Buku Kumpulan Analisis Saham-saham pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 akan terbit hari Senin, 6 Nov 2017. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 28 Okt 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.

Petrosea

BUMI (Bumi Resources) gonjang ganjing lagi? Peduli amat! Untuk pekan ini penulis lebih memperhatikan Petrosea (PTRO), yang menjadi menarik untuk diperhatikan pasca penurunannya yang sangat tajam akhir-akhir ini, justru setelah dia di-stocksplit dengan rasio 1 : 10 pada Maret lalu. Ketika artikel ini ditulis, PTRO kembali tertekan 3.49% ke posisi 2,075, sehingga jika dihitung sejak enam bulan terakhir, PTRO sudah terkoreksi lebih dari setengahnya, yakni 52.02%. Secara fundamental, penurunan PTRO sulit dijelaskan mengingat kinerjanya pada First Half 2012 (1H12) kemarin cukup bagus dengan mencatat laba bersih US$ 21 juta, naik 8.6% dibanding 1H11, dan itu mencerminkan ROE 26.2%. So, what happen?

Blue Chip Edition: Gudang Garam

Jika anda adalah seorang trader dengan jumlah dana diatas rata-rata, katakanlah Rp20 – 30 milyar atau bahkan diatas Rp100 milyar, maka terkadang agak sulit jika anda hendak trading pada saham-saham second liner apalagi gorengan gak jelas yang likuditasnya kembang kempis. Karena ketika membeli atau menjual saham second liner senilai Rp1 milyar, misalnya, maka anda mungkin harus menyicilnya sedikit demi sedikit, katakanlah 100 juta dulu, kemudian tambah lagi 100 juta, begitu seterusnya, dan itu terkadang memang menyebalkan karena ribet. Nah, bagi anda para ‘trader semi-grosir’ seperti ini, maka pilihannya tetap berada pada saham-saham big caps alias bluchip. So, berikut ini adalah analisis untuk salah satu saham big caps yang penulis nilai memiliki fundamental yang cukup bagus dan juga valuasi yang wajar, kalau berdasarkan kinerja perusahannya di First Half 2012 (1H12) kemarin, yakni Gudang Garam (GGRM).

Melirik Saham di Sektor Telepon Selular

Dulu, telepon selular alias handphone alias HP, adalah alat untuk menelpon dan mengirim SMS, that’s it. Tapi seiring dengan perkembangan teknologi, HP kemudian bisa dipakai untuk memotret, memainkan klip video, mengirim gambar, browsing internet, hingga fungsi-fungsi lainnya layaknya komputer. HP kini tidak lagi sekedar alat komunikasi, melainkan gadget yang bentuk serta fungsinya menjadi beraneka ragam. Dan bagi sebagian orang, terutama anak-anak remaja, adalah suatu kebanggaan untuk bisa memiliki gadget terbaru yang sedang nge-trend, sehingga HP kemudian menjadi barang fashion yang harus di-update setiap beberapa waktu sekali. Sementara bagi kita para investor atau pebisnis, maka behaviour masyarakat yang seperti itu adalah peluang.

Perbandingan Bank Mandiri, BRI, dan BCA

Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), dan Bank BCA (BBCA) sejak dulu merupakan tiga bank terbesar di Indonesia dari sisi nilai aset, dan sampai sekarang juga masih demikian. Pada akhir Kuartal II 2012, total aset dari ketiga bank tersebut tercatat Rp1,454 trilyun, atau mewakili sekitar 38.0% total aset perbankan di Indonesia per akhir Mei 2012. Bagi para pelaku pasar, saham dari ketiga bank tersebut selalu menarik untuk dipakai trading, karena likuiditasnya yang sangat bagus. Sekarang, bagaimana fundamentalnya?

We're Still Walking, not Running

Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca ekspor impor untuk periode semester pertama 2012. Hasilnya, total nilai ekspor Indonesia untuk semester pertama 2012 turun 1.8% dibanding periode yang sama tahun 2011, dari US$ 98.6 milyar menjadi hanya US$ 96.9 milyar. Kalau anda perhatikan, nilai ekspor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir jarang sekali mencatat pertumbuhan minus, alias nyaris selalu naik pada setiap bulannya. Tapi sepertinya sekarang sudah tidak lagi. Jika dulu neraca ekspor impor kita juga senantiasa surplus (nilai ekspor lebih besar dari impor) dengan selisih yang besar, maka sekarang selisih tersebut tidak lagi besar, sehingga bisa berbalik menjadi defisit sewaktu-waktu. Pada semester pertama 2012, Indonesia hanya mencatat surplus perdagangan US$ 476 juta.