Jadwal Kelas Value Investing: Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 8 Juli 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin! TeguhHidayat.com tetap online selama libur lebaran. Jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

A 'Grown Up' Stock Market

Dalam mengevaluasi kinerja investasi di tahun 2015, mayoritas analis dan investor di pasar saham biasanya hanya fokus pada fakta bahwa IHSG turun signifikan, dalam hal ini sekitar 13%, dan itu membuat 2015 tampak sebagai tahun yang buruk dan sulit. However, terdapat beberapa alasan bahwa tahun 2015 ini sejatinya merupakan salah satu tahun terbaik dalam sejarah perkembangan pasar modal di Indonesia. Terkait hal ini, penulis sengaja membandingkan tahun 2015 dengan 2008, yakni tahun dimana IHSG juga turun signifikan (IHSG juga turun di tahun 2013, namun penurunannya hanya 1%).

Menyambut ‘January Effect’

Dalam dunia pasar modal, ‘January Effect’ adalah situasi dimana harga-harga saham meningkat signifikan pada bulan Januari. Ada beberapa hal yang bisa menjelaskan fenomena ini, seperti bahwa investor biasanya lebih fresh dan lebih bersemangat untuk belanja saham setelah libur panjang (natal dan tahun baru), periode awal tahun hampir selalu identik dengan optimisme, dan karena perusahaan-perusahaan biasanya membayar dividen di semester pertama, tepatnya sekitar April – Juni, jadi para investor akan sudah ambil posisi di saham yang bersangkutan jauh hari sebelumnya, tepatnya mulai bulan Januari.

Buy on Weakness, Sell on Strength? Really?

Kalau ada suka travelling dan sering bepergian menggunakan pesawat terbang, maka anda tentunya hafal dengan maskapai Lion Air yang sangat terkenal.. tapi bukan terkenal dalam artian yang positif, melainkan justru terkenal sebagai maskapai ‘kelas angkot’ yang sering delay. Karena reputasinya yang buruk itu pula, ketika beberapa tahun lalu penulis mulai sering naik pesawat terbang, penulis sengaja menghindari maskapai yang satu ini dan lebih memilih Garuda, Air Asia, Citilink, dan Sriwijaya Air. Dan memang, saya tidak pernah bermasalah dengan maskapai-maskapai tersebut, apalagi Garuda yang benar-benar jaminan mutu (tapi harga tiketnya kadang bikin kesel..)

Market Outlook 2016: Bandung

Dear investor, tak terasa kita sudah memasuki bulan Desember, yang itu artinya sebentar lagi tahun 2015 ini akan berakhir. Sejauh ini, tahun 2015 tidaklah terlalu bersahabat bagi investor pasar modal dimana IHSG turun cukup dalam, namun berdasarkan pengalaman ini justru merupakan kesempatan karena IHSG, pada akhirnya, akan naik kembali. Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan tahun 2016 mendatang? Nah, bagi anda investor yang tinggal di Bandung, penulis mengajak anda untuk berdiskusi soal ‘Market Outlook 2016’, tentunya dari sudut pandang value investing.

Mesin Baru Perekonomian: Internet!

Ketika mempelajari data pertumbuhan ekonomi Kuartal III 2015, penulis agak bingung dengan fakta bahwa tingkat konsumsi nasional masih tumbuh 4.96%, atau diatas pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan sebesar 4.73%, padahal di lapangan jelas sekali harga barang-barang semuanya melambung tinggi (termasuk, harga gorengan di Jakarta sekarang sudah mencapai Rp1,000 per potong, padahal rasanya baru kemarin Rp2,000 masih dapet 3 potong), dan itu seharusnya menurunkan daya beli masyarakat. Tapi sejauh yang bisa penulis amati, almost everybody still happy, dan bahkan buruh juga masih berani berdemo menuntut kenaikan upah. Pertanyaannya, bagaimana bisa?

Yuan Ditetapkan Sebagai World Currency, Next?

Semalam, rapat umum direktur eksekutif International Monetary Fund (IMF) memutuskan bahwa mata uang China, Yuan (disebut juga Renminbi), ditetapkan salah satu world reserve currency, berlaku efektif mulai 1 Oktober 2016. Dalam perhitungan special drawing rights atau SDR, Yuan memiliki bobot 10.9%, atau lebih besar dibanding bobot Japanese Yen atau Britain Pound Sterling, tapi masih lebih lebih rendah dibanding bobot US Dollar dan Euro. Penjelasan mengenai apa itu SDR, bisa dibaca lagi disini.

Prospek IPO Kino Indonesia

Sebagai salah satu perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) yang cukup terkemuka di Indonesia, IPO Kino Indonesia (KINO) mungkin menarik perhatian investor, karena kita tahu bahwa industri FMCG biasanya menawarkan kinerja jangka panjang yang stabil. Dan KINO sendiri selama ini memiliki reputasi yang bagus sebagai perusahaan inovatif yang mampu meng­-create produk-produk baru, sementara pendirinya, Harry Sanusi, juga sudah sangat dikenal sebagai pengusaha inspiratif yang sukses mendirikan dan membesarkan KINO dari nol. Anyway, kita langsung saja.

Analisa Pertumbuhan Ekonomi: Not As Bad as It Looks

Pada tanggal 5 November lalu, Badan Pusat Statistik (BPS), merilis angka pertumbuhan ekonomi/PDB untuk Kuartal III 2015 sebesar 4.73% secara year on year. Angka 4.73% tersebut, meski masih dibawah ekspektasi Menteri Keuangan dan Bank Indonesia yakni sebesar 4.8 – 4.9%, namun sudah lebih baik dibanding Kuartal II lalu, yang hanya 4.67%. Dan jika kita mempelajari komponen dari pertumbuhan ekonomi tersebut maka akan diperoleh beberapa fakta menarik.

Kalbe Farma

Sebagian besar orang menganggap bahwa industri farmasi, seperti industri consumer goods pada umumnya, merupakan industri yang kebal terhadap risiko perlambatan ekonomi, sehingga perusahaan-perusahaan di bidang ini seharusnya memiliki kinerja yang konsisten dari tahun ke tahun, dan saham-saham farmasi juga ideal untuk investasi jangka panjang. Karena logikanya kalau anda sakit, maka mau tidak mau anda harus minum/mengkonsumsi obat tertentu bukan? Tak peduli meski mungkin harganya mahal.

Sekawan Intipratama: Another Stock Fraud

Rabu kemarin, tanggal 11 November 2015, Bursa Efek Indonesia (BEI) men-suspend (menghentikan sementara) aktivitas perdagangan saham yang dilakukan oleh tiga sekuritas yakni Danareksa, Millenium Danatama, dan Reliance, karena tiga sekuritas tersebut diduga ‘tidak menjalankan prosedur pengendalian internal yang memadai’. BEI melakukan suspensi tersebut setelah menerima laporan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menyatakan bahwa tiga sekuritas diatas terlibat dengan aksi goreng saham Sekawan Intipratama (SIAP), yang telah banyak merugikan investor ritel di pasar modal.

Ebook Analisis Kuartal III 2015

Dear investor, setiap tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal III 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

'Investasi Untuk Mencari Rugi'

Tadi malam sebelum tidur, seperti biasa penulis browsing-browsing internet di hape, dan entah gimana ceritanya saya nyasar ke website terkait lowongan pekerjaan dan forum seputar dunia kerja. Yang menarik adalah, ketika penulis masuk ke forum lowongan pekerjaan untuk entry level (fresh graduate atau pengalaman 1 – 2 tahun), yang paling banyak didiskusikan adalah: Berapa sih gaji di perusahaan A? Kalau nanti sudah diangkat sebagai karyawan tetap, take home pay-nya berapa? Dapet tunjangan apa saja?

Mengenal ‘Penyertaan Modal Negara’ pada BUMN

Setelah melalui perdebatan alot, DPR akhirnya menyetujui usulan Pemerintah terkait penyertaan modal negara (PMN) terhadap 23 BUMN senilai total Rp34.3 trilyun, dimana dananya diambil dari APBN 2016. Yang mungkin menjadi perhatian investor pasar saham, dari ke-23 BUMN penerima PMN tersebut, empat diantaranya merupakan perusahaan Tbk, yakni Krakatau Steel (KRAS), Jasa Marga (JSMR), Wijaya Karya (WIKA), dan Pembangunan Perumahan (PTPP). Saatnya akumulasi keempat saham tersebut? Well, seperti biasa gak usah buru-buru, melainkan mari kita pelajari dulu.

Revaluasi Aset, dan Pengaruhnya pada Fundamental Perusahaan

Ketika Pemerintah kemarin meluncurkan Paket Kebijakan Jilid V, salah satu poin kebijakan tersebut adalah insentif pajak bagi perusahaan yang melakukan revaluasi aset, dimana jika sebelumnya perusahaan dikenakan pajak PPh 10% untuk kenaikan nilai aset karena revaluasi (selisih antara nilai aset sebelum dan sesudah revaluasi dianggap sebagai income perusahaan), maka sekarang pajak tersebut dipangkas menjadi hanya 3 – 6% saja. Kebijakan ini diharapkan akan mendorong perusahaan-perusahaan untuk menghitung kembali nilai aset-asetnya seperti tanah, bangunan dll (revaluasi), dimana nilai aset-aset tersebut biasanya akan naik setelah revaluasi, hingga pada akhirnya menaikkan nilai aset bersih/ekuitas perusahaan itu sendiri secara keseluruhan.

Bank BNI

Hingga Kuartal III 2015, Bank BNI (BNI) membukukan laba Rp6.0 trilyun, turun 21.2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan ROE-nya tercatat hanya 16.1%, juga turun dibanding periode sebelumnya 22.7%. Meski sekilas tampak buruk, namun ketika laporan keuangan perusahaan keluar pada tanggal 16 Oktober lalu, saham BBNI tetap bertahan di posisinya yakni 5,100, dan sekarang malah sudah di 5,250. Dan meski BBNI sempat digebuk sampai terkapar dibawah 4,000 pada event panic selling round two, 28 September lalu, namun ia dengan cepat naik lagi hingga tembus 5,000 hanya dalam tempo dua minggu kemudian. Jadi sebenarnya BBNI ini bagus apa jelek?

Bumi Resources: Analisa Restrukturisasi Utang

Pada akhir September kemarin, Bumi Resources (BUMI), perusahaan batubara terbesar sekaligus paling keberatan utang di Indonesia, merilis informasi terbaru terkait upaya manajemen dalam me-restrukturisasi outstanding debt-nya (utang-utang yang mengandung bunga), yang mencapai hampir US$ 4 milyar per 31 Agustus 2015. Sebenarnya sejak harga batubara mulai turun pada tahun 2012 lalu, BUMI sudah kesulitan dalam membayar cicilan utangnya, hingga pada Juli 2013 lalu BUMI terpaksa melepas sebagian sahamnya di PT Kaltim Prima Coal (KPC), untuk membayar sebagian utangnya ke China Investment Corporation (CIC). Namun setelah dua tahun harga batubara ternyata masih saja turun, dan alhasil sampai sekarang manajemen BUMI masih harus terus berurusan dengan para kreditor.

Tips Investasi Ala Pendaki Gunung

Akhir pekan kemarin penulis bersama beberapa orang teman pergi mendaki gunung, dalam hal ini Gunung Salak di Kabupaten Sukabumi/Bogor, Jawa Barat. Berbeda dengan aktivitas liburan lainnya yang jauh lebih santai, mendaki gunung membutuhkan ketahanan fisik sehingga penulis harus meluangkan waktu untuk rutin berolahraga selama minimal seminggu sebelum hari pendakian. Karena itulah, sejak terakhir mendaki sekitar dua atau tiga tahun lalu, baru sekarang penulis punya waktu untuk melakukannya lagi. Dan setelah sempat kram, kehujanan, kedinginan, hingga kehausan selama dua hari satu malam, Alhamdulillah kami sukses mencapai puncak, dan juga sukses kembali ke rumah.

Metode Rahasia dalam Berinvestasi

Kamis kemarin, penulis berkesempatan untuk bertemu tatap muka dengan seorang investor bernama Joel Cohen, yang bekerja untuk sebuah perusahaan asset management di Amerika dengan dana kelolaan sekitar US$ 19 milyar. Penulis sendiri, meski sebelumnya sudah pernah ketemu beberapa kali dengan investor asal luar negeri (dimana mereka sengaja datang ke Jakarta), namun baru kali ini ketemu dengan seseorang yang mewakili institusi yang besar. So for me, it’s a brand new experience.

How to Be Greedy When Others Are Fearful

Pagi tadi, setelah IHSG dibuka longsor 2% ke posisi 4,033, penulis menerima whatsapp dari seorang alumni seminar yang bertanya soal salah satu saham yang penulis rekomendasikan (dan gak cuma rekomen, tapi saya ikut beli juga), sebut saja saham A. Ia bertanya, Pak Teguh, saham A masih masuk stock-pick? Soalnya saya lihat pagi ini dia terjun bebas nih.

Panic Selling, Round 2!

Hari ini pasar dibuka anjlok 2.0% ke posisi 4,037, dan bukan tidak mungkin sore nanti IHSG bisa ditutup di posisi three years low dibawah 4,000. So it is official guys, we are in the panic selling round two! Saat ini penulis sedang membuat artikel untuk minggu ini, namun sembari menunggu, mari kita dengar apa komentar anda soal kondisi pasar dalam seminggu terakhir ini, yang dengan sangat cepat turun dari 4,400-an hingga sekarang sebentar lagi tembus dibawah 4,000. Intinya, what happen? IHSG bisa turun sampai posisi berapa? Are we in despair yet? Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah.

Cara Untuk Cuan Sekalian, Atau Bangkrut Sekalian

Pada tanggal pertengahan Agustus lalu, IHSG terus saja turun dari 4,800-an di awal bulan hingga menembus level psikologis 4,500, tepatnya mencapai posisi 4,484 pada tanggal 19 Agustus. Ketika itu pasar sudah mulai panik, namun yang lebih menarik adalah munculnya pemberitaan di berbagai media bahwa beberapa perusahaan, dalam hal ini bank-bank BUMN, akan mem-buyback sahamnya di publik. Dan penulis segera menerima banyak pertanyaan, apakah ini artinya saya sudah boleh masuk Bank BRI, Bank Mandiri (BMRI), atau Bank BNI (BBNI)? Karena jika pihak perusahaan sendiri sudah turun tangan membeli sahamnya di publik, bukankah seharusnya penurunan harga sahamnya akan berhenti untuk selanjutnya berbalik naik?

Perlindungan Investor? Oleh Siapa?

Sekitar satu atau dua bulan lalu, seorang pria bersepeda bernama Elianto Wijoyono menghadang rombongan konvoi motor Harley Davidson di salah satu perempatan jalan di Kota Jogja, karena rombongan itu dengan sengaja hendak menerobos lampu merah. Aksi ‘Sepeda vs Moge’ tersebut memperoleh banyak komentar di media sosial, dan Elianto kemudian menjelaskan bahwa aksinya tersebut memang sudah direncanakan jauh hari sebelumnya, karena ia prihatin dengan kelakukan para pengendara moge tersebut yang sering melanggar rambu-rambu lalu lintas, sehingga bikin susah pengguna jalan lainnya di Kota Jogja.

Peluang Investasi dari ‘Value Gap’ - 2

Di artikel sebelumnya kita sudah membahas bahwa waktu terbaik untuk membeli saham Berkshire Hathaway adalah jika pada tahun tertentu harganya turun sedemikian dalam hingga value gap-nya menjadi positif (kalau belum baca, boleh baca lagi disini). Kemudian, tahun 2015 ini adalah kali pertama dimana IHSG turun signifikan sejak 2008 lalu, dimana hingga 10 September, IHSG sudah turun 16.1% secara YTD (pada tahun 2013, IHSG secara keseluruhan hanya turun 1%). Hasilnya meski beberapa saham mungkin masih naik, tapi sebagian besar saham lainnya turun signifikan dibanding posisinya pada awal tahun lalu, tak peduli meski nilai ekuitas perusahaan sejatinya masih naik. Dalam kondisi inilah, beberapa saham kemudian menciptakan ‘value gap’ yang positif.

Peluang Investasi dari ‘Value Gap’

Sejak diambil alih oleh Warren Buffett pada tahun 1964, Berkshire Hathaway (BRK) telah menghasilkan keuntungan investasi sebesar total 1,826,163% bagi siapapun yang memegang sahamnya, dalam 50 tahun terakhir (hingga 2014). Ini artinya jika anda membeli saham BRK senilai Rp10 juta pada tahun 1964 dan masih meng-hold-nya sampai sekarang, maka investasi anda saat ini sudah berkembang menjadi senilai.. Rp182.6 milyar.

Pelemahan Rupiah = Krisis 1998? Maybe Not

Indonesia mengalami krisis ekonomi yang buruk di tahun 1998 lalu, dan krisis tersebut diawali oleh kejatuhan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar sejak Agustus tahun sebelumnya (1997). Berhubung saat ini kurs Rupiah juga terus saja melemah, maka wajar jika timbul pertanyaan: Apakah krisis 1998 akan terulang kembali?

CPIN, PTBA, PGAS, dan SSIA

Halo Pak Teguh, minta pendapat soal Charoen Pokphand Indonesia (CPIN). CPIN termasuk saham LQ45 yang top pricenya pernah di sekitar 4,000 dan sempat turun ketika panic selling ke 1,300 (kurang lebih turun 67%, melebihi penurunan PGAS yang sekitar 50%) dan sekarang mantul ke 2,000 lagi. Secara awam saya melihat jika kita bisa dapat moment buy di 1,300 atau 1,400, tentu saja sekarang sudah profit 30 – 40%. Setahu saya CPIN merupakan perusahaan yang mempunyai track record bagus, mungkin lagi terimbas perekonomian global yg melemah dan USD yang melambung tinggi. Apakah CPIN termasuk saham yg layak dikoleksi?

Pembangunan Infrastruktur Sudah Dimulai!

Sejak beberapa tahun lalu, penulis punya hobi jalan-jalan menelusuri jalanan pedesaan yang belum pernah dilewati sebelumnya, untuk melihat pemandangan dan menghirup udara segar. Dan sore tadi, mumpung lagi nganggur, saya jalan-jalan dari rumah di Bandung ke arah Lembang hingga sampai ke Ciater (Subang), kemudian masuk jalan kecil yang, kalau berdasarkan petunjuk di Google Maps, nanti tembusnya ke Tanjungsari (Sumedang). Sekitar dua puluh kilometer kemudian, penulis menemukan pemandangan yang lumayan bikin kaget. Nih, anda lihat saja sendiri fotonya, klik untuk memperbesar.

Outlook IHSG Setelah Kebijakan BEI

Kamis kemarin, tanggal 27 Agustus 2015, Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya menyelenggarakan konferensi pers untuk menjelaskan kepada publik terkait kondisi pasar saham Indonesia. Secara poin per poin, berikut ini adalah inti materi dari konferensi pers tersebut.

Konferensi Pers BEI, sumber: www.idx.co.id

Rupiah Sudah Tembus 14,100: Next?

Sepanjang beberapa bulan terakhir ini, Rupiah terus saja melemah nyaris setiap hari tanpa pernah sekalipun rebound. Setelah tembus angka cantik 14,000, 14,022, 14,045 (bukan nomor call center lho ini), pada penutupan kemarin dia sudah tembus Rp14,102 per US Dollar. Beberapa kalangan memperingatkan bahwa pelemahan Rupiah ini sudah sangat mengkhawatirkan. Menurut Achmad Danuri, direktur Center of Banking Crisis, berdasarkan stress test yang dilakukan maka jika Rupiah tembus 15,000, akan ada satu perusahaan asuransi yang gulung tikar. Dan jika Rupiah tembus 16,000, maka akan ada tiga bank kelas menengah yang kondisinya mendekati kolaps.

Kurs Rupiah sebagaimana yang ditampilkan di website Bank Indonesia

Antara Euforia dan Putus Asa

Setiap kali IHSG mengalami koreksi besar-besaran hingga pada level dimana nyaris seluruh investor dilanda kepanikan, maka penulis sejak tahun 2010 lalu sudah terbiasa membuat tulisan ‘counseling’ untuk menenangkan teman-teman investor. However, mulai tahun 2015 ini mungkin penulis akan mengubah kebiasaan tersebut dan membiarkan kepanikan itu terjadi, karena berdasarkan pengalaman, kepanikan adalah bagian dari siklus yang normal yang terjadi pada pasar saham. Maksud penulis adalah, tak peduli meski anda mencoba sekuat tenaga untuk menenangkan pasar, namun orang-orang tetap akan panik karena sekali lagi, itu adalah bagian dari siklus yang normal.

Time to Buy or.. Sell More?

Menteri BUMN, Rini Soemarno, mengatakan kepada wartawan bahwa Pemerintah menyiapkan dana paling tidak Rp10 trilyun untuk membeli kembali saham-saham perusahaan BUMN di Bursa (buy back). Tidak disebutkan perusahaan BUMN yang mana yang akan di-buy back, namun terdapat tiga clue: 1. Yang akan di-buy back adalah saham dari 13 BUMN terbesar, 2. Berasal dari sektor perbankan, konstruksi, dan lainnya, dan 3. Akan dipilih yang sahamnya turun paling dalam.

Menurut Menteri Rini, buy back tersebut akan dieksekusi mulai Selasa, 25 Agustus besok.

Panic Selling!

Senin pagi ini, menyusul indeks Dow Jones yang ambles lebih dari 3% pada Jumat lalu, IHSG juga tanpa ampun langsung jeblok lagi ke posisi 4,100-an. Sekarang ini penulis lagi menulis artikel mingguan seperti biasanya, tapi bagi anda yang lagi mengamati pasar maka yuk, kita bikin acara nobar (nonton bareng) IHSG disini. And here’s the big question: IHSG bisa turun sampai berapa???

Jika anda punya komentar/pertanyaan tentang situasi pasar saat ini, boleh menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.

Nippon Indosari Corpindo

Kalau pake teknik valuasi standar, maka dengan PER 22.3 dan PBV 5.2 kali pada harga 1,085, saham Nippon Indosari Corpindo (ROTI) sekilas tampak tidak menarik. However, jika kita berbicara mengenai ‘wonderful company’ seperti ROTI ini, maka kita mungkin memang tidak bisa membelinya pada ‘wonderful price’, atau dengan kata lain, kisaran harganya pada saat ini sudah terbilang wajar dan layak buy. And indeed, ROTI is a wonderful company, and I’ll tell you why.

Investor Gathering: IHSG 4,500, What’s Next?

Dear investor, penulis mengadakan acara investor gathering, yakni acara kumpul-kumpul sesama investor yang diadakan di Jakarta, dimana pada acara ini anda bisa:
  1. Ketemu dan bertanya/konsultasi soal investasi saham langsung dengan penulis (Teguh Hidayat)
  2. Bertemu, berkenalan, dan berdiskusi dengan teman-teman sesama investor
  3. Jika anda hendak berbagi pengalaman sebagai investor, analisis saham, atau topik tertentu yang menarik untuk dibicarakan, maka anda juga bisa menyampaikannya di acara gathering ini.

Devaluasi Yuan, Penyebab dan Dampaknya

Senin kemarin, tanggal 10 Agustus, Presiden Jokowi mampir ke markas BEI memperingati 38 tahun diaktifkannya kembali pasar modal di Indonesia. Dan biasanya sih, kalau Pak Dhe sudah nongol lagi di Sudirman seperti itu, maka pasar akan meresponnya secara positif dan IHSG naik. Tapi sekarang yang terjadi justru sebaliknya. Senin kemarin IHSG ditutup turun 0.75% ke posisi 4,770, dan sekarang IHSG malah sudah di 4,500-an. Alhasil hampir semua saham-saham di BEI kembali longsor dalam tiga hari terakhir, dan itu semakin memperburuk penurunan yang sudah terjadi sejak akhir April lalu.

Ketika Yuan Menggeser Dominasi Dollar

Dalam dua atau tiga hari terakhir ini, penulis menerima lumayan banyak pertanyaan/permintaan pendapat tentang isu bahwa dalam waktu dekat, dalam hal ini Oktober mendatang, International Monetary Fund (IMF) akan mengumumkan bahwa Yuan, mata uang Tiongkok, akan menjadi ‘pendamping’ US Dollar sebagai world reserve currency, atau bahasa sederhananya, mata uang utama dunia. Dan jika isu itu benar adanya, maka posisi USD sebagai mata uang utama dunia akan tidak lagi dominan. Akan terjadi pergeseran yang luar biasa dimana institusi/individu yang tadinya menyimpan aset/tabungan mereka dalam mata uang USD, akan segera mengkonversinya ke Yuan (atau disebut juga Renminbi/RMB), dan itu tentu akan menyebabkan nilai USD menjadi anjlok.

Ketika Yuan Menggebuk Dollar. Sumber: www.laowaiblog.com

2015: 'Tahun Orientasi' Investor

Hari Senin, tanggal 27 Juli 2015 lalu, adalah hari pertama bagi para siswa sekolah untuk kembali masuk kelas setelah libur panjang lebaran. Dan bagi siswa yang baru saja naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (dari SD naik ke SMP, dari SMP naik ke SMU, dan seterusnya), mereka biasanya akan mengalami ‘masa orientasi siswa’ atau MOS. Meski dalam beberapa kasus, MOS ini lebih mirip tindakan ‘bully’ atau perploncoan dimana siswa junior dikerjai habis-habisan oleh siswa senior, namun berdasarkan pengalaman penulis sendiri ketika sekolah/kuliah dulu, tradisi MOS ini terbilang bermanfaat. Yang paling terasa adalah kebersamaan antar siswa, dimana kami cepat akrab karena pernah ‘berjuang bersama’ untuk mengerjakan tugas ini dan itu. Padahal sebelum MOS, kami sama sekali tidak saling mengenal.

Saatnya Beli Saham Batubara?

Pada Jumat kemarin IHSG ditutup di posisi 4,857, sehingga secara year to date, IHSG sudah turun lebih dari 7%. Dalam kondisi seperti ini maka sudah tentu sebagian besar saham-saham di BEI mengalami penurunan, namun menariknya, tidak ada yang turun sedalam saham-saham pertambangan, khususnya batubara. Berdasarkan statistik BEI, indeks sektor tambang sudah anjlok 26.3% sepanjang tahun 2015, terburuk dibanding sektor manapun, padahal saham-saham di sektor ini sudah turun banyak di tahun-tahun sebelumnya. Beberapa saham batubara bahkan sudah turun lebih dari 90%, jika dihitung dari posisi puncak mereka di tahun 2011.

Ebook Analisis Kuartal II 2015

Dear investor, seperti yang anda ketahui, para emiten/perusahaan di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal II 2015. Dan seperti biasa, penulis akan membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten untuk periode Kuartal II 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Sinarmas Akuisisi Berau Coal: Why?

Perusahaan batubara yang sahamnya sebentar lagi bakal mati di gocapan, Bumi Resources (BUMI), barusan merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal I 2015 (seperti biasa telat mulu). Dan hasilnya? Tambah nyungsep! BUMI melaporkan rugi bersih US$ 344 juta, yang menyebabkan defisiensi ekuitasnya kembali meningkat hingga kini sudah tembus US$ 1.2 milyar. Lebih gila lagi, dari total kewajiban perusahaan senilai US$ 5.7 milyar, US$ 3.6 milyar atau Rp48 trilyun diantaranya merupakan utang bank yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari satu tahun. Jadi sekarang, dengan kondisi saat ini dimana harga batubara masih terus saja turun, lalu bagaimana caranya agar BUMI dapat membayar utang sebesar itu dalam waktu kurang dari satu tahun?

Bursa Tiongkok Jatuh, What Happen?

Pada tanggal 12 Juni lalu, setelah baru saja mencetah another new high di 5,178, Indeks Shanghai Stock Exchange (SSE) tiba-tiba saja turun dengan cepat.. dan terus turun hingga sempat balik lagi ke posisi 3,383 pada tanggal 9 Juli kemarin, atau anjlok lebih dari 30% hanya dalam tempo kurang dari sebulan! Penurunan yang dialami SSE ini begitu cepat dan begitu tiba-tiba, hingga kemudian menimbulkan pertanyaan dari investor di seluruh dunia termasuk di Indonesia: Apa yang sebenarnya sedang terjadi di Tiongkok? Apakah benar bahwa disana sedang terjadi krisis?

Ketika Cuan Bukanlah Segalanya

Dalam value investing, terdapat istilah yang sangat populer yakni nilai intrinsik saham, dimana menurut Mbah Warren, nilai intrinsik dari suatu saham/perusahaan adalah nilai aset bersih/ekuitas perusahaan tersebut plus akumulasi laba bersih yang akan dikumpulkan kedepannya, yaitu selama perusahaan beroperasi. Ini artinya, ketika anda melihat bahwa nilai ekuitas dari PT A adalah Rp1 trilyun, misalnya, dan terdapat asumsi yang kuat bahwa PT A tersebut akan mampu untuk menghasilkan laba bersih sebesar sekian secara konsisten dalam jangka panjang, maka nilai intrinsiknya biasanya lebih besar dari ekuitasnya tersebut.

Megapolitan Developments

Beberapa hari lalu, Pemerintah mengeluarkan setidaknya dua peraturan yang diharapkan akan berdampak positif terhadap industri properti di tanah air, yang sebelumnya mulai meredup seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional. Yang pertama adalah penurunan batas minimum nilai uang muka pembelian properti, dari tadinya 30% menjadi 20% saja. Dan kedua, investor dan warga negara asing kini diperbolehkan untuk membeli aset properti/real estate di Indonesia. Keluarnya dua peraturan ini segera direspon positif oleh para investor di BEI, dimana saham-saham properti melonjak cukup signifikan dalam dua tiga hari terakhir.

History & Future of Indonesia Stock Exchange

Dengan market cap senilai Rp5,070 trilyun atau setara US$ 381 milyar pada 19 Juni kemarin, Bursa Efek Indonesia atau BEI sama sekali bukan merupakan salah satu bursa saham terbesar di dunia. However, kalau kita bicara sejarah, maka BEI memiliki latar belakang sejarah yang ternyata lebih kompleks dari yang mungkin anda bayangkan. Termasuk, believe it or not, perusahaan pertama di dunia yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Saham, mereka bukan berkantor di London, New York, ataupun Tokyo, melainkan.. Jakarta!

'Drama Queen' of Stock Market

Beberapa hari lalu penulis mengalami peristiwa yang cukup unik dengan keluarga di rumah. Jadi ceritanya si teteh (panggilan untuk kakak perempuan, urang Bandung pasti ngerti), yang berusia 3 tahun, lari-lari dan terjatuh hingga lututnya lecet dan harus dipasang plester. Besok paginya, si teteh menolak untuk mandi karena takut lututnya yang lecet tersebut akan terasa perih kalau terkena air. Mamanya berkali-kali menjelaskan bahwa itu cuma lecet kecil jadi gak apa-apa kena air juga, tapi si teteh berkali-kali juga berteriak ‘gak mau!’. Kehilangan kesabaran, si mama juga ikutan teriak. Alhasil jadilah pagi itu rumah gempar hanya gara-gara lecet kecil di lutut, dan si papa (penulis) harus intervensi. Setelah pendekatan persuasif dengan mengajaknya makan-makan di HokBen (meniru caranya Presiden Jokowi) dan main perosotan, si teteh akhirnya bersedia mandi, tapi dengan syarat lututnya yang lecet itu harus dibungkus dulu pake plastik wrapping biar gak kena air.

Tips & Strategi Menghadapi Penurunan IHSG

Setelah sempat ‘absen’ dari peristiwa koreksi yang signifikan sepanjang tahun 2014 lalu, pada pertengahan tahun 2015 ini IHSG kembali membara. Ketika artikel ini ditulis, posisi IHSG tercatat 5,055, atau turun total 3.2% dibanding posisi awal tahun yakni 5,227. Dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dll yang memang tidak begitu bagus (kita sudah berkali-kali membahasnya di website ini, coba baca lagi artikel-artikel sejak Maret lalu), maka penurunan ini sama sekali tidak mengejutkan dan sejak awal memang sudah diantisipasi. Jika tidak ada perubahan fundamental kedepannya, kemungkinan kondisi ini akan terus berlanjut, dan alhasil IHSG pada tahun 2015 ini bisa kembali ditutup turun dibanding tahun sebelumnya. Pertanyaannya, what should we do?

Trada Maritime

Pada Kuartal I 2015, Trada Maritime membukukan laba bersih (yang dapat diatribusikan kepada entitas induk) sebesar US$ 0.4 juta, dimana meski angka tersebut naik signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun tetap saja sangat kecil dibandingkan dengan nilai ekuitas perusahaan sebesar US$ 86.7 juta. Namun demikian, cerita menarik tentang TRAM ini mungkin bukan terkait dengan kinerjanya tersebut, melainkan terkait sahamnya yang pada saat ini terpuruk di level 50-an, padahal tidak sampai setahun yang lalu dia sempat berada di level 1,800-an. Kalau melihat laporan keuangannya yang, meski memang tidak bagus, tapi juga tidak jelek-jelek amat (perusahaannya masih menghasilkan keuntungan, dan ekuitasnya juga masih positif), dan PBV-nya pada harga sekarang tinggal 0.5 kali, maka mungkin timbul pertanyaan: Apakah ada opportunity disini?

Seminar Value Investing - Jakarta, 13 Juni 2015

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Penerapan & Hasilnya’, kali ini di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Indonesia Meraih Investment Grade?

Pada hari Kamis, tanggal 21 Mei kemarin, salah satu dari tiga lembaga pemeringkat terbesar di dunia, Standard & Poor’s (S&P), merilis perubahan credit rating bagi Indonesia, dari tadinya BB+ dengan outlook stabil, menjadi BB+ dengan outlook positif. Jadi sebenarnya ratingnya masih tetap sama, hanya outlook-nya saja yang berubah menjadi lebih baik. Meski demikian kabar ini tetap direspon oleh investor di pasar saham, dimana pada hari kamis tersebut IHSG ditutup naik meski pada pagi harinya sempat tertekan. Dan pada hari kamis itu pula, asing untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir kembali mencatatkan net buy (tapi pada hari jumatnya langsung net sell lagi). Pertanyaannya mungkin, apa itu yang dimaksud dengan credit rating? Dan bagaimana itu mempengaruhi perekonomian di Indonesia, khususnya IHSG itu sendiri?

Mengenal Waran: Peluang Serta Risikonya

Pada November 2014 kemarin penulis memutuskan untuk membeli saham di sektor konstruksi, dalam hal ini Nusa Raya Cipta (NRCA) pada harga rata-rata 910, karena saya melihat bahwa sektor ini mungkin akan diuntungkan dengan rencana pembangunan infrastruktur jangka panjang oleh Presiden Jokowi yang baru saja dilantik sebulan sebelumnya. Lalu kenapa NRCA yang dipilih? Well, itu karena, setelah mempertimbangkan 1. Kualitas fundamental perusahaan, baik secara historis maupun kinerja terbarunya, serta 2. Valuasi sahamnya (dalam value investing, cuma dua itu saja yang kita lihat, abis itu baru liat prospeknya jika ada), maka NRCA memang merupakan pilihan yang paling masuk akal dibanding tujuh saham konstruksi lainnya yang tersedia di pasar. Lebih detail terkait NRCA, baca lagi analisisnya disini.

Situasi Ekonomi Saat Ini dan Kedepannya

Dalam beberapa bulan terakhir, perekonomian Indonesia di tingkat sektor riil, baik itu usaha kecil, menengah, maupun besar, mengalami kelesuan yang luar biasa. Beberapa perusahaan besar seperti Astra International (ASII), Perusahaan Gas Negara, Gudang Garam (GGRM), Semen Indonesia (SMGR), hingga Jasa Marga (JSMR), semuanya mencatat penurunan laba bersih pada Kuartal I 2015. Sementara di bidang usaha yang lebih kecil, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Berikut adalah beberapa ‘testimoni’ yang penulis kumpulkan dari teman-teman pelaku usaha di beberapa kota di Indonesia.

Investor Meeting: Strategi Investasi Menghadapi Bear Market

Dear investor, beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi nasional, dan hasilnya memang mengecewakan dimana perekonomian Indonesia hanya tumbuh 4.7% secara year on year, dan inflasi masih tinggi di level 6.8%. Sebelumnya Rupiah juga terus melemah hingga menembus Rp13,000 per USD, dan para emiten termasuk yang besar-besar mencatatkan kinerja yang mengecewakan di Kuartal I 2015. Melihat kondisi tersebut maka tak heran jika IHSG turun signifikan dalam seminggu terakhir, dimana jika kondisi ini tidak ada perbaikan maka kemungkinan penurunan tersebut masih akan berlanjut kedepannya. Pertanyaannya sekarang, sebagai investor pasar modal, what should we do?

Sri Rejeki Isman (Sritex)

Seperti yang anda ketahui, pada saat ini sekitar 90% emiten di BEI sudah merilis laporan keuangannya masing-masing untuk periode Kuartal I 2015. Kabar buruknya, sebagian besar dari mereka mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan. Bahkan perusahaan sekelas Astra International (ASII) sekalipun mencatat penurunan laba hingga 15%, terburuk dalam 10 tahun terakhir. Melihat fakta tersebut maka tidak heran jika dalam semingguan terakhir ini IHSG anjlok hingga hampir 7% (meski belakangan rebound kembali), karena memang penulis sendiri, kalau saya memegang ASII atau saham-saham lainnya yang perusahaannya mencatatkan kinerja yang kurang oke, sudah tentu akan memilih untuk keluar dulu.

Prospek IPO PP Properti

Pada bulan April 2014 lalu, Wijaya Karya (WIKA), salah satu perusahaan BUMN di bidang konstruksi di Indonesia, meng-IPO-kan salah satu anak usahanya yaitu Wijaya Karya Beton (WTON), dimana WTON sukses meraup tambahan modal senilai Rp1.2 trilyun hasil dari menerbitkan 2 milyar lembar saham baru (dan menjualnya ke publik) pada harga Rp590 per saham. Mengingat nilai ekuitas WTON sebelum IPO hanya Rp680 milyar, dimana setelah dibagi 6.7 milyar lembar saham (jumlah saham WTON sebelum IPO) maka hasilnya adalah Rp102 per saham, maka cukup jelas bahwa investor publik telah membayar saham baru WTON pada harga yang sangat mahal, yakni nyaris 6 kali lipat lebih tinggi (590 berbanding 102) dibanding harga yang dibayar WIKA sebagai pemegang saham mayoritas dari WTON.

Ebook Analisis Kuartal I 2015

Dear investor, seperti yang anda ketahui, para emiten/perusahaan di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2015. Dan seperti biasa, penulis akan membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten untuk periode Kuartal I 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

PGAS, Bluechip at Bargain Price

Warren Buffett pernah mengatakan dalam salah satu annual letter-nya, ‘Kami menyukai untuk berinvestasi pada perusahaan yang sudah berdiri dan beroperasi selama lebih dari 100 tahun. Kami tidak mau ambil risiko dengan berinvestasi pada perusahaan start-up yang belum memiliki track-record kinerja yang panjang.’ Pendek kata, Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang sudah mapan ketimbang perusahaan yang baru berdiri ‘kemarin sore’. However, ketika prinsip ini diterapkan di Indonesia maka investor mungkin akan mengalami kesulitan. Sebab, berapa banyak sih perusahaan yang listing di BEI yang sudah berusia lebih dari 100 tahun? Lha wong Republik Indonesia sendiri baru berdiri pada tahun 1945 bukan?

Terjemahan Buffett Annual Letter, Special Edition!

Tahun 2014 kemarin adalah tepat 50 tahun sejak Warren Buffett, guru besar dari investor saham di seluruh dunia, mengambil alih kepemilikan sekaligus kepemimpinan di Berkshire Hathaway. Mungkin dalam rangka merayakan 50 tahun tersebut, Buffett kemudian secara pribadi menulis ‘surat’ khusus di Berkshire Hathaway Annual Letter untuk tahun 2014, yang berisi tentang pengalaman serta kebijaksanaannya dalam berinvestasi, yang telah sukses ‘menyulap’ Berkshire dari sebuah perusahaan tekstil yang hampir bangkrut, menjadi sebuah perusahaan konglomerasi yang amat sangat besar.

Ketika Perusahaan Mengendalikan Harga Sahamnya

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan dari seorang teman (damn I have a lot of friends, thanks to this blog) yang intinya kira-kira begini, ‘Pak Teguh, di BEI ada beberapa perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan kinerja yang konsisten, valuasi sahamnya murah, dan manajemennya menerapkan GCG dengan baik. Namun sahamnya tetap saja tidak mau bergerak atau tidak likuid, salah satunya mungkin Mandala Multifinance (MFIN) yang Pak Teguh rekomendasikan.’

Seminar Value Investing: Jogja

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, kali ini di Yogyakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jogja. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Teknik Diversifikasi Anti Pusing

Strategi diversifikasi adalah salah satu elemen penting dalam berinvestasi di saham terutama untuk mengurangi risiko kerugian, dan di blog ini kita sudah membahas tema ‘diversifikasi’ tersebut beberapa kali, contohnya pada artikel ini, dan yang ini. Mungkin perlu penulis sampaikan sekali lagi bahwa, kalau anda meniru strategi diversifikasi ala Warren Buffett, maka dalam satu waktu tertentu anda bisa memegang sekitar 15 hingga 20 saham yang berbeda dalam portofolio anda. Pada tahun 1960-an, ketika masih mengelola Buffett Partnership dengan dana kelolaan sekitar US$ 40 juta, Warren Buffett memang hanya memegang sekitar 20-an saham di dalam portofolio-nya.

Mengenal ‘Fed Rate’, dan Pengaruhnya Terhadap IHSG

Pada hari Kamis tanggal 19 Maret 2015, chairwoman Federal Reserve, Janet Yellen, menyatakan bahwa The Fed (istilah populer dari Federal Reserve, yang merupakan Bank Sentral Amerika Serikat) tidak akan terburu-buru dalam menaikan suku bunga acuan, atau yang dikenal dengan istilah ‘Fed Rate’. Sesaat setelah pernyataan tersebut dirilis, indeks-indeks saham di  Benua Eropa dan juga Asia rata-rata naik signifikan . Sebelumnya, para pelaku pasar di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, khawatir bahwa jika The Fed menaikkan Fed Rate, maka dana asing yang ada di bursa saham lokal akan keluar dan berpindah ke Negeri Paman Sam. Sebab dengan suku bunga acuan yang lebih tinggi, maka dalam pandangan investor-investor global, investasi di Amerika Serikat (AS) dengan sendirinya menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi, sementara disisi lain risikonya tetap dianggap sangat rendah mengingat Amerika adalah negara dengan perekonomian paling besar di dunia.

Pelemahan Rupiah, dan Kondisi Ekonomi Indonesia Saat Ini

Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), pada tanggal 14 Maret 2015, Rupiah ditutup di posisi Rp13,191 per US Dollar, dan ini adalah posisi terendah bagi mata uang Rupiah terhadap US Dollar sejak.. well.. krisis moneter tahun 1998. Jadi meski penulis pribadi dalam satu dua tahun terakhir ini berusaha untuk tutup mata terhadap perkembangan ekonomi makro dan tetap fokus pada faktor fundamental perusahaan dalam berinvestasi di pasar saham, namun hal ini mau tidak mau tetap kelihatan, karena bahkan pada krisis global tahun 2008 sekalipun, posisi nilai tukar Rupiah tidak pernah turun sampai serendah ini. Pada puncak krisis global tahun 2008, Rupiah hanya anjlok sampai Rp12,768 per US Dollar sebagai titik terendahnya, sebelum kemudian segera balik lagi ke level normalnya yakni Rp9,000-an per US Dollar.

Join Our Team

Teguh Hidayat & Partners opens an opportunity for capital market professionals to occupy a position as a Junior and Senior Partner.

Jobdesks:
  1. Build Analysis,
  2. Provide Advice, Consulting, and Training
  3. Managing Private Investment for High Net Worth Clients (for Senior Partner only).

Show Me the Money!

Beberapa waktu lalu penulis ketemu dengan seorang kawan lama (kami rutin ketemu setiap 2 – 3 bulan sekali sambil makan-makan untuk cerita ini dan itu, sekedar ngisi waktu lah), dan seperti biasa kita ngobrol panjang lebar tentang investasi saham dan lain-lain. Kebetulan, kawan penulis ini beberapa hari sebelumnya baru saja ketemu dengan salah seorang tokoh paling hot di Jakarta: Bapak Gubernur Ahok. Jadi ceritanya salah seorang anggota keluarga dari teman penulis ini meninggal dunia, dan Pak Ahok menyempatkan diri datang untuk melayat. Dalam forum tersebut Pak Ahok banyak cerita panjang lebar ngalor ngidul, dan kesan yang diperoleh adalah: Pak Ahok ini, tidak seperti birokrat pada umumnya yang cenderung kaku, beliau orangnya asyik! Sebelumnya, teman penulis ini sama sekali gak pernah memperhatikan soal Pak Ahok ini bagaimana, namun setelah pertemuan tersebut, ia secara gamblang mengatakan bahwa ia menyukai sang Bapak Gubernur.

Bank BTN, an Opportunity for Short-Term Play

Bank BTN (BBTN) mencatatkan kinerja yang kurang bagus sepanjang tahun 2014 dimana labanya turun dari Rp1.6 trilyun di tahun 2013, menjadi hanya Rp1.1 trilyun pada tahun 2014, atau turun 28.6%. Meski tampak mengecewakan, namun faktanya ini adalah kali pertama dalam delapan tahun terakhir dimana perusahaan mencatat laba bersih yang turun dibanding tahun sebelumnya (pada tahun 2006 laba BBTN turun dibanding tahun 2005, namun itu karena pada tahun 2005 perusahaan tidak melakukan penyisihan untuk pembayaran pajak, sehingga labanya tampak sangat besar). Sementara antara 2006 hingga 2013, laba BBTN terus naik secara konsisten, demikian juga dengan ekuitasnya.

Logindo Samudramakmur

Pada hari ini, Senin tanggal 23 Februari 2015, IHSG ditutup di posisi 5,403, yang kemudian tercatat sebagai posisi tertingginya sepanjang sejarah. Dalam kondisi pasar yang kondusif seperti sekarang maka mayoritas saham-saham di BEI juga seperti berlomba-lomba untuk mencatat rekor harga tertinggi. However, beberapa saham justru mengalami cerita yang berbeda dimana mereka bukannya naik tapi malah terus turun. Dan salah satunya adalah Logindo Samudramakmur (LEAD), yang saat ini diperdagangkan di level Rp1,845 per lembar saham, atau jauuuh dibawah posisi puncaknya yang dicapai enam bulan lalu yakni 5,325. Berbeda dengan beberapa saham lainnya yang turun entah itu karena sejak awal sahamnya tidak memiliki fundamental yang bagus, atau karena perusahaan mengalami penurunan kinerja, atau karena adanya sentimen negatif tertentu, maka LEAD ini sekilas nggak punya masalah apapun. An opportunity?

'Wonderful Company at a Wonderful Price'

Warren Buffett pernah menyampaikan salah satu quote-nya yang terkenal: ‘It is far better to buy a wonderful company at a fair price, than a fair company at a wonderful price.’ Kalau kita cermati, dalam kalimatnya tersebut Buffett menyatakan bahwa ketika menyeleksi saham untuk dibeli maka kita harus memilih salah satu faktor, entah itu harga yang serendah-rendahnya ataupun kualitas fundamental perusahaan yang setinggi-tingginya. Adalah nyaris tidak mungkin bagi value investor manapun untuk bisa menemukan perusahaan dengan fundamental yang amat sangat bagus, tapi disisi lain dijual pada harga yang justru amat sangat rendah. So, dalam hal ini, Opa Warren lebih memilih ‘wonderful company at a fair price’. Jadi harga saham dari perusahaan yang sangat bagus tidak perlu terlalu murah, yang penting asal jangan terlalu mahal saja.

Saham Terbaik dari Sisi Pertumbuhan Riil Perusahaan

Jika anda hendak berinvestasi di pasar saham melalui reksadana, maka salah satu indikator utama yang dipakai dalam menentukan reksadana mana yang terbaik adalah dengan melihat track record kinerjanya dalam jangka panjang, katakanlah lima tahun terakhir. Jika CAGR (compound annual growth rate, alias rata-rata pertumbuhan tahunan) dari suatu reksadana tercatat lebih baik dari kenaikan IHSG pada periode waktu yang sama, maka simpelnya bisa kita katakan bahwa reksadana tersebut memiliki kinerja yang bagus. Jika selisihnya terbilang besar, katakanlah rata-rata 17% per tahun sementara rata-rata kenaikan IHSG pada periode yang sama hanya 7% (sehingga selisihnya mencapai 10%), maka itu lebih bagus lagi.

Ebook Analisis Kuartal IV 2014

Dear investor, seperti yang anda ketahui, para emiten/perusahaan di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal IV 2014. Dan seperti biasa, penulis akan membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten pada periode Kuartal IV 2014. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Capital Expenditure, dan Prospek Saham

Beberapa waktu lalu seorang teman bertanya kepada penulis, ‘Apa itu capital expenditure?’ Dan penulis baru sadar bahwa meski di website ini kita sudah membahas banyak hal, tapi belum pernah sekalipun membahas soal capital expenditure, atau yang biasa disingkat capex. Padahal capex adalah sesuatu yang sering sekali diperhatikan para analis ketika mereka menganalisis prospek sebuah saham, karena itu menyangkut ‘apa-apa saja yang dikerjakan perusahaan untuk memperoleh kenaikan laba di masa yang akan datang’. Karena itulah, kita juga akan membahasnya disini, tentunya menggunakan bahasa yang lebih mudah. Here we go.

Peluang Investasi di Saham-Saham Semen

Pada hari Jumat tanggal 16 Januari lalu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Pemerintah mengintervensi industri semen dengan mengumumkan penurunan harga semen sebesar maksimal Rp3,000 per sak. Dan hasilnya mudah ditebak: Seketika itu juga saham-saham semen di BEI langsung bertumbangan. Pada hari Jumat tersebut saham Semen Indonesia (SMGR) anjlok 7.4% dari 16,200 ke 15,000, dan berlanjut turun ke level 14,100 pada hari perdagangan berikutnya. Saham-saham semen lainnya yakni Semen Baturaja (SMBR), Holcim Indonesia (SMCB), dan Indocement (INTP), tiga-tiganya juga turun antara 4.9 hingga 12.2% dalam dua hari perdagangan setelah kebijakan penurunan harga semen tadi diumumkan.

Pertanyaan Investor Pemula, dan Jawabannya (Forum)

Setiap kali penulis menyelenggarakan seminar/training value investing, penulis memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya melalui email tentang apa saja, selama itu masih ada hubungannya dengan investasi di saham. Nah, kebetulan ada satu email yang masuk yang sepertinya mewakili mayoritas pertanyaan dari teman-teman investor, khususnya investor yang merasa masih pemula alias newbie. Karena itulah, sekalian saya bikin saja artikelnya. Actually, bagi anda yang baru masuk pasar kurang dari 1 tahun, maka pertanyaan-pertanyaan soal ini dan itu memang seperti tidak pernah ada habisnya. Namun mudah-mudahan artikel ini paling tidak bisa menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tidak Apa Menjadi Berbeda, Asalkan..

Beberapa waktu lalu penulis ketemu dan diskusi dengan seorang investor senior, dan dalam diskusi tersebut kita sedikit membahas soal salah seorang investor saham paling terkenal di Indonesia: Pak Lo Kheng Hong. Menurut kawan penulis ini, LKH tidak layak disebut sebagai ‘Warren Buffett Indonesia’, karena terdapat beberapa perbedaan mendasar antara cara investasi LKH dengan Buffett. Sebagai contoh, LKH sama sekali bukan investor jangka panjang seperti layaknya Buffett. Pada tahun 2002, ketika ia membeli United Tractors (UNTR) pada harga Rp400 per saham,  hanya dalam tempo 3 tahun kemudian UNTR tersebut sudah dijual. Bandingkan dengan Buffett yang sejak membeli saham Coca Cola pada tahun 1989, hingga saat ini atau lebih dari 25 tahun kemudian, saham tersebut masih dipegang.

As a Stock/Value Investor..

What my parents think I do

Tantangan Ekonomi Presiden Jokowi

Jumat kemarin, Presiden Jokowi meresmikan pembukaan pasar saham di hari perdagangan pertama di tahun 2015, di Gedung BEI, Jakarta. Meski sejak beberapa tahun terakhir, pembukaan pasar saham di awal tahun memang rutin dihadiri oleh Presiden RI, namun kehadiran Jokowi terasa istimewa karena kita semua tahu persis bahwa sebelumnya beliau, terkait tragedi Air Asia, sampai harus bolak-balik Papua – Jakarta – Pangkalan Bun – Surabaya, dan ke Jakarta lagi hanya dalam hitungan hari, dan itu belum termasuk melakukan tugas kenegaraan seperti menerima George Soros di Istana, rapat dengan para menteri terkait penurunan harga BBM, dan melantik beberapa petinggi TNI yang baru. Tapi toh, jumat kemarin beliau masih sempat-sempatnya mampir ke SCBD dan juga hadir tepat waktu (sebelum pasar dibuka pukul 09.00 WIB), padahal pagi harinya beliau berkunjung ke Pasar Tanah Abang dulu! Untuk blusukan seperti biasa, dan juga membuka kegiatan perdagangan di Pasar Tanah Abang tersebut.

Inspirasi Awal Tahun 2015

Beberapa waktu lalu penulis iseng-iseng membuka kembali arsip foto-foto jaman saya masih muda dulu, dan saya menemukan foto yang menarik. Nih, anda langsung lihat saja sendiri: