Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya pada link berikut.

Seminar Value Investing for Millennials, Jakarta, 15 Juni

Dear investor, sesuai request, penulis menyelenggarakan seminar dengan tema: Value Investing for Millennials. Berbeda dengan seminar yang biasanya, materi di kelas seminar kali ini sengaja didesain agar sesuai untuk teman-teman investor berusia 20-an, 30-an, atau lebih muda lagi, dimana kita tidak hanya membahas tentang investasi saham itu sendiri, melainkan juga membahas tahapan-tahapan yang harus dilewati agar kita kemudian siap menjadi pro investor, mulai dari ketika usia sekolah, kuliah, hingga ketika sudah bekerja dan memiliki penghasilan untuk ditabung di saham. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya.

Ebook Investment Planning - Kuartal I 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal I 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Strategi ‘Momentum Investing’ Untuk Profit Lebih Cepat Dari Saham-saham Jangka Panjang

Di artikel sebelumnya, kita membahas bahwa kalau kita mau beli saham untuk tabungan jangka panjang, maka jangan cuma lihat pergerakan sahamnya dalam 5 tahun terakhir, tapi coba lihat lagi dalam 10 tahun terakhir. Contohnya ULTJ, yang meski dalam lima tahun terakhir hanya profit 20%, tapi dalam 10 tahun terakhir profitnya total mencapai 7 - 8 kali lipat. Namun disisi lain, jika kita kebetulan beli saham Ultrajaya (ULTJ) di tahun 2014 dan bukannya 2009, kemudian tetap hold sampai hari ini, maka tetap saja profitnya cuma 20% diluar dividen. Jadi adakah strategi agar kita tidak terjebak dalam kondisi ‘hold too long for nothing’ seperti itu? Anda bisa baca lagi artikel lengkapnya disini (sebaiknya baca dulu biar nyambung ceritanya).

The Power of Legacy Stock: Berapa Profitnya Jika Kita Beli Saham Ultrajaya di Tahun 2009?

Ada satu pertanyaan menarik ketika beberapa waktu lalu penulis membahas saham Ultrajaya Milk Industry (ULTJ) (ini link artikelnya), dimana kesimpulan akhirnya adalah bahwa ULTJ ini bisa dipertimbangkan sebagai tabungan atau investasi jangka panjang. Atau mengutip istilah Pak Joeliardi Sunendar, sebagai legacy stock yang bisa di-hold as long as possible. Problemnya, dalam lima tahun terakhir yakni 2014 – 2019, ULTJ secara keseluruhan hanya naik dari 1,000 ke 1,200, sehingga total gain-nya hanya sekitar 20% dalam lima tahun, atau jauh lebih rendah dibanding beberapa saham long term lainnya yang lebih populer seperti katakanlah Bank BRI (BBRI). Jadi pertanyaannya kemudian, apa benar bahwa ULTJ ini bagus untuk long term? Karena kalaupun kita katakan bahwa sahamnya aman/low risk, tapi profit segitu dalam jangka waktu selama itu tentu saja kelewat kecil bukan??

Setelah Turun Terus, Inilah Valuasi IHSG Saat Ini

Jumat kemarin setelah pasar tutup, penulis ditelpon wartawan untuk dimintai komentar terkait valuasi IHSG yang ketika itu sudah drop signifikan ke level 5,827, namun menurut data Bloomberg PER-nya masih cukup tinggi yakni 18 kali. Sehingga ada kesan bahwa meski indeks memang sudah turun cukup dalam dibanding posisi tertingginya di tahun 2019 ini (dari 6,548 ke 5,828, berarti turun 11.0%), tapi secara kaidah value investing maka IHSG masih bisa turun lagi, karena saham-saham di BEI belum cukup murah untuk dibeli. Tapi benarkah demikian? Bahwa valuasi Bank BCA dkk sekarang ini masih pada mahal??

Prospek United Tractors Setelah Akuisisi Tambang Emas

Pada tanggal 4 Desember 2018, PT United Tractors, Tbk (UNTR) mengumumkan bahwa perusahaan telah menyelesaikan proses akuisisi 95% saham PT Agincourt Resources (PTAR), pemilik dan pengelola Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Jadi dengan demikian UNTR sekarang punya lima segmen usaha yakni penjualan alat-alat berat, kontraktor tambang, tambang batubara, usaha konstruksi, dan tambang emas, dimana dua segmen yang disebut terakhir baru bergabung dengan UNTR dalam beberapa tahun terakhir. Menariknya, berbeda dengan kontribusi usaha konstruksi-nya yang masih sangat kecil, usaha tambang emas UNTR sukses menyumbang laba bersih sebelum pajak sebesar Rp665 milyar pada Kuartal I 2019, atau 16% dari total laba sebelum pajak perusahaan.

Bank Jatim: Big Dividend No More??

Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, atau biasa disebut Bank Jatim (BJTM) sudah merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2019, dimana perusahaan melaporkan laba bersih Rp405 milyar, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp376 milyar. Namun yang menarik adalah, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, manajemen BJTM baru menggelar RUPS untuk tahun fiskal 2018 (dimana RUPS-nya termasuk membahas soal dividen) pada hari Jumat, 26 April kemarin, sehingga perusahaan baru akan membayar dividen dalam waktu dekat ini, dan dividend payout ratio-nya (DPR) tidak lagi sebesar sebelumnya, yakni hanya 54.3% dari total laba bersih sepanjang tahun 2018 (biasanya dividen BJTM mencapai 60 – 70% labanya). Jadi apakah dengan demikian BJTM sudah tidak bisa lagi dikategorikan sebagai ‘dividend stock’?

Ebook Investment Planning - Kuartal I 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal I 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Prospek Saham Konstruksi Setelah (Hasil) Pilpres

Dalam dua tahunan terakhir, ada satu sektor yang kinerja fundamental para emitennya sebenarnya cukup bagus, atau bahkan sangat bagus, namun saham-saham di sektor ini justru turun seiring dengan ketidak pastian prospek jangka panjangnya. Yup, anda mungkin sudah tahu sektor tersebut: Konstruksi, terutama konstruksi BUMN. Jika bicara kinerja, maka seiring dengan gencarnya pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah, Waskita Karya (WSKT) membukukan kenaikan ekuitas serta laba yang signifikan sejak tahun 2015 lalu. Namun perkembangan politik didalam negeri dalam satu dua tahunan terakhir membuat investor ragu bahwa pemerintahan saat ini akan berlanjut di periode selanjutnya, dimana skenario terburuknya adalah pembangunan infra akan berhenti, sehingga masa panen raya WSKT dkk juga akan berakhir.

Kemana Arah IHSG Setelah Pemilu & Pilpres?

Tak terasa sekarang sudah tanggal 15 April, dan itu artinya sebentar lagi Indonesia akan menggelar hajatan Pemilu dan Pilpres, tepatnya pada tanggal 17 April mendatang (untuk TPS luar negeri, sudah sejak 14 April kemarin). Bagi investor yang sudah lama di pasar saham, ajang pemilu sejatinya merupakan hal yang biasa karena sudah rutin dilaksanakan setiap lima tahun sekali, dan karena masih ada banyak faktor atau peristiwa penting lainnya yang juga harus diperhatikan ketika kita menganalisis arah pasar, serta menyusun strategi investasi. However, seperti yang pernah penulis sampaikan sebelumnya, kampanye Yuk Nabung Saham! oleh BEI sejak tahun 2015 lalu telah sukses menghadirkan banyak investor baru di bursa, dimana saat ini sekitar dua pertiga pelaku pasar adalah para newbie yang belum memiliki pengalaman berinvestasi di tahun-tahun pemilu sebelumnya (2014 kebelakang). Jadi pada akhirnya pertanyaan diatas tetap penting: Kemana arah IHSG setelah Pemilu tahun 2019 ini?