IHSG Bakal Crash ke 4,700??

Pak Teguh langsung saja, prediksi IHSG turun sampai berapa pak? Dan kapan kira-kira dia akan naik lagi? Jumat 22 Mei kemarin IHSG sempat tembus di bawah 6,000, apakah dia akan lanjut turun sampai 4,700? (ada influencer yang prediksi demikian). Kebetulan saya pegang cash dan ingin segera belanja, tapi masih ragu.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Diskon selama IHSG masih di bawah 7,500, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

***

Jawab:

Sebenarnya di tulisan terakhir tanggal 18 Mei kemarin, saya jelas menyebut bahwa kita tidak bisa memprediksi arah IHSG, kecuali bahwa pada akhirnya IHSG akan naik lagi. Tapi soal kapan IHSG akan berbalik naik, dan sebelum itu dia akan turun sampai berapa, then I have no idea.

Meski demikian, saya bisa sampaikan bahwa, pertama, sejak awal ketika kemarin IHSG naik sangat tinggi hingga ke 9,000an, maka itu bukan kenaikan yang wajar karena hanya ditopang oleh saham-saham tertentu saja yang disebut dengan ‘saham konglo’, dan bukan karena mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) naik. Penjelasannya bisa dibaca lagi disini, dimana di ulasan per tanggal 31 Agustus 2025 tersebut saya menulis bahwa IHSG di tahun 2025 bisa cetak all time high karena kenaikan yang sangat tinggi hingga ratusan persen dari saham-saham seperti DCII, DSSA, BRPT, hingga ANTM. Dan meski untuk saham yang disebut terakhir yakni ANTM, kenaikannya bisa dijelaskan karena memang kinerja laporan keuangannya sangat bagus (baca analisa ANTM disini), tapi untuk tiga saham lainnya maka tidak tidak ada faktor analisa atau terjadi peristiwa tertentu (momen akuisisi, sentimen positif, kinerja pendapatan atau laba yang naik berlipat-lipat, dst) yang bisa menjelaskan kenaikannya yang sangat tinggi tersebut. But still, karena saham-saham ini memiliki market cap yang sangat besar hingga ratusan triliun Rupiah, maka kenaikan mereka sukses mendorong IHSG untuk terus naik, sekali lagi, tak peduli meski ratusan saham-saham lainnya di BEI gak kemana-mana, atau bahkan ikut turun.

Nah, jadi jika nanti gilirannya saham-saham konglo ini berbalik turun maka IHSG juga akan turun, tak peduli meski saham-saham lainnya yang bukan konglo tidak ikut turun. Dan memang itulah yang terjadi sejak akhir Januari 2026 kemarin, dimana DSSA, BRPT, BREN, dan banyak lagi saham konglo lainnya nyungsep, yakni setelah MSCI kasih warning ke BEI terkait fenomena itu tadi: Ada banyak saham yang entah gimana ceritanya naik sangat tinggi, sehingga diduga itu karena coordinated trading behavior, aka digoreng bandar. Tapi masalahnya, bahkan setelah turun sangat dalam, namun market cap saham-saham konglo itu masih sangat besar. Contohnya BREN, saat ini dia berada di posisi 2,410, anjlok -80% dari puncaknya di 12,200, tapi market cap BREN pada harga 2,410 itu masih mencapai Rp322 triliun, aka masih lebih besar bahkan dibanding blue chip seperti TLKM, atau ASII. Yang itu artinya? Yup, jika BREN ini lanjut turun maka IHSG juga tetap akan terseret turun, tak peduli meski saham-saham lain yang bukan saham konglo tidak ikut turun.

Itu pertama, yakni bahwa naik dan turunnya IHSG tidak benar-benar mencerminkan arah pasar, karena hanya ditentukan oleh fluktuasi saham-saham konglo saja. Lalu kedua, ketika kemarin MSCI kasih warning terkait dugaan manipulasi harga saham, maka mereka kasih warning-nya ke BEI langsung, sekaligus mengancam akan menurunkan rating pasar saham Indonesia menjadi ‘tidak layak investasi’. Akibatnya investor asing panik dan menjual semua saham mereka di Indonesia, termasuk saham-saham yang bukan saham konglo. Dan inilah yang menjelaskan kenapa BBCA dkk tetap ikut turun ketika BREN dkk turun sejak Januari lalu sampai sekarang, dimana itu kemudian membuat IHSG turun lebih dalam lagi, hingga kemarin sempat tembus dibawah 6,000. Namun kabar baiknya, seperti yang sudah dibahas tanggal 13 Mei kemarin disini, pihak MSCI pada review terakhirnya di tanggal 12 Mei secara jelas mengeluarkan saham-saham seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, dan CUAN dari indeks mereka, dan sebaliknya mempertahankan BBCA, BBRI, dst di dalam indeks. Maka sejak tanggal 13 Mei itulah, investor asing sudah memiliki gambaran soal saham apa saja yang harus mereka hindari di BEI, dan saham apa saja yang bisa tetap mereka hold, atau beli lagi. Dan alhasil, boleh anda cek: Meskipun sejak 13 Mei tersebut IHSG kembali terjun bebas karena BREN dkk lanjut turun, tapi BBCA tetap bertahan di 6,000, BBRI bertahan di 3,000, dst.

Kesimpulannya, IHSG besok-besok bisa saja lanjut turun, yakni jika BREN dkk kembali turun, dan sebaliknya bisa berbalik naik, yakni jika BREN dkk rebound. Jadi balik lagi ke pertanyaan, IHSG akan turun sampai berapa? Dan kapan kira-kira dia akan naik lagi? Maka saya harus jawab, saya tidak tahu, sama seperti saya tidak tahu apakah BREN dkk besok bakal naik atau turun. Tapi saya bisa katakan bahwa, mau IHSG naik atau turun maka itu tidak lagi penting. Karena yang penting adalah bahwa saham-saham non konglo alias saham fundamental sudah tidak punya alasan untuk turun lebih dalam lagi. Tinggal tunggu isu MSCI ini akhirnya tuntas sama sekali, yakni ketika mereka tidak lagi membekukan index rebalancing untuk Indonesia, maka disitulah investor asing akan masuk, dan kali ini mereka masuknya di saham-saham fundamental alias BBCA dkk. Dan pada saat itulah, sahamnya akan naik tinggi.

Kemudian kabar baik berikutnya, untuk saham-saham perbankan besar (BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI) maka kinerja mereka di tahun 2026 ini kembali tumbuh setelah di 2025 kemarin laba bersih mereka tercatat flat, cenderung turun. Yang itu artinya investor asing punya alasan lebih besar lagi untuk kembali memborong sahamnya, segera setelah urusan MSCI ini clear nanti. Nah, tapi kalau kita tunggu pengumuman lanjutan yang bersifat positif dari MSCI lalu baru belanja saham, maka biasanya itu akan sudah terlambat. Jadi jika bapak pegang cash maka bisa mulai beli lagi, atau average down, dari sekarang.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disiniDiskon selama IHSG masih di bawah 7,500, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q1 2026 - Sudah Terbit!

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar Investasi Saham Indonesia, Sabtu 18 April

Peluang Profit di Tengah Anjloknya IHSG

Daftar Saham Yang Diuntungkan Program MBG

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 13 Desember 2025

Prediksi Kinerja Laporan Keuangan BBCA, BBRI, BMRI, BBNI