IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Seperti yang kita ketahui, dalam seminggu terakhir ini di seantero Indonesia terjadi demo unjuk rasa, kerusuhan, hingga penjarahan di rumah-rumah pejabat penting negara. Dan karena sampai dengan pagi ini, Minggu 31 Agustus, situasi unjuk rasa tersebut masih terjadi, maka penulis sendiri kemudian menerima banyak pertanyaan: Bagaimana nasib IHSG Senin besok? Apakah bakal anjlok/crash seperti tahun 2020 lalu ketika terjadi pandemi Covid?

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2025 sudah terbit dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

***

Dan saya bisa langsung jawab, tidak. IHSG mungkin memang akan turun hari Senin ini dan juga dalam beberapa hari berikutnya, tapi dengan persentase penurunan yang normal saja, sama seperti Jumat 29 Agustus kemarin dimana IHSG turun -1.5%. Jadi dia gak bakal crash, ARB (auto reject bawah) berjilid-jilid, ataupun trading halt dimana IHSG turun belasan persen hanya dalam 2 – 3 hari. Nah, tapi justru disitulah masalahnya. Dan penjelasannya sebagai berikut.

Pertama-tama, masih ingat hari Jumat tanggal 15 Agustus kemarin ketika IHSG naik hingga untuk pertama kalinya tembus all time high 8,000 secara intraday, tapi tetap pada akhirnya IHSG ditutup turun -0.4% ke posisi 7,898? Menariknya, IHSG pada hari Jumat tersebut sudah langsung turun pada sekitar pukul 09.30 WIB, tapi hanya dalam waktu 1 jam kemudian mendadak naik ke posisi 8,017 pada sekitar pukul 10.30 WIB, sebelum kemudian turun lagi.

Pergerakan IHSG di tanggal 15 Agustus dari jam ke jam. Perhatikan lonjakan cepat antara pukul 09.30 - 10.30 WIB.

Kemudian, kembali saya ingatkan bahwa pergerakan IHSG dipengaruhi oleh saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai bobot free float serta market cap-nya, dimana saham dengan market cap besar akan lebih berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG dibanding saham dengan market cap kecil. Dan berikut adalah 10 saham dengan market cap terbesar per tanggal 15 Agustus, mulai dari BREN hingga TLKM, dimana akumulasi market cap kesepuluh saham tersebut sudah mencerminkan 50.7% dari total market cap seluruh saham di BEI. Dengan kata lain, jika kesepuluh saham ini naik signifikan 2 atau 3%, maka IHSG juga akan naik sekitar 1 – 2%, tak peduli meski ratusan saham lainnya turun.

Dan memang itulah yang terjadi pada tanggal 15 Agustus, dimana ada satu saham big caps yakni DCII, yang mendadak terbang dari hanya Rp235,000 pada tanggal 11 Agustus, hingga sempat menyentuh Rp398,000 pada tanggal 15 Agustus, atau lompat hampir 70% hanya dalam 4 hari. Tidak ada aksi korporasi, sentimen positif, atau peristiwa penting tertentu yang bisa menjelaskan kenaikan DCII tersebut. Tapi yang pasti karena dia merupakan saham dengan market cap terbesar ketiga di BEI, maka kenaikannya turut mengerek IHSG hingga sempat sesaat tembus 8,000 pada tanggal 15 Agustus. Dan ketika sekarang DCII turun lagi ke Rp340,000, maka IHSG juga ikut turun.

Pada tanggal 15 Agustus, DCII naik 6.9%, dan itu mendorong IHSG naik 25 poin

Menariknya, tidak hanya antara tanggal 11 – 15 Agustus, tapi DCII ini memang sudah naik sangat tinggi sejak awal tahun 2025 lalu (lebih dari 700%), dan sampai 15 Agustus kemarin kenaikannya tersebut sukses mengerek naik IHSG sebesar 369 poin. Dan tidak hanya DCII, tapi ada beberapa saham-saham dengan market cap besar lainnya yang juga mendadak naik tinggi, dan alhasil IHSG di sepanjang tahun 2025 ini sukses naik banyak, sekali lagi, bahkan meski ratusan saham lainnya gak kemana-mana, atau malah turun. Berikut data selengkapnya per tanggal 15 Agustus, dimana hanya ada dua saham yang cukup populer yakni TLKM dan ANTM, yang turut menyumbang kenaikan IHSG. Sedangkan selebihnya bisa dibilang merupakan saham random. Perhatikan bahwa kenaikan dari dua saham dengan market cap paling besar, yakni DCII dan DSSA, itu sudah sukses menyumbang kenaikan IHSG sampai hampir sebesar 600 poin, atau sekitar 10%.

Daftar 10 saham yang berkontribusi paling besar terhadap kenaikan IHSG di sepanjang tahun 2025.

Nah, jadi dari sini kita bisa lihat bahwa naik turunnya IHSG dipengaruhi oleh segelintir saham saja. Yang itu artinya, katakanlah hari Senin, 1 September besok investor panic selling, dan alhasil ratusan saham anjlok. Tapi jika DCII, DSSA dkk malah naik sendiri, maka IHSG juga akan naik, atau tetap turun tapi dengan penurunan yang kecil saja, got it? Dan jika IHSG hanya turun sedikit saja, maka imbasnya tidak akan terjadi kepanikan di pasar, dan sebagian besar investor tidak akan ikut panic selling itu tadi. Alhasil saham-saham secara umum  hanya akan turun secara normal saja, tapi gak sampai ARB berjilid-jilid.

Meski demikian, sekarang kita ke masalahnya: Karena pergerakan IHSG tidak lagi mencerminkan arah pasar yang sesungguhnya, maka itu sekaligus berarti bahwa jika besok-besok IHSG naik lagi, maka mayoritas saham di BEI bisa saja tetap lanjut turun, karena yang naik lagi-lagi hanya saham-saham random dengan market cap jumbo itu tadi. Dan jika situasinya terus menerus seperti itu, maka inilah yang akan terjadi: IHSG tetap kokoh di 7,800-an, atau bahkan nanti naik lagi ke 8,000-an (jika situasi unjuk rasa di Indonesia mereda), tapi ‘saham-saham normal’ seperti BBCA, BBRI, TLKM, ASII dst akan disitu-situ saja, alias sama sekali gak ikut naik, karena investor juga akan ragu untuk masuk. Ingat bahwa setiap kali IHSG turun maka akan selalu ada smart money (investor institusi, investor asing, dst) yang masuk di saham-saham di harga diskon, dan alhasil setelah itu IHSG naik lagi. Tapi karena IHSG gak turun-turun maka jadilah smart money ini gak pernah masuk, malah justru kabur karena mereka juga pastinya bisa melihat bahwa kokohnya IHSG di posisinya saat ini/tidak turun meski Indonesia terjadi kerusuhan, itu tidak wajar. Dan kalau mereka kabur maka saham-saham normal (yang bukan model DCII dkk itu tadi) tetap akan turun, tak peduli meski IHSG-nya naik.

Dan actually memang itulah yang terjadi sejak setidaknya setahun terakhir, dimana kalau misalnya kita ambil contoh BBCA, sahamnya terus turun dari puncaknya Rp10,950 di bulan September 2024 lalu hingga sekarang tinggal Rp8,075, tak peduli meski IHSG sukses cetak all time high (ATH) lagi. Masalahnya, pergerakan saham seperti BBCA inilah yang lebih mencerminkan pergerakan dari ratusan saham lainnya di BEI, yang juga sama-sama sudah turun banyak.

Sehingga, betul, IHSG tidak akan turun banyak bahkan jika situasi unjuk rasa ini semakin memanas, dan dalam jangka pendeknya itu akan mencegah pasar untuk panik. Tapi dalam jangka panjangnya mayoritas saham-saham di BEI berisiko untuk lanjut turun, bahkan meski jika IHSG nanti kembali naik, karena kenaikannya hanya akan ditopang oleh saham-saham yang ‘itu-itu saja’. Kemudian ingat pula bahwa situasi unjuk rasa hari ini akan menyebabkan kerusakan infrastruktur dll yang akan butuh waktu untuk dibangun kembali, sehingga imbasnya aktivitas ekonomi di dalam negeri terhambat dan alhasil akan ada sejumlah perusahaan yang menderita kerugian, dan tentu saja tingkat kepercayaan investor global untuk berinvestasi di Indonesia juga akan turun signifikan. Dengan kata lain, meski IHSGnya hanya turun sedikit, atau bahkan setelah itu lanjut naik, tapi ekonomi riil tetap akan terdampak, dan kinerja fundamental emiten-emiten di BEI yang sejak awal sudah turun karena lesunya situasi ekonomi, akan turun lebih dalam lagi.

Okay Pak Teguh, jadi gimana sarannya? Well, pertama, tidak perlu panik dan tetap fokus ke kinerja fundamental dari saham-saham yang anda pegang, dimana jika fundamentalnya masih baik maka sahamnya juga hanya akan turun sedikit saja, sebelum kemudian nanti naik lagi ketika situasi huru-hara ini mereda. Namun kedua, karena seperti disebut diatas, dalam jangka panjangnya ada risiko bahwa situasi ekonomi yang sudah lesu sekarang ini akan lebih lesu lagi kedepannya, dan demikian pula penurunan BBCA dkk akan berlanjut bahkan meski IHSGnya naik sendiri, maka untuk kedepannya bisa pertimbangkan untuk diversifikasi ke instrumen investasi yang lebih aman, seperti reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, dan surat berharga negara (SBN) (saya pernah membahas itu disini). Penulis sendiri tentunya tidak akan menyarankan untuk ikut ‘gerbong’ DCII dkk itu tadi, karena risikonya sangat tinggi. Tapi tentu saja pada akhirnya, keputusan ada di tangan anda masing-masing.

Anyway mari kita semua berdoa, semoga lekas sembuh Indonesiaku, dan semoga kita semua bisa kembali bekerja serta berinvestasi seperti biasanya. Aamiin!

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2025 sudah terbit dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q2 2025 - Sudah Terbit!

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 28 Juni 2025

Prospek Saham Adaro Minerals Indonesia (ADMR): Better Than ADRO?

Live Webinar Value Investing Saham Indonesia, Sabtu 6 September 2025

Video Seminar How to Invest in US Stocks - 2025

Saham BBRI Anjlok Lagi! Waktunya Buy? or Bye?

Saya Masih Hold Saham ADRO, Sekarang Bagaimana??