Ebook Investment Planning edisi Kuartal II 2020 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan Teguh Hidayat.

Alasan Investasi Langsung di Saham Lebih Baik Dibanding Reksadana

Sekitar lima atau sepuluh tahun lalu, kepada teman-teman investor pemula, penulis selalu menyarankan agar mereka mulai berinvestasi di reksadana terlebih dahulu, jadi jangan langsung masuk ke saham.  Sebab di reksadana, dana kita akan dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional. Namun melihat perkembangannya dalam tiga tahunan terakhir, kami sekarang menyarankan agar anda langsung invest di saham saja. Kenapa demikian? Berikut alasannya:

Special Report: Transaksi Repo Saham Jaya Bersama Indo (DUCK)?

Pada hari Senin kemarin, 10 Agustus 2020, PT Jaya Bersama Indo, Tbk (DUCK) merilis keterbukaan informasi yang menyebutkan bahwa PT Asia Kuliner Sejahtera (AKS), yang merupakan pemegang saham pengendali perusahaan, telah menjual saham DUCK sebanyak 24 juta lembar pada harga Rp440 per saham. Tidak ada penjelasan soal apa alasan penjualan tersebut, kecuali disebutkan bahwa itu terkait transaksi/kontrak repo. Dengan penjualan tersebut, AKS kini tinggal memegang 260 juta lembar saham DUCK, yang setara 20.3% saham beredar perusahaan.

Bagaimana Nasib Saham Saya Jika Sekuritasnya Ditutup?

Beberapa waktu lalu, ketika ramai berita tentang kasus Financial Planner Jouska, penulis menerima pertanyaan sebagai berikut. Pak Teguh, saya kebetulan punya rekening di sekuritas yang terafiliasi dengan Jouska (Phillip Sekuritas), kira-kira kasus Jouska ini bisa berdampak pada sekuritasnya gak ya? Apakah dana saya akan aman-aman saja disitu?

Peluang Mutiara Terpendam di Saham Batubara

Dalam beberapa waktu terakhir, anda mungkin sudah membaca berita bahwa Singapura ‘resmi’ jatuh ke lembah resesi, dimana pemberitaan itu muncul setelah Negeri Singa tersebut melaporkan pertumbuhan ekonomi minus 12.6% secara year on year pada Kuartal II (Q2) 2020, terburuk sejak Singapura merdeka pada tahun 1965. Namun ternyata, berita tersebut tidak membuat bursa saham disana drop, dimana Strait Times Index (STI) tetap bertahan di level 2,600-an, dan demikian pula bursa-bursa lainnya di Asia dan juga seluruh dunia seperti tidak terpengaruh oleh bad news diatas, padahal Singapura adalah salah satu negara dengan industri keuangan paling maju di dunia (sehingga berita bahwa Singapura resesi akan menjadi perhatian semua fund manager global). Pertanyannya, bagaimana bisa?

Ebook Investment Planning, Kuartal II 2020, Terbit 8 Agustus

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal II 2020. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Proyeksi IHSG Menjelang, dan Pasca Emiten Merilis Laporan Keuangan Kuartal II 2020

Pada tanggal 14 Juli kemarin, PT Surya Esa Perkasa, Tbk (ESSA) menjadi emiten pertama yang merilis laporan keuangan (LK) periode Kuartal II atau Q2 2020. Dan hasilnya? Well, perusahaan mencatat rugi $6.8 juta, dibanding laba $4.2 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sejak tahun 2014, ini adalah kali pertama ESSA membukukan kerugian, yang kemungkinan merupakan dampak dari pandemi Covid-19 karena pada Q1-nya, perusahaan masih mencatat laba $1.0 juta. Menariknya, keluarnya LK dengan hasil negatif ini tidak membuat sahamnya drop, dimana ketika analisa ini ditulis, saham ESSA tetap bertahan di 150 – 160, dan itu lebih tinggi dibanding posisi terendahnya pada 24 Maret lalu (yakni ketika IHSG drop sampai 3,900-an), di 118. Jadi apakah harga saham ESSA sekarang ini memang sudah price in dengan penurunan kinerjanya tersebut? Dan apakah analisa yang sama juga berlaku untuk saham-saham lainnya di BEI?

‘If It Costs You Your Peace, It’s Too Expensive!’

Bulan lalu, persisnya pada tanggal 12 Juni 2020, seorang mahasiswa berusia 20 tahun bernama Alexander Kearns ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di Napersville, Illionis, Amerika Serikat (AS). Kearns diketahui merupakan nasabah dari Robinhood, sebuah aplikasi trading saham yang menjadi booming di kalangan investor/trader milenial, setelah bursa saham AS itu sendiri mengalami fluktuasi yang amat sangat ekstrim setelah terjadinya pandemi Covid-19. Kearns memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah ia stress karena mengalami kerugian besar, hingga saldo di rekeningnya tercatat minus $730,166 (setara sekitar Rp10 milyar). Pada catatan yang ditemukan di komputer pribadinya, Kearns mengatakan, ‘Bagaimana mungkin seseorang berusia 20 tahun dan belum memiliki penghasilan, diberikan pinjaman hingga hampir 1 juta Dollar untuk melakukan trading?’

Prospek PT Sarimelati Kencana, Tbk (PZZA)

PT Sarimelati Kencana, Tbk (PZZA), yang merupakan pemegang lisensi waralaba Pizza Hut di Indonesia, melaporkan laba bersih Rp6 milyar di Kuartal I 2020, turun signifikan dibanding Rp40 milyar di periode yang sama tahun 2019, dan diperkirakan bahwa laba bersih ini masih akan turun hingga akhir tahun nanti karena efek dari pandemi corona. Jadi bagaimana dengan prospek sahamnya? Dan benarkah perusahaan pemilik merk Pizza Hut itu sendiri di Amerika Serikat sana telah bangkrut? Simak ulasan lengkapnya disini, semoga bemanfaat.

Begini Peran Manajer Investasi (MI) dalam Skandal Jiwasraya

Pada hari Rabu, 24 Juni 2020, terkait Kasus gagal bayar Jiwasraya, Kejaksaan Agung menetapkan status tersangka terhadap 13 perusahaan manajer investasi (MI), plus satu orang pejabat di lingkungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ke-13 MI ini diduga telah bekerja sama dengan manajemen Jiwasraya untuk membuat produk reksadana khusus, dimana dana yang disetor oleh Jiwasraya ke dalam reksadana tersebut ujung-ujungnya tetap dibelikan saham-saham gorengan. Sedangkan satu orang pejabat OJK diatas diduga mengetahui praktek kongkalikong diatas, namun membiarkannya. Sebelumnya, Kejagung sendiri sudah menetapkan status tersangka kepada 3 orang mantan direksi Jiwasraya, 1 orang pihak luar, dan 2 orang pemilik sejumlah perusahaan Tbk, yang selama ini sudah sangat dikenal sebagai ‘bandar saham’ di bursa.

‘Second Wave Corona’ Tidak Akan Terjadi, Ini Alasannya

Salah satu isu yang diwaspadai investor terkait arah pergerakan pasar kedepan, adalah kemungkinan terjadinya coronavirus second wave, atau gelombang kedua penyebaran virus corona, yang bisa jadi lebih mematikan/memakan lebih banyak korban dibanding gelombang pertama yang terjadi sejak awal Maret lalu. Sebab kalau berkaca pada pandemi spanish flu yang terkenal di tahun 1918 – 1919, yang diperkirakan menelan korban jiwa sekitar 17 – 50 juta penduduk di seluruh dunia, maka pandeminya ketika itu juga terjadi dalam tiga gelombang berbeda, dimana yang paling mematikan adalah gelombang kedua. However, penulis termasuk yang beranggapan bahwa untuk pandemi corona tahun ini, maka second wave itu tidak akan terjadi. Why?

Seminar Value Investing Advanced, Jakarta 19 Juli 2020

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced Class’, di Jakarta, hari Minggu 19 Juli 2020. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar/resesi ekonomi, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Seminar Value Investing, Jakarta, 18 Juli 2020

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang’ di Jakarta, Sabtu 18 Juli 2020. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, beberapa tips dan trik dalam berinvestasi, hingga cara menabung saham untuk simpanan jangka panjang. Berikut materi selengkapnya.

Ilustrasi value investing

Membedah Prospek Bank BRI di Tahun Pandemi, Part 2

Pada ulasan sebelumnya tentang Bank BRI, kesimpulannya adalah bahwa kita tidak perlu khawatir bahwa BBRI akan bangkrut atau semacamnya, itu tidak akan terjadi bahkan meski kinerja perusahaan turun karena faktor pandemi Covid-19, sehingga sahamnya tetap layak untuk investasi jangka panjang. Meski demikian kalau kita pertimbangkan lagi faktor-faktornya, maka sekarang-sekarang ini mungkin masih belum waktunya untuk masuk, dan penjelasannya akan dibahas disini. Here we go.

Analisa Pemulihan Ekonomi oleh Jay Powell, Part 2

Scott Pelley (wartawan): Bahaya apa yang mengancam dibalik kebijakan anggaran oleh pemerintah pusat, dan pemerintah negara bagian?

Jerome 'Jay' Powell: Pemerintah akan menghadapi penurunan penerimaan pajak. Kemudian ada juga penurunan dari penerimaan non pajak seperti biaya transit bandara, dan semacamnya. Jadi tidak hanya rakyat, namun pemerintah juga akan kesulitan, sedangkan disisi lain mereka tetap harus menyediakan layanan publik, seperti layanan kependudukan, pemadam kebakaran, polisi, dll. Inilah alasan kami memberikan pinjaman, agar mereka juga bisa melewati masa-masa sulit ini.

Proyeksi Ekonomi Amerika oleh Jay Powell, Chairman Federal Reserve

Scott Pelley (Wartawan): Kapan ekonomi akan pulih?

Jerome 'Jay' Powell: Itu akan bergantung pada perkembangan terkait pandemi coronavirus. Semakin cepat virusnya terkendali, maka semakin cepat pula bisnis akan kembali berjalan, dan orang-orang bisa kembali makan di restoran, pergi travelling, naik pesawat terbang, dan seterusnya. Ketika itu terjadi, maka ekonomi akan pulih.

Peluang Multibagger di Saham yang Terdampak Covid-19

Dalam beberapa waktu terakhir, anda mungkin banyak membaca berita bahwa perusahaan Tbk melakukan PHK karyawan, kegiatan operasionalnya berhenti, hingga pendapatannya turun karena imbas dari pandemi Coronavirus atau Covid-19. Contohnya pada link berikut, dimana di beritanya ditulis penjualan PT Gudang Garam, Tbk (GGRM) turun karena penurunan daya beli masyarakat, karena imbas dari Covid. Nah, pertanyaannya, dari mana pihak penulis berita memperoleh informasi tersebut? Kemudian apakah kita sebagai investor juga bisa memperoleh sumber informasi yang sama, tidak hanya untuk GGRM tapi juga untuk semua emiten lainnya di BEI?

Tips & Strategi Investasi Saham, Modal 10 – 20 Juta

Seiring dengan semakin meleknya masyarakat dengan investasi di pasar saham, dan ditambah banyaknya peluang investasi yang timbul dari penurunan harga saham itu sendiri, maka sekarang ini ada banyak investor pendatang baru di bursa, dengan modal awal yang bervariasi, mulai dari beberapa juta Rupiah, hingga milyaran. Namun jika diambil rata-ratanya, maka investor pemula biasanya menyetor modal awal dikisaran belasan hingga puluhan juta Rupiah.

Begini Dampak Akuisisi Pinehill Terhadap Masa Depan Indofood CBP (ICBP)

Pada tanggal 22 Mei 2020 kemarin, anak usaha Grup Salim, PT Indofood Consumer Brand Products, Tbk (ICBP), mengumumkan bahwa perusahaan akan mengakuisisi Pinehill Company Ltd, sebuah perusahaan yang juga dimiliki oleh Grup Salim, yang bergerak di produksi dan pemasaran mi instan merk ‘Indomie’ di beberapa negara yakni Arab Saudi, Nigeria, Mesir, Turki, Serbia, Ghana, Maroko, dan Kenya. Jadi dengan akuisisi ini, maka ICBP akan menjadi perusahaan skala internasional, dengan potensi pasar lebih dari 1 milyar penduduk termasuk Indonesia. Tapi masalahnya, dengan harga akuisisi yang tampak sangat-sangat tinggi yakni $3 milyar, dimana sebagian besar diantaranya diambil dari utang, maka ICBP dalam hal ini tampak dirugikan karena harus menanggung beban utang yang sangat besar. Tapi benarkah demikian? Simak analisa lengkapnya disini.

Membedah Prospek Bank BRI di Tahun Pandemi

Bank BRI (BBRI) melaporkan laba bersih Rp8.2 trilyun sepanjang Kuartal I 2020, cenderung stagnan dibanding periode yang sama tahun 2019 yang juga sebesar Rp8.2 trilyun, namun ini masih lebih baik dibanding kinerja emiten lainnya yang rata-rata mulai turun di awal tahun 2020 ini. Meski demikian, anda sendiri mungkin sudah mengetahui, apa isu terbesar yang menimpa saham-saham perbankan, yakni: Bagaimana kinerja mereka di Kuartal II, III, dan seterusnya? Sebab kita tahu bahwa ketika ekonomi melambat akibat Covid-19, maka biasanya yang bakal kena duluan adalah lembaga-lembaga keuangan termasuk perbankan, ditambah lagi adanya kebijakan pemerintah yang mengharuskan bank-bank untuk memberikan relaksasi kredit kepada para debiturnya, dimana itu sekilas merugikan para bank itu sendiri. Lalu apa pula itu bank jangkar??

Benarkah W. Buffett Jual Saham-Saham Perbankan? Ada Hubungannya dengan Penurunan BBRI dkk?

Pada hari Rabu, 13 Mei, muncul berita di Barrons.com yang menyebutkan bahwa Berkshire Hathaway (BRK) telah menjual saham US Bancorp (USB), salah satu bank terbesar di Amerika Serikat (AS), senilai setidaknya $16.3 juta. Dengan penjualan ini, BRK masih memegang saham USB, namun persentase kepemilikannya berkurang dari tadinya 10% sekian menjadi tinggal 9% sekian. Berdasarkan peraturan dari SEC (security and exchange commission, semacam OJK-nya AS), jika suatu individu/institusi memegang saham perusahaan tertentu sebanyak setidaknya 10% dari jumlah saham beredar, maka kalau institusi ini menambah atau mengurangi kepemilikannya di perusahaan itu tadi, mereka harus melaporkannya ke SEC. Tapi berhubung BRK sekarang pegang USB kurang dari 10% saham beredar, maka kalau besok-besok Warren Buffett (WB) hendak jual habis USB ini, ia tidak perlu melapor apa-apa lagi ke SEC.