Contoh Perhitungan Harga Wajar Saham: ULTJ dan TINS

Saya sudah lama mengikuti Pak Teguh. Jika berkenan Bapak mau menjelaskan, saya masih bingung bagaimana Bapak menentukan PER dan PBV yang wajar untuk setiap emiten atau sektor tertentu, berapa margin of safety yang Bapak gunakan untuk menentukan harga beli Bapak dan apakah Bapak juga mempertimbangkan teknikal, momentum, dan/atau makroekonomi?

**

Ebook Investment Planning terbaru berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 sudah terbit, bisa dipesan disini. Tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 7,500, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

***

Jawab:

Soal itu tentunya sudah sering dijelaskan di banyak tulisan di www.teguhhidayat.com, buku, dan video youtube. Jadi mungkin biar lebih practical, kita coba ke praktiknya ya pak. Ada satu saham tertentu yang mau kita bahas? Nanti saya jelaskan berapa PER PBV wajarnya plus berapa harga beli yang disarankan (dan dari mana angkanya muncul), lengkap dengan pertimbangan teknikal, momentum, dan makro.

Mungkin saham ULTJ boleh Bapak.

PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) di tahun 2026 ini memenuhi dua kriteria basic fundamental: 1. Kinerja bagus (ROE 20% lebih) dan bertumbuh (laba naik 70% lebih), 2. Prospek cerah terkait program makan bergizi gratis alias MBG (sehingga kinerjanya yang bagus tadi bisa diharapkan akan berlanjut sampai akhir tahun 2026, atau lebih lama lagi). Dan kalau ada saham memenuhi dua kriteria basic seperti ini, maka kita bisa pakai harga wajar setara PER 7x aka tidak terlalu tinggi, terutama karena kita juga harus mempertimbangkan faktor-faktor sbb: Pertama, ULTJ bukan big cap stocks dengan market cap lebih kecil dari $1 miliar (Rp18 triliun), sehingga tidak akan masuk ke misalnya indeks MSCI, dan tidak akan diborong asing. Kedua, Sahamnya tidak likuid, tidak hanya dari sisi nilai transaksi tapi juga dari sisi volume transaksi, sehingga tidak akan pernah dilirik trader ritel. Catat bahwa meski saya sendiri tidak pernah trading harian, tapi harus diakui bahwa kehadiran trader harian bisa membantu saham-saham tertentu untuk naik, karena bagaimana bisa sebuah saham naik kalau gak ada yang beli? Ketiga, manajemen ULTJ tidak hanya jarang ekspansi misalnya dengan membangun pabrik susu baru, tapi ketika ada ekspansi pun maka hampir tidak dikomunikasikan ke publik. Jadi beda dengan misalnya ketika emiten batubara Dian Swastatika Sentosa (DSSA) masuk ke data center, maka beritanya ramai dimana-mana. Alhasil sahamnya sepi narasi, dan itu juga membuatnya tidak populer di mata trader ritel.

Jadi kalau analisanya berhenti di paragraf diatas, maka posisi ULTJ saat ini di Rp1,500, yang setara PER 7.4x, sudah merupakan harga wajarnya. Nah, tapi sekarang kita ke faktor nilai tambah terkait perusahaan. Pertama, ULTJ merupakan perusahaan mapan dengan utang kecil, dan berstatus market leader di bidangnya (susu UHT). Sehingga prospek jangka panjangnya sudah cerah sejak awal, bahkan tanpa program MBG. Tapi adanya MBG inilah yang menjadi momentum bagi sahamnya untuk naik dalam jangka waktu yang lebih cepat, jadi tidak harus tunggu misalnya sampai 5 tahun ke depan, terutama setelah laba perusahaan terbukti naik signifikan sampai 70% di 2026 ini (di tahun-tahun sebelumnya, laba ULTJ biasanya cuma naik 20%, atau bahkan kurang dari itu).

Lanjut kedua, meski tadi saya sebut bahwa ULTJ tidak populer di mata trader, tapi ULTJ sudah sejak dulu menjadi salah satu pilihan investor jangka panjang, termasuk dividennya juga cukup besar serta rutin. Dan dengan adanya kejadian MSCI di 2026 ini yang kemungkinan akan menjadi akhir bagi dominasi saham-saham konglo di BEI, maka saham-saham fundamental tipe buy and hold seperti ULTJ ini berpeluang untuk kembali bangkit, dimana setelah dalam lima tahun terakhir ini dia gak kemana-mana maka dalam lima tahun kedepan dia akan naik tinggi lagi, dalam hal ini jika kinerjanya tetap lanjut tumbuh seperti biasanya. Terakhir ketiga, dalam kaitannya dengan MBG, maka tidak ada emiten lain yang diuntungkan secara maksimal kecuali ULTJ ini. Karena, meskipun JPFA dan CPIN secara teori juga diuntungkan oleh MBG, tapi badan gizi nasional (BGN) tidak secara langsung beli telur dan daging ayam ke mereka, jadi beda dengan ULTJ ini yang jelas-jelas dapat kontrak produksi susu sekolah.

Sehingga, dengan asumsi bahwa pasar akan pulih, IHSG akan ke setidaknya 7,500, dimana kali ini pendorongnya saham-saham fundamental, maka kita bisa gunakan valuasi yang lebih optimis, yakni PER 10-12x dan PBV 3x, setara harga 2,400. Meski perlu dicatat bahwa ULTJ kemungkinan baru akan naik kesitu belakangan dibanding saham-saham fundamental lainnya yang lebih likuid, itupun syaratnya IHSG harus ke 7,500 dulu. Tapi ketika nanti dia akhirnya naik maka naiknya bisa sangat cepat. Contoh dari 'saham fundamental lama gak kemana-mana, tapi akhirnya lompat juga' mungkin ADES. Silahkan bapak cek pergerakan sahamnya. Saat ini valuasi ADES tercatat premium di PER 17x dan PBV 5x, demikian pula valuasi CMRY, GOOD, MYOR cukup tinggi, jadi target harga ULTJ di 2,400 terbilang wajar. Dan kalau kita ambil margin of safety (MOS) 35%, maka best price-nya di 1,550. Catat bahwa MOS 35% ini bisa digunakan di saham yang kita anggap low risk (jarang sentimen negatif, manajemennya bagus, bisnisnya non cyclical, bukan perusahaan kemarin sore dst). Sedangkan untuk saham moderate atau high risk, gunakan MOS 50%.

Terkait makro, maka ULTJ ini emiten consumer, sehingga mau itu Indonesia krisis ekonomi atau apa maka kinerjanya akan tetap tumbuh seiring bertambahnya jumlah penduduk. Jadi terkait makroekonomi, kenaikan BI Rate dll, maka kita tidak perlu khawatir karena itu tidak menjadi faktor untuk mendiskon harga wajarnya. Lalu terkait analisa teknikal, maka itu hanya bisa diterapkan ke saham yang nilai transaksinya cukup besar alias likuid. Jadi untuk ULTJ ini maka kita bisa fokus di harga wajarnya itu tadi saja, lalu kita diskon sebesar 35% atau lebih, untuk menentukan harga belinya.

Bagaimana dengan PT Timah Tbk (TINS)? Soalnya ROEnya diatas 50% tapi PBV nya sudah 2.7x.

Untuk TINS, mari kita cek. ROE TTM (return on equity, trailing twelve months, alias dari Q3 2025 s/d Q2 2026) 35%. Sedangkan kalau pakai ROE annualized (ROE disetahunkan ke depan, dengan asumsi laba TINS di semester dua akan kurang lebih sama dengan semester pertama 2026), adalah 51%. Menurut saya ROE annualized ini lebih akurat, karena di tahun 2026 ini TINS mengalami perubahan penting yang tidak pernah terjadi sebelumnya: Reformasi di industri timah di Indonesia, dimana tambang-tambang timah ilegal ditertibkan. Jadi setelah di tahun-tahun sebelumnya, TINS selalu gagal untuk sekedar cetak laba bersih yang layak, maka mulai 2026 ini dan seterusnya TINS akan terus cetak laba besar, karena dia sudah menjadi eksportir tunggal hasil produksi timah Indonesia. Ditambah kebutuhan timah dunia meningkat tajam karena pembangunan AI data center (logam timah dibutuhkan untuk solder, untuk merekatkan komponen-komponen supercomputer yang saling terhubung dalam sebuah data center), maka ada peluang bahwa laba TINS akan lebih besar lagi kedepannya.

Nah, jadi catat disini pak: Untuk bisa menilai valuasi sebuah saham, maka kita harus tahu 'story behind the company' terlebih dahulu. Tidak perlu membandingkan valuasinya dengan saham lain di sektor yang sama, karena tiap-tiap perusahaan punya story-nya masing-masing yang berbeda satu sama lain, bahkan meski sektornya sama.

Lanjut: Formula dasar harga wajar adalah ROE = PBV dibagi 10. Jadi ROE 51% = PBV 5.1, setara harga saham Rp7,200. Dari sini kita harus diskon dengan memasukkan faktor-faktor risiko, seperti 1. Masih ada kemungkinan MSCI menurunkan pasar Indonesia ke frontier (ini risiko umum yang berlaku di semua saham, gak cuma TINS), 2. Harga timah bisa berbalik turun jika AI booming mereda, 3. Pemerintah mungkin akan memberlakukan kebijakan ekspor satu pintu atau semacamnya, yang meski saya optimis itu justru akan menguntungkan TINS sebagai BUMN, tapi bisa juga akan merugikan.

Kemudian ntuk mudahnya, tiap-tiap risiko mendiskon valuasi sebesar 10%, jadi 7,200 tadi dikurangi (3 x 10%), sama dengan sekitar 5,000. However, karena risiko no.1 dan 3 terhitung rendah, sedangkan seperti disebut di atas ada peluang kinerja TINS akan lebih bagus lagi kedepannya/ROEnya naik lebih tinggi lagi, plus TINS ini likuid dan juga punya market cap besar diatas $1 miliar (jadi sahamnya akan diincar asing), maka saya tambahkan sedikit menjadi 6,000. Ambil margin of safety atau MOS 50% (sengaja ambil MOS besar, karena TINS ini saham komoditas yang risikonya tidak bisa dibilang rendah), maka best pricenya 3,000. Tapi di EIP saya tulis 3,200 karena, kecuali nanti ramai sentimen negatif tertentu/IHSG crash lagi, level 3,000 itu akan menjadi titik psikologis kuat yang tidak hanya tidak akan ditembus, tapi juga tidak akan disentuh. Jadi harga 3,200, atau sedikit diatas itu asal masih dibawah 4,000, masih oke untuk masuk.

Okay, tapi maaf tapi saya masih tidak mengerti pak?

Tidak apa-apa pak, karena bahkan saya sendiripun sampai hari ini masih terus belajar terkait penentuan harga wajar saham ini, karena memang untuk benar-benar menguasainya maka dibutuhkan jam terbang yang tinggi. Catat pula bahwa harga wajar untuk dua saham yang dibahas diatas bisa berubah lagi, yakni karena mengikuti perkembangan fundamental serta outlook perusahaannya. Jadi tugas bapak disini hanyalah keep going saja, dan nanti pada titik tertentu semua kebingungan itu akan berganti menjadi pencerahan. Semoga beruntung!

***

Ebook Investment Planning terbaru berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 sudah terbit, bisa dipesan disini. Tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 7,500, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q2 2026 - Sudah Terbit!

Live Webinar Saham Indonesia: Peluang Multibagger! Sabtu 29 Agustus

Daftar Saham Yang Diuntungkan Program MBG

Kabar Baik Untuk Pemegang Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI

Harga Emas Masih Akan Lanjut Naik? Bagaimana Dengan Bitcoin?

Daftar Saham Batubara Yang Masih Undervalued, Potensi Naik Banyak

Prospek Saham Elang Mahkota Teknologi (EMTK): Profit Dari Saham GRAB?