Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal II 2019 sudah terbit! Dan Anda sudah bisa memesannya pada link berikut.

Inverted Yield Curve, dan Hubungannya Dengan Krisis Ekonomi

Menurut Investopedia, inverted yield curve, atau secara harfiah bermakna ‘kurva imbal hasil terbalik’, adalah kondisi dimana instrumen utang di Amerika Serikat, dalam hal ini US Treasury Bond (surat utang negara) dengan waktu jatuh tempo yang panjang memberikan hasil/bunga yang lebih kecil dibanding treasury bond jangka pendek. Disebut terbalik, karena normalnya obligasi jangka panjang (jatuh tempo diatas 10 tahun) memberikan bunga yang lebih besar dibanding obligasi jangka pendek (5 tahun atau kurang). Analoginya sama seperti kalau anda taruh deposito di bank, dimana semakin lama jangka waktu simpanannya, maka bunganya per tahun akan lebih besar.

Rekaman Video Investor Gathering w/ BEI Jawa Barat

Dear investor, pada hari Rabu, 14 Agustus 2019, penulis memenuhi undangan dari BEI Jawa Barat untuk mengisi acara investor gathering & seminar di Hotel Grand Tjokro, Kota Bandung, dimana kita membahas tentang prospek dari sejumlah emiten (totalnya ada 42 emiten, tapi penulis hanya bahas yang menurut penulis fundamentalnya bagus saja) yang dalam waktu dekat akan menyelenggarakan public expose. Dan Alhamdulillah, pesertanya penuh, dan acaranya juga berjalan lancar. Dan penulis sengaja merekam video acara kemarin untuk diposting di Youtube, agar anda juga bisa ikut memperoleh materi seminarnya. Okey, here we go, mulai dari Part 1 sampai terakhir Part 6:

Kemungkinan Resesi Global di Tahun 2020?

Dear investor, seperti yang disampaikan sebelumnya, Ebook Investment Planning (atau ‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2019 sudah terbit hari Jumat kemarin, 9 Agustus 2019, dan sudah bisa diperoleh di link berikut. Nah, kepada teman-teman yang mengambil ebooknya, penulis memberi kesempatan untuk mengajukan sejumlah pertanyaan dan konsultasi seputar investasi saham. Dan hingga hari Selasa, 13 Agustus ini, saya sudah menerima cukup banyak pertanyaan tersebut. Jadi untuk pertanyaan yang penulis anggap mewakili pertanyaan dari banyak investor, kita sajikan lagi disini plus jawabannya. Okay, here we go.

'If You Wait Until You Know Everything, It's Too Late!'

Salah satu cara untuk belajar dari value investor terbesar sepanjang masa, Warren Buffett (WB), adalah dengan menonton video seminar dan wawancaranya, dimana jumlahnya lumayan banyak sejak ia pertama kali masuk televisi sekitar tahun 1962 lalu. And thanks to Youtube, kita bisa menonton video tersebut setiap saat, kalau penulis sendiri biasanya di malam hari menjelang tidur. Nah, dari sekian banyak video, ada satu video wawancara yang menarik, yakni ketika WB pada tahun 2018 dimintai pendapat oleh reporter Wall Street Journal (WSJ) tentang krisis finansial di tahun 2008 di Amerika Serikat. Lebih jelasnya bisa dilihat pada link video berikut:

Investasi vs Melunasi Utang: Mana Yang Harus Didahulukan?

Kemarin penulis menerima satu pertanyaan menarik, ‘Pak Teguh, saya seorang karyawan yang tiap bulan menyisihkan gaji untuk diinvestasikan di saham. Disamping itu saya juga menerima bonus tahunan diluar gaji sebesar kurang lebih Rp60 juta. Uang bonus ini sebaiknya saya setor juga ke sekuritas, atau dipakai untuk melunasi utang terlebih dahulu? Soalnya rumah saya masih KPR, dan juga masih ada cicilan mobil.’ Nah, berhubung sekarang ini investasi saham tidak lagi monopoli para pengusaha yang biasanya gak punya masalah dengan cashflow sehari-hari dan juga gak punya utang pribadi (kecuali terkait usahanya), melainkan juga para karyawan atau bahkan juga mahasiswa yang masih belajar mengatur keuangan, maka pertanyaan ini menjadi penting untuk dijawab. Okay, kita langsung saja.

Seminar Value Investing Advanced, Jakarta & Surabaya, 25 Agustus & 1 September 2019

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced’, di Jakarta, Minggu 25 Agustus, dan Surabaya, Minggu 1 September 2019. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, cara merespon aksi korporasi emiten, dst. Berikut materi selengkapnya:

Seminar Value Investing, Jakarta & Surabaya, 24 & 31 Agustus 2019

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’ di Jakarta, Sabtu 24 Agustus, dan Surabaya, Sabtu 31 Agustus 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menabung saham untuk simpanan aset jangka panjang. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Legacy Stock Series: Mayora Indah

PT Mayora Indah, Tbk (MYOR) hingga Kuartal II 2019 melaporkan laba bersih Rp807 milyar, dimana laba tersebut naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp736 milyar, dan mencerminkan annualized ROE 17.6%, atau cukup bagus. Kemudian jika kita telisik kinerja perusahaan dalam lima tahun terakhir, maka sejak tahun 2014 lalu laba MYOR konsisten naik terus setiap tahunnya, dan demikian pula ekuitasnya tumbuh signifikan dari Rp4.1 trilyun menjadi terakhir Rp9.2 trilyun. A wonderful company indeed, tapi kenapa sahamnya justru malah turun banyak dalam setahun terakhir?

Ebook Investment Planning – Kuartal II 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal II 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Misteri Saham Sritex (SRIL)

PT Sri Rejeki Isman, Tbk, atau lebih dikenal dengan Sritex (SRIL), menjadi emiten pertama yang merilis laporan keuangan (LK) untuk periode Kuartal II 2019, dimana hasilnya sekilas tampak sangat baik: Labanya naik menjadi US$ 63 juta dibanding US$ 56 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan annualized ROE mencapai 21.8%. Disisi lain pada harga saham 340, PBV-nya cuma 0.9 kali, dengan PER 3.9 kali. Dengan indikator fundamental seperti itu, maka harusnya sahamnya bakal langsung lompat segera setelah LK-nya keluar, dan memang pada hari ini SRIL sempat lompat ke 352 dengan volume transaksi yang sangat besar (lebih dari 2 milyar lembar saham), tapi somehow dia balik lagi ke 340, sebelum akhirnya ditutup di 344. Kemudian jika kita perhatikan pergerakan sahamnya selama setahunan terakhir, maka SRIL memang nyaris tidak pernah beranjak dari level 340 – 350, tak peduli IHSG naik atau turun, dan tak peduli meski saham-saham lain dengan kualitas fundamental yang sama sudah pada terbang semua. Jadi ada apa ini??