Ebook Analisa IHSG & Rekomendasi Saham edisi Januari 2020 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber, dan tersedia diskon khusus awal tahun.

Saran Untuk OJK, Terkait Perlindungan Investor

Suatu hari di bulan Agustus 2010, sebuah perusahaan yang terdaftar di Singapura (tapi pemiliknya orang Indonesia) dengan nama Ramba Energy Ltd (Ramba), mengakuisisi 51% saham PT Sugih Energy, Tbk (SUGI), sebuah perusahaan kecil penyedia jasa industri migas di Indonesia yang secara teknis sudah bangkrut karena tidak lagi beroperasi, dengan nilai $1 juta saja. Selang setahun kemudian, tepatnya pada 27 Desember 2011, Ramba mengakuisisi 80.4% saham PT Hexindo Gemilang Jaya, pemilik 100% kepemilikan di Blok Lemang, sebuah ladang minyak di Provinsi Jambi. Namun pada tanggal yang sama, tepatnya persis sesaat sebelum Hexindo diakuisisi oleh Ramba, Hexindo melepas 49% kepemilikannya di Blok Lemang ke sebuah perusahaan dengan nama Eastwin Global Investment, sebuah perusahaan yang terdaftar di British Virgin Island, senilai $1.6 juta. Sehingga dengan demikian, Ramba, melalui Hexindo, hanya memegang 41% kepemilikan di Blok Lemang (80.4% x 51% = 41%).

Bank BJB (BJBR), dan Hubungannya Dengan Jiwasraya

Saham Bank BJB (BJBR), seperti yang kita ketahui, adalah satu dari sejumlah ‘saham gorengan’ yang disebut-sebut dipegang dalam jumlah besar oleh Jiwasraya dan Asabri. Dan seperti halnya saham-saham lainnya yang juga dipegang oleh kedua institusi tersebut, yang ramai-ramai turun setelah kasusnya mencuat ke publik, maka BJBR juga sudah turun sangat signifikan jika dihitung dari posisi tertingginya yakni 3,390, akhir tahun 2016 lalu, hingga sekarang sudah di level 1,010. Menariknya, berbeda dengan katakanlah Indofarma (INAF), Semen Baturaja (SMBR), apalagi Hanson International (MYRX), atau Trada Alam Minera (TRAM), maka fundamental BJBR tampak not too bad, dan yang paling menarik adalah dividennya, yang tahun lalu mencapai Rp89 per saham. Sehingga pada harga saham 1,010, yield-nya mencapai hampir 9%. Time to buy?

 

Setelah Jiwasraya & Asabri, Siapa Lagi?

Masih dari acara diskusi yang dihadari penulis sebagai narasumber di Kantor Staf Presiden, tanggal 7 Januari ini, ada pertanyaan seperti ini: ‘Dalam kasus Jiwasraya & Asabri, disebutkan ada korupsi senilai sekian trilyun. Dimana korupsinya? Dan siapa pelakunya?’ Penulis jawab, ‘Kita tahu bahwa penyebab Jiwasraya gagal bayar adalah karena kesulitan likuiditas, karena dana investasi milik perusahaan nyangkut di saham-saham berkualitas rendah. Dalam hal manajer investasi (MI) di Jiwasraya membeli saham-saham itu karena tidak tahu/tidak bisa menganalisa bahwa perusahaannya memang jelek, maka memang tidak ada unsur korupsi, dan MI itu bisa dihukum sebatas karena kelalaian’.

Daftar Lengkap Saham-Saham yang Dibeli Asabri

Minggu lalu, tepatnya hari Selasa, 7 Januari, penulis memenuhi undangan dari Kantor Staf Presiden (KSP) di Istana Negara, Jakarta, untuk menjadi narasumber dalam diskusi membahas perkembangan pasar saham, termasuk soal kasus Jiwasraya. Diskusi tersebut dihadiri oleh oleh para deputi dan staf ahli presiden, dan penulis adalah satu dari tiga narsum yang hadir. Nah, ketika kita membahas soal skema penyelamatan Jiwasraya, maka penulis katakan bahwa Jiwasraya bisa diberikan bantuan likuiditas oleh BUMN keuangan yang lain, entah itu BUMN bank, asuransi, dana pensiun dst, dan dengan demikian Jiwasraya akan bisa melunasi kewajibannya kepada para nasabah pemilik dana.

Prospek Unicharm Indonesia u/ Investasi Jangka Panjang

Dari sekian banyak IPO di tahun 2019 kemarin, IPO PT Uni-Charm Indonesia, Tbk (UCID) adalah yang paling menarik perhatian investor karena setidaknya dua hal: 1. Perusahaan bergerak di bidang produksi barang kebutuhan sehari-hari (pembalut wanita dll), dengan merk produk yang cukup populer (Charm), dan 2. Nilai IPO-nya paling besar yakni Rp1.2 trilyun, sedangkan UCID sendiri termasuk perusahaan besar dengan aset Rp7.3 trilyun sebelum IPO. Nah, tapi bagaimana dengan kinerja perusahaan itu sendiri? Apakah benar bahwa UCID ini, kalau melihat model bisnisnya, maka sahamnya layak untuk investasi jangka panjang?

Kenapa Jiwasraya Beli Saham Gorengan? Dan Siapa Itu Predator Pasar Modal?

Dalam kamus Investopedia, tidak dikenal istilah ‘saham gorengan’. Namun berdasarkan definisi bahwa saham gorengan adalah saham yang harganya dinaik turunkan oleh bandar, maka hal itu dikenal dengan istilah pump and dump, dimana mekanismenya adalah sebagai berikut:  Suatu individu atau perusahaan tertentu, sebut saja A, memiliki saham X dalam jumlah besar (A ini bisa merupakan pemegang saham mayoritas/pemilik dari emiten X tersebut, tapi bisa juga pihak lain). A kemudian menyebar rumor/sentimen positif melalui Grup Whatsapp dll bahwa prospek X bagus bla bla bla, dengan harapan investor ritel akan tertarik untuk membeli sahamnya, dan di waktu yang bersamaan memperjual belikan saham X miliknya sendiri di market, dimana setiap transaksi dilakukan pada harga yang lebih tinggi dari transaksi sebelumnya (pump).

Membedah Laporan Keuangan Jiwasraya

Ketika Hendrisman Rahim terpilih sebagai direktur utama PT Asuransi Jiwasraya, tahun 2008, kinerja Jiwasraya di tahun tersebut tengah terpuruk dimana perusahaan hanya membukukan laba bersih Rp16 milyar, drop dari Rp34 milyar di tahun sebelumnya, sedangkan asetnya juga menyusut dari Rp5.1 menjadi Rp4.8 trilyun. Dan salah satu penyebabnya adalah karena stock market crash ketika itu dimana IHSG jeblok 50.1% sepanjang tahun 2008, yang otomatis menyebabkan Jiwasraya menderita rugi signifikan dari penempatan investasinya di saham, entah secara langsung maupun melalui reksadana.

Cara Mendeteksi Manipulasi di Laporan Keuangan

Beberapa waktu lalu, kita sudah membahas tentang cara cepat membaca laporan keuangan, dimana penulis menyampaikan dalam bentuk video tentang poin-poin apa saja yang harus kita perhatikan (totalnya 15 poin) ketika membaca LK, mulai dari posisi aset, kewajiban, utang, laporan laba rugi, hingga laporan arus kas/cash flow. Di video tersebut penulis juga menyampaikan beberapa rasio yang penting untuk dicek seperti return on equity, current ratio, debt to equity ratio dan seterusnya, lengkap dengan penjelasan untuk tiap-tiap rasio tersebut.

Apa Itu Trailing Stop Loss, Dan Bagaimana Cara Melakukannya

Menurut Investopedia, trailing stop loss (TSL) adalah sebuah sistem dimana pihak broker/sekuritas akan secara otomatis menjual saham yang dipegang seorang investor, yakni jika si investor sebelumnya sudah memasukkan perintah untuk menjual saham tersebut kalau harganya turun sekian persen. Contoh, anda membeli saham A pada harga 1,000, dan TSL-nya ditetapkan pada level 10%. Maka jika saham A kemudian langsung turun dari harga 1,000 tersebut sampai menyentuh 900 (turun 10%), pihak broker akan otomatis jual cut loss. Sedangkan jika saham A naik dulu sampai 1,200, tapi kemudian balik arah dan turun sampai 1,080 (turun 10% dari 1,200 tadi), maka sahamnya juga akan otomatis dijual, namun kali ini dalam posisi profit karena modalnya tadi di 1,000.

Seminar Value Investing Advanced, Surabaya 19 Januari, Jakarta 2 Februari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced Class’, di Jakarta, dan Surabaya. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar/resesi ekonomi, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Seminar Value Investing, Surabaya 18 Januari, Jakarta 1 Februari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang’ di Surabaya, Sabtu 18 Januari, dan Jakarta, Sabtu 1 Februari 2020. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, beberapa tips dan trik dalam berinvestasi, hingga cara menabung saham untuk simpanan jangka panjang. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Cara Cepat Membaca Laporan Keuangan Emiten

Dalam menganalisa sebuah perusahaan, sebelum kemudian memutuskan apakah sahamnya layak invest atau tidak, maka dokumen pertama sekaligus yang paling penting untuk dipelajari seorang investor adalah laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan. Nah, biasanya dari investor pemula, penulis menerima banyak pertanyaan soal bagaimana cara membaca LK, poin-poin apa saja yang harus dilihat dan seterusnya. Dan apakah untuk bisa membaca LK, maka kita harus sekolah/kuliah jurusan ekonomi, akuntansi, dan keuangan terlebih dahulu?

Dibalik Skandal Garuda Indonesia

Ketika Garuda Indonesia (GIAA) menggelar IPO dengan harga perdana Rp750, tahun 2011 lalu, maka setelah mempelajarinya, penulis simpulkan bahwa sahamnya tidak layak invest karena hal-hal berikut: Bisnis maskapai penerbangan itu biayanya mahal terutama di harga beli pesawat dibanding harga tiket penerbangan itu sendiri (semurah-murahnya harga pesawat ukuran kecil adalah Rp400 milyar per unit, jadi dengan harga tiket katakanlah Rp1 – 2 juta per orang per perjalanan, maka bisa dibayangkan butuh waktu berapa lama buat balik modal, belum lagi biaya operasional yang mahal), dan biaya bahan bakar, terutama karena harga minyak dunia ketika itu masih diatas $100 per barel. Kemudian GIAA juga harus bersaing dengan low cost carrier (LCC) seperti Lion Air dan Air Asia, yang harga tiketnya hanya setengahnya. Dan memang ketika itu, GIAA terus mencatatkan kerugian nyaris saban tahun. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

Adaro Energy

Kalau dari sisi volume produksi, maka dengan produksi sekitar 55 juta ton batubara per tahun, PT Adaro Energy, Tbk (ADRO) merupakan coal miner terbesar kedua di Indonesia setelah PT Bumi Resources, Tbk (BUMI). Namun berbeda dengan BUMI yang tidak disukai investor karena manajemennya sering bikin ulah, maka ADRO dalam banyak hal tampak lebih baik, dan sahamnya juga termasuk salah satu yang naik signifikan dari 600 hingga sempat tembus 2,500 ketika terjadi euforia di sektor batubara, tahun 2016 – 2017 lalu. However, seiring dengan kembali turunnya harga batubara sejak awal tahun 2019 kemarin, maka ADRO juga ikut turun, dan tiba-tiba saja sekarang pada harga 1,350, valuasinya tampak atraktif lagi dengan PBV 0.8 kali, dan PER 5.8 kali. Tapi, hey, bagaimana dengan harga batubara itu sendiri? Apakah harga batubara sekarang ini ($70 per ton) sudah cukup rendah, atau masih bisa turun lagi?

Ramayana Lestari Sentosa

Beberapa bulan lalu, tepatnya Juni 2019, penulis menyampaikan bahwa, karena sekarang ini jamannya sudah serba internet, maka para emiten di BEI dituntut untuk go online dalam memasarkan produk dan jasa mereka, termasuk harus membuat ‘official store’ entah itu dalam bentuk website, Facebook Fan-page, hingga mendaftar di marketplace seperti Bukalapak atau Tokopedia. Sedangkan perusahaan yang tetap berjualan dengan cara tradisional, alias hanya menunggu pembeli datang ke toko, maka mereka hampir bisa dipastikan akan kalah bersaing. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

Penyebab Anjloknya Saham-Saham IPO/Gorengan, dari Sudut Pandang Value Investing

Setahun lalu, tepatnya tanggal 28 September 2018, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sejarah dimana jumlah saham yang melantai di bursa pada hari itu genap berjumlah 600 saham/emiten, ketika itu dengan mulai diperdagangkannya saham PT Natura City Developments, Tbk (CITY). Sebagai catatan, antara tahun 2009 – 2015, jumlah emiten yang sahamnya diperdagangkan di BEI hanya tumbuh sedikit dari 350-an menjadi 400-an, dan barulah setelah tahun 2015 tersebut jumlah emiten ini melonjak hingga menjadi 600-an emiten pada tahun 2018. Di satu sisi ini terbilang bagus, karena sekarang investor di bursa jadi punya lebih banyak pilihan investasi di banding sebelumnya. However, setelah penulis pelajari satu persatu saham-saham anyar ini, saya kemudian jadi jengkel sendiri. Kenapa?

Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning)

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Mengenal Exchange Traded Fund (ETF), Termasuk Potensi Keuntungan dan Risikonya

Dalam berinvestasi di saham, ada sejumlah peraturan tidak tertulis yang harus dipatuhi jika kita ingin meraih profit konsisten. Dan salah satu peraturan tidak tertulis tersebut adalah terkait diversifikasi portofolio, dimana di blog ini penulis juga sudah sering kasih tips-tips tentang cara melakukan diversifikasi yang baik dan benar. However, berdasarkan pengamatan penulis selama ini, peraturan diversifikasi inilah yang sering dilanggar oleh investor, baik pemula maupun berpengalaman. Contohnya, sering terjadi seorang investor menempatkan lebih dari separuh porto-nya hanya pada saham A, karena ia sangat yakin bahwa ‘pilihannya tidak mungkin salah’, dan/atau karena ia berharap bahwa jika benar saham A itu naik banyak, maka dampak profitnya terhadap kinerja portonya secara keseluruhan akan sangat signifikan.

Prospek Saham Sawit Setelah Kenaikan Harga CPO, dan Program Biodiesel

Hingga Kuartal III 2019, emiten perkebunan kelapa sawit rata-rata masih membukukan kinerja yang kurang baik. Ambil contoh Astra Agro Lestar (AALI), dimana laba bersihnya drop sepersepuluhnya menjadi Rp111 milyar, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1.1 trilyun. Demikian pula dengan PP London Sumatra (LSIP), dimana labanya yang Rp52 milyar tentunya kelewat kecil dibanding ekuitasnya yang Rp8.2 trilyun. Disisi lain, harga crude palm oil (CPO) sedang dalam trend naik dalam 2 – 3 bulan terakhir, dimana angkanya terakhir menyentuh RM2,620 per ton di Bursa Malaysia (www.bursamalaysia.com), dan ini pula yang mendorong kenaikan saham AALI dkk. Jadi apakah ini berarti saham perkebunan kelapa sawit kembali menarik untuk invest?