Ebook Kumpulan 30 Saham Pilihan edisi Kuartal IV 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber.

Proyeksi IHSG dan Ekonomi Nasional, Pasca Indonesia Positif Coronavirus

Dua hari lalu, tanggal 2 Maret 2020 sekitar pukul 11.00 WIB, Pemerintah melalui Presiden langsung mengumumkan bahwa terdapat dua pasien positif Covid-19/Coronavirus di Indonesia, yang ketika itu sudah dirawat dan diisolasi di RS Dr. Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Dengan demikian Indonesia resmi bergabung dengan negara-negara lainnya yang juga sudah terpapar covid, dan pasar langsung merespon dimana IHSG yang pada sesi 1 sempat naik, memasuki sesi 2 berbalik turun dan akhirnya ditutup turun 1.6% pada tanggal 2 Maret tersebut. However, pada tulisan dua hari lalu, penulis katakan bahwa kabar Indonesia sudah terpapar covid itu justru akan berdampak positif terhadap pasar. Maksudnya bagaimana?

***

Ebook Market Planning yang berisi analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Maret 2020 sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber.

***

Jadi begini. Sebelum pengumuman pada tanggal 2 Maret kemarin, Indonesia boleh dibilang merupakan satu-satunya negara besar yang masih zero case, dan ini sebenarnya mengherankan. Karena secara geografis, posisi kita tidak jauh dari China sebagai negara awal mula munculnya Covid, sedangkan beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Singapura, hingga Vietnam, semuanya sudah positif covid. Indonesia juga banyak melakukan hubungan dagang/kerjasama pembangunan infrastruktur dll dengan China, dan sekitar 10% dari total jumlah turis yang berkunjung ke Bali setiap tahunnya juga berasal dari China. Jadi masa iya sih, kita gak ada satupun pasien corona sama sekali? Atau jangan-jangan sebenarnya sudah ada, hanya saja nggak ketahuan?? Karena memang pengalaman penulis sendiri, ketika kemarin pulang dari Jepang, di Bandara Soekarno-Hatta tidak dilakukan pengecekan suhu tubuh atau apapun, melainkan kita cuma disuruh isi surat pernyataan bahwa kita sehat. Hal ini sangat berbeda dengan di Jepang, dimana setiap hotel disana dilengkapi dengan termometer untuk mengecek suhu tubuh dari tamu yang hendak check in, dimana kalau ditemukan bahwa si tamu menderita demam, maka dia akan langsung disuruh pergi, bahkan meskipun demam itu belum tentu karena covid.


Penulis ketika kemarin di Kyoto, Jepang. And yes, saya disana gak pake masker, cuma rajin cuci tangan saja

Sehingga sekali lagi, besar kemungkinan bahwa sebenarnya di Indonesia sudah ada penderita coronavirus, hanya saja belum ketahuan. Dan semakin lama Pemerintah mempertahankan informasi yang beredar bahwa Indonesia masih zero case, maka itu justru akan menurunkan kepercayaan masyarakat Internasional, dan juga di dalam negeri, terhadap Pemerintah itu sendiri. Karena pakai logika manapun, gak mungkin Indonesia zero case.

Tapi disisi lain, jika langsung diumumkan bahwa di Indonesia terdapat 100 pasien yang positif covid, misalnya, maka dampaknya ya bisa seperti di Italia kemarin: Ada banyak kegiatan dan acara umum yang mendadak dihentikan, warga di sejumlah kota tidak mau keluar rumah, dan jumlah turis yang berkunjung ke Kota Milano dan sekitarnya langsung drop signifikan. Imbasnya, pertumbuhan ekonomi disana dipastikan akan drop. Padahal ini Italia lho, yang notabene negara maju dan warganyanya berpendidikan tinggi, tapi toh mereka tetap panik dan irasional. Dan memang di Indonesia sendiri, masih di hari yang sama ketika diumumkan adanya dua orang pasien yang positif Covid, maka masyarakat langsung menyerbu supermarket untuk memborong kebutuhan pokok, harga masker mendadak autoreject, dan media langsung lebay bombay menulis cerita-cerita dramatis terkait covid ini. Nah, jadi bisakah anda bayangkan bakal seperti apa dampaknya, jika yang diumumkan kemarin bukanlah 2 pasien, melainkan katakanlah 100 pasien??

Indonesia vs The Media

Sehingga memang, dalam hal ini sangat penting bagi Pemerintah untuk menjaga informasi yang beredar di masyarakat, karena problem terbesar dari isu Covid ini sejak awal ya itu tadi: Terlalu banyak rumor-rumor yang beredar, dan hampir semua pemberitaan sifatnya hanya menggiring opini, dan bukan memberikan informasi yang mengedukasi masyarakat. Terkait fenomena media influence ini, ada satu pernyataan dari Dr. Tedros A. Ghebreyesus, direktur jendral WHO, sebagai berikut: ‘Musuh terbesar kita saat ini bukanlah virus itu sendiri, melainkan ketakutan, rumor, dan juga stigma/pandangan negatif terhadap seseorang atau sesuatu’. Pak Dokter ini juga melanjutkan, ‘Aset terbesar kita adalah data dan fakta, alasan dan logika, serta solidaritas terhadap sesama.’

Nah, terkait data dan fakta, maka penulis juga hanya perlu menyampaikan kembali sesuatu yang pastinya sudah anda ketahui: Secara statistik, ada banyak penyakit lain di dunia ini yang memakan lebih banyak korban. Contohnya? Influenza! Dimana di Amerika Serikat saja, sepanjang tahun 2019 lalu ada lebih dari 2 juta orang menderita flu, dan 10,000 diantaranya meninggal dunia. Fakta lainnya adalah corona ini bisa disembuhkan, dimana persentase pasien yang sembuh mencapai lebih dari separuh dari jumlah pasien yang positif (sedangkan yang meninggal hanya 2% dari jumlah total pasien), dan banyak diantaranya yang sembuh sendiri tanpa adanya treatment khusus. Di China sendiri, meski jumlah pasien yang meninggal karena corona ini menembus angka ribuan, tapi angka tersebut sebenarnya amat-sangat kecil dibanding populasi China secara keseluruhan, sehingga seorang teman pernah berkata: Kalau anda ke China hari ini, maka anda sekian ribu kali lebih berisiko untuk meninggal dunia karena ditabrak mobil di jalanan sekitar bandara, ketimbang meninggal karena corona ini.

But still, sampai hari ini masih ada banyak negara yang menutup akses penerbangan dari dan ke China, termasuk menghentikan kegiatan ekspor impor dll, sehingga mengganggu tidak hanya perekonomian China itu sendiri, tapi juga negara-negara lainnya di seluruh dunia. Kemudian sekarang ini orang-orang juga takut bepergian ke tidak hanya ke China, tapi juga Korea Selatan, Jepang, Italia, Singapura, dan mungkin juga ke Indonesia. Sehingga menurut Dr. Tedros, inilah masalah terbesar kita saat ini, dimana satu wabah penyakit yang sebenarnya tidak seburuk itu, ternyata bisa berdampak sedemikian besarnya dimana hampir semua kegiatan ekonomi berhenti, dan hal ini bisa mengarah pada krisis (Lha gimana gak krisis kalau orang-orang berhenti kerja, kantor-kantor tutup, pasar tutup dst??) Jika wabah corona ini terjadi 20 tahun lalu, dimana ketika itu belum ada Facebook, Twitter, Whatsapp, dan juga website-website berita yang kerjaannya kasih judul se-bombastis mungkin, maka seharusnya dampak ekonominya juga tidak akan sebesar sekarang ini.

Sehingga sekali lagi, tanggung jawab Pemerintah terkait covid ini setidaknya ada tiga macam. Pertama, mencegah dan mengatasi penyebaran covid, agar tidak benar-benar menjadi wabah endemik, katakanlah seperti penyakit demam berdarah yang hampir tidap tahun mewabah di Indonesia. Dan memang pemerintah sudah melakukan itu dengan menutup penerbangan dari dan ke China (boleh anda cek di Traveloka atau lainnya, sekarang ini gak ada lagi penerbangan ke China dan Hong Kong), mengedukasi masyarakat untuk menjaga kesehatan/cuci tangan, menambah fasilitas di rumah-rumah sakit, dst. Kedua, kesemua tindakan pencegahan itu harus dilakukan secara efektif dan efisien, tapi juga jangan berlebihan. Sebab kalau tindakannya berlebihan, misalnya dengan menutup Pulau Bali sama sekali dari turis, maka dampaknya jelas ke ekonomi, dan Indonesia justru bisa krisis beneran. Sehingga, diluar pencegahan dari penyebaran covid ini, maka Pemerintah juga harus memberikan insentif, diskon dll kepada para pelaku usaha, agar mereka tetap melakukan kegiatan ekonomi seperti biasa.

Terakhir, ketiga, karena seperti yang disampaikan diatas, masalah terbesar dari covid ini bukanlah di virus-nya itu sendiri, melainkan ketakutan dan rumor-rumor, maka Pemerintah harus mengendalikan informasi yang beredar di masyarakat. Terkait point ketiga ini, penulis kira itu menjelaskan kenapa pada tanggal 2 Maret kemarin, Bapak Presiden sendiri yang mengumumkan bahwa di Indonesia sudah ada 2 pasien covid, yakni agar informasinya langsung menjadi headline internasional. Disisi lain, jumlah pasien yang diumumkan juga hanya dua orang saja, agar kepanikan yang terjadi tidak terlalu luas. Penulis pribadi sebenarnya termasuk yang percaya bahwa, kemungkinan besar jumlah pasien covid di Indonesia ada lebih dari dua orang. Tapi sekali lagi, problemnya disini bukanlah berapa jumlah pasiennya (karena toh balik lagi, covid ini tidak se-mematikan itu, dan juga bisa disembuhkan, malah sebentar lagi vaksin-nya selesai dibuat). Melainkan, jika jumlah pasien yang diumumkan terlalu banyak, maka supermarket-supermarket mungkin akan kehabisan stok barang sama sekali, sekolah-sekolah bakal tutup, dan seterusnya, dan kita tentu tidak mau itu semua terjadi.

Kesimpulannya, sebagai pelaku pasar, penulis bisa katakan bahwa apa yang dilakukan pemerintah sejauh ini, meski tentunya tidak sempurna, tapi kondisinya bisa lebih buruk lagi jika tindakan yang dilakukan berbeda dengan yang dilakukan sejauh ini. Dari Bank Indonesia (BI) sendiri, juga tepat ketika mereka kemarin menurunkan suku bunga BI Rate, dalam rangka menjaga pertumbuhan ekonomi. Sehingga itulah kenapa penulis katakan, dengan kemarin Indonesia resmi positif covid, maka itu justru merupakan kabar bagus buat bursa saham, setidaknya untuk waktu dekat ini. IHSG sendiri sebelum tanggal 2 Maret memang sudah turun sangat signifikan, sehingga normal jika dia kemudian rebound.

Hanya memang pertanyaan selanjutnya, bagaimana untuk jangka menengah – panjangnya? Sebab dampak ekonomi karena kepanikan terkait penyebaran covid ini sudah terlanjur terjadi bukan? Yakni tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Nah, dalam hal ini penulis setuju dengan tulisan dari Bapak M. Chatib Basri sebagai ekonom, yang intinya menyebutkan bahwa jika isu covid ini berkepanjangan sampai 6 – 12 bulan kedepan, maka itu akan menyebabkan supply shock, yakni kelangkaan bahan baku untuk produksi pabrik dll, karena jaringan distribusinya terhenti setelah orang-orang gak mau pergi ke China, Jepang dst. Dan imbasnya, produksi barang jadi akan berkurang, harga jualnya naik, daya beli masyarakat turun, dan dunia akan krisis. Tapi jika isunya tuntas lebih cepat, maka seharusnya supply shock itu tidak akan terjadi, karena pabrik-pabrik manufaktur masih bisa menggunakan stok bahan baku yang ada untuk proses produksi. Sehingga Indonesia, dan juga dunia, tidak akan sampai jatuh ke lembah krisis.

Problemnya, kita tidak tahu sampai berapa lama, isu Coronavirus ini akan terus menjadi headline di media (sejak akhir Januari kemarin, sekarang sudah genap satu setengah bulan), dan harapan penulis sih 2 – 3 bulan lagi juga udah beres semuanya, karena sekarang ini berita-berita positifnya, seperti bahwa di Vietnam sana kesemua pasien covid sudah sembuh, juga mulai ramai. Tapi jika katakanlah pada April – Mei nanti isunya masih ramai dibicarakan, maka tentu tulisan ini akan di-update kembali.

***

Ebook Market Planning yang berisi analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Maret 2020 sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber.

Punya akun Instagram? Follow akun resmi penulis di media sosial, klik 'View on Instagram' berikut ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

Tidak ada komentar: