Daftar Saham Batubara Yang Masih Undervalued, Potensi Naik Banyak
Pak Teguh ada yang bilang di tahun 2026 ini harga batubara akan naik, dan jika demikian maka kinerja emiten tambang batubara akan diuntungkan, dan sahamnya juga akan ikut naik. Tapi setelah saya cek, ternyata banyak saham batubara yang sudah naik duluan. Apakah masih ada peluang investasi di sektor ini pak? Atau kita kejar kereta saja di saham batubara yang sudah naik tersebut?
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q4 2025 sudah terbit dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.
***
Jawab:
Sebelum kita ke kesimpulan soal apakah benar harga batubara akan naik atau tidak hingga setahun ke depan, pertama-tama kita cek dulu situasinya hari ini. Saat ini (10 Februari 2026), harga batubara termal Newcastle Australia tercatat $115 per ton, naik cukup signifikan dari posisi terendahnya dalam setahun terakhir di $93, bulan April 2025 lalu, tapi masih lebih rendah dibanding harga tahun 2021 s/d 2024 yang tercatat sekitar $150, malah sempat tembus $400 per ton pada tahun 2022. Jadi harga batubara pada saat ini terhitung masih rendah, tapi di sisi lain tren penurunannya sudah mulai berbalik menjadi kenaikan sejak sekitar sepuluh bulan terakhir.
Kemudian, kembali pada tahun 2022 lalu, harga batubara meroket sangat tinggi hingga tembus $400 karena efek perang Rusia – Ukraina ketika itu, yang menyebabkan semua negara memboikot ekspor asal Rusia termasuk ekspor batubara, tapi akibatnya pasokan batubara itu sendiri di seluruh dunia turun tajam (karena Rusia ini salah satu eksportir batubara terbesar), dan alhasil harganya naik. Memasuki 2023, kekurangan pasokan itu akhirnya bisa dipenuhi oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia, yang sukses menaikkan volume produksi batubaranya. Dan alhasil harga batubara mulai turun, awalnya ke $150 per ton lalu lanjut turun hingga mentok di $93 per ton pada April 2025 lalu.
Lalu seperti disebut diatas, setelah April 2025 tersebut maka kesininya harga batubara naik lagi, dimana saya melihat beberapa penyebab. Pertama, di luar anomali kenaikan pada tahun 2022, maka harga batubara sebenarnya sudah sejak tahun 2008 lalu belum kemana-mana lagi di kisaran $100 per ton, dan itu adalah karena pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di seluruh dunia secara bertahap beralih dari menggunakan batubara ke energi baru dan terbarukan (EBT). But here’s the problem: Kebutuhan listrik itu sendiri terus tumbuh sampai hari ini, dan dengan pertumbuhan yang lebih cepat dibanding proses transisi dari batubara ke EBT, terutama setelah booming artificial intelligence (AI) yang membutuhkan energi listrik terus menerus untuk mengoperasikan data center untuk menghasilkan AI tersebut. Hal ini kemudian memaksa Pemerintah di banyak negara maju untuk menunda mempensiunkan PLTU batubara, dan alhasil permintaan akan batubara kembali meningkat. Di sepanjang tahun 2024 lalu, China mengimpor total 543 juta ton batubara dari seluruh dunia, terbesar sepanjang sejarah, meskipun volume produksi batubara di dalam negeri juga mencapai rekor 4.7 miliar ton, sehingga menunjukkan bahwa kebutuhan batubara di dalam negeri di China masih sangat tinggi. Remind you bahwa China merupakan salah satu dari negara yang serius beralih dari energi fosil ke EBT, but still konsumsi batubaranya tetap naik, kemungkinan karena adanya kebutuhan tambahan listrik untuk operasional data center/AI itu tadi.
Lanjut kedua, masih terkait EBT, maka untuk membangun misalnya pembangkit listrik tenagar surya maka dibutuhkan panel surya. Dan untuk membangun pembangkit listrik tenaga angin maka dibutuhkan turbin. Bagaimana dengan tenaga air? Sama, dibutuhkan turbin, baterai, dan generator. Okay, lalu panel surya dan turbin itu dibuat dari apa? Dari baja stainless steel. Dan bagaimana cara membuat baja? Ya dengan smelter yang mengolah bijih besi dan nikel menjadi baja, menggunakan bahan bakar batubara metalurgi (coking coal). Jadi itulah kenapa harga coking coal dalam setahun terakhir juga naik tinggi, dari $170 hingga sekarang $233 per ton. Kemudian terkait booming AI, maka karena untuk membangun gedung data center juga dibutuhkan besi dan baja (untuk konstruksi gedungnya), alumunium (untuk rak server komputer), hingga tembaga (untuk kabel-kabelnya), dimana smelter untuk mengolah semua jenis logam tersebut masih menggunakan coking coal, maka diperkirakan harga batubara metalurgi ini masih akan naik lebih tinggi lagi. Dan pada titik tertentu itu akan membuat harga batubara termal ikut naik, karena smelter-smelter itu biasanya juga membeli batubara termal untuk dicampur (blending) dengan batubara metalurgi, untuk menghasilkan kalori sesuai kebutuhan.
Nah, jadi kesimpulannya, harga batubara kemungkinan akan lanjut naik, perkiraan kembali ke level $150 per ton seperti di tahun 2023 lalu, dan jika benar demikian maka itu akan berdampak positif ke kinerja keuangan dari emiten batubara di BEI, dan alhasil sahamnya akan naik. Risikonya disini adalah, pertama, jika terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di India dan China, yang notabene merupakan dua negara konsumen batubara terbesar di dunia, dimana itu akan menurunkan permintaan batubara itu sendiri. Dan kedua, meskipun batubara metalurgi merupakan bahan bakar utama untuk smelter logam, tapi ada bahan bakar alternatifnya yakni gas alam (natural gas). Dan harga gas alam ini sangat fluktuatif, dimana jika harga gas turun ke level tertentu, maka itu bisa menyeret harga batubara metalurgi untuk ikut turun.
Namun demikian untuk saat ini saya menilai bahwa risiko terjadinya dua hal di atas terhitung rendah, jadi prediksinya masih bahwa harga batubara baik itu termal maupun metalurgi akan sama-sama naik hingga akhir 2026 nanti.
Jadi sekarang tinggal soal sahamnya, dan sayangnya betul seperti yang bapak bilang, ada banyak saham batubara yang naik duluan. Contohnya Bumi Resources (BUMI), Indika Energy (INDY), Petrosea (PTRO), dan seterusnya. Tapi jika bapak perhatikan, saham-saham tersebut naik bukan karena perusahaannya bergerak di bidang batubara, melainkan karena pemiliknya merupakan konglomerat, dimana BUMI dimiliki Grup Bakrie (Anindya Bakrie), INDY dimiliki Grup Indika (Agus Lasmono Sudwikatmono), dan PTRO dimilik Grup Barito (Prajogo Pangestu). Sehingga ketiga saham tersebut naik lebih karena faktor ‘saham konglo’, bukan karena faktor batubaranya. Dan saya tidak rekomen untuk mengejar kereta di tiga tersebut karena, terlepas dari fundamental ataupun prospeknya, tapi bapak bisa lihat sendiri kalau saham-saham konglo tersebut bisa naik dan sebaliknya juga bisa turun dengan sangat cepat, kadang sampai ARB (autoreject bawah), dan alhasil risikonya menjadi sangat tinggi.
Nah, tapi untungnya ada juga emiten batubara di BEI yang tidak dimiliki oleh grup konglomerat, dan alhasil harganya masih belum naik banyak dalam setahun terakhir, sehingga valuasi sahamnya masih terdiskon, dan dengan dividend yield yang juga sangat besar/mencapai lebih dari 10% per tahun. Contohnya? Well, langsung saja: PT Bukit Asam (PTBA), Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Alamtri Resources Indonesia (ADRO). Untuk yang disebut terakhir sebenarnya juga dimiliki oleh konglomerat (Grup Saratoga), tapi untungnya untuk konglo yang satu ini maka mereka jarang goreng-goreng saham, dan actually justru sangat royal dividen, jadi kita bisa ikut masuk.
![]() |
| Logo PT Indo Tambangraya Megah, Tbk |
Kemudian, kalau bapak mau ‘babat alas’ dengan masuk emiten batubara yang lebih kecil, yang karena valuasinya lebih murah lagi maka sahamnya notabene bisa naik lebih tinggi jika kinerjanya nanti benar tumbuh lagi seiring kenaikan harga batubara, maka bisa cek nama-nama berikut: Mitrabara Adiperdana (MBAP), Resource Alam Indonesia (KKGI), dan Harum Energy (HRUM). Namun perlu dicatat bahwa, kecuali HRUM, sahamnya biasanya kurang likuid, jadi bisa beli dalam jumlah kecil saja dulu.
Anyway, nanti kita akan bahas lebih lengkap lagi ketika emiten-emiten
yang disebut diatas sudah merilis laporan keuangan terbarunya masing-masing.
***
Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Sabtu 21 Februari 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk bergabung klik disini.

Komentar