Link Net

PT Link Net, Tbk (LINK) hingga Kuartal II 2020 kemarin melaporkan laba bersih Rp456 milyar, turun dibanding periode yang sama di tahun 2019 sebesar Rp527 milyar, namun laba tersebut mencerminkan ROE 21.1%, alias cukup besar, atau bahkan sangat besar jika dibandingkan dengan ROE dari emiten-emiten lainnya di Bursa Efek Indonesia, yang rata-rata drop karena efek resesi. Disisi lain, sebagai perusahaan penyedia layanan internet, maka prospek LINK memang justru semakin baik seiring dengan adanya trend work from home. Nah, tapi jika demikian, lalu kenapa sahamnya tetap turun signifikan (hampir 50%) sepanjang tahun 2020 ini? Dan kenapa pula beredar berita bahwa LINK ini hendak dijual oleh pemiliknya?

Ebook Investment Planning, Kuartal III 2020

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat Ebook Investment Planning (EIP, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2020. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

UU Cipta Kerja Disahkan, Saham Apa yang Diuntungkan?

Awal tahun lalu, tepatnya pada tanggal 7 Februari 2020, Pemerintah secara resmi menyampaikan rancangan undang-undang (RUU) tentang Cipta Kerja kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) setebal 1,028 halaman (setelah paripurna, finalnya menjadi 905 halaman). Sesuai namanya, RUU ini, ketika nanti disahkan, bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya bagi rakyat Indonesia, dengan cara: 1. Mendorong peningkatan investasi, 2. Mengembangkan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), dan 3. Mendorong percepatan dan kelancaran investasi pemerintah. RUU ini kemudian dimasukkan dalam Program Legislasi Nasional Prioritas, untuk ditetapkan pada tahun 2020 ini juga.

Telkom

Saham PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk, atau PT Telkom (TLKM) menjadi pusat perhatian setelah pada bulan September kemarin terus turun hingga sempat menyentuh 2,540 secara intraday, yang merupakan posisi terendahnya dalam 5 tahun terakhir. Sehingga banyak yang kemudian menyebut bahwa TLKM sekarang sudah murah, tapi benarkah demikian? Lalu bagaimana dengan rencana IPO anak usaha TLKM, PT Mitratel?

Penyebab Saham SOHO Naik Terus: Multibagger?

Salah satu saham pendatang baru di bursa, PT Soho Global Health, Tbk (SOHO), belakangan menjadi pusat perhatian setelah autoreject atas terus menerus, hingga harganya naik dari Rp1,820 ketika sahamnya melantai di bursa pada tanggal 8 September kemarin, hingga sempat menyentuh 16,300 pada Rabu, 23 September, alias melejit hampir 9 kali lipat hanya dalam waktu dua minggu! Dan hebatnya itu terjadi ketika IHSG, seperti yang kita ketahui, cenderung turun sepanjang September ini. Nah, jadi apakah SOHO ini memang bagus? Dan apa sebenarnya yang menyebabkan kenaikannya yang tidak wajar tersebut?

Kumpulan Video Webinar Value Investing

Dear investor, pada hari Sabtu, 19 September kemarin, penulis menyelenggarakan kelas online untuk diskusi & tanya jawab seputar investasi saham, dan khususnya value investing. Dan Alhamdulillah kelasnya berjalan lancar selama total 2.5 jam, dan terutama penulis juga antusias karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bagus-bagus semua :D Nah, jadi agar teman-teman yang lain juga bisa memperoleh materi yang disampaikan, maka penulis sengaja merekam kelasnya, dan bisa anda tonton pada link berikut:

Bank Banten (BEKS) Prank!

Pada Senin, 14 September kemarin, terkait rencana perusahaan untuk reverse stock dan right issue, Bank Banten (BEKS) merilis laporan dari Kantor Jasa Penilai (KJP) Maulana, Andesta, & Rekan, mengenai perhitungan nilai wajar dari 100% saham perusahaan, dimana perhitungannya menggunakan metode perbandingan perusahaan Tbk, dan discounted cashflow (DCF). Dan hasilnya, pihak KJP menyimpulkan bahwa nilai wajar dari saham BEKS adalah.. well.. Rp4,68 per saham, atau jika dibulatkan Rp5 per saham. Yup, anda tidak salah baca: Lima perak!

Indonesia di Masa Lalu, Hari Ini, dan 10 Tahun yang Akan Datang

Ketika saya untuk pertama kalinya belajar tentang dunia keuangan, dan khususnya investasi saham pada tahun 2009 lalu, maka saya mendengar satu pepatah dari negeri China yang masih saya ingat sampai hari ini, ‘Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Dan waktu kedua terbaik untuk menanam pohon adalah sekarang.’ Sebagai investor saham itu sendiri, saya mengartikan pepatah itu sebagai, jika kita ingin sukses, maka kita harus mulai saat ini juga. Karena waktu yang sekarang ini akan dianggap sebagai ‘waktu terbaik untuk berinvestasi’ pada 20 tahun yang akan datang.

Free Webinar Value Investing, Sabtu 21 November 2020

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan seminar online (webinar) investasi saham dengan tema Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang. Kelas webinar ini merupakan lanjutan dari kelas/video seminar Value Investing basic & Advanced yang diselenggarakan pada bulan Juli 2020 lalu, dimana pada webinar ini kita akan lebih banyak diskusi dua arah & tanya jawab, serta me-review kembali materi yang sudah disampaikan di videonya.

Prospek AISA Setelah Diakuisisi FKS Group

Pada ulasan sebelumnya, kita sudah membahas bagaimana PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (AISA) hampir saja bangkrut karena ulah dari pemilik lamanya, dimana perusahaan kemudian harus membukukan defisiensi modal hingga Rp3.3 trilyun pada akhir tahun 2017. Namun setelah diambil alih oleh manajemen yang baru dan dilakukan perombakan besar-besaran, AISA ternyata mampu bertahan, termasuk sukses merestrukturisasi utang-utangnya, sehingga BEI kemudian mencabut suspensi sahamnya. Meski demikian, per Kuartal I 2020, AISA masih mencatat ekuitas negatif Rp1.3 trilyun, sehingga secara laporan keuangan, sahamnya masih worthless. Nah, jadi bagaimana rekomendasinya? Apakah buy? Atau kalau saya sudah pegang sejak tahun 2018 lalu, maka sell saja?

Prospek Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), Setelah Suspensinya Dibuka

Setelah disuspensi selama dua tahun, persisnya sejak Juli 2018 lalu, maka pada hari Senin, 31 Agustus kemarin, Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali membuka perdagangan saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (AISA). Dan sayangnya sahamnya tanpa ampun langsung turun, yakni dari harga 168 ketika disuspen hingga sekarang sudah 147, dan kemungkinan masih akan lanjut turun mengingat hingga Kuartal I 2020, perusahaan masih membukukan defisiensi modal, alias ekuitas negatif. Disisi lain, berdasarkan laporan dari Kantor Jasa Penilai Publik, Suwendho Rinaldy & Rekan, disebutkan bahwa nilai wajar dari 100% saham AISA adalah Rp559 milyar, atau jauh diatas market cap perusahaan di level Rp201 milyar (pada harga saham 147). Nah, jadi jika penilaian tersebut benar, bukankah ini peluang? Lalu jika saya sejak awal sudah pegang saham AISA ini sejak tahun 2017 – 2018 lalu, maka apakah sekarang sebaiknya saya hold saja, tambah posisi/beli lagi, atau justru cut loss?

Prospek Global Mediacom (BMTR) Setelah ‘Diakuisisi’ Lo Kheng Hong

Pada tanggal 11 Agustus lalu, PT Global Mediacom, Tbk (BMTR) melakukan private placement dengan menerbitkan 700 juta lembar saham baru pada harga pelaksanaan Rp200 per saham, sehingga perusahaan memperoleh tambahan modal Rp140 milyar, sedangkan jumlah saham beredarnya meningkat menjadi 16,035 juta lembar. Yang menarik adalah, anda tahu, siapa yang menyetor dana Rp140 milyar diatas? Yup, beliau adalah Pak Lo Kheng Hong, value investor legendaris yang sudah sangat terkenal di mata investor ritel. Menariknya lagi, LKH diketahui sudah mulai mengkoleksi saham BMTR sejak setidaknya awal Agustus 2020, dan dengan transaksi PP diatas maka LKH kemudian memegang setidaknya 767 juta saham BMTR, pada harga beli antara Rp199 – 204 per saham. Pertanyaannya, why??

Alasan Investasi Langsung di Saham Lebih Baik Dibanding Reksadana

Sekitar lima atau sepuluh tahun lalu, kepada teman-teman investor pemula, penulis selalu menyarankan agar mereka mulai berinvestasi di reksadana terlebih dahulu, jadi jangan langsung masuk ke saham.  Sebab di reksadana, dana kita akan dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional. Namun melihat perkembangannya dalam tiga tahunan terakhir, kami sekarang menyarankan agar anda langsung invest di saham saja. Kenapa demikian? Berikut alasannya:

Special Report: Transaksi Repo Saham Jaya Bersama Indo (DUCK)?

Pada hari Senin kemarin, 10 Agustus 2020, PT Jaya Bersama Indo, Tbk (DUCK) merilis keterbukaan informasi yang menyebutkan bahwa PT Asia Kuliner Sejahtera (AKS), yang merupakan pemegang saham pengendali perusahaan, telah menjual saham DUCK sebanyak 24 juta lembar pada harga Rp440 per saham. Tidak ada penjelasan soal apa alasan penjualan tersebut, kecuali disebutkan bahwa itu terkait transaksi/kontrak repo. Dengan penjualan tersebut, AKS kini tinggal memegang 260 juta lembar saham DUCK, yang setara 20.3% saham beredar perusahaan.

Bagaimana Nasib Saham Saya Jika Sekuritasnya Ditutup?

Beberapa waktu lalu, ketika ramai berita tentang kasus Financial Planner Jouska, penulis menerima pertanyaan sebagai berikut. Pak Teguh, saya kebetulan punya rekening di sekuritas yang terafiliasi dengan Jouska (Phillip Sekuritas), kira-kira kasus Jouska ini bisa berdampak pada sekuritasnya gak ya? Apakah dana saya akan aman-aman saja disitu?

Peluang Mutiara Terpendam di Saham Batubara

Dalam beberapa waktu terakhir, anda mungkin sudah membaca berita bahwa Singapura ‘resmi’ jatuh ke lembah resesi, dimana pemberitaan itu muncul setelah Negeri Singa tersebut melaporkan pertumbuhan ekonomi minus 12.6% secara year on year pada Kuartal II (Q2) 2020, terburuk sejak Singapura merdeka pada tahun 1965. Namun ternyata, berita tersebut tidak membuat bursa saham disana drop, dimana Strait Times Index (STI) tetap bertahan di level 2,600-an, dan demikian pula bursa-bursa lainnya di Asia dan juga seluruh dunia seperti tidak terpengaruh oleh bad news diatas, padahal Singapura adalah salah satu negara dengan industri keuangan paling maju di dunia (sehingga berita bahwa Singapura resesi akan menjadi perhatian semua fund manager global). Pertanyannya, bagaimana bisa?

Proyeksi IHSG Menjelang, dan Pasca Emiten Merilis Laporan Keuangan Kuartal II 2020

Pada tanggal 14 Juli kemarin, PT Surya Esa Perkasa, Tbk (ESSA) menjadi emiten pertama yang merilis laporan keuangan (LK) periode Kuartal II atau Q2 2020. Dan hasilnya? Well, perusahaan mencatat rugi $6.8 juta, dibanding laba $4.2 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sejak tahun 2014, ini adalah kali pertama ESSA membukukan kerugian, yang kemungkinan merupakan dampak dari pandemi Covid-19 karena pada Q1-nya, perusahaan masih mencatat laba $1.0 juta. Menariknya, keluarnya LK dengan hasil negatif ini tidak membuat sahamnya drop, dimana ketika analisa ini ditulis, saham ESSA tetap bertahan di 150 – 160, dan itu lebih tinggi dibanding posisi terendahnya pada 24 Maret lalu (yakni ketika IHSG drop sampai 3,900-an), di 118. Jadi apakah harga saham ESSA sekarang ini memang sudah price in dengan penurunan kinerjanya tersebut? Dan apakah analisa yang sama juga berlaku untuk saham-saham lainnya di BEI?

‘If It Costs You Your Peace, It’s Too Expensive!’

Bulan lalu, persisnya pada tanggal 12 Juni 2020, seorang mahasiswa berusia 20 tahun bernama Alexander Kearns ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di Napersville, Illionis, Amerika Serikat (AS). Kearns diketahui merupakan nasabah dari Robinhood, sebuah aplikasi trading saham yang menjadi booming di kalangan investor/trader milenial, setelah bursa saham AS itu sendiri mengalami fluktuasi yang amat sangat ekstrim setelah terjadinya pandemi Covid-19. Kearns memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah ia stress karena mengalami kerugian besar, hingga saldo di rekeningnya tercatat minus $730,166 (setara sekitar Rp10 milyar). Pada catatan yang ditemukan di komputer pribadinya, Kearns mengatakan, ‘Bagaimana mungkin seseorang berusia 20 tahun dan belum memiliki penghasilan, diberikan pinjaman hingga hampir 1 juta Dollar untuk melakukan trading?’

Prospek PT Sarimelati Kencana, Tbk (PZZA)

PT Sarimelati Kencana, Tbk (PZZA), yang merupakan pemegang lisensi waralaba Pizza Hut di Indonesia, melaporkan laba bersih Rp6 milyar di Kuartal I 2020, turun signifikan dibanding Rp40 milyar di periode yang sama tahun 2019, dan diperkirakan bahwa laba bersih ini masih akan turun hingga akhir tahun nanti karena efek dari pandemi corona. Jadi bagaimana dengan prospek sahamnya? Dan benarkah perusahaan pemilik merk Pizza Hut itu sendiri di Amerika Serikat sana telah bangkrut? Simak ulasan lengkapnya disini, semoga bemanfaat.

Begini Peran Manajer Investasi (MI) dalam Skandal Jiwasraya

Pada hari Rabu, 24 Juni 2020, terkait Kasus gagal bayar Jiwasraya, Kejaksaan Agung menetapkan status tersangka terhadap 13 perusahaan manajer investasi (MI), plus satu orang pejabat di lingkungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ke-13 MI ini diduga telah bekerja sama dengan manajemen Jiwasraya untuk membuat produk reksadana khusus, dimana dana yang disetor oleh Jiwasraya ke dalam reksadana tersebut ujung-ujungnya tetap dibelikan saham-saham gorengan. Sedangkan satu orang pejabat OJK diatas diduga mengetahui praktek kongkalikong diatas, namun membiarkannya. Sebelumnya, Kejagung sendiri sudah menetapkan status tersangka kepada 3 orang mantan direksi Jiwasraya, 1 orang pihak luar, dan 2 orang pemilik sejumlah perusahaan Tbk, yang selama ini sudah sangat dikenal sebagai ‘bandar saham’ di bursa.