Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Penguatan Rupiah: Peluang!

Sepanjang tahun 2015 lalu, pasar saham Indonesia hampir selalu dihantui oleh berbagai cerita buruk tentang perlambatan ekonomi, salah satunya terkait kurs Rupiah yang terus saja melemah dari Rp12,500 pada awal tahun, hingga hampir saja menembus Rp15,000 pada bulan September. Dan IHSG sendiri terus saja drop dari 5,500-an hingga posisi 4,120 pada September tersebut, dan kondisi psikologis market ketika itu sedemikian buruknya sampai-sampai hampir semua orang berpikir bahwa Indonesia bisa saja jatuh krisis seperti tahun 1998 (namun penulis sendiri ketika itu sudah mengatakan bahwa tidak akan terjadi krisis, anda bisa baca lagi artikelnya disini).

Beruntung, setelah September keadaan perlahan tapi pasti mulai membaik, dimana beberapa indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, hingga trading balance, semuanya menunjukkan improvement. Orang-orang sudah tidak ada lagi yang berbicara soal krisis, dan IHSG sendiri sekarang sudah berada di level 4,700-an (kemarin malah hampir saja tembus 4,900). Termasuk Rupiah, mungkin tidak banyak yang memperhatikan, tapi sekarang dia sudah berada di level Rp13,300-an per USD, atau menguat cukup signifikan dibanding September 2015 lalu, dan trend-nya juga tampak bagus dimana ia kelihatannya akan menguat lebih lanjut. Anda bisa cek gambar dibawah, dimana jelas tampak bahwa trend penguatan Rupiah sudah terjadi sejak Oktober 2015 lalu.

Kurs Rupiah sejak awal tahun 2015 hingga 29 Maret 2016. Klik gambar untuk memperbesar.

Nah, perlu anda ketahui bahwa ketika Rupiah mulai mengalami trend pelemahan dari Rp9,000-an per USD pada 2013 lalu (tepatnya mulai bulan Agustus) hingga akhirnya hampir saja menembus Rp15,000 pada September 2015, maka itu bukannya tanpa kesengajaan dari pihak Bank Indonesia (BI) sebagai regulator (selain karena hampir seluruh mata uang dunia ketika itu memang melemah terhadap USD). Jadi BI sejak awal sengaja membiarkan kurs Rupiah melemah hingga sampai pada level tertentu, dalam hal ini sekitar Rp13,700, dimana menurut salah satu pejabat BI, secara fundamental memang seharusnya Rupiah berada di kurs 13,700 tersebut. Tujuannya? Untuk memperkuat neraca ekspor impor (trading balance), dimana dengan melemahnya Rupiah hingga ke posisi sekian, maka harga barang-barang impor akan naik dan otomatis nilai impor itu sendiri akan turun. Dan jika disisi lain nilai ekspornya stagnan atau tetap turun, namun penurunannya tidak sedalam penurunan impor, maka hasilnya neraca ekspor impor Indonesia akan surplus, dan itu akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Mengingat bahwa harga komoditas batubara dan CPO terus saja turun sejak penghujung 2011, dan itu pada akhirnya menyebabkan anjloknya nilai ekspor Indonesia, maka tidak ada cara lain untuk menjaga agar neraca ekspor impor tetap surplus, kecuali dengan menurunkan nilai impornya, yakni dengan cara melemahkan nilai tukar Rupiah.

Okay, lalu bagaimana hasilnya? Apakah pelemahan Rupiah tadi efektif? Well, kita lihat saja datanya. Sepanjang tahun 2015, nilai ekspor Indonesia tercatat US$ 150.3 milyar, sementara nilai impornya US$ 142.7 milyar, sehingga dihasilkan surplus US$ 7.5 milyar, dan ini adalah untuk pertama kalinya sejak tahun 2011 dimana neraca ekspor impor Indonesia kembali mencatat surplus. Selengkapnya bisa lihat tabel berikut, angka dalam milyaran USD.

Tahun
2015
2014
2013
2012
2011
Impor
142.7
178.2
186.6
191.7
177.3
Ekspor
150.3
176.0
182.6
190.0
203.6
Surplus (Defisit)
7.5
(2.2)
(4.1)
(1.7)
26.3

Karena neraca perdagangan sudah surplus, dan hingga Februari 2016 kemarin juga masih surplus, maka artinya Rupiah tidak perlu melemah lagi. Jadi kecuali jika nanti ada isu global tertentu yang menyebabkan nilai tukar mata uang dunia, termasuk Rupiah, kembali melemah terhadap US Dollar, maka trend penguatan Rupiah selama beberapa bulan terakhir ini berpeluang besar untuk berlanjut.

Pertanyaannya sekarang, ketika Rupiah menguat maka perusahaan/emiten apa saja yang akan diuntungkan? Secara umum, ketika Rupiah menguat maka semua emiten akan diuntungkan, karena dengan menguatnya Rupiah maka itu mencerminkan membaiknya fundamental ekonomi. Dan kalau ekonomi membaik, maka kinerja perusahaan secara umum juga akan membaik.

Tapi kalau secara spesifik, maka yang paling diuntungkan adalah: 1. Perusahaan yang punya utang dalam mata uang USD, biasanya dalam bentuk obligasi yang diterbitkan di Singapura, dan 2. Perusahaan berbasis impor, entah itu dia mengimpor barang jadi atau bahan baku pembuatan produk. Kabar baiknya, saat ini beberapa saham dari perusahaan diatas (perusahaannya punya utang Dollar, atau perusahaannya berbasis impor) dihargai pasar pada valuasi yang sangat rendah. Jadi ketika kemarin Rupiah terus saja melemah selama kurang lebih dua tahun (antara Agustus 2013 hingga September 2015), maka selama itu pula perusahaan yang punya utang USD dan perusahaan berbasis impor mencatat kinerja yang sangat buruk, dimana pendapatan mereka turun drastis, atau pendapatan mereka masih naik tapi labanya turun atau bahkan menjadi minus alias rugi, karena membengkaknya nilai utang (yang dicatat sebagai kerugian). Alhasil saham dari perusahaan-perusahaan tersebut juga ikut turun sangat tajam, hingga beberapa diantaranya hanya mencatat PBV 0.5 kali atau bahkan kurang dari itu.

Namun dengan menguatnya Rupiah, maka maka kinerja perusahaan-perusahaan diatas tentunya berpeluang untuk kembali positif pada tahun 2016 ini. Sementara sahamnya? Ya otomatis bakal ikut naik, bisa jadi dengan kenaikan yang sangat signifikan hingga triple digit (karena sebelumnya mereka juga turun gila-gilaan). Beberapa saham yang penulis perhatikan adalah Gajah Tunggal (GJTL), dan Erajaya Swasembada (ERAA). Pada Februari 2013, GJTL menerbitkan utang obligasi di Singapura senilai US$ 500 juta, dan nilai obligasi tersebut dalam mata uang Rupiah terus membengkak dari hanya Rp5.9 trilyun pada akhir tahun 2013, menjadi Rp7.3 trilyun pada September 2015. Kenaikan nilai obligasi tersebut menyebabkan GJTL mencatat rugi bersih hingga Rp750 milyar hingga Kuartal III 2015. Sementara sahamnya? Jeblok dari puncaknya di 3,000-an hingga kemarin sempat menyentuh level 400-an, sebelum sekarang mulai naik lagi ke level 700, dimana pada harga tersebut PBV-nya hanya 0.5 kali, valuasi yang kelewat rendah untuk ukuran perusahaan ban dengan merk ban lokal paling terkenal di Indonesia.

Sementara ERAA, dia adalah importir ponsel, dan dengan melemahnya nilai tukar Rupiah plus turunnya daya beli masyarakat itu sendiri, maka praktis pendapatannya turun dan demikian pula dengan laba bersihnya (meski gak sampai rugi), namun sahamnya ternyata turun lebih drastis lagi. Tahun 2013 lalu, ERAA masih kokoh di level 3,400-an. Tapi sekarang? Cuma 650 perak! Dimana harga tersebut mencerminkan PBV 0.6 kali. Padahal seperti halnya GJTL, ERAA juga merupakan pemimpin sekaligus perusahaan terbesar di industrinya, dalam hal ini industri ponsel.

Nah, dengan menguatnya Rupiah, maka praktis nilai utang obligasi GJTL akan turun, dan perusahaan berpeluang besar untuk kembali mencatat laba bersih di tahun 2016 ini. Untuk ERAA, dengan menguatnya Rupiah maka itu akan menurunkan biaya impor ponsel, sehingga pendapatan perusahaan berpeluang untuk kembali naik di tahun 2016 ini, demikian pula dengan laba bersihnya. Sementara sahamnya? Ya gak usah ditanya lagi lah, 99% pasti ikut naik secara signifikan, minimal hingga ke level harga yang tidak bisa dikatakan murah lagi.

Selain dua perusahaan diatas, anda mungkin bisa cari peluang di saham-saham lainnya lagi. Another good news: Baru saja sore tadi, Pemerintah meluncurkan Paket Kebijakan Ekonomi jilid XI, dimana salah satu poin kebijakannya adalah penyediaan kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga murah (9% per tahun), khusus untuk usaha yang berbasis ekspor. Tujuannya jelas: Untuk kembali meningkatkan nilai ekspor Indonesia, yang sudah sejak tahun 2011 lalu turun terus, dan itu tentunya akan kembali memperbesar nilai surplus neraca perdagagangan yang kembali dicatat pada tahun 2015 kemarin (surplus yang dicatat pada tahun 2015 lalu lebih karena turunnya nilai impor secara drastis, sementara nilai ekspornya masih belum naik kembali). Nah, jika tujuan itu tercapai, maka sudah tentu Rupiah akan kembali menguat lebih lanjut, mudah-mudahan!

Disclosure: Ketika artikel ini ditulis, Avere sedang dalam posisi memegang ERAA di average 655. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi April 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio/tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

3 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

duh hati2 pak kalo ERAA

http://investasi.kontan.co.id/news/bergerak-tak-wajar-saham-eraa-masuk-kategori-uma

ian mengatakan... Balas

eraa bersaing dengan toko online

Anonim mengatakan... Balas

hati2 pak, jangan Happy dulu. bulan january angka API di ubah smua yang mengakibatkan importir tidak bisa import. API memakan waktu sampai 2 bulan sampai bisa import. jadi mnrt saya data ini agak fake.