Daftar Saham Yang Diuntungkan Perang Iran – Amerika Serikat

Hari Rabu, 4 Maret 2026, IHSG sempat halt karena turun -5.0%, sebelum kemudian sedikit membaik dengan hanya turun -4.6% ke posisi 7,577. Menariknya, berbeda dengan penurunan 28 – 29 Januari lalu ketika isu soal MSCI meledak dimana ada banyak saham yang auto reject bawah (ARB), maka kemarin itu saham-saham relatif turun sedikit saja, misalnya Bank BCA (BBCA) yang hanya turun -2.8% ke Rp6,875. Di sisi lain meski pada hari Rabu tersebut saham-saham minyak dan batubara juga sama turun, tapi jika dihitung sejak 6 bulan terakhir maka mereka masih naik signifikan.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi terbaru Q4 2025 sudah terbit dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.

***

Simpelnya, meski penurunan IHSG memang tampak sangat tajam (dari all time high-nya di 9,174, berarti sudah turun -17.4%), tapi sebenarnya kalau anda cermat maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dan investor bisa tetap profit asalkan kita memilih saham yang tepat. Nah, tapi tentu pertanyaannya sekarang, saham yang tepat itu apa saja? Sebelum kesitu, mari kita pelajari lagi situasi terbaru geopolitik, dll.

Pertama, isu terbesar di awal Maret ini adalah perang Amerika Serikat (US) vs Iran, yang seketika mendorong harga minyak untuk naik dari $60 hingga saat ini $76 per barel, dan bisa naik lebih tinggi lagi jika perangnya berkepanjangan, dimana itu kemudian akan menimbulkan krisis energi di seluruh dunia. Yang perlu dicatat, berbeda dengan militer Venezuela yang langsung menyerah ketika Presiden Maduro ditangkap, maka Iran masih memiliki Pemerintahan serta militer yang berfungsi penuh meskipun Ali Khamenei sendiri tewas kemarin, yang dipimpin oleh Dewan Kepemimpinan beranggotakan tiga pejabat, yakni Presiden Masoud Pezeshkian, anggota Guardian Council (semacam MPR kalau di Indonesia) Alireza Arafi, dan Chief Justice Gholam-Hossein Mohseni. Dibawah dewan inilah, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) sampai hari ini masih memberikan perlawanan sengit terhadap agresi militer US di Tehran, Selat Hormuz, dan juga wilayah-wilayah penting lainnya di seluruh negara Iran.

Dan memang Presiden Trump sendiri sudah menyatakan bahwa operasi militer di Iran akan berlangsung selama setidaknya 4 – 5 minggu, yang itu artinya harga minyak tidak akan langsung normal lagi dalam waktu dekat, melainkan bisa lanjut naik sampai mungkin $100 per barel. Dan khususnya bagi Indonesia maka itu akan menjadi kabar buruk, karena kita merupakan importir minyak. Perlu dicatat bahwa APBN Indonesia untuk 2026 ini disusun berdasarkan asumsi harga minyak $70 per barel, dan defisit 2.50% terhadap produk domestik bruto (PDB), yang mana itu masih lebih baik dibanding defisit tahun 2025 sebesar 2.92%. Tapi jika harga minyak naik ke misalnya $90 per barel, maka defisitnya bisa melebar ke 3.6% PDB, pertumbuhan ekonomi akan tertekan, dan kurs Rupiah yang sejak awal sudah lemah akan melemah lebih lanjut. Penulis sendiri tidak melihat bahwa Indonesia akan jatuh krisis seperti 2008 apalagi 1998, masih jauh dari itu. Tapi, kecuali Pemerintah meluncurkan stimulus ekonomi atau semacamnya, maka kinerja para emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemungkinan masih akan tertekan di tahun 2026 ini.

Lalu kedua, terkait pasar saham itu sendiri. Kita tahu bahwa IHSG sejak awal bisa naik tinggi sampai 9,000an hanya karena didorong oleh kenaikan ‘saham konglo’, yang naik dan turun bukan karena kinerja laporan keuangannya bagus, atau dividennya besar atau semacamnya, melainkan karena ‘pemiliknya siapa’. Anda mungkin memperhatikan saham-saham tertentu yang naik sangat tinggi hingga valuasinya menjadi absurd, simply hanya karena perusahaannya dimiliki/diakuisisi oleh grup konglomerat tertentu. Dan dalam pandangan institusi asing, ini tidak wajar, apalagi pergerakan IHSG juga sampai ikut ‘dikendalikan’ oleh saham-saham konglo tersebut.

Jadi karena itulah, pada 28 Januari 2026, MSCI (Morgan Stanley Capital International) merilis pengumuman dimana pada intinya mereka mengancam akan menurunkan status Indonesia dari sebelumnya emerging market menjadi frontier market. Atau simpelnya, saham Indonesia akan dianggap menjadi tidak layak investasi, karena mereka menganggap pasar saham disini tidak transparan terutama soal data pemegang saham (ada sejumlah perusahaan Tbk yang hampir seluruh sahamnya dipegang oleh pemegang saham yang itu-itu saja), dan adanya dugaan coordinated trading behavior, alias manipulasi harga saham oleh para bandar saham. Pengumuman ini kemudian menyebabkan aksi jual asing besar-besaran di BEI, yang seketika menjatuhkan IHSG. Merespon hal ini maka OJK dan BEI kemudian meluncurkan sejumlah kebijakan, seperti menaikkan aturan batas free float (persentase saham beredar yang dipegang investor publik) menjadi 15% dari sebelumnya 7.5%, meminta perusahaan untuk merilis informasi ultimate beneficiary/nama individu pemilik akhir perusahaan, dan terakhir merilis nama-nama pemegang saham dengan kepemilikan 1% atau lebih di tiap-tiap emiten. Kemudian OJK sendiri menghukum denda kepada influencer yang dianggap menjadi bandar saham, dan Bareskrim Polri juga menggerebek sejumlah kantor sekuritas dan emiten, yang diduga turut terlibat dalam aksi manipulasi harga saham.

Nah, penulis tidak tahu apakah pihak MSCI akan puas atau tidak dengan semua tindakan ‘bersih-bersih’ di atas, namun selama prosesnya masih berlangsung maka IHSG kemungkinan memang masih akan lanjut turun, karena ingat bahwa sejak awal IHSG bisa naik tinggi ya karena saham gorengan. Tapi dengan sekarang aktivitas manipulasi/goreng saham oleh bandar berkurang maka saham gorengan itu mau tidak mau akan turun, termasuk yang market cap-nya sangat besar mencapai ratusan triliun Rupiah, dan itu akan menyeret IHSG untuk turun.

IHSG Turun Bukan Berarti Semua Saham Turun

Jadi dengan demikian kita punya dua masalah disini, yakni risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi di dalam negeri karena situasi perang yang berimbas pada penurunan kinerja emiten, dan juga terkait perkembangan pasar saham itu sendiri, yang meski penulis percaya bahwa BEI kedepannya akan lebih transparan dll, tapi prosesnya akan butuh waktu. Ibarat orang sakit minum obat maka memang nanti akan sembuh, tapi dia tidak akan langsung sembuh di hari yang sama. Problemnya, seperti yang bisa anda lihat ketika Rabu, 4 Maret kemarin IHSG jeblok -4.6%, maka BBRI misalnya yang sama sekali bukan ‘saham konglo’ ternyata ikut turun -2.1%, karena investor mau tidak mau bakal panik. Dengan kata lain jika IHSG misalnya lanjut turun ke 7,000 maka hampir pasti saham-saham anda akan ikut turun turun, tak peduli apakah itu saham konglo atau bukan.

Kabar baiknya, kalau kita lihatnya dalam jangka waktu agak panjang, maka seperti disebut diatas, saham-saham minyak dan batubara tetap terhitung naik signifikan dalam 6 bulan terakhir (meskipun IHSG dalam 6 bulan terakhir kembali terhitung minus, yakni setelah turun sejak Januari lalu), dan itu bukan tanpa alasan. Pertama, kenaikan harga minyak tentunya akan menjadi sentimen positif bagi saham minyak dan gas itu sendiri, seperti Elnusa (ELSA), Medco Energi (MEDC), dan Pertamina Gas Negara (PGAS). Dan kedua, setiap kali harga minyak naik maka biasanya harga batubara juga akan ikut naik, dan itu akan menjadi sentimen positif bagi saham-saham batubara seperti (yang sudah dijelaskan tanggal 10 Februari kemarin disini)  PT Bukit Asam (PTBA)Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Alamtri Resources Indonesia (ADRO).

Sehingga, yes, IHSG mungkin akan lanjut turun, tapi saham-saham yang disebut diatas sebaliknya mungkin akan lanjut naik, tergantung yang mana yang kinerja laporan keuangannya paling bagus, dividennya paling besar, dst. Pada tahun 2022 lalu, IHSG secara keseluruhan hanya naik 4.1%, tapi hampir semua saham batubara ketika itu naik sampai ratusan persen, dan itu bukan karena digoreng bandar tapi memang murni faktor fundamental. Jadi penulis perkirakan bahwa untuk tahun 2026 ini, situasinya akan sama demikian.

Tinggal soal risikonya, dimana ada juga kemungkinan harga minyak akan langsung turun lagi jika Trump sukses ‘membereskan’ Iran sesuai jadwal, atau lebih cepat, dan jika demikian maka ELSA dkk akan turun lagi. Kemudian untuk saham-saham batubara, maka saat ini ada ketidakpastian terkait penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) oleh Pemerintah, dimana pada intinya perusahaan-perusahaan tambang mungkin harus menurunkan volume produksinya di tahun 2026 ini, dan jika demikian maka pendapatannya tentu akan turun bahkan meskipun harga batubara naik. Saat ini proses negosiasi RKAB itu sendiri masih berjalan, dan jika nanti muncul berita bahwa kuota produksi perusahaan A dipangkas, maka sahamnya bisa langsung turun.

Terlepas dari itu, maka sudah sejak Q3 2025 lalu penulis masih melihat bahwa sektor sumber daya alam seperti kelapa sawit, tambang emas, nikel, dan batubara, akan bisa menjadi ‘penyelamat’ ekonomi Indonesia, dan sampai hari ini pendapat saya masih sama, tak peduli meski outlook IHSG itu sendiri terbilang suram (jangankan ke 10,000, buat balik ke 9,000 juga susah, tidak dalam waktu dekat ini). Sehingga asalkan bisa fokus ke sektornya dan bukan ke IHSG itu sendiri, maka kita semua akan tetap bisa profit signifikan tahun ini. Mudah-mudahan!

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi terbaru Q4 2025 sudah terbit dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q4 2025 - Sudah Terbit!

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 13 Desember 2025

Live Webinar Investasi Saham Indonesia, Sabtu 28 Februari

Cara Profit Maksimal Dari Investasi Emas

Daftar Saham Batubara Yang Masih Undervalued, Potensi Naik Banyak

Prediksi Kinerja Laporan Keuangan BBCA, BBRI, BMRI, BBNI