Ebook Kumpulan 30 Saham Pilihan edisi Kuartal IV 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber.

Unilever Indonesia

Sejak dulu, setiap kali pasar saham mengalami periode koreksi/IHSG turun signifikan, maka selalu ada saja beberapa saham yang seperti tidak bergeming alias tidak ikut turun, atau ikut turun tapi penurunannya sedikit saja. Nah, di masa lalu, saham yang tidak ikut turun tersebut salah satunya Unilever Indonesia (UNVR), sehingga UNVR kemudian memperoleh reputasi sebagai safe haven, alias salah satu saham yang dianggap paling aman di BEI. However, dalam beberapa waktu terakhir, UNVR justru menjadi salah satu saham yang turun paling signifikan dalam periode bear market ini, dimana ketika analisa ini ditulis, UNVR berada di posisi 7,300, alias drop 13.1% secara YTD, dan totalnya sudah anjlok 26.8% dalam setahun terakhir. Jadi benarkah UNVR ini aman?

Meraup Profit Permanen dari Saham

Untuk pertama kalinya sejak tahun 2011, pasar saham Indonesia menjalani periode awal tahun dengan kurang mulus, dimana hingga 14 Februari kemarin, IHSG ditutup turun 6.9% secara year to date (pada tahun 2011, IHSG juga turun 7.9% pada periode waktu yang sama). Ada banyak faktor yang menyebabkan penurunan tersebut, mulai dari kelanjutan kasus Jiwasraya yang bikin pasar sepi transaksi, kasus saham gorengan yang merembet ke gagal bayar sejumlah reksadana, hingga cerita Coronavirus. However, disini kita tidak akan membahas itu semua, melainkan seperti biasa pertanyaannya adalah, adakah peluang yang bisa kita ambil dari kejatuhan bursa kali ini?

Rekaman Seminar Terbaru – Tahun 2020

Dear investor, penulis pada bulan Januari dan awal Februari 2020 kemarin menyelenggarakan kelas value investing di Surabaya, dan Jakarta, dan Alhamdulillah berjalan lancar. Untuk materi yang disampaikan sendiri sebenarnya kurang lebih masih sama dengan seminar-seminar sebelumnya, namun ada beberapa update materi yang disesuaikan dengan kondisi pasar saat ini, dan demikian pula ada perbedaan pada contoh-contoh saham yang dibahas.

Penulis bersama temen-temen peserta kelas tanggal 2 Februari 2020

Ebook Investment Planning, Kuartal IV 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal IV 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

PP Properti: Prospek Cerah, Tapi..

Bagi penulis, PT PP Properti, Tbk (PPRO), merupakan salah satu saham yang sukses menghasilkan profit jumbo di masa lalu, tepatnya di tahun 2015 lalu ketika penulis melihat bahwa sahamnya cukup murah pada PBV 0.9 kali (harga 127, sebelum stocksplit), sedangkan kinerja perusahaan terbilang bagus, prospek kedepannya bagus, sahamnya likuid, dan perusahaan punya keunggulan sebagai bagian dari PT Pembangunan Perumahan, Tbk (PTPP), salah satu perusahaan konstruksi terintegrasi terbesar dan termapan di Indonesia. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

Untuk Pasar Modal Indonesia, Yang Lebih Baik

Selasa kemarin, 28 Januari, penulis memenuhi undangan acara rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI, DPR RI, di Gedung DPR, Jakarta, untuk membahas Kasus Jiwasraya. Rapat tersebut dihadiri oleh tiga narasumber, dua dari industri asuransi, dan satu (penulis) dari pasar modal. Kehadiran penulis diperlukan karena temen-temen dari DPR sudah mendengar sebelumnya bahwa Jiwasraya mengalami gagal bayar karena nyangkut di ‘saham gorengan’. Sehingga mereka memerlukan penjelasan, apa itu saham gorengan? Dan bagaimana persisnya hubungan kasus Jiwasraya ini dengan investasi di pasar modal?

Asal Usul Saham Gorengan

Suatu hari di bulan Agustus 2010, sebuah perusahaan yang terdaftar di Singapura (tapi pemiliknya orang Indonesia) dengan nama Ramba Energy Ltd (Ramba), mengakuisisi 51% saham PT Sugih Energy, Tbk (SUGI), sebuah perusahaan kecil penyedia jasa industri migas di Indonesia yang secara teknis sudah bangkrut karena tidak lagi beroperasi, dengan nilai $1 juta saja. Selang setahun kemudian, tepatnya pada 27 Desember 2011, Ramba mengakuisisi 80.4% saham PT Hexindo Gemilang Jaya, pemilik 100% kepemilikan di Blok Lemang, sebuah ladang minyak di Provinsi Jambi. Namun pada tanggal yang sama, tepatnya persis sesaat sebelum Hexindo diakuisisi oleh Ramba, Hexindo melepas 49% kepemilikannya di Blok Lemang ke sebuah perusahaan dengan nama Eastwin Global Investment, sebuah perusahaan yang terdaftar di British Virgin Island, senilai $1.6 juta. Sehingga dengan demikian, Ramba, melalui Hexindo, hanya memegang 41% kepemilikan di Blok Lemang (80.4% x 51% = 41%).

Bank BJB (BJBR), dan Hubungannya Dengan Jiwasraya

Saham Bank BJB (BJBR), seperti yang kita ketahui, adalah satu dari sejumlah ‘saham gorengan’ yang disebut-sebut dipegang dalam jumlah besar oleh Jiwasraya dan Asabri. Dan seperti halnya saham-saham lainnya yang juga dipegang oleh kedua institusi tersebut, yang ramai-ramai turun setelah kasusnya mencuat ke publik, maka BJBR juga sudah turun sangat signifikan jika dihitung dari posisi tertingginya yakni 3,390, akhir tahun 2016 lalu, hingga sekarang sudah di level 1,010. Menariknya, berbeda dengan katakanlah Indofarma (INAF), Semen Baturaja (SMBR), apalagi Hanson International (MYRX), atau Trada Alam Minera (TRAM), maka fundamental BJBR tampak not too bad, dan yang paling menarik adalah dividennya, yang tahun lalu mencapai Rp89 per saham. Sehingga pada harga saham 1,010, yield-nya mencapai hampir 9%. Time to buy?

 

Setelah Jiwasraya & Asabri, Siapa Lagi?

Masih dari acara diskusi yang dihadari penulis sebagai narasumber di Kantor Staf Presiden, tanggal 7 Januari ini, ada pertanyaan seperti ini: ‘Dalam kasus Jiwasraya & Asabri, disebutkan ada korupsi senilai sekian trilyun. Dimana korupsinya? Dan siapa pelakunya?’ Penulis jawab, ‘Kita tahu bahwa penyebab Jiwasraya gagal bayar adalah karena kesulitan likuiditas, karena dana investasi milik perusahaan nyangkut di saham-saham berkualitas rendah. Dalam hal manajer investasi (MI) di Jiwasraya membeli saham-saham itu karena tidak tahu/tidak bisa menganalisa bahwa perusahaannya memang jelek, maka memang tidak ada unsur korupsi, dan MI itu bisa dihukum sebatas karena kelalaian’.

Daftar Lengkap Saham-Saham yang Dibeli Asabri

Minggu lalu, tepatnya hari Selasa, 7 Januari, penulis memenuhi undangan dari Kantor Staf Presiden (KSP) di Istana Negara, Jakarta, untuk menjadi narasumber dalam diskusi membahas perkembangan pasar saham, termasuk soal kasus Jiwasraya. Diskusi tersebut dihadiri oleh oleh para deputi dan staf ahli presiden, dan penulis adalah satu dari tiga narsum yang hadir. Nah, ketika kita membahas soal skema penyelamatan Jiwasraya, maka penulis katakan bahwa Jiwasraya bisa diberikan bantuan likuiditas oleh BUMN keuangan yang lain, entah itu BUMN bank, asuransi, dana pensiun dst, dan dengan demikian Jiwasraya akan bisa melunasi kewajibannya kepada para nasabah pemilik dana.

Prospek Unicharm Indonesia u/ Investasi Jangka Panjang

Dari sekian banyak IPO di tahun 2019 kemarin, IPO PT Uni-Charm Indonesia, Tbk (UCID) adalah yang paling menarik perhatian investor karena setidaknya dua hal: 1. Perusahaan bergerak di bidang produksi barang kebutuhan sehari-hari (pembalut wanita dll), dengan merk produk yang cukup populer (Charm), dan 2. Nilai IPO-nya paling besar yakni Rp1.2 trilyun, sedangkan UCID sendiri termasuk perusahaan besar dengan aset Rp7.3 trilyun sebelum IPO. Nah, tapi bagaimana dengan kinerja perusahaan itu sendiri? Apakah benar bahwa UCID ini, kalau melihat model bisnisnya, maka sahamnya layak untuk investasi jangka panjang?

Kenapa Jiwasraya Beli Saham Gorengan? Dan Siapa Itu Predator Pasar Modal?

Dalam kamus Investopedia, tidak dikenal istilah ‘saham gorengan’. Namun berdasarkan definisi bahwa saham gorengan adalah saham yang harganya dinaik turunkan oleh bandar, maka hal itu dikenal dengan istilah pump and dump, dimana mekanismenya adalah sebagai berikut:  Suatu individu atau perusahaan tertentu, sebut saja A, memiliki saham X dalam jumlah besar (A ini bisa merupakan pemegang saham mayoritas/pemilik dari emiten X tersebut, tapi bisa juga pihak lain). A kemudian menyebar rumor/sentimen positif melalui Grup Whatsapp dll bahwa prospek X bagus bla bla bla, dengan harapan investor ritel akan tertarik untuk membeli sahamnya, dan di waktu yang bersamaan memperjual belikan saham X miliknya sendiri di market, dimana setiap transaksi dilakukan pada harga yang lebih tinggi dari transaksi sebelumnya (pump).

Membedah Laporan Keuangan Jiwasraya

Ketika Hendrisman Rahim terpilih sebagai direktur utama PT Asuransi Jiwasraya, tahun 2008, kinerja Jiwasraya di tahun tersebut tengah terpuruk dimana perusahaan hanya membukukan laba bersih Rp16 milyar, drop dari Rp34 milyar di tahun sebelumnya, sedangkan asetnya juga menyusut dari Rp5.1 menjadi Rp4.8 trilyun. Dan salah satu penyebabnya adalah karena stock market crash ketika itu dimana IHSG jeblok 50.1% sepanjang tahun 2008, yang otomatis menyebabkan Jiwasraya menderita rugi signifikan dari penempatan investasinya di saham, entah secara langsung maupun melalui reksadana.

Cara Mendeteksi Manipulasi di Laporan Keuangan

Beberapa waktu lalu, kita sudah membahas tentang cara cepat membaca laporan keuangan, dimana penulis menyampaikan dalam bentuk video tentang poin-poin apa saja yang harus kita perhatikan (totalnya 15 poin) ketika membaca LK, mulai dari posisi aset, kewajiban, utang, laporan laba rugi, hingga laporan arus kas/cash flow. Di video tersebut penulis juga menyampaikan beberapa rasio yang penting untuk dicek seperti return on equity, current ratio, debt to equity ratio dan seterusnya, lengkap dengan penjelasan untuk tiap-tiap rasio tersebut.

Apa Itu Trailing Stop Loss, Dan Bagaimana Cara Melakukannya

Menurut Investopedia, trailing stop loss (TSL) adalah sebuah sistem dimana pihak broker/sekuritas akan secara otomatis menjual saham yang dipegang seorang investor, yakni jika si investor sebelumnya sudah memasukkan perintah untuk menjual saham tersebut kalau harganya turun sekian persen. Contoh, anda membeli saham A pada harga 1,000, dan TSL-nya ditetapkan pada level 10%. Maka jika saham A kemudian langsung turun dari harga 1,000 tersebut sampai menyentuh 900 (turun 10%), pihak broker akan otomatis jual cut loss. Sedangkan jika saham A naik dulu sampai 1,200, tapi kemudian balik arah dan turun sampai 1,080 (turun 10% dari 1,200 tadi), maka sahamnya juga akan otomatis dijual, namun kali ini dalam posisi profit karena modalnya tadi di 1,000.

Seminar Value Investing Advanced, Surabaya 19 Januari, Jakarta 2 Februari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced Class’, di Jakarta, dan Surabaya. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar/resesi ekonomi, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Seminar Value Investing, Surabaya 18 Januari, Jakarta 1 Februari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang’ di Surabaya, Sabtu 18 Januari, dan Jakarta, Sabtu 1 Februari 2020. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, beberapa tips dan trik dalam berinvestasi, hingga cara menabung saham untuk simpanan jangka panjang. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Cara Cepat Membaca Laporan Keuangan Emiten

Dalam menganalisa sebuah perusahaan, sebelum kemudian memutuskan apakah sahamnya layak invest atau tidak, maka dokumen pertama sekaligus yang paling penting untuk dipelajari seorang investor adalah laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan. Nah, biasanya dari investor pemula, penulis menerima banyak pertanyaan soal bagaimana cara membaca LK, poin-poin apa saja yang harus dilihat dan seterusnya. Dan apakah untuk bisa membaca LK, maka kita harus sekolah/kuliah jurusan ekonomi, akuntansi, dan keuangan terlebih dahulu?

Dibalik Skandal Garuda Indonesia

Ketika Garuda Indonesia (GIAA) menggelar IPO dengan harga perdana Rp750, tahun 2011 lalu, maka setelah mempelajarinya, penulis simpulkan bahwa sahamnya tidak layak invest karena hal-hal berikut: Bisnis maskapai penerbangan itu biayanya mahal terutama di harga beli pesawat dibanding harga tiket penerbangan itu sendiri (semurah-murahnya harga pesawat ukuran kecil adalah Rp400 milyar per unit, jadi dengan harga tiket katakanlah Rp1 – 2 juta per orang per perjalanan, maka bisa dibayangkan butuh waktu berapa lama buat balik modal, belum lagi biaya operasional yang mahal), dan biaya bahan bakar, terutama karena harga minyak dunia ketika itu masih diatas $100 per barel. Kemudian GIAA juga harus bersaing dengan low cost carrier (LCC) seperti Lion Air dan Air Asia, yang harga tiketnya hanya setengahnya. Dan memang ketika itu, GIAA terus mencatatkan kerugian nyaris saban tahun. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.