Seperti Apa Rumah Ala Investor Saham?

Ketika penulis posting foto sedang berjemur di teras rumah saya di Instagram (saya ketika itu sedang isolasi mandiri karena positif covid, dan baru pulang dari rumah sakit), salah seorang follower mengirim DM: Pak Teguh, minta foto-foto rumahnya dong pak, buat motivasi. Nah, penulis kemudian jadi ingat bahwa karena investor saham sekarang ini didominasi oleh kaum muda yang mungkin belum punya rumah milik sendiri, sedangkan penulis dalam banyak kesempatan sering menyampaikan pentingnya investor saham untuk memiliki rumah, pake KPR juga gak apa-apa, maka sekarang mari kita berbicara soal rumah ini, tentunya dari sudut pandang value investing. Okay, here we go!

***

Ebook Investment Planning yang berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi Kuartal II 2021 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, tersedia gratis layanan tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

***

Tapi sebelum itu pertama-tama penulis hendak cerita tentang rumah pertama saya yang dibeli tahun 2011 lalu dengan luas tanah 60 meter persegi seharga Rp235 juta, di Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Rumah tersebut harganya tergolong murah karena akses jalannya yang sulit (jalan depan cuma muat satu mobil, dan agak jauh ke jalan raya), namun lokasinya sangat strategis/dekat kemana-mana, dan tanahnya lebih tinggi dibanding sekelilingnya sehingga dijamin gak akan kebanjiran. Rumah satu lantai tersebut memiliki dua kamar tidur, satu kamar mandi, satu dapur, satu ruang utama, dan satu carport. Ketika itu istri saya hamil anak pertama kami, sehingga saya berpikir bahwa kalau misalnya anak kami cuma satu, maka rumah itu sudah cukup karena kamarnya ada dua (meski sempit banget, salah satu kamarnya cuma berukuran 2.5 x 2.5 meter). Saya sendiri ketika itu bisa beli secara tunai karena cuan besar dari banyak saham-saham bagus di tahun 2011 tersebut, dan mulai punya penghasilan tambahan dari jualan ebook investment planning (ketika itu saya masih bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan dengan lokasi kantor di Kemang, Jakarta Selatan).

Dan sebenarnya dalam jangka panjang, saya berniat untuk punya rumah di Bandung saja, karena saya tidak pernah cocok dengan udara panas dan pengap di Jakarta. Sehingga rumah pertama itu saya anggap sebagai batu pijakan saja, yakni agar saya kemudian lebih tenang dalam berinvestasi saham itu sendiri karena kalau misalnya IHSG crash dan saya rugi besar, maka minimal saya masih punya rumah, milik sendiri.

Hingga pada tahun 2014, anak kedua saya lahir, dan barulah penulis mulai serius berencana pindah dan membangun rumah di Bandung, tapi tentu saja rumah kedua ini tidak bisa sama kecilnya dengan rumah yang di Jakarta, melainkan minimal jumlah kamarnya cukup untuk anak-anak kami. Saya kemudian berdiskusi dengan istri, dan istri menunjuk satu lokasi komplek perumahan di Cimahi yang suasana dan ketenangannya somehow mirip dengan di Ubud, Bali, dan rumah disitu besar-besar semua, dengan luas tanah antara 200 hingga 400 meter persegi. Dan sudah tentu harga tanah kavling disitu terbilang mahal (untuk ukuran Kota Cimahi), tapi istri penulis ngotot minta disitu, selain karena dekat pula dari rumah orang tuanya/mertua penulis.

Maka jadilah penulis menabung, dan akhirnya pada tahun 2017, saya membeli satu kavling tanah seluas 200 meter (10 x 20 meter) di kompleks tadi seharga Rp2.7 juta per meter, sehingga totalnya Rp540 juta. Sebenarnya jauh sebelum tahun 2017 itu saya juga sudah bisa membeli tanah kavling tersebut, tapi penulis masih fokus ke menumbuhkan portofolio investasi saham hingga ke satu titik dimana jika dari porto itu saya menarik dana untuk beli kavling tanah atau lainnya, maka sisanya masih banyak/dana yang ditarik itu tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai porto itu sendiri, sehingga saya juga gak harus mulai investasi dari nol lagi. Dan barulah di tahun 2017, saya mencapai posisi porto yang cukup besar tersebut.

Setahun kemudian, pada 2018, saya membangun rumah diatas tanah kavling tadi dengan spesifikasi sebagai berikut. Dua lantai. Luas bangunan 240 meter persegi. Empat plus satu kamar tidur termasuk master bedroom seluas 4x5 meter. Tiga plus satu kamar mandi. Satu carport (saya tidak pernah berpikir untuk memiliki lebih dari satu mobil) yang cukup luas sehingga bisa taruh sepeda motor juga. Taman kecil di halaman depan dan taman lebih luas (bisa buat pasang tenda dan camping) di halaman belakang. Satu dapur bersih dan satu dapur belakang. Ruang keluarga, ruang tamu, ruang makan, dan musholla yang semuanya menyatu tanpa sekat di lantai satu (sehingga memberikan kesan lapang). Satu ruang santai dengan sofa dan televisi besar di lantai dua. Dan satu ruang kerja di lantai dua. Desain rumahnya minimalis yang lebih mementingkan fungsi dan luas ketimbang estetika, karena kalau penulis lihat desain rumah-rumah yang modern itu, kelihatannya memang bagus tapi mengorbankan ruangan-ruangannya yang menjadi lebih sempit, misalnya karena ada kolam renang di belakang rumah (istri penulis sempat minta kolam renang ini, tapi penulis bilang kalau mau berenang ya sekalian aja ke hotel, yang jelas-jelas kolamnya lebih gede). Pemilihan nada warnanya ala skandinavia (abu-abu muda dan warna kayu, termasuk kami banyak pakai furnitur IKEA dengan warna senada), masih menggunakan kusen jendela dan pintu dari kayu jati, dan tinggi langit-langitnya mencapai 4 meter sehingga menambah kesan lapang rumah.

Tampilan depan rumah

Teras, taman depan, dan carport. Ada kursi kecil untuk saya duduk berjemur tiap pagi, untuk membantu pemulihan pasca covid

Meja makan, dapur bersih, dan ruang keluarga. Penataan ruang tanpa sekat, warna cerah, dan langit-langit yang tinggi memberikan kesan lapang

Ruang keluarga, mushola, dan ruang tamu (dilihat dari meja makan). Mushola cukup luas sedangkan ruang tamunya kecil saja, karena saya jarang terima tamu di rumah (kalau ketemu orang ya di kantor, resto, atau ruang meeting hotel)

Penampakan lantai dua. Pintu ke arah balkon sengaja dibuat dari kaca agar sinar matahari mudah masuk

Ruang santai untuk saya main video game, nonton siaran langsung sepakbola, dan Netflix. Atau sekedar buat rebahan dan tidur siang.

Ruangan paling luas di rumah ini, ruang kerja. Perhatikan di meja gak ada apa-apa kecuali sebuah laptop.

Pemandangan dari balkon belakang, dan saya sengaja beli kursi pantai buat rebahan menikmati pemandangan matahari terbenam di sore hari.

Biayanya pembangunannya? Rp950 juta termasuk biaya arsitek, plus interior design Rp150 juta, dan perabotan lengkap seperti kasur, kulkas, mesin cuci, televisi dst Rp200 juta. Jadi totalnya termasuk harga tanah kurang lebih Rp1.84 milyar, dan rumahnya kemudian siap huni.

Rumah Ala Value Investor

Nah, sekarang penulis hendak memberikan analisa tentang mengapa rumah tersebut, menurut pendapat penulis, memenuhi kaidah value investing. Pertama dari sisi lokasi. Rumah kami berlokasi di Kota Cimahi, tepatnya Cimahi Utara (arah ke Lembang) yang posisi tanahnya lebih tinggi sehingga udaranya lebih sejuk, tapi tetap sangat dekat dengan pusat kota dan stasiun kereta api, dan juga hanya 30 menit ke Kota Bandung lewat Tol Baros – Pasteur. Dari Cimahi ini, saya hanya perlu 3 jam jika hendak ke Jakarta menggunakan kereta api (nanti malah cuma 30 menit pakai kereta cepat, naiknya dari Stasiun Padalarang), dan juga hanya 3 jam jika hendak pulang kampung ke Cirebon (lewat tol Cipali, nanti malah cuma 2 jam jika Tol Cisumdawu sudah jadi). Jadi sekali lagi, meski lokasi rumah kami itu seperti di pedesaan dimana disini juga memang masih banyak sawah, tapi tetap dekat kemana-mana, sehingga lokasi rumah ini sangat efisien dari sisi waktu jika saya dan keluarga hendak bepergian.

Kedua, seperti disebut diatas, suasana lingkungan disini mirip seperti di Ubud, Bali, dengan udaranya yang sejuk tapi tidak terlalu dingin (suhu udara 17 – 27 derajat celcius), cenderung sepi, dekat dengan sungai, dan banyak pohon-pohon. Dan itulah kenapa harga tanah disini cukup mahal (di wilayah lainnya di Cimahi, harga tanah ketika itu hanya Rp1.5 jutaan per meter), tapi pada akhirnya penulis tidak menyesal membayar mahal karena suasana tenang di rumah dan sekitarnya benar-benar membantu penulis dalam melakukan pekerjaan investasi saham itu sendiri. I mean, penulis sering bilang berinvestasi saham itu tidak pernah cukup mudah, bahkan bagi investor berpengalaman sekalipun. Tapi salah satu alasan saya bisa bertahan disini sampai hari ini, termasuk melewati market crash tahun 2020 lalu, salah satunya adalah karena saya selalu merasa nyaman dan rileks ketika di rumah, dan hasilnya kepala jadi nggak gampang butek ketika menyusun rencana investasi.

Terakhir ketiga, rumah kami dekat dengan masjid, dekat dengan rumah Pak RT, dekat dengan sekolah anak-anak, dekat dengan Borma buat belanja sehari-hari, dekat dengan Pizza Hut, KFC, Hoka-Hoka Bento, Burger King (sebelum pandemi, saya rutin bahwa anak-anak kesitu buat main perosotan sepulang mereka sekolah, minimal seminggu dua kali), dekat dengan café-café (misalnya kalau penulis bosan work from home), dan terutama dekat dengan rumah mertua penulis, sehingga istri penulis bisa menengok orang tuanya kapan saja. Jadi bisa dibilang bahwa semua yang kami butuhkan berada dalam jangkauan. Kota Bandung dan Cimahi juga memiliki banyak sekali hotel berbintang, restoran, dan tempat wisata keluarga untuk kami family time di akhir pekan, sehingga di hari Seninnya saya merasa recharged dan kembali siap bertempur di market. Dan jika misalnya kami mau ke liburan agak jauh ke Bali, Jogja, Kuala Lumpur, hingga Singapura, maka ada penerbangan langsung dari bandara Husein Sastranegara (ini sebelum pandemi).

Kesimpulan

Kalau anda pernah baca bukunya Robert Kiyosaki, maka Om Robert disitu bilang bahwa rumah yang kita tinggali itu bukan aset melainkan liabilitas, karena rumah tinggal tidak menghasilkan keuntungan dalam bentuk sewa, misalnya, melainkan justru memakan biaya untuk renovasi, listrik dll. Dan memang penulis sendiri secara rutin mengecat ulang bagian-bagian tertentu di rumah ini setahun sekali, dan itu makan biaya. Karena itulah, meski saya sebenarnya mampu membeli tanah yang lebih luas dan membangun rumah yang lebih besar, tapi saya menganggap bahwa rumah yang kami tinggali saat ini sudah cukup besar terutama mempertimbangkan biaya perawatannya yang gak akan sampai bikin tekor, dan karena saya sampai kapanpun tidak akan menjualnya (sehingga meski dikatakan bahwa harga rumah naik terus, tapi itu tidak ada artinya bagi kami karena rumahnya tidak akan dijual. Lagian kalau dijual terus saya tidur dimana?). Kemudian saya juga sejak awal sadar bahwa anak-anak kami hanya akan tinggal bersama orang tuanya sampai mereka duduk di bangku SMU, tapi ketika mereka sudah kuliah maka mereka akan pergi. Sehingga jika rumahnya terlalu besar maka akan terasa amat sangat sepi jika hanya dihuni berdua oleh saya dan istri.

Jadi dari sisi biaya yang akan dikeluarkan serta manfaat yang akan diterima di masa depan, maka rumah kami ini sangat efisien, alias sesuai dengan kaidah value investing. Dan satu lagi, penulis sengaja membeli kasur King Koil untuk semua kamar dimana meski harganya mahal (meski sebenarnya gak semahal itu juga, cuma Rp20 jutaan per set, atau sama seperti harga sepeda motor), tapi rasanya lebih nyaman dibanding kasur hotel bintang lima sekalipun. Dan ingat bahwa kita menghabiskan sepertiga waktu hidup kita untuk tidur, sedangkan kasur itu gak butuh biaya perawatan lagi dan bisa tahan sampai 15 tahun. Jadi itu adalah investasi yang sangat baik.

Okay Pak Teguh, lalu adakah saran buat kami yang belum punya rumah, atau punya rumah tapi tidak seperti yang Pak Teguh ceritakan diatas? Yep, tentu saja ada. Pertama, jika kamu belum punya rumah maka mulailah menabung dari sekarang untuk membelinya suatu hari nanti, atau pake KPR juga gak apa-apa, karena sekali lagi itu akan itu akan menjadi semacam pijakan yang membuat kamu, secara psikologis, akan lebih percaya diri dalam bekerja dan juga berinvestasi. Kedua, yang namanya rumah pertama pasti kecil, termasuk rumah pertama penulis di Jakarta juga kecil dan sangat sederhana, jadi gak perlu buru-buru untuk langsung punya rumah besar yang ala-ala, melainkan jalani saja sampai nanti kamu punya cukup tabungan untuk membangun rumah yang lebih besar. Beberapa orang mungkin beruntung bisa langsung sukses dan beli/membangun rumah ala sultan di usia muda, tapi ingat bahwa kebanyakan orang, termasuk penulis sendiri, adalah orang yang biasa-biasa saja, yang tidak memiliki privilege apapun sehingga harus bekerja keras dan melewati proses panjang untuk bisa memiliki segalanya.

Dan ketiga, rumah itu tidak perlu besar ataupun mahal (rumah dengan tanah 90 meter juga cukup luas kok), melainkan yang penting nyaman (makanya penting banget buat beli sofa dan kasur yang empuk), bersih, terang kalau siang karena sinar matahari masuk, sirkulasi udara bagus, lingkungannya bagus, dan yang paling penting: Kita nggak tinggal disitu sendirian! Yup, jadi yang penting sebenarnya bukan rumahnya, melainkan penghuninya alias kita dan keluarga, dan itu artinya kamu harus punya keluarga alias kimpoi terlebih dahulu sebelum punya rumahnya :D Dan untuk itu juga kita tentunya jangan buru-buru, melainkan let it flow saja lah! Pada akhirnya jika kamu sekarang ini masih berusia 20-an, maka wajar jika kamu belum sesukses orang lain yang berusia 30-an, dan jika kamu berusia 30-an, juga wajar jika kamu belum sesukses mereka yang berusia 40-an. Jadi semuanya butuh proses, semuanya butuh waktu. Dan jika kamu bisa menjalani proses itu dengan baik, maka dalam 10 – 20 tahun kedepan, percaya sama saya bahwa semua yang kamu cita-citakan hari ini, termasuk sebuah rumah impian yang minimalis dan modern, semuanya akan tercapai, mungkin bahkan lebih dari itu!

Nah, jadi buat kamu yang belum punya rumah sendiri, maka seperti apa rumah impian kamu? Dan berlokasi di kota mana?

***

Ebook Investment Planning yang berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi Kuartal II 2021 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, tersedia gratis layanan tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan via email

Komentar

Anonim mengatakan…
masih banyak tanah kosong di komplek itu ya pak Teguh? Kisaran harga saat ini berapaan ya?
La pulga mengatakan…
Orang bilang biaya hidup sebenarnya gak mahal2 amat...yang mahal adalah gaya hidup. Sayangnya orang sekarang banyak yang lebih mementingkan gaya hidup...itu yang bikin susah nabung.
Eddy Susanto mengatakan…
Rumahnya BAGUS pak Teguh.. Udara sejuk apakah sudah tidak perlu menggunakan AC, sehingga Liability nya berkurang😀
Muzakkir Daud Hamzah mengatakan…
ALHAMDULILLAH,
Semoga Pak Teguh secepatnya diberikan kesembuhan yang sempurna dari ALLAH SUBHANAHU WATAÁLA YANG MAHA MENYEMBUHKAN, AAMIIN YAA RABBAL ÁALAMIIN,
Terima kasih atas Sharing ilmunya yang bernas dan bermanfaat,
BARAKALLLAHU FIIKUM JAZAKUMULLAHA KHAIRAN KATSIRA
justit mengatakan…
Kenapa harus dekat rumah Pak RT? bukannya nanti juga ganti ketua RT
Unknown mengatakan…
Hi Pak,

Boleh tahu nama komplek perumahannya, Pak Teguh?
Saya juga sedang mencari rumah di Cimahi agar dekat dengan orang tua di Cibabat untuk persiapan pensiun muda (baca: gak kerja kantoran di Jakarta).
Sekarang masih umur 37 tahun, dan sedang dalam proses transisi jadi full investor.


Terima kasih
Anonim mengatakan…
Ruang kerjanya kosong kali Pak, apa ada rencana di tambah ornamen atau aksesori agar membantu pikiran biar gak penat?

ARTIKEL PILIHAN

Price Earning Ratio dan Price to Book Value

Live Webinar Value Investing, Sabtu 25 September 2021

Ebook Investment Planning Kuartal II 2021 - Sudah Terbit!

Pendapat Saya Tentang Rencana IPO GoTo

Aneka Tambang (ANTM)

Sekilas Mengenai Suspensi Saham

Telkom