Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 ('Ebook Kuartalan') sudah terbit! Dan anda bisa langsung memperolehnya disini.

'Follow the Trend' dalam Analisis Fundamental

Beberapa waktu lalu penulis menerima saran dari seorang teman, ‘Mas Teguh, saya tahu Mas Teguh ini tipe value investor yang lebih banyak pake analisis fundamental. Tapi sebagaimana yang kita ketahui, di market terdapat lebih banyak trader yang pake teknikal. Jadi gimana kalau Mas Teguh nulis juga soal analisis saham dari sisi teknikal? Pasti blog-nya bakal lebih banyak lagi yang baca’

Meraup Untung dari Saham Dividen

Saham dividen, atau dividend stock, adalah istilah untuk menyebut saham yang perusahaannya membagikan dividen dalam jumlah besar, katakanlah lebih dari separuh perolehan laba bersihnya dalam satu tahun tertentu, sementara disisi lain harga sahamnya juga tidak terlalu tinggi sehingga yield-nya lebih besar dibanding saham lain pada umumnya. Contohnya? Bank BJB (BJBR). Sejak tahun buku 2007 hingga 2013, BJBR selalu membagikan dividen rata-rata sebesar 65% dari laba bersihnya di tahun yang bersangkutan. Pada tahun 2013 lalu, nilai dividen BJBR tercatat Rp78 per saham. Dengan harga saham Rp965 menjelang tanggal cum-nya, maka dividend yield BJBR adalah 965 / 78 = 0.081, alias 8.1%. Angka tersebut terbilang cukup besar jika dibandingkan dengan dividend yield dari saham-saham blue chip, yang rata-rata hanya 2 – 4%.

Investor Meeting: Market Outlook 2015

Dear investor, tak terasa kita sudah memasuki bulan Desember, yang itu artinya sebentar lagi tahun 2014 ini akan berakhir. Sejauh ini, tahun 2014 relatif merupakan tahun yang cukup baik bagi investor saham, terutama jika perbandingannya adalah tahun 2013 kemarin dimana pasar/IHSG sempat hancur lebur. Pertanyaannya, bagaimana dengan tahun 2015 mendatang? Nah, bagi anda investor yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya (dari luar kota juga boleh kalau mau datang kesini), penulis mengajak anda untuk ketemu, kumpul-kumpul dan berdiskusi soal ‘Market Outlook’ untuk tahun 2015, tentunya dari sudut pandang seorang value investor.

Prospek Saham Farmasi Terkait BPJS

Selain sektor konstruksi yang sudah kita bahas minggu lalu, email pertanyaan yang cukup sering penulis terima beberapa waktu terakhir ini adalah soal bagaimana prospek dari Kalbe Farma (KLBF), Tempo Scan Pacific (TSPC), dll, alias saham-saham farmasi, terkait program pemerintah yang dinamakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), yang sudah berjalan sejak awal tahun 2014 lalu. Kemudian sejak Jokowi dilantik sebagai Presiden tanggal 20 Oktober kemarin, tak lama kemudian beliau langsung meluncurkan program ‘kartu sakti’ andalannya, salah satunya Kartu Indonesia Sehat (KIS), yang mungkin semakin membuat anda penasaran, bagaimana kira-kira dampaknya terhadap saham-saham farmasi di BEI. Nah, sebelum itu, mari kita bahas dulu tema ‘kesehatan’ ini sejak awal.

Foto-Foto Seminar Value Investing

Dear investor, berikut ini adalah foto-foto penulis bersama para peserta seminar value investing, ketika kami melakukan ‘Value Investing Tour 2014’ mulai dari Medan, Sumatera Utara, hingga Legian, Bali, antara tanggal 30 Agustus hingga 22 November 2014. Klik tiap-tiap foto untuk memperbesar.

Medan, Sumatera Utara, 30 Agustus

Saham Terbaik di Sektor Konstruksi

Jika anda termasuk salah satu dari sekian banyak warga Indonesia yang tidak telalu terpengaruh oleh berbagai pemberitaan negatif oleh TvOne dan MetroTV selama Indonesia dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, maka anda akan bisa melihat bahwa selama sepuluh tahun terakhir, atau khususnya dalam lima tahun terakhir (2009 – 2014), Indonesia telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan dalam hal pembangunan infrastruktur. Yang paling gampang dilihat, Indonesia kini merupakan salah satu negara dengan jumlah bandara paling banyak di dunia, termasuk bandara internasional, dimana kebanyakan dari bandara-bandara tersebut baru dibangun dalam sepuluh tahun terakhir. Jika dulu naik pesawat terbang merupakan suatu hal yang terbilang mewah, maka pada saat ini, seperti yang dikatakan Air Asia, ‘now everyone can fly’.

Conservative? What is That?

Di hari Senin pagi yang cerah ini, di Kota Jogja yang amat sangat bersahabat ini, penulis iseng-iseng mengecek lagi harga dari saham-saham Grup Bakrie. Andd.. whoaaa.. Bumi Resources (BUMI) sepertinya tinggal selangkah lagi menuju gocap! Sebab saat ini harganya tinggal Rp103 per saham. Sebelumnya, beberapa saham Grup Bakrie lainnya seperti Darma Henwa (DEWA), Bakrie Sumatra Plantations (UNSP), Bakrie Telecom (BTEL), Bakrie & Brothers (BNBR), hingga Bakrieland Development (ELTY), mereka semua sudah lebih dulu mencapai level gocap tersebut. Dan kalau mengingat bahwa di tahun 2009 – 2010 lalu, saham-saham Grup Bakrie begitu mendominasi volume perdagangan saham di BEI dimana orang-orang bahkan lebih tertarik untuk melihat arah pergerakan BUMI ketimbang pergerakan IHSG itu sendiri, maka ini tentu saja menimbulkan pertanyaan: What the hell happen???

Prospek IPO Soechi Lines

PT Soechi Lines adalah perusahaan yang penulis sendiri baru mendengar namanya semingguan terakhir ini setelah perusahaan menggelar IPO. However, IPO Soechi mungkin menarik untuk diperhatikan mengingat perusahaan bergerak di bidang perkapalan, dan kita tahu bahwa saham-saham di sektor perkapalan di BEI terus bergerak naik dalam beberapa bulan terakhir ini karena didorong oleh sentimen positif yang timbul dari rencana serta visi Pemerintah RI, dibawah Presiden Jokowi, untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu ‘poros maritim’ dunia. Jadi pertanyaannya tentu, apakah layar Soechi juga akan ikut mengembang ketika listing perdana tanggal 2 Desember nanti?

United Tractors: Another Blue Chip Opportunity

Bicara tentang United Tractors (UNTR), maka kita berbicara tentang perusahaan terbesar di Indonesia di dua bidang sekaligus yakni jual beli alat-alat berat dan jasa kontraktor tambang batubara, dan merupakan salah satu dari sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI (berfluktuatif, terkadang UNTR keluar dari daftar sepuluh besar tersebut kalau harga sahamnya lagi turun). UNTR juga memiliki sejarah kinerja yang sangat solid dalam jangka panjang, dimana sejak industri batubara mulai booming di Indonesia sejak awal dekade 2000-an, UNTR terus berkembang hingga kini berstatus sebagai anak perusahaan sekaligus kontributor pendapatan terbesar kedua (setelah bisnis otomotif) dari Astra International (ASII). Yup, dari total pendapatan ASII senilai Rp150.6 trilyun hingga Kuartal III 2014, Rp40.8 trilyun diantaranya berasal dari UNTR.

Seminar Value Investing: Bali!

Dear investor, penulis kembali menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, kali ini di Bali. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Bali. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Ebook Analisis Kuartal III 2014

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal III 2014 (Q3 2014). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Tanya Jawab Value Investing

Dalam setiap kali kesempatan seminar/pelatihan value investing, penulis selalu memberi kesempatan kepada para peserta untuk bertanya terkait materi yang disampaikan, baik itu dalam acara seminarnya ataupun setelah seminarnya (melalui email). Beberapa peserta menanyakan pertanyaan yang bisa saya jawab dengan jawaban yang singkat, dan beberapa lagi membutuhkan jawaban yang agak panjang. Berikut adalah beberapa dari pertanyaan-pertanyaan tersebut plus jawabannya. Silahkan cek, anda mungkin pernah juga punya pertanyaan yang sama.

Saya hanya mau beli saham-saham yang likuid, dalam hal ini yang masuk daftar LQ45, atau istilahnya saham-saham blue chip. Tapi kenapa valuasinya mahal semua? Sangat jarang, kalau tidak mau dikatakan tidak ada, saham-saham LQ45 yang PER-nya kurang dari 7 kali, atau PBV-nya kurang dari 1.0 kali. Kalaupun ada biasanya fundamentalnya jelek, jadi gak layak buy juga. Jadi apa yang harus saya lakukan?

Inilah Susunan Kabinet Jokowi

Setelah ditunggu selama hampir satu minggu, Presiden Jokowi akhirnya mengumumkan susunan kabinet yang berisi total 34 menteri, sudah termasuk menteri koordinator (menko). Kabinet tersebut dinamakan ‘Kabinet Kerja’, dan berikut adalah nama-nama menteri selengkapnya:

Bank Danamon

Bank Danamon (BDMN) menjadi emiten pertama di BEI yang sudah merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal III 2014 (Q3 2014). Dan hasilnya? Well, BDMN sejak awal tahun 2014 lalu merupakan salah satu emiten perbankan yang manajemennya tidak mampu mengatasi dampak negatif dari kenaikan BI Rate, dimana meski pendapatannya naik namun laba usaha serta laba bersihnya turun cukup signifikan karena kenaikan beban bunga, dan trend tersebut masih terjadi hingga saat ini. Hingga Q3 2014, BDMN mencatatkan laba bersih Rp2.1 trilyun, turun 29.9% dibanding periode yang sama tahun 2013.

Prospek IPO Blue Bird

Satu lagi perusahaan dengan nama besar ikut melantai di bursa saham tanah air. PT Blue Bird, Tbk., dan memang hanya itu saja nama perusahaannya, merupakan perusahaan penyedia layanan taksi terbesar di Indonesia, sekaligus merupakan yang paling populer, sehingga tak heran jika berita tentang IPO-nya direspon dengan antusias oleh pasar. However, seperti ‘barang terkenal’ lainnya, saham Blue Bird tidak dijual pada harga murah, melainkan akan dilepas pada rentang harga Rp7,200 – 9,300 per saham, padahal nilai nominalnya cuma Rp100. Jadi pertanyaannya sekarang, apakah harga tersebut terbilang worth? Okay, kita langsung saja.

Perkembangan Politik & Pengaruhnya Terhadap IHSG

Dalam salah satu annual letter-nya, Warren Buffett pernah ngomong begini, ‘Kami berharap bahwa anda akan bersama kami untuk seterusnya (baca: menjadi pemegang saham Berkshire Hathaway untuk seterusnya), dan tidak akan keluar/menjual saham anda hanya karena anda khawatir ketika terjadi gejolak ekonomi dan politik di Amerika Serikat.’ Nah, perhatikan bahwa Buffett menyebutkan dua kata: ekonomi, dan politik. Buffett mengatakan kalimat tersebut karena, berdasarkan pengalamannya selama menjadi investor, terdapat setidaknya dua hal yang bisa membuat pasar saham Amerika, termasuk kinerja para perusahaan didalamnya, mengalami penurunan, yakni jika ‘ada masalah’ terhadap perekonomian ataupun situasi politik, baik dalam skala nasional maupun global.

Penyebab Turunnya IHSG

Akhir-akhir ini terjadi penurunan tajam dari harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mencapai posisi 5,263 sebagai posisi tertingginya pada tanggal 8 September lalu, saat ini sudah turun ke posisi 4,949 (per penutupan pasar tanggal 3 Oktober). Penurunan tersebut tidak terlepas dari penjualan saham-saham oleh investor asing, dimana dalam dua hari terakhir, foreign net sell tercatat total Rp2.3 trilyun. Apa alasan sebenarnya yang menyebabkan investor asing keluar dari pasar saham Indonesia?

Fakta Dibalik Right Issue BW Plantation

Di artikel minggu lalu tentang kapan kita sebagai investor harus membeli, menjual, atau meng-hold saham tertentu (atau istilahnya portfolio rebalancing), penulis mengatakan bahwa anda bisa membeli saham-saham tertentu jika ada peristiwa luar biasa yang bisa terjadi setiap saat (jadi nggak perlu nunggu akhir bulan, apalagi akhir tahun), katakanlah jika ada saham tertentu yang harganya tiba-tiba saja anjlok. Dan kebetulan, beberapa hari yang lalu memang ‘peristiwa luar biasa’ tersebut sekali lagi terjadi, dimana saham BW Plantation (BWPT) tiba-tiba saja jeblok dari 1,000-an pada awal September lalu, hingga sekarang tinggal 460, atau kehilangan lebih dari separuh nilai pasarnya hanya dalam hitungan minggu. Udah gitu, hari ini sahamnya di-suspend pula!

Rencana Investasi: Kapan Harus Buy, Hold, or Sell?

Salah satu teknik/strategi dalam berinvestasi di saham adalah terkait bagaimana mengelola portofolio setiap beberapa waktu sekali agar menjadi ‘rapih’ kembali setelah sebelumnya ‘berantakan’, dengan cara melepas saham-saham yang tidak produktif/turun, meng-hold saham-saham yang masih berpotensi untuk naik lebih lanjut, dan membeli saham-saham baru untuk menggantikan saham-saham yang dilepas. Bahasa kerennya untuk strategi seperti ini adalah portfolio re-balancing. Portfolio rebalancing ini sangat penting untuk dilakukan entah itu anda adalah seorang investor jangka panjang, ataupun trader.

Cara Membedakan Laporan Keuangan ‘Palsu’

Berdasarkan pengalaman penulis ketika beberapa kali mengadakan seminar investasi saham, salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh peserta seminar ketika sesi tanya jawab adalah soal bagaimana cara kita mengetahui apakah laporan keuangan sebuah perusahaan menyajikan angka-angka (pendapatan, laba bersih dll) yang sebenarnya atau tidak. Atau dengan kata lain, bagaimana jika kita melihat bahwa laporan keuangan sebuah perusahaan tampak bagus dengan laba bersih yang besar dll, namun ternyata itu karena pihak perusahaan memalsukan laporan keuangannya tersebut? Nah, berhubung ini mungkin merupakan pertanyaan dari banyak sekali teman-teman investor, maka sekalian saja kita bahas disini. Okay, kita langsung saja.

Kedawung Setia Industrial

Kalau anda ketik kata ‘Kedawung Setia Industrial’ di Google, maka anda akan menemukan fakta menarik bahwa perusahaan ini, meski hanya merupakan perusahaan kecil dengan volume transaksi saham yang juga tidak likuid, namun sudah cukup sering dibahas oleh analis/investor dari sisi fundamentalnya, dan terutama: Dari sisi valuasinya yang sangat rendah. Dan memang, dengan PBV yang hanya 0.4 kali pada harga Rp369 per saham, sementara kinerja perusahaannya juga tidak bisa dikatakan buruk, saham PT Kedawung Setia Industrial, Tbk (KDSI) sangat menarik bagi para bargain hunter. Lalu sebenarnya perusahaan apa sih, KDSI ini?

Tips Memilih Sekuritas

Anda sudah nonton film The Wolf of Wallstreet? (Jika belum, nonton dulu sana). Film tersebut menceritakan tentang kisah karier Jordan Belfort, seorang broker/pialang saham di Pasar Saham Amerika (Wallstreet) pada tahun 90-an, yang sangat ahli dalam meyakinkan para nasabahnya untuk membeli dan menjual saham-saham tertentu, dimana ia kemudian memperoleh trading fee dari situ. Karena keahliannya tersebut ia sukses mendirikan perusahaan pialangnya sendiri, Stratton Oakmont, dan menjadi sangat kaya raya pada usia yang belum genap 30 tahun. Namun endingnya cukup ironis: Belfort ditangkap pihak berwajib karena ketahuan melakukan insider trading, yang menyebabkan kerugian nasabahnya hingga puluhan juta Dollar.

Outlook Sektor Sawit: Antara Harga CPO dan Biodiesel

Setelah sempat turun sedikit pada bulan Mei – Juni kemarin, sepanjang dua bulan terakhir IHSG terus naik hingga terakhir ditutup di posisi 5,199. Jika trend-nya begini terus, maka sepertinya cuma soal waktu saja sebelum IHSG akan kembali mencatat new high, dimana posisi tertinggi yang pernah diraih IHSG selama ini adalah 5,251, yang dicapai pada Mei 2013 lalu. Dalam kondisi pasar yang kondusif seperti sekarang, maka hampir semua saham tampak naik signifikan. Meski demikian, saham-saham di sektor perkebunan kelapa sawit justru turun rata-rata 10% dalam dua bulan terakhir, padahal kinerja mereka pada Kuartal II 2014 terbilang bagus dengan perolehan laba yang naik signifikan. What’s wrong?

Cara Membangun 'Passion' dalam Berinvestasi

Pada hari Minggu ini, berhubung ibunya anak-anak mengajak dua jagoan kami menonton lomba Agustusan, sementara penulis sendiri kurang tertarik untuk ikut lomba panjat pinang atau semacamnya, maka jadilah saya diam saja dirumah, dan mengisi waktu dengan membaca-baca berbagai macam tulisan di internet. Selain membaca segala sesuatu tentang dunia finansial khususnya tentang investasi di pasar saham, penulis juga menyukai sepakbola, kuliner, dan terutama: Sejarah. Jika ada kelas ujian dimana penulis harus menyebutkan siapa saja nama-nama Kaisar dari Dinasti Han di Tiongkok, maka saya akan bisa menjawabnya dengan lengkap, mulai dari Kaisar Gaozu sebagai pendiri dinasti, hingga terakhir Kaisar Xian. Nah, dari sinilah penulis kemudian punya ide untuk menulis artikel ini, yang mudah-mudahan bisa memberi anda sedikit inspirasi.

Ebook Analisis Kuartal II 2014

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal II 2014 (Q2 2014). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Multi Indocitra: Another Value Stock

Multi Indocitra (MICE) mungkin bukanlah perusahaan yang cukup populer entah itu di mata investor pasar modal maupun masyarakat umum, namun perusahaan ini adalah produsen dari salah satu merk produk perlengkapan kebutuhan bayi paling terkenal di Indonesia: Pigeon, dan juga kosmetik dengan merk yang sama. MICE juga sempat memiliki bisnis sampingan dengan membuat lampu hemat energi merk ‘Hori’, namun sepertinya gagal sehingga perusahaan kembali fokus ke bisnis utamanya, yakni perlengkapan kebutuhan bayi dan kosmetik.

Jurus Beli Tapi Nyicil: Dollar Cost Averaging!

Kalau anda googling kata ‘Dollar Cost Averaging (DCA)’ di internet, maka definisinya ada macam-macam. Namun definisi dari DCA menurut penulis adalah, ‘Membeli saham yang sama secara sedikit demi sedikit dan terus menerus, dengan tujuan untuk memiliki saham tersebut sebanyak mungkin’. Kalau sudah megang banyak, selanjutnya apa? Ya hold saja saham tersebut untuk seterusnya. Keuntungan yang diperoleh bukan lagi berupa kenaikan harga saham, melainkan dividen yang dibagikan oleh perusahaan setiap tahun. Sebab ketika anda memegang saham tertentu dalam jumlah sedikit, maka dividen yang diperoleh juga sedikit. Tapi bagaimana jika megangnya banyak?

Bukit Asam (PTBA)

Pada hari ini, Jumat tanggal 25 Juli 2014, mulai terdapat banyak emiten yang merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal II 2014, baik itu melalui website BEI maupun koran. Sayangnya sebagian besar diantara mereka mencatat kinerja yang mengecewakan, jika ukurannya adalah laba bersihnya yang tumbuh negatif alias turun. Meski demikian ada satu emiten yang mencuri perhatian karena kenaikan labanya yang menonjol, yakni lebih dari 30%, dan emiten itu adalah PT Bukit Asam (PTBA). Perusahaan batubara ini mungkin mewakili kinerja sektor batubara secara keseluruhan yang memang mulai menggeliat kembali pada tahun 2014 ini, setelah dua tahun sebelumnya cenderung lesu. Prospek kedepan?

Chitose International

Apa yang terlintas di kepala anda ketika mendengar kata ‘Chitose’? Kalau penulis sih, saya langsung teringat dengan kursi-kursi lipat yang suka ada di acara-acara kondangan. Dan Chitose International (CINT) adalah memang merupakan perusahaan produsen kursi lipat (folding chair) paling terkemuka di Indonesia. Namun pada saat ini CINT tidak hanya membuat kursi lipat saja, melainkan membuat berbagai produk furniture umum untuk dijual ke perusahaan event organizer (untuk mereka sewakan ke acara pernikahan dll), gedung-gedung kantor, residensial, hotel, restoran, sekolah, hingga rumah sakit. Untuk kedepannya perusahaan masih memiliki sejumlah rencana pengembangan usaha, dimana kebutuhan dananya diperoleh dari IPO-nya pada bulan Juni 2014 kemarin.

Antara Pajak, Inflasi, dan Return Investasi

Apa itu inflasi? Saya yakin teman-teman akan setuju jika inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Tapi menurut saya itu hanya mitos. Inflasi menurut saya adalah cara pemerintah menarik pajak dari rakyatnya dengan cara mencetak uang baru sehinga jumlah uang yang beredar lebih banyak dari jumlah barang yang beredar.

Cipaganti Citra Graha

Setelah mengalami keterlambatan pembayaran bunga, plus juga gagal mengembalikan modal pokok milik para investor selama beberapa bulan, pihak penegak hukum akhirnya turun tangan terhadap kasus Koperasi Cipaganti. Tidak tanggung-tanggung, kemarin Polda Jabar menetapkan status tersangka kepada tiga orang sekaligus. Mereka adalah Andianto Setiabudi, Julia Sri Redjeki, dan Yulinda Tjendrawati, yang merupakan pengurus utama koperasi yang masih satu keluarga. Karena ketiga figur ini merupakan juga anggota manajemen langsung dari Cipaganti Citra Graha (CPGT), dalam hal ini sebagai presiden direktur, presiden komisaris, dan komisaris, maka jadilah saham CPGT kena imbasnya dan sempat jatuh hingga ke posisi 54, atau turun lebih dari 70% dibanding harga IPO-nya yakni 190, sebelum kemudian naik lagi ke posisinya saat ini yakni 72.

Akhirnya! Jokowi!

Hari ini, Rabu, tanggal 9 Juli 2014 pukul 16.00, berdasarkan data quick count yang ditampilkan oleh Bloomberg TV (stasiun televisi yang, menurut penulis, boleh dikatakan netral dalam Pilpres kali ini), pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden nomor urut dua, yakni Joko Widodo dan Jusuf Kalla, atau disingkat Jokowi-JK, unggul dalam Pilpres 2014 dengan mengantongi 52.9% suara, berbanding pasangan Prabowo-Hatta yang hanya memperoleh 47.1% suara. Meski kemenangan ini terbilang sangat tipis, dan data quick count yang ditampilkan oleh stasiun televisi lain ada juga yang justru memenangkan Prabowo, namun sebagian besar data hasil quick count lebih berpihak pada Jokowi.

Polling: Prabowo, atau Jokowi? (Forum)

Untuk minggu ini kalau kita bahas soal saham apapun, maka rasa-rasanya itu tidak akan menarik mengingat pandangan, fokus, dan pikiran semua orang tertuju pada Pilpres tanggal 9 Juli mendatang, yang tinggal hitungan hari lagi. Bahkan kalau anda ketemu dengan calon investor dari luar negeri sana, maka yang mereka tanyakan bukan 'Saham apa yang bagus?', melainkan, 'Siapa Presiden yang akan terpilih?'

Tips & Contoh Trading Ala Value Investor

Pada salah satu annual letter-nya di tahun 1960-an, Warren Buffett pernah ngomong begini, ‘Cara kerja kami adalah membeli saham-saham pada harga yang serendah-rendahnya, sehingga jika nanti kami menjualnya pada harga yang tidak terlalu tinggi sekalipun, kami tetap akan memperoleh keuntungan.’ Contoh aplikasinya bagaimana, dalam hal ini kalau di pasar saham Indonesia? Nah, kebetulan ada saham yang belakangan ini sedang penulis amati karena valuasinya sudah cukup murah. Saham tersebut adalah Bank BTN (BBTN).

Strategi Portofolio: Antara Blue Chip dan Second Liner

Beberapa waktu lalu ada seorang teman yang bertanya seperti ini kepada penulis, ‘Pak Teguh, kenapa Warren Buffett nggak suka saham-saham teknologi ya? Padahal kalau dia beli Apple, Google, Microsoft.. dalam jangka panjang untungnya bisa gila-gilaan tuh.’ Dan penulis menjawab. ‘Buffett mengatakan bahwa ia tidak mengerti teknologi. Tapi saya pikir alasan sebenarnya adalah karena ia menyadari bahwa bisnis ini berisiko tinggi. Contohnya, antara tahun 1995 – 1999, di Amerika berkembang banyak sekali perusahaan teknologi, termasuk didalamnya perusahaan internet, hingga sempat terjadi dot com bubble. Tapi setelah dot com bubble tersebut meletus, hampir semuanya bangkrut kecuali Google dan Yahoo’.

Gema Grahasarana

Periode Kuartal I 2014 kemarin merupakan periode dimana kinerja sebagian besar para emiten lapis dua mengalami kemunduran, jika ukurannya adalah laba bersihnya yang turun dibanding periode yang sama tahun 2013. Sementara kondisi yang sebaliknya dialami oleh para emiten besar (saham-saham bluechip), dimana laba bersih mereka naik signifikan. Entah ini merupakan semacam siklus atau hanya kebetulan, namun yang jelas hal ini berdampak pada banyaknya saham-saham lapis dua yang turun dalam satu atau dua bulan terakhir ini. Salah satunya Gema Grahasarana (GEMA), dimana perusahaan mencatatkan penurunan laba sekitar 40% dan alhasil sahamnya terus turun hingga sekarang sudah berada di level 380. Namun dengan PBV yang saat ini tercatat hanya 0.8 kali, maka pertanyaannya adalah apakah sekarang dia sudah cukup murah?

Jika Prabowo Menjadi Presiden..

Kalau kita perhatikan pergerakan IHSG dalam beberapa bulan terakhir ini, dimana indeks naik tajam pada tanggal 14 Maret lalu ketika Jokowi resmi dicalonkan sebagai Presiden, dan sebaliknya turun drastis ketika Prabowo memperoleh dukungan dari Golkar, maka tampak jelas bahwa mayoritas pelaku pasar (terlepas dari pilihan pribadi tiap-tiap investor) lebih memilih Jokowi sebagai Presiden RI. However, pertama-tama anda harus menyadari bahwa jumlah investor di pasar saham Indonesia itu nggak sampai 500 ribu orang, alias sangat sedikit dibanding jumlah total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa. Jadi bahkan jika seluruh investor saham tanpa terkecuali memilih Jokowi, maka itu tetap tidak menjadi jaminan bahwa Jokowi akan menang.

Resource Alam Indonesia

Dalam beberapa kali kesempatan ngobrol santai dengan Bapak Lo Kheng Hong, beliau menyampaikan bahwa terdapat setidaknya dua saham di sektor batubara yang sangat menarik untuk investasi karena valuasinya yang rendah. Dua saham tersebut adalah Bumi Resources (BUMI), dan Resource Alam Indonesia (KKGI). Untuk BUMI, well, penulis pribadi punya pendapat yang sedikit berbeda. Namun untuk KKGI, saham ini memang menarik, dan itu bukan karena ‘romantisme masa lalu’ dimana KKGI ini sempat menghasilkan cuan besar ketika naik sampai 8,000-an di awal tahun 2012 lalu, melainkan karena valuasinya yang rendah, prospeknya yang cerah, dan perusahaannya sendiri juga tidak bermasalah. Anyway, kita langsung sajalah.

15 Prinsip Investasi ala Buffett

Pada bulan Juni 1996, chairman Berkshire Hathaway, Warren Buffett, merilis sebuah buku kecil berjudul ‘An Owner’s Manual’, yakni semacam buku panduan bagi investor pemegang saham Berkshire. Buku tersebut berisi 13 plus 2 prinsip Berkshire dalam berbisnis, atau dalam hal ini: Berinvestasi. Ketiga belas prinsip tersebut sudah diciptakan oleh Buffett sejak tahun 1983, dan seluruhnya masih relevan hingga saat ini, atau paling tidak seperti itulah yang dikatakan Buffett di Annual Letter-nya yang terakhir, yakni edisi tahun 2013. Nah, disini penulis akan mengajak anda untuk juga membaca prinsip-prinsip ala Buffett tersebut, tentunya yang sudah saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Okay, kita langsung saja:

Investor Berpengalaman vs Pemula: Which is Better?

Hari ini penulis menerima email yang isinya kira-kira begini, ‘Pak Teguh, saya investor newbie/pemula. Terus terang saya takut sekali untuk membeli saham, saya takut salah kemudian rugi. Apalagi saya baca-baca di internet, katanya seorang investor saham hampir pasti akan menderita kerugian di tahun pertamanya karena belum berpengalaman. Apa nggak ada cara agar saya bisa langsung untung di saham?’ Nah, penulis terus terang bingung juga menjawabnya bagaimana. Tapi berhubung ini mungkin pertanyaan umum dari kebanyakan investor baru atau calon investor, maka sekalian saja saya bikin artikelnya.

Indofood Sukses Makmur

Indofood Sukses Makmur (INDF), seperti yang anda ketahui merupakan perusahaan makanan terbesar di Indonesia, bahkan salah satu yang terbesar di dunia, dengan variasi produk mulai dari minyak goreng, margarin, tepung terigu, mi instan, makanan ringan, sirup, makanan bernutrisi, penyedap rasa, susu, dan gula. Melalui anak usahanya yakni Salim Ivomas Pratama (SIMP), INDF juga merupakan perusahaan perkebunan terbesar di dunia dari sisi luas lahannya yang mencapai 483 ribu hektar. Jadi yap, INDF ini memang besar sekali. Tapi penulis cukup terkejut ketika membaca laporan tahunan perusahaan, dimana INDF ini ternyata masih terus berekspansi untuk menjadi lebih besar lagi. Terakhir, perusahan milik Grup Salim ini sudah melebarkan sayapnya hingga ke Tiongkok, dengan mengakuisisi China Minzhong Food Corp., sebuah perusahaan pengolahan sayuran.

Jokowi - JK: Confirmed!

Salah satu isu terpenting setelah majunya Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden adalah tentang siapa tokoh yang akan dipilih sebagai calon wakil presidennya. Dan setelah berkali-kali ditunda, hari ini akhirnya diumumkan bahwa tokoh tersebut adalah Jusuf Kalla atau JK. Kebetulan, jika melihat track recordnya yang sangat baik selama menjadi wakil presiden RI pada periode 2004 – 2009, JK adalah tokoh yang memang diinginkan oleh pasar. Alhasil sejak jumat kemarin dan juga berlanjut pada hari ini, IHSG melompat naik dan sekarang sudah berada di level 5,000-an kembali. Pertanyaannya tentu saja, what’s next?

Steel Pipe Industry of Indonesia

Sejak listing perdana pada 22 Februari 2013 lalu di harga 295, saham Steel Pipe Industry of Indonesia, yang sering juga disingkat Spindo (ISSP), bukannya naik tapi malah turun.. dan terus turun hingga sempat menyentuh 131 sebagai titik terendahnya, meski kemudian mulai naik lagi dan terakhir ditutup di 168. Kalau melihat model bisnisnya yang nggak biasa, yakni membuat dan menjual pipa-pipa baja, ISSP memang agak sulit untuk dijadikan pilihan investasi jangka panjang karena kinerja perusahaan kedepannya bisa sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga bahan baku, pelemahan Rupiah, dll. However, kalau melihat valuasi sahamnya yang terdiskon, manajemennya yang konservatif, serta kinerja terbaru perusahaan yang jelas-jelas masih oke, maka ISSP ini terlalu menarik untuk diabaikan. Okay, berikut ulasan selengkapnya.

Koperasi Cipaganti

Akhir-akhir ini di media banyak beredar pemberitaan bahwa Koperasi Cipaganti Karya Graha Persada, atau disingkat Koperasi Cipaganti saja, mulai mengalami kesulitan dalam membayar imbal hasil/bunga bulanan kepada para investornya, dan sudah tentu para investor ini mulai ketar ketir, belum lagi pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) langsung angkat tangan terhadap masalah ini dan malah melemparnya ke pihak Kementerian Koperasi (tapi bener juga sih). Menariknya banyak orang yang menyangka bahwa perusahaan yang listing di BEI, yakni Cipaganti Citra Graha (CPGT) merupakan Koperasi Cipaganti tersebut, padahal bukan. Anyway, mari kita pelajari lebih lanjut tentang Koperasi Cipaganti ini, termasuk bagaimana kira-kira ending dari kasus keterlambatan pembayaran imbal hasilnya.

Belajar Valuasi: Kepentingan Non-Pengendali

Beberapa waktu lalu penulis menerima email pertanyaan dari seorang teman, yang isinya kurang lebih sebagai berikut: ‘Mas Teguh, di artikel tentang Toba Bara Sejahtra (TOBA), disebutkan bahwa laba bersih TOBA untuk Kuartal I 2014 adalah US$ 7.7 juta. Tapi saya lihat di koran ditulis labanya US$ 12.8 juta. Mana yang benar?’ Penulis katakan, dua-duanya benar. Lho kok bisa? Well, penjelasannya sebagai berikut.

Toba Bara Sejahtra

Toba Bara Sejahtra (TOBA) menjadi perusahaan batubara pertama di BEI yang sudah merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2014, dan perolehan labanya yang mencapai US$ 7.7 juta (setara Rp85 milyar, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk) menyebabkan sahamnya menjadi terlalu menarik untuk diabaikan, karena laba tersebut tumbuh dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2013, dan karena dengan perolehan labanya tersebut, TOBA kini mencatat ROE 27.6%, cukup tinggi untuk ukuran saham yang saat ini hanya dihargai pada valuasi PBV 1.3 kali.

Melirik Kembali Saham-Saham Perkebunan

Tak terasa kita sudah memasuki penghujung bulan April, dan itu artinya sebentar lagi para emiten akan merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2014. Malah hingga artikel ini ditulis, terdapat setidaknya tiga emiten yang sudah merilis laporan keuangan tersebut. Mereka adalah Bank Danamon (BDMN), Bank Mutiara (BCIC), dan Astra Agro Lestari (AALI). Yang mencuri perhatian adalah emiten/saham yang disebut terakhir, yakni AALI, dimana laba bersihnya tercatat Rp810 milyar, atau melompat lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2013. Disisi lain kalau kita melirik harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia, angkanya sudah stabil di RM2,600-an per ton, setelah sebelumnya sempat anjlok hingga RM2,200 per ton. Waktunya bagi perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk bangkit kembali?

Bakrie Group: Still Believe?

Bicara mengenai Grup Bakrie memang nggak akan ada habisnya, dan itu bukan karena salah seorang pemiliknya, yakni Aburizal Bakrie, merupakan salah satu calon Presiden untuk Pilpres September nanti. Melainkan karena seluruh perusahaannya yang terdaftar di bursa saham, semuanya mencatatkan kinerja yang sangat amat luar biasa.. jeleknya! Hingga hari ini, Rabu tanggal 16 April 2014, terdapat setidaknya delapan emiten Grup Bakrie yang sudah merilis laporan keuangannya untuk tahun penuh 2013. Dan berikut adalah rangkuman kinerja laba rugi mereka, angka dalam milyaran Rupiah:

Jokowi, ARB, atau Prabowo?

Setelah menunggu sekian lama, tanggal 9 April kemarin rakyat Indonesia akhirnya melaksanakan Pemilu legislatif, dan seperti biasa hasil dari Pemilu tersebut bisa langsung diketahui tak lama kemudian. Berdasarkan data dari quick count, terdapat tiga partai pemenang untuk Pemilu kali ini, yakni PDI-P, Golkar, dan Gerindra. Para kader dari partai yang kalah sudah tentu akan mengatakan bahwa ini baru merupakan hasil dari quick count, dan bahwa kita masih harus menunggu perhitungan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun berdasarkan pengalaman dari pemilu-pemilu sebelumnya (termasuk juga pilkada), hasil quick count ini tidak akan berbeda jauh dengan hasil perhitungan resmi, dimana posisi tiga besar diatas kemungkinan tidak akan berubah.

Krakatau Steel: Development Updates

Sekitar setahun yang lalu, penulis merilis artikel berjudul The Sleeping Giant, dimana disitu penulis mengatakan bahwa meski hingga Kuartal III 2012, Krakatau Steel (KRAS) secara operasional masih mencatatkan kerugian, namun perusahaan ini memiliki banyak sekali rencana pengembangan usaha yang jika pengembangan tersebut berjalan lancar dan sukses, maka perusahaannya juga akan untung besar. Itulah sebabnya judul artikelnya ‘the sleeping giant’, dimana penulis mengandaikan bahwa KRAS ini adalah seperti raksasa yang tertidur, yang siap untuk bangun dan ‘mengamuk’ sewaktu-waktu, karena pasar baja di Indonesia sendiri sebenarnya memiliki prospek cerah seiring dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur dan lain-lain.

Mitrabahtera Segara Sejati

Bagi anda yang sudah hafal dengan gaya investasi penulis, anda mungkin sudah tahu alasan kenapa penulis membahas saham yang satu ini. Yup, Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS) terlalu menarik untuk diabaikan mengingat valuasinya yang rendah, yakni PER 4.4 dan PBV 0.7 kali pada harga saham 1,050, sementara tidak ada yang salah kinerja perusahaan. Hingga tahun penuh 2013, MBSS mencatatkan laba bersih US$ 39 juta, yang mencerminkan return on equity (ROE) 16.3%, dan ekuitasnya sendiri bertumbuh 14.4%. Outlook kedepan? Well, juga no problem.

Menghitung Risiko Kerugian dalam Investasi Saham

Risiko mengalami kerugian dalam berinvestasi saham adalah bagian yang tidak terpisahkan dari investasi saham itu sendiri. Kebanyakan investor, baik yang masih baru maupun yang sudah berpengalaman, biasanya sudah sadar akan adanya risiko tersebut, namun jarang diantara mereka yang mau menaruh perhatian khusus terhadapnya. Setiap kali penulis bertemu dengan kawan-kawan sesama investor, biasanya mereka hanya suka membicarakan tentang seberapa besar potensi keuntungan yang bisa diraih, tanpa mau sedikitpun menyinggung tentang risiko kerugian yang bisa saja diderita. Intinya, ketika seorang investor mulai berinvestasi di saham, maka yang terbayang di benaknya adalah keuntungan sebesar sekian, tapi tidak terbayang sama sekali tentang berapa besar kerugian yang mungkin diderita, atau mungkin lebih tepatnya tidak mau membayangkan tentang hal tersebut. Dan itu wajar-wajar saja, memangnya siapa yang mau rugi?

Ketika Harga Saham Tidak Lagi Berarti Apapun

Beberapa hari lalu, manajemen Bank BTPN (BTPN) mengumumkan bahwa Sumitomo Mitsui Banking Corporation (Sumitomo) kembali membeli 15.7% saham BTPN melalui pasar negosiasi, dengan harga pembelian Rp6,500 per saham, atau jauh diatas harga pasar ketika itu yakni Rp4,300 per saham. Dengan demikian, Sumitomo resmi memegang 40% saham BTPN, namun inti ceritanya bukan terletak disitu, melainkan: Kenapa kok Sumitomo mau-maunya menggelontorkan dana hingga Rp15.2 trilyun untuk mengambil alih 40% saham BTPN di harga Rp6,500, padahal harga BTPN itu sendiri di pasar cuma Rp4,300?

Jokowi for President!

Jumat kemarin tanggal 14 Maret 2013, sekitar pukul 3 sore, Gubernur Jakarta, Joko Widodo alias Jokowi, mengumumkan kepada media bahwa beliau telah diberi mandat oleh Ketua Umum Partai PDI-P, Megawati Soekarnoputri, untuk maju sebagai capres. Dan setelah Jokowi sendiri mengakhiri kalimatnya dengan menyatakan, ‘Bismillah, saya siap’, maka dengan demikian mantan Walikota Solo ini resmi mencalonkan diri sebagai Presiden di Pilpres tahun 2014 yang akan digelar sebentar lagi. Daaaan ternyata.. para investor pasar modal menanggapi kabar ini dengan sangat antusias! Hanya satu atau dua menit setelah pencapresan Jokowi diumumkan, IHSG melaju dengan sangat kencang hingga secara dramatis ditutup menguat 3.2 persen! Atau tertinggi sepanjang tahun 2014, padahal sebelumnya IHSG sempat turun hingga 1%.

Seminar Value Investing, Pekanbaru

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar/workshop edukasi saham di Pekanbaru, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi dengan Fokus pada Harga Wajar Saham’. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Prospek IPO Wika Beton

Industri konstruksi identik dengan beton, karena entah itu gedung bertingkat, jalan tol, jembatan, hingga infrastruktur umum lainnya hampir pasti akan membutuhkan beton. Dan jika Wijaya Karya (WIKA) adalah salah satu dari beberapa perusahaan konstruksi besar di Indonesia, maka anak usahanya yakni Wijaya Karya Beton (WTON), adalah benar-benar merupakan produsen beton terbesar di Indonesia, yang memiliki delapan unit pabrik, enam wilayah penjualan, dan dua kantor representatif yang tersebar dari Binjai, Sumatera Utara, hingga Makassar, Sulawesi Selatan. Sementara kompetitor terdekat mereka, PT Adhimix Precast (bukan anak usaha dari ADHI), hanya memiliki empat unit pabrik.

Energi Mega Persada

Beberapa hari terakhir ini, salah satu saham Grup Bakrie, Energi Mega Persada (ENRG), kembali menjadi buah bibir para pelaku pasar setelah sahamnya naik dari 70 hingga sempat menembus 100, atau naik 35% hanya dalam waktu kurang dari sebulan. Penulis pribadi sebenarnya tidak peduli mau saham ini naik sampai 1,000 sekalipun, karena sejak tahun 2009 lalu penulis sudah memutuskan untuk mem-blacklist seluruh saham-saham Bakrie, termasuk juga ENRG, dan sampai sekarang keputusan tersebut belum berubah. However, mengingat ENRG mencatatkan laba US$ 214 juta di Kuartal III 2013 lalu, atau naik sekitar 10 kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, maka mungkin anda termasuk yang menganggap bahwa saham ini mulai menarik dari sisi fundamental karena disisi lain, PBV-nya pun cuma 0.4 kali alias murah sekali. Tapi benarkah demikian?

Is It Bullish Again, or What?

Kemarin Jumat tanggal 21 Februari 2014, IHSG ditutup di posisi 4,646, sehingga secara year to date, indeks sudah naik 8.7% sepanjang tahun 2014 ini. Secara psikologis, posisi IHSG pada saat ini mungkin membuat anda bingung: Apakah dia naik terlalu cepat sehingga nanti pada akhirnya dia akan jatuh, or it’s just the beginning of another bullish period? Bagaimana kalau nanti dia sukses menembus level 5,000 lagi seperti April tahun lalu? Nah, kalau di blog ini biasanya penulis rutin memberikan semacam ‘obat penenang’ setiap kali pasar anjlok seperti yang terjadi pada Agustus lalu agar anda tidak panik, maka mulai tahun ini penulis juga mungkin akan memberikan semacam ‘shock therapy’ setiap kali pasar mengalami euforia. Intinya sih dengan mengajak anda melihat IHSG dari analisis fundamentalnya, dan bukannya dari penurunan atau kenaikannya. Okay, kita langsung saja.

Adira Dinamika Multi Finance

Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) menjadi satu dari beberapa emiten yang pada saat ini sudah merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal IV 2013, alias Tahun Penuh 2013. Dan hasilnya? Well, quite good! Laba bersih perusahaan tumbuh signifikan yakni 20.3% sementara ekuitasnya juga naik 19.6%. Namun fakta menariknya adalah, berbeda dengan kinerja perusahaan yang masih lancar jaya sampai sekarang, saham ADMF justru terus melorot dalam dua tahun terakhir, dari puncaknya di 13,000-an hingga sekarang cuma 9,000 per saham. An opportunity for bargain hunter?

Jasa Marga

Jasa Marga (JSMR), seperti yang anda ketahui, merupakan perusahaan operator jalan tol terbesar di tanah air, dimana per akhir tahun 2012, perusahaan mengoperasikan total 73% dari seluruh panjang ruas jalan tol di Indonesia. Sebagai perusahaan pionir di industrinya, JSMR juga punya sejarah panjang sejak tahun 1978, yakni sejak perusahaan mengoperasikan jalan tol pertamanya yakni jalan tol Jagorawi, sehingga jika dibandingkan dengan beberapa perusahaan jalan tol swasta, JSMR praktis merupakan perusahaan yang paling mapan. But still, kesempatan bagi perusahaan untuk tumbuh berkembang tampak masih terbuka lebar, dimana pada tahun 2013 kemarin perusahaan baru menyelesaikan pembangunan jalan tol Tanjung Benoa, Bali, belum termasuk beberapa ruas jalan tol lainnya yang juga dijadwalkan akan selesai dibangun dalam waktu beberapa tahun kedepan. Prospek jangka panjang?

Seminar Lo Kheng Hong - 22 Februari

Dear investor, Penulis bekerja sama dengan Bapak Lo Kheng Hong untuk menghadirkan beliau dalam seminar singkat selama dua setengah jam, di Jakarta. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Teknik & Strategi Diversifikasi yang Efektif

Salah satu ‘problem alamiah’ dalam berinvestasi adalah tidak adanya kepastian akan masa depan, dimana sebuah perusahaan yang amat sangat mapan sekalipun bukannya tidak bisa tersandung masalah tertentu, mengalami kemunduran kinerja, atau bahkan bangkrut. Itu sebabnya dalam berinvestasi di saham, keputusan untuk memasukkan seluruh dana yang tersedia hanya pada satu saham saja, itu sangat tidak dianjurkan, tak peduli seyakin apapun anda terhadap saham tersebut. Kebijakan untuk menempatkan investasi pada lebih dari satu saham itulah, yang kemudian disebut dengan diversifikasi. Pertanyaannya kemudian, bagaimana sebaiknya teknik atau strategi diversifikasi yang disarankan?

Mengenal 'Strategi Kontrarian'

Di artikel dua minggu lalu penulis menyebutkan bahwa Lo Kheng Hong adalah tipikal investor yang kontrarian, dimana ia melakukan apa yang justru orang lain menghindarinya, misalnya membeli saham yang orang kebanyakan menganggapnya sebagai saham sampah. Nah, kalau berdasarkan pengalaman penulis sendiri, memang ada yang menarik dari istilah ‘kontrarian’ ini, dan kita akan membahasnya disini.

Astra International

Ada satu hal menarik ketika penulis melakukan screening saham rutin, beberapa waktu lalu, yakni munculnya saham Astra International (ASII) diantara saham-saham hasil screening tersebut. ASII tentu bukan nama asing bagi investor manapun, namun penulis sendiri sudah lupa kapan terakhir kali megang saham ini. However, berdasarkan beberapa pertimbangan, ASII pada saat ini mungkin bisa kembali menjadi pilihan investasi terutama bagi anda yang menyukai saham-saham blue chip dengan likuiditas tinggi.

Lo Kheng Hong, dan Bumi Resources

Bagi anda yang sudah membaca blog ini sejak lama, anda mungkin hafal bahwa jika ada saham yang penulis seperti punya ‘dendam pribadi’ terhadapnya, maka saham itu adalah Bumi Resources (BUMI). Alasannya? Bukan, bukan karena saya pernah cut loss di BUMI ini, karena saya nggak pernah memegangnya. Melainkan karena, ketika dulu penulis mulai masuk ke saham di tahun 2009, BUMI adalah saham dengan fundamental yang nol besar tapi anehnya dipegang oleh banyak sekali investor, tidak hanya investor retail lokal melainkan juga para fund manager asing, dan ketika itu praktis merupakan saham paling populer di Indonesia. Dan ini jelas aneh: Bagaimana mungkin saham dengan pengelolaan perusahaan yang paling amburadul yang pernah ada, justru menjadi saham favorit semua orang???

Antara Wismilak dan Sido Muncul

Dalam analisis fundamental, salah satu indikator yang biasa penulis pakai untuk mengetahui apakah perusahaan sudah cukup mapan atau tidak, adalah dengan melihat posisi saldo laba perusahaan, atau disebut juga laba ditahan (retained earnings). Simpelnya jika sebuah perusahaan memiliki saldo laba yang besar, yang merupakan akumulasi dari perolehan laba dimasa lalu, maka perusahaan tersebut sudah mapan, terbukti dengan adanya akumulasi laba tersebut. Contohnya? Kalbe Farma (KLBF). Pada Kuartal III 2013, KLBF mencatat posisi saldo laba Rp7.6 trilyun, berbanding modal disetornya yang hanya sebesar Rp508 milyar. Ini artinya nilai modal yang disetor pemegang saham KLBF hanya Rp508 milyar, namun akumulasi keuntungan yang dikumpulkan perusahaan selama ini sudah jauh lebih besar dibanding modal disetor itu sendiri.

Investasi Saham untuk Mahasiswa dan Ibu Rumah Tangga

Pak Teguh, saya adalah mahasiswa semester 4 yang baru saja memulai investasi saham. Ada saran? Saya sengaja ikut investasi karena sadar betul bahwa jika saya menyimpan tabungan saya di bank, maka nilai dari tabungan saya tersebut akan tergerus inflasi.

Catatan Awal Tahun 2014

Senin kemarin, tanggal 30 Desember 2013, IHSG ditutup di posisi 4,274. Mengingat pada tanggal yang sama tahun sebelumnya, IHSG ditutup di posisi 4,317, maka secara keseluruhan sepanjang tahun 2013 ini IHSG telah turun sebesar 1.0%. Penurunan tersebut memang tampak kecil, hanya satu persen. Namun jika dihitung dari posisi puncaknya yakni 5,251 yang dicapai pada Mei lalu, maka IHSG sudah turun 18.6%, alias sudah turun lumayan signifikan.