Kenapa Saham IPO Bisa ARA? Gimana Kalau Saya Ikut Beli?

Pak Teguh saya perhatikan belakangan ini di BEI ada banyak saham IPO, dan hampir semuanya ARA, padahal IHSG sendiri masih turun. Kok bisa ya pak? Apakah ini karena ritel FOMO di saham-saham tersebut?

**

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 akan terbit tanggal 9 Agustus, dan sudah bisa dipesan disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

***

Jawab:

Betul sekali pak. Jadi di bulan Juli 2026 ini ada enam emiten sekaligus yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan terakhir PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS). Dan betul hampir semuanya langsung naik auto reject atas (ARA) di hari perdagangan perdana mereka masing-masing, tapi itu bukan karena investor ritel ramai-ramai membelinya di pasar. Melainkan, penjelasannya sebagai berikut: Ketika ada perusahaan hendak menggelar initial public offering alias IPO, maka mereka akan menunjuk perusahaan sekuritas sebagai penjamin emisi untuk mengurus perizinan dll, termasuk menjamin bahwa seluruh saham yang ditawarkan ke publik akan laku terjual, dan perusahaan kemudian memperoleh dana tambahan modal sebesar yang ditargetkan. Contoh, RANS butuh tambahan modal sekian ratus miliar Rupiah untuk ekspansi usaha, dan setelah berkonsultasi dengan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk sebagai penjamin emisi, akhirnya disepakati bahwa perusahaan melepas 2.5 miliar lembar saham pada harga Rp170 per saham, sehingga akan diperoleh dana Rp429 miliar.

Kemudian disinilah masalahnya: Tidak semudah itu bagi pihak penjamin emisi untuk secara sekaligus menjual sekian miliar lembar saham ke publik, karena biasanya investor publik itu sendiri tidak begitu peduli dengan apakah perusahaannya untung atau rugi, dst. Melainkan, yang mereka lihat hanyalah apakah nanti di market sahamnya akan naik atau turun, dimana kalau sahamnya naik maka mereka akan masuk, sedangkan kalau turun maka ya mereka gak jadi masuk.

Jadi dari sinilah, kalau mau IPOnya sukses/diborong ritel maka sahamnya harus naik tinggi di hari perdagangan perdana, bahkan kalau bisa langsung ARA. Caranya? Ini nih: Penjamin emisi akan tetap memegang hampir seluruh saham yang ditawarkan, dan kepada investor ritel yang ikut IPO-nya justru hanya dikasih sedikit saja. Misal ada investor beli 1,000 lot, tapi cuma dikasih 1 lot. Kemudian begitu sahamnya melantai di bursa, maka penjamin emisi ini atau siapapun itu (yang biasa disebut sebagai 'bandar') akan langsung pasang bid tebal di harga ARA, untuk bikin kesan bahwa demand investor terhadap sahamnya sangat tinggi. Lalu karena hampir tidak ada pihak lain yang jual (ya siapa yang mau jual? Lha wong hampir semua sahamnya masih dipegang mereka-mereka sendiri), maka otomatis sahamnya akan langsung ARA. Barulah setelah itu peristiwa ARA tersebut akan diberitakan dimana-mana, misalnya dengan headline ‘Emiten ABCD melantai di bursa, sahamnya langsung mentok atas!’. Kemudian investor yang ikut IPO-nya juga akan secara naluriah pamer profit mereka di media sosial, dan alhasil itu akan bikin investor ritel lainnya penasaran untuk masuk, tak peduli meski pada harga yang lebih tinggi (karena sahamnya ARA), yakni karena berpikir bahwa bisa jadi besok-besok sahamnya bakal ARA lagi.

And therefore, tidak lagi sulit bagi pihak penjamin emisi untuk menjual sekian miliar lembar saham itu tadi, termasuk pihak perusahaan juga akan memperoleh dana sebesar yang ditargetkan.

Sharing screenshot portofolio salah satu trader ritel yang beli saham IPO. Perhatikan bahwa meski persentase kenaikannya sangat tinggi, tapi nilai keuntungannya dalam Rupiah sebaliknya sangat kecil, yakni karena si investor hanya pegang sebanyak beberapa lot.

Sehingga itulah kenapa saham IPO hampir pasti akan langsung ARA, tak peduli perusahaannya bergerak di bidang apa, tak peduli prospeknya cerah atau suram, dan bahkan tak peduli IHSG sedang bullish atau bearish. Kemudian kalau ada investor ritel yang ikut beli sahamnya di market pada harga ARA-nya, maka dia bisa profit besar jika besok-besok sahamnya kembali di-ARA-kan, tapi bisa juga sebaliknya rugi besar jika dia masuknya telat, yakni jika sahamnya sudah naik cukup tinggi dan pihak bandarnya mulai jualan. Bapak bisa lihat sendiri, dari beberapa saham IPO diatas sudah ada yang sudah langsung turun lagi hingga auto reject bawah (ARB), dalam dua hari terakhir.

Bagaimana dengan MSCI??

Okay Pak Teguh, tapi kalau benar bahwa saham-saham IPO bisa ARA bukan karena beneran diborong investor publik, melainkan karena cara-cara yang bapak tulis diatas, maka bukannya itu yang dipermasalahkan oleh MSCI kemarin itu ya pak? Yes, pak. Karena dalam hal ini saham-saham IPO tersebut terindikasi high shareholding concentration, free float yang secara riil-nya lebih rendah dari aturan batas minimal 15%, serta ada dugaan coordinated trading, dimana hal-hal itulah yang membuat MSCI sampai hari ini masih mengancam akan menurunkan status pasar saham Indonesia dari emerging ke frontier market. Namun saya juga melihat beberapa hal. Pertama, praktik seperti ini sudah berjalan lama, dimana sejak dulu sebelum era Covid, di BEI selalu terdapat puluhan saham IPO setiap tahunnya, tapi selama itu MSCI gak protes apa-apa, and why is that? Karena MSCI hanya akan memasukkan saham-saham dengan market cap jumbo, serta nilai transaksi yang juga likuid (minimal Rp100 – 200 miliar per hari) ke dalam indeks mereka. Jadi kalau ada saham baru IPO terus harganya dikerek naik sampai market capnya misalnya tembus Rp10 atau 20 triliun, dan dengan nilai transaksi yang juga kecil, maka itu gak jadi masalah karena pihak MSCI akan otomatis mengabaikannya.

Barulah setelah era Covid di tahun 2020, ceritanya mulai berbeda: Ada banyak saham IPO atau saham backdoor listing milik grup konglomerat tertentu (sehingga disebut ‘saham konglo’) yang harganya dikerek naik sedemikian tingginya hingga market cap mereka tiba-tiba saja mencapai ratusan triliun Rupiah sehingga otomatis masuk radar MSCI, dan beberapa dari saham konglo tersebut kemudian beneran masuk indeks MSCI. Alhasil pada bulan Februari 2025, MSCI untuk pertama kalinya menyebut bahwa saham Indonesia memiliki investability issues karena hal ini (baca lagi ceritanya disini), tapi pada saat itu belum ada tindakan apa-apa dari pihak otoritas bursa. Malah seperti yang bisa bapak lihat, di sepanjang tahun 2025 itu justru ada lebih banyak lagi saham-saham konglo lainnya yang ikut naik sangat tinggi, hingga turut mengerek IHSG untuk naik ke all time high di 9000an.

Dan alhasil pada Januari 2026 kemarin, MSCI akhirnya mengancam akan menurunkan Indonesia ke frontier, dan barulah setelah itu BEI dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan serangkaian reformasi, pembaharuan aturan-aturan, serta rilis data informasi sesuai tuntutan MSCI. Tapi imbasnya seperti yang kita ketahui IHSG langsung anjlok, dan belum pulih lagi sampai sekarang karena, berdasarkan review terakhirnya di bulan Juni kemarin, MSCI masih membuka kemungkinan untuk men-downgrade Indonesia ke frontier (baca disini).

Sehingga, balik lagi ke saham-saham IPO di bulan Juli 2026 ini, maka jika sahamnya dikerek naik sangat tinggi hingga market capnya juga tembus ratusan triliun Rupiah, maka disitulah MSCI mungkin akan kembali kasih warning ke pihak otoritas, dan Bursa Efek Indonesia mungkin akan benar-benar turun kasta ke frontier. Tapi jika saham-saham IPO tersebut tidak dikerek naik sampai setinggi itu, maka harusnya itu tidak jadi masalah karena saham-saham tersebut tidak akan masuk radar MSCI.

Lalu kedua, hingga IPO RANS hari ini, 10 Juli 2026, maka baru ada 7 saham IPO di sepanjang 2026, jauh lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya yang sempat mencapai 80 IPO pada tahun 2023, dan tidak ada dari 7 saham tersebut yang market cap-nya mencapai Rp100 triliun, bahkan Rp10 triliun pun tidak. Jadi sepertinya pihak otoritas bursa mengambil jalan tengah disini: Kalau banyak IPO dengan market cap jumbo seperti biasanya maka itu berisiko bikin MSCI kembali merilis warning, tapi kalau gak ada IPO sama sekali maka itu gak bagus juga, karena nanti kesannya pasar saham kita ‘tutup’. Karena kita tahu bahwa di bursa saham negara lain manapun akan selalu ada emiten baru yang IPO setiap tahunnya.

Kesimpulannya pak, bapak bisa abaikan saham-saham IPO tersebut, mau dia ARA atau ARB biarkan saja, dan juga tidak perlu khawatir MSCI akan kembali protes karenanya. Jadi bapak bisa tetap fokus berinvestasi di saham-saham berfundamental bagus seperti biasanya, contohnya Bank BSI (BRIS) yang baru saja kita bahas minggu lalu, dan nanti kita akan bahas lagi kalau ada saham-saham bagus lainnya lagi. Just stay tuned!

***

Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Multibagger Edition. Sabtu 18 Juli 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q2 2026 - Terbit 9 Agustus

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar Saham Indonesia: Peluang Multibagger! Sabtu 18 Juli

Saya Sudah All In di Saham, Tapi IHSG Malah Turun Lagi??

Daftar Saham Yang Diuntungkan Program MBG

Kabar Baik Untuk Pemegang Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI

IHSG Bakal Crash ke 4,700??