Kabar Baik Untuk Pemegang Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI
Hingga Kamis, 30 April 2026 kemarin, saham-saham blue chip perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun hingga ke level yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya: Bank BCA (BBCA) turun ke Rp5,850, anjlok hampir setengahnya dari all time high-nya di Rp10,950. Bank BRI (BBRI) tembus di bawah Rp3,000, tepatnya Rp2,990, dimana terakhir kali BBRI dihargai serendah itu adalah ketika era covid dulu. Bank BNI (BBNI)? Turun ke Rp3,720 dari puncaknya Rp6,000 di tahun 2024. Dan cerita Bank Mandiri (BMRI) mungkin adalah yang paling baik dengan bertahan di posisi Rp4,390, terhitung masih naik total 42% dalam lima tahun terakhir, namun juga sama turun signifikan dari puncaknya di Rp7,400, di tahun 2024.
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 akan terbit tanggal 10 Mei, dan sudah bisa dipesan disini. Diskon selama IHSG masih di bawah 8,00, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.
***
Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Dan apakah ini merupakan kesempatan untuk buy, atau justru kita harus hindari sektor perbankan sama sekali? Untuk menjawab itu maka mari kita lihat lagi ulasan-ulasan terdahulu yang pernah diposting di blog ini, untuk kemudian kita tarik benang merahnya. And here we go.
Pertama-tama, pada bulan Juli 2025, penulis menyoroti fakta bahwa berdasarkan laporan keuangan bulanan yang dilaporkan emiten perbankan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maka selama periode Januari – Mei 2025, BBCA, BMRI, dan BBNI mencatat pendapatan yang naik dibanding periode yang sama tahun 2024, namun pendapatan BBRI tercatat turun tipis -0.8%, dengan laba bersih yang turun lebih dalam lagi yakni -14.9%. Yang perlu dicatat adalah, ini merupakan kali pertama sejak tahun krisis covid 2020 lalu dimana ada emiten big four banking, dalam hal ini BBRI, yang mencatat penurunan pendapatan serta laba, sehingga secara tidak langsung menunjukkan bahwa situasi ekonomi di tahun 2025 itu memang sedang tidak baik-baik saja, dan belum tahu kapan akan membaik. Sehingga pada ulasannya disini di bulan Juli 2025, penulis katakan bahwa investor masih harus ekstra hati-hati di saham-saham perbankan ini, simply karena kinerja mereka sedang turun. Sayangnya dalam perkembangannya, laba bersih BBRI, BMRI, dan BBNI pada akhirnya tercatat turun untuk tahun 2025 secara keseluruhan. Sehingga sampai dengan awal tahun 2026 kemarin (ketika emiten rilis LK tahun penuh 2025), penulis katakan bahwa kita masih harus wait and see kalau mau masuk atau average down di BBRI dkk.
Okay, tapi bukannya laba bersih BBCA masih naik tipis 4.9% di tahun penuh 2025? Terus kenapa sahamnya tetap ikut turun? Maka, kita bisa ke ulasan berikutnya di bulan November 2025, dimana penulis katakan bahwa betul kinerja BBCA masih bagus, tapi masalahnya di valuasinya. Betul, BBCA yang ketika itu sudah turun lumayan ke Rp7,500 relatif sudah murah jika dibandingkan dengan valuasi BBCA itu sendiri secara historis, tapi masih mahal jika dibandingkan dengan valuasi bank-bank besar lainnya secara umum, dimana PER BBCA yang ketika itu mencapai 15.8x masih jauh lebih tinggi dibanding misalnya PER BBRI, yang di waktu yang sama tercatat hanya 11x. Penulis katakan bahwa BBCA mungkin baru menarik jika dia turun lebih lanjut ke Rp6,500. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.
Baik Pak Teguh, tapi hari ini di tanggal 30 April 2026, BBCA sudah di Rp5,850, lebih rendah dari rekomendasi buy bapak di Rp6,500. So what’s wrong? Nah, pada titik ini kita harus memasukkan faktor eksternal: Pada 28 Januari 2026, MSCI (Morgan Stanley Capital International) merilis pengumuman yang pada intinya mereka mengancam akan menurunkan rating saham Indonesia menjadi ‘tidak layak investasi’. Karena mereka melihat pasar saham disini tidak transparan terutama soal data pemegang saham (ada sejumlah perusahaan Tbk yang hampir seluruh saham beredarnya dipegang oleh pemegang saham yang itu-itu saja), dan adanya dugaan coordinated trading behavior alias manipulasi harga saham oleh para bandar saham. Pengumuman ini kemudian menyebabkan aksi jual asing besar-besaran di BEI, termasuk di saham-saham perbankan, dan itu masih terjadi sampai hari ini dimana sampai dengan 30 April asing mencatat net sell Rp49.9 triliun selama empat bulan, dihitung sejak awal tahun 2026. Sebagai perbandingan, di sepanjang tahun 2025 ketika MSCI belum merilis pengumuman diatas, maka asing juga mencatat net sell, tapi selama dua belas bulan totalnya hanya Rp17.3 triliun saja. Anda bisa baca lagi soal MSCI ini disini, dimana penulis pada tanggal 15 Maret 2026 mengatakan bahwa mumpung IHSG turun maka kita bisa belanja, tapi bukan di saham perbankan.
Oke, tapi kenapa ketika asing ini keluar dari BEI, maka yang mereka jual BBCA dkk dan bukan saham lain? Pertama, ya karena itu tadi: Kinerja tiga dari empat emiten big four perbankan di 2025 turun untuk pertama sejak 2020, dan itu terjadi ketika ekonomi dunia sedang fine-fine saja, gak ada pandemi covid atau semacamnya. Jadi wajar jika asing nervous, kemudian exit. Kedua, karena sejak awal para investor asing ini paling banyak pegang saham-saham perbankan. Contohnya BBCA, per akhir tahun 2025 lalu, dari total 123.3 miliar saham beredar perusahaan maka 36% diantaranya dipegang oleh asing. Jadi gimana caranya investor asing ini jual misalnya saham selain BBCA, sebut saja misal saham ABCD, kalau mereka sejak awal tidak pegang saham ABCD tersebut? Dan ketiga, karena saham-saham perbankan besar ini sangat likuid, dan alhasil mereka bisa jualan pelan-pelan tanpa khawatir sahamnya bakal autoreject bawah (ARB).
Sayangnya, seperti yang terakhir kita bahas disini pada tanggal 13 April 2025, maka penulis menyebut bahwa tekanan aksi jual asing di BEI masih sangat besar, terutama setelah: 1. BEI merilis daftar emiten-emiten yang terindikasi high shareholding concentration, dimana ada dua saham dengan market cap yang sangat besar yakni Barito Renewables (BREN), dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) di dalam daftar tersebut, 2. Rupiah terus melemah, terakhir sudah tembus Rp17,000 per Dollar, dan kalau mempertimbangkan defisit APBN dll, maka ada kemungkinan pelemahan itu akan berlanjut, 3. MSCI kembali membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026, yang mengindikasikan bahwa mereka masih belum cukup puas dengan semua aksi reformasi oleh pihak otoritas bursa. Net sell asing sendiri pada saat itu (10 April) masih tercatat Rp37.1 triliun, dihitung sejak awal tahun 2026.
Dan ternyata benar setelah tanggal 13 April tersebut, asing kembali lanjut jualan hingga, seperti disebut diatas, mereka mencatat net sell Rp49.9 triliun pada akhir bulan April 2026. Sedangkan IHSG-nya? Ya tentu saja bablas ke 6,957, turun signifikan dari all time high 9,135. Lalu nasib BBCA dkk? Well, anda bisa lihat sendiri deh.
Kinerja BBRI dkk di 2026 Berbalik Positif
Kabar baiknya, per hari ini, 1 Mei 2026, keempat emiten perbankan di atas sudah rilis LK periode Q1 2026, dan dengan hasil yang jauh lebih positif dibanding sepanjang tahun 2025 lalu: Semuanya mencatat kenaikan laba bersih, dimana BBRI dan BMRI mencatat kenaikan dobel digit (baca: diatas 10%). Di sisi lain karena sahamnya sudah turun signifikan, maka valuasi big banks ini sudah turun ke level yang, sepanjang pengalaman penulis, hanya pernah dicapai ketika periode market crash: PER BMRI, BBRI, dan BBNI semuanya di kisaran 6 – 7x. Sedangkan PER BBCA masih agak tinggi di 12x, tapi ingat bahwa dalam situasi pasar normal, PER BBCA tidak pernah lebih rendah dari 20x.
Dan yang perlu dicatat, IHSG kita yang kelihatannya sudah turun lumayan ke 6,957 tersebut seharusnya turun lebih rendah lagi kalau bukan karena keberadaan ‘saham konglo’ seperti BREN dan DSSA itu tadi, yang sejak awal mengerek naik IHSG hingga tembus 9,000, awal tahun 2026 lalu. Catat meskipun BREN dkk sekarang sudah turun lagi, tapi market capnya masih sangat besar dan masih berkontribusi untuk menopang posisi IHSG. Sehingga, kalau saham konglo ini tidak pernah ada, maka seharusnya posisi IHSG lebih rendah lagi dibanding saat ini. Mungkin hanya 4,500 atau 5,000, alias sama rendahnya dengan covid market crash di tahun 2020 lalu. Dan itu otomatis menjelaskan, kenapa BBRI dkk pada hari ini juga turun sampai balik ke posisi ketika jaman covid dulu.
Nah, jadi sampai sini anda bisa baca jalan pikiran penulis bukan? Perhatikan: Sekarang ini orang panik karena Rupiah anjlok bla bla bla, dan memang Pak Purbaya sendiri mengakui bahwa Indonesia sekarang masuk survival mode. Tapi, coba lihat lagi gimana kacaunya seluruh dunia di tahun 2020 dulu, tapi tetap pada saat itu saham-saham perbankan yang sebelumnya anjlok kembali naik tinggi, dan terus naik sampai sekitar tahun 2024. Jadi jika dibandingkan dengan tahun 2020 tersebut maka situasi Indonesia saat ini tetap terhitung lebih baik, dan terbukti kinerja BBRI dkk juga kembali naik pada Q1 2026 ini, setelah sebelumnya turun di sepanjang 2025 lalu.
Sehingga, berbeda dengan ulasan-ulasan sebelumnya di atas dimana penulis cenderung menyarankan untuk menghindari saham perbankan, maka untuk kali ini penulis bisa katakan: Yes, anda bisa masuk sekarang, atau average down. Karena kalau dari sisi kinerja LK, maka BBRI dkk pada hari ini sudah lebih baik dibanding setahun lalu.
Tinggal satu masalah lagi, yakni masih berlanjutnya aksi jual investor
asing di BEI, dan sayangnya seperti disebut diatas asing masih pegang BBCA, dan
kemungkinan juga saham-saham bank besar lainnya, dalam jumlah besar. Jadi kalau
mempertimbangkan faktor ini maka bisa juga anda hold cash dulu, dan
jangan buru-buru masuk sampai misalnya MSCI kembali melakukan rebalancing indeks.
However, penulis pada titik ini tidak akan lagi menyarankan untuk sell,
karena faktor terpentingnya yakni kinerja emitennya itu sendiri sudah
kembali bertumbuh dari sebelumnya turun, dan harusnya bisa tetap tumbuh sampai
akhir tahun 2026 nanti (why? Nanti kita jelaskan di lain
kesempatan). Mudah-mudahan.
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 akan terbit tanggal 10 Mei, dan sudah bisa dipesan disini. Diskon selama IHSG masih di bawah 8,00, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Komentar