Penulis Mengadakan Kelas Private Value Investing ('private class'), dengan jumlah peserta per session maksimal 5 orang saja. Keterangan selengkapnya baca disini.

Teknik Diversifikasi Anti Pusing

Strategi diversifikasi adalah salah satu elemen penting dalam berinvestasi di saham terutama untuk mengurangi risiko kerugian, dan di blog ini kita sudah membahas tema ‘diversifikasi’ tersebut beberapa kali, contohnya pada artikel ini, dan yang ini. Mungkin perlu penulis sampaikan sekali lagi bahwa, kalau anda meniru strategi diversifikasi ala Warren Buffett, maka dalam satu waktu tertentu anda bisa memegang sekitar 15 hingga 20 saham yang berbeda dalam portofolio anda. Pada tahun 1960-an, ketika masih mengelola Buffett Partnership dengan dana kelolaan sekitar US$ 40 juta, Warren Buffett memang hanya memegang sekitar 20-an saham di dalam portofolio-nya.

Mengenal ‘Fed Rate’, dan Pengaruhnya Terhadap IHSG

Pada hari Kamis tanggal 19 Maret 2015, chairwoman Federal Reserve, Janet Yellen, menyatakan bahwa The Fed (istilah populer dari Federal Reserve, yang merupakan Bank Sentral Amerika Serikat) tidak akan terburu-buru dalam menaikan suku bunga acuan, atau yang dikenal dengan istilah ‘Fed Rate’. Sesaat setelah pernyataan tersebut dirilis, indeks-indeks saham di  Benua Eropa dan juga Asia rata-rata naik signifikan . Sebelumnya, para pelaku pasar di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, khawatir bahwa jika The Fed menaikkan Fed Rate, maka dana asing yang ada di bursa saham lokal akan keluar dan berpindah ke Negeri Paman Sam. Sebab dengan suku bunga acuan yang lebih tinggi, maka dalam pandangan investor-investor global, investasi di Amerika Serikat (AS) dengan sendirinya menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi, sementara disisi lain risikonya tetap dianggap sangat rendah mengingat Amerika adalah negara dengan perekonomian paling besar di dunia.

Pelemahan Rupiah, dan Kondisi Ekonomi Indonesia Saat Ini

Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), pada tanggal 14 Maret 2015, Rupiah ditutup di posisi Rp13,191 per US Dollar, dan ini adalah posisi terendah bagi mata uang Rupiah terhadap US Dollar sejak.. well.. krisis moneter tahun 1998. Jadi meski penulis pribadi dalam satu dua tahun terakhir ini berusaha untuk tutup mata terhadap perkembangan ekonomi makro dan tetap fokus pada faktor fundamental perusahaan dalam berinvestasi di pasar saham, namun hal ini mau tidak mau tetap kelihatan, karena bahkan pada krisis global tahun 2008 sekalipun, posisi nilai tukar Rupiah tidak pernah turun sampai serendah ini. Pada puncak krisis global tahun 2008, Rupiah hanya anjlok sampai Rp12,768 per US Dollar sebagai titik terendahnya, sebelum kemudian segera balik lagi ke level normalnya yakni Rp9,000-an per US Dollar.

Join Our Team

Teguh Hidayat & Partners opens an opportunity for capital market professionals to occupy a position as a Junior and Senior Partner.

Jobdesks:
  1. Build Analysis,
  2. Provide Advice, Consulting, and Training
  3. Managing Private Investment for High Net Worth Clients (for Senior Partner only).

Show Me the Money!

Beberapa waktu lalu penulis ketemu dengan seorang kawan lama (kami rutin ketemu setiap 2 – 3 bulan sekali sambil makan-makan untuk cerita ini dan itu, sekedar ngisi waktu lah), dan seperti biasa kita ngobrol panjang lebar tentang investasi saham dan lain-lain. Kebetulan, kawan penulis ini beberapa hari sebelumnya baru saja ketemu dengan salah seorang tokoh paling hot di Jakarta: Bapak Gubernur Ahok. Jadi ceritanya salah seorang anggota keluarga dari teman penulis ini meninggal dunia, dan Pak Ahok menyempatkan diri datang untuk melayat. Dalam forum tersebut Pak Ahok banyak cerita panjang lebar ngalor ngidul, dan kesan yang diperoleh adalah: Pak Ahok ini, tidak seperti birokrat pada umumnya yang cenderung kaku, beliau orangnya asyik! Sebelumnya, teman penulis ini sama sekali gak pernah memperhatikan soal Pak Ahok ini bagaimana, namun setelah pertemuan tersebut, ia secara gamblang mengatakan bahwa ia menyukai sang Bapak Gubernur.