Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Kedawung Setia Industrial

Kalau anda ketik kata ‘Kedawung Setia Industrial’ di Google, maka anda akan menemukan fakta menarik bahwa perusahaan ini, meski hanya merupakan perusahaan kecil dengan volume transaksi saham yang juga tidak likuid, namun sudah cukup sering dibahas oleh analis/investor dari sisi fundamentalnya, dan terutama: Dari sisi valuasinya yang sangat rendah. Dan memang, dengan PBV yang hanya 0.4 kali pada harga Rp369 per saham, sementara kinerja perusahaannya juga tidak bisa dikatakan buruk, saham PT Kedawung Setia Industrial, Tbk (KDSI) sangat menarik bagi para bargain hunter. Lalu sebenarnya perusahaan apa sih, KDSI ini?


KDSI adalah satu dari sedikit perusahaan terdaftar di BEI yang tidak berkantor pusat di Jakarta, melainkan di Surabaya (dan mungkin karena itu pula sahamnya tidak ter-cover oleh analis sekuritas atau fund manager reksadana besar, karena mereka harus keluar kota kalau mau ketemu jajaran direksinya). Perusahaan bergerak di bidang pembuatan alat-alat dapur yang terbuat dari (panci, rantang, dll) yang dilapisi enamel, yakni semacam cat khusus yang membuat peralatan dapur tersebut menjadi warna-warni sehingga lebih enak dilihat dan berkesan ‘mahal’. Yap, KDSI tidak memproduksi peralatan dapur biasa, melainkan peralatan dapur kelas atas yang bisa anda beli di supermarket-supermarket besar.

Meski bukan perusahaan yang terlalu terkenal, namun KDSI praktis merupakan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia di bidang manufaktur peralatan dapur, yang sudah beroperasi sejak cukup lama (dari tahun 1970-an), dan sudah merambah pasar ekspor. Oleh BEI, KDSI diklasifikasikan sebagai perusahaan houseware atau produsen alat-alat rumah tangga, atau satu kelompok dengan Kedaung Indah Can (KICI), dan Langgeng Makmur Industri (LMPI).

Selain membuat panci dan wajan, KDSI juga memiliki satu anak usaha yang bergerak di bidang pembuatan kotak kertas karton alias kardus, wadah telur (yang juga terbuat dari kertas karton), dan tikar plastik. Pada perkembangannya, KDSI pada saat ini justru lebih banyak memproduksi dan menjual kotak kertas karton ketimbang peralatan dapur. Hingga Kuartal II 2014, dari pendapatan perusahaan senilai Rp795 milyar, Rp698 milyar diantaranya berasal dari penjualan kotak kertas karton, dan hanya Rp91 milyar yang berasal dari penjualan peralatan dapur (nilai penjualan wadah telur dan tikar plastik tercatat Rp7 milyar). Dan demikian pula di tahun-tahun sebelumnya, mayoritas pendapatan KDSI selalu berasal dari penjualan kotak kertas karton. Hal ini mungkin menimbulkan sedikit kebingungan, karena selama ini KDSI jauh lebih dikenal sebagai produsen alat-alat dapur ketimbang kotak kertas karton. Termasuk di website resmi perusahaan, www.kedawungsetia.com, sama sekali tidak disebutkan bahwa perusahaan memproduksi kotak kertas karton, melainkan hanya panci dan peralatan dapur lainnya. Tapi jika melihat fakta diatas, maka jelas sekali bahwa KDSI kurang cocok jika disebut sebagai perusahaan produsen peralatan rumah tangga, melainkan produsen kotak kardus.

Nah, terus terang penulis kurang paham soal bisnis kardus di Indonesia. Namun mengingat bahwa KDSI memproduksi kardus yang dijual ke perusahaan consumer seperti perusahaan rokok, makanan dan minuman, dan barang-barang elektronik, maka kita bisa berasumsi bahwa selama industri consumer maju terus, maka demikian pula kardus yang dijual KDSI akan selalu ada pembelinya. Dan kabar baiknya, seperti yang kita ketahui, industri consumer adalah industri yang paling stabil di dunia.

However, KDSI menghadapi beberapa tantangan dalam menjalani bisnisnya. Untuk segmen peralatan rumah tangga berlapis enamel, misalnya, trend-nya terus menurun sejak ASEAN – China Free Trade Area (ACFTA) diberlakukan di Indonesia pada tahun 2009, karena kini produk panci dan rantang milik perusahaan harus bersaing dengan produk-produk serupa asal Tiongkok yang membanjiri pasar domestik. Alhasil pada tahun 2013 lalu, KDSI hanya memproduksi 4,050 ton peralatan rumah tangga berlapis enamel, atau turun 12% dibanding tahun 2012. Tapi untungnya pemberlakuan ACFTA ini tidak berpengaruh terhadap bisnis kotak kertas karton yang juga dijalan perusahaan, dimana trend-nya tetap terus naik dalam lima tahun terakhir.

Dan mungkin karena itu pula, manajemen KDSI pada tahun 2013 lalu memutuskan untuk lebih fokus mengembangkan bisnis kardus, dimana mereka menginvestasikan Rp80 milyar untuk mendirikan pabrik kardus baru, yang akan meningkatkan kapasitas produksi dari 15,000 ton menjadi 29,000 ton kotak kertas karton per bulan. Pabrik baru tersebut pada saat ini sudah selesai dibangun dan juga sudah beroperasi, namun sepertinya belum bisa berkontribusi banyak terhadap peningkatan pendapatan dan laba perusahaan, dimana hingga Kuartal II 2014, laba KDSI hanya tumbuh 2.8%, meski pendapatannya 15.5%. Faktor penghambatnya kali ini adalah kenaikan harga bahan baku kertas karton untuk pembuatan kardus.

Berikut ini adalah beberapa poin lainnya yang penulis perhatikan dari KDSI.

  1. Dengan return on asset (ROA) yang hanya 3.9%, maka KDSI bukanlah perusahaan yang menguntungkan. Ketergantungan perusahaan akan bahan baku yang harus diperoleh dengan cara impor menyebabkan margin laba KDSI menjadi sangat tipis, yakni hanya sekitar 2 – 3%, meskipun pendapatannya terbilang sangat besar (lebih besar dari total aset perusahaan). Ini adalah salah satu kelemahan industri manufaktur di Indonesia, dimana banyak terdapat missing link dalam rantai industri itu sendiri. Sebagai contoh, Indonesia sebenarnya merupakan salah satu produsen kertas terbesar di dunia, namun kertas itu harus diekspor dulu keluar negeri untuk diolah menjadi kertas karton, kemudian baru diimpor lagi oleh KDSI. Seandainya ada perusahaan lokal yang bisa membuat kertas karton dalam skala besar (sebenarnya ada juga beberapa perusahaan lokal yang bisa mengolah limbah kertas menjadi kertas karton, tapi total kapasitas produksinya kecil sekali), maka KDSI bisa membeli bahan bakunya dengan harga yang lebih murah (dan tidak terlalu berfluktuasi) dari produsen lokal, sehingga margin labanya bisa lebih baik. Tapi sayangnya faktanya tidak demikian.
  2. Bisnis peralatan rumah tangga yang dijalani perusahaan selama ini ada kemungkinan bakal ditinggalkan sama sekali, karena digempur oleh dua masalah sekaligus: 1. ACFTA tadi, dan 2. Seretnya suplai bahan baku. Selama ini KDSI memperoleh bahan baku logam untuk membuat panci dari PT Krakatau Steel (KRAS), namun pihak KRAS sendiri akhir-akhir ini juga sering kehabisan barang, sehingga lagi-lagi KDSI harus impor.
  3. Manajemen KDSI bukanlah tipe manajemen yang terlalu agresif, dimana mereka biasanya hanya mentargetkan kenaikan pendapatan/laba bersih sebesar 10% saja per tahunnya, yang mungkin itu karena mereka, dengan mempertimbangkan faktor-faktor kesulitan diatas, lebih memilih untuk bersikap realistis. Untuk tahun 2014 ini memang ada kemungkinan kenaikan tersebut bisa lebih besar karena adanya pabrik baru, namun sekali lagi, lonjakan kenaikan tersebut sejauh ini belum kelihatan.
  4. Dalam lima tahun terakhir KDSI sukses membukukan kenaikan pendapatan dan laba bersih yang cukup konsisten meski, sekali lagi, persentase kenaikannya sama sekali tidak mengesankan. Pada tahun 2009, pendapatan KDSI tercatat Rp960 milyar, yang menjadi Rp1.4 trilyun pada tahun 2013, atau hanya naik total 44% setelah lima tahun. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis yang dijalani perusahaan, terutama bisnis kotak kertas karton, terbilang stabil dalam hal memperoleh pelanggan, namun rate pertumbuhannya hampir nol, karena ada kemungkinan bahwa kenaikan pendapatan tersebut hanya karena didorong oleh faktor inflasi (pendapatan perusahaan bisa naik karena KDSI menaikkan harga produk-produknya seiring inflasi, bukan karena peningkatan volume penjualan/omzet).
Nah, melihat fakta-fakta diatas, maka sulit untuk menyimpulkan bahwa KDSI ini layak untuk investasi. However, KDSI tetap dibahas di website ini karena alasan yang sudah disebut diatas: Dengan PER dan PBV yang masing-masing tercatat 4.0 dan 0.4 kali pada harga Rp369 per saham, maka KDSI ini sangatlah murah. Berdasarkan pengalaman, saham yang murah secara absolut (PBV-nya dibawah 1 kali, apalagi cuma 0.4 seperti KDSI ini) bisa naik bahkan melompat sewaktu-waktu jika laporan keuangannya menunjukkan peningkatan ekuitas atau laba bersih yang signifikan, katakanlah naik sampai 100% (dua kali lipat).

Dan karena KDSI baru saja meningkatkan kapasitas produksi kotak kertas kartonnya menjadi hampir dua kali lipat pada tahun ini, maka kemungkinan bahwa laba perusahaan bisa melompat sewaktu-waktu memang terbuka lebar, entah itu di Kuartal III nanti, atau periode berikutnya lagi. Okay, lompatan tersebut memang belum terjadi sejauh ini, dan itu sebabnya sahamnya pun belum kemana-mana (dan juga tidak likuid). Namun karena disisi lain saham KDSI ini juga sudah tidak bisa turun lebih rendah lagi bahkan jika nanti IHSG terkoreksi dalam (karena sudah kelewat murah, sementara perusahaannya sendiri, meski bukan perusahaan yang terlalu bagus, namun juga tidak pernah terkena masalah apapun), maka saham ini cocok bagi anda yang bersedia untuk menunggu untuk bisa memperoleh jackpot suatu waktu nanti, tanpa perlu khawatir bakal nyangkut. Meski memang, karena masalah likuiditasnya, saham ini kurang cocok bagi anda dengan dana besar, kecuali jika anda mau membelinya secara menyicil (lalu kemudian menunggu).

So, wanna test your patience? Sekedar informasi yang mungkin sebagian dari anda juga sudah tahu, Pak Haiyanto (value investor kawakan yang seangkatan dengan Om Lo Kheng Hong) juga memegang saham KDSI sejak cukup lama, yakni sejak tahun 2011 atau mungkin lebih lama lagi, dalam jumlah yang cukup besar, yakni hampir mencapai 210 ribu lot (per 30 Juni 2014) atau setara Rp7.7 milyar berdasarkan harga Rp369 per saham. Menariknya, jumlah kepemilikan Pak Haiyanto ini kadang naik dan kadang turun, dimana kalau sewaktu-waktu saham KDSI naik (sekitar satu setengah tahun lalu KDSI sempat naik sampai 700-an), maka kepemilikan tersebut akan berkurang, dan kalau saham KDSI lagi turun seperti sekarang, maka kepemilikan tersebut akan bertambah. Got the point? Intinya, Pak Haiyanto ini sebenarnya trading juga, hanya saja menggunakan metode value investing dan dengan jangka waktu yang relatif panjang (ketika beliau ambil saham KDSI, jualnya bisa satu tahun kemudian). Dan kalau melihat fakta bahwa setiap kali KDSI ini naik maka kenaikannya selalu lebih tinggi dari sekedar 5 – 10%, maka tampak jelas bahwa ‘trading’ ala Pak Haiyanto ini, meski membutuhkan kesabaran ekstra dan juga sedikit repot (karena belinya gak bisa sekaligus, melainkan harus nyicil), namun senantiasa menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit, sementara disisi lain risikonya nyaris nol!

And that’s what we call, ‘the beauty of value investing’.

PT. Kedawung Setia Industrial, Tbk
Rating Kinerja pada Q2 2014: BBB
Rating Saham pada 369: AA

Pengumuman: Jadwal seminar investasi saham oleh Teguh Hidayat adalah sebagai berikut: Makassar (20 September 2014), Jakarta (27 September), dan Semarang (4 Oktober). Keterangan lebih lanjut bacadisini.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

10 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

21000x100xRp369=774,9jt. bukan 7.7milyar pak. jadi invest nya gak sampai milyaran.

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

@Anonim Oh iya salah, maksud saya Pak Haiyanto megang KDSI 210 ribu lot, bukan 21 ribu. Jadi bener dia megangnya Rp7.7 milyar. Artikelnya sudah saya perbaiki.

Anonim mengatakan... Balas

@Teguh Hidayat

KDSI akan susah juga terbang jika pak haryanto mau lepas sahamnya saat itu saham berusaha naik :D

Anonim mengatakan... Balas

Pak teguh, saya ingin sekali anda memberikan review tentang saham PT Siantar Top. Apakah perusahaan consumer itu memiliki keunggulan seperti perusahaan consumer lainnya? Sebelumnya saya ucapkan terima kasih

Maclaurin Hutagalung mengatakan... Balas

Mas Teguh, boleh tolong bahas ULTJ juga? Beberapa bulan ini saya memperhatikan saham ULTJ. Setelah membaca artikel ini, saya pikir ada kemiripan antara ULTJ dengan KDSI dalam hal likuiditas. Namun bagaimana dengan valuasi-nya? Terima kasih atas perhatiannya.

Anonim mengatakan... Balas

Pak Teguh, bisa tolong ulas saham MYOH? Kontraktor batubara dengar PER disetaunkan hanya sekitar 4 dan ROE >30%
Managementnya jg bagus, dari perusahaan Korea

Anonim mengatakan... Balas

Mas Teguh, tolong bahas INDY karena sepertinya sudah murah & bottom-nya di 475, ditambah ada gap di 2150 & break MA200.

Terimakasih

Anonim mengatakan... Balas

Pak Teguh, kalau INKP gimana? PER 5,5X, dan PBV 0,2X, tolong di ulas dong.

Anonim mengatakan... Balas

Mr Teguh how are you, would you give any explanation about SDPC Millennium Pharmacon, Barito Pacific BRPT, Tjiwi Kimia, Leyand LAPD..any time..? Thanks in advance.

Brian Fendy mengatakan... Balas

Selamat pagi Pak Teguh. Semalam saya menonton ulang video youtube bapak. Bapak pernah menyebutkan jika likuidasi kurang dari Rp 1 milyar sebaiknya kita tinggalkan saham tersebut. Apakah ada pengecualian?

Dalam Kasus KDSI ini likuidasinya hanya kira" Rp 50 juta.
Jika kita lihat perusahaan KDSI ini cukup konsisten utk menumbuhkan Laba bersihnya dan untuk NIM terus meningkat jika kita pantau dari tahun 2008 dari 1.57% meningkat ke 2.6% di 2013. Dengan TAT 1.6x. Dengan Harga PBV 0.4 yang hampir setara dengan Retained Earningnya, saya setuju dengan Pak Teguh betapa menariknya saham KDSI ini.

Terima Kasih Pak Teguh karena telah berbagi ilmu ke kita. Di tunggu buat video lain nya Pak.