Ebook Kumpulan Analisis Saham Pilihan edisi Kuartal III 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

Tertarik untuk membaca Koleksi Ebook Kuartalan sejak tahun 2011? Anda bisa membacanya disini.

Breaking News: Jumlah Emiten di BEI Tembus 600!

Pada 28 September kemarin, Saham PT Natura City Developments Tbk (CITY), yang merupakan anak usaha dari Sentul City (BKSL), resmi melantai di bursa pada harga perdana 120. Nah, yang menarik disini bukanlah fakta bahwa harga sahamnya langsung melesat 70.0% ke posisi 204, melainkan dengan listing-nya CITY, maka di Bursa Efek Indonesia (BEI) genap sudah terdaftar 600 perusahaan Tbk. Suatu prestasi membanggakan bagi BEI itu sendiri? Well, maybe not.

Ketika penulis mulai belajar saham pada tahun 2009 lalu, saya masih ingat, di BEI hanya ada sekitar 350-an emiten. Dan sampai tahun 2015, jumlahnya hanya meningkat sedikit menjadi 400-an emiten. Lonjakan jumlah emiten di BEI memang baru terjadi dalam 2 – 3 tahun terakhir seiring dengan gencarnya sosialisasi dan ‘ajakan’ dari BEI itu sendiri kepada perusahaan-perusahaan untuk menggelar IPO. Sekilas, ini kabar bagus, karena dengan begitu maka investor menjadi punya lebih banyak pilihan saham untuk investasi, ditambah lagi ada banyak perusahaan-perusahaan populer yang akhirnya ikut go public. Namun benarkah demikian?

Sayangnya dalam 2 – 3 tahun terakhir ini pula, anda sendiri mungkin bisa memperhatikan: Jumlah IPO memang melonjak signifikan, tapi kualitas dari penyelenggaraan IPO itu sendiri turun drastis. Kualitas yang dimaksud disini mulai dari perusahaannya (ada banyak perusahaan kecil gak jelas, yang baru berdiri tiga empat tahun lalu, tapi sudah bisa ikut IPO), nilai IPO-nya (dulu, nilai IPO itu trilyunan atau minimal ratusan milyar Rupiah, tapi kemarin sempat ada IPO senilai Rp30 milyar saja, dan jumlah saham yang ditawarkan ke publik sangat sedikit), hingga valuasi dari saham-saham yang di-IPO-kan (rata-rata muahal semua). Tapi yang paling bikin jengkel dari semuanya adalah, meski sekarang ini banyak diselenggarakan IPO, tapi sangat sulit bagi investor publik manapun untuk bisa memperoleh jatah saham IPO-nya, biasanya karena itu tadi: Jumlah saham yang ditawarkan ke publik sangat sedikit, dan bahkan saham yang sedikit ini sejak awal sudah diborong oleh entah siapa. Sehingga di beberapa emiten, investor publik sama sekali tidak memperoleh jatah saham IPO-nya.

Dan anehnya, hampir semua saham IPO yang kecil-kecil ini langsung terbang gila-gilaan di hari-hari perdana perdagangan, bahkan ada saham yang terbang sampai 30 kali lipat hanya dalam sebulan! Tapi anehnya lagi, saham-saham tersebut langsung melesat hampir tanpa volume transaksi sama sekali. Contohnya saham CITY tadi: Begitu perdagangannya dibuka, sahamnya langsung melesat ke batas auto reject atas-nya, yakni 204. Dan berapa volume saham yang diperdagangkan hari itu? Cuma 47,500 saham alias 475 lot, semuanya pada harga 204. Atau dengan kata lain, nilai transaksinya bahkan gak nyampe 10 juta Rupiah! Sekarang pake logika saja: Jika benar bahwa dari 2.6 milyar lembar saham yang dilepas CITY itu dibeli/dimiliki oleh investor publik, maka masa iya sih gak ada sekian juta lembar saham yang langsung dilepas oleh para investor publik tadi pada harga 204? Itu profit 70% loh!

Tapi CITY tidak sendirian. Silahkan anda cek lagi saham-saham IPO sebelum CITY ini, rata-rata ceritanya sama saja: Investor publik sulit memperoleh jatah IPO-nya, kemudian begitu listing sahamnya langsung terbang tapi nyaris tanpa volume transaksi, dan barulah setelah harganya diatas maka volumenya mulai ramai. Makanya wajar jika kemudian muncul tuduhan bahwa ketika sebuah perusahaan go public, sebenarnya yang membeli saham anyar yang diterbitkan adalah pihak owner perusahaan itu sendiri. Kemudian mereka akan melakukan transaksi kecil-kecil agar harganya dipasar naik terus (yang beli dan yang jual adalah orang yang sama, meski tentunya pake beberapa rekening berbeda), dan setelah harganya diatas maka barulah Mr. Bandar ini mulai jualan ke investor publik, sehingga mereka memperoleh keuntungan substansial yang, ironisnya, berasal dari kerugian investor. Salah satu contohnya adalah saham Campina Ice Cream Industry (CAMP), yang begitu listing pada Desember 2017 lalu langsung dikerek gila-gilaan dari harga perdana 330 hingga ke level 1,833 (sekali lagi, nyaris tanpa volume transaksi sama sekali), dan barulah setelah itu sahamnya mulai cukup ramai diperdagangkan/besar kemungkinan investor publik mulai masuk, tapi CAMP ini pelan-pelan turun hingga sekarang sudah di level 300-an lagi.

Terus bagaimana nasib investor yang udah kadung beli CAMP ini di harga 900, 1,200, atau 1,500?? Unfortunately, CAMP bukanlah satu-satunya saham IPO yang sudah makan korban, padahal secara fundamental perusahaan terbilang bagus, dengan kinerja yang profitable serta punya merk produk yang populer (siapa yang gak tau merk es krim Campina?)

Dilema Ketika Mengajak Perusahaan Untuk IPO

Ketika BEI meluncurkan kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’, tahun 2015 lalu, maka yang didorong untuk ikut meramaikan pasar saham tidak hanya para investor publik pemilik dana, melainkan para perusahaan juga diajak untuk go public. Nah, untuk mengajak investor publik membuka rekening di sekuritas, maka itu relatif mudah, misalnya dengan menurunkan batas minimum setoran di sekuritas. Jaman penulis nubie tahun 2009 – 2010 dulu, kalau kita buka rekening maka harus setor minimal Rp5 juta. Tapi sekarang beberapa sekuritas mensyaratkan setoran minimal Rp1 juta saja, bahkan ada yang cuma Rp100,000. Harapannya adalah, kalaupun para investor baru ini kemudian dikepret rugi bolak balik karena belum ngerti apa-apa, maka ruginya gak akan besar karena sejak awal setorannya juga kecil, dan secara psikologis gak akan sampe bikin si investor kapok. In the end, hari gini duit seratus ribu cuma cukup buat sekali makan di Solaria buat dua orang.

Tapi bagaimana ketika BEI mengajak perusahaan untuk IPO? Nah, seperti halnya investor publik, pemilik perusahaan juga akan mengajukan pertanyaan yang sama: Apa untungnya kalau perusahaan saya menggelar IPO? Pihak BEI normalnya akan menyebut beberapa benefit seperti, 1. Perusahaan memperoleh sumber pendanaan baru, 2. Membuat perusahaan lebih dikenal publik, 3. Meningkatkan citra serta nilai perusahan. Tapi tetap saja si pemilik perusahaan akan bertanya lagi: Saya gak peduli soal citra bla bla bla, lo kira citra itu bisa dimakan? Sekarang to the point saja lah! Berapa besar jumlah uang yang bisa kita peroleh kalau perusahaan go public?? Yep, jadi kurang lebih sama saja seperti ketika orang-orang diajak untuk buka rekening di sekuritas, dimana meski BEI mengatakan bahwa keuntungan menjadi investor adalah kita akan menjadi pemilik perusahaan bla bla bla, tapi tetap saja yang mereka tanyakan adalah, berapa besar keuntungan yang bisa kami peroleh setiap tahunnya? Setiap bulannya? Bisa gak dapetnya minimal 100% gitu per tahun? Terus bisa gak keuntungan itu ditarik sebulan sekali untuk kebutuhan sehari-hari? Saya gak mau rugi, gimana caranya agar kita invest di saham tanpa pernah rugi sedikitpun?? Dan banyak lagi pertanyaan ala pemula lainnya.

Dan masalahnya adalah, berbeda dengan orang-orang yang diajak 'nabung saham' dimana mereka adalah bagian dari masyarakat umum, maka pemilik perusahaan sedikit berbeda dimana mereka rata-rata sudah sangat mapan secara finansial, sehingga mereka gak akan mau kalau diajak menggelar IPO jika hanya dengan iming-iming perusahaan bakal dapet duit sekian, melainkan mereka baru akan tertarik kalau bisa dapet duit lebih besar dari itu. Nah, bener kan? Let say anda adalah pemilik perusahaan besar dengan aset Rp5 trilyun, dan laba bersih per tahun Rp500 milyar. Kemudian anda diajak IPO dimana perusahaan anda akan dapet tambahan modal Rp300 milyar saja.. Dan setelah itupun perusahaan anda harus merilis laporan keuangan setiap kuartal, termasuk harus mematuhi peraturan ini itu yang ditetapkan oleh BEI dan OJK. Kira-kira bagaimana reaksi anda??

Inilah yang mungkin menjelaskan kenapa saham-saham IPO sekarang ini rata-rata ‘berperilaku aneh’, karena tujuannya adalah agar pemilik perusahaan memperoleh ‘profit lebih besar’ dari yang seharusnya (meski, sekali lagi, profit ekstra itu berasal dari kerugian investor publik), dan pihak otoritas juga seperti mengabaikan hal ini karena itu tadi: Kalau cara-cara seperti ini dilarang (actually secara undang-undang, insider trading atau perdagangan saham yang dilakukan oleh dua pihak yang sama memang dilarang, tapi penerapannya sangat tidak tegas, karena insider trading ini juga sulit dibuktikan), maka juga tidak ada alasan yang cukup menarik bagi para pemilik perusahaan tadi untuk go public. Sedangkan dalam rangka mengejar ketertinggalan dibanding negara-negara tetangga (misalnya, di Bursa Malaysia terdapat 900-an emiten, dan di Singapore Exchange terdapat 1,500-an emiten), maka para perusahaan di Indonesia memang harus diberi semacam ‘insentif’ agar mereka mau menggelar IPO.

Jadi, yap, ini seperti polisi yang mempermudah proses penerbitan SIM bagi para pemilik kendaraan bermotor, meski itu menimbulkan risiko bakal banyak terjadi kecelakaan di jalan raya. Tapi jika proses penerbitan SIM ini dipersulit, maka akan timbul protes dari perusahaan-perusahan otomotif yang kesulitan jualan. Serba salah kan?

Lalu Bagaimana Sikap Kita Sebagai Investor?

Sebenarnya, meski mayoritas IPO dalam beberapa tahun terakhir terbilang ‘bikin kesel’, tapi beberapa saham IPO memang layak invest, dan tidak kelihatan kalau sahamnya digoreng. Sebut saja Buyung Poetra Sembada (HOKI), Kirana Megatara (KMTR), hingga Panca Budi Idaman (PBID). Tapi memang, dibanding IPO-IPO yang terjadi sebelum tahun 2015, maka IPO-IPO jaman now seringkali langsung bikin males penulis tak lama setelah saya membaca prospektusnya. Salah satunya IPO Garudafood, yang sejatinya sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang, tapi ternyata IPO-nya ya gitu deh.

Ini perusahaan bagus lho, baru listing Desember 2017 kemarin

However, kalau kita balik lagi ke kaidah value investing, maka sebenarnya fenomena ‘maraknya IPO liar’ ini tidak usah dibuat pusing, karena yang perlu kita lakukan adalah cukup ignore saja saham-saham IPO tersebut (baca lagi soal cara ignore/mengabaikan saham di artikel ini), apalagi jika belum apa-apa sahamnya langsung terbang hingga valuasinya menjadi gak masuk akal, dan kita bisa tetap fokus hunting saham-saham bagus pada harga murah. Kemudian ingat bahwa, tak peduli segigih apapun Mr. Bandar dalam memain-mainkan harga suatu saham, tapi pada akhirnya harga saham tersebut akan mengikuti fundamentalnya. Yang itu artinya, kalau sebelumnya dia terbang hingga valuasinya ridiculously overvalue, maka cepat atau lambat akan turun lagi, dan sebaliknya mau dia turun kaya apa tapi kalo barangnya no problemo, maka nanti juga akan naik lagi.

Dengan kata lain, meski saham-saham anyar yang nongol bak jamur di musim hujan ini rata-rata gorengan semua, tapi pada akhirnya mereka akan bergerak normal sesuai dengan mekanisme pasar, biasanya setelah 2 – 3 tahun sejak tanggal IPO-nya. Thus, adalah benar bahwa dengan kehadiran 600 emiten di bursa, maka kita jadi lebih punya banyak pilihan investasi, tapi khusus untuk saham-saham yang baru IPO ini maka kita gak usah buru-buru, melainkan wait n see saja dulu (termasuk melihat perkembangan kinerja perusahaan setiap kuartalnya), hingga akhirnya pergerakan sahamnya menjadi normal dengan sendirinya. Contohnya ya saham CAMP tadi, dimana meski kenaikannya kemarin mungkin memakan sejumlah korban, tapi pada kisaran harganya saat ini maka sahamnya sudah bisa dipertimbangkan kembali (tapi masih rada mahal sih, tunggu dikit lagi deh).

Sementara bagi saham tertentu yang gak juga turun setelah beberapa waktu, maka ya sudah abaikan saja. Actually beberapa orang, dengan strategi tertentu mungkin justru bisa memperoleh keuntungan instan dari saham-saham IPO ini, dan jika anda termasuk yang profit tersebut then go ahead. Tapi jika anda termasuk yang sempat terkena jebakan betmen disini, maka anda tahu apa yang harus dilakukan.

Mingdep kita akan bahas IPO Restoran Raja Bebek.

***

Penulis menyampaikan turut berduka cita atas peristiwa gempa bumi dan tsunami di Kota Palu dan sekitarnya, Sulawesi Tengah. Semoga amal ibadah para korban diterima disisi-Nya, semoga anggota keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, dan semoga rumah-rumah hingga jalan yang rusak bisa segera diperbaiki kembali.. Aamiin. Dan bagi temen-temen sesama investor, setelah kemarin Lombok, maka sekarang kita punya satu kesempatan lagi untuk berbagi manfaat untuk saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah, yang memang tengah membutuhkan. Silahkan berkunjung ke www.kitabisa.com atau website charity lainnya.

Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

4 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Bung Teguh,

Definisi insider trading di artikel ini sudah benar?

Evi Tikayanti mengatakan... Balas

Bangsa ini tidak belajar dari kehancuran V.O.C, keserakahan dan kejahatan hanya akan membawa kehancuran dan malapetaka...tetap jadilah investor yang baik..

Anonim mengatakan... Balas

bagus tulisannya..

Teguh Hidayat - Avere Investama mengatakan... Balas

Insider trading itu adalah transaksi jual beli saham oleh orang dalam perusahaan, bukan orang yang sama. Jadi memang definisi di artikelnya kurang tepat, karena orang yang sama itu belum tentu orang dalam perusahaan/bisa saja orang lain. Tapi tidak ada istilah lain u/ ini, atau bandar trading?