Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Cara Mendidik Anak untuk Investasi Saham

Di buku ‘The Calm Investor’, penulis mengatakan bahwa seorang anak sudah bisa diajari untuk investasi di saham sejak usia 6 tahun. Dan seorang teman kemudian bertanya, bagaimana caranya? Orang dewasa aja kalau belajar saham kadang susahnya setengah mati, apalagi anak kecil? Well, tapi bagaimana kalau penulis katakan bahwa justru anak kecil bisa belajar saham lebih cepat dari orang dewasa, dan berpeluang lebih besar untuk menghasilkan profit?

Pertama, menganalisa saham itu sebenarnya tidak rumit, karena hanya menggunakan matematika sederhana seperti tambah, kurang, kali, bagi, dan persen. Dan bagi anak-anak, mereka justru sangat mahir matematika sederhana seperti itu. Sebagai contoh, penulis punya keponakan usia 9 tahun, yang kalau saya bertanya, berapa 8 kali 9? Dia bisa dengan cepat menjawab, 72!

Sementara orang dewasa? Coba deh anda bertanya kepada diri anda sendiri, berapa 7 kali 8? Bisakah anda menjawabnya dengan cepat tanpa bantuan kalkulator? Belum tentu. Penulis sering ketemu dengan calon investor yang, meski sudah dijelaskan, tapi tetap saja bingung soal bagaimana menghitung price to earning ratio (PER), padahal rumusnya sangat sederhana, yakni harga saham dibagi earning per share (EPS), sementara EPS itu sendiri adalah laba bersih dalam satu tahun, dibagi jumlah saham yang beredar.

Tapi kalau penulis menjelaskan soal rumus PER itu ke mahasiswa, maka biasanya mereka bisa dengan mudah memahaminya.

Kedua, orang dewasa itu gampang panik. Kalau dia beli saham senilai Rp100 juta, lalu saham tersebut turun 5%, atau dengan kata lain dia rugi Rp5 juta (meski baru rugi diatas kertas, alias belum direalisasikan), maka dia akan langsung panik, seolah-olah Rp5 juta itu jumlah yang luar biasa besarnya (padahal investor ini punya duit 100 juta, jadi harusnya 5 juta itu jumlah yang kecil toh?). Demikian pula kalau saham tersebut naik 5%, maka biasanya dia akan buru-buru menjualnya untuk merealisasikan keuntungan, karena takut sahamnya akan turun lagi. Dan seterusnya.

Dan perilaku seperti itu sangat bisa dimaklumi. Seorang investor, siapapun dia, ketika ia menyetor sejumlah uang ke sekuritas, maka uang tersebut adalah hasil jerih payahnya, hasil bekerja dan menabung selama berbulan-bulan atau bahkan mungkin bertahun-tahun. Jadi bagaimana kalau uang tersebut kemudian berkurang begitu saja gara-gara saham? Rasanya nyesek banget bukan?


Bagi orang dewasa, tidak ada yang lebih menakutkan ketimbang harus kehilangan uang, dan ketakutan inilah yang seringkali menyebabkan mereka bertindak secara irasional (misalnya membeli saham gorengan, jual saham hanya karena ada rumor jelek, dll). Penulis masih ingat, dulu di Jakarta pernah ada razia dimana polisi menghentikan sepeda motor yang masuk jalur busway, dan menyuruh mereka membayar denda Rp500,000. Dan saking gak mau bayar denda tersebut, puluhan pengendara motor yang masuk jalur busway sampai bela-belain mengangkat motor mereka keluar jalur begitu mereka melihat ada polisi yang menunggu di depan, tak peduli meski tindakan itu membahayakan keselamatan mereka sendiri.

Tapi itu orang dewasa. Sementara anak kecil? Well, mereka lebih takut cicak atau tokek ketimbang kehilangan duit. Karena, apa yang harus ditakutkan dari kehilangan sejumlah uang? Toh mereka masih bisa minta jajan lagi ke orang tuanya. Ini artinya ketika mereka diarahkan untuk berinvestasi di saham, maka mereka akan tidak mudah panik ketika IHSG atau saham yang ia pegang bergerak fluktuatif, melainkan cuek saja. Dan alhasil mereka akan melakukan jual beli saham secara rasional berdasarkan analisis logis yang sudah dibuat sebelumnya, dimana itu pada akhirnya akan menghasilkan profit yang konsisten.

Pendek kata, jika si anak memiliki mentor yang kompeten untuk membimbing dia dalam berinvestasi, maka ia berpeluang jauh lebih besar untuk menjadi investor besar suatu hari nanti, ketimbang orang dewasa yang kalau mau bisa menganalisis saham maka harus balik lagi ke bangku SD kelas 5 untuk belajar perkalian. Di buku The Calm Investor, penulis mengatakan bahwa seorang anak bisa diajari investasi saham mulai usia 6 tahun, karena pada usia itulah seorang anak biasanya sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Hanya memang, pada prakteknya beberapa anak mungkin baru bisa diajari pada usia 9, 10, atau 12 tahun, but it’s okay, karena pada usia tersebut mereka masih bisa disebut sebagai anak-anak.

Okay, lalu bagaimana cara mendidik anak untuk berinvestasi sejak dini? Here we go!

Pertama, untuk awal-awal ajarkan mereka untuk membeli dan memiliki barang yang berguna untuk waktu yang lama, bukan sekedar membeli barang yang sekali habis, katakanlah makanan. Ini adalah konsep dasar dari investasi. Contoh sederhana dari hal ini saja, biasanya ibu-ibu suka membeli baju yang agak besar untuk anak mereka yang masih balita, dengan harapan baju tersebut masih akan cukup hingga anak mereka tumbuh besar 2 – 3 tahun lagi. Nah, dalam hal ini penulis sering praktek dimana kalau saya pergi jalan-jalan berdua dengan si kecil yang cewek (usia 4 tahun), misalnya ke mall, maka sudah pasti dia minta dibeliin ini itu, dan penulis kemudian menawarkan: Mau pilih mana? Permen lolipop yang habis kalau dimakan dan mungkin bisa bikin gigi kamu sakit, naik kereta-keretaan tapi cuma sekali, beli balon warna warni yang lama-lama bakal kempes atau meletus, atau boneka Elsa yang bisa kamu mainin tiap hari dirumah? Fortunately, she always chose the latter.

Sebuah taman bermain anak di daerah Ciumbuleuit, Bandung. Setiap satu atau dua pekan sekali, penulis rutin mengajak anak-anak main ke tempat seperti ini. We call this quality time investment.

Kedua, setelah anak-anak anda sudah paham pentingnya ‘memiliki’ barang (baca: aset) yang bermanfaat untuk jangka panjang, maka selanjutnya ajari mereka tentang nilai barang tersebut, kemudian arahkan mereka untuk membelinya pada harga yang sesuai nilainya, atau lebih rendah lagi. Dan ini adalah konsep dasar dari value investing. Ketika Carlos Slim Helu masih berusia 9 tahun, ayahnya mulai memberinya sejumlah uang secara rutin setiap akhir pekan, lalu di pekan selanjutnya ia akan ditanya, uang itu dipakai untuk beli apa saja. Jika Carlos membeli sesuatu yang ternyata nilainya lebih rendah dari harga yang dibayarkan, misalnya beli sebotol minuman pada harga sekian peso dari sebuah toko padahal di toko lain harganya lebih murah, maka ayahnya akan menegurnya. Dua tahun kemudian, pada usia 11, Carlos melakukan investasi pertamanya dengan membeli obligasi pemerintah Meksiko, dimana obligasi tersebut nilainya naik terus dari tahun ke tahun (karena memperoleh bunga), sehingga dengan demikian ia memenuhi tugas dari ayahnya: Membeli barang yang nilainya lebih tinggi dari harga yang dibayarkan.

Nah, ketika anak anda sudah paham sejak awal tentang konsep ‘harga vs nilai’ ini, maka ia akan mampu menguasai kaidah-kaidah value investing dengan mudah, dan akan mampu menemukan saham-saham bagus yang dijual pada harga diskon. Pada usia 12 tahun, Carlos Slim membeli saham pertamanya, yakni saham sebuah bank besar di Meksiko, setelah melihat fakta bahwa ekuitas bank tersebut naik terus secara konsisten dari tahun ke tahun, sehingga ia mampu melihat bahwa nilai investasinya akan naik signifikan dalam beberapa tahun kedepan. Carlos terus membeli saham bank tersebut setiap beberapa waktu sekali, dan 3 tahun kemudian, pada usia 15, ia sudah menjadi salah satu pemegang saham minoritas terbesar di bank tersebut.

Okay, lalu mengapa mendidik anak untuk berinvestasi ini penting? Well, tentunya ada sejuta alasan untuk itu, tapi penulis hanya akan menyebutkan salah satu diantaranya saja: Berinvestasi di saham adalah sebuah karier seumur hidup tanpa pensiun, atau bahkan bisa lebih lama lagi jika anda mampu mendelegasikan tugas berinvestasi tersebut kepada seorang penerus, dalam hal ini putra-putri anda. Seperti halnya Carlos Slim, sebenarnya yang memulai pekerjaan investasinya adalah ayahnya Julian Slim, namun Carlos Slim-lah yang ‘menuntaskan’ pekerjaan investasi tersebut hingga menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Namun sudah tentu, beberapa anak mungkin memiliki passion-nya sendiri, termasuk penulis juga akan pasrah jika anak-anak ternyata lebih suka menjadi pelukis, misalnya. Termasuk Warren Buffett sendiri sudah memutuskan bahwa kelak ia tidak akan menyerahkan posisi CIO Berkshire Hathaway ke putranya Howard, melainkan ke salah satu protege-nya, Todd Combs. Meski demikian beberapa kemampuan dasar diatas yakni 1. Memiliki aset, dan 2. Membeli aset tersebut pada harga yang setara nilainya atau lebih rendah, pada akhirnya tetap akan membuat putra putri anda hidup berkecukupan, apapun profesi yang mereka pilih. Karena seperti yang dikatakan Buffett, ‘Tidak penting berapa besar pendapatanmu, yang penting adalah seberapa besar dari pendapatan tersebut yang tidak cuma sekedar lewat di rekening bank, melainkan menjadi aset yang bermanfaat untuk jangka panjang’.

Nah, jadi sekarang, sudah siapkah anda untuk berinvestasi pada aset anda yang paliiing berharga, yakni putra putri anda sendiri?

Info Investor: Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal I 2016 sudah terbit! Dan anda bisa langsung memesannya disini.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

3 komentar:

freeze intergoods mengatakan... Balas

Pak teguh, apakah pembukaan rekening saham tidak ada batasan usia minimal? Kalau ada, bagaimana cara anak usia 6 tahun beli saham?

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

@freeze intergoods: Kalo mau buka rekening harus punya KTP dan NPWP, jadi buka rekeningnya bisa atas nama bapaknya, terus rekeningnya dipegang/dikelola oleh si anak.

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

Tapi kalo si anak masih berusia 6 tahun maka jangan langsung disuruh megang rekening saham dulu, khawatirnya dia nanti malah jadi spekulan kalau dia belum punya basic seorang investor. Untuk awal-awal, tanamkan tentang tentang konsep dasar dari investasi itu sendiri terlebih dahulu, seperti yang sudah dijelaskan di artikel diatas, lalu 2 - 3 tahun kemudian baru dia dikasih rekening.