Pengumuman: Hari Sabtu ini, tanggal 26 April 2014, penulis akan hadir di acara gathering IDX Investor Club di Gedung BEI, Jln. Jend. Sudirman Kav.52-53, Jakarta, untuk memberikan training singkat selama 1.5 Jam dengan tema 'Cara Mudah dan Cepat dalam Menghitung Harga Wajar Saham'.

Acara ini khusus untuk anggota IDX Investor Club. Untuk menjadi anggota, baca keterangan selengkapnya disini.

Annual Letter 2012

Tahun 2012, seperti juga tahun 2011 lalu merupakan tahun yang cukup sulit, terutama jika dibandingkan dengan tahun 2010 dan 2009. Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, IHSG sepanjang tahun ini tidak mampu beranjak hingga menembus level psikologis baru di 4,500, atau bahkan 4,400, kecuali hanya sampai level 4,300-an, itupun kemudian langsung dibayang-bayangi oleh kemungkinan terjadinya koreksi pasca keluarnya isu ‘Fiscal Cliff’ dari Amerika Serikat (AS). Beberapa sektor mengalami kenaikan, terutama infrastruktur karena didorong oleh optimisme pasar bahwa ‘the next booming’ after property adalah infrastruktur. Sayang, kenaikan tersebut sejatinya tidak atau belum ditunjang oleh peningkatan kinerja riil dari perusahaan-perusahaan yang bersangkutan, dimana valuasi saham-saham infrastruktur pada saat ini sudah cukup mahal.

Selain saham-saham infrastruktur, sektor yang juga mengalami kenaikan adalah sektor consumer goods, dimana sekali lagi, kenaikannya lebih karena didorong oleh faktor sentimen bahwa konsumsi di Indonesia akan tumbuh pesat pasca beberapa kebijakan Pemerintah terkait upah minimum dan kenaikan batas maksimum pendapatan bebas pajak. Tapi memang jika dibandingkan dengan sektor infrastruktur, maka tentu valuasi saham-saham di sektor consumers masih lebih fair, meski belum bisa dikatakan murah.

Jika saham-saham di sektor infrastruktur dan consumers mengalami kenaikan yang cukup signifikan, hal sebaliknya terjadi pada saham-saham pertambangan dan perkebunan, terutama tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit. Alasannya jelas: Penurunan harga komoditas batubara dan CPO, yang hingga kini belum rebound kembali. Kinerja para perusahaan di dua sektor ini hingga saat ini masih mencatat pertumbuhan minus (labanya turun). Sebenarnya kalau melihat beberapa saham tertentu di sektor ini yang kinerja perusahaan masih cukup bagus dan tidak sejelek ‘sodara-sodaranya’, maka ini merupakan kesempatan yang cukup baik. Namun sayang hingga saat ini belum ada sentimen apapun yang bisa mengembalikan harga saham-saham batubara dan CPO ke posisi sebelum terkoreksi, termasuk harga komoditasnya juga masih sangat rendah.

Masalahnya disini adalah, sejak dulu sektor batubara dan CPO merupakan sektor favorit para investor, sehingga kemungkinan banyak diantara mereka yang akhirnya terjebak di saham-saham batubara dan CPO ini.

Secara keseluruhan, hingga artikel ini ditulis, IHSG telah merangkak naik sebanyak 10.2% dari posisi awal tahun di 3,859 hingga penutupan di tanggal 21 Desember kemarin di posisi 4,250. Itu adalah angka kenaikan yang cukup baik sebenarnya, dan posisi penutupannya juga masih diatas target konservatif yakni 4,200. Akan tetapi cerita kenaikan tersebut bisa berbalik arah menjadi penurunan jika nanti pada akhirnya IHSG akan terkoreksi kembali, entah karena isu fiscal cliff ataupun lainnya, dimana itu sepertinya cuma soal waktu. So I think, secara keseluruhan sebetulnya IHSG bergerak mendatar sepanjang tahun 2012 ini, atau bahkan mungkin negatif alias bergerak turun.

Saham-saham yang dibeli sepanjang tahun 2012

(Catatan: Saham-saham yang dibahas di Annual Letter ini adalah saham-saham yang penulis beli sejak awal April 2012, bukan Januari. Tapi untuk Annual Letter berikutnya di tahun 2013 nanti, saham-saham yang dibahas adalah yang sudah dipegang atau pernah dipegang sejak Januari).

Di akhir Maret 2012, ada satu saham yang menarik perhatian penulis karena perusahaannya memiliki potensi untuk tumbuh jadi besar. Saham itu adalah Mitra Investindo (MITI). MITI merupakan perusahaan tambang batu granit (marmer), dan perusahaannya memiliki kinerja yang buruk di masa lalu. Akan tetapi sejak MITI memperoleh konsesi tambang granit dengan cadangan yang cukup besar pada tahun 2009 (cadangannya cukup hingga tahun 2014), perlahan tapi pasti kinerjanya merangkak naik, dan begitu pula dengan sahamnya. MITI yang sebelumnya mati di harga gocapan alias 50 perak, kemudian naik sampai 60-an, dan terus naik sampai sempat menembus 140-an.

Karena penulis sudah mengkoleksinya di harga 60-an, maka kemudian saham ini menyumbang keuntungan yang cukup substansial secara persentase. Sayangnya penulis melakukan kesalahan yang cukup serius, yakni MITI ini dibeli dalam jumlah yang kelewat sedikit yaitu kurang dari 5% nilai porto, sehingga keuntungan riil yang diperoleh menjadi tidak seberapa. Pertimbangan penulis ketika itu adalah karena MITI ini biar bagaimanapun masih merupakan perusahaan kecil yang belum jelas bebet bibit dan bobotnya, sehingga risikonya juga cukup besar, apalagi statusnya sebagai mantan gocapan.

Dan ternyata kinerja MITI di kuartal berikutnya tidak seperti yang diharapkan, sehingga saham ini pun akhirnya keluar dari pengamatan.

Saham lainnya yang juga dibeli adalah Indo Tambangraya Megah (ITMG). Pada Kuartal I 2012, perusahaan ini masih mencatat kinerja yang cukup bagus, meski ketika itu mulai banyak sentimen negatif soal sektor batubara. Penulis membeli saham ini di 42,000-an dan menjualnya di 45,000-an. Ketika dia turun lagi ke 40,000, penulis membelinya kembali.

Saham batubara lainnya yang juga dibeli adalah Adaro Energy (ADRO). Pertimbangannya ketika itu bukan karena faktor fundamental, karena faktanya kinerja ADRO ini terbilang jelek jika dibanding ITMG. Penulis membelinya karena berpikir bahwa ADRO ini sebelumnya selalu kokoh di rentang 1,800 – 2,000, sehingga jika sahamnya dibeli di harga dibawah itu, maka ada peluang gain jika dia nanti balik lagi ke 2,000-an. So, ADRO dibeli pada harga 1,700-an. It was a big mistake. Pada Mei 2012, IHSG terkoreksi dari 4,200-an hingga 3,600-an, dan ADRO turut terseret turun hingga 1,100-an. Karena sudah terlanjur nyangkut, maka akhirnya dia didiamkan saja. Demikian pula dengan ITMG yang ketika itu terus turun hingga 32,000-an.

Kesalahan penulis disini adalah, jauh-jauh hari sebelum IHSG terkoreksi pada Mei 2012, penulis sebenarnya sudah memprediksikan hal tersebut, dan juga sudah cuci gudang sebelumnya. Namun karena ada dua saham yang ketika itu dalam posisi nyangkut, yaitu ITMG dan ADRO, maka cuci gudangnya gak sampai 100%. Dua saham tersebut dibiarkan saja turun karena terseret pelemahan IHSG. Meski kemudian dua-duanya berhasil naik kembali (terutama ITMG) pasca koreksi IHSG berakhir, namun penulis telah kehilangan momentum untuk bisa belanja saham di harga murah.

Kesininya, ITMG dan ADRO tidak lagi penulis amati karena investasi penulis di sekto batubara dialihkan ke Harum Energy (HRUM) dan Hexindo Adiperkasa (HEXA). Hingga saat ini HRUM masih dalam watchlist, meski tidak dipegang karena masih menunggu sentimen positif di sektor batubara. Sementara untuk HEXA, kemungkinan hanya akan jadi alternatif saja kalau penulis tidak mau berinvestasi di HRUM terlalu banyak.

Berikutnya, penulis menemukan saham baru yang tampak memiliki prospek cerah, yakni Central Omega Resources (DKFT). Seperti pernah penulis bahas di artikel blog (ini linknya), DKFT tampak sangat menarik karena perusahaan memiliki cadangan bijih nikel yang segunung, yang siap untuk digali kapan saja. Penulis kemudian membeli sahamnya di harga 1,600-an (harga sebelum stocksplit, setara dengan 320 kalo pake harga saat ini). Sayang tak lama kemudian keluar kabar bahwa Pemerintah mengeluarkan peraturan pembatasan ekspor bijih mineral mulai Juni 2012. Sebelumnya Pemerintah memang berencana melarang ekspor bijih mineral, namun larangan tersebut baru akan berlaku pada tahun 2014 nanti. Sayang, sebelum tahun 2014 tersebut ternyata larangannya sudah berlaku, meski masih dalam bentuk pembatasan volume ekspor. Mengingat bahwa pendapatan DKFT hampir seluruhnya berasal dari ekspor bijih nikel, dan bahwa DKFT belum memiliki titik terang untuk pembangunan smelter-nya yang membutuhkan dana trilyunan Rupiah, maka penulis kemudian menganggap bahwa prospek pertumbuhan perusahaan praktis sudah tertutup, dan menjual sahamnya.

Cahaya Kalbar (CEKA). Pada bulan April, seorang teman meminta penulis untuk menganalisis CEKA, yang menurutnya ketika itu mencatat kinerja sangat baik, tapi sahamnya masih murah. Dan ternyata memang benar, ini saham bagus dan juga murah. Penulis kemudian membelinya di 2,100-an, dan sempat juga berniat untuk menulis ulasan lengkapnya di blog.

Hanya saja ketika penulis mencoba mencari dokumen-dokumen yang biasa digunakan untuk menganalisis fundamental sebuah saham, seperti laporan tahunan, materi public expose, hingga pengumuman-pengumuman penting, entah kenapa di situs BEI tidak ada dokumen terkait CEKA sama sekali, kecuali laporan keuangannya saja. Merasa bahwa penulis masih belum tahu apa-apa soal CEKA ini (kecuali bahwa dia adalah anak usaha dari Wilmar Group, perusahaan terbesar kedua di Singapura), maka sahamnya pun kemudian bernasib sama dengan DKFT: Dijual, kalo gak salah di harga 2,800.

Malindo Feedmill (MAIN). Ketika MAIN ini kembali mencatat kinerja apik di Kuartal II 2012, penulis langsung menjadikannya sebagai salah satu pegangan utama, dengan membelinya di 1,200-an. Lagi-lagi seperti dalam kasus MITI, penulis membelinya dalam jumlah yang terlalu sedikit, karena ketika itu masih menganggap bahwa MAIN ini hanyalah alternatif bagi Charoen Pokphand Indonesia (CPIN).

Penulis menjual MAIN ini pada harga 1,500-a. And to be honest, itu terlalu cepat, sehingga keuntungannya lagi-lagi tidak maksimal. Ketika itu penulis melanggar sistem valuasi saham yang penulis buat sendiri, yaitu: Lihat PER dulu, kemudian baru lihat PBV. Penulis menjual MAIN karena menganggap valuasinya sudah mahal, karena PBV-nya sudah diatas 4 kali. Padahal kalau dari sisi PER, seharusnya MAIN masih murah karena PER-nya hanya 7 kali.

Anyway, MAIN hingga saat ini masih masuk watchlist. Jika nanti dia turun lagi ke posisi 1,500-an, kemungkinan biasanya karena sentimen penurunan harga day old chicken (DOC), maka penulis berencana untuk masuk kembali.

Menyeberang ke sektor infrastruktur, hanya ada satu saham di sektor ini yang sempat masuk porto penulis. Dia adalah Surya Semesta Internusa (SSIA). Saham ini tidak terlalu lama mengendap di porto, karena setelah penulis pertimbangkan lagi, saham ini perlu waktu agak lama untuk mulai melejit naik lagi setelah sebelumnya naik sangat banyak dari 300 hingga 1,200 dalam waktu kurang dari setahun.

Diluar saham-saham yang direncanakan akan jadi koleksi mid hingga long term (namun untuk kasus DKFT dan MITI, rencana tersebut gagal), penulis juga memegang beberapa saham untuk tik tok jangka pendek. Mereka adalah Agung Podomoro Land (APLN), Bank Bukopin (BBKP), dan ada beberapa lagi. Namun setelah penulis evaluasi lagi, keuntungan dari trading saham dengan cara begini ternyata tidak maksimal, karena penulis tidak pernah menggunakan dana yang cukup banyak untuk membeli saham-saham tersebut. Kedepannya kemungkinan penulis hanya akan membeli saham yang, meskipun tujuan awalnya hanya untuk trading, namun saham yang bersangkutan memilik opsi untuk disimpan dalam jangka panjang.

Greenwood Sejahtera (GWSA). Jika ada saham paling gagal dalam porto penulis, maka saham itu adalah GWSA. Sudah lebih dari satu semester sahamnya gak kemana-mana sejak penulis membelinya di rata-rata 240-an. Namun penulis masih berpendapat bahwa ini saham bagus dengan prospek yang juga cerah, sehingga penulis masih memegangnya sampai sekarang. Masalah utama yang melanda saham ini adalah likuiditasnya yang entah kenapa seret sekali, sehingga jika pasar sedang tidak ada bid, maka sahamnya otomatis akan melorot. Tapi jika melihat performa perusahaannya, well, I think there is nothing to worry about.

Terakhir, penulis juga menaruh perhatian pada dua perusahaan dagang dengan fokus produk berbasis teknologi dan gadget, yaitu Erajaya Swasembada (ERAA), dan Metrodata Electronics (MTDL). ERAA sejauh ini menjadi saham tersukses dalam porto penulis, dan masih dipegang juga sampai sekarang. However, kedepannya penulis berencana untuk menjadikannya pilihan kedua setelah MAIN. Sementara MTDL, dia merupakan alternatif bagi ERAA jika saham ini tidak bisa dibeli dalam jumlah dana yang terlalu banyak, mengingat valuasi ERAA pada saat ini sudah agak mahal (PER-nya sudah diatas 17 kali).

Selain ITMG yang sudah dibahas diatas, saham big caps lainnya yang pernah masuk porto penulis adalah Bank BRI (BBRI), yang ketika itu dibeli pada periode koreksi IHSG pada Mei 2012. Jika nanti IHSG terkoreksi, maka saham ini hampir pasti akan penulis beli kembali. Dan oh ya, juga jangan lupakan Unilever Indonesia (UNVR).

Dan selain saham-saham yang sudah disebutkan diatas, penulis juga memegang atau pernah memegang beberapa saham lainnya lagi. Namun karena saham-saham tersebut dipegang dalam jumlah yang sangat sedikit, maka kenaikan atau penurunan dari saham yang bersangkutan tidak berdampak signifikan terhadap perubahan nilai portofolio secara keseluruhan.

Overall, kinerja portofolio di tahun 2012 ini tidak begitu bagus, terutama karena tidak ada satupun pegangan saham yang naik signifikan (seharusnya ada, yaitu MAIN tadi, namun penulis kehilangan momentum). Untungnya, juga tidak ada saham yang turun signifikan (kerugian paling besar berasal dari ADRO, tapi untungnya cuma megang sedikit). Ini berbeda dengan tahun sebelumnya yakni tahun 2011, dimana ketika itu terdapat tiga saham dalam portofolio yang naik cukup banyak. Mereka adalah CPIN, GTBO, dan KKGI. Tapi ketika itu yang nyangkut juga ada, yaitu INCO. Anyway, mudah-mudahan kinerja di tahun 2013 nanti akan lebih baik lagi.

Jakarta, 22 Desember 2012
Teguh Hidayat

NB: Join our consulting service and partnership! Keterangan lebih lanjut klik disini.

Investor Bulletin edisi Januari 2013 akan terbit tanggal 2 Januari mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.