Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Garda Tujuh Buana, Now What?

Setelah disuspensi cukup lama, saham Garda Tujuh Buana (GTBO), kemarin Senin kembali aktif diperdagangkan, dan sukses ditutup naik 9.6% ke posisi 4,275. Ini agak mengejutkan sebenarnya, karena biasanya kalau sebuah saham disuspensi karena perusahaannya bermasalah (masalah GTBO ini adalah terkait dengan laporan keuangannya yang ‘ajaib’), maka begitu suspensinya dibuka dia akan turun, karena para pemegangnya akan langsung berhamburan keluar. However, disisi lain memang ada juga beberapa opini yang menyebutkan bahwa tidak ada yang keliru dengan LK GTBO, sehingga harganya pada saat ini masih wajar, atau bahkan undervalue. Anyway, mari kita cek saham yang pernah mengguncang dunia persilatan di tahun 2011 lalu ini, tentunya dari sisi fundamental perusahaannya.

Logo Garda Tujuh Buana


GTBO berdiri pada tahun 1996 di Jakarta, dengan interest di bidang pertambangan batubara. Perusahaan memperoleh konsesi tambang pertamanya pada tahun 2001, dengan lokasi tambang di Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Masa pakai konsesi tersebut akan berakhir pada tahun 2021, dan hingga saat ini menjadi satu-satunya lokasi tambang batubara yang dimiliki oleh perusahaan. Meski sudah dimiliki sejak tahun 2001, namun tambang Pulau Bunyu baru berproduksi pada tahun 2010, sehingga pada tahun tersebut-lah GTBO baru memperoleh pendapatan dan laba. Hingga akhir Kuartal III 2012, GTBO telah memproduksi total 3.5 juta ton batubara, dan sisa cadangan batubara yang dimiliki perusahaan terbilang masih sangat banyak, yakni 91.9 juta ton.

Terkait jenis batubara yang diproduksi perusahaan, GTBO memproduksi batubara jenis low calorie dengan kalori 4,800 – 5,100 kcal per kg, sehingga termasuk batubara berkualitas rendah. Meski demikian, keunggulan batubara milik GTBO adalah lokasi tambangnya yang dekat sekali dengan bibir pantai, sehingga batubara hasil galian bisa langsung diangkut ke pelabuhan dan alhasil, biaya produksinya menjadi rendah dan harga jualnya juga bisa ditekan. Sepanjang sembilan bulan pertama 2012, GTBO menjual batubaranya pada harga Rp365,000 per ton, atau sekitar US$ 37 – 40 per ton, jauh lebih murah dibanding harga batubara dengan kualitas sama milik perusahaan lain di tanah air, yaitu sekitar US$ 55 – 60 per ton. Dalam hal ini, fluktuasi harga batubara di pasar internasional juga otomatis tidak begitu berpengaruh terhadap pendapatan GTBO, karena sejak awal harga batubara mereka memang sudah cukup miring.

Nah, terkait harga jual yang murah itulah, yang mungkin bisa dijadikan alasan kenapa Agrocom Limited, sebuah perusahaan perdagangan komoditas asal United Arab Emirates (UAE), berani membayar tunai untuk transaksi pembelian batubara dengan GTBO. Jadi ceritanya, pada tanggal 14 Juni 2012, kedua perusahaan (GTBO dan Agrocom) menandatangani perjanjian jual beli batubara sebanyak 10 juta ton dengan harga US$ 25 per ton, dimana batubara tersebut akan dikirim secara bertahap ke markas Agrocom di UAE hingga tahun 2015 (karena GTBO sendiri hanya mampu memproduksi batubara sebanyak 2 – 2.5 juta ton per tahun). Sejatinya, harga batubara yang dijual oleh GTBO ke Agrocom disepakati US$ 39 per ton. Namun karena biaya produksi batubara yang sebesar US$ 14 per ton ditanggung oleh Agrocom, maka Agrocom kemudian hanya membayar US$ 25 per ton batubara kepada GTBO (US$ 39 dikurangi 14 sama dengan 25).

Dengan demikian, GTBO akan memperoleh pendapatan sebesar total US$ 250 juta atau sekitar Rp2.4 trilyun, yang akan diterima secara bertahap hingga tahun 2015 mendatang (atau tepatnya 2014, karena Agrocom akan membayar dimuka untuk batubara yang dikirim tahun 2015). Dan sebagian dari US$ 250 juta tersebut, tepatnya US$ 75 juta atau setara dengan Rp711 milyar, sudah dibayarkan oleh Agrocom di hari ketika perjanjiannya ditanda tangani, yaitu 14 Juni 2012. Oleh GTBO, uang sebesar Rp711 milyar tersebut dicatat sebagai pendapatan. Dan inilah yang menyebabkan pendapatan dan laba bersih GTBO di Kuartal II 2012 tiba-tiba saja melonjak tajam, hingga mencapai sepuluh kali lipat lebih dibanding periode yang sama tahun 2011.

Dan hasilnya, saham GTBO yang sebelumnya memang sudah naik sangat-sangat banyak dari 50-an hingga 4,000-an (yap, anda tidak salah baca. GTBO akan dicatat dalam sejarah sebagai saham yang mencatat kenaikan paling banyak di BEI, yaitu lebih dari 100 kali lipat, hanya dalam waktu nggak sampai dua tahun), ternyata masih bisa naik lagi pun hingga sempat mencatat rekor 7,300, sebelum kemudian turun kembali dan sekarang bertengger di 4,000-an.

Terkait transaksi GTBO dengan Agrocom, hal ini kemudian mengundang pertanyaan banyak pihak, termasuk tentunya BEI sebagai otoritas bursa. Salah satu poin pertanyaan yang cukup penting adalah: Bagaimana bisa uang sebesar Rp711 milyar yang diterima dari Agrocom tidak dicatat sebagai uang muka penjualan, melainkan langsung dicatat sebagai pendapatan, mengingat batubara yang dipesan oleh Agrocom baru akan dikirim kemudian? Dan pihak GTBO kemudian menjawabnya, yang pada intinya menyatakan bahwa berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 tentang pengakuan pendapatan, transaksi dengan Agrocom diatas memenuhi semua syarat untuk bisa diakui sebagai pendapatan, dan bukannya uang muka penjualan. Penulis pribadi menganggap bahwa argumen yang dikemukakan oleh GTBO cukup masuk akal, sehingga GTBO bisa dikatakan memang benar telah memperoleh pendapatan Rp711 milyar dari Agrocom. Agrocom sendiri membayar uang Rp711 milyar tersebut secara tunai.

Kemudian kedepannya, GTBO hampir bisa dipastikan akan menerima pendapatan lagi dari pembayaran yang dilakukan oleh Agrocom, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Pembayaran tahap I senilai US$ 75 juta, dibayar sebelum tanggal 30 Juni 2012 (sudah dibayar).
  2. Pembayaran tahap II senilai US$ 87.5 juta, dibayar sebelum tanggal 30 Juni 2013, dan
  3. Pembayaran tahap III senilai US$ 87.5 juta, dibayar sebelum tanggal 30 Juni 2014. Jadi totalnya: US$ 250 juta.
Nah, dari sinilah GTBO tampak sangat menarik, karena dengan asumsi bahwa Agrocom akan melakukan pembayaran tahap II-nya persis beberapa hari sebelum tanggal 30 Juni 2013 (mungkin di tanggal 14 Juni 2013, atau sama seperti tahun sebelumnya), maka pendapatan dan laba bersih GTBO di laporan keuangan Kuartal II 2013 akan melejit lagi, yaitu karena tambahan pendapatan sebesar US$ 87.5 juta atau sekitar Rp820 milyar. Disisi lain, data laba rugi GTBO di laporan keuangan Kuartal I 2013 akan tampak biasa saja, karena perusahaan belum memperoleh pendapatan US$ 87.5 juta tersebut.

Jadi, kesimpulannya? Yep, terlepas dari kenaikannya yang sangat luar biasa, GTBO ini memang menarik, dan masih menarik. Beberapa poin menarik lainnya dari GTBO ini diluar transaksinya dengan Agrocom adalah: 1. Perusahaannya gak punya utang sama sekali, kecuali utang usaha, itupun sangat kecil, 2. Cadangan batubaranya masih sangat banyak, lebih dari 90 juta ton, dan 3. Seperti sudah disebut diatas, harga jual batubara yang murah, sehingga GTBO seharusnya tidak kesulitan dalam menggaet pelanggan baru diluar Agrocom.

Terkait sahamnya, GTBO mungkin masih bisa naik lagi hingga ke posisi 7,000-an dalam setahun kedepan. Timing yang tepat untuk masuk mungkin ketika laporan keuangannya untuk periode Kuartal I 2013 nanti terbit, dimana kalau berdasarkan LK-nya tersebut, valuasi GTBO pada harga saat ini (4,000-an) akan tampak mahal, sehingga biasanya dia akan turun. Tapi kalau anda sudah memegangnya sejak awal, maka boleh hold.

Nah, jika anda tertarik dengan GTBO ini, maka ada beberapa hal yang patut anda cermati, dimana hal-hal tersebut berpotensi menjadi risiko investasi anda di saham dengan fundamental yang masih-sulit-untuk-dipercaya ini. Okay, here we go:

Pertama, jumlah cadangan batubara GTBO yang mencapai 95.4 juta ton (cadangan awal sebelum mulai berproduksi), itu agak meragukan, karena luas konsesinya yang di Pulau Bunyu cuma 710 hektar. Jika benar cadangan GTBO sebanyak itu, maka itu berarti setiap hektar konsesi tambang milik perusahaan mengandung cadangan batubara sebanyak 134 ribu ton.

Sebagai perbandingan, luas konsesi perusahaan batubara terbesar di Indonesia yaitu Bumi Resources (BUMI), mencapai total 161 ribu hektar, dengan jumlah cadangan awal 1.7 milyar ton, atau tepatnya 1,735 juta ton (untuk dua anak usahanya yaitu Kaltim Prima Coal/KPC dan Arutmin. Anak usaha yang lainnya seperti Fajar Bumi Sakti, tidak dihitung karena belum berproduksi). Dengan demikian, setiap hektar konsesi tambang batubara yang dimiliki BUMI hanya mengandung batubara sebanyak 11 ribu ton, atau sangat sedikit sekali jika dibanding dengan cadangan batubara milik GTBO. Padahal KPC sejak dulu sudah dikenal sebagai salah satu perusahaan tambang batubara paling ‘berisi’ di dunia. Tapi ternyata cadangan batubara per hektar yang dimiliki oleh KPC gak ada apa-apanya dibanding cadangan batubara milik GTBO.

Satu lagi, catat bahwa cadangan batubara sebanyak 95.4 juta ton milik GTBO itu adalah cadangan batubara terbukti, sehingga belum menyertakan cadangan batubara terduga. Jika cadangan terduga ikut dihitung, maka GTBO totalnya memiliki cadangan batubara sebanyak 168 juta ton yang tersebar di lahan seluas 710 hektar saja. Luar biasa sekaligus sulit dipercaya bukan?

Kedua, GTBO telah setidaknya dua kali merevisi laporan keuangannya untuk periode Kuartal III 2012, terutama terkait transaksinya dengan Agrocom. Setelah penulis cek, sebenarnya nggak ada koreksi yang berarti sih, namun hal ini mau tidak mau akan menimbulkan persepsi dikalangan investor tertentu, bahwa pihak manajemen mungkin telah memanipulasi laporan keuangan perusahaan.

Dan ketiga, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 tahun 2010, GTBO diwajibkan untuk menjual batubara dengan harga yang mengikuti harga pasar internasional, termasuk membayar royalti kepada Pemerintah berdasarkan harga batubara di pasar internasional tersebut (jumlah royalti = tarif x harga x tonase). Artinya? GTBO sebenarnya tidak boleh dan tidak bisa menjual batubara di harga US$ 39 per ton, melainkan harus mengikuti harga internasional yakni US$ 55 – 60 per ton. Masalahnya itu tentu bertentangan dengan kontrak yang sudah dibuat dengan Agrocom, dan akan menyulitkan perusahaan untuk memperoleh pelanggan baru.

Okay, I think that’s all, selanjutnya seperti biasa, keputusan ada di tangan anda. Kalau bagi penulis sendiri, meski dulu sempet untung lumayan gede juga dari GTBO ini, namun untuk masuk di harga sekarang mendingan pake dana sedikit aja dulu deh. GTBO ini memang saham yang benar-benar ajaib yang pernah ada di BEI, dan rasa-rasanya belum akan ada ‘The Next GTBO’ lagi dalam beberapa tahun kedepan. But yeah, who knows??
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

5 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Ulasan yang bagus Pak Teguh.

Saya hampir tidak terpikir untuk menghitung berapa banyak cadangan batubara per hektarnya dan dibandingkan dengan KPC.

Saya mau tanya tentang peraturan PSAK no 23 tersebut. Apa alasannya uang sebesar itu dapat diakui sebagai pendapatan?

Sejauh yang saya mengerti, pendapatan dapat diakui jika barang/service sudah dilaksanakan. Seharusnya GTBO mengakui uang yang diterima sebagai pendapatan yang belum dilaksanakan(unearned revenue).

SAHAMBACKRIE mengatakan... Balas

tolong diulas doid bang teguh....kayaknya mo jadi next gtbo....maybe...hehe

Anonim mengatakan... Balas

tolong diulas saham benakat petroleum yg ktnya tinggal eksekusi astrindo mahakarya

Anonim mengatakan... Balas

Kalau memang biaya produksinya sangat rendah dan cadangannya sangat banyak berarti batubaranya sangat tebal dan Stripping Rationya sangat kecil maka harganya bisa sangat murah dan bersaing dipasaran. Coba tingkatkan produksinya karena banyak yang mau beli. Kalau boleh saya tahu kalori di Gar berapa ya ? Thanks & Regards.
Marcius Manalu

Anonim mengatakan... Balas

Ini sih mark to market accounting ala Enron.