Ebook Rekomendasi Saham edisi Desember, plus analisa window dressing dll sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber. Info telp/WA 0813-1482-2827 (Yanti).

Prospek Saham Sawit Setelah Kenaikan Harga CPO, dan Program Biodiesel

Hingga Kuartal III 2019, emiten perkebunan kelapa sawit rata-rata masih membukukan kinerja yang kurang baik. Ambil contoh Astra Agro Lestar (AALI), dimana laba bersihnya drop sepersepuluhnya menjadi Rp111 milyar, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1.1 trilyun. Demikian pula dengan PP London Sumatra (LSIP), dimana labanya yang Rp52 milyar tentunya kelewat kecil dibanding ekuitasnya yang Rp8.2 trilyun. Disisi lain, harga crude palm oil (CPO) sedang dalam trend naik dalam 2 – 3 bulan terakhir, dimana angkanya terakhir menyentuh RM2,620 per ton di Bursa Malaysia (www.bursamalaysia.com), dan ini pula yang mendorong kenaikan saham AALI dkk. Jadi apakah ini berarti saham perkebunan kelapa sawit kembali menarik untuk invest?

***

Ebook Kumpulan Analisa & Rekomendasi 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

***

Di blog ini, penulis terakhir kali membahas saham sawit sekitar 2 tahun lalu, tepatnya pada Januari 2018, dimana kesimpulannya adalah kita menganggap sektor ini belum cukup menarik, karena adanya fakta bahwa Indonesia sejak beberapa tahun lalu sudah menjadi produsen CPO terbesar di dunia (menyalip Malaysia), tapi disisi lain kita belum bisa mengolah CPO tersebut menjadi produk hilir, kecuali sebatas minyak goreng dan margarine, sedangkan konsumsi CPO untuk kebutuhan minyak goreng di dalam negeri jauh lebih kecil dibanding produksi CPO itu sendiri. Yup, pada tahun 2018 kemarin, Indonesia memproduksi total 43 juta ton CPO, sedangkan konsumsi dalam negeri hanya 10 juta ton. Surplus produksi CPO ini kemudian dilempar ke pasar ekspor, boleh dibilang ‘pada harga berapa saja asal laku’, karena di dalam negeri belum ada, atau hanya ada sedikit industri yang bisa mengolah CPO tersebut menjadi produk hilir. Alhasil, harga CPO tidak pernah pulih lagi seperti dulu, karena negara-negara diluar sana (misalnya Uni Eropa) juga melakukan segala cara agar mereka bisa membeli CPO dari Indonesia pada harga murah, salah satunya dengan meng-kampanye-kan isu bahwa ‘sawit merusak lingkungan’. Anda bisa baca lagi analisanya disini.

Nah, jadi ketika sampai hari ini, kinerja emiten sawit masih kurang memuaskan, maka kami bisa katakan bahwa itu memang sesuai prediksi. Tapi, hey, setelah lewat 2 tahun, maka bisa saja sekarang ini sudah waktunya bagi harga CPO untuk naik lagi kan? Well, pertama-tama kita harus cek terlebih dahulu, benarkah harga CPO sudah mulai naik lagi seperti yang diberitakan di media? Berdasarkan data yang bisa anda lihat disini, harga CPO mencapai titik terendahnya di RM1,883, November 2018, dan setelah itu dia terus naik sampai sekarang (ketika artikel ini ditulis) tembus diatas RM2,500, sehingga kenaikannya boleh dibilang signifikan. Namun demikian, pada Januari 2017 lalu, harga CPO juga pernah naik signifikan hingga RM3,250 per ton, yang sayangnya tidak berdampak positif terhadap kinerja emiten dimana laba AALI dkk tetap turun pada tahun 2017 tersebut, dan masih lanjut turun sampai sekarang. Kemudian perlu juga dicatat bahwa pada tahun 2011 lalu, yakni tahun dimana emiten-emiten sawit membukukan keuntungan sangat besar/ROE-nya diatas 20% semua, maka ketika itu harga CPO stabil di rata-rata RM3,500, dan pernah sesaat menyentuh RM4,000 per ton.

Dengan kata lain, meskipun sepanjang tahun 2019 ini harga CPO tampak naik lagi, tapi posisi harganya saat ini masih jauh dibawah harga tertingginya di tahun 2011 dan 2017 lalu. Kemudian satu lagi: Seperti yang juga sudah disampaikan di artikel bulan Januari 2018, maka berbeda dengan katakanlah batubara yang tinggal gali lalu jual, produksi CPO tidak lah sesederhana itu dimana kalau anda menanam pohon sawit hari ini, maka pohon tersebut baru akan menghasilkan buah sawit paling cepat tiga tahun kemudian. Masalahnya, bagaimana kalau harga CPO sedang turun justru ketika kebunnya sudah siap panen? Dan sebaliknya, ketika harga CPO sedang turun, maka gimana kita mo jualan kalau kebun yang ada belum siap berproduksi? Dari sinilah kemudian timbul ketidak pastian: Hanya karena harga CPO naik, maka bukan berarti perusahaan sawit bakal langsung cuan. Hal ini pula yang menjelaskan kenapa saham LSIP dkk baru naik banyak di tahun 2011 dan 2012 lalu, yakni setelah perusahaan memang membukukan kenaikan laba yang signifikan, jadi nggak seperti saham-saham batubara yang sudah beterbangan lebih awal, sejak tahun 2009-nya. Penulis kira hal ini pula yang menyebabkan emiten sawit masih membukukan penurunan laba di tahun 2017 lalu, tak peduli meski harga CPO ketika itu sempat menyentuh RM3,250 per ton. Karena sebelum LSIP dkk sempat jualan, harga CPO di tahun yang sama langsung jatuh lagi hingga dibawah RM2,400.

Sehingga kesimpulannya, meski harga CPO lagi naik, namun harga sekarang masih belum cukup tinggi bagi para perusahaan sawit untuk bisa jackpot lagi seperti di masa lalu. Kemudian karena problem utamanya sampai hari ini masih sama, yakni belum adanya industri di dalam negeri yang bisa mengolah CPO menjadi produk hilir (padahal CPO ini bahan baku utama untuk produk-produk farmasi, kosmetik, sabun mandi dll. Tapi yang terjadi adalah, kita ekspor dulu CPO-nya keluar, lalu kita kemudian mengimpor produk hasil CPO tersebut dari Eropa dll), maka penulis ragu kalau kenaikan harga CPO ini akan berlanjut, dan bisa saja besok-besok dia malah turun lagi.

Prospek Program B30

Tapi Pak Teguh, bukankah Pemerintah baru saja mencanangkan program B30, yang dijadwalkan akan mulai efektif Januari 2020 nanti? Harusnya itu bisa meningkatkan konsumsi CPO dalam negeri dong, dan pada akhirnya menaikkan harga CPO di pasar ekspor karena suplai-nya turun? Nah, sebelumnya perlu diketahui bahwa sejak tahun 2018 lalu, pemerintah menerapkan program biodiesel 20 atau B20, yakni penggunaan bahan bakar untuk mesin diesel yang tidak lagi 100% solar, melainkan campuran 80% solar, dan 20% biodiesel, dimana biodiesel ini 100% diolah dari CPO. Program ini berjalan lancar meski sejauh ini penggunaannya masih terbatas pada kendaraan berat seperti truk. Tahun depan, program ini akan ditingkatkan menjadi B30, yang artinya campuran 70% solar, dan 30% biodiesel. Dan jika prosesnya kembali lancar, maka di tahun-tahun berikutnya, persentase campuran biodiesel ini akan kembali dinaikkan menjadi B40, B50, dan seterusnya. Kebijakan ini diharapkan akan mengurangi impor bahan bakar minyak, dan sebaliknya meningkatkan konsumsi CPO dalam negeri. Pemerintah mentargetkan bahwa pada tahun 2030 nanti, konsumsi CPO dalam negeri akan meningkat dua kali lipat menjadi 19 juta ton, yang otomatis mengurangi kuota ekspor, dan harapannya akan bisa menaikkan harga CPO di pasar internasional.

However, tahun 2030 itu masih lama, sedangkan saat ini yang sudah jalan baru B20, sementara B30 masih dalam tahap uji coba. Dan dari program B20 yang sudah jalan ini pun, sejauh ini belum memberikan dampak positif terhadap kinerja AALI dkk, yang mungkin karena jumlah CPO yang terserap belum terlalu banyak.

Sepanjang tahun 2018, Pertamina sukses mendistribusikan 16 juta kiloliter solar B20 ke seluruh Indonesia, yang artinya terdapat 3.2 juta kiloliter CPO yang digunakan. Dengan asumsi berat minyak sawit adalah 900 gram per liter, maka konsumsi CPO untuk biosolar mencapai kurang lebih 3 juta ton untuk tahun 2018, atau masih kecil dibanding total produksi CPO nasional sebesar 43 juta ton di tahun yang sama. Nevertheless, it was a good start.

Sehingga dalam hal ini, kita mungkin masih perlu menunggu barang 1 – 2 tahun lagi, sampai akhirnya program B30, B40 dan seterusnya benar-benar sukses diterapkan, sehingga problem terkait minimnya konsumsi sawit dalam negeri karena belum adanya industri hilir sawit di Indonesia, pada akhirnya teratasi.  Dan dibanding dua tahun lalu, maka penulis sekarang ini lebih optimis, but still, kalau kita langsung masuk sekarang, maka pengalaman justru menunjukkan bahwa ketika harga komoditas ramai dibicarakan karena sudah naik banyak, maka kesininya dia justru turun lagi. Contohnya lihat harga emas: Beberapa waktu lalu, emas mendadak populer karena naik banyak hingga menyentuh $1,550 per oz (dari sebelumnya $1,250), dan banyak juga orang yang menyarankan untuk beli emas, tapi justru setelah itu harganya mulai drop hingga, ketika artikel ini ditulis, ke level $1,450. Intinya sih, naik turunnya harga komoditas itu mirip dengan harga saham: Ketika komoditas tersebut ramai dibicarakan karena naik banyak sebelumnya, maka itu justru sudah waktunya untuk keluar. Sedangkan waktu terbaik untuk masuk ke saham komoditas, apapun itu, adalah ketika harganya sedang berada di bawah.

Tapi Pak Teguh, bagaimana kalau program B30 ini sukses, dan harga CPO melanjutkan kenaikannya karena memang di harga segini pun, anda bilang harganya belum cukup tinggi? Kalau itu yang terjadi, maka kita bisa ketinggalan kereta bukan? Well, coba baca lagi kalimat diatas: Kenaikan CPO bukan berarti laba perusahaan sawit pasti akan langsung naik, dan karena itulah saham-saham sawit biasanya baru akan naik banyak ketika kinerja/laba bersih perusahaannya sudah confirm naik banyak. Perlu juga diketahui bahwa valuasi AALI dkk saat ini memang sudah sangat murah, sehingga kalau misalnya mereka naik 10 – 20% sekalipun, maka itu juga masih murah dan masih bisa naik lebih tinggi lagi hingga total 50 – 100%, asalkan kinerjanya memang confirm bagus lagi. Sehingga kalaupun kita baru masuk ketika itu, maka itu masih belum ketinggalan kereta. Tahun 2011 lalu, saham LSIP terbang dari 2,000 hingga 7,500 (harga sebelum stocksplit, setara dengan 400 ke 1,500), sehingga kalaupun ada yang agak telat masuk di harga 3,000, maka dia masih cuan banyak.

Tapi disisi lain, karena kita tahu bahwa program B30 ini masih perlu waktu untuk benar-benar memberikan dampak positif terhadap kinerja emiten sawit, maka kalau di LK berikutnya nanti laba AALI masih melempem seperti sekarang, maka ya sahamnya bakal drop lagi. Sehingga dalam hal ini, risikonya masih belum sebanding dengan potensi profitnya. Anyway, untuk sekarang mari kita kawal terus program B30 ini, dan kalau memang pada akhirnya itu berdampak positif, dan harga CPO juga minimal stabil di level saat ini (jadi gak turun lagi kaya harga emas) maka artikel ini juga akan di-update lagi. Mudah-mudahan pertengahan 2020 nanti lah.

Baiklah, ada yang mau menambahkan analisanya?

***

Ebook Kumpulan Analisa & Rekomendasi 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

2 komentar:

Erik S mengatakan... Balas

Program B30 itu banyak yang menganggap langsung campur CPO ke solar. Tapi yang dicampur bukannya BIODIESEL; jadi AALI, LSIP sebenarnya nga kepengaruh langsung karena nga jualan BIODIESEL. MUngin SMAR atau TBLA yang produksi BIODIESEL punya chance naik karena terkena impact langsung dari program B30.

Anonim mengatakan... Balas

@Erik S: pengaruhnya ke supply and demand pak, bukan peran langsung ke biodieselnya. Diharapkan surplus produksi, diserap dengan konsumsi yang bertambah. Jadi harga cpo bisa membaik dan sekaligus berpengaruh ke kinerja emiten sawit. Efek domino.