Jadwal Kelas Training Value Investing: Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 1 April 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.

Garuda Indonesia: Reborn!

Sejak sahamnya listing perdana pada tanggal 11 Februari 2011, Garuda Indonesia (GIAA) tidak pernah cukup menarik untuk diperhatikan. Alasannya simpel: Udah barangnya jelek, harganya mahal pula. Tapi sekarang setelah lewat setahun lebih, GIAA sepertinya mulai tampak cantik, dan itu bukan karena make up semata. Pada tahun penuh 2011, perusahaan mencatat kenaikan pendapatan 39.1%. Laba bersihnya juga naik 56.1%, dari Rp518 menjadi 809 milyar. Pretty enough to be taken? Actually, not yet, but probably soon.

Playboy Saham

Kemarin sore, penulis ngobrol dengan seorang teman melalui Yahoo Messenger, sebut saja namanya Pak Budi, ‘Mas Teguh, apa pendapatnya tentang Resource Alam Indonesia (KKGI)?’ Lalu penulis jawab, ‘bla bla bla.. memangnya kenapa pak?’, ‘Oh nggak, saya ada pegangan KKGI. Cukup banyak, 70% dari porto. Saya megang udah lama, dari waktu harganya masih 1,700.’ ‘Wuahh, cuan gede dong pak? Selama itu KKGI gak pernah dijual?’ ‘Iya, saya kan investor long term mas. Tapi belakangan ini KKGI kok turun ya? Lumayan dalem lagi turunnya. Potensial gain saya jadi berkurang deh. Apa pendapat Mas Teguh soal pajak ekspor itu?’

Menelaah Pajak Ekspor Batubara

Beberapa waktu lalu, Pemerintah mengumumkan rencana pengenaan pajak ekspor untuk barang tambang mentah sebesar 25% dari nilai ekspornya. Itu berarti nantinya para perusahaan tambang harus membayar pajak tambahan diluar pajak-pajak yang biasanya, untuk setiap ton barang tambang mentah yang mereka jual keluar negeri. Di market, para investor langsung mengasosiasikan ‘barang tambang mentah’ tersebut sebagai batubara, karena memang selama ini bisa dikatakan seluruh perusahaan batubara di Indonesia menjual sebagian besar produknya keluar negeri. Alhasil saham-saham batubara mulai berjatuhan, rata-rata sudah turun 5% dalam seminggu terakhir.

Central Omega Resources

Central Omega Resources (DKFT) melaporkan pendapatan Rp485 milyar pada tahun penuh 2011, dan laba bersih Rp177 milyar. Dengan EPS yang kini mencapai Rp1,019 per saham, PER DKFT pada harga saham 1,670 hanya 1.6 kali. Undervalue? Mungkin. Tapi kalau kita pelajari DKFT ini secara mendetail, maka mungkin kita akan sampai pada kesimpulan bahwa yang menarik dari saham ini bukan hanya sekedar value-nya, tapi juga prospek jangka panjangnya.

Greenwood Sejahtera

Saat ini hampir seluruh emiten sudah merilis laporan keuangan untuk periode Full Year 2011. Dan kalau dilihat secara sektoral, sektor yang mencatat peningkatan kinerja cukup signifikan adalah sektor properti. Well, kita memang sudah pernah membahas ini sebelumnya di artikel Bubble Property?, dimana terdapat cukup banyak saham-saham properti yang melaju kencang sepanjang tahun 2011 lalu. Namun disini, penulis akan mengajak anda untuk melirik emiten properti anyar yang sahamnya baru listing akhir tahun 2011 kemarin, dan kinerjanya ternyata tidak kalah bagusnya dibanding para pendahulunya. Emiten tersebut adalah Greenwood Sejahtera (GWSA).