Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Ketika Cuan Bukanlah Segalanya

Dalam value investing, terdapat istilah yang sangat populer yakni nilai intrinsik saham, dimana menurut Mbah Warren, nilai intrinsik dari suatu saham/perusahaan adalah nilai aset bersih/ekuitas perusahaan tersebut plus akumulasi laba bersih yang akan dikumpulkan kedepannya, yaitu selama perusahaan beroperasi. Ini artinya, ketika anda melihat bahwa nilai ekuitas dari PT A adalah Rp1 trilyun, misalnya, dan terdapat asumsi yang kuat bahwa PT A tersebut akan mampu untuk menghasilkan laba bersih sebesar sekian secara konsisten dalam jangka panjang, maka nilai intrinsiknya biasanya lebih besar dari ekuitasnya tersebut.

‘Asumsi yang kuat' tersebut hanya akan diperoleh jika perusahaan yang bersangkutan memang sudah memiliki track record kinerja yang solid dalam jangka panjang, katakanlah 5 – 10 tahun ke belakang atau lebih, dimana selama itu perusahaan terbukti mampu untuk terus menghasilkan laba bersih secara konsisten dari tahun ke tahun. Jadi jika ada asumsi bahwa perusahaan ‘kemarin sore’, atau perusahaan yang sebelumnya rugi melulu, bahwa mereka akan mampu menghasilkan laba bersih kedepannya, maka itu adalah asumsi yang ngawur.

Dan itu sebabnya, perhitungan nilai intrinsik biasanya hanya berlaku untuk saham-saham bluechip, yang perusahaannya sudah beroperasi selama berpuluh-puluh tahun, dan selama itu pula mereka memiliki track record kinerja keuangan yang solid. Penjelasan selengkapnya baca lagi disini.

Belakangan, penulis baru sadar bahwa tidak hanya saham yang memiliki nilai intrinsik, melainkan investor juga. Jadi selain ‘nilai intrinsik saham’, maka melalui artikel ini penulis juga hendak memperkenalkan istilah ‘nilai intrinsik investor’, dan berikut penjelasannya.

Seorang investor, entah itu investor individu maupun institusi, sebenarnya tidak ada ubahnya dengan perusahaan. Maksudnya begini: Jika perusahaan memiliki aset bersih/ekuitas di neraca keuangannya, maka demikian halnya pula dengan investor yang memiliki aset di portofolio investasinya. Dan jika nilai intrinsik suatu saham/perusahaan biasanya lebih tinggi dari nilai ekuitasnya, maka, pernahkah anda berpikir bahwa nilai intrinsik anda sebagai investor, seharusnya juga lebih tinggi dibanding nilai aset/dana yang sudah ada dalam rekening sekuritas anda?

Jadi katakanlah anda memegang aset, entah itu berupa saham atau cash, senilai Rp100 juta di portofolio, dan itu seluruhnya merupakan aset milik anda sendiri (bukan dana pinjaman). Maka apakah nilai anda sebagai investor adalah Rp100 juta juga? Well, jika anda cukup yakin bahwa anda mampu mengelola aset tersebut untuk menghasilkan keuntungan sebesar sekian secara konsisten dalam jangka panjang, maka sudah tentu: Nilai intrinsik anda sebagai investor lebih besar dibanding nilai aset yang anda pegang saat ini, karena Rp100 juta tadi akan terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

Namun kata kuncinya ya itu tadi: Apakah anda mampu mengelola aset tersebut? Sebab jika tidak, maka bukannya dapet untung, yang ada malah rugi, sehingga Rp100 juta tersebut jangankan bertambah, yang ada malah berkurang.

Dan kalau begitu kejadiannya, maka anda tidak memiliki nilai intrinsik sebagai investor.

Aset Paling Berharga

Dalam beberapa kali kesempatan seminar, penulis selalu menyampaikan bahwa seorang investor memiliki tiga aset utama: 1. Aset saham/dana cash, 2. Waktu, dan 3. Dia sendiri sebagai investor. Sebagian besar orang mengira bahwa aset yang paling utama bagi seorang investor adalah yang nomor 1, yakni aset yang ada di portofolio. Jadi jika anda pegang portofolio yang berisi saham/cash senilai Rp1 milyar, misalnya, maka nilai anda secara keseluruhan lebih tinggi dibanding investor lain yang pegang portofolio Rp100 juta.

Padahal, kalau anda sebagai investor sama sekali belum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tentu saja mutlak diperlukan agar bisa mengelola portofolio dengan baik, maka jangankan Rp1 milyar, Rp10 milyar sekalipun tidak akan ada artinya sama sekali karena anda akan mengalami kerugian secara terus menerus.

Disisi lain, tak peduli seorang investor memulai karier investasinya hanya dengan modal Rp5 juta sekalipun, namun jika ia mampu untuk juga menginvestasikan waktunya untuk terus belajar dan menimba pengalaman, maka setelah beberapa waktu, pada akhirnya ia akan menjadi investor yang handal, dan modal Rp5 juta tadi akan bertumbuh dengan sendirinya.. dan terus bertumbuh entah hingga menjadi berapa, kecuali jika suatu hari nanti ia memutuskan berhenti berinvestasi sama sekali.

As an investor, what is your greatest asset? Yourself!

Tingkatkan Kualitas Diri

Sebagian besar investor/trader di Indonesia, dan mungkin juga di seluruh dunia, biasanya hanya fokus pada upaya untuk memperoleh keuntungan, dimana ‘cuan’ adalah segalanya. Seorang investor biasanya akan merasa senang jika ia memperoleh untung besar dari saham tertentu. Disisi lain, ia mungkin akan merasa biasa-biasa saja jika setelah beberapa waktu, ia tidak mempelajari apapun selama selama periode waktu tersebut.

Padahal, just think about it: Sebaik apapun anda dalam berinvestasi, namun anda bisa mengalami untung dan rugi setiap saat, sehingga nilai portofolio anda juga bisa naik dan turun sepanjang waktu. Namun jika anda keep learning, maka kualitas diri anda sebagai seorang investor tidak akan pernah berkurang sedikitpun, melainkan akan senantiasa meningkat dari waktu ke waktu.

Dan tidak peduli seberapa dalam kerugian yang bisa dialami oleh seorang investor yang high quality, namun pada akhirnya ia akan meraih untung besar kembali. Pada krisis global tahun 2008 lalu, semua investor tanpa terkecuali mengalami kerugian di pasar saham Indonesia. Namun hanya mereka yang berpengalaman-lah, dan juga memiliki visi kedepan, yang mampu untuk bertahan dan sukses untuk langsung cuan besar lagi di tahun berikutnya (2009). Opa Warren juga udah sangat sering rugi besar setiap kali Wall-Street dilanda krisis. Namun karena emang dasarnya beliau investor sejati, maka ia selalu berhasil menjadi kaya raya lagi ketika perekonomian dan bursa-bursa saham pulih kembali.

Karena itulah, ketimbang berusaha untuk meraih cuan setiap hari (because you can't!), melalui artikel ini penulis hendak mengajak anda untuk fokus mengembangkan aset yang sesungguhnya jauh lebih berharga: Diri anda sendiri. Because, trust me, ketika anda sudah menjadi investor yang handal, the money will follow by itself.

Dan untuk meningkatkan kualitas diri anda sendiri, maka anda bisa menggunakan aset berikutnya: Waktu. Masalahnya adalah, sebagian besar investor lebih suka menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sebenarnya kurang bermanfaat, seperti ngerumpi soal saham apa yang cuan besok, mengamati pergerakan saham setiap saat pada jam trading, baca-baca rumor yang gak jelas, dan seterusnya. Tidak banyak investor yang mau meluangkan waktunya untuk belajar dan baca-baca artikel atau buku (tentang value investing ya, jangan yang lain), menganalisis fundamental perusahaan secara menyeluruh, mengevaluasi portofolio dan memperbaiki cara-cara investasi/trading yang sebelumnya keliru, dan seterusnya.

Padahal hanya dengan cara itulah anda bisa meningkatkan kualitas diri anda sebagai investor. Tak peduli meski seorang investor sudah malang melintang selama bertahun-tahun di pasar modal, namun jika selama itu ia masih belum mengerti apa-apa, maka ia tetap tidak ada bedanya dengan seorang pemula.

Namun jika anda bisa melakukan itu, then that’s it, anda sudah memiliki nilai intrinsik sebagai seorang investor, dan selanjutnya tinggal soal waktu sebelum nilai portofolio anda akan menjadi besar.

Baiklah, Pak Teguh, lalu bagaimana caranya agar saya tahu bahwa saya sudah berinvestasi dengan cara yang benar, dan sudah memiliki nilai intrinsik tersebut? Well, it’s so simple, anda hanya perlu menanyakan ini kepada diri anda sendiri: ‘Dalam sepuluh tahun kedepan, kira-kira bagaimana nilai portofolio saya? Apakah akan naik sekian kali lipat, segitu-gitu saja, atau malah turun?’ Jika jawabannya adalah akan naik, dan anda yakin dengan jawaban tersebut (karena jika selama ini anda lebih sering rugi ketimbang untung, maka anda tidak akan memiliki keyakinan tersebut), maka selamat: Anda sudah memiliki nilai intrinsik sebagai investor!

Tapi jika tidak? Then you know what to do :) Pesan penulis adalah, jangan pernah tunda-tunda lagi, do it now. Terus asah kemampuan anda dalam berinvestasi, hingga pada akhirnya nanti anda akan sampai pada satu titik dimana tidak hanya nilai porto anda sukses meningkat sekian kali lipat, namun anda juga akan bisa melihat bahwa apa yang anda miliki sesungguhnya jauh lebih besar dibanding sekedar apa yang sudah ada dalam portofolio. Good luck!

Buletin analisis IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Juli 2015 sudah terbit tanggal 1 Juli kemarin. Anda masih bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi/tanya jawab langsung dengan penulis untuk member.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

5 komentar:

Guntur Herlambang mengatakan... Balas

Wah, seharusnya judulnya "Ketika nilai portofolio bukan segalanya", tapi artikel ini sangat bagus sekali karena biar sebanyak apapun uang bila tidak dapat dikelola dengan benar akan habis dan begitu pula sebaliknya uang yang sedikit bila diinvestasikan dengan benar akan menjadi banyak. Saya jadi teringat dengan kisah Grace Grooner yang mengubah $180 menjadi $7 juta

St. Wahyu mengatakan... Balas

Semangat yang sangat bagus pak. Nilai Intrinsik Investor memang belum banyak yang membuat artikelnya, padahal memang pengelolaan aset (entah apapun bentuknya) pasti tergantung dari investor itu sendiri. Terlebih di saat ini, dimana pasar sedang mengalami penyesuaian kembali (turun untuk naik).
investor bingung bermental lemah = investasi menurun
investor cerdik bermental kuat = investasi berkembang
investasi akan sangat besar dipengaruhi oleh investor itu sendiri.

moninoke mengatakan... Balas

"Tidak banyak investor yang mau meluangkan waktunya untuk belajar dan baca-baca artikel atau buku (tentang value investing ya, jangan yang lain)" walaupun strategi kita value investing, mengapa harus membatasi diri hanya membaca value investing pak Teguh? setahu saya charlie munger juga membaca hal2 diluar value investing untuk meningkatkan kualitas otaknya.

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

@moninoke. Kita juga tentu saja banyak baca-baca soal sejarah, makroekonomi, psikologis pasar, bahkan tentang analisis teknikal. Actually, saya membaca tentang semua hal. Namun buku-buku dan tulisan tentang value investing itu sendiri ada banyak sekali. Dan yang kita tahu, tidak semua orang punya hobi membaca. Jadi maksud saya adalah, kalau seorang investor harus memaksa dirinya sendiri untuk membaca, maka dia bisa memulainya dari tulisan-tulisan tentang value investing dulu, minimal artikel2 yang disajikan di website ini. Kalau sudah 'khatam' baru boleh baca-baca tulisan yang lainnya lagi.

Indrayani Ayubi mengatakan... Balas

saya baru belajar investasi pak Teguh.
dan bapak sangat membantu.
terimakasih