Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Cara Untuk Cuan Sekalian, Atau Bangkrut Sekalian

Pada tanggal pertengahan Agustus lalu, IHSG terus saja turun dari 4,800-an di awal bulan hingga menembus level psikologis 4,500, tepatnya mencapai posisi 4,484 pada tanggal 19 Agustus. Ketika itu pasar sudah mulai panik, namun yang lebih menarik adalah munculnya pemberitaan di berbagai media bahwa beberapa perusahaan, dalam hal ini bank-bank BUMN, akan mem-buyback sahamnya di publik. Dan penulis segera menerima banyak pertanyaan, apakah ini artinya saya sudah boleh masuk Bank BRI, Bank Mandiri (BMRI), atau Bank BNI (BBNI)? Karena jika pihak perusahaan sendiri sudah turun tangan membeli sahamnya di publik, bukankah seharusnya penurunan harga sahamnya akan berhenti untuk selanjutnya berbalik naik?

Penulis kemudian membaca beberapa berita yang dimaksud, salah satunya yang ini: http://keuangan.kontan.co.id/news/saham-ikut-turun-bri-juga-akan-buyback. Disitu judul beritanya jelas sekali: ‘BRI akan buyback’. Tapi jika anda baca lagi beritanya, maka sebenarnya Dirut BRI, Asmawi, tidak mengatakan bahwa management berencana untuk buy back saham BBRI dalam waktu dekat, melainkan:

Direktur Utama Bank BRI, Asmawi Sjam mengatakan, perseroan masih melihat kondisi saham BRI dalam beberapa waktu ke depan. Jika nantinya harga saham terus mengalami penurunan, maka perseroan akan melakukan buyback di harga yang ditentukan. Namun Asmawi masih belum merinci di harga berapa perseroan akan melakukan buyback.

Artinya dirut BRI sendiri menganggap bahwa saham BBRI pada saat itu masih mungkin untuk turun lebih lanjut. Jadi jika seseorang membaca berita diatas namun hanya membaca judulnya saja, maka ia akan keliru mengira bahwa BRI benar-benar akan buyback, padahal sama sekali tidak. Dan setelah penulis cek keterbukaan informasi perusahaan di website BEI, ketika itu juga belum ada pernyataan resmi dari BRI, ataupun bank-bank BUMN lainnya, bahwa mereka akan buyback saham dalam waktu dekat.



Nah, news seperti ini yg saya sebut sentimen positif kosong, karena hanya permainan kata-kata dari wartawannya saja. Jika seseorang ‘termakan’ berita kosong tersebut, maka ia kemungkinan akan merugi karena beberapa hari berikutnya ternyata IHSG masih terus turun (sehingga BBRI dan lainnya juga ikut lanjut turun), hingga akhirnya mencapai puncaknya (ditandai oleh panic selling) pada hari Senin tanggal 24 Agustus di posisi 4,164.

Namun pada hari Senin tersebut keluar lagi berita soal buyback, dan kali beritanya sungguhan. Contohnya di link yang ini: http://finance.detik.com/read/2015/08/24/181304/3000035/6/menteri-rini-bumn-siap-buyback-saham-rp-10-triliun-besok, dimana Menteri BUMN, Rini Soemarno, secara jelas mengatakan bahwa Kementerian BUMN sudah menyiapkan Rp10 trilyun untuk buyback 13 saham BUMN, terutama yang turunnya paling dalam.

Dan memang, pada keesokan harinya yaitu Selasa, 25 Agustus, IHSG mulai rebound dan hingga hari ini belum mencetak new low lagi (meski juga belum benar-benar naik kembali), melainkan masih sideways di 4,300-an.

Jadi bagi anda para investor, maka memang penting sekali untuk bisa membaca berita terkait dinamika pasar modal dengan teliti, agar anda bisa membedakan mana berita yang sungguhan, dan mana yang cuma hasil ‘pelintiran’ atau permainan kata-kata tadi. In fact, dari sekian banyak news yang bertebaran di media elektronik, internet, maupun koran setiap harinya, sebagian besar diantaranya hanya merupakan news hasil pelintiran, atau lebih buruk lagi: Hanya isu atau rumor yang tidak jelas kebenarannya.

Nah, belakangan ini mulai ada banyak rumor lagi terkait perusahaan-perusahaan tertentu yang kemudian membuat saham yang bersangkutan terbang, contohnya:
  1. Penurunan harga Avtur (bahan bakar pesawat) oleh Pertamina, yang diperkirakan (baru diperkirakan doang!) akan mendorong margin laba bagi Garuda Indonesia (GIAA), karena hampir 80% beban operasional perusahaan adalah untuk bahan bakar pesawat. Hasilnya saham GIAA terbang dari 300 hingga sempat tembus 360 (naik 20%) hanya dalam sepekan, antara tanggal 7 hingga 15 September lalu.
  2. Pemerintah mewajibkan perusahaan konstruksi dll untuk menggunakan baja produksi dalam negeri. Hasilnya saham Krakatau Steel (KRAS) naik dari 303 hingga tembus 336, juga hanya dalam sepekan.
  3. Pada 14 September, keluar berita bahwa developer mall asal Jepang, Aeon, akan mendirikan mall di superblok milik Sentul City (BKSL). Alhasil saham BKSL yang hampir saja tewas di gocapan (karena buruknya kinerja perusahaan sejak tahun 2014 lalu, terutama sejak dirutnya ditangkap KPK), tiba-tiba hidup kembali dan langsung terbang hingga ke posisi 80-an, termasuk sempat mencatat volume transaksi hingga nyaris setengah milyar lembar saham dalam sehari. Namun hanya dua atau tiga hari kemudian pihak perusahaan mengklarifikasi bahwa mereka masih dalam tahap pembicaraan dengan Aeon, atau dengan kata lain Aeon belum benar-benar akan bikin mall di Sentul, dan alhasil sahamnya turun ke 70. Ehh, hanya selang beberapa hari kemudian langsung keluar berita lagi bahwa Aeon sudah confirm, dan BKSL langsung naik lagi.
Daan seterusnya, anda mungkin bisa menambahkan saham-saham lain yang juga terbang plus beritanya masing-masing, tak peduli meski beritanya tersebut sejatinya cuma rumor kosong, atau kalaupun benar maka tetap saja tidak bisa langsung disimpulkan akan berdampak positif terhadap kinerja fundamental perusahaan. However, beberapa orang mungkin tidak peduli soal itu, karena yang penting adalah cuan! Kalau misalnya anda, entah karena dapet bisikan dari mana, sukses membeli BKSL di harga 57 dan menjualnya di 80, maka keuntungannya hampir mencapai 50% hanya dalam tempo kurang dari seminggu!

Namun masalahnya, pada kasus-kasus ‘saham terbang’ seperti ini maka terdapat lebih banyak orang yang justru baru masuk ke BKSL atau lainnya ketika harganya sudah naik tinggi. Jika kemudian beritanya ketauan cuma boongan, maka sahamnya akan kembali jeblok, dan para trader yang terlambat masuk ini akan menderita kerugian besar. Dan kondisi inilah yang kemudian menyebabkan bursa saham jadi lebih mirip seperti tempat untuk berjudi, ketimbang wadah untuk berinvestasi, dimana seseorang bisa untung besar dalam waktu singkat, namun sebaliknya juga bisa langsung bangkrut dalam waktu yang lebih singkat lagi.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar saya tidak terjebak spekulasi seperti itu? Nah, sebenarnya ini merupakan pertanyaan yang harus dilihat dari dua sisi. Kalau anda sering berspekulasi di saham-saham gorengan dan hasilnya sejauh ini lumayan profit, maka jujur saja, anda tidak akan menanyakan pertanyaan diatas bukan? Dan anda mungkin akan terus melanjutkan perburuan terhadap saham-saham yang mungkin akan terbang karena berita/rumor tertentu. Anda mungkin baru akan berhenti kalau pada akhirnya nanti sudah ‘kena batunya’.

Jadi pertanyaan diatas penulis anggap berasal dari anda yang berstatus sebagai ‘korban’ dari saham-saham gorengan. Dan jawabannya ada dua. Pertama, hati-hati dan harap teliti dalam membaca berita terkait perusahaan apapun, karena sebagian besar orang lebih suka hanya membaca judulnya saja, dan itu seringkali misleading. Penulis tidak bisa menjelaskan bagaimana cara membedakan berita sungguhan atau yang cuma merupakan ‘sentimen positif kosong’ (atau sebaliknya, ada juga 'sentimen negatif kosong' seperti yang melanda saham PGAS terkait wacana penurunan harga jual gas, beberapa waktu lalu). Namun seiring dengan bertambahnya pengalaman, lama-lama anda akan bisa membedakannya sendiri.

Dan yang kedua, at the end anda harus balik lagi ke kaidah value investing: Belilah saham berfundamental bagus pada harga murah, dan sebisa mungkin abaikan berita-berita seperti itu, karena keputusan untuk membeli saham hanya berdasarkan pemberitaan sesaat atau rumor adalah murni spekulasi dan bukan investasi (dan bahkan juga bukan trading, karena di trading masih ada analisisnya, dalam hal ini analisis teknikal). Ada satu metode yang sangat populer di dunia spekulasi pasar modal, yakni buy on rumor sell on news yang biasa dilakukan oleh para news trader atau trader yang membeli saham berdasarkan rumor/berita. Namun penulis sendiri sampai sekarang belum pernah mendengar orang yang sukses menjadi kaya raya dari menggunakan metode buy on rumor bla bla bla tersebut.

Anyway, sepanjang September ini maka godaan rumor itu mungkin akan terus menyerang para investor (‘godaan’ disini merupakan istilah yang tepat, karena ketika saham naik 10% hanya dalam sehari, misalnya, maka itu akan tampak menggiurkan bahkan bagi investor yang sudah sangat berpengalaman sekalipun). Sebab dalam kondisi dimana pasar kembali tenang, maka itu juga sekaligus membosankan karena IHSG, meski dia tidak turun lebih lanjut, tapi juga belum naik kembali. Para market maker atau bandar, sejak dulu sudah paham sekali psikologis pasar yang justru tidak suka kondisi tenang seperti ini (jadi maunya ribut terus). Karena itulah mereka kemudian menciptakan ‘keributan’ dengan menaik-naikkan saham yang sudah turun sangat dalam sebelumnya (karena buruknya fundamental perusahaan yang terkait), biasanya dengan volume transaksi yang besar. Dan agar para ritel mau ikutan membeli saham yang mereka mainkan, mereka juga meluncurkan berita-berita yang kemudian dijadikan sebagai ‘sentimen positif’. Baru saja pagi ini penulis mendengar cerita terkait Vale Indonesia (INCO), dan Aneka Tambang (ANTM), yang kemudian menerbangkan kedua saham tersebut.

Pertanyaannya, apakah anda mau ikut ‘bermain’? Well, kalau jawabannya adalah ya, maka ingat bahwa risiko ditanggung sendiri, termasuk anda tidak bisa berharap bahwa BEI atau OJK akan melindungi anda sebagai investor. Tapi jika anda menginginkan agar bisa tidur nyenyak malam nanti, then you know what you should do!

Catatan: Penulis pernah membuat artikel serupa di tahun 2011, anda bisa membacanya disini.

Pengumuman: Buletin Stockpick Saham edisi Oktober sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis bagi member.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

1 komentar:

Aditya Baskoro mengatakan... Balas

kalo media berita jaman sekarang slogannya "yang penting rating tinggi" cuan dulu, urusan berita gk sesuai etika itu nanti :D