Prospek Saham Ultrajaya (ULTJ) Setelah Merger Dengan Frisian Flag

Pada Senin, 7 September 2026, kita sudah membahas tentang saham PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), dimana penulis menyebut bahwa ULTJ, yang ketika itu berada di posisi 1,500, memiliki target harga sekitar 2,400 (baca lagi analisanya disini). Dan tak lama setelah itu ULTJ langsung terbang hingga ditutup di posisi 2,060, pada Jumat 18 September kemarin. Jadi apakah kenaikannya ini memang selaras dengan fundamentalnya? Eh tapi bagaimana dengan berita bahwa ULTJ akan mengakuisisi PT Frisian Flag Indonesia, sebuah perusahaan susu yang tidak kalah besarnya, senilai Rp14.6 triliun?

**

Join Channel Telegram ACT untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang, klik disini untuk bergabung. Gratis konsultasi saham untuk subscriber.

***

ULTJ, seperti yang sudah kita bahas disini, merupakan perusahaan minuman susu UHT (ultra high temperature) terbesar, dan salah satu perusahaan di bidang dairy terbesar di Indonesia, yang sahamnya bisa dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang. However ULTJ ini punya sejumlah kelemahan, salah satunya terkait manajemennya yang terlalu konservatif dan hampir tidak pernah ekspansi, dimana dari dulu sampai sekarang maka lebih dari 90% pendapatan perusahaan hanya dari produksi susu UHT saja, dengan hanya memiliki satu pabrik di Padalarang, Jawa Barat. Nah, tapi untuk tahun 2026 ini maka peruntungan perusahaan berubah Pemerintah meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seketika menaikkan tingkat konsumsi susu nasional, termasuk ULTJ juga ditunjuk oleh Pemerintah untuk memproduksi susu sekolah, untuk MBG itu tadi. Dan ditambah ULTJ kemudian menyelesaikan pembangunan pabrik susu keduanya di Kawasan Industri MM2100 di Cibitung, Jawa Barat, maka jadilah hingga Q2 2026, laba bersih ULTJ naik 74% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Catat bahwa di tahun-tahun sebelumnya, meski memang pendapatan serta laba ULTJ konsisten naik, tapi kenaikannya biasanya hanya 10 – 20% per tahun. Barulah di tahun 2026 ini, laba bersihnya seperti disebut diatas naik 74%, dan seharusnya itu barulah permulaan karena kita tahu program MBG masih akan terus berjalan.

Sehingga mungkin, peluang itulah yang ditangkap oleh FrieslandCampina International Holding BV (FCI), perusahaan asal Belanda yang merupakan pemilik dari PT Frisian Flag Indonesia (FFI), yang kita tahu merupakan salah satu perusahaan susu paling terkemuka di tanah air, dengan merk produknya yakni ‘Frisian Flag’ yang mudah ditemukan dimana-mana, dimana FCI dan Keluarga Prawirawidjaja sebagai pemilik ULTJ setuju untuk me-merger FFI dengan ULTJ, dan FCI pada gilirannya akan menjadi salah satu pemegang saham pengendali di ULTJ, bersama-sama dengan Keluarga Prawirawidjaja sebagai pemilik asli perusahaan.

Jadi skema mergernya sebagai berikut: ULTJ akan menerbitkan (right issue) 7.9 miliar lembar saham baru pada harga Rp2,150, dimana 6.8 miliar lembar diantaranya akan diambil oleh para pemegang saham di FFI, yakni FCI, Blue Waves Group Ventures Pte Ltd (BWG), dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa (BWI), dimana ketiga entitas ini memegang saham FFI sebanyak masing-masing 78%, 17%, dan 5% (jadi totalnya 100%). Namun ketiga entitas tersebut tidak akan membayar saham baru ULTJ dalam bentuk uang, melainkan dalam bentuk 100% saham FFI. Maka dengan demikian FFI akan menjadi anak usaha dari ULTJ, sedangkan FCI, BWG, dan BWI, seperti disebut diatas, akan menjadi pemegang saham pengendali di ULTJ. Transaksi seperti ini disebut inbreng, dimana tidak ada pihak yang mengeluarkan atau menerima uang, namun memungkinkan ULTJ untuk memperoleh tambahan modal dari pemegang saham publik. Yup, karena sisa saham yang tidak diambil oleh FCI dkk sebanyak 1.1 miliar lembar akan ditawarkan ke investor publik pada harga Rp2,150 itu tadi. Sehingga, jika semua investor publik pemegang saham ULTJ menebus saham baru tersebut, maka selain memperoleh FFI sebagai anak usaha, ULTJ juga akan memperoleh tambahan modal sebesar 1.1 miliar x Rp2,150, sama dengan Rp2.4 triliun, tunai. Dan saham ULTJ sendiri kemungkinan memang akan naik sampai ke 2,150 itu atau lebih tinggi, yakni agar investor publik merasa bahwa harga 2,150 itu murah, dan alhasil mereka akan ikut menebus right issue-nya.

Pertanyaannya, bagaimana prospek ULTJ setelah aksi korporasi penting ini? Apakah di harga sekarang sahamnya masih bisa dikejar? Dan kalau saya sejak awal sudah pegang sahamnya maka apakah sebaiknya saya ikut tebus saham baru itu, atau tidak? Untuk itu maka mari kita telaah lagi poin-poin pentingnya, satu per satu.

Pertama, dengan ULTJ menerbitkan 6.8 miliar saham baru untuk diambil oleh FCI dkk pada harga Rp2,150 per saham, dimana sebagai gantinya ULTJ memperoleh FFI, maka itu berarti FFI dianggap memiliki nilai 6.8 miliar x Rp2,150, sama dengan Rp14.6 triliun. Nilai aset bersih FFI itu sendiri, berdasarkan laporan keuangan terbarunya per 31 Juli 2026, tercatat Rp4.2 triliun. Jadi ULTJ dalam hal ini membayar FFI pada PBV 3.5x, alias tidak bisa disebut murah, tapi kemungkinan itu masih terhitung wajar, mengingat FFI ini adalah perusahaan yang sama mapannya dengan ULTJ dan juga rutin cetak laba, sedangkan pada ulasannya disini maka kita sudah menghitung bahwa harga wajar ULTJ adalah di sekitar Rp2,400, setara PBV 3.1x.

Kedua, penerbitan saham baru untuk investor publik sebanyak 1.1 miliar lembar itu selaras dengan porsi saham ULTJ milik investor publik, dimana sebelum transaksi inbreng ini investor publik memegang 14.0% saham beredar ULTJ. Jadi jika seluruh investor ULTJ menebus sahamnya, maka jumlah saham ULTJ yang dipegang publik akan meningkat dari 1.5 menjadi 2.6 miliar lembar, namun porsi kepemilikan publik di perusahaan akan tetap di 14.0%, karena di sisi lain jumlah total saham beredar ULTJ juga meningkat. Sedangkan jika tidak ada satupun investor publik yang menebus sahamnya, maka porsi kepemilikan mereka akan turun menjadi 8.5%. Inilah kenapa disebut bahwa, jika anda sebagai pemegang saham ULTJ tidak ikut membeli/menebus saham baru tersebut, maka saham anda akan terdilusi sebesar maksimal -43%. However, catat bahwa tidak ada kewajiban bagi investor untuk menebus saham yang ditawarkan, dimana kalau anda misalnya pegang 100 lot saham ULTJ dan tidak ikut menebus, maka jumlah saham ULTJ anda akan tetap 100 lot. Hanya saja, jika kedepannya ULTJ bayar dividen maka ada kemungkinan nilai dividen per lembar saham yang anda terima akan lebih kecil, yakni karena jumlah saham beredar perusahaan yang menerima dividen itu meningkat, tapi jumlah saham ULTJ yang anda pegang tetap 100 lot itu tadi.

Ketiga, bagaimana prospek ULTJ setelah penggabungan usaha ini? Well, manajemen ULTJ menjelaskan bahwa terdapat dua alasan dilakukannya merger ini. Pertama, ULTJ memproduksi susu UHT, Teh Kotak, dan Sari Kacang Ijo, sedangkan FFI memproduksi susu kental manis, susu bubuk, dan produk nutrisi anak. Jadi diharapkan bahwa akan terjadi sinergi portofolio produk dimana produk milik ULTJ akan melengkapi produk milik FFI, demikian sebaliknya. Dan kedua, ULTJ dan FFI akan secara bersama-sama memanfaatkan rantai pasok milik kedua perusahaan, sinergi penguatan jaringan distribusi dan logistik, serta efisiensi biaya pemasaran dan penjualan, dimana itu semua pada akhirnya akan menurunkan harga pokok penjualan, serta biaya operasional.

Simpelnya, merger ULTJ dan FFI ini diharapkan akan menaikkan margin laba, dan menaikkan laba bersih kedua perusahaan. Sehingga, meski tadi disebut bahwa kalau anda tidak ikut menebus saham baru ULTJ, maka ada kemungkinan nilai dividen yang anda terima akan turun, tapi mungkin juga dividen itu akan tetap atau bahkan naik, yakni karena laba perusahaan meningkat, dan dengan peningkatan yang lebih tinggi dibanding kenaikan jumlah saham beredar perusahaan. Di sisi lain jika anda ikut menebus right issue-nya maka nilai dividen yang diterima tentunya akan lebih besar lagi, tapi perlu dicatat bahwa anda dalam hal ini harus keluar uang untuk membeli saham baru tersebut, sehingga belum tentu posisinya akan balik modal hanya dari dividen yang akan diterima nanti.

Kesimpulannya, penulis menganggap bahwa prospek ULTJ kedepannya akan lebih baik karena transaksi ini, terutama karena FFI, seperti disebut diatas, juga merupakan perusahaan susu yang cukup besar. Tapi soal apakah anda sebaiknya ikut right issue-nya (ikut tebus saham baru) atau tidak, maka penulis menyarankan, tidak, karena anda dalam hal ini membeli saham baru ULTJ pada valuasi yang tidak terlalu terdiskon yakni Rp2,150 (sedangkan harga wajar ULTJ sekitar Rp2,400), dan itu tentu saja berbeda dengan jika anda beli ULTJ pada harga Rp1,500, beberapa waktu lalu. Di sisi lain saham ULTJ yang sudah anda pegang sejak awal boleh tetap hold, dan actually transaksi ini menguatkan analisa bahwa ULTJ cocok untuk jangka panjang, karena sekarang perusahaannya punya dua faktor pendukung sekaligus: 1. Program MBG yang akan menaikkan omzet pendapatan, dan 2. Merger dengan Frisian Flag yang akan meningkatkan efisiensi, serta menaikkan margin laba. Sehingga, setelah selama bertahun-tahun sebelumnya ULTJ ini cenderung jalan di tempat (meski investor tetap profit dalam bentuk dividen), maka ada kemungkinan dalam 1 – 2 tahun ke depan, sahamnya akan naik lebih tinggi, dengan target awalnya di 2,400 itu dulu.

Untuk minggu depan kita akan bahas soal 1. Prospek PT Bayan Resources Tbk (BYAN) setelah diakuisisi Haji Isam, atau 2. Analisa kenaikan Fed Rate di Amerika Serikat, serta dampaknya terhadap IHSG.

***

Join Channel Telegram ACT untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang, klik disini untuk bergabung. Gratis konsultasi saham untuk subscriber.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

Anonim mengatakan…
analisa haji isam masuk ke byan saja
Anonim mengatakan…
Pak Teguh, belum ada tertarik saham Mayora ya pak? Laba 2 kuartal ini all time high, tapi harga sudah sangat turun lebih dari 50% di all time 3 tahun ini

Anonim mengatakan…
Tolong bahas tentang prospek BRIS setelah rencana right issue dong Pak, Tks
Hasan Bakcrie mengatakan…
GOTO sudah murah belum?

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q2 2026 - Sudah Terbit!

Live Webinar Saham Indonesia: Peluang Multibagger! Sabtu 29 Agustus

Daftar Saham Yang Diuntungkan Program MBG

Kabar Baik Untuk Pemegang Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI

Daftar Saham Batubara Yang Masih Undervalued, Potensi Naik Banyak

Prospek Saham Bank BSI (BRIS): Sudah Murah?

Harga Emas Masih Akan Lanjut Naik? Bagaimana Dengan Bitcoin?