Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Indomobil Sukses Internasional

Industri penjualan kendaraan bermotor roda empat alias mobil di Indonesia selalu menarik untuk dicermati, mengingat gaya hidup kalangan menengah keatas yang hampir pasti memiliki minimal satu unit mobil di garasi rumahnya, dan mereka secara rutin mengganti mobilnya tersebut setiap beberapa waktu sekali (beli lagi yang baru). Sejak dulu, merk mobil yang paling umum digunakan di Indonesia adalah Toyota, dan sampai sekarang juga masih demikian. Namun belakangan ini beberapa merk mobil yang sebelumnya kurang dikenal masyarakat, kini bisa dengan mudah ditemui di jalan raya. Salah satunya, Nissan, dengan type unggulannya Nissan Juke, March, dan Grand Livina. Siapa pemegang merk Nissan di Indonesia? Bukan, bukan Astra International (ASII) ataupun salah satu anak usahanya, melainkan Indomobil (IMAS).

IMAS adalah salah satu unit usaha Grup Salim di bidang penjualan kendaraan bermotor roda empat atau lebih (mobil, truk, dll). Beberapa merk yang dipegang perusahaan adalah Nissan, Audi, Hino, Renault, Suzuki, SsangYong, Volvo, Volkswagen, dan yang terbaru, Infiniti (merk premium dari Nissan, seperti Lexus-nya Toyota). Untuk merk Volvo, IMAS juga menjual berbagai macam alat-alat berat (sehingga IMAS merupakan kompetitor untuk Intraco Penta/INTA yang menjual alat-alat berat dengan merk yang sama). Selain jualan mobil dan alat-alat berat, IMAS juga memiliki perusahaan pembiayaan kredit kendaraan, penjualan sepeda motor (Suzuki), rental kendaraan, dan perusahaan penjualan suku cadang Indoparts, selain juga memiliki perusahaan kontraktor tambang skala kecil.


Meski IMAS menjual berbagai merk mobil dan juga memiliki beberapa jenis usaha diluar usaha penjualan mobil, namun lebih dari separuh pendapatan perusahaan berasal dari penjualan satu merk mobil saja, yaitu Nissan. Pada First Half 2012, IMAS mencatat pendapatan Rp9.8 trilyun, dimana sekitar 54.5% atau Rp5.4 trilyun diantaranya berasal dari penjualan mobil merk Nissan. Thanks to beberapa type unggulannya, terutama Nissan Grand Livina. Hingga akhir Agustus 2012, Grand Livina merupakan type terlaris dari Nissan dengan kontribusi mencapai 50 - 60% dari seluruh volume penjualan. Berkat Livina pula, Nissan sukses meraup 9.6% pangsa pasar mobil di Indonesia di Kuartal I 2012, atau sudah lebih besar ketimbang Honda, tapi masih dibawah Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, dan Suzuki. Kelebihan Livina cukup jelas, yakni image-nya sebagai mobil keluarga yang nyaman, aman, dan stylish, namun dengan harga yang tetap terjangkau, yakni mulai dari Rp160 jutaan.

Kedepannya, Nissan masih akan terus mengembangkan dan meluncurkan type-type baru, termasuk Nissan Evalia yang, menurut klaim perusahaan, angka penjualannya sudah mencapai 5,200 unit hanya dalam periode Mei - Juli 2012.

Sukses dengan Nissan, pendapatan IMAS juga sukses tumbuh hingga 41.6% pada First Half 2012 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun laba bersihnya hanya tumbuh 25.0%. Penyebabnya? Karena perusahaan membelanjakan Rp8.2 trilyun untuk membeli mobil yang selanjutnya dijual (IMAS kan perusahaan dagang, bukan produsen), naik 67.2% dibanding tahun lalu, atau kenaikannya lebih besar ketimbang penjualan. Biasanya ini terjadi karena pelemahan nilai Rupiah belakangan ini, mengingat sebagian besar mobil yang dijual IMAS, baik built up maupun komponennya, berasal dari impor.

Anyway, yang jelas kesuksesan Nissan sepanjang tahun 2010 hingga sekarang tentunya tidak akan dibiarkan begitu saja oleh para kompetitornya, terutama Honda yang baru saja ‘disalip’. Itu sebabnya pihak Honda pun, dalam hal ini PT Honda Prospect Motor, langsung meluncurkan type baru, yakni Honda Brio dan New Civic. Lalu para pemimpin pasar di industri otomotif Indonesia, yakni Toyota dan Daihatsu, juga tidak mau ketinggalan dengan merilis Toyota Agya dan Daihatsu Ayla, yang dipastikan akan menjadi penantang serius bagi Nissan March di segmen mobil murah. Dan jangan lupakan pendatang baru asal India, Tata Motors, dengan type andalannya yakni Tata Nano. The battle has just begin!

Lalu apa strategi IMAS untuk paling tidak mempertahankan posisinya saat ini? Ya dengan juga merilis type baru, seperti Nissan Evalia seperti yang sudah disebut diatas, dan dengan memperluas jaringan penjualan terutama untuk pasar diluar Jakarta. Pada tahun 2012 ini, IMAS setidaknya sudah membuka satu dealer anyar untuk Nissan yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat. Diluar Nissan, IMAS juga tetap memberdayakan merk-merk lain yang mereka pegang, dengan meluncurkan type-type baru seperti Audi Q3, Volkswagen New Caravelle, dan Volkswagen New Touareg.

Tapi memang pertanyaan terbesarnya adalah terkait peraturan DP minimum 30% untuk pembelian mobil pribadi, yang secara resmi dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada Maret 2012 lalu, dan mulai berlaku efektif pada Juni kemarin. Dalam public expose yang diselenggarakan perusahaan pada April 2012 lalu, direktur utama IMAS, Jusak Kertowidjojo, mengakui bahwa peraturan soal DP tersebut akan berdampak terhadap kinerja perusahaan, hanya beliau tidak memperinci seberapa besar dampaknya. Lalu bagaimana strategi perusahaan terkait hal tersebut? Well, juga tidak ada perincian soal itu. Tapi memang, ini adalah masalah bersama bagi seluruh pelaku industri otomotif di Indonesia, nggak cuma IMAS.

Btw, kalo ada yang nanya kenapa saham ASII seperti gak terpengaruh masalah DP ini dan malah terus saja naik, itu karena dua hal. Satu, ASII merupakan perusahaan yang bergerak di banyak sekali bidang, gak cuma jualan mobil, dimana bidang lain yang juga berkontribusi besar terhadap perusahaan adalah penjualan alat-alat berat dan usaha pertambangan melalui anak usahanya, United Tractors (UNTR), dengan kontribusi lebih dari 30% dari nilai total pendapatan ASII. IMAS memang juga punya usaha penjualan alat-alat berat merk Volvo, namun porsinya cuma sekitar 5% dari nilai total pendapatan perusahaan. Dua, ASII memiliki citra sebagai perusahaan blue chip favorit investor asing di BEI, dan saat ini investor asing lagi giat-giatnya masuk ke bursa. Citra ini tidak dimiliki oleh IMAS, yang oleh sebagian investor masih dianggap sebagai saham second liner.

Oke, sekarang gimana sahamnya?

Sepanjang tahun 2011 lalu, IMAS sukses menanjak dari posisi 4,075 pada awal tahun 2011, hingga mencapai puncaknya di posisi 9,325 pada Mei 2012, yang terutama karena kinerja ciamik perusahaan sepanjang periode waktu tersebut. Namun begitu keluar pengumuman soal DP minimum, saham IMAS terus terperosok, hingga sekarang sudah balik lagi ke 5,200. Sayangnya secara teknikal, belum ada tanda-tanda bahwa penurunannya tersebut akan berhenti.

Secara valuasi, saham IMAS pada harga 5,200 mencetak PER 9.0 kali, sudah tidak mahal sebenarnya, mengingat ROE IMAS mencapai 18.8%, dan pertumbuhan laba bersihnya juga masih terjaga di atas 20%, tepatnya 25.0%. Namun jika kita mempertimbangkan bahwa IMAS belum tentu bisa ‘deal’ dengan masalah DP tadi, dan juga belum ada strategi yang jelas dari perusahaan terkait kompetisi mereka dengan para pesaingnya, terutama dengan Agya dan Ayla (karena katanya dua mobil tersebut harganya cuma Rp100 jutaan, sementara Nissan March sebenarnya nggak murah-murah amat, melainkan Rp150 jutaan), maka memang menjadi tidak ada jaminan bagi IMAS untuk bisa meneruskan kinerja bagusnya di masa mendatang. Jika anda termasuk yang mempertimbangkan hal ini, maka saham IMAS di harga sekarang masih agak mahal.

Disisi lain, IMAS masih punya segudang rencana pengembangan usaha diluar sekedar jualan mobil merk Nissan. Ketika perusahaan menyelenggarakan right issue senilai Rp2.5 trilyun pada pertengahan tahun 2011 lalu, 40% dana tersebut dipakai untuk mengembangkan usaha jasa pembiayaan, usaha pembuatan dan penjualan suku cadang kendaraan bermotor, dan usaha penjualan truk dan alat-alat berat. Termasuk pada tanggal 28 September kemarin, IMAS mengumumkan pendirian perusahaan patungan (joint venture) dengan Kyokuto, perusahaan asal Jepang yang bergerak di bidang pembuatan dan penjualan truck body. Kerjasama ini menghasilkan sebuah pabrik truck body di Cikampek, Jawa Barat, yang akan akan mulai berproduksi pada tahun 2013. Bagaimana hasilnya? Kita lihat nanti.

Kesimpulannya, kalau bagi penulis IMAS ini masih menarik mengingat Nissan Grand Livina hingga saat ini masih merupakan mobil favorit kedua di Indonesia untuk jenis multi purpose vehicle (MPV), setelah Avanza (atau Xenia). Disisi lain, beberapa hal yang berpotensi menghambat kinerja IMAS di masa depan, mau tidak mau membuat para investor lebih memilih untuk wait and see, dan penulis juga memilih sikap yang sama. Untuk saat ini, coba anda lihat dulu saham IMAS mentoknya sampai di berapa, sekaligus amati perkembangan kinerjanya di Kuartal III nanti, apakah masih tumbuh signifikan atau tidak.

PT Indomobil Sukses Internasional, Tbk.
Rating Kinerja pada 1H12: A
Rating saham pada 5,200: BBB

NB: Penulis membuat buletin yang berisi rekomendasi saham bulanan, anda bisa memperolehnya disini.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

7 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

pak teguh, apa hubungannya laba bersih dengan kenaikan inventory dengan laba bersih?
laba bersih adalah sales - HPP- biaya operasional
kenaikan inventory hanya berpengaruh terhadap cash flow perusahaan deh

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

@anonim. Betul, kalau di neraca, kenaikan inventory hanya berpengaruh terhadap cash flow dan aset lancar. Tapi untuk memperoleh kenaikan inventory itu kan ada biaya yg harus dikeluarkan. Nah, di laporan laba rugi IMAS, biaya tersebut dicatat sebagai biaya pokok (bukan biaya operasional). Kenaikan biaya pokok ini kemudian mempengaruhi laba bersih.

Anonim mengatakan... Balas

Pak Teguh saya mau tanya, merk Suzuki ertiga dipegang IMAS tidak??

ReGio mengatakan... Balas

pak teguh, berdasarkan psak 14 tentang persediaan, biaya terkait dengan pembelian persediaan akan dimasukan sebaai penambah nilai persediaan dan tidak relevan dimasukan ke dalam biaya operasional apalagi dimasukan sebagai biaya pokok. nanti jika persediaan tersebut terjual, baru boleh dimaukan kedalam biaya pokok senilai biaya pokok persediaan yang terjual.

Anonim mengatakan... Balas

berdasarkan website www.indomobil.com
Suzuki mobil juga termasuk grup Indomobil

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

@ReGio, wah.. terima kasih koreksinya. Berarti nilai pembelian mobil senilai Rp8.2 trilyun diatas bukan untuk menambah persediaan mobil untuk dijual di masa mendatang, melainkan biaya yang dikeluarkan IMAS untuk membeli mobil yang telah terjual selama periode 1H12. Btw, artikelnya sudah saya perbaiki.

wiyono mengatakan... Balas

pak teguh, imas bukannya PER sekitar 16 akibat right issue?