Cara Timing the Market Untuk Profit Maksimal di Saham
Pada hari Selasa, 9 Juni, penulis secara terbuka di story Instagram menyebut bahwa saya membeli sejumlah saham, salah satunya Bank BCA (BBCA) pada harga Rp4,870. Ketika itu IHSG sedang rendah-rendahnya di posisi 5,300an. Kemudian karena di hari yang sama IHSG lompat 7%, dan demikian pula saham yang dibeli semuanya langsung naik tanpa terkecuali, maka praktis banyak yang bertanya: Kok timing-nya bisa tepat banget gitu? Pak Teguh tahu dari mana kalau IHSG di hari Selasa itu bakal naik?
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Diskon selama IHSG masih di bawah 7,500, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.
***
![]() |
| Screenshot daftar saham yang kami beli di tanggal 9 Juni 2026. |
Nah, tapi bagaimana kalau penulis bilang bahwa, soal apakah IHSG ketika itu akan lanjut turun atau berbalik naik setelah menyentuh 5,300an, then I had no idea? Maksud penulis, di website ini saya sejak tanggal 18 Mei lalu, yakni ketika IHSG masih di 6,500an, menyebut bahwa kita sudah mulai belanja saham lagi. Jadi jika saya bisa menebak bahwa IHSG masih akan lanjut turun sampai mentok di 5,300 pada tanggal 9 Juni kemarin sebelum kemudian baru berbalik naik, lantas kenapa gak tunggu saja sampai tanggal 9 Juni tersebut, lalu baru borong BBCA dkk??
Karena itulah, di kesempatan kali ini saya akan sharing dua pelajaran penting yang harus kita semua kuasai sebagai investor saham. Pertama, dan saya sudah menyampaikan ini berulang kali: Anda, dan juga siapapun, tidak bisa menebak naik turunnya harga saham, ataupun arah pergerakan IHSG. Dan itu adalah karena naik turunnya IHSG dipengaruhi oleh banyak sekali faktor, dimana sebagian besar faktor-faktor tersebut juga sama tidak bisa diprediksi. Contoh! Pada pidatonya di tanggal 20 Mei, Presiden Prabowo mengumumkan kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas batubara, minyak sawit aka crude palm oil (CPO), dan ferronickel serta produk hilir logam lainnya, melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), dimana itu seketika membuat saham-saham komoditas anjlok, demikian pula IHSG kembali terjun bebas hingga tembus dibawah 6,000. Namun beberapa waktu kemudian kembali diumumkan bahwa kebijakan itu ditunda, sebelum kemudian direvisi menjadi bahwa DSI hanya menjadi pengawas untuk mencegah praktik underinvoicing dan transfer pricing, tapi bukan berarti mengambil alih semua kontrak ekspor komoditas itu sendiri. Dan alhasil saham-saham komoditas yang sebelumnya anjlok langsung terbang lagi, demikian pula IHSG naik lagi.
Nah, jadi balik lagi ke awal bulan Mei lalu dimana IHSG sudah turun dari 9,000an ke persis 7,000, dan ketika itu ada banyak orang yang memprediksi bahwa IHSG akan berbalik naik atau sebaliknya lanjut turun ke posisi sekian, dengan analisa serta argumennya masing-masing. Tapi apakah ada yang menyebut kebijakan ekspor satu pintu diatas sebagai salah satu faktor analisanya? Silahkan anda cek sendiri: Tidak ada! Semua orang ketika itu menyebut soal MSCI, penurunan rating oleh S&P, pelemahan Rupiah, IHSG secara teknikal sedang downtrend dll, karena hal-hal itulah yang sudah atau sedang terjadi ketika itu. Sebaliknya, ketika berita soal ekspor satu pintu itu akhirnya keluar pada tanggal 20 Mei, maka hampir tidak ada yang berani merekomendasikan saham komoditas, karena tidak ada yang bisa melihat bahwa kebijakan itu nantinya akan direvisi.
Daaaaan demikian seterusnya, dimana kedepannya pemerintah akan kembali mengumumkan kebijakan-kebijakan baru, dan akan juga terjadi peristiwa-peristiwa penting baik dari dalam maupun luar negeri (misalnya terkait perang Iran dll), dimana itu semua akan turut berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG. Nah, jika kita tidak bisa menebak besok kebijakan apa lagi yang akan diumumkan oleh Menteri dan/atau Presiden, atau apakah perang US – Iran akan kembali berlanjut atau damai (dimana itu pada gilirannya akan berpengaruh terhadap harga minyak, kurs Dollar, dll), lalu bagaimana mungkin kita bisa menebak arah IHSG itu sendiri?
Karena itulah, sekarang kita masuk ke pelajaran nomor dua: Karena kita tidak bisa menebak apakah IHSG akan naik atau turun, maka yang harus dilakukan adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi semua kemungkinan skenario yang akan terjadi, yakni dengan cara menerapkan money management aka beli saham secara bertahap, jangan sekaligus, dimana detail strateginya sudah dijelaskan disini. Yep, jadi balik lagi ke postingan di tanggal 18 Mei, disitu penulis menyebut bahwa saya mencairkan sebagian surat berharga negara (SBN) untuk belanja saham. Dan jika IHSG lanjut turun kedepannya, maka saya akan belanja saham lebih banyak lagi.
Dan memang itulah yang saya lakukan di tanggal 9 Juni, yakni ketika IHSG turun ke 5,300-an salah satunya karena sentimen kebijakan ekspor satu pintu diatas, dimana kita kembali borong saham-saham yang kita cukup yakin memiliki prospek ke depan yang cerah, dan bahwa penurunannya semata karena IHSG turun, bukan karena fundamentalnya jelek. Jadi tidak ada prediksi apapun disini, we just being prepared. Dimana ketika kita belanja di tanggal 18 Mei maka kita masih menyisakan sejumlah cash (dalam bentuk SBN) untuk nanti dibelanjakan sekali lagi, yakni jika IHSG kembali turun. Okay, lalu bagaimana kalau IHSG setelah tanggal 18 Mei itu ternyata tidak pernah turun? Ya gak apa-apa, sisa dana di SBN itu bisa tetap di-hold saja dulu. Dan actually bisa juga nanti digunakan untuk average up alih-alih average down, tentunya jika harga saham yang sudah naik itu, setelah kita hitung lagi valuasinya masih undervalued.
Okay Pak Teguh, tapi bagaimana jika ternyata rebound IHSG dari 5,300 ke 6,200 dalam seminggu terakhir ini cuma sementara, dan setelah ini IHSG turun lagi ke 5,000, atau lebih rendah? Misalnya jika pemerintah bikin kebijakan lainnya lagi yang bersifat negatif, sedangkan posisi cash sudah habis?? Maka, seperti juga yang penulis sampaikan di tanggal 18 Mei: Meskipun saya, dan juga anda, tidak bisa memprediksi pergerakan IHSG atau harga saham-saham itu sendiri entah itu besok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan, namun yang hampir pasti akan terjadi adalah, pada akhirnya pasar saham akan naik lagi. Jadi jika ternyata IHSG kembali turun sedangkan cash sudah habis, maka kita akan hold saja, dan menunggu, sekali lagi dengan catatan bahwa saham yang kita pegang memiliki fundamental bagus, rutin bayar dividen, dst. Kita sudah pernah melewati koreksi IHSG/market crash di tahun 2020, 2018, dan 2015 lalu, dan endingnya selalu sama: Pasar naik lagi. Dan meskipun penulis tidak mengalami market crash 1998 dan 2008 (soalnya kita baru masuk saham tahun 2010), namun ujungnya juga sama: Pasar naik lagi. Jadi apa yang membuat kita berpikir bahwa market crash 2026 ini bakal berbeda, dan bahwa penurunan IHSG akan bersifat permanen??
Anyway, kembali penulis sampaikan bahwa kami bisa menerapkan strategi
diatas karena sudah punya cukup jam terbang dalam menghadapi market crash sebelumnya,
sehingga kami kemudian bisa bersikap greedy when others are fearful. Jadi
penulis tidak akan menyalahkan jika anda termasuk yang masih (berusaha) memprediksi
arah IHSG, terus bingung sendiri ketika ternyata prediksinya keliru, karena
dulupun kami juga sama gitu juga! (malah gak cuma dulu, tapi sampai sekarang juga
kadang masih sama kayak gitu 😁). Namun kabar baiknya, jika anda membaca tulisan ini maka
penulis asumsikan bahwa anda termasuk yang sukses bertahan ketika kemarin IHSG junam
ke 5,000an, dan bahwa anda, secara mental, sudah jauh lebih kuat dibanding
sebelumnya. Dan itu artinya, mau itu IHSG kedepannya naik atau turun namun anda
kali ini akan jauh lebih siap, dan akan tetap profit no matter what. Mudah-mudahan!
***
Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Multibagger Edition. Sabtu 20 Juni 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

Komentar