Analisa Hasil Review Terbaru MSCI, dan Dampaknya Terhadap IHSG

Hari Selasa, 13 Mei kemarin, MSCI kembali mengumumkan hasil rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026, dimana mereka tidak memasukkan nama baru dan sebaliknya mengeluarkan beberapa nama dari global standard indeks, yakni Amman Mineral Internasional (AMMN), Barito Renewables (BREN), Chandra Asri Pacific (TPIA), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), serta menurunkan posisi Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) ke small cap indeks. Imbasnya ketika ulasan ini dibuat saham-saham tersebut turun signifikan hingga belasan persen. Kemudian karena market cap AMMN dkk ini sangat besar mencapai ratusan triliun Rupiah, maka praktis penurunan mereka menyeret IHSG untuk ikut turun ke posisi 6,700an, dimana ini mungkin bikin investor panik. Nah, tapi bagaimana kalau penulis bilang bahwa, bagi investor fundamentalis/value investor, maka ini justru kesempatan yang sangat baik untuk buy??

Aaand yes, I meant it. Tapi sebelum ke kesimpulan diatas maka mari kita lihat lagi kronologi drama MSCI ini, efeknya ke IHSG, serta perkiraan aftermath-nya ke depan, sebagai berikut.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Diskon selama IHSG masih di bawah 8,000, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

***

Jadi kembali ke tanggal 28 Januari 2026, ketika MSCI merilis pengumuman dimana mereka mengancam akan menurunkan rating Indonesia menjadi ‘tidak layak investasi’, karena mereka melihat pasar saham disini tidak transparan terutama soal data pemegang saham, dan adanya dugaan coordinated trading behavior alias aksi manipulasi harga saham oleh para bandar saham. Sebelumnya, MSCI (Morgan Stanley Capital International) adalah perusahaan jasa keuangan asal Amerika Serikat (US) yang cara kerja mereka adalah menerbitkan indeks yang berisi daftar saham pilihan di tiap-tiap negara, termasuk Indonesia, yang akan diperbaharui setiap beberapa waktu sekali, dimana investor dan fund manager di seluruh dunia akan melihat daftar saham tersebut sebagai panduan terkait saham apa saja yang akan mereka beli di negara yang bersangkutan. Jadi itulah kenapa setiap kali ada MSCI mengumumkan hasil rebalancing indeks dengan memasukkan dan sebaliknya mengeluarkan saham-saham tertentu ke dalam indeks MSCI Indonesia, maka di hari pengumumannya (atau besoknya, yakni jika pengumumannya dilakukan di malam hari waktu Indonesia) saham yang masuk indeks harganya akan naik, dan sebaliknya saham yang keluar harganya akan turun. Yakni karena investor asing akan membeli saham yang masuk indeks tersebut, dan sebaliknya menjual saham yang keluar.

Nah, jadi ketika MSCI merilis ‘ancaman’ diatas maka praktis itu bikin investor asing kabur dari Bursa Efek Indonesia (BEI), demikian pula IHSG langsung crash dari 9,000 hingga tembus dibawah 8,000, pada awal Februari 2026. Merespon hal tersebut maka sejumlah petinggi BEI dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengundurkan diri, diganti dengan pejabat baru. Dan di tangan orang-orang baru ini BEI kemudian meluncurkan sejumlah kebijakan reformasi bursa, seperti menaikkan aturan batas free float (persentase saham beredar yang dipegang investor publik) dari sebelumnya 7.5% menjadi 15%, mewajibkan emiten untuk merilis informasi ultimate beneficiary aka nama individu pemilik akhir perusahaan, merilis nama-nama pemegang saham dengan kepemilikan 1% atau lebih di tiap-tiap emiten (sebelumnya yang dirilis hanya pemegang saham dengan kepemilikan 5% atau lebih), memperbaharui data klasifikasi investor dari sebelumnya 9 menjadi 27 tipe investor (investor perorangan, private equity, bank, asuransi, dst hingga totalnya 27 tipe investor), dan terakhir merilis daftar saham yang terindikasi high shareholding concentration (HSC). Yang dimaksud dengan HSC adalah sbb: Misal emiten A memiliki 1 miliar lembar saham beredar yang dimiliki oleh 10,000 pemegang saham berbeda, termasuk investor publik, namun 900 juta lembar atau 90% diantaranya dimiliki oleh 100 pemegang saham saja, dan imbasnya naik turunnya saham A ini ditentukan oleh 100 orang/institusi tersebut, sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya aksi manipulasi harga saham.

Dan tidak hanya BEI, namun OJK juga menghukum denda kepada influencer yang dianggap menjadi bandar saham, dan bahkan melibatkan Bareskrim Polri untuk menggerebek sejumlah kantor sekuritas dan emiten, yang diduga turut terlibat dalam aksi manipulasi harga saham.

Kemudian perlu dicatat bahwa kesemua ‘aksi bersih-bersih’ diatas tidak dilakukan secara sekaligus dalam satu waktu melainkan bertahap, sembari di waktu yang sama pihak BEI dan OJK juga rutin berkomunikasi dengan pihak MSCI: Lihat nih, kita sudah melakukan ini dan itu, terus kalian maunya apa lagi? Sayangnya hingga pada 20 April 2026 kemarin, MSCI mengumumkan untuk kembali membekukan rebalancing saham Indonesia dimana mereka tidak memasukkan saham baru dalam indeks, dan hanya akan mengeluarkan beberapa saham. Pengumuman ini kemudian membuat asing jualan saham lebih banyak lagi dimana mereka mencatat net sell Rp49.9 triliun pada akhir bulan April, dan tentu saja IHSG juga jeblok lebih dalam lagi. Yang perlu dicatat, karena pada tanggal 20 April tersebut masih belum jelas soal saham apa saja yang akan dikeluarkan MSCI dari indeks, maka asing kemudian menjual saham-saham mereka secara acak, termasuk di saham-saham perbankan, dimana asing ini sejak awal pegang misalnya Bank BCA (BBCA) dalam jumlah besar. Jadi itulah kenapa pada ulasan terakhir tanggal 1 Mei kemarin, penulis menyebut bahwa, dengan mempertimbangkan valuasinya yang sudah sangat murah plus fundamentalnya juga masih bagus (kinerjanya laporan keuangan Q1 2026-nya masih bertumbuh), maka anda yang pegang saham-saham big banks pada titik ini bisa tetap hold, tapi karena di sisi lain asing masih jualan maka jangan dulu average down. Anda bisa baca lagi ulasannya disini, ketika itu IHSG berada di posisi 6,957, BBCA 5,850, Bank Mandiri (BMRI) 4,390, Bank BRI (BBRI) 2,990, dan Bank BNI (BBNI) 3,720.

MSCI Sudah Memperoleh Yang Mereka Butuhkan

Hingga tadi malam, MSCI akhirnya mengumumkan hasil rebalancing-nya dimana seperti disebut diatas, mereka mengeluarkan AMMN, BREN, TPIA, DSSA, dan CUAN dari indeks, dan sebaliknya mempertahankan BBCA, Astra International (ASII), Telkom (TLKM), dst di dalam indeks. Dan menurut penulis ini adalah kabar yang sangat baik bagi investor saham Indonesia itu sendiri, terutama bagi mereka aliran analisa fundamental/value investing, dan berikut penjelasannya: Sebelumnya, kriteria utama yang digunakan MSCI untuk menyeleksi saham-saham apa saja yang masuk indeks mereka adalah, 1. Market cap, dan 2. Likuiditas. Jadi itulah kenapa saham seperti AMMN, BREN, DSSA dst masuk indeks, karena market cap mereka sangaaaaat besar setelah harga sahamnya tiba-tiba saja naik sangat tinggi dalam waktu singkat (1 – 2 tahun), bahkan BREN sempat menjadi perusahaan Tbk terbesar di BEI dengan market cap yang lebih besar dibanding BBCA. However, kata kuncinya itu tadi: Market cap AMMN dkk menjadi sangat besar setelah sahamnya naik teramat sangat tinggi dan juga dalam waktu singkat, ketika di sisi lain tidak ada faktor analisa atau terjadi peristiwa tertentu (momen akuisisi, sentimen positif, kinerja laba bersih yang naik berlipat-lipat, dst) yang bisa menjelaskan kenaikan tersebut.

Maka dari sinilah pihak MSCI kemudian menduga adanya praktik coordinated trading behavior, tapi mereka tidak bisa menganalisanya lebih lanjut karena mereka tidak memiliki informasi yang cukup rinci soal saham AMMN dkk ini dipegang/dimiliki oleh siapa saja, karena pihak otoritas bursa memang tidak membuka informasi tersebut. Alhasil yang mereka lakukan pada 28 Januari lalu adalah mengancam untuk menurunkan rating bursa saham Indonesia itu sendiri, yakni jika BEI tidak membuka data HSC dll. Untungnya BEI kooperatif dengan membuka semua data yang diminta, dimana MSCI kemudian menggunakan data tersebut untuk me-review kembali saham-saham apa saja yang harus dikeluarkan, dan sebaliknya dipertahankan di dalam indeks MSCI Indonesia. Dan hasilnya, seperti disebut diatas, MSCI kali ini dengan tegas mengeluarkan AMMN dkk dari indeks, dan sebaliknya mempertahankan BBCA dkk di dalam indeks.

Dan menurut penulis sendiri, hasil review MSCI tadi malam menunjukkan bahwa MSCI sudah memperoleh sebagian besar informasi yang mereka butuhkan karena, kalau anda lihat lagi saham-saham yang dikeluarkan, maka itu adalah saham-saham yang sejak awal tidak lolos kriteria value investing/tidak layak buy dari sisi analisa fundamental, biasanya karena valuasinya teramat sangat mahal dengan PER ratusan kali, dan PBV belasan atau bahkan puluhan kali. Pihak BEI mungkin masih harus membuka data-data lainnya lagi agar MSCI tidak lagi membekukan index review dengan memasukkan saham-saham tertentu ke dalam indeks mereka, dan akhirnya mencabut ancamannya untuk menurunkan rating saham Indonesia. Tapi untuk saat ini, arahnya memang kesana. Pada bulan Juni nanti MSCI akan melakukan Market Accessibility Review, dilanjut review berikutnya pada tanggal 12 Agustus, dimana penulis perkirakan bahwa paling lambat pada bulan Agustus itulah, indeks MSCI Indonesia akan sudah ‘bersih’ dari saham-saham non fundamental. Dan investor asing kemudian akan masuk lagi kemari karena mereka juga akan sudah memiliki petunjuk yang clear soal saham apa saja yang layak buy, dan yang tidak.

Saham Fundamental Is Back!

Okay, jadi balik ke pertanyaan diatas, bagaimana situasi terkini drama MSCI ini? Jawab: Untuk saat ini masih belum benar-benar selesai 100%, karena pada review terakhirnya semalam MSCI hanya mengeluarkan saham-saham tertentu dari indeksnya, tapi belum kembali memasukkan saham-saham baru. Tapi kalau melihat saham-saham yang dikeluarkan yang masuk kategori non-fundamental (atau disebut juga saham konglo, karena perusahaannya dimiliki oleh grup-grup konglomerat yang itu-itu saja), maka itu menunjukkan bahwa pihak MSCI sudah memperoleh sebagian besar informasi yang mereka butuhkan. Okay, lalu dampaknya ke IHSG? Nah, sayangnya karena market cap AMMN dkk sangat besar, maka jika setelah ini sahamnya lanjut turun maka demikian pula IHSG juga akan terseret turun. Tapi kabar baiknya, pada titik ini jika IHSG turun maka bukan berarti semua saham akan turun, melainkan yang bakal turun ya saham-saham konglo itu saja. Contoh riil! Tanggal 30 April kemarin IHSG berada di posisi 6,957, BBCA 5,850, BMRI 4,390, BBRI 2,990, dan BBNI 3,720. Dan hari ini ketika analisa ini ditulis, IHSG turun -3.0% ke 6,745, sedangkan BBCA? Naik sedikit ke 6,075. Demikian pula BBRI naik ke 3,130, BBNI naik ke 3,840. Dan meskipun BMRI turun ke 4,210 (dari sebelumnya 4,390 di tanggal 30 April), tapi itu karena perusahaan kemarin bayar dividen final Rp377 per saham. Jadi jika dividennya turut dihitung, maka BMRI sejatinya juga naik ke posisi 4,587.

Terakhir, bagaimana kira-kira ending dari drama MSCI ini? Well, seperti disebut diatas MSCI akan mencabut pembekuan indeks rebalancing pada Juni (baca: Mereka akan kembali memasukkan saham-saham tertentu ke dalam indeks), atau paling lambat Agustus nanti, dimana pada saat itulah asing akan kembali belanja dimari dan kali ini mereka masuknya ke saham-saham fundamental, dimana itu kemudian akan bikin saham-saham tersebut naik. Kemudian pasar saham Indonesia sendiri batal turun kasta dari emerging menjadi frontier market, alias tetap layak investasi menurut MSCI. Di sisi lain harus penulis katakan bahwa IHSG mungkin akan lanjut turun, yakni jika AMMN, BREN dkk lanjut turun (karena ketika kemarin IHSG naik tinggi sampai 9,000an juga karena BREN dkk ini), but it’s not a problem at all! Karena toh sejak awal kita hanya pegang saham-saham fundamental, dimana harusnya mulai 2026 ini mereka bakal naik panggung lagi setelah beberapa tahun terakhir ini mereka kalah pamor. Benar atau tidak, kita lihat nanti.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disiniDiskon selama IHSG masih di bawah 8,000, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q1 2026 - Sudah Terbit!

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar Investasi Saham Indonesia, Sabtu 18 April

Peluang Profit di Tengah Anjloknya IHSG

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 13 Desember 2025

Prediksi Kinerja Laporan Keuangan BBCA, BBRI, BMRI, BBNI

Prospek Saham Trimegah Bangun Persada (NCKL) Seiring Pembangunan Smelter Baru