Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal I 2017 akan terbit hari Senin, 8 Mei 2017 mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.

Prospek IPO Mitra Pinasthika Mustika

Mitra Pinasthika Mustika (MPM) merupakan unit perusahaan distributor kendaraan bermotor, terutama kendaraan roda dua alias sepeda motor, dan industri pendukungnya seperti pembiayaan, asuransi, toko oli dan spare parts, hingga rental kendaraan bermotor. Perusahaan milik Grup Saratoga ini dijadwalkan akan listing di bursa pada tanggal 29 Mei 2012, dengan target perolehan dana IPO yang cukup besar, yakni Rp1.5 – 2 trilyun.

KMI Wire & Cable

Saham-saham di sektor kabel mungkin menjadi menarik bagi sebagian investor, setelah para emiten di sektor tersebut menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan dalam setahun terakhir ini. Sepanjang tahun 2012 kemarin, keenam perusahaan kabel yang listing di bursa mencatat total laba bersih Rp536 milyar, tumbuh 55.8% dibanding tahun 2011. Dari sisi profitabilitas, angka laba tersebut sebenarnya tidak terlalu besar mengingat total aset perusahaan-perusahaan kabel di BEI mencapai Rp6.6 trilyun, sehingga rata-rata Return on Asset (ROA) di sektor kabel ini hanya 8.6%, sedikit dibawah standar penulis sebesar minimal 10%. However, sektor kabel ini tetap menarik untuk diperhatikan mengingat prospeknya terkait pembangunan infrastruktur di Indonesia.

IHSG Tembus 5,000, What's Next?

Tanggal 18 April kemarin, IHSG untuk pertama kalinya sukses menembus level psikologis 5,000, dan di tutup di posisi 5,012. Dan sejauh ini (hingga hari Senin, tanggal 22 April) trend-nya masih terus berlanjut dengan kembali mencetak new high baru.

Kawasan Industri Jababeka

Jika ada dua perusahaan properti yang paling kelihatan di Kawasan Timur Jakarta, tepatnya dalam hal ini Kabupaten dan Kota Bekasi, maka dua perusahaan properti tersebut adalah Lippo Cikarang (LPCK), dan Kawasan Industri Jababeka (KIJA). Kalau anda melintasi jalan tol Jakarta – Cikampek, maka anda akan mengerti apa yang penulis maksud dengan ‘kelihatan’ diatas. Jika LPCK lebih condong sebagai perusahaan properti jenis residensial, maka KIJA lebih banyak menjual tanah kavling di dalam kawasan industri (industrial estate), untuk didirikan pabrik dll. Nah, yang akan kita bahas disini adalah KIJA (soalnya LPCK sudah penulis bahas berkali-kali di ebook kuartalan, meski secara singkat). Oke, kita langsung saja.

Emas, Properti, Saham = Investasi, atau Spekulasi?

Beberapa hari lalu, Pemerintah Siprus mengumumkan akan menjual cadangan emas mereka secara bertahap senilai 400 juta Euro, sebagai bagian dari penyelamatan perekonomian negeri Gunung Olimpus. Dan entah ada hubungannya atau tidak, beberapa saat kemudian harga emas di pasar futures New York langsung anjlok hingga sekarang berada posisi US$ 1,351 per oz. Jika dihitung dari posisi puncaknya yaitu US$ 1,908 pada Agustus 2011 lalu, maka harga emas sudah turun 29.2%. Well, jika dilihat dari persepsi bahwa IHSG pun kalau memasuki musim koreksi biasanya akan turun sebesar 20 – 25% dari posisi puncaknya, maka saat ini boleh dibilang yang sedang mengalami koreksi adalah emas.

Mengenal Quantitative Easing, dan Pengaruhnya terhadap IHSG

Beberapa hari lalu, bank sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) mengumumkan kebijakan quantitative easing (QE), dimana BOJ akan menginjeksikan dana senilai total US$ 1.4 trilyun terhadap perekonomian negeri Sakura. Jumlah tersebut setara dengan jumlah uang yang beredar di Jepang, sehingga kebijakan QE tersebut akan membuat jumlah yang yang beredar menjadi naik dua kali lipat. Menurut Gubernur BOJ, Haruhiko Kuroda, kebijakan ini bertujuan untuk kembali menumbuhkan perekonomian Jepang, yang selama lebih dari satu dekade terakhir tertahan oleh kurangnya jumlah uang yang beredar di masyarakat. Tingkat inflasi di Jepang sendiri sudah 15 tahun terakhir ini mengalami minus, alias deflasi.

Seminar Surabaya!

Selain seminar di Jakarta, penulis juga menyelenggarakan seminar dengan materi yang sama di Surabaya, Jawa Timur. Berikut keterangan selengkapnya.

Greenwood Sejahtera: Update

Greenwood Sejahtera (GWSA) adalah salah satu dari sekian banyak perusahaan properti di Indonesia yang sedang menikmati masa jaya sektor properti dalam 2 – 3 tahun terakhir ini, dimana berdasarkan laporan keuangan terbarunya untuk tahun penuh 2012, GWSA mencatat laba bersih Rp434 milyar. Angka tersebut tumbuh dua kali lipat lebih dibanding tahun 2011, dan mencerminkan ROA 20.9%. Berdasarkan analisis fundamental sederhana, data tersebut tentu menarik. Tapi yang lebih menarik lagi adalah valuasi sahamnya, dimana berdasarkan harga sahamnya saat ini yaitu 300, PER GWSA tercatat hanya 5.5 kali. Dan tidak seperti saham-saham properti lainnya yang terus naik sepanjang setahun terakhir, saham GWSA sejauh ini hanya naik 50 poin dibanding harga perdananya (250) ketika IPO pada Desember 2011 lalu. So what’s wrong?