Buy Indonesian. I Am

Pasar saham Indonesia hari ini sedang kacau balau. Di satu sisi, melemahnya nilai tukar Rupiah, defisit APBN, hingga meningkatnya nilai utang Pemerintah karena program-program populis, membuat prospek ekonomi nasional menjadi dipertanyakan. Di sisi lain, banyaknya saham-saham milik grup konglomerasi tertentu yang naik dan turun secara tidak wajar membuat MSCI, lembaga keuangan global asal Amerika Serikat, menduga bahwa telah terjadi coordinated trading behavior, sehingga mereka sejak Januari 2026 lalu mengancam akan menurunkan rating pasar saham Indonesia menjadi ‘tidak layak investasi’, yang seketika membuat investor asing keluar besar-besaran dari bursa, dan membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) hancur berantakan. Per hari ini, IHSG sudah berada di posisi 6,599, anjlok -23.7% secara year to date, yang menjadikannya indeks saham dengan kinerja paling buruk di seluruh dunia, di sepanjang tahun 2026.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Diskon selama IHSG masih di bawah 7,500, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

***

Terlepas dari itu, saya memutuskan untuk membeli saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebelumnya pada pertengahan 2025 lalu, karena melihat bahwa IHSG naik dan turun secara tidak wajar mengikuti pergerakan saham-saham tertentu saja (penjelasannya baca disini), maka saya menjual sebagian besar saham-saham, dan menempatkan mayoritas uang kas yang dihasilkan di Surat Berharga Negara (SBN) (penjelasannya baca disini, dan disini). Tapi hari ini, saya mencairkan sebagian SBN tersebut untuk belanja saham. Dan jika IHSG lanjut turun kedepannya, maka saya akan belanja saham lebih banyak lagi.

Pertanyaannya, kenapa?

Well, alasan sederhananya, seperti yang dikatakan Warren Buffett, be fearful when others are greedy, and be greedy when others are fearful. Saat ini hampir semua investor, termasuk yang paling berpengalaman sekalipun, bersikap pesimis tidak hanya dengan pasar saham Indonesia, tapi juga dengan masa depan Indonesia itu sendiri secara keseluruhan, karena alasan-alasan yang sudah dikemukakan di atas. Namun jika kita telisik lagi kinerja dari perusahaan-perusahaan terbaik di bursa, maka mereka masih mencetak laba bersih, masih rutin bayar dividen, serta sama sekali tidak sedang terancam untuk bangkrut atau semacamnya. Dan benar bahwa harga-harga saham dari perusahaan ini telah turun signifikan seiring koreksi pasar. Tapi yang terpenting adalah, sebagian besar dari mereka akan terus mencetak pendapatan dan laba dalam waktu 5, 10, dan 20 tahun dari sekarang.

Jadi biar saya pertegas satu hal: Saya, dan juga anda, tidak bisa memprediksi pergerakan IHSG, atau harga saham-saham itu sendiri, entah itu besok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Namun yang hampir pasti akan terjadi adalah, pada akhirnya pasar saham akan naik lagi.

Sedikit pelajaran sejarah: Pada bulan Maret 2020, ketika pandemi Covid untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia, IHSG crash dari 6,299 pada awal tahun ke posisi 3,912, jeblok -37.9%, karena investor pada saat itu sudah bisa langsung membayangkan krisis ekonomi yang akan terjadi ketika pemerintahan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, memberlakukan lockdown. Dan memang benar bahwa pertumbuhan GDP di sepanjang tahun 2020 tercatat minus untuk pertama kalinya sejak krisis moneter 1998 lalu. Tapi ketika data GDP tersebut dirilis pada bulan Februari 2021, maka IHSG sudah kembali naik ke posisi 6,000-an. Lebih jauh, pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi melandai ke 4% (dari normalnya 5%), kurs Rupiah untuk pertama kalinya sejak 1998 kembali menyentuh Rp14,000 per US Dollar, dan IHSG terjun bebas dari 5,251 ke 4,180. Tapi pada bulan Juli di tahun berikutnya (2016), IHSG sudah cetak all time high lagi.

Simpelnya, bad news sejatinya justru merupakan teman terbaik investor, karena itu memungkinkan kita untuk membeli masa depan pada harga diskon. Dalam jangka sangat panjang sejak IHSG itu sendiri diluncurkan pada tahun 1982, maka Indonesia sudah mengalami krisis moneter 1998, krisis subprime mortgage 2008, krisis penurunan harga komoditas 2015, krisis pandemi covid 2020, dan hari ini, krisis kepercayaan investor global seperti yang diungkapkan oleh MSCI. But still, IHSG selama 44 tahun naik dari posisi 100, ke saat ini 6,599.

Sudah tentu, akan selalu ada investor yang hanya membeli saham ketika semua headline tentang krisis ekonomi dll menghilang dari media. Namun berdasarkan pengalaman, biasanya itu akan sudah terlambat. Pada akhirnya, aset berupa saham dari perusahaan yang menghasilkan laba yang bertumbuh serta rutin membayar dividen, akan selalu outperform aset berupa uang kas Rupiah, apalagi kita tahu bahwa daya beli Rupiah itu sendiri akan terus berkurang dalam jangka panjang karena efek inflasi, serta pelemahan nilai tukar.

Sekali lagi, saya tidak tahu apakah IHSG besok akan naik atau turun, dan apakah akan ada berita atau peristiwa penting lainnya lagi, entah itu bersifat positif atau negatif, yang kemudian membuat pasar saham Indonesia kembali fluktuatif. Meski demikian, seperti kata pepatah, put your money where your mouth was, maka saya putuskan untuk membeli saham-saham di Bursa Efek Indonesia, tentunya dengan tetap menggunakan kaidah value investing: Kinerja fundamental bagus, prospek ke depan cerah, serta valuasi murah (dan saya sudah kasih clue soal pilihan sahamnya di banyak tulisan-tulisan terpisah di blog ini. Search saja).

Cimahi, 18 Mei 2026
Teguh Hidayat

Catatan: Tulisan ini terinspirasi dari tulisan opini berjudul ‘Buy American. I Am’ yang ditulis oleh Warren Buffett, dan dipublikasikan di koran The New York Times pada tanggal 16 Oktober 2008.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disiniDiskon selama IHSG masih di bawah 7,500, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q1 2026 - Sudah Terbit!

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar Investasi Saham Indonesia, Sabtu 18 April

Peluang Profit di Tengah Anjloknya IHSG

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 13 Desember 2025

Prediksi Kinerja Laporan Keuangan BBCA, BBRI, BMRI, BBNI

Prospek Saham Trimegah Bangun Persada (NCKL) Seiring Pembangunan Smelter Baru