Jadwal Kelas Value Investing: Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 8 Juli 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin! TeguhHidayat.com tetap online selama libur lebaran. Jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

Konsultasi: Buyback Saham, Dividen, dan Pemberitaan Emiten

1. Pak Teguh, saya dengar Semen Baturaja (SMBR) melakukan aksi buyback. Itu maksudnya apa sih? Dan apa pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan?

Pada tanggal 17 September 2013, manajemen SMBR mengumumkan bahwa jika dibutuhkan, mereka siap untuk melakukan aksi buyback saham alias pembelian kembali saham perusahaan di bursa, dalam rangka menjaga harga sahamnya agar tetap stabil. Keputusan tersebut diambil setelah pada penghujung bulan Agustus 2013, IHSG terkoreksi secara sangat signifikan sementara saham SMBR sendiri turun dari 560 ke 360. Jumlah dana yang disiapkan untuk aksi buyback tersebut adalah maksimal Rp102 milyar, yang diambil dari posisi kas perusahaan (per Kuartal II 2013, SMBR memiliki cash lebih dari Rp1.5 trilyun, hasil dari IPO-nya).

Outlook IHSG di Tahun 2014 (Forum)

Dear investor dan juga kawan-kawan trader, berhubung sekarang sudah akhir tahun, melalui forum ini penulis mengajak anda untuk berbagi analisis, opini, serta pandangan tentang bagaimana outlook pasar di tahun 2014, baik itu dilihat dari sisi fundamental, teknikal, perkembangan ekonomi makro nasional, dan lain-lain.

Anda bisa menuliskan analisis anda melalui kolom komentar dibawah, jangan lupa sebutkan nama, atau minimal nickname anda dibawahnya. Anda juga boleh mengomentari analisis yang dibuat oleh teman yang lain, tentunya dengan bahasa yang baik. Tujuan penulis membuat forum ini adalah agar analisis yang anda paparkan bisa menjadi pencerahan bagi kawan-kawan investor/trader lainnya.

Mengenal Saham-Saham 'Jackpot'

Sekitar dua tahun terakhir ini penulis menemukan fakta menarik di pasar, dimana ada beberapa saham yang secara fundamental bagus, valuasinya juga wajar atau bahkan murah, namun pergerakannya terkesan sangat lamban. Dalam beberapa bulan, saham-saham ini terkadang hanya mondar mandir disitu-situ saja, misalnya jika pada awal Januari dia berada di posisi 1,000, maka pada akhir Juni dia masih di posisi 1,000-an tersebut. Tapi pada waktu-waktu lainnya saham ini seringkali tiba-tiba saja naik signifikan, mungkin sampai 2,000 atau 2,500 hanya dalam satu atau dua bulan, sebelum kemudian balik lagi ke 1,000. Nah, ketika terjadi kenaikan dramatis inilah, seorang investor yang sudah memegang saham tersebut di harga 1,000 boleh dikatakan telah memperoleh jackpot.

Contoh Value Stock: Petrosea

Beberapa dari anda mungkin sudah mengetahui bahwa Bapak Lo Kheng Hong, investor perorangan paling terkenal di Indonesia, memegang saham Petrosea (PTRO) pada jumlah yang cukup signifikan, yakni 65.9 juta lembar saham atau setara dengan 6.5% total saham beredar perusahaan. Jika LKH membeli PTRO pada harga yang sama dengan harga PTRO saat ini, yakni 1,290 per saham, maka beliau telah menginvestasikan sedikitnya Rp85 milyar pada anak usaha Grup Indika ini. Meski dana tersebut mungkin hanyalah sebagian kecil dari total aset LKH, tapi untuk ukuran investor retail manapun dana sebesar itu jelas tidak bisa disebut sebagai uang receh. Pertanyaannya sekarang, apa bagusnya sih PTRO ini sampai-sampai LKH cukup pede untuk membelinya sebanyak itu?

Apa Itu Tapering?

Bulan Desember ini mungkin menjadi ‘bulan harap-harap cemas’ bagi para investor dan trader (meski bagi investor tertentu, mereka cemas setiap bulan, setiap hari), karena terdapat banyak isu yang dikhawatirkan bakal menyebabkan IHSG rontok lagi, padahal posisi IHSG sendiri sudah sangat rendah. Salah satu isu tersebut adalah masalah tapering, dan memang soal tapering itulah yang akan kita bahas di artikel kali ini.

Seminar Lo Kheng Hong

Dear investor, berikut ini adalah rekaman suara Bapak Lo Kheng Hong ketika beliau mengisi seminar di acara Investor Summit & Capital Market Expo 2013 di Jakarta, hari Kamis tanggal 28 September 2013 kemarin. Tidak banyak yang ia sampaikan dalam kesempatan seminar tersebut, namun penulis kira apa yang beliau sampaikan tetap bermanfaat khususnya bagi kita semua para investor di pasar saham. Oke, langsung saja.

Tempo Scan Pacific

Dari sisi kualitas fundamental, Tempo Scan Pacific (TSPC) sebenarnya tidak kalah bagusnya dibanding Kalbe Farma (KLBF), namun saham perusahaan milik Grup Tempo ini tidak begitu likuid. However, ketidak likuidannya tersebut turut menyebabkan valuasi TSPC ini menjadi lebih murah dari KLBF, dan saham ini mungkin menjadi menarik untuk diperhatikan setelah turun terus belakangan ini, total penurunannya hampir 30% dalam enam bulan terakhir. Meski BEI kini dipenuhi oleh cukup banyak saham-saham undervalue, namun TSPC mungkin juga menarik untuk diperhatikan mengingat jenis sektornya yang aman dari sentimen negatif, dan pergerakan sahamnya juga tidak begitu dipengaruhi oleh fluktuasi IHSG yang hingga saat ini masih bearish (beta-nya kurang dari 1).

Seminar Nilai Intrinsik

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar edukasi saham di Jakarta, dengan tema menghitung nilai intrinsik/harga wajar saham. Berikut keterangan selengkapnya:

Prospek IPO Sido Muncul

IPO dari PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (Sido Muncul) mungkin menarik untuk diperhatikan tidak hanya karena nama besar perusahaannya, tapi juga karena sektornya yang sangat menarik yakni sektor farmasi (obat-obatan) jenis herbal, atau yang biasa disebut dengan jamu. Seperti yang kita ketahui, sektor farmasi adalah salah satu sektor yang paling menguntungkan di Indonesia, dan Sido Muncul sepertinya juga merupakan salah satu perusahaan terbaik di sektor ini. Pada tahun penuh 2012, perusahaan mencatat laba bersih Rp388 milyar, yang mencerminkan return on asset (ROA) 18.0%. Untuk perbandingan, pada periode yang sama, Kalbe Farma (KLBF) yang notabene merupakan perusahaan farmasi terbaik di BEI, juga mencatatkan ROA 18.8%.

Kenapa Harus Takut sama Asing?

Minggu lalu, tepatnya pada hari Selasa tanggal 12 November, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan BI Rate menjadi 7.50%, dan keputusan tersebut segera direspon negatif oleh pasar. Pada hari selasa tersebut dan disusul keesokan harinya, IHSG turun hingga total kembali ke level 4,200-an, dimana tekanan terbesar dialami oleh saham-saham perbankan dan properti, yang diperkirakan akan terkena imbas langsung dari kenaikan BI Rate tersebut. Ketika artikel ini ditulis IHSG sudah mulai naik lagi ke posisi 4,366, namun masih belum kembali ke posisi sebelum turun.

Gading Development

Pasar boleh saja tidak bersahabat dengan saham-saham di sektor properti dan konstruksi, beberapa bulan terakhir ini. Tapi apa yang dialami saham Gading Development (GAMA) benar-benar merupakan special case. Setelah pada Juni – Agustus lalu sama sekali tidak tersentuh oleh koreksi IHSG maupun koreksi pada sektor properti itu sendiri, namun hanya dalam hitungan dua minggu terakhir, saham ini langsung turun dari posisi 500.. sampai posisi 90! Dengan demikian bagi siapapun yang memegang GAMA ini di harga 500 dan masih memegangnya sampai sekarang, maka dia sudah mengalami potential loss 81.2%.

Pelemahan Rupiah, dan Pengaruhnya Terhadap Emiten Properti

Kalau melihat nature bisnisnya, fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, dalam hal ini US Dollar, sebenarnya tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan/emiten properti mengingat mereka memperoleh pendapatannya dalam mata uang Rupiah, dan membayar biaya-biaya seperti biaya kontraktor atau biaya pembelian lahan dalam mata uang Rupiah juga (beberapa perusahaan properti ada juga yang impor bahan bangunan, tapi nilainya biasanya kecil). Tapi ceritanya jadi lain jika perusahaan yang bersangkutan memiliki utang dalam mata uang Dollar, dimana nilai beban bunga yang harus dibayarkan maupun nilai pokok utang itu sendiri menjadi sangat dipengaruhi oleh naik turunnya nilai Rupiah terhadap Dollar.

Siapa Layak Jadi Presiden?

Cerita pendek dibawah ini sebenarnya nggak ada hubungannya sama sekali dengan investasi saham dan segala tetek bengeknya, dan cerita ini juga bukan karangan penulis, melainkan hasil nemu di internet. Namun berhubung cerita ini sangat menarik sekaligus mungkin menuai kontroversi, maka penulis sengaja menampilkannya disini. Here we go.

PGAS, dan Kebijakan Open Access

Perusahaan Gas Negara (PGAS) melaporkan kenaikan laba bersih sebesar 4.0% pada periode Sembilan Bulan 2013, dan secara umum kinerjanya pada periode tersebut masih bisa dikatakan sangat baik. Namun yang menarik untuk dicermati terkait perusahaan BUMN ini mungkin bukan terkait kinerjanya tersebut. Beberapa hari lalu beredar berita di media bahwa Pemerintah melalui BPH Migas akan memberlakukan kebijakan open access, dimana seluruh infrastruktur gas, dalam hal ini pipa-pipa gas yang ada di Indonesia nantinya akan bisa digunakan oleh semua pihak, tidak hanya PGAS.

Bank BJB

Bank BJB (BJBR) menjadi salah satu dari beberapa emiten perbankan yang sudah merilis laporan keuangan (LK) untuk periode Kuartal III 2013. Dan seperti umumnya emiten lain yang merilis LK-nya lebih awal, kinerja BJBR terbilang cukup baik (Yap, jika anda perhatikan, emiten-emiten yang merilis LK-nya lebih awal memang biasanya mencatat kinerja bagus, meski nggak selalu. Sementara yang merilis LK-nya belakangan, seperti emiten-emiten Grup Bakrie, kinerjanya hampir selalu amburadul). Namun mungkin, poin yang membuat saham ini menarik bukan hanya soal kinerjanya tersebut.

Program Perlindungan Investor

Di Indonesia, jumlah investor di pasar saham masih sangat sedikit, yakni belum ada 1% dari total populasi penduduk. Hal ini sangat berbeda dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, dimana 12 dan 36% penduduknya (data tahun 2011, sekarang mungkin udah naik lagi) sudah mengenal saham. Salah satu penyebab minimnya partisipasi masyarakat dalam berinvestasi di saham, kalau menurut banyak pihak, adalah karena masih kurangnya sosialisasi dan edukasi tentang saham itu sendiri. Sebenarnya diluar sana terdapat banyak orang-orang yang tertarik untuk masuk ke bursa, namun mereka enggan untuk membuka rekening karena memang masih belum mengerti.

Kriteria Saham yang Layak untuk Invest, dari sisi Produk Perusahaan

Empat tahun lalu, ketika penulis untuk pertama kalinya mempelajari laporan-laporan keuangan perusahaan, penulis mengira bahwa kinerja dari perusahaan-perusahaan properti akan jauh lebih bagus dibanding perusahaan-perusahaan dari sektor lainnya. Penyebabnya adalah perusahaan properti jualan produk rumah, kantor, dll yang harganya tinggi, yakni mencapai ratusan juta bahkan milyaran Rupiah per unitnya, sehingga pendapatannya pun pasti besar. Sementara untuk perusahaan seperti Indofood, misalnya, berapa sih besarnya keuntungan dari menjual Indomie seharga Rp1,000 per bungkusnya? (di tahun 2009, harga Indomie masih sekitar seribuan). Dari penampilan para penjualnya pun, bisa kita lihat bahwa agen-agen properti biasanya tampak perlente dan pake dasi, alias jauh lebih meyakinkan ketimbang penampilan ibu-ibu berdaster yang menjual Indomie di warung-warung kelontong.

Ebook Kuartalan edisi Q3 2013

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal III 2013 (Q3 2013). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

TiPhone Mobile Indonesia, dan Erajaya

Sekitar setahun lalu, tepatnya pada bulan Agustus 2012, penulis mulai mengamati saham-saham di sektor yang sebelumnya tidak begitu populer: Sektor ritel khusus produk telepon selular/ponsel dan aksesorisnya, dan voucher pulsa. Ketika itu dari beberapa saham di sektor ini, seperti Trikomsel Oke (TRIO), Erajaya Swasembada (ERAA), TiPhone Mobile (TELE), Skybee (SKYB), hingga Global Teleshop (GLOB), pilihannya jatuh pada ERAA. Dan ERAA memang tidak mengecewakan, dimana kinerjanya terus meningkat sehingga sahamnya pun terus naik dari ketika itu di 2,200, hingga sempat mencapai puncaknya di posisi 3,500, Mei lalu. Artikel selengkapnya bisa baca lagi disini.

Ketika Amerika Mengalami Shutdown

Tanggal 1 Oktober kemarin, Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan penutupan (shutdown) kantor-kantor pemerintah setelah pihak House of Representatives (kalau di Indonesia, DPR) tidak juga menyelesaikan penyusunan anggaran untuk tahun fiskal 2014, yang memang dimulai pada tanggal 1 Oktober tersebut. Menurut Presiden Barack Obama, hal ini dikarenakan ‘perang politik’ antara dirinya dengan pihak The House. Tapi apapun itu, shutdown ini telah menyebabkan setidaknya 800 ribu pegawai negeri di lingkungan kantor Pemerintah Amerika, baik sipil maupun militer, telah dirumahkan (dirumahkan, bukan dipecat) hingga kegiatan Pemerintahan dibuka kembali. Pertanyaannya tentu saja, what’s next?

Surat Barack Obama Terkait ‘Shutdown’

Gedung Putih, Washington, 1 Oktober 2013

Kepada seluruh pegawai berdedikasi yang senantiasa bekerja keras, di lingkungan Kantor Pemerintahan Amerika Serikat.

Seminar Oktober

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar edukasi saham di Jakarta, yang kali ini akan membahas lebih dalam soal nilai intrinsik saham, alias masih sama seperti materi di seminar sebelumnya pada bulan Juli lalu, hanya saja ditambah materi terkait fluktuasi dan koreksi IHSG, yang belakangan ini sedang terjadi.

Nipress

Saham Nipress (NIPS) tiba-tiba melejit pada Jumat kemarin, dan ditutup menguat 19.6% ke posisi 10,700. Yang membuat saham ini menarik tentu saja bukan kenaikannya yang tampak mengesankan tersebut, melainkan karena pada hari yang sama, perusahaan merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal II 2013. Berdasarkan LK terbarunya tersebut, laba bersih NIPS melompat 155.3%, sementara PER NIPS pada harganya setelah naik (10,700) ternyata masih 4.3 kali. A hidden jewel?

Analisis & Outlook Sektor Properti

Beberapa waktu lalu ketika IHSG dihantam koreksi hingga turun signifikan ke posisi 3,900-an, tepatnya hingga posisi 3,968, saham-saham di sektor properti merupakan salah satu yang paling terpukul, dimana banyak dari mereka yang terkoreksi hingga 50 - 60% dari puncaknya, padahal IHSG sendiri ketika itu hanya turun 24.4% dari puncaknya. Dan sekarang ini, setelah IHSG mulai berangsur-angsur pulih, saham-saham properti memang juga ikut kembali naik, namun rata-rata masih berada di posisi 40% dibawah level puncaknya. Alhasil bagi siapapun yang membeli saham-saham properti ini di harga atas, dan tidak melakukan average down, kemungkinan besar mereka masih nyangkut.

Saham-Saham Terbaik di Sektor Perbankan

Minggu lalu, beberapa saat setelah penulis mempublikasikan artikel berjudul Bank Bukopin, dan Bosowa, seorang teman bertanya, ‘Mas Teguh, jika dikatakan bahwa di BEI ada banyak saham perbankan lain yang lebih bagus dibanding Bukopin, bisa tolong sebutkan saham-saham perbankan mana saja yang lebih bagus tersebut?’ Karena itulah penulis kemudian membuat artikel analisis ini, yang mudah-mudahan bisa menjadi referensi bagi anda yang tertarik untuk berinvestasi di sektor perbankan.

Bank Bukopin, dan Bosowa

Sekitar awal bulan April 2013 lalu, saham Bank Bukopin (BBKP) mendadak naik daun setelah beredar berita bahwa Grup Bosowa masuk ke bank ini dengan membeli sekian persen sahamnya.. pada harga Rp1,050 per lembar, atau lebih tinggi dibanding harga pasar BBKP ketika itu yakni 900. However, harga 900 tersebut sebenarnya sudah lumayan tinggi mengingat pada awal tahun 2013, dan juga selama setahun penuh sebelumnya, saham BBKP hampir tidak pernah jauh-jauh di level 600-an. Tapi dalam jangka waktu Januari – April 2013, tanpa adanya berita apapun yang mengawalinya, BBKP tiba-tiba saja naik terus hingga ke posisi 900, sebelum kemudian barulah news soal Bosowa keluar. Jadi dalam hal ini sepertinya seseorang mengetahui berita masuknya Bosowa tersebut lebih awal.

Siloam Hospital

Siloam International Hospitals (SILO) adalah anak usaha tidak langsung dari Lippo Karawaci (LPKR), yang secara khusus bergerak di industri rumah sakit. Jadi pada awalnya LPKR, entah secara langsung ataupun melalui anak-anak usahanya (termasuk Lippo Cikarang/LPCK), membangun kawasan-kawasan pemukiman yang terintegrasi (township) dengan berbagai fasilitas umum didalamnya, seperti universitas, sekolah, mall, gedung-gedung perkantoran, rumah sakit, bahkan hingga taman pemakaman (San Diego itu punyanya LPKR juga, lokasinya gak jauh dari township milik LPCK di Cikarang). Tujuannya adalah agar para penghuni township tersebut tercukupi semua kebutuhannya, sehingga mereka nggak perlu kemana-mana lagi.

Gambaran Perekonomian Indonesia Saat Ini

Jumat kemarin, tanggal 23 Agustus 2013, Pemerintah melalui Presiden dan Kementerian terkait mengumumkan paket kebijakan penyelamatan ekonomi, termasuk didalamnya kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter, untuk mengatasi gejolak pelemahan Rupiah yang sempat menembus level Rp11,000 per US Dollar. Jika dilihat dari nama paket kebijakannya, yakni ‘penyelamatan ekonomi’, maka tujuan akhir dari paket kebijakan tersebut tentunya bukan sekedar untuk mencegah Rupiah agar tidak terperosok lagi, atau untuk mengatasi penurunan bursa saham (IHSG) yang terjadi akhir-akhir ini, melainkan menyelamatkan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Tapi hal ini mungkin sekaligus menimbulkan pertanyaan, memangnya ada apa dengan perekonomian kita?

Prediksi Pergerakan IHSG (Forum)

Dear investor dan juga kawan-kawan trader, melalui forum ini penulis mengajak anda untuk berbagi pandangan anda terkait bagaimana kira-kira pergerakan IHSG kedepannya, baik dalam jangka pendek (1 – 2 bulan kedepan) maupun jangka panjang (1 tahun kedepan), baik itu dilihat dari sisi fundamental, teknikal, ataupun perkembangan ekonomi makro nasional, atau sesuai spesialisasi anda saja. Misalnya jika anda adalah seorang technicalist, maka anda bisa memaparkan prediksi dan analisis anda dari sisi teknikal.

Tips Menghadapi Koreksi IHSG

Tadinya untuk minggu ini penulis berniat untuk membahas tema yang lain. Namun berhubung pada Senin, tanggal 19 Agustus 2013 ini IHSG anjlok sampai 5.6% dalam sehari, maka tentunya tidak ada yang lebih menarik untuk dibahas selain IHSG itu sendiri. You know, IHSG kadang naik, kadang turun, setiap hari. Tapi jika turun sampai diatas lima koma sekian persen? Well, itu tidak terjadi setiap hari.

Ace Hardware Indonesia

Ngomong-ngomong soal Ace Hardware, apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar ‘Ace Hardware’ tersebut? Kalau penulis yang ditanya demikian, penulis akan menjawabnya: ‘Itu adalah nama toko, atau lebih tepatnya supermarket, yang saya sering mampir untuk melihat-lihat apa saja yang dijual disitu, tapi ya cuma liat-liat doang, alias hampir nggak pernah membeli sesuatu’. Alasannya adalah, meski harus diakui bahwa toko Ace Hardware menjual barang-barang unik dan berkualitas bagus yang tidak ada di toko lain, namun sebagian besar dari barang-barang tersebut tidak begitu dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagai contoh, apakah anda membutuhkan satu set alat panggangan barbeque untuk backyard party di rumah? Well, jika rumah anda memang ada backyard-nya, maka mungkin anda memang butuh. Tapi yah, berapa banyak sih rumah di Jakarta yang punya halaman luas di belakangnya?

Ebook Kuartalan edisi Kuartal II 2013

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal II 2013. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Adi Sarana Armada

Bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di perkotaan, katakanlah seperti di Jakarta, ada dua hal yang sudah dianggap sebagai kebutuhan primer. Yang pertama tentunya rumah (atau apartemen), dan yang kedua adalah kendaraan bermotor, entah itu mobil ataupun sepeda motor. Dan itu sebabnya, rata-rata warga Jakarta memiliki keduanya (rumah dan mobil, atau minimal motor). Dari sisi manfaat, maka kedua barang tersebut memiliki kegunaan yang sama besarnya, dimana rumah adalah tempat untuk tidur, mandi, dan nyuci piring, sementara mobil adalah alat transportasi untuk bolak balik rumah dan kantor, termasuk untuk mengajak keluarga menghabiskan akhir pekan di Taman Buah Mekarsari.

Kalkulator untuk Menghitung Nilai Intrinsik

Beberapa waktu lalu penulis menyajikan artikel tentang cara menghitung nilai intrinsik saham. Dan tak lama kemudian, penulis menerima banyak usulan dari teman-teman agar penulis membuatkan semacam alat atau kalkulator agar para investor bisa menghitung nilai intrinsik tersebut secara praktis. Karena itulah, penulis kemudian membuat ‘kalkulator’ dalam bentuk Microsoft Excel, dimana dengan kalkulator ini anda tinggal memasukkan angka-angka yang diperlukan, kemudian nanti hasilnya (nilai intrinsiknya) akan keluar dengan sendirinya.

Prospek AISA Pasca Masuknya KKR

Tanggal 22 Juli kemarin, Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) melaporkan bahwa pada dua hari sebelumnya yaitu yanggal 20 Juli, beberapa main shareholder setuju untuk menjual sahamnya ke Kohlberg Kravis Roberts (KKR), salah satu perusahaan private equity terbesar di dunia, sebanyak 9.5% dari total jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh. Nilainya? Tidak disebutkan, namun ada yang bilang US$ 40 juta. Bagi AISA, masuknya KKR akan membantu perusahaan untuk berkembang lebih maju lagi, dimana KKR akan menempatkan satu orang perwakilannya di dewan komisaris perusahaan. Sementara bagi KKR, akuisisi ini adalah langkah kecil mereka untuk masuk ke industri consumer goods di Indonesia.

Nusa Raya Cipta

Awal bulan Ramadhan kemarin penulis pulang kampung ke Cirebon, dan disana penulis sempat melihat kegiatan perataan tanah di jalur yang akan dijadikan jalan tol Cikampek – Palimanan atau Cipali (Palimanan adalah nama salah satu kecamatan di Cirebon). Dan ketika itulah, penulis langsung ingat dengan saham Nusa Raya Cipta (NRCA) ini, karena NRCA memang merupakan perusahaan konstruksi yang menjadi kontraktor utama proyek jalan tol sepanjang 116 kilometer tersebut (yang itu berarti jalan tol Cipali akan memiliki panjang dua kali lipat jalan tol Cipularang).

Seminar Bandung, 28 Juli 2013

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar edukasi saham di Bandung, kali ini akan membahas lebih dalam soal nilai intrinsik saham. Seminar ini akan dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 28 Juli 2013. Berikut keterangan selengkapnya:

Strategi Investasi Buffett – When He was Young

Warren Buffett, seperti yang mungkin sudah anda ketahui, memulai kegiatan pengelolaan dana-nya (partnership) pada tahun 1956, ketika ia berusia 26 tahun. Sejak saat itu ia rutin menulis surat kepada para partnernya minimal setahun sekali, mengenai kegiatan investasi yang sudah dan akan ia lakukan, serta tentunya pandangannya terhadap perkembangan market. ‘Letter to Partners’ inilah yang kemudian menjadi cikal bakal ‘Buffett’s Annual Letter’ yang terkenal itu, yaitu surat yang ditulis Buffett setahun sekali kepada para pemegang saham Berkshire Hathaway, dimana letter yang terakhir adalah letter untuk tahun 2012, ditulis sendiri oleh Buffett pada tanggal 1 Maret 2013.

Mengenal MP3EI: Seperti Apa Indonesia di Tahun 2025?

Ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, hingga selesainya perang revolusi pada awal tahun 1950-an, negara muda nan kaya sumber daya alam ini belum memiliki blue print rencana pembangunan ekonominya sendiri, sehingga perkembangan ekonomi di Indonesia pada saat itu boleh dibilang tanpa arah dan tidak terkendali. Pemerintah Indonesia baru memiliki rencana pembangunan ekonomi untuk pertama kalinya pada tahun 1969, yaitu pada zaman Pak Harto, dengan diluncurkannya Repelita I, alias rencana pembangunan lima tahun, ketika itu dengan fokus pembangunan di bidang infrastruktur pertanian.

Menghitung Margin of Safety, dan Nilai Intrinsik Saham

Konsep Margin of Safety (MOS), dalam hubungannya dengan investasi saham, sebenarnya sangat sederhana, yaitu: MOS adalah selisih dari harga saham dengan nilai intrinsik (intrinsic value) saham tersebut. So, katakanlah saham A memiliki nilai intrinsik Rp1,500. Jika anda membeli saham A tersebut pada harga Rp1,000, maka diskon atau MOS-nya adalah sebesar Rp500. Berdasarkan konsep MOS ini, maka seorang investor baru boleh dikatakan telah melakukan keputusan investasi yang tepat, jika ia membeli saham pada harga yang lebih rendah dari nilai intrinsik saham tersebut, semakin rendah tentunya semakin baik. Namun tentu hal ini menimbulkan pertanyaan baru: Apa itu yang dimaksud dengan nilai intrinsik? Dan bagaimana cara menghitungnya?

Modernland Realty

Modernland Realty (MDLN) adalah satu dari sekian banyak perusahaan yang menikmati booming industri properti dalam dua tahun terakhir ini, dengan mencetak laba bersih Rp323 milyar pada Kuartal I 2013, yang menjadikannya masuk dalam ‘Club 40’, yakni perusahaan dengan ROE lebih dari 40%. Malah, ROE MDLN pada Kuartal I 2013 sejatinya mencapai 50.6%, meski tentunya dengan asumsi bahwa perolehan laba bersihnya yang super-besar pada periode Kuartal I 2013 tersebut berlanjut hingga setidaknya akhir tahun 2013 ini. However, beberapa investor dan analis cukup yakin bahwa kinerja terbaru MDLN yang sangat bagus tersebut masih bisa berlanjut, mengingat jumlah laba bersih yang diperoleh perusahaan belum termasuk laba dari pendapatan dari penjualan tanah ke perusahaan properti lainnya, Alam Sutera Realty (ASRI), senilai Rp3 trilyun.

Analisis Pergerakan Saham-Saham Blue Chip

Senin ini, tanggal 17 Juni 2013, IHSG melanjutkan rebound-nya dan ditutup naik tipis 0.3% ke posisi 4,774. Jika dihitung dari posisi bottomnya yaitu 4,608 pada hari Kamis lalu, maka IHSG sudah rebound 3.6%. However, kalau dihitung dari posisi puncaknya yakni 5,251, maka IHSG pada saat ini masih terkoreksi sebesar 9.1%, alias masih cukup dalam. Hal inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar: Apakah koreksi market yang terjadi sejak awal Juni lalu sudah selesai, ataukah masih bakal terjadi koreksi lanjutan?

Semen Baturaja

IPO Semen Baturaja (kodenya belum ditentukan, jadi kita sebut saja ‘Baturaja’) di akhir Juni mendatang menjadi menarik untuk diperhatikan karena setidaknya dua hal. Yang pertama adalah kesuksesan dari IPO BUMN sebelumnya, Waskita Karya (WSKT), yang terus saja naik dari harga perdananya di 380 hingga sempat menyentuh 1,080 sebagai posisi tertingginya, sehingga ada ekspektasi bahwa Baturaja pun mungkin akan mengalami hal yang sama. Dan yang kedua adalah karena timing IPO-nya bertepatan dengan momentum kenaikan saham-saham infrastruktur, termasuk duo saham semen yakni INTP dan SMGR, sehingga Baturaja sebagai saham semen juga memiliki peluang untuk langsung menyusul dua seniornya tersebut. Benarkah demikian? Well, memang itulah yang akan kita bahas disini. Here we go!

My Interview with Warren Buffett

Hello Sir, my name is Teguh Hidayat, I am a stock investor from Indonesia. Can I have your time for just a minute? I would ask some questions which I am sure you have the answer.

Sentul City

Sentul City (BKSL) adalah perusahaan pengembang kawasan township (kota pemukiman terpadu) dengan nama yang sama dengan nama perusahaannya, yakni Sentul City, berlokasi di Kawasan Sentul, Bogor. BKSL mulai membangun Sentul City ini sejak tahun 1994, tapi perkembangannya baru terasa dua tiga tahun terakhir ini. Selain Sentul City, hingga saat ini BKSL belum memiliki township lainnya lagi. Meski begitu, Sentul City sendiri merupakan township yang cukup luas, yakni lebih dari 1,415 hektar, atau kurang lebih setara dengan BSD City seluas 1,300 hektar (Belum termasuk landbank. Kalau memperhitungkan landbank-nya, luas Sentul City adalah 3,100 hektar, sementara BSD City 6,000 hektar, dan karenanya BSD City boleh disebut sebagai township terbesar di Indonesia).

Mengenal 'Landbank', dan Aset Real Estate

Di artikel sebelumnya tentang landbank, ada yang menanyakan, bagaimana bisa harga rata-rata landbank milik Bumi Serpong Damai (BSDE) cuma Rp189,000 per meter persegi? Rasa-rasanya itu nggak mungkin lah, mengingat harga tanah di BSD City minimal jutaan Rupiah, atau bahkan ada yang mencapai puluhan juta Rupiah per meter persegi. Demikian pula dengan landbank milik Alam Sutera Realty (ASRI), apa bener harga rata-ratanya cuma Rp309,000 per meter? Sementara tanah kavling di kawasan Alam Sutera saja harganya ada yang diatas sepuluh juta per meter.

Seminar! 1 juni 2013

Dear investor, penulis kembali menyelenggarakan seminar edukasi investasi di Jakarta, yang kali ini akan membahas dua poin pokok. Satu, terkait manajemen psikologis dalam berinvestasi. Dua, penulis akan meng-share metode cepat yang biasa penulis lakukan selama ini dalam melakukan screening (seleksi) saham secara fundamental, untuk menemukan saham-saham bagus yang mungkin masih belum dilirik orang (sehingga kita bisa curi start dengan masuk duluan).

Apa itu ‘Cut Loss’, dan Bagaimana Melakukannya

Sebagai investor atau trader saham, entah itu berstatus newbie ataupun senior, anda pasti sudah hafal dengan istilah cut loss, yaitu ketika kita menjual saham pada harga yang lebih rendah dari harga belinya, sehingga kita mengalami kerugian. Secara harfiah, cut loss bermakna memotong (cut) kerugian (loss), alias untuk mencegah agar anda tidak mengalami kerugian yang lebih dalam lagi. Artinya, ketika anda melakukan cut loss, maka tujuannya bukan untuk merealisasikan kerugian, melainkan untuk mencegah kerugian yang lebih lanjut ketika saham yang anda pegang tersebut terus saja turun.

Daftar Landbank Emiten Properti

Salah satu metode analisis fundamental untuk saham-saham properti adalah dengan melihat kepemilikan landbank milik perusahaan. Yang dimaksud dengan landbank adalah tanah kosong yang akan dikembangkan kemudian (kadang disebut juga ‘tanah mentah’). Semakin banyak cadangan landbank yang dimiliki sebuah perusahaan properti, maka biasanya saham perusahaan yang bersangkutan akan dianggap lebih menarik. Dasar pemikirannya adalah karena biasanya harga properti berupa tanah/lahan akan terus naik seiring waktu, bahkan jika tanah tersebut tidak diapa-apakan, sehingga nilai perusahaan pemilik tanah tersebut juga akan terus meningkat. Sementara jika diatas tanah tadi dibangun perumahan, misalnya, maka perusahaan properti yang bersangkutan akan memperoleh kenaikan nilai yang lebih tinggi lagi.

Mandala Multifinance

Sekitar setahun yang lalu, Bank Indonesia (BI) mengumumkan kebijakan uang muka/DP minimum untuk kredit kendaraan bermotor (dan juga properti), dari sebelumnya terserah masing-masing perusahaan pembiayaan/finance, menjadi minimal 30% untuk kredit mobil, dan 20% untuk kredit motor. Sebelumnya, perusahaan-perusahaan pembiayaan memang agak keterlaluan dalam menyalurkan kredit mereka, dimana seorang pembeli bahkan sudah bisa membawa pulang sebuah sepeda motor seharga Rp12 juta hanya dengan DP Rp400,000 saja. BI kemudian melihat bahwa hal ini berpotensi menjadi bubble, dan karenanya kemudian mereka mengeluarkan kebijakan DP minimum tadi.

Ebook Kuartalan edisi Kuartal I 2013

Dear investor, seperti biasa setiap tiga bulan sekali, penulis akan bikin ebook kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal I 2013 (1Q13). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Prospek IPO Mitra Pinasthika Mustika

Mitra Pinasthika Mustika (MPM) merupakan unit perusahaan distributor kendaraan bermotor, terutama kendaraan roda dua alias sepeda motor, dan industri pendukungnya seperti pembiayaan, asuransi, toko oli dan spare parts, hingga rental kendaraan bermotor. Perusahaan milik Grup Saratoga ini dijadwalkan akan listing di bursa pada tanggal 29 Mei 2012, dengan target perolehan dana IPO yang cukup besar, yakni Rp1.5 – 2 trilyun.

KMI Wire & Cable

Saham-saham di sektor kabel mungkin menjadi menarik bagi sebagian investor, setelah para emiten di sektor tersebut menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan dalam setahun terakhir ini. Sepanjang tahun 2012 kemarin, keenam perusahaan kabel yang listing di bursa mencatat total laba bersih Rp536 milyar, tumbuh 55.8% dibanding tahun 2011. Dari sisi profitabilitas, angka laba tersebut sebenarnya tidak terlalu besar mengingat total aset perusahaan-perusahaan kabel di BEI mencapai Rp6.6 trilyun, sehingga rata-rata Return on Asset (ROA) di sektor kabel ini hanya 8.6%, sedikit dibawah standar penulis sebesar minimal 10%. However, sektor kabel ini tetap menarik untuk diperhatikan mengingat prospeknya terkait pembangunan infrastruktur di Indonesia.

IHSG Tembus 5,000, What's Next?

Tanggal 18 April kemarin, IHSG untuk pertama kalinya sukses menembus level psikologis 5,000, dan di tutup di posisi 5,012. Dan sejauh ini (hingga hari Senin, tanggal 22 April) trend-nya masih terus berlanjut dengan kembali mencetak new high baru.

Kawasan Industri Jababeka

Jika ada dua perusahaan properti yang paling kelihatan di Kawasan Timur Jakarta, tepatnya dalam hal ini Kabupaten dan Kota Bekasi, maka dua perusahaan properti tersebut adalah Lippo Cikarang (LPCK), dan Kawasan Industri Jababeka (KIJA). Kalau anda melintasi jalan tol Jakarta – Cikampek, maka anda akan mengerti apa yang penulis maksud dengan ‘kelihatan’ diatas. Jika LPCK lebih condong sebagai perusahaan properti jenis residensial, maka KIJA lebih banyak menjual tanah kavling di dalam kawasan industri (industrial estate), untuk didirikan pabrik dll. Nah, yang akan kita bahas disini adalah KIJA (soalnya LPCK sudah penulis bahas berkali-kali di ebook kuartalan, meski secara singkat). Oke, kita langsung saja.

Emas, Properti, Saham = Investasi, atau Spekulasi?

Beberapa hari lalu, Pemerintah Siprus mengumumkan akan menjual cadangan emas mereka secara bertahap senilai 400 juta Euro, sebagai bagian dari penyelamatan perekonomian negeri Gunung Olimpus. Dan entah ada hubungannya atau tidak, beberapa saat kemudian harga emas di pasar futures New York langsung anjlok hingga sekarang berada posisi US$ 1,351 per oz. Jika dihitung dari posisi puncaknya yaitu US$ 1,908 pada Agustus 2011 lalu, maka harga emas sudah turun 29.2%. Well, jika dilihat dari persepsi bahwa IHSG pun kalau memasuki musim koreksi biasanya akan turun sebesar 20 – 25% dari posisi puncaknya, maka saat ini boleh dibilang yang sedang mengalami koreksi adalah emas.

Mengenal Quantitative Easing, dan Pengaruhnya terhadap IHSG

Beberapa hari lalu, bank sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) mengumumkan kebijakan quantitative easing (QE), dimana BOJ akan menginjeksikan dana senilai total US$ 1.4 trilyun terhadap perekonomian negeri Sakura. Jumlah tersebut setara dengan jumlah uang yang beredar di Jepang, sehingga kebijakan QE tersebut akan membuat jumlah yang yang beredar menjadi naik dua kali lipat. Menurut Gubernur BOJ, Haruhiko Kuroda, kebijakan ini bertujuan untuk kembali menumbuhkan perekonomian Jepang, yang selama lebih dari satu dekade terakhir tertahan oleh kurangnya jumlah uang yang beredar di masyarakat. Tingkat inflasi di Jepang sendiri sudah 15 tahun terakhir ini mengalami minus, alias deflasi.

Seminar Surabaya!

Selain seminar di Jakarta, penulis juga menyelenggarakan seminar dengan materi yang sama di Surabaya, Jawa Timur. Berikut keterangan selengkapnya.

Greenwood Sejahtera: Update

Greenwood Sejahtera (GWSA) adalah salah satu dari sekian banyak perusahaan properti di Indonesia yang sedang menikmati masa jaya sektor properti dalam 2 – 3 tahun terakhir ini, dimana berdasarkan laporan keuangan terbarunya untuk tahun penuh 2012, GWSA mencatat laba bersih Rp434 milyar. Angka tersebut tumbuh dua kali lipat lebih dibanding tahun 2011, dan mencerminkan ROA 20.9%. Berdasarkan analisis fundamental sederhana, data tersebut tentu menarik. Tapi yang lebih menarik lagi adalah valuasi sahamnya, dimana berdasarkan harga sahamnya saat ini yaitu 300, PER GWSA tercatat hanya 5.5 kali. Dan tidak seperti saham-saham properti lainnya yang terus naik sepanjang setahun terakhir, saham GWSA sejauh ini hanya naik 50 poin dibanding harga perdananya (250) ketika IPO pada Desember 2011 lalu. So what’s wrong?

Keuntungan 130% Dalam 6 Bulan

Kemarin penulis jalan-jalan ke Kawasan Pluit, Jakarta Utara, dan disana penulis menemukan baligho besar yang isinya benar-benar bikin kaget. Nih, anda lihat sendiri fotonya, klik gambar untuk memperbesar:

Dyandra Media International

Dyandra Media International, atau disebut juga Dyandra & Co. (DYAN), merupakan perusahaan penyedia jasa event organizer (EO), event supporting, venue and hall, dan jasa perhotelan. DYAN merupakan bagian dari grup media terkemuka, Kompas Gramedia, dan 30% sahamnya (menjadi 21% pasca IPO) dipegang langsung oleh pimpinan grup, Tuan Jakob Oetama. Sebagai anak perusahaan dari grup usaha yang sudah sangat terkenal, ditambah statusnya sebagai pemimpin pasar di industri EO (DYAN melalui anak usahanya yakni Dyandra Promosindo, merupakan pemimpin pasar di industri EO Indonesia, dengan market share sekitar 80%), menyebabkan perusahaan ini banyak diperbincangkan ketika akan IPO. Dan sejauh ini, DYAN sukses naik 11.4% ke posisi 390, dari harga perdananya yakni 350. Lalu bagaimana kedepannya?

Saratoga: IPO?

Jika anda mengetik kata ‘Saratoga’ di Google, maka yang akan keluar adalah nama sebuah county di negara bagian New York, Amerika Serikat. Namun di Indonesia, Saratoga lebih dikenal sebagai nama dari salah satu perusahaan investasi terbesar di tanah air, yang dimiliki oleh pengusaha terkenal Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga S. Uno. Sejak awal tahun lalu, perusahaan dengan nama lengkap PT Saratoga Investama Sedaya ini dikabarkan akan menggelar IPO pada tahun 2013. Pengumuman mengenai IPO ini bahkan sudah keluar lebih awal di website perusahaan yang bersangkutan, yaitu pada September 2012 lalu. Jika prosesnya lancar, Saratoga akan meraup dana US$ 200 juta dari IPO-nya tersebut, tapi ada juga yang bilang US$ 500 juta.

Gajah Tunggal

Penulis sudah mengamati saham Gajah Tunggal (GJTL) ini sejak lama, yaitu sejak sekitar 3.5 tahun lalu ketika harganya masih di 400-an. Ketika itu kinerja perusahaan ban yang masih satu grup dengan Mitra Adiperkasa (MAPI) ini mulai pulih kembali pasca babak belur dihajar krisis global 2008, dengan mencatat laba bersih Rp905 milyar di tahun 2009, dibanding rugi bersih Rp625 milyar di tahun sebelumnya. Kinerja yang apik tersebut kemudian berlanjut di periode-periode berikutnya, hingga saham GJTL juga terus naik hingga sempat menembus 3,400 di pertengahan tahun 2011 lalu. Namun sejak saat itu GJTL terus saja turun, dan sekarang sudah berada di posisi 2,150. Apakah itu karena kinerjanya sudah tidak bagus lagi? Mungkin nggak juga ya, soalnya hingga Kuartal III 2012, GJTL masih mencatatkan kenaikan laba bersih 31.4%, atau masih cukup baik, dan ROE-nya juga masih terjaga di level 20.4%.

Hary Tanoe: Where are You Going?

Beberapa tahun lalu, tepatnya awal tahun 2010, Grup MNC yang kala itu masih bernama Grup Bhakti, menggemparkan bursa saham dengan mengumumkan bahwa mereka, melalui salah satu perusahaannya yakni Bhakti Investama (BHIT), berencana untuk masuk ke sektor natural resources, dengan cara mengakuisisi tambang minyak di Papua. Karena pengumuman tersebut, saham BHIT seketika melejit dari posisi 200 hingga sempat menembus level 1,000, hanya dalam tempo dua bulan (Januari - Maret 2012). Dalam tempo dua bulan itulah, hampir semua orang di market membicarakan tentang fenomena saham BHIT, dan sebagian lagi merayakan euforia karena untung besar dari saham tersebut. Sayang, seiring dengan tidak adanya kelanjutan dari proses dari akuisisi tambang minyak tersebut, saham BHIT kemudian anjlok besar-besaran, dan terus anjlok hingga sempat menyentuh level 105, atau sudah jauh lebih rendah ketimbang posisi sebelum kenaikannya (200). Meski saat ini BHIT memang sudah berada di posisi 500-an, namun ketika itu tidak sedikit investor yang pada akhirnya melontarkan sumpah serapah terhadap saham ajaib ini.

Belajar dari Kasus Penipuan Investasi

Beberapa hari terakhir ini di media-media baik cetak maupun elektronik, sedang ramai dibicarakan kasus dugaan penipuan investasi oleh PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS), dengan perkiraan nilai kerugian nasabah hingga Rp600 milyar, tapi ada juga yang bilang hingga Rp10 trilyun. Manapun yang benar, tetap saja itu adalah jumlah kerugian yang tidak sedikit. Namun kasus ini adalah yang kesekian kalinya terjadi di negeri ini, dengan modus yang selalu sama: Penipuan berkedok investasi dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat. Nah, actually kasus ini tidak berkaitan langsung dengan investasi kita di saham, tentu saja, namun penulis kira tetap penting untuk dibahas untuk memberikan informasi kepada masyarakat yang mungkin masih awam tentang apa itu investasi. Okay here we go!

Sierad Produce: Too Bad to be True

Apa makanan pokok masyarakat di Indonesia? Jawabannya sudah pasti nasi, kecuali jika anda setuju dengan Menteri Pertanian kita yang menyuruh masyarakat untuk mengganti nasi dengan singkong (yang bener aja!). Lalu apa lauk nasi favorit semua orang? Percaya atau tidak, jawabannya adalah daging ayam, entah itu digoreng, dipanggang, dibikin sup, ataupun diolah menjadi sosis atau nugget. Yup, daging ayam adalah makanan kesukaan masyarakat Indonesia dari seluruh strata sosial, mulai dari buruh pabrik hingga si pemilik pabrik itu sendiri. Rasanya yang lezat serta harganya yang lebih terjangkau ketimbang jenis daging lainnya, menyebabkan permintaan akan daging ayam senantiasa meningkat dari waktu ke waktu, seiring dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk.

Bakrie vs Rothschild: Aftermath?

Jika anda kaget ketika kemarin AC Milan diluar dugaan mampu menghajar Barcelona dua gol tanpa balas dalam ajang babak enam belas besar Liga Champions, maka demikian pula reaksi penulis ketika pagi ini mendengar kabar bahwa Bakrie berhasil mengalahkan Nathaniel Rothschild dalam voting yang berlangsung di London, Inggris. Namun kemenangan Bakrie ini memang sudah diprediksikan oleh beberapa pihak mengingat di saat-saat terakhir, Rosan Roeslani, salah satu partner Bakrie di Bumi Plc, berhasil memperoleh dukungan beberapa investor untuk memenangkan voting, termasuk Hary Tanoesoedibjo, pemilik Grup Bhakti.

Bakrie vs Rothschild, Part 3

Tanggal 12 Februari 2013 kemarin, Bumi Plc, perusahaan holding yang memegang 29.2% saham Bumi Resources (BUMI), merilis pengumuman bahwa perusahaan telah menyetujui proposal dari Grup Bakrie untuk mengambil alih kembali seluruh saham BUMI yang dipegang perusahaan. Sebagai tanda jadi, Grup Bakrie melalui Bakrie & Brothers (BNBR) telah menyetor uang muka sebesar US$ 50 juta, dan sisanya akan dibayar kemudian. Sekilas, pengumuman ini memberi kesan bahwa upaya Grup Bakrie untuk keluar dari cengkeraman Bumi Plc (baca: Nathaniel Rothschild) mulai menuai hasil, dan itu pula sebabnya saham BUMI mulai menggeliat sejak seminggu terakhir. Tapi benarkah demikian? Dan apakah pihak Nathaniel kemudian hanya tinggal diam begitu saja? Ingat bahwa jika Bumi Plc tidak lagi memegang BUMI, maka perusahaan yang dulunya bernama Vallar Plc ini hanyalah perusahaan kosong yang gak ada nilainya sama sekali.

Ebook Kuartalan edisi FY12

Dear investor, seperti biasa setiap tiga bulan sekali, penulis akan bikin ebook kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal IV 2012, alias Tahun Penuh 2012 atau Full Year 2012 (FY12). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Cara Menganalisis Manajemen Perusahaan

Apa saja kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah perusahaan agar dapat menghasilkan kinerja yang maksimal? Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa macam-macam, tapi yang pasti salah satu diantaranya adalah: Tim manajemen yang bagus dan dapat dipercaya. Sebagus apapun sebuah perusahaan, tapi kalau perusahaan tersebut dikendalikan dan dikelola oleh orang-orang yang nggak becus dan tidak bertanggung jawab, maka hasilnya pasti akan tetap jelek. Dalam kaitannya dengan investasi di saham, maka hal ini menjadi penting untuk diperhatikan, mengingat kita sebagai investor retail tidak memiliki kuasa untuk menunjuk orang-orang tertentu untuk duduk di jajaran direksi dari perusahaan yang bersangkutan, kecuali jika anda adalah investor besar yang mampu membeli saham sebuah perusahaan hingga sebanyak 20% dari modal disetor (sehingga anda menjadi pemegang saham utama).

The Sleeping Giant

Ada yang menarik ketika penulis mempelajari catatan ekspor impor Indonesia untuk tahun penuh 2012, yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, yaitu: Nilai impor besi dan baja untuk tahun 2012 meningkat signifikan, tepatnya 18.2% dibanding tahun 2011. Demikian pula nilai impor untuk barang-barang dari besi dan baja, juga meningkat 36.8%. Untuk beberapa jenis barang lainnya yang juga mengandung komponen besi dan baja, seperti mesin, elektronik, produk otomotif, hingga kapal terbang, semuanya juga meningkat signifikan antara 15 - 30%.

Dayaindo Resources 3

Penulis pertama kali membahas Dayaindo Resources (KARK) pada tanggal 11 Desember 2010, atau lebih dari dua tahun yang lalu. Ketika itu sahamnya sudah mati di 50 perak, dan ketika itu pula pembahasannya sampai pada kesimpulan bahwa meski mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama, namun KARK masih berpeluang untuk menguat kembali, karena kinerjanya pada saat itu (Kuartal III 2010) meningkat cukup signifikan (selengkapnya baca disini). Namun meski sudah dua tahun berlalu, KARK masih saja mati di gocapan. Beberapa kabar yang beredar juga semakin membuat khawatir para pemegang saham, mulai dari kebangkrutan perusahaan, hingga yang terbaru, direktur utamanya dikabarkan bunuh diri. KARK sendiri sejak kuartal I 2012 lalu belum merilis laporan keuangan terbarunya. Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Well, mungkin sebaiknya kita coba runut dulu sejarahnya.

Delta Dunia Makmur, Debt Problem

Tahun 2006, David Bonderman, bos dari perusahaan private equity terbesar di dunia, Texas Pacific Group (TPG), mengunjungi Indonesia untuk mencari peluang investasi, dengan diantar oleh seorang anak muda yang kala itu baru genap berusia 30 tahun, Patrick Sugito Walujo, pemilik dari sebuah perusahaan private equity lokal, Northstar Equity Partners. Bonderman dan Patrick sebelumnya sudah saling mengenal ketika Patrick bekerja untuk Goldman Sachs. Setelah beberapa kali pertemuan, Mr. Patrick berhasil meyakinkan Bonderman bahwa ia adalah partner yang tepat bagi TPG untuk menanamkan investasinya di Indonesia. So, mereka berdua kemudian mendirikan Northstar Pacific Partners, sebuah perusahaan holding yang digunakan sebagai kendaraan untuk mendirikan dan mengakuisisi beberapa perusahaan, terutama Bank BTPN (BTPN), dan Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), yang kemudian dimasukkan ke bursa saham dengan cara backdoor listing melalui Delta Dunia Makmur (DOID).

Garda Tujuh Buana, Now What?

Setelah disuspensi cukup lama, saham Garda Tujuh Buana (GTBO), kemarin Senin kembali aktif diperdagangkan, dan sukses ditutup naik 9.6% ke posisi 4,275. Ini agak mengejutkan sebenarnya, karena biasanya kalau sebuah saham disuspensi karena perusahaannya bermasalah (masalah GTBO ini adalah terkait dengan laporan keuangannya yang ‘ajaib’), maka begitu suspensinya dibuka dia akan turun, karena para pemegangnya akan langsung berhamburan keluar. However, disisi lain memang ada juga beberapa opini yang menyebutkan bahwa tidak ada yang keliru dengan LK GTBO, sehingga harganya pada saat ini masih wajar, atau bahkan undervalue. Anyway, mari kita cek saham yang pernah mengguncang dunia persilatan di tahun 2011 lalu ini, tentunya dari sisi fundamental perusahaannya.

Menelaah Sektor Infrastruktur

Jika pertanyaan berikut ditanyakan kepada orang-orang, ‘Apa itu yang dimaksud dengan infrastruktur?’ Maka jawabannya biasanya, ‘Infrastruktur itu adalah jalan raya, jembatan, bandara, pelabuhan, dll.’ Itu karena orang pajak kalau ditanya oleh masyarakat awam tentang uang pajak kita akan dipakai buat apa, entah mengapa mereka selalu menjawab untuk bikin jalan dan jembatan. Padahal, konsep ‘infrastruktur’ jauh lebih luas dari itu. Menurut wikipedia, infrastruktur adalah (kalimatnya sudah saya permudah) struktur fisik maupun organisasi yang diperlukan untuk kelangsungan hidup masyarakat banyak atau operasional perusahaan. Atau dengan kata lain, infrastruktur adalah fasilitas atau layanan yang dibutuhkan oleh sebuah sistem ekonomi agar berfungsi dengan baik dan menghasilkan produk secara optimal.

Apa Resolusi Anda?

Beberapa waktu lalu (udah cukup lama sih), penulis bertemu dan berdiskusi dengan seorang teman yang merupakan investor saham senior. Yep, I tell you, hal terbaik dari memiliki blog seperti blog ‘Analisis Saham Independen’ seperti ini adalah kita bisa bertemu dengan banyak sekali teman-teman sesama investor yang lebih senior, untuk kemudian belajar banyak dari mereka. Dan penulis kira, kesempatan untuk belajar tersebut adalah investasi yang lebih jauh berharga ketimbang investasi di saham itu sendiri.