Peluang Profit di Tengah Anjloknya IHSG
Pak Teguh terima kasih ulasannya terkait saham batubara, saya ada ikut beli sedikit dan benar naik. Tapi saham-saham saya yang lain, misalnya BBCA, itu turun semua pak, sedangkan posisi cash tinggal sedikit. Strateginya bagaimana ya? Soalnya di ulasan bapak yang terakhir disebutkan bahwa IHSG masih bisa turun lebih rendah lagi? Terima kasih.
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi terbaru Q4 2025 sudah terbit dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.
***
Jawab:
Betul pak. Jadi pada tulisan tanggal 5 Maret kemarin, saya menyebut bahwa IHSG, yang ketika itu sudah turun lumayan ke 7,577, mungkin masih akan turun lebih dalam lagi, dan salah satu penyebabnya adalah karena ‘aksi bersih-bersih’ bandar saham gorengan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni untuk merespon warning dari MSCI pada akhir Januari lalu, dimana meski aksi bersih-bersih ini dalam jangka panjang 1 - 2 tahun kedepan diharapkan akan berdampak positif, tapi dalam jangka pendeknya maka itu bisa bikin IHSG turun sangat dalam. Karena ingat bahwa IHSG itu sendiri sejak awal bisa naik tinggi (sampai sempat tembus 9,000an) ya karena dikerek oleh saham gorengan, termasuk ‘saham konglo’ yang ramai dibicarakan di grup-grup itu. Sehingga dengan berkurangnya aktivitas bandar maka otomatis saham-saham itu sekarang turun lagi, dan tentu saja IHSG juga ikut turun.
Dan ternyata benar: Hingga Jumat, 13 Maret, IHSG turun lebih lanjut ke posisi 7,137. Kemudian ditambah sentimen negatif terkait Perang Iran – Amerika Serikat (US), maka jadilah hampir semua saham turun termasuk yang bukan gorengan, tapi jika bapak perhatikan maka penurunan mereka sebenarnya tidak sedalam penurunan IHSG itu sendiri, yang mencapai -17.5% secara year to date (YTD). Contohnya saham ‘bluechip fundamental’ seperti Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Telkom (TLKM), dan Astra Internasional (ASII), maka mereka masing-masing hanya turun -14.9%, -4.1%, -6.9%, -14.7%, dan -13.1% secara YTD. Jadi beda dengan misalnya Bumi Resources (BUMI), yang merupakan salah satu saham konglo paling populer di BEI, yang sudah anjlok -42.6% secara YTD.
Sehingga kata kuncinya adalah, untuk saham-saham fundamental maka mereka turun bukan karena IHSG turun, tapi karena ada peristiwa perang yang kemudian menimbulkan kekhawatiran akan terjadi krisis energi dll. Sedangkan jika pada akhir Februari kemarin US tidak mengebom Tehran, maka meskipun IHSG tetap akan turun (karena saham-saham konglo itu turun semua), tapi BBCA dkk harusnya tetap bertahan di posisinya, atau ikut turun tapi dengan persentase penurunan yang kecil saja. Jadi agar saham-saham ini kembali pulih maka harus ada perkembangan yang bersifat positif dari Timur Tengah, misalnya jalur Selat Hormuz kembali dibuka, atau semacamnya. Sedangkan sebelum itu maka saham fundamental juga akan ikut turun seiring penurunan IHSG, tapi sekali lagi dengan persentase penurunan yang tidak akan sedalam penurunan saham konglo/gorengan.
Nah, tapi kabar baiknya pak, IHSG sekarang sudah di 7,137, bukan lagi 8,000, apalagi 9,000. Sehingga, meski kita tentunya tidak bisa menebak IHSG maksimal akan turun sampai berapa, tapi posisi IHSG saat ini harusnya sudah cukup rendah, dan pada titik ini maka bapak sudah tidak perlu lagi jual saham jika tujuannya untuk memperoleh cash. Malah kalau ada pegang cash, berapapun itu, maka bisa siap-siap untuk belanja. Ingat pula bahwa meski Perang Iran menjadi sentimen negatif bagi pasar saham secara umum, tapi sebaliknya menjadi sentimen positif bagi saham komoditas terutama minyak dan batubara, dimana saham-saham tersebut bisa tetap naik sendiri, tak peduli meski IHSG lanjut turun.
Therefore, bapak bisa menerapkan strategi sebagai berikut: Bapak bisa jual saham yang bukan komoditas, misalnya BBCA itu tadi, tapi nanti ketika harganya sudah naik, misalnya jika IHSG rebound. Dan ini bukan karena BBCA jelek, melainkan karena dia merupakan boring stock yang meski tidak akan turun dalam tapi juga gak akan langsung naik lagi, tidak dalam waktu dekat ini. Lalu uangnya ditambah sisa cash yang ada digunakan untuk tambah posisi di saham batubara, termasuk Indo Tambangraya (ITMG) jika dikasih harga 24,000 - 26,000. Perlu dicatat bahwa meski saham-saham komoditas termasuk batubara sudah naik lumayan, namun kecuali untuk saham konglo, maka secara valuasi mereka masih terdiskon. And yes, bapak bisa membelanjakan seluruh cash dari sekarang karena sekali lagi, IHSG pada saat ini memang sudah turun.
Sedangkan untuk saham-saham lainnya bisa tetap hold saja sambil tunggu sampai April, atau
paling lambat Mei nanti, dimana pada saat itulah saya perkirakan ketegangan di
Timur Tengah akan mereda, harga minyak akan tidak lagi fluktuatif (mungkin
tetap naik, tapi tidak sampai $100 per barel), dan barulah pasar akan
pulih/IHSG juga naik. Mungkin perlu juga dicatat bahwa ketika nanti IHSG akhirnya
berbalik naik, maka naiknya hanya sampai 7,500 – 8,000 saja, tapi kali ini
dengan kenaikan yang lebih sehat karena ditopang oleh kenaikan saham-saham
fundamental, bukan lagi saham konglo. Sehingga asalkan bapak tetap memilih saham-saham fundamental tersebut, dalam hal ini yang kinerja laporan keuangannya bagus dan valuasinya juga masih diskon, maka pada akhirnya nanti bapak nanti akan kembali profit besar. Semoga lancar!
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi terbaru Q4 2025 sudah terbit dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.

Komentar