Alasan Kenapa Kita Jangan Beli Saham Gorengan

Apakah Pak Teguh punya pengalaman memegang saham yang terkenal punya reputasi manajemen GCG buruk, atau saham gorengan yang banyak dipompom influencer (yang gampang ARA tapi gampang ARB juga), tapi tetap cuan lumayan, atau malah cuan besar? Jika punya, apa tips-tips dari bapak untuk memegang saham yang demikian?

Pernah, tapi harus digaris bawahi bahwa pengalaman saya di saham demikian itu fifty-fifty, dalam artian pernah cuan tapi pernah rugi juga, dan dengan perbandingan nilai cuan dan rugi yang kurang lebih sama, sehingga hasil akhirnya adalah nol besar. Untuk pengalaman cuan, Oktober 2016 lalu saya ada beli saham Bumi Resources (BUMI) di harga 170, dan dia kemudian naik sampai 500 sebelum kemudian turun lagi. Analisanya bisa baca disini: https://www.teguhhidayat.com/2015/10/bumi-resources-analisa-restrukturisasi.html, dimana analisa itu ditulis tahun 2015, atau setahun sebelum saya sendiri akhirnya masuk ke BUMI.

Saya pernah pegang saham ini lho

Sedangkan untuk pengalaman rugi, tahun 2018 kita beli Lippo Cikarang (LPCK) di 3,200, tapi setelah itu sahamnya dijeblokin ke 1,500, dan saya cut loss di harga segitu (keputusan yang tepat, karena setelah itu sahamnya lanjut turun sampai mentok di 400 di bulan Maret 2020). Analisanya baca disini: https://www.teguhhidayat.com/2018/05/lippo-cikarang-unbelievably-undervalue.html.

Sehingga dari pengalaman saya diatas, maka tips saya adalah, jangan main-main sama saham yang kualitas owner/manajemennya buruk, karena hasil terbaiknya adalah kita gak rugi saja, tapi juga gak akan untung. Selain di BUMI dan LPCK, saya juga pernah ada beli (seingat saya) AISA, SRIL, BULL, NETV, dimana pemegang saham pengendali pada perusahaan-perusahaan tersebut melakukan hal-hal yang menunjukkan GCG buruk seperti menggoreng/manipulasi harga sahamnya di pasar, melakukan aksi korporasi yang merugikan investor publik, gagal bayar utang/PKPU, transaksi repo, hingga ‘permak’ laporan keuangan. Jadi sejak awal saya tahu bahwa risikonya besar jika saya memutuskan untuk membeli sahamnya. Dan ternyata hasilnya kalau gak untung besar ya rugi besar, tapi totalnya nol. Jadi pada akhirnya cuma buang-buang waktu, mending kita beli saham dari emiten yang ‘lurus-lurus’ saja. Termasuk saya juga sebenarnya dulu sempat kepikiran mau beli saham-saham yang sekarang turun dalam seperti Bukalapak (BUKA), dan GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), dengan niat spekulasi (bukan investasi, karena dua perusahaan itu berfundamental sangat buruk). Tapi pada akhirnya saya menganggap, it's not worth it. Jadi sekali lagi, mending kita beli saham yang beneran bagus saja.

***

Ebook Market Planning edisi Januari 2023 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan akan terbit tanggal 1 Januari mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis info jual beli saham, dan tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member. Tersedia juga diskon awal tahun bagi member baru.

Jadwal Seminar Tatap Muka Value Investing, Jakarta, Sabtu – Minggu, 14 – 15 Januari 2023, pukul 11.00 – 17.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email

Komentar

Asy'ari Samudera mengatakan…
kenapa GROUP B dan GROUP L itu jadi 'MOMOK' yang menakutkan dan harus dihindari oleh setiap investor ya..??

Best Regard

#Newbie
#AngkatanCorona
#NeedEmitenKnowledge

ARTIKEL PILIHAN

Live Webinar Value Investing, Sabtu 11 Februari 2023

Ebook Investment Planning Kuartal IV 2022 - Terbit 13 Februari

Intiland Development (DILD): Saham Properti Calon Multibagger?

Laporan Kinerja Avere Investama 2022

Astra dan Telkom Kena Prank GOTO? Nasib Sahamnya Gimana?

Cara Menemukan Saham yang Berpotensi Naik 100% atau Lebih, dalam Waktu 1 Tahun atau Kurang

Saya Sudah Baca Prospektus IPO GOTO, dan Ini Poin-Poin Pentingnya