Jadwal Kelas Value Investing: Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 8 Juli 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin! TeguhHidayat.com tetap online selama libur lebaran. Jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

Tips & Contoh Trading Ala Value Investor

Pada salah satu annual letter-nya di tahun 1960-an, Warren Buffett pernah ngomong begini, ‘Cara kerja kami adalah membeli saham-saham pada harga yang serendah-rendahnya, sehingga jika nanti kami menjualnya pada harga yang tidak terlalu tinggi sekalipun, kami tetap akan memperoleh keuntungan.’ Contoh aplikasinya bagaimana, dalam hal ini kalau di pasar saham Indonesia? Nah, kebetulan ada saham yang belakangan ini sedang penulis amati karena valuasinya sudah cukup murah. Saham tersebut adalah Bank BTN (BBTN).

Strategi Portofolio: Antara Blue Chip dan Second Liner

Beberapa waktu lalu ada seorang teman yang bertanya seperti ini kepada penulis, ‘Pak Teguh, kenapa Warren Buffett nggak suka saham-saham teknologi ya? Padahal kalau dia beli Apple, Google, Microsoft.. dalam jangka panjang untungnya bisa gila-gilaan tuh.’ Dan penulis menjawab. ‘Buffett mengatakan bahwa ia tidak mengerti teknologi. Tapi saya pikir alasan sebenarnya adalah karena ia menyadari bahwa bisnis ini berisiko tinggi. Contohnya, antara tahun 1995 – 1999, di Amerika berkembang banyak sekali perusahaan teknologi, termasuk didalamnya perusahaan internet, hingga sempat terjadi dot com bubble. Tapi setelah dot com bubble tersebut meletus, hampir semuanya bangkrut kecuali Google dan Yahoo’.

Gema Grahasarana

Periode Kuartal I 2014 kemarin merupakan periode dimana kinerja sebagian besar para emiten lapis dua mengalami kemunduran, jika ukurannya adalah laba bersihnya yang turun dibanding periode yang sama tahun 2013. Sementara kondisi yang sebaliknya dialami oleh para emiten besar (saham-saham bluechip), dimana laba bersih mereka naik signifikan. Entah ini merupakan semacam siklus atau hanya kebetulan, namun yang jelas hal ini berdampak pada banyaknya saham-saham lapis dua yang turun dalam satu atau dua bulan terakhir ini. Salah satunya Gema Grahasarana (GEMA), dimana perusahaan mencatatkan penurunan laba sekitar 40% dan alhasil sahamnya terus turun hingga sekarang sudah berada di level 380. Namun dengan PBV yang saat ini tercatat hanya 0.8 kali, maka pertanyaannya adalah apakah sekarang dia sudah cukup murah?

Jika Prabowo Menjadi Presiden..

Kalau kita perhatikan pergerakan IHSG dalam beberapa bulan terakhir ini, dimana indeks naik tajam pada tanggal 14 Maret lalu ketika Jokowi resmi dicalonkan sebagai Presiden, dan sebaliknya turun drastis ketika Prabowo memperoleh dukungan dari Golkar, maka tampak jelas bahwa mayoritas pelaku pasar (terlepas dari pilihan pribadi tiap-tiap investor) lebih memilih Jokowi sebagai Presiden RI. However, pertama-tama anda harus menyadari bahwa jumlah investor di pasar saham Indonesia itu nggak sampai 500 ribu orang, alias sangat sedikit dibanding jumlah total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa. Jadi bahkan jika seluruh investor saham tanpa terkecuali memilih Jokowi, maka itu tetap tidak menjadi jaminan bahwa Jokowi akan menang.

Resource Alam Indonesia

Dalam beberapa kali kesempatan ngobrol santai dengan Bapak Lo Kheng Hong, beliau menyampaikan bahwa terdapat setidaknya dua saham di sektor batubara yang sangat menarik untuk investasi karena valuasinya yang rendah. Dua saham tersebut adalah Bumi Resources (BUMI), dan Resource Alam Indonesia (KKGI). Untuk BUMI, well, penulis pribadi punya pendapat yang sedikit berbeda. Namun untuk KKGI, saham ini memang menarik, dan itu bukan karena ‘romantisme masa lalu’ dimana KKGI ini sempat menghasilkan cuan besar ketika naik sampai 8,000-an di awal tahun 2012 lalu, melainkan karena valuasinya yang rendah, prospeknya yang cerah, dan perusahaannya sendiri juga tidak bermasalah. Anyway, kita langsung sajalah.

15 Prinsip Investasi ala Buffett

Pada bulan Juni 1996, chairman Berkshire Hathaway, Warren Buffett, merilis sebuah buku kecil berjudul ‘An Owner’s Manual’, yakni semacam buku panduan bagi investor pemegang saham Berkshire. Buku tersebut berisi 13 plus 2 prinsip Berkshire dalam berbisnis, atau dalam hal ini: Berinvestasi. Ketiga belas prinsip tersebut sudah diciptakan oleh Buffett sejak tahun 1983, dan seluruhnya masih relevan hingga saat ini, atau paling tidak seperti itulah yang dikatakan Buffett di Annual Letter-nya yang terakhir, yakni edisi tahun 2013. Nah, disini penulis akan mengajak anda untuk juga membaca prinsip-prinsip ala Buffett tersebut, tentunya yang sudah saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Okay, kita langsung saja: