Buku Kumpulan Analisis Saham-saham pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 akan terbit hari Senin, 6 Nov 2017. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 28 Okt 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.

Kemana Arah IHSG di Tahun 2017??

Hingga Senin, 9 Januari kemarin, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terbilang sepi dengan nilai transaksi rata-rata hanya Rp5.25 trilyun per hari sejak awal tahun, atau jauh dibawah biasanya yang mencapai Rp6 – 7 trilyun per hari, itupun karena ditopang oleh peningkatan nilai transaksi yang sangat signifikan dari dua saham yang sebelumnya sepi-sepi saja, yakni Bumi Resources (BUMI) dan Bumi Resources Minerals (BRMS), yang total nilai transaksi keduanya mencapai lebih dari Rp500 milyar atau 10% dari seluruh nilai transaksi di bursa setiap harinya. Kondisi ini mungkin menimbulkan pertanyaan: Ada apa ini sebenarnya? Bukannya pasar saham itu biasanya rame kalo awal tahun? Lalu bagaimana kira-kira pergerakan IHSG untuk tahun 2017 ini? Okay, kita langsung saja.

Bagi anda yang bingung dengan sepinya pasar dan arah IHSG sepanjang awal tahun 2017 ini, maka ingat ini: Dalam jangka menengah dan panjang, pergerakan IHSG dan saham-saham didalamnya akan dipengaruhi oleh kualitas kinerja para emiten dan juga fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Sementara dalam jangka pendek, dalam hal ini tiga bulan atau kurang, maka pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh pemberitaan/sentimen yang beredar. Jika sentimennya positif maka IHSG akan naik, tapi jika jelek maka IHSG akan turun.

Tapi jika tidak ada sentimen apapun seperti sekarang ini, bagaimana? Ya IHSG gak akan kemana-mana, alias gak naik tapi juga gak turun, sementara nilai transaksi perdagangan saham juga akan sepi karena orang-orang yang megang barang nggak jualan, dan sebaliknya mereka yang masih megang cash juga masih wait n see alias gak mau buru-buru masuk. Dan IHSG sendiri ketika artikel ini ditulis masih bertahan di 5,300-an, atau relatif belum kemana-mana lagi sejak Agustus 2016 lalu. Berbagai pemberitaan yang beredar juga lebih banyak yang bermuatan politik (termasuk kemarin rame lelucon ‘Fitsa Hats’) ketimbang ekonomi, sehingga news terkait pembangunan infrastruktur dll masih belum mendapat tempat di media, setidaknya hingga saat ini.

Itu pertama terkait minimnya sentimen. Yang kedua, berdasarkan pengalaman, terlepas dari apakah IHSG akan naik atau turun berapa persen pada tahun tertentu, namun para pelaku pasar biasanya hanya akan bersemangat melakukan aktivitas investasi/trading saham pada awal tahun jika IHSG mengalami kenaikan yang signifikan di tahun sebelumnya, dan secara psikologis itu bisa dijelaskan: Kalau di tahun 2016 kemarin anda cuan gede, maka anda tentu akan bersemangat untuk meraup cuan yang lebih besar lagi di tahun 2017 ini.

Tapi kalau anda di tahun kemarin nyangkut dimana-mana, gimana tuh? Ya tentu saja jadinya bakal kurang bersemangat untuk belanja. Emangnya mau belanja apaan? Lha wong duitnya masih nyangkut kok.. Sebenarnya IHSG sepanjang tahun 2016 kemarin membukukan return yang lumayan, yakni 15.3%, tapi sayangnya mayoritas investor kemungkinan hanya menghasilkan profit yang lebih rendah dari itu, karena mereka baru masuk pada pertengahan tahun ketika IHSG sudah naik ke level 5,000-an, yakni ketika cerita tax amnesty mulai ramai dibicarakan. Sementara pada awal tahun 2016, yakni ketika pasar masih belum sepenuhnya pulih dari mini crash di tahun 2015 plus jatuhnya Bursa Shanghai, belum lagi beredar sentimen negatif terkait penurunan harga minyak hingga isu pembatasan NIM perbankan, maka keputusan untuk masuk ke pasar akan tampak sebagai keputusan yang ngawur, dan analisis yang menyebutkan bahwa IHSG akan naik ke 5,000 akan dianggap sebagai analisis yang tidak masuk akal.

Intinya, meski sebagian dari anda mungkin sukses meraup profit jumbo dari euforia tax amnesty, kenaikan saham-saham BUMN, hingga booming batubara, atau memang karena anda mampu untuk masuk ke pasar sejak awal tahun 2016 alias curi start, maka kinerja sebagian besar investor di tahun 2016 kemarin terbilang kurang bagus (itu bisa dilihat dari kinerja reksadana yang rata-rata dibawah IHSG), dan secara psikologis itu berpengaruh terhadap sepinya pasar di awal tahun 2017 ini, sama seperti sepinya pasar di awal tahun 2009 lalu, yakni setelah semua orang menderita kerugian gila-gilaan pada tahun sebelumnya alias 2008.

Menunggu Sentimen Positif

However, kita tahu bahwa di tahun 2009 itu pula, IHSG justru mencatat rekor dengan naik total 87.0% sepanjang tahun, yang itu berarti bahwa sepinya atau lesunya pasar di awal tahun bukan berarti bahwa IHSG akan lesu seterusnya di tahun tersebut. Malahan pada beberapa kasus seperti tahun 2009 dan juga 2016 kemarin, sepinya pasar di awal tahun justru merupakan big opportunity bagi para smart money, yakni mereka yang mampu menganalisis lebih dalam ke faktor-faktor fundamental ketimbang hanya memperhatikan naik turunnya IHSG, sehingga mereka bisa masuk/belanja lebih awal ketika saham-saham masih pada murah, dan tentunya profitnya pun lebih besar.

Lalu bagaimana untuk awal tahun 2017 ini? Apakah sepinya pasar juga merupakan opportunity untuk curi start, sama seperti tahun 2009 dan 2016 lalu? Bagaimana kalau untuk tahun 2017 ini ternyata pasar malah sepi untuk seterusnya, atau bahkan turun lagi? Nah, sebenarnya ada buanyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, namun untuk kali ini penulis akan mengajak anda untuk melihat dua diantaranya saja.

Pertama, dalam sepuluh tahun terakhir, terlepas dari bagaimana pergerakannya di awal tahun, namun IHSG cenderung akan naik banyak pada tahun tertentu jika pada tahun sebelumnya dia ditutup minus. Selain tahun 2009 dan 2016, IHSG juga naik lumayan banyak di tahun 2014 (22.3%) karena pada tahun 2013-nya IHSG minus tipis 1.0%. Berdasarkan hipotesa ini maka IHSG mungkin gak akan naik banyak di tahun 2017 ini, atau bisa saja malah turun, karena di tahun sebelumnya (2016) IHSG ditutup naik.

Namun demikian perhatikan: Kenaikan IHSG sepanjang 2016 kemarin hanya ditopang oleh Astra International (ASII) dan Telkom (TLKM) alias saham-saham big caps, itupun gak semuanya karena beberapa blue chips seperti PGAS, SMGR, BBNI, relatif belum kemana-mana lagi (JSMR malahan turun). Sementara saham second liner-nya, yang notabene merupakan penghuni mayoritas di bursa (saham-saham big caps/blue chips jumlahnya cuma 20-an, sisanya ya second liner) juga cenderung belum kemana-mana, dan beberapa diantaranya malah masih berada di posisi bottom-nya dalam lima tahun terakhir. Dan meski saham-saham batubara mengalami kenaikan yang luar biasa sepanjang tahun 2016 lalu, tapi jangan lupa bahwa mereka sebelumnya sudah turun berkepanjangan sejak tahun 2012 lalu, sehingga posisi mereka hingga saat ini sejatinya masih rendah.

Pendek kata, meski terdapat pengecualian untuk saham-saham tertentu yang naik banyak entah itu karena dikerek (terakhir yang rame itu BJBR) atau murni karena mekanisme pasar, namun sekarang ini sebagian besar saham di BEI masih berada di kisaran harganya seperti awal tahun 2016 lalu, dimana saham-saham ini sempat naik banyak ketika kemarin rame tax amnesty, tapi kesininya mereka turun lagi. Alhasil posisi pasar sekarang ini kurang lebih sama seperti awal tahun 2016 lalu, dan penulis bisa katakan bahwa saat ini ada cukup banyak saham-saham yang dijual pada harga diskon! Jadi tugas kita tinggal memilah-milahnya saja, yang mana yang berfundamental bagus dan yang tidak.

Kemudian kedua, kalau anda sudah cukup lama di market, maka sense alias insting anda akan terbentuk dengan baik, dan alhasil anda akan bisa merasakan kalau ada something wrong with the market. Contohnya pada tahun 2013 lalu, kejatuhan harga batubara dan komoditas lainnya menyebabkan perekonomian nasional, yang sebelumnya terus tumbuh kencang, mulai tersendat-sendat, dan pada bulan Agustus-nya penulis sudah bisa melihat hal itu akan berpengaruh negatif terhadap IHSG, setidaknya untuk tahun 2013 tersebut (anda bisa baca lagi analisisnya disini). Kemudian pada tahun 2015, perekonomian nasional sekali lagi berada dalam kondisi tertekan dimana salah satunya tampak dari Rupiah yang terus saja melemah, sehingga di bulan Maret penulis sudah bisa berkesimpulan bahwa IHSG mungkin akan turun untuk tahun 2015 tersebut, anda bisa baca lagi analisisnya disini. Sedikit pengingat, pada bulan Maret tersebut (dan juga bulan April-nya), IHSG justru terus saja break new high alias mencetak rekor kenaikan tertinggi hingga level 5,500-an. Jadi kalau anda ketika itu sekonyong-konyong mengatakan bahwa IHSG akan crash ke 4,000-an, maka anda akan dituduh sebagai ‘penebar kebencian’.

But later, IHSG ternyata benar-benar turun di tahun 2013, dan juga turun sekali lagi di 2015.

Baiklah, lalu bagaimana untuk tahun 2017 ini? Apakah juga ada something wrong? Gladly, there isn’t, setidaknya hingga saat ini. You see, tahun 2013 IHSG turun karena ekonomi mulai benar-benar melambat, terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas, dan turun sekali lagi di 2015 ketika perlambatan tersebut (mungkin) mencapai puncaknya, dimana bisnis apapun terasa lesu, dan Indonesia hampir saja jatuh krisis. Memasuki 2016 ekonomi perlahan tapi pasti mulai pulih, tapi sayangnya para emiten juga masih belum membukukan kinerja yang improve, sehingga IHSG hanya naik secara moderat.

Kemudian pada awal tahun 2017, alias saat ini, maka entah anda menyadarinya atau tidak, tapi kondisinya nyaris berkebalikan dengan tahun 2013 dan 2015 lalu. Coba perhatikan: Harga komoditas mulai naik, Rupiah stabil, pertumbuhan ekonomi stabil di 5%, ekspor impor surplus, tingkat suku bunga rendah, inflasi rendah, daaaan seterusnya.. Actually, ekonomi kita saat ini berada pada titik yang sedemikian stabilnya hingga kenaikan harga Pertamax yang cuma Rp300 per liter, atau melonjaknya harga cabai, itu seketika tampak sebagai peristiwa yang luar biasa! (Dan coba tebak siapa yang salah?? Ya pemerintah lageee...). Untuk kedepannya penulis nggak tau bakal gimana, tapi kalau melihat belanja pemerintah yang masih massive di bidang pembangunan infra, serta kembali stabilnya harga batubara serta CPO yang notabene merupakan tulang punggung perekonomian, maka penulis termasuk yang optimis bahwa kondisi ini akan bertahan hingga akhir tahun 2017 nanti, dan sudah tentu IHSG-nya juga akan bergerak di zona positif.

However, tulisan diatas merupakan analisis untuk jangka panjang. Terus bagaimana untuk jangka pendeknya? Sentimen apa yang nanti bakal muncul? Sebab, seperti yang sudah disebut diatas, kalau nanti tiba-tiba saja keluar sentimen negatif tertentu maka IHSG tetap akan drop bukan?? Demikian pula kalau gak ada sentimen apa-apa seperti sekarang, maka pasar tetep bakal sepi, bisa-bisa malah begini terus sampai akhir tahun?? Pak Teguh ini kenapa saham A pegangan saya kok gak mau naik-naik juga??? Hey hey.. Sabar!

Okay, dalam waktu dekat penulis atau siapapun tentu saja gak bisa menebak, sentimen apa yang bakal nongol. Tapi sekarang gini deh: Kita tahu harga batubara sudah mulai naik sejak pertengahan tahun 2016 lalu, tapi tentu itu bukan berarti perusahaan-perusahaan batubara langsung membukukan kenaikan profit pada pertengahan tahun tersebut. Lalu kapan PTBA dkk akan profit? Ya mulai tahun 2017 ini, mungkin pada Kuartal I 2017 nanti (laporan keuangannya akan keluar akhir April nanti) atau setelahnya. Dan kalau para emiten batubara kembali membukukan kenaikan profit, maka itu bakal menjadi sentimen positif bagi sahamnya, yang belakangan ini mulai cooling down setelah sebelumnya naik terus. Disisi lain kalau melihat data-data makro, penulis juga optimis bahwa para emiten di sektor lainnya juga akan membukukan kinerja bagus di awal tahun 2017 ini, dimana ketika itu terjadi maka itulah sentimen positif yang kita tunggu-tunggu!

Hingga Kuartal III 2016 kemarin, PT Bukit Asam, Tbk (PTBA) masih membukukan penurunan laba. Kita lihat bagaimana untuk tahun 2017 ini.

Jadi kalau anda termasuk yang mulai bosan dengan sepinya pasar di awal tahun ini, then don’t worry, karena toh pasar gak akan selamanya sepi terus (demikian sebaliknya, gak akan selamanya rame terus). All you have to do is to put your investments, then wait. However, kalau anda lebih memilih untuk menunggu diluar dan baru masuk pada Maret atau April nanti, maka itu juga boleh-boleh saja, toh biar gimana itu lebih aman dari kemungkinan munculnya sentimen negatif, tapi risikonya anda bisa saja bakal ketinggalan kereta lagi. Anyway, the choice is yours.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

3 komentar:

Marta mengatakan... Balas

Market can't be predicted, however from my perspective, there are only a few of good buys in this aging bull market.

Ismail akunpreneur mengatakan... Balas

Selalu menanti tulisan pak Teguh, sukses terus pak.

Nurkholis Marwanto mengatakan... Balas

Reques: dibanyakin analisis yang mikro-mikro pak, alias kinerja perusahaan, akhir-akhhir ini jarang mengulas khusus yang mikro, thanks