Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan ('Ebook Kuartalan') Edisi Kuartal II 2018 akan terbit hari Rabu, 8 Agustus 2018. Layanan preorder-nya sudah dibuka, keterangan selengkapnya baca disini.

Analisa Cash Flow Dalam Value Investing

Kalau anda terbiasa baca laporan keuangan (LK) perusahaan, maka anda akan hafal bahwa format standar LK di Indonesia adalah urutannya sebagai berikut: 1. Laporan posisi keuangan (aset, kewajiban, dan ekuitas), 2. Laporan laba rugi (pendapatan, hingga laba bersih), 3. Laporan perubahan posisi ekuitas, dan terakhir 4. Laporan arus kas. Normalnya, kalau penulis sendiri melakukan analisa cepat LK, maka yang kita pelajari hanyalah perkembangan aset hingga laba bersih perusahaan saja, dan jarang melihat sampai laporan arus kas, tapi mungkin dari sinilah kemudian timbul pertanyaan: Apa bedanya laporan arus kas dengan laporan laba rugi? Bagaimana kalau perusahaan di laporan laba ruginya membukukan profit sekian Rupiah, tapi jumlah kas yang diterima (yang tercantum di laporan arus kas) lebih kecil? Lalu bagaimana jika perusahaan membukukan arus kas negatif? Dan seterusnya.

Nah, sebelum kita bahas lebih lanjut, mari kita pelajari dulu definisi arus kas ini dari awal.

Laporan arus kas, atau cash flows statement, adalah sama seperti laporan keuangan itu sendiri secara keseluruhan, namun informasi yang dicantumkan hanya sebatas jumlah uang Rupiah (atau Dollar) yang benar-benar diterima atau dibayarkan oleh perusahaan pada periode laporan keuangan yang bersangkutan. Dalam hal ini perlu dicatat bahwa ketika perusahaan membukukan pendapatan Rp100 pada Kuartal I 2018, maka uang Rp100 itu bisa saja baru akan diterima (dalam bentuk tunai) pada Kuartal II, atau lebih lama lagi.

Analogi sederhananya sebagai berikut. Let say anda sebagai fund manager membeli saham A, dan perusahaan A kemudian mengumumkan pembayaran dividen sebesar Rp100 dengan tanggal cum 15 Maret, dan tanggal pembayaran 10 April. Karena anda tetap meng-hold saham A hingga lewat tanggal cum-nya tersebut, maka anda otomatis berhak atas dividennya, sehingga ketika anda membuat laporan keuangan untuk periode Kuartal I (per tanggal 31 Maret) untuk dipresentasikan ke klien, maka di LK tersebut bisa dicantumkan pendapatan dividen sebesar Rp100, tapi di laporan cashflow uang Rp100 tersebut belum masuk. Why? Ya karena itu tadi: Dividen tersebut baru akan dibayar/ditransfer ke rekening anda pada tanggal 10 April, sehingga untuk LK per tanggal 31 Maret, uangnya memang belum masuk.

Tapi sekali lagi, meski per tanggal 31 Maret dividen tersebut belum benar-benar masuk ke rekening, namun anda sudah pasti akan memperoleh uangnya karena anda masih memegang saham A hingga lewat tanggal cum dividennya. Sehingga di LK yang anda buat, anda sudah bisa melaporkan pendapatan dividen Rp100. Got it?

Selain kondisi dimana ‘pendapatan dicatat duluan, sementara uangnya masuk belakangan’, bisa juga terjadi kondisi dimana ‘uangnya masuk duluan, tapi belum bisa dicatat sebagai pendapatan’. Contohnya perusahaan developer properti, dimana mereka bisa menerima sejumlah uang kas dari pelanggan yang membeli properti, tapi jika unit rumah/kantor/apartemen-nya belum diserah terimakan (karena memang masih dibangun), maka uang tersebut belum bisa dicatat sebagai pendapatan, melainkan harus dicatat sebagai uang muka pembelian, yang merupakan utang. Thus, di laporan keuangan akan tampak bahwa perusahaan menerima ‘uang kas dari pelanggan’ sebesar sekian, tapi pendapatannya lebih kecil dari itu. Dan pihak developer baru bisa mengakui uang yang diterima dari pelanggan sebagai pendapatan, jika unit propertinya nanti sudah diserah terimakan.

Karena hal-hal yang disebut diatas, pada akhirnya laporan cashflow sebuah perusahaan, dalam hal ini cashflow operasional, itu tidak pernah persis sama dengan laporan laba ruginya, melainkan pasti ada saja bedanya. Faktor-faktor tambahan seperti administrasi bank, dimana kalau anda transfer/setor ke suatu bank maka duitnya baru akan masuk besoknya (misalnya kalau anda beli unit apartemen seharga Rp1 milyar secara cash, maka hampir gak mungkin bayarnya pake duit kertas bukan? Melainkan harus pake transfer bank), juga bisa menyebabkan perbedaan antara laporan laba rugi dengan laporan cashflow operasional. Yup, jadi dalam hal ini anda tidak perlu khawatir jika perusahaan membukukan profit sekian, tapi di laporan cashflow-nya jumlah uang tunai yang masuk lebih kecil, apalagi sampai menganggap bahwa laporan keuangannya ‘direkayasa’. Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, jarang terjadi kasus dimana laporan keuangan dipermak dari sisi laporan cashflow-nya. Ketika laporan keuangan diutak atik, maka bagi analis berpengalaman, itu bisa langsung kelihatan dari posisi neraca serta laporan laba rugi, tanpa perlu lagi melihat laporan arus kas-nya.

Pentingnya Analisa Cashflow untuk Investasi Jangka Panjang

Karena itulah, seperti yang sudah disampaikan diatas, ketika melakukan analisa cepat (sebelum kemudian dilanjut analisa mendalam), biasanya penulis berhenti pada angka laba bersih perusahaan. However, untuk perusahaan consumer goods, dimana ketika seorang pembeli membeli produk kebutuhan sehari-hari maka pihak perusahaan langsung menerima pembayaran tunai, dan pembayaran itu bisa langsung diakui sebagai pendapatan karena barangnya juga sudah diserahkan ke pelanggan tersebut, maka barulah laporan cashflow ini penting untuk diperhatikan. Jadi anda boleh bersikap kritis kalau misalnya Indofood CBP (ICBP) melaporkan pendapatan Rp1,000, tapi penerimaan dari pelanggan di laporan arus kas-nya hanya Rp500. Sebab ICBP kan jualannya Indomie dan semacemnya, yang harga per bungkusnya murah sehingga orang belinya hampir selalu tunai, dan saya belum pernah dengar ada orang beli Indomie di Alfamart namun barangnya baru dikasiin sebulan kemudian.


Fast Moving Consumer Goods milik ICBP

Jadi berbeda dengan katakanlah Waskita Karya (WSKT), dimana perusahaan bisa membukukan pendapatan sekian trilyun Rupiah sekaligus dari 1 proyek jalan tol, namun karena duitnya gede banget maka uang tersebut baru benar-benar diterima perusahaan beberapa minggu hingga beberapa bulan kemudian (karena proses pencairan dananya dll perlu waktu), maka pendapatan ICBP harusnya gak beda jauh dengan laporan arus kasnya. Simpelnya, jika perusahaan di sektor lain biasanya memiliki perputaran omzet yang lambat, dimana WSKT belum tentu menerima pembayaran tunai tiap hari (kalau lagi gak ada proyek, atau ada proyek tapi selesainya masih lama, maka WSKT juga belum akan menerima pembayaran dulu), maka perusahaan consumer goods memiliki perputaran omzet yang cepat, dimana boleh dikatakan bahwa ICBP menerima pembayaran cash tiap hari. Dan memang, anda bisa cek sendiri, sampai laporan keuangan terakhirnya, laporan pendapatan ICBP tidak beda jauh dengan laporan arus kas-nya.

Selain perusahaan consumer, perusahaan perbankan juga normalnya memiliki laporan laba rugi yang tidak jauh berbeda dengan laporan arus kas-nya, karena itu tadi: Mereka menjual jasanya (kredit KPR, jasa administrasi bank, dll) langsung ke konsumen akhir yang membayar bunga secara tunai, dan konsumen ini juga sudah menerima jasa yang dimaksud sehingga pihak bank bisa langsung mengakui uang yang mereka terima sebagai pendapatan.

Tapi untuk perusahaan-perusahaan diluar sektor consumer dan perbankan, maka laporan cashflow tidak terlalu penting untuk diperhatikan, karena tidak menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atau earnings power, yang perlu kita perhatikan dalam menghitung nilai intrinsik/valuasi sebuah perusahaan (earnings power itu ya dilihatnya dari track record laba bersih perusahaan, serta track record pertumbuhan ekuitasnya dari tahun ke tahun). Nevertheless, laporan cashflow menjadi sangat penting untuk diperhatikan jika: 1. Anda berencana untuk membeli perusahaan secara penuh/menjadi pemegang saham mayoritas disitu, atau 2. Anda berencana untuk hold forever sahamnya, misalnya untuk dijadikan sebagai mesin dividen.

Sebab jika anda memiliki serta mengendalikan perusahaan A, maka anda akan memiliki akses dan juga bertanggung jawab terhadap arus keluar masuk uang tunai, dan anda mungkin akan puyeng sendiri ketika misalnya harus bayar supplier bahan baku, tapi uang hasil penjualan masih belum masuk (tapi jika anda cuma pegang saham A sebanyak 1 lot, maka anda gak perlu pusing soal ini). Demikian pula jika anda membeli saham untuk tujuan memperoleh dividennya tiap tahun, maka perusahaan akan bisa membayar dividen secara teratur tidak hanya jika perusahaan konsisten membukukan laba, tapi juga jika cashflow-nya lancar/selaras dengan laporan laba bersihnya tersebut. Karena yang namanya bayar dividen, itu harus pake duit tunai toh?

Tapi sayangnya berdasarkan pengalaman selama ini, jika penulis ditanya saham apa yang bisa di-hold forever di bursa saham Indonesia, baik itu kita belinya dalam jumlah besar/mayoritas maupun hanya beli 1 – 2 lot, maka berdasarkan ‘syarat-syarat saham yang bisa dipegang sehidup semati’ yang pernah kita bahas disini, penulis gak punya banyak opsi lain selain saham consumer goods atau perbankan. Sedangkan untuk saham-saham dari sektor lainnya, meski kita bisa saja hold sampai bertahun-tahun, tapi biasanya nanti ada waktunya untuk menjualnya kembali (baca lagi penjelasannya disini). Jadi balik lagi, analisa cashflow hanya penting untuk saham di sektor consumer dan perbankan. Sementara untuk saham-saham di sektor lainnya, kita bisa menghemat waktu dengan menganalisa hingga sebatas laporan laba bersih komprehensif perusahaan saja.

Btw penulis sengaja menulis soal cashflow sekarang karena saya baru sadar, sejak tahun 2010 sampai sekarang kita sama sekali belum membahas soal cashflow ini. Jadi untuk kedepannya bagi anda yang mungkin sudah baca-baca semua artikel di blog ini dari dulu sampai sekarang, anda boleh kasih usul kita akan bahas soal apa lagi, yang mungkin belum pernah penulis bahas sebelumnya. Tapi untuk minggu depan kita akan kasih analisa saham lagi.

Jadwal Seminar Value Investing (hari Sabtu): Jakarta 30 Juni, Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.

Jadwal Seminar Value Investing – Advanced Class (hari Minggu): Jakarta 1 Juli, Medan 8 Juli, Surabaya 15 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.

Buletin Bulanan Analisis IHSG & Stockpick Saham Bulanan edisi Juli 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham via email langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

11 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Cash flow sangat penting untuk sektor apapun. Jadi kurang setuju dengan statement hanya untuk sektor konsumer dan perbankan saja... Karena Pada dasarnya pilihan asumsi accounting sangat banyak dan perusahaan bisa menerapkan pilihan metode accounting yang agresif, yang mana earnings qualitynya hanya bisa dideteksi melalui cash flow.

Rohmad mengatakan... Balas

Analisa Cashflow ini memang sangat menarik dan penting ya, Pak. Usaha-usaha financial re-engineering bisa divalidasi dengan laporan cashflow. Baik re-engineering dengan niat untuk menggelembungkan laba maupun mengecilkan laba. Selain itu juga penting untuk melihat hidden value dari suatu company, karena keniscayaan akuntasi sehingga menyebabkan company harus menaruh beban (misalnya beban depresiasi) sehingga menggerus laba.

Keep sharing, Pak.

Ahmad Raihan mengatakan... Balas

Wah, akhirnya ada juga yang membahas analisis cashflow hohoho...
Thanks pak sudah mengaminkan permintaan saya :D

kamilcell mengatakan... Balas

terima kash bnyak atas pencerahannya pak teguh..artikel yg dtggu-tnggu mengenai cashflow. untuk perusahaan mesin deviden diluar consumer dan bank, misal SMSM tetep penting diperhatikan cashflownya juga pak?

Disiapkan mengatakan... Balas

artikel menarik pak Teguh, next time mungkin bisa dibahas mengenai apa itu free cash flow dan fungsinya di analisis saham buat apa. makasih pak

cni-enb mengatakan... Balas

ada perush sudah untung tapi tidak bagi deviden. contoh PNIN. apakah cashflow nya bermasalah? pemilik mayoritas dapat pemasukan dari gaji komisaris misalnya, tetapi pemegang saham gigit jari? saham seperti ini layak investasi?

Bos AGUS mengatakan... Balas

Pak teguh tolong bahas saham SOCI dong
Yg PBV nya cuma 0,3 x
Makasi

George mengatakan... Balas

Jadi ingat LPCk. Tahun 2017 ada aliran cash flow dr pelanggan 4.2T namun di kolom pendapatan tercatat hanya 1.5T. Pada saatnya nanti ketika kas tersebut akhirnya dibukukan pada kolom pendapatan net profit pasti akan mengikuti naik.
Ketika lpck berhasil membukukan net profit hingga 900milyar, harga sahamnya melonjak hingga diatas 2kali nilai buku. Apakah net profit 900 tsb akan bisa dicapai lagi. Kemungkinan iya jika kas dr pelanggan 4.2T tsb mulai masuk sbg pendapatan.

Freddy Gunawan mengatakan... Balas

Pak Teguh, boleh request kah bahas stock yang bergerak di bidang multi finance, investment, dan insurance dimana dana nasabah diperoleh dari pihak ketiga (mirip seperti perbankan), tapi mereka mempunyai cara kelola yang berbeda-beda. Ada yang mencari profit dengan pembiayaan (pemberian kredit), investasi kembali (bisa dalam bentuk deposito, obligasi, ataupun saham juga).

Boleh diberikan sedikit insight apa pertimbangan suatu perusahaan mau invest di saham lain yang jelas-jelas secara fundamental sangat buruk, sebut saja : BUMI, BNBR, ELTY, dll. Bukankah selain investasi, sebagai perusahaan mereka juga harus mencetak profit agar tercermin di LK dan meningkatkan valuasi perusahaan mereka terlebih dahulu? Atau saya ada yang miss dalam hal ini. Thx.

Anonim mengatakan... Balas

Pak bisa tlg analisa valuasi PGAS setelah akuisisi PERTAGAS.
Dan kenapa harga nya langsung terjun setelah akuisisi?

Trims

Anonim mengatakan... Balas

bos ngak baca arus cashflow hanya baca laporan rugi laba bisa kena tipu tipu macam kasus enron di us :D konon warren buffet bahkan baca sampai note asumsi laporan keuangan . karena disitu biasa tipuannya :D
ceo cfo tanda tangan laporan keuangan bukan dari kondisi sejujur jujurnya tapi dsri kondisi paling menguntungkan bagi perusahaannya secara legal :D