Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juni 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham untuk subscriber selama 1 bulan penuh atau lebih lama lagi.

Prospek Bali United FC: Valuasi Setara Inter Milan??

Ketika PT Bali Bintang Sejahtera, Tbk (BOLA), yang merupakan perusahaan pemilik klub sepakbola Bali United FC, mengumumkan akan IPO, maka penulis menerima banyak pertanyaan dari investor yang juga mengaku sebagai pecinta olahraga sepakbola, terkait prospek dari BOLA ini. Yep, karena kalau melihat industri sepakbola itu sendiri yang digandrungi oleh milyaran penggemar di seluruh dunia termasuk di Indonesia, maka prospek BOLA ini sekilas sangat menarik. Dan kalau misalnya anda adalah supporter dari Bali United itu sendiri, maka terdapat kepuasan tersendiri jika kita bisa menjadi pemilik perusahaan, meski hanya 1 lot sahamnya. Tapi sekarang kita balik lagi ke pertanyaan umum investor: Apakah Bali United FC ini memang menguntungkan?

Inilah Saham yang Diuntungkan Revolusi Industri 4.0

Menurut Wikipedia, Industry 4.0 atau disingkat I4, adalah trend industri saat ini dimana segala sesuatunya sudah sangat berhubungan dengan teknologi digital, komputer, internet, artificial intelligence (AI), hingga cyber-physical system. Bahasa gampangnya, I4 adalah aplikasi-aplikasi yang ada di smartphone anda saat ini, yang menawarkan fungsinya masing-masing. Termasuk ketika anda membaca blog ini, maka bukanya pakai aplikasi browser bukan? Entah itu Google Chrome, Opera, atau lainnya, atau melalui email yang masuk ke aplikasi inbox email anda, jika anda berlangganan newsletter.

Asuransi Unitlink vs Saham: Mana yang Lebih Menguntungkan?

Mudik lebaran kemarin penulis dapet cerita dari salah seorang bibi. Jadi ceritanya ia membeli produk unitlink dari sebuah perusahaan asuransi, dengan cicilan tetap Rp500,000 per bulan selama 10 tahun, sejak bulan Oktober tahun 2009 lalu. Ketika itu agen asuransinya bilang, dengan unitlink ini maka ibu dapet dua keuntungan sekaligus. Yang pertama adalah proteksi, dimana kalau ibu sakit maka dapat uang pertanggungan (UP) sebesar maksimal Rp120 juta, dan yang kedua adalah investasi, dimana setelah 10 tahun maka ibu akan menerima pembayaran tunai sebesar Rp60 juta (Rp500 ribu x 12 bulan x 10 tahun), bahkan bisa lebih dari itu kalau hasil investasinya tinggi. Sebab uang yang disetorkan tiap bulan akan kami putar/kami investasikan, dan ibu akan menerima keuntungannya.

Seminar Value Investing, Jakarta, 22 Juni 2019

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjanh’ di Jakarta, hari Sabtu, 22 Juni 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menabung saham untuk simpanan aset jangka panjang. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

'Perkataan yang Baik Adalah Sedekah'

Suatu siang di Cimahi, Jawa Barat, dimana penulis seperti biasa menjemput si kecil pulang dari taman kanak-kanak. Biasanya saya menjemput pakai sepeda motor, namun karena ketika itu hujan maka saya pakai mobil. Tak lama setelah kami berdua masuk mobil dan jalan lagi, si kecil kemudian menurunkan kaca jendela dan menyapa teman-temannya sambil melambaikan tangan, dadah dadah, seperti itu. Tapi saya kaget ketika tiba-tiba dia ngomong begini ke salah seorang teman TK-nya (yang diantar oleh ibunya) yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu angkutan umum, ‘Kenapa kamu naik angkot? Gak punya mobil yaaa?

Ebook Investment Planning - Kuartal I 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal I 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Strategi ‘Momentum Investing’ Untuk Profit Lebih Cepat Dari Saham-saham Jangka Panjang

Di artikel sebelumnya, kita membahas bahwa kalau kita mau beli saham untuk tabungan jangka panjang, maka jangan cuma lihat pergerakan sahamnya dalam 5 tahun terakhir, tapi coba lihat lagi dalam 10 tahun terakhir. Contohnya ULTJ, yang meski dalam lima tahun terakhir hanya profit 20%, tapi dalam 10 tahun terakhir profitnya total mencapai 7 - 8 kali lipat. Namun disisi lain, jika kita kebetulan beli saham Ultrajaya (ULTJ) di tahun 2014 dan bukannya 2009, kemudian tetap hold sampai hari ini, maka tetap saja profitnya cuma 20% diluar dividen. Jadi adakah strategi agar kita tidak terjebak dalam kondisi ‘hold too long for nothing’ seperti itu? Anda bisa baca lagi artikel lengkapnya disini (sebaiknya baca dulu biar nyambung ceritanya).

The Power of Legacy Stock: Berapa Profitnya Jika Kita Beli Saham Ultrajaya di Tahun 2009?

Ada satu pertanyaan menarik ketika beberapa waktu lalu penulis membahas saham Ultrajaya Milk Industry (ULTJ) (ini link artikelnya), dimana kesimpulan akhirnya adalah bahwa ULTJ ini bisa dipertimbangkan sebagai tabungan atau investasi jangka panjang. Atau mengutip istilah Pak Joeliardi Sunendar, sebagai legacy stock yang bisa di-hold as long as possible. Problemnya, dalam lima tahun terakhir yakni 2014 – 2019, ULTJ secara keseluruhan hanya naik dari 1,000 ke 1,200, sehingga total gain-nya hanya sekitar 20% dalam lima tahun, atau jauh lebih rendah dibanding beberapa saham long term lainnya yang lebih populer seperti katakanlah Bank BRI (BBRI). Jadi pertanyaannya kemudian, apa benar bahwa ULTJ ini bagus untuk long term? Karena kalaupun kita katakan bahwa sahamnya aman/low risk, tapi profit segitu dalam jangka waktu selama itu tentu saja kelewat kecil bukan??

Setelah Turun Terus, Inilah Valuasi IHSG Saat Ini

Jumat kemarin setelah pasar tutup, penulis ditelpon wartawan untuk dimintai komentar terkait valuasi IHSG yang ketika itu sudah drop signifikan ke level 5,827, namun menurut data Bloomberg PER-nya masih cukup tinggi yakni 18 kali. Sehingga ada kesan bahwa meski indeks memang sudah turun cukup dalam dibanding posisi tertingginya di tahun 2019 ini (dari 6,548 ke 5,828, berarti turun 11.0%), tapi secara kaidah value investing maka IHSG masih bisa turun lagi, karena saham-saham di BEI belum cukup murah untuk dibeli. Tapi benarkah demikian? Bahwa valuasi Bank BCA dkk sekarang ini masih pada mahal??