya. Yang terbaru, tanggal 18 Oktober kemarin ramai beredar kabar bahwa TLKM akan berekspansi dengan mengakuisisi sebuah perusahaan kabel optik. Seperti yang sudah-sudah, kemungkinan aksi korporasi tersebut ujung-ujungnya juga cuma omong doang.

Kesuksesan TLKM dalam mencatat kenaikan laba bersih yang kembali menembus 20%, lebih karena faktor efisiensi. Pendapatan TLKM pada Q3 hanya naik 7.6%, namun kenaikan bebannya ternyata lebih kecil lagi, yakni 4.0%. Salah satu tindakan efisiensi yang cukup menonjol adalah pengurangan beban gaji karyawan sebesar total Rp169 milyar (dan memang jumlah karyawan TLKM berkurang, dari sebelumnya 26,023 orang menjadi 25,730 orang). Jika dimasa mendatang TLKM bisa kembali menghemat pengeluarannya, maka kenaikan laba bersihnya juga akan terjaga di level 20%. Namun diluar itu, kinerja TLKM terbilang masih jalan ditempat, yang mungkin karena ruang geraknya sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia juga sudah sangat terbatas. Bisa jadi, satu-satunya cara untuk bisa kembali tumbuh adalah dengan go outside, alias mengembangkan usaha diluar negeri. Mungkin itu sebabnya banyak pihak yang berharap TLKM bisa do something. Tapi sejauh ini, pihak perusahaan sepertinya cuma bisa merencanakan ini dan itu, tapi tidak atau belum ada tindakan apa-apa.

Kesimpulannya, kesuksesan TLKM untuk bertengger di posisi 9,700 seperti sekarang ini bukan karena didorong oleh faktor fundamental ataupun sentimen positif tertentu, melainkan lebih karena masuknya dana asing ke bursa (yang mungkin karena kebijakan Quantitative Easing yang dicanangkan Presiden Federal Reserve, Ben Bernanke, beberapa waktu lalu). Tapi memang kinerja TLKM di Kuartal III 2012 tetap layak diapresiasi, dan mungkin itu akan menahannya untuk tidak turun lagi sampai level 7,000-an, seperti sebelum rally-nya dulu. Hanya saja, potensi kenaikannya juga sudah terbatas. TLKM mungkin masih bisa naik sampai menembus 10,000, andaikata IHSG juga berhasil menembus new high di 4,400-an. Namun diluar itu, anda sudah tahu lah dia bakal kemana.

Media Citra Nusantara (MNCN)

Beberapa waktu lalu penulis mendengar seorang analis yang menyarankan untuk menghindari saham-saham dari grup usaha yang pemiliknya terjun ke politik, dalam hal ini Grup Bakrie (Aburizal Bakrie), dan Grup Bhakti (Hary Tanoesoedibjo). Alasannya karena terdapat kemungkinan para taipan tersebut akan ‘merampok’ perusahaannya sendiri untuk memperoleh dana untuk karier politiknya. Alasan yang masuk akal sih, dan mungkin hal itu juga bisa menjelaskan penurunan yang cukup tajam yang dialami saham-saham Grup Bakrie akhir-akhir ini. Tapi kenapa kok hal yang sama tidak berlaku untuk Grup Bhakti? Dalam setahun terakhir, saham-saham Grup Bhakti sepertinya naik terus. Salah satunya, Media Citra Nusantara (MNCN), yang dalam setahun terakhir sudah naik lebih dari 150% ke posisi 2,750.

Kalau dari fundamentalnya, dalam laporan keuangannya untuk periode Kuartal III 2012, MNCN masih bagus seperti biasanya, atau bahkan sangat bagus. Namun, valuasi sahamnya sudah boleh disebut sangat mahal. Pada harga 2,750, PER MNCN tercatat 24.6 kali. Namun jika kita mempertimbangkan bahwa saham-saham dari perusahaan media lain seperti Surya Citra Media (SCMA) dan Indosiar Karya Media (IDKM), rata-rata juga cukup mahal, maka mungkin PER MNCN tersebut masih wajar mengingat kinerja MNCN juga lebih bagus ketimbang dua pesaingnya tersebut. Tapi bagi penulis sendiri, keputusan untuk membeli saham dengan PER diatas 15.0 kali, apalagi sampe 20.0 kali, biar bagaimanapun merupakan keputusan yang berisiko.

Namun ada hal lain lagi yang menarik diluar valuasi MNCN yang selangit. Sepanjang bulan Juli 2012 lalu, saham MNCN mengalami rally dengan naik dari 1,800 hingga 2,400. Memasuki Agustus, dia mulai kehilangan tenaga dan melorot ke posisi 2,200. Ketika itulah, tepatnya pada tanggal 13 Agustus, perusahaan merilis press release terkait kinerja MNCN untuk periode tujuh bulan 2012 (Januari – Juli 2012). Dari press release-nya tersebut, tergambar prospek yang sangat cerah dari kinerja MNCN kedepannya, dimana hanya dalam hitungan bulan lagi, ketiga stasiun televisi milik MNCN yaitu RCTI, MNC-TV, dan GlobalTV, akan menyiarkan siaran olahraga yang dipastikan akan menyita perhatian para pemirsa televisi, yakni Piala AFF 2012, dan Ultimate Fighting Championship. Kemungkinan berkat press release tersebut, saham MNCN kemudian sukses melanjutkan rally-nya, sehingga ketika MNCN merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal III 2012 pada tanggal 18 Oktober kemarin, sahamnya sudah terlanjur naik ke posisi 2,775.

Disisi lain, perusahaan lain milik Om Hary, yakni Bhakti Investama (BHIT) yang notabene merupakan induk dari MNCN, juga melakukan aksi korporasi penting, yakni penambahan modal tanpa HMETD, dimana BHIT menerbitkan 2.2 milyar lembar saham baru (belum termasuk saham yang diterbitkan dalam rangka MESOP), dengan harga eksekusi Rp490 per saham, sehingga Grup Bhakti akan meraup dana segar Rp1.1 trilyun. Tidak ada keterangan akan diapakan duit sebanyak itu, namun pihak BHIT mengumumkan bahwa investor yang berminat terhadap saham baru tersebut bisa membayarnya dengan menyerahkan obligasi wajib tukar yang ia miliki. Jadi kelihatannya, aksi korporasi ini bertujuan untuk memperoleh dana dan atau mengurangi utang perusahaan, dengan memanfaatkan momentum masuknya dana asing ke bursa dan bullish IHSG. Saham BHIT ini sendiri kemudian sukses naik ke level 570, dan bertahan di posisi tersebut hingga saat ini.

Kembali ke MNCN. Dengan memperhatikan aksi korporasi yang dilakukan Om Hary melalui BHIT, maka kemungkinan press release yang dikeluarkan MNCN pada Agustus lalu bertujuan serupa: Memanfaatkan momentum bullish IHSG untuk menaikkan harga saham, yang mungkin agar nantinya bisa jualan di harga tinggi, untuk kemudian beli lagi di harga bawah ketika asing kabur dan IHSG jatuh. Soalnya gak cuma BHIT dan MNCN saja, namun saham Global Land Development, yang sekarang berubah nama menjadi MNC Land (KPIG), dan juga Indonesia Air Transport (IATA), juga ikut-ikutan terbang, padahal sebelumnya saham mereka nggak likuid sama sekali. Bagi anda yang belum tahu, kedua perusahaan tersebut juga milik Grup Bhakti.

Kesimpulannya, saham-saham Grup Bhakti sekarang ini sedang digoreng, termasuk MNCN. Apakah tujuannya buat dapet duit gratis buat politiknya Om Hary? Mungkin iya, tapi mungkin juga ini cuma bisnis, karena nyari duit dari trading saham apa salahnya toh? Untuk MNCN sendiri, mungkin dia masih bisa naik ke 2,900-an, sekali lagi kalau IHSG bisa naik sampai 4,400. Diluar itu, maka MNCN berisiko untuk jatuh lebih dalam ketimbang TLKM yang sudah kita bahas diatas.

Dan kalau bicara soal gorengan, maka bagi anda yang menyukai makanan berkolesterol ini juga bisa melirik saham Bhakti Capital Indonesia (BCAP). Seperti juga saudara-saudaranya, saham BCAP yang normalnya tidak likuid sama sekali, seringkali mendadak ramai ditransaksikan dan juga naik banyak hanya dalam sekejap. Hari ini saja jumlah saham BCAP yang ditransaksikan mencapai 22 juta lembar.

Tapi harap diingat sodara-sodara, terlalu banyak kolesterol itu sudah pasti nggak baik buat jantung.

Garuda Indonesia (GIAA)

Setelah mencatat kerugian di Kuartal II kemarin, pada Kuartal III 2012 ini GIAA sukses membukukan laba bersih US$ 56 juta, naik 51.6% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sayangnya, secara umum kinerja GIAA di periode ini belum mengalami peningkatan berarti, dimana seluruh rasio profitabilitasnya (ROA, ROE, dll) masih tertahan di angka single digit, alias kurang dari 10%. Jadi untuk periode penyampaian laporan keuangan berikutnya, yakni Kuartal IV 2012 nanti, tidak ada jaminan bahwa GIAA tidak akan mengalami kerugian lagi.

Sementara terkait aksi korporasi, GIAA boleh dibilang sangat berbeda dengan saudaranya sesama BUMN, yaitu Telkom, dimana GIAA jauh lebih gencar dalam melakukan berbagai aksi ekspansi usaha. Terakhir pada tanggal 12 Oktober kemarin, GIAA melakukan penerbangan perdana bagi pesawat barunya jenis Bombardier, dengan rute pulang pergi Jakarta – Makassar. Kehadiran pesawat baru ini merupakan realisasi dari rencana GIAA untuk menghadirkan layanan penerbangan di Kawasan Indonesia Timur, dengan tidak menutup kemungkinan juga akan melayanan rute penerbangan untuk kawasan lainnya. Aksi ekspansi ini merupakan yang kali kesekian. Sebelumnya, GIAA menandatangani kerjasama sponsor dengan klub sepakbola Inggris, Liverpool FC, dan memperoleh izin terbang untuk anak usahanya, Citilink, dan masih banyak lagi.

Karena berbagai aksi korporasinya tampak menjanjikan, maka posisi saham GIAA saat ini yakni 700-an menjadi bisa dijelaskan. Tapi dari sisi kinerja riil perusahaan, tetap saja harga segitu kemahalan. Kombinasi dari prospek yang (tampak) cerah dan kinerja yang masih nggak begitu bagus, mungkin akan membuat saham GIAA kedepannya hanya mondar-mandir saja di kisaran 600 – 700. Jadi kalau anda mau trading di saham ini, sarannya adalah masuk di harga 600-an.

Terakhir, ada dua hal lagi yang sebaiknya anda catat terkait GIAA ini. Satu, saham GIAA tampaknya cukup mudah terpengaruh oleh pergerakan harga minyak mentah (crude oil), dimana jika harga minyak naik, maka sahamnya akan turun. Beberapa waktu lalu GIAA sempat tertekan ke posisi dibawah 600, dimana ketika itu harga minyak sempat naik sampai diatas US$ 95 per barrel. Sekarang harga minyak sudah turun lagi ke US$ 87 per barrel, dan saham GIAA juga berhasil naik lagi ke 700-an. Korelasi antara harga minyak dan sahm GIAA ini bisa dijelaskan, mengingat salah satu komponen beban perusahaan adalah biaya bahan bakar minyak, sehingga jika harga minyak naik maka hampir bisa dipastikan laba bersih GIAA akan tertekan.

Lalu yang kedua, sekitar Juli lalu manajemen GIAA mengumumkan soal rencana tiga aksi korporasi sekaligus terkait struktur permodalan perusahaan, yakni kuasi reorganisasi, penurunan nilai nominal modal dasar dan disetor, sekaligus right issue. Hingga kini belum ada kelanjutan mengenai rencana tersebut, tapi jika ketiganya jadi dilakukan, maka sahamnya biasanya akan bergerak liar. Kalau bergeraknya keatas alias naik sih nggak masalah, tapi bagaimana kalau bergeraknya kebawah alias turun?

Okay, segitu aja dulu, mudah-mudahan bermanfaat.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

3 komentar:

fajar mengatakan... Balas

kalo JSMR gimana om.? laba q3 naik 30an%
sudah cukup lama konsolidasi di 5700-5850..

Anonim mengatakan... Balas

Pak Teguh penampilan blog baru yah... Sukses yah Pak... :-)
Artikel juga moga makin berbobot.

Anonim mengatakan... Balas

wah melihat ulasan tentang TLKM sy jd teringat film "the company men" dimana demi mengangkat harga saham perusahaan tersebut direktur melakukan efisiensi besar2an...presdir memecat banyak sekali karyawan2nya, bukan cuma buruh, tapi karyawan2 andalan dan bahkan rekan dari presdir tersebut yang dulu membangun perusahaan itu bersama jg ikut dikeluarin...mengenaskan emank...tapi sy jd inget kata2 emas di film tersebut, bahwa perusahaan bukan dilihat dari harga sahamnya, tapi kinerjanya...perusahaan yg baik harusnya bisa menyerap lebih banyak lapangan pekerjaan, bukan menguranginya, jd klo perusahaan tersebut ditutup maka bnyak pertimbangan hajat hidup orang banyak yg dipertaruhkan shg pasti pemerintah tidak akan tinggal diam....