Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

CPIN, PTBA, PGAS, dan SSIA

Halo Pak Teguh, minta pendapat soal Charoen Pokphand Indonesia (CPIN). CPIN termasuk saham LQ45 yang top pricenya pernah di sekitar 4,000 dan sempat turun ketika panic selling ke 1,300 (kurang lebih turun 67%, melebihi penurunan PGAS yang sekitar 50%) dan sekarang mantul ke 2,000 lagi. Secara awam saya melihat jika kita bisa dapat moment buy di 1,300 atau 1,400, tentu saja sekarang sudah profit 30 – 40%. Setahu saya CPIN merupakan perusahaan yang mempunyai track record bagus, mungkin lagi terimbas perekonomian global yg melemah dan USD yang melambung tinggi. Apakah CPIN termasuk saham yg layak dikoleksi?

CPIN membukukan laba bersih Rp959 milyar di Semester I 2015, turun lumayan dalam dibanding periode yang sama tahun 2014 sebesar Rp1.25 trilyun. Meski kinerja tersebut masih lebih baik dibanding dua kompetitornya yakni Japfa Comfeed (JPFA) dan Malindo Feedmill (MAIN) yang sampai merugi, dan pendapatan CPIN juga sejatinya masih naik, namun penurunan laba tersebut jelas disebabkan oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD. CPIN harus mengimpor sebagian bahan baku pakan ayam dari luar negeri, dan pada November 2014 lalu perusahaan memperoleh pinjaman sindikasi dalam mata uang USD dari Citigroup senilai US$ 200 juta. Pelemahan Rupiah menyebabkan perusahaan menderita kerugian selisih kurs, dan juga harus membayar bunga pinjaman USD-nya dalam jumlah yang lebih besar, dan itulah yang kemudian menekan laba perusahaan.

Masalahnya, kita nggak tahu Rupiah ini bisa melemah sampai berapa. Meski saat ini Rupiah sudah tembus Rp14,000 per USD, namun Bank Indonesia (BI) kelihatannya masih santai-santai saja, yang itu berarti mereka juga menganggap bahwa posisi Rupiah pada saat ini masih ‘aman’. Menurut BI sendiri, kurs Rupiah memang harus berada di level tertentu untuk bisa mendorong nilai ekspor (jadi tidak harus menguat). Jika besok-besok Rupiah kembali tertekan, katakanlah sampai Rp15,000 per USD, maka kinerja CPIN mau tidak mau akan turut tertekan.

Jadi meski penulis setuju bahwa CPIN ini bagus, namun untuk saat ini masih agak riskan untuk masuk. Kemarin dia memang rebound tinggi setelah event panic selling, tapi ketika itu SMGR, BBNI, ADRO, PTBA, dan masih banyak lagi, mereka juga terbang semua. Jadi kemungkinan itu hanya panic buying saja, karena investor melihat bahwa saham-saham tersebut sudah turun teramat sangat rendah.

Tapi selama fundamentalnya masih belum cukup baik, dan outlook-nya juga belum cerah, maka biasanya sahamnya akan turun lagi, karena disisi lain CPIN masih belum cukup murah untuk ukuran perusahaan yang kinerjanya lagi nggak bagus (PBV-nya masih 2.7 kali, sementara sekarang ini sudah banyak saham blue chip yang PBV-nya kurang dari 2 kali). Kalau dihitung dari all time high-nya yakni 5,200, maka CPIN sudah turun lebih dari 60%, tapi jangan lupa kalau CPIN juga sudah naik banyak sekali dari hanya 100 perak di tahun 2008. Jadi posisi CPIN pada saat ini masih jauh lebih tinggi dibanding posisinya di tahun 2008 tersebut.

Bukit Asam (PTBA) apakah sudah murah? Boleh dibeli untuk disimpan long term? Denger-denger perusahaannya mau buyback?

PTBA adalah saham terbaik di sektor batubara, dimana perusahaan punya track record kinerja yang sangat solid, profitabilitas diatas rata-rata, manajemennya mampu untuk berekspansi ke hilir (pembangkit listrik), royal dalam dividen, dan konservatif dalam leverage.

Tapi bahkan perusahaan sebagus itupun, kalau harga batubara turun maka ya tetap saja labanya bakal anjlok. Dan sayangnya sampai sekarang harga batubara masih turun meski tidak lagi sedrastis tahun-tahun lalu. Penulis sebenarnya termasuk yang percaya bahwa tahun ini mungkin merupakan titik nadir dari industri batubara, sehingga tahun depan industri ini seharusnya akan bangkit lagi, apalagi jika Pemerintah mampu merealisasikan pembangunan mega proyek 35,000 MW di dalam negeri. Tapi untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanya mengamati saja dulu, dan mungkin baru akan masuk nanti kalau industri batubara memang sudah menunjukkan turning point-nya. Kita akan investasi jangka panjang di PTBA ini, tapi seperti halnya menjual saham gak perlu buru-buru, maka membelinya pun gak perlu buru-buru. Kita lihat lagi dalam beberapa bulan kedepan gimana.

Soal buyback, itu belum tentu menggaransi bahwa sahamnya tidak akan turun lebih rendah lagi. Beberapa bulan lalu Gajah Tunggal (GJTL) juga mengumumkan bahwa mereka akan buyback saham ketika GJTL berada di 1,000-an, tapi sekarang GJTL malah sudah dibawah 500.

And btw, PBV PTBA saat ini masih 1.6 kali. Meski ini sejatinya sudah sangat murah, tapi dalam kondisi pesta diskon seperti sekarang maka ada banyak saham-saham batubara lain yang tidak kalah bagusnya, yang PBV-nya malah sudah nol koma. Jadi sekali lagi kita gak perlu buru-buru, karena jika nanti waktunya sudah tepat, maka di sektor batubara ini kita gak hanya bisa ambil PTBA, tapi (mungkin) BUMI sekalipun boleh!

Perusahaan Gas Negara (PGAS), saya tertarik untuk beli karena kelihatannya sudah murah sekali, tapi saya dengar kalau perusahaan merugi dari investasinya di luar negeri. Apa benar?

Yep, sebagai salah satu emiten terbesar di BEI, dan juga merupakan BUMN, maka PGAS terlalu menarik untuk diabaikan, apalagi sahamnya sudah turun lebih dari 50% dari puncaknya. Meski kinerja perusahaan juga lagi jelek karena imbas dari lesunya perekonomian, namun kalau kita berpandangan untuk jangka panjang, maka mungkin sekarang ini justru merupakan kesempatan yang bagus untuk masuk ke PGAS ini, dan jualnya nanti 5 tahun kemudian.

Hanya saja seperti CPIN diatas, PGAS ini juga punya ‘cerita’.

Tahun 2014 lalu, PGAS melalui anak usahanya, Saka Energy, mengeluarkan US$ 172 juta untuk mengakuisisi 36% kepemilikan di Blok Gas Fasken di Texas, Amerika Serikat, milik Swift Energy (SFY), perusahaan migas asal AS.  Karena kepemilikan PGAS di Fasken hanya 36%, maka operasional Fasken tetap dipegang oleh SFY, sementara PGAS hanya ikut memperoleh bagi hasil sebesar 36% dari gas yang diproduksi.

Secara operasional, Blok Fasken ini tidak ada masalah apapun. Menurut informasi resmi yang dirilis PGAS, produksi gas di Fasken terus naik, dari 30 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) pada tahun 2014 lalu, menjadi 154 MMSCFD pada saat ini, dan bisa naik lagi menjadi 190 mmscfd pada akhir tahun.

Namun yang mengalami masalah adalah SFY sendiri. Pada tahun 2014 lalu perusahaan mengalami rugi US$ 283 juta, dan hingga Semester I 2015 SFY kembali mencatat rugi US$ 770 juta. Akumulasi kerugian tersebut sedemikian besarnya hingga nilai ekuitas SFY anjlok dari US$ 1.1 milyar pada akhir tahun 2013, menjadi hanya US$ 28 juta pada saat ini. Jika trend kerugian diatas berlanjut, dan kelihatannya memang demikian, maka tak lama lagi SFY akan mencatat defisiensi modal (seperti BUMI), dan itu artinya secara teknis perusahaan sudah bangkrut.

Penulis sendiri masih belum jelas soal apa yang menyebabkan SFY merugi sampai segitunya. Namun karena kerugian tersebut maka saham SFY tanpa ampun anjlok dari US$ 11.4 menjadi US$ 0.5 pada hari ini. Di AS sendiri mulai ada banyak pemberitaan yang menyebut bahwa SFY mungkin akan segera di-delisting dari bursa.

Poinnya disini adalah, meski manajemen PGAS sudah membantah bahwa mereka berinvestasi di Fasken dan bukan di saham SFY, sehingga investasi mereka masih baik-baik saja (dan itu memang benar), namun jangan lupa bahwa yang memegang kendali operasional atas Fasken itu masih SFY, bukan PGAS. Jadi kalau SFY kenapa-napa, maka Fasken mau tidak mau akan ikut kena. Jika pada Kuartal III nanti Swift Energy pada akhirnya mencatat defisiensi modal (dan kelihatannya demikian), maka sahamnya mungkin akan benar-benar ditendang keluar dari Bursa New York, dan cerita soal Blok Fasken ini akan mengemuka kembali, kecuali jika PGAS bisa menutupinya dengan kinerja yang excellent (tapi nyatanya di Kuartal II barusan labanya masih turun).

Karena itulah, mungkin untuk saat ini kita ambil saham bluechip/BUMN lainnya saja dulu, yang sama-sama sudah murah tapi perusahaannya gak lagi ada cerita jelek apapun. Sebab disisi lain, Blok Fasken ini hanyalah satu dari sepuluh blok gas (tadinya sebelas, tapi ada satu blok yang dijual) milik PGAS. Dan di laporan keuangan perusahaan sendiri disebutkan bahwa tiga dari dari sepuluh blok gas tersebut (termasuk Fasken) mengalami kerugian penurunan nilai.

Surya Semesta Internusa (SSIA), tolong analisa serta harga terbaik untuk buy.

Dengan laba yang tumbuh 35%, ROE terjaga di level 17%, sementara ekuitasnya juga naik 9.3% secara year to date (atau 12.5% jika memperhitungkan dividen), maka kinerja SSIA untuk Semester I 2015 terbilang sangat baik, apalagi jika dibandingkan dengan kinerja para emiten lainnya di BEI, yang rata-rata mengalami penurunan laba atau bahkan kerugian. SSIA mampu untuk terus mencatat pertumbuhan laba karena adanya tambahan pendapatan dari penjualan tanah kawasan industri, dalam hal ini kawasan industri di Subang, yang land bank-nya sudah diakuisisi sejak tahun 2014 lalu. Sebelumnya pada tahun 2014 laba perusahaan sempat turun dibanding 2013 karena SSIA ‘kehabisan’ tanah kawasan industri untuk dijual, setelah 1,400 hektar kompleks kawasan industri milik perusahaan di Karawang sudah laku terjual semuanya (sebenarnya masih ada, tapi tinggal sisa 100-an hektar lagi). Beruntung, SSIA masih mampu memperoleh landbank untuk dibangun kompleks kawasan industri lainnya di Subang, dan kompleks ini masih punya cukup tanah kavling untuk dijual (totalnya 2,000 hektar) hingga beberapa tahun kedepan.


Selain bisnis kawasan industri, kedepannya SSIA masih bisa memperoleh tambahan pendapatan dari konsesi tol barunya (Tol Cikampek – Palimanan), proyek-proyek konstruksi/ pembangunan infrastruktur (melalui Nusa Raya Cipta/NRCA), hingga jaringan hotel bintang tiga yang saat ini sedang dibangun, ‘Batiqa Hotel’ (sudah selesai sebagian, jadi sudah bisa panen). Berbeda dengan beberapa perusahaan properti lainnya yang punya utang segunung atau utang dalam USD, neraca SSIA relatif bersih dari utang (DER-nya 1 kali), dan hanya ada utang obligasi dalam negeri dengan tingkat bunga yang tentu saja lebih murah dibanding utang bank.

Tapi meski fundamental serta outlook-nya sangat menarik, toh saham SSIA tetap saja ikut terseret arus penurunan IHSG, dan sekarang berada di level 700-an. But of course, this is a BIG opportunity, karena kita tahu bahwa dalam kondisi pasar yang normal, seharusnya SSIA ini berada di level 1,000-an. Another fact: Posisi SSIA saat ini (705) adalah hampir sama persis dengan posisinya pada Desember 2011 (hampir empat tahun yang lalu), padahal nilai ekuitas SSIA pada saat ini tercatat Rp2.8 trilyun, dibanding Rp1.1 trilyun pada akhir 2011 tersebut. Yep, jadi bisa dikatakan bahwa anda pada saat ini hanya perlu membayar harga yang sama untuk sebuah aset yang nilainya sudah naik dua setengah kali lipat, dan masih berpeluang untuk naik lagi di masa yang akan datang! Dan menurut anda, adakah tawaran deal yang lebih menarik dari itu?

Okay, selebihnya kita bahas minggu depan.

Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere Investama sedang dalam posisi memegang SSIA di harga rata-rata 680. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin Analisis IHSGstock-pick saham bulanan edisi September 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tiga edisi buletin lama (Juni, Juli, dan Agustus) bagi pelanggan baru, dan gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

2 komentar:

Kamal Bintan mengatakan... Balas

Terimakasih Pak Teguh, pembahasan yg sangat mencerahkan. Menurut sy anaknya SSIA juga bagus sekali saat ini untuk di koleksi, NRCA. Betul tidak Pak?

Tjandra Wandi mengatakan... Balas

pak teguh bagaimana dengan saham ssia disaat sekarang ini yang harganya sudah jauh dibawah. apakah ada hal yang mendasari perubahan fundamental perusahaan ini?
mohon diupdate analisa saham ssia pak> terima kasih