Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan ('Ebook Kuartalan') Edisi Kuartal II 2018 akan terbit hari Rabu, 8 Agustus 2018. Layanan preorder-nya sudah dibuka, keterangan selengkapnya baca disini.

Prospek IPO Bank BRI Syariah

IPO Bank Rakyat Indonesia Syariah, atau Bank BRI Syariah (BRIS) yang merupakan anak usaha dari Bank BRI (BBRI), terbilang menarik perhatian banyak investor karena dua hal: 1. Karena BBRI-nya, dan 2. Karena syariah-nya. Secara fundamental, BBRI sejak dulu sudah bisa dinobatkan sebagai bank terbaik di Indonesia, sehingga sahamnya menjadi menu wajib bagi banyak fund manager dan juga investor ritel. Namun bagi anda yang memegang rekening saham syariah, maka anda tidak bisa turut membeli saham bank konvensional seperti BBRI ini. Jadi bagaimana kalau kita ambilnya BRIS saja? Tapi hey, apakah kinerja BRIS ini sama bagusnya dengan induknya?


Sebelum kita bahas mengenai BRIS itu sendiri, mari kita bahas dulu cara kerja bank syariah, dan apa bedanya dengan bank konvensional (selanjutnya disebut ‘bank’ saja). Singkatnya, bank syariah tidak mengenal sistem bunga (atau ‘riba’), melainkan bagi hasil. Jadi katakanlah perusahaan A meminjam dana ke bank untuk modal usaha. Maka, berbeda dengan bank yang tetap memperoleh bunga fix sekian persen bahkan meski perusahaan A tadi menderita rugi dalam menjalankan usahanya (dan kalau A tidak bisa membayar utangnya, maka asetnya bisa disita), bank syariah tidak akan memperoleh bagian bagi hasil jika terjadi kerugian. Tapi sebaliknya, jika A untung besar berkat modal pinjaman tadi, maka bank tetap dapetnya bunga fix tadi, sementara bank syariah akan menerima bagian bagi hasil yang lebih besar. However, jika bank syariah menerima bagi hasil yang besar, maka mereka juga harus membayar bagi hasil yang lebih besar ke nasabah yang menyimpan dana di bank syariah tersebut. Jadi kalau anda taruh deposito di BRI, dan bunganya 4% per tahun, maka ya sudah anda dapatnya 4% itu saja. Tapi jika anda menempatkan tabungan mudharabah (semacam deposito juga, tapi sistemnya bagi hasil) di BRI Syariah, maka keuntungan yang anda peroleh bisa lebih besar atau lebih kecil dari 4% tadi, atau tidak dapat keuntungan sama sekali.

Hanya saja pada prakteknya, cara kerja bank syariah tidak jauh beda dengan bank. Contohnya, secara teori bank syariah tidak bisa menyita aset peminjam, tapi nyatanya penyitaan aset oleh bank syariah itu pernah juga terjadi. Kemudian, secara teori pula, bank tidak bisa rugi karena kalau peminjam tidak bisa melunasi hutangnya, maka mereka tinggal menyita aset yang dijaminkan, lalu dilelang. Namun, seperti halnya bank syariah, bank juga harus mencadangkan kerugian jika ada kredit macet, yang menyebabkan labanya turun, atau bahkan berbalik jadi rugi (baca lagi soal cadangan kerugian penurunan nilai, atau CKPN, di artikel ini).

Tapi ada satu perbedaan mendasar antara bank dan bank syariah: Bank bisa memperoleh banyak tambahan pendapatan diluar bunga, seperti provisi, komisi, fee based income, jasa valuta asing, jasa perantara perdagangan obligasi pemerintah, asset management, asuransi, hingga jasa pembiayaan/leasing. Dan beberapa pendapatan tersebut nyaris risk free. Contohnya, pendapatan provisi, dimana kalau anda mengajukan kredit Rp100 juta ke bank, maka selain bunga yang harus anda bayar kemudian, anda biasanya harus bayar provisi dimuka sebesar 1% dari nilai pinjaman, alias Rp1 juta. Jadi kalau ternyata anda kemudian gak bisa membayar cicilan beserta bunganya, maka setidaknya pihak bank sudah mengamankan pendapatan yang Rp1 juta tadi.

Sedangkan bank syariah, atau setidaknya kalau pakai contoh BRIS, pendapatannya hampir sepenuhnya berasal dari bagi hasil usaha saja. Sedangkan disisi lain beban CKPN BRIS terbilang besar, bahkan terus naik dari tahun ke tahun. Kalau di BBRI-nya itu sendiri, CKPN-nya juga besar, tapi tertutup oleh pendapatan diluar bunga, jadi alhasil laba bersihnya tetap besar. Namun di BRIS, karena pendapatan lain-lain diluar bagi hasilnya tidak cukup besar untuk menutup beban CKPN, maka jadilah labanya kecil. Perbandingan selengkapnya bisa dilihat di tabel berikut, sebelumnya catat bahwa pendapatan hingga laba bersih BBRI sudah termasuk menghitung pendapatan dari unit usaha syariahnya/BRIS, dan pendapatan lain-lain bagi BBRI sudah termasuk unit usaha asuransinya (BRI Life). Angka dalam milyaran Rupiah.

Tahun (BBRI) 2017 2016 2015
Pendapatan bunga 100,080 91,358 85,434
Pendapatan lain-lain 19,476 17,277 13,855
CKPN (16,994) (13,700) (8,891)
Laba bersih 28,997 26,196 25,398
Margin Laba (%) 29.0 28.7 29.7
Tahun (BRIS) 2017 2016 2015
Pendapatan syariah 2,817 2,634 2,425
Pendapatan lain-lain 149 128 130
CKPN (453) (319) (231)
Laba bersih 101 170 123
Margin Laba (%) 3.6 6.5 5.1

Okay, perhatikan. Diatas jelas tampak bahwa margin laba BBRI jauh lebih besar dibanding BRIS, jadi praktis return on equity (ROE) BBRI juga lebih besar dibanding BRIS. Awalnya penulis berpikir, apa ini karena usaha bank syariah memang kurang profitable dibanding usaha bank biasa? Tapi ternyata bukan, melainkan karena itu tadi: BBRI punya banyak tambahan pendapatan diluar bunga, tapi untuk BRIS-nya sendiri, tambahan pendapatan diluar bagi hasilnya hanya sedikit. Jika BRIS hendak membukukan laba yang lebih besar di masa yang akan datang, maka caranya: 1. Menekan CKPN-nya, 2. Mengembangkan usaha-usaha syariah lainnya diluar bagi hasil, misalnya asuransi syariah, pembiayaan syariah dll, agar pendapatannya jadi lebih besar. However, menekan CKPN ini sulit karena tergantung kondisi makroekonomi (kalau ekonomi lagi kurang bagus, maka mau gak mau bakal banyak kredit macet). Sedangkan kalau dari rencana penggunaan dana hasil IPO-nya sendiri, dimana 80% akan dipakai untuk pembiayaan syariah seperti biasanya, maka penulis juga belum melihat ada rencana dari manajemen BRIS untuk mencari tambahan pendapatan diluar pendapatan bagi hasil seperti biasanya.

Kesimpulannya, kalau disuruh milih, maka penulis tetap ambil BBRI-nya saja. Dan meski BBRI sekarang sudah berstatus sebagai bank terbesar di Indonesia dari sisi aset (Rp1,126 trilyun per akhir 2017), tapi dengan total aset Rp31 trilyun, maka BRIS masih berstatus bank kecil, yang masih perlu waktu untuk berkembang hingga akhirnya mampu memberikan kontribusi laba yang signifikan bagi induknya.

Anyway, sekali lagi jika anda tidak bisa membeli saham BBRI karena anda membuka rekening syariah di sekuritas, selain karena valuasi BBRI saat ini tidak bisa disebut murah juga, maka BRIS tetap boleh dipertimbangkan mengingat meski secara aset dia sangat kecil dibanding BBRI, tapi BRIS adalah bank syariah terbesar ketiga di Indonesia setelah Bank Muamalat, dan BNI Syariah, dan berpeluang untuk menjadi bank syariah terbesar jika manajemennya mau kerja keras (karena ingat, dulu juga BBRI lebih kecil dari Bank Mandiri dan Bank BCA, tapi sekarang sudah jadi yang terbesar). Sementara industri perbankan syariah itu sendiri, dengan hanya total aset Rp424 trilyun di tahun 2017, alias masih sangat kecil dibanding total aset bank konvensional yang Rp7,387 trilyun, maka industri ini berpeluang besar untuk tumbuh kencang di masa yang akan datang, mengingat Indonesia merupakan negara mayoritas muslim.

Dan meski penulis sendiri sebenarnya kurang suka membeli saham berdasarkan ‘analisa prospek’ diatas (dalam value investing, kita hanya melihat track record kinerja perusahaan di masa lalu, bukan mencoba memprediksi bagaimana kinerja mereka di masa yang akan datang), namun valuasi BRIS juga terbilang atraktif. Jika harga perdananya ditetapkan di level 600, maka PBV BRIS tercatat 1.4 kali, yang meski tidak bisa disebut murah jika mempertimbangkan kinerja fundamental perusahaan, tapi relatif murah dibanding valuasi induknya, dan juga relatif murah jika mempertimbangkan nama besar ‘Bank BRI’. Kalau ada satu hal yang mengganjal adalah fakta bahwa di tahun 2017 kemarin, laba BRIS turun lumayan dalam dibanding 2016 (sekali lagi, gara-gara CKPN-nya naik). Jadi mungkin bisa juga kita tunggu dulu bagaimana kinerja perusahaan untuk Kuartal I 2018 ini. Kalau labanya naik lagi, go ahead!

PT Bank BRI Syariah, Tbk (BRIS)
Rating Kinerja pada tahun 2017: BBB
Rating saham pada 600: A

Untuk minggu depan kita akan bahas tema strategi ‘mengejar ketertinggalan kereta’: Bagaimana strateginya jika saham yang diincar sudah naik duluan sebelum kita sempat membelinya??

Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Mei 2018 akan terbit tanggal 1 Mei mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham langsung dengan penulis via email untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

6 komentar:

adi_widyatmika mengatakan... Balas

Wah setuju banget pak Teguh, ditunggu artikel strategi mengejar keretanya

Anonim mengatakan... Balas

Go Teguh Hidayat syariah!!!
Ini yang sudah lama ditunggu pak, value investing hanya saham-saham yang memenuhi kategori syariah, which is ga beli saham rokok, saham bank konvensional, saham bir, dan saham perusahaan2 dengan pinjaman dengan bunga-nya jauh lebih besar daripada pinjaman syariahnya (aka BUMI).

rioquiserto mengatakan... Balas

NPL BRI Syariah diangka 6%, jauh lebih buruk dibandingkan pesaingnya BTPN Syariah yang hanya di 1% lebih.

agus xaverius mengatakan... Balas

IHSG mulai longsor perlahan..
Walau belom longsor parah, saya kira beberapa emiten blue chip udah bisa mulai di koleksi secara nyicil..

Semoga semua bisa melihat peluang ini.. :)

Ali Marwan mengatakan... Balas

Pak Teguh, dibandingkan dengan BTPN syariah yang akan IPO juga, prospeknya lebih baik mana ya pak teguh ?

Thanks....

I Putu Asta Ardyana Putra mengatakan... Balas

Bagaimanapun, poin ane ambil BRI Syariah:
- indonesia negara muslim terbesar
- urusan agama org indonesia pada taat
- BRI literally bank rakyat. Custnya kalangan low middle yang tahan krisis, ada di pelosok pelosok.